AGAMA DOSA yang Mempromosikan Dogma Korup “PENGHAPUSAN DOSA”, Ajaran-Ajarannya Indah di Awal, Bengkok di Pertengahan, dan Sesat di Akhir, dengan Makna dan Kata-Kata yang Menyimpang, dan yang Menegaskan Kehidupan Kotor-Korup Sepenuhnya yang Hina dan Tercela
Question : Katanya, hukum syariat islam ialah vonis hukuman “potong tangan” bagi yang mencuri? Namun mengapa muslim-muslim yang setiap harinya ritual doa memohon penghapusan dosa, setiap tahunnya ritual “dosa setahun dihapuskan” (puasa ramadhan), pergi umroh dengan iming-iming “dosa-dosa sebelumnya dihapuskan”, bahkan ketika meninggal dunia minta didoakan “hapus dosa-dosa semasa hidupnya”, yang artinya merampas hak-hak korban mereka atas keadilan, tidak dihukum “potong tangan” bagi para muslim pecandu penghapusan dosa tersebut?
Brief
Answer : Ketika seseorang menjadi
pecandu dogma “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”, maka diri mereka
bukanlah “kembali ke fitri”, akan tetapi menjelma “KORUPTOR DOSA” dimana
dosa-dosa pun dikorupsi. Koruptor uang, mereka tuntut agar divonis “hukuman
mati”. Maling sandal, divonis “potong tangan” di negara-negara arab yang
menerapkan hukum islam. Namun ironisnya, merampok hak kalangan korban, justru
diganjar “karpet merah ke surga”? Itulah yang disebut ideologi yang
kekanak-kanakan (too good to be true). Terhadap dosa dan maksiat,
demikian kompromistik. Akan tetapi terhadap kaum yang berbeda keyakinan, mereka
begitu intolean.
Babi,
disebur “haram”. Akan tatapi dogma KORUP semacam “PENGHAPUSAN DOSA” justru
dipertontonkan secara vulgar ke muka publik tanpa rasa malu ataupun tabu
sebagai “halal lifestyle”. Mempromosikan ideologi KORUP alih-alih
mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun maksiat, disebut “Agama
SUCI” alih-alih mengakuinya secara terbuka sebagai “Agama DOSA”. Sendirinya
mereka merupakan “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, namun berdelusi sebagai
kaum paling superior yang berhak untuk menghakimi dan menggurui kaum lainnya,
ibarat orang buta yang hendak menuntun para butawan lainnya.
Neraka
pun mereka sebut dan pandang sebagai surga, dan berbondong-bondong mereka
terjerembab jatuh ke lembah nista tersebut. Ketika masih minoritas di Nusantara
sebelum abad ke-15, mereka menuntut dan menikmati toleransi beragama. Namun
ketika menjelma mayoritas, mereka justru memberangus toleransi yang dahulu dan
pada mulanya mereka nikmati.
PEMBAHASAN:
Sesumbar
besar mengenai surga dan neraka, mengenai Tuhan dan Iblis, namun melekat pada
dogma korup semacam “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”, itulah ironi
dibalik agama samawi, dimana para pendosa menjadi umat pemeluknya, dimana pikiran-liar
dan imajinasi-korup mereka menguasai pikiran mereka.
Adapun
Buddhisme, mengajarkan kita agar maspada terhadap pikiran kita sendiri dan kecenderungan-kecenderungan
yang bersembunyi dibaliknya, sebagaimana dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
~
SUTTA 32 ~
Mahāgosinga
Sutta: Khotbah Panjang di Gosinga
[212] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Taman Hutan pohon Sāla Gosinga bersama dengan sejumlah siswa
terkenal – Yang Mulia Sāriputta, Yang Mulia Mahā Moggallāna, Yang Mulia Mahā Kassapa,
Yang Mulia Anuruddha, Yang Mulia Revata, Yang Mulia Ānanda, dan para siswa
terkenal lainnya.
2. Kemudian, pada malam harinya, Yang Mulia Mahā Moggallāna bangkit dari
meditasinya, mendatangi Yang Mulia Mahā Kassapa, dan berkata kepadanya: “Teman,
Kassapa, mari kita mendatangi Yang Mulia Sāriputta untuk mendengarkan Dhamma.”
– “Baik, teman,” Yang Mulia Mahā Kassapa menjawab. Kemudian Yang Mulia Mahā
Moggallāna, Yang Mulia Mahā Kassapa, dan Yang Mulia Anuruddha mendatangi Yang Mulia
Sāriputta untuk mendengarkan Dhamma.
3. Yang Mulia Ānanda melihat mereka mendatangi Yang Mulia Sāriputta untuk
mendengarkan Dhamma. Kemudian ia mendatangi Yang Mulia Revata dan berkata
kepadanya: “Teman Revata, orang-orang mulia itu mendatangi Yang Mulia Sāriputta
untuk mendengarkan Dhamma. Mari kita juga mendatangi Yang Mulia Sāriputta untuk
mendengarkan Dhamma.” – “Baik, teman,” Yang Mulia Revata menjawab. Kemudian
Yang Mulia Revata dan Yang Mulia Ānanda mendatangi Yang Mulia Sāriputta untuk mendengarkan
Dhamma.
4. Dari jauh Yang Mulia Sāriputta melihat kedatangan Yang Mulia Revata
dan Yang Mulia Ānanda dan berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Silahkan Yang
Mulia Ānanda datang, selamat datang kepada Yang Mulia Ānanda, pelayan Sang
Bhagavā, yang selalu mendampingi Sang Bhagavā. Teman Ānanda, Hutan pohon Sāla
Gosinga sungguh indah, malam ini bulan bercahaya, pepohonan sāla semuanya
bermekaran, dan keharuman surgawi menguar di udara. Bhikkhu seperti apakah,
teman Ānanda, yang dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga?”
“Di sini, teman [213] Sāriputta, seorang bhikkhu yang telah banyak
belajar, mengingat apa yang telah ia pelajari, dan menggabungkan apa yang telah
ia pelajari. Ajaran-ajaran
yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir, dengan makna dan
kata-kata yang benar, dan yang menegaskan kehidupan suci yang murni dan
sempurna –
ajaran-ajaran seperti ini telah banyak ia pelajari, dan ia ingat, ia kuasai
secara verbal, ia selidiki dengan pikiran, dan ia tembus dengan baik melalui pandangan.
Dan ia mengajarkan Dhamma kepada empat kelompok dengan kalimat-kalimat dan
kata-kata yang benar dan masuk akal untuk melenyapkan kecenderungan tersembunyi.357
Bhikkhu seperti itu dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga.”
[Kitab Komentar : Empat kelompok dimaksud ialah para
bhikkhu, bhikkhunī, umat awam laki-laki, dan umat awam perempuan. Tujuh
kecenderungan tersembunyi diuraikan pada Majjhima Nikāya sutta 18, Madhupiṇḍika Sutta,
dengan kutipan sebagai berikut:
“8. “Para bhikkhu, sehubungan dengan sumber melalui
mana persepsi dan gagasan [yang muncul dari] proliferasi pikiran yang menyerang
seseorang: jika tidak ada apapun di sana yang menyenangkan, yang disambut dan
digenggam, maka ini adalah akhir dari kecenderungan
tersembunyi pada nafsu, akhir dari kecenderungan
tersembunyi pada penolakan, [110] akhir dari kecenderungan
tersembunyi pada pandangan-pandangan, akhir dari kecenderungan
tersembunyi pada keragu-raguan, akhir dari kecenderungan
tersembunyi pada keangkuhan, akhir dari kecenderungan
tersembunyi pada penjelmaan, akhir dari kecenderungan
tersembunyi pada ketidak-tahuan; ini adalah akhir dari penggunaan tongkat pemukul dan senjata, akhir
dari pertengkaran, percekcokan, perselisihan, tuding-menuding, fitnah, dan
kebohongan; di sini kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat lenyap tanpa
sisa.”
Interpretasi atas paragraf sutta yang tersamar di
atas, berpusat pada kata papañca dan kata majemuk papañca-saññā-sankhā.
Bhikkhu Ñāṇamoli menerjemahkan papañca sebagai “keberagaman” dan papañcasaññā-sankhā
sebagai “perhitungan mengenai persepsi keberagaman.”
Akan tetapi, sepertinya persoalan utama yang ditunjukkan
dengan kata papañca bukanlah “keberagaman,” yang mungkin cukup sesuai
jika bidang indria itu sendiri memperlihatkan keragaman, tetapi kecenderungan
imajinasi kaum duniawi untuk meledak dalam pencurahan komentar pikiran yang menghalangi
pengenalan data.
Dalam suatu pembahasan penembusan, Concept and
Reality in Early Buddhism, Bhiikhu Ñāṇananda menjelaskan papañca sebagai
“proliferasi konseptual,” dan Bhikkhu Bodhi sebagai penerjemah sutta dari
Bahasa Pāli mengikutinya dengan menggantikan “keberagaman” dari Ñm menjadi
“proliferasi.”
Kitab
Komentar mengidentifikasikan timbulnya proliferasi ini sebagai tiga faktor –
ketagihan, keangkuhan, dan pandangan – yang karenanya pikiran menjadi
“membubuhi pengalaman dengan menginterpretasikannya dengan sebutan “milikku,”
“aku,” dan “diriku.”
Papañca dengan demikian adalah berhubungan dekat dengan maññanā, “menganggap,” istilah mana juga muncul dalam Majjhima Nikāya sutta
ke-1, Mūlapariyāya Sutta. Kata Pāli “menganggap” (maññati), yang berasal
dari akar kata man, “berpikir”, sering digunakan dalam sutta-sutta Pāli
untuk mengartikan pemikiran-pemikiran yang menyimpang / terbias –
pikiran yang berasal dari karakteristik objek dan suatu pemahaman yang
diturunkan bukan dari objek itu sendiri, melainkan dari imajinasi subjektif
seseorang.
Penyimpangan kognitif yang diusulkan oleh menganggap
terdiri dari, secara singkat, pemaksaan dari perspektif egosentris ke dalam
pengalaman yang telah sedikit menyimpang oleh persepsi spontan. Menurut Kitab
Komentar, aktivitas menganggap diatur oleh tiga kekotoran, yang muncul dalam
berbagai cara manifestasinya – keinginan (taṇha), keangkuhan (māna), dan pandangan (diṭṭhi). Kitab Komentar menuliskan teks ini sebagai: “Setelah melihat tanah
dengan persepsi menyimpang, orang biasa kemudian menganggapnya – menafsirkan
atau menilainya – melalui kecenderungan-kecenderungan berproliferasi yang kasar
(papañca) dari ketagihan, keangkuhan, dan pandangan, yang disebut ‘anggapan’ … Ia memahaminya dalam beragam cara yang
bertolak-belakang [dengan kenyataan].”
Empat cara menganggap (maññanā). Sang Buddha
menunjukkan bahwa anggapan atas objek apapun dapat terjadi dalam salah satu
dari empat cara, diungkapkan oleh teks sebagai empat pola linguistik: akusatif,
lokatif, ablatif, dan peruntukan. Makna utama dari pola ini – yang juga
tersamar dalam Pāli – sepertinya filosofis. Bhikkhu Bodhi menganggap pola itu
menunjukkan beragam cara yang mana seorang biasa mencoba memberikan makna
positif pada makna keegoan yang ia bayangkan dengan memposisikan, di bawah
ambang bayangan, suatu hubungan antara dirinya sebagai subjek kognisi dan
fenomena yang dilihat sebagai objek.
Menurut empat pola yang diberikan, hubungan ini
dapat berupa salah satu dari identifikasi langsung (“ia melihat X”), atau yang
mendasari (“ia membayangkan di dalam X”), atau perbedaan atau turunan (“ia
membayangkan dari X”), atau hanya sekadar peruntukan (“ia menganggap X sebagai
‘milikku’”). Tetapi hati-hati dalam menginterpretasikan frasa-frasa ini. Pāli
tidak menyediakan objek langsung bagi cara ke dua dan ke tiga, dan ini
menyiratkan bahwa proses penganggapan berlangsung dari tingkat yang lebih dalam
dan lebih umum daripada yang terlibat dalam pembentukan pandangan diri secara
eksplisit, seperti yang dijelaskan misalnya pada Majjhima Nikāya 2.8 atau Majjhima
Nikāya 44.7.
Dengan demikian aktivitas
penganggapan sepertinya terdiri dari keseluruhan wilayah kognisi yang diwarnai
secara subjektif, dari impuls
dan pikiran yang mana makna identitas pribadi masih belum lengkap untuk
menjelaskan struktur intelektual yang telah dijelaskan secara lengkap. Akan
tetapi Bhikkhu Ñāṇamoli, memahami objek anggapan implisit sebagai
persepsi itu sendiri, dan karena itu menerjemahkan: “setelah mempersepsikan
tanah dari tanah, ia menganggap [itu sebagai] tanah, ia menganggap [itu
sebagai] di dalam tanah, ia menganggap [itu terpisah] dari tanah,” dan
seterusnya. Frasa ke lima, “ia bersenang di dalam X,” secara eksplisit
menghubungkan penganggapan dengan keinginan, yang mana di tempat lain dikatakan
“bergembira di sana-sini.”
Hal
ini, lebih jauh lagi, menyiratkan bahaya dalam proses pemikiran kaum duniawi,
karena ketagihan dikatakan oleh Sang Buddha sebagai asal-mula penderitaan. Kitab Komentar memberikan banyak contoh yang
mengilustrasikan segala jenis penganggapan yang berbeda, dan ini jelas
menegaskan bahwa objek penganggapan yang dimaksudkan adalah makna egoistis
yang keliru.
Kata majemuk papañca-saññā-sankhā lebih
rumit. YM Ñāṇananda menginterpretasikannya sebagai “konsep-konsep yang dikarakteristikkan
oleh pikiran yang cenderung berkembang,” tetapi penjelasan ini masih belum
memasukkan kata saññā. Kitab Komentar mengemas sankhā dengan koṭṭhāsa, “bagian,” dan mengatakan
bahwa saññā adalah persepsi yang berhubungan dengan papañca
ataupun papañca itu sendiri. Bhikkhu Bodhi sependapat dengan Ñāṇananda
dalam menganggap sankhā lebih sebagai berarti konsep atau gagasan
(“Perhitungan” dari Bhikkhu Ñāṇamoli adalah terlalu literal) daripada bagian.
Keputusan Bhikkhu Bodhi memperlakukan saññā-sankhā
sebagai kata majemuk dvanda, “persepsi dan gagasan,” mungkin akan
dipertanyakan, tetapi karena ungkapan saññā-sankhā jarang muncul dalam
Kanon dan tidak pernah dianalisa secara verbal, maka tidak ada terjemahan yang
benar-benar tanpa keraguan.
Pada Interpretasi alternatif dari komponennya,
ungkapan itu mungkin dapat diterjemahkan “gagasan-gagasan [yang muncul dari]
proliferasi persepsi” atau “gagagasan-gagasan persepsi [yang muncul dari]
proliferasi.” Lanjutannya akan menjelaskan bahwa proses
kognisi itu sendiri adalah “sumber
yang melaluinya persepsi dan gagasan [yang timbul dari] proliferasi pikiran menyerang
seseorang.”
Jika dalam proses
kognisi tersebut tidak ada yang
disenangi, disambut, atau digenggam, maka kecenderungan tersembunyi pada
kekotoran-kekotoran akan berakhir.
YM. Ānanda dinyatakan oleh Sang Buddha sebagai siswa
yang Pāling unggul di antara mereka yang telah banyak belajar, dan
khotbah-khotbahnya dikatakan menyenangkan empat kelompok tersebut (Dīgha Nikāya
16.5.16/ii.145).]
5. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Sāriputta berkata kepada Yang
Mulia Revata: “Teman Revata, Yang Mulia Ānanda telah mengungkapkan sesuai
inspirasinya. Sekarang kami bertanya kepada Yang Mulia Revata: teman Revata,
Hutan pohon Sāla Gosinga sungguh indah, malam ini bulan bercahaya, pepohonan
sāla semuanya bermekaran, dan keharuman surgawi menguar di udara. Bhikkhu
seperti apakah, teman Revata, yang dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga?”
[Kitab Komentar : Yathā sakaṁ paṭibhānaṁ, mengungkapkan sesuai inspirasinya. Frasa ini juga dapat diterjemahkan “menurut
intuisinya” atau “menurut idealismenya.” Bhikkhu Ñāṇamoli
menerjemahkan “sesuai apa yang terpikir olehnya”; Horner, “menurut
kapasitasnya.”]
“Di sini, teman Sāriputta, seorang bhikkhu bergembira dalam meditasi
terasing dan senang dalam meditasi terasing; ia menekuni ketenangan pikiran
internal, tidak mengabaikan meditasi, memiliki pandangan terang, dan berdiam
dalam gubuk kosong. Bhikkhu seperti itu dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga.”
[Kitab Komentar : YM. Revata dinyatakan sebagai
siswa yang Pāling unggul di antara para siswa meditator.]
6. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Sāriputta berkata kepada Yang
Mulia Anuruddha: “Teman Anuruddha, Yang Mulia Revata telah mengungkapkan sesuai
inspirasinya. Sekarang kami bertanya kepada Yang Mulia Anuruddha: teman
Anuruddha, Hutan pohon Sāla Gosinga sungguh indah … Bhikkhu seperti apakah,
teman Anuruddha, yang dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga?”
“Di sini, teman Sāriputta, dengan mata dewa, yang murni dan melampaui
manusia, seorang bhikkhu mengamati seribu dunia. Seperti halnya seseorang yang
memiliki penglihatan yang baik, ketika ia naik ke kamar atas istana, dapat
mengamati seribu roda kereta, demikian pula, dengan mata dewa, yang murni dan melampaui
manusia, seorang bhikkhu mengamati seribu dunia. Bhikkhu seperti itu dapat
menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga.”
[Kitab Komentar : YM. Anuruddha dinyatakan sebagai
siswa yang Pāling unggul di antara para siswa yang memiliki mata-dewa.]
7. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Sāriputta berkata kepada Yang
Mulia Mahā Kassapa: “Teman Kassapa, Yang Mulia Anuruddha telah mengungkapkan
sesuai inspirasinya. Sekarang kami bertanya kepada Yang Mulia Mahā Kassapa:
teman Kassapa, Hutan pohon Sāla Gosinga sungguh indah … Bhikkhu seperti apakah,
teman Kassapa, [214] yang dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga?”
“Di sini, teman Sariputta, seorang bhikkhu adalah penghuni hutan dan
memuji kediaman di dalam hutan; ia adalah seorang yang memakan makanan yang
didanakan dan memuji perbuatan memakan makanan yang didanakan; ia adalah
seorang pemakai jubah dari kain yang dibuang dan memuji perbuatan mengenakan jubah
dari kain yang dibuang; ia adalah seorang yang mengenakan tiga jubah dan memuji
perbuatan mengenakan tiga jubah;361 ia
memiliki keinginan yang sedikit dan memuji keinginan yang sedikit; ia
merasa puas dan memuji kepuasan; ia mengasingkan diri dan memuji keterasingan; ia jauh dari pergaulan
dan memuji perbuatan menjauhi pergaulan; ia
bersemangat dan memuji perbuatan membangkitkan semangat; ia
telah mencapai moralitas dan memuji pencapaian moralitas; ia
telah mencapai konsentrasi dan memuji pencapaian konsentrasi; ia
telah mencapai kebijaksanaan dan memuji pencapaian kebijaksanaan; ia
telah mencapai kebebasan dan memuji pencapaian kebebasan; ia
telah mencapai pengetahuan dan penglihatan akan kebebasan dan memuji pencapaian
pengetahuan dan penglihatan akan kebebasan. Bhikkhu seperti itu dapat menerangi Hutan pohon
Sāla Gosinga.”
[Kitab Komentar : Mahā Kassapa adalah siswa yang paling
unggul di antara para siswa yang menjalankan praktik pertapaan.]
8. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Sāriputta berkata kepada Yang
Mulia Mahā Moggallāna: “Teman Moggallāna, Yang Mulia Mahā Kassapa telah
mengungkapkan sesuai inspirasinya. Sekarang kami bertanya kepada Yang Mulia
Mahā Moggallāna: teman Moggallāna, Hutan pohon Sāla Gosinga sungguh indah … Bhikkhu
seperti apakah, teman Moggallāna, yang dapat menerangi Hutan pohon Sāla
Gosinga?”
“Di sini, teman Sāriputta, dua orang bhikkhu terlibat dalam pembicaraan
mengenai Dhamma yang lebih tinggi dan saling mempertanyakan satu sama lain, dan
masing-masing ditanya oleh pihak lain dan menjawabnya tanpa menjatuhkan, dan
pembicaraan mereka berlanjut sesuai dengan Dhamma. Bhikkhu seperti itu
dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga.”
[Kitab Komentar : Abhidhamma, “Dhamma yang lebih
tinggi”. Walaupun kata ini di sini tidak dapat merujuk pada Abhidhamma Piṭaka –
yang jelas merupakan produk pemikiran Buddhis belakangan setelah Nikāya-Nikāya
– namun menunjukkan suatu pendekatakan sistematis dan analitis terhadap doktrin
yang bertindak sebagai inti asli dari Abhidhamma Piṭaka.
Dalam suatu pembahasan saksama pada konteks di mana kata “Abhidhamma” muncul
dalam Sutta Piṭaka dari beberapa edisi terbaru, seorang Terpelajar Bahasa Pāli dari
Jepang bernama Fumimaro Watanabe menyimpulkan bahwa para siswa Sang Buddha
membentuk konsep Abhidhamma sebagai pelajaran filosofi dasar untuk
mendefinisikan, menganalisa, dan mengelompokkan dhamma dan untuk mengeksplorasi
saling keterkaitannya. Baca bukunya Philosophy and its Development in the
Nikāyas and Abhidhamma, hal.34-36.]
9. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Mahā Moggallāna berkata kepada
Yang Mulia Sāriputta: “Teman Sāriputta, kami semua telah mengungkapkan sesuai
inspirasi kami. Sekarang kami bertanya kepada Yang Mulia Sāriputta: teman
Sāriputta, Hutan pohon Sāla Gosinga sungguh indah, malam ini bulan bercahaya,
pepohonan sāla semuanya bermekaran, dan keharuman surgawi menguar di udara.
Bhikkhu seperti apakah, teman Sāriputta, yang dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga?”
“Di sini, teman Moggallāna, seorang
bhikkhu menguasai pikirannya, ia tidak membiarkan pikirannya menguasainya. Di pagi hari ia berdiam dalam kediaman atau
pencapaian apapun yang ingin ia [215] diami selama pagi hari; di siang hari ia
berdiam dalam kediaman atau pencapaian apapun yang ingin ia diami selama siang
hari; di malam hari ia berdiam dalam kediaman atau pencapaian apapun yang ingin
ia diami selama malam hari. Misalkan seorang raja atau menteri raja memiliki
selemari penuh pakaian beraneka warna. Di pagi hari ia akan mengenakan pakaian
apapun yang ingin ia kenakan di pagi hari; di siang hari ia akan mengenakan
pakaian apapun yang ingin ia kenakan di siang hari; di malam hari ia akan
mengenakan pakaian apapun yang ingin ia kenakan di malam hari. Demikian pula, seorang
bhikkhu menguasai pikirannya, ia tidak membiarkan pikirannya menguasainya. Di
pagi hari … di siang hari … di malam hari ia berdiam dalam kediaman atau
pencapaian apapun yang ingin ia diami selama malam hari. Bhikkhu seperti itu
dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga.”
10. Kemudian Yang Mulia Sāriputta berkata kepada para mulia itu:
“Teman-teman, kita semua telah mengungkapkan sesuai inspirasi kita. Mari kita
menghadap Sang Bhagavā dan melaporkan persoalan ini kepada Beliau. Sebagaimana
Sang Bhagavā menjawab, demikianlah kita harus mengingatnya.” – “Baik, teman,”
mereka menjawab. Kemudian para mulia itu menghadap Sang Bhagavā, dan setelah
bersujud kepada Beliau, mereka duduk di satu sisi. Yang Mulia Sāriputta berkata
kepada Sang Bhagavā.
11. “Yang Mulia, Yang Mulia Revata dan Yang Mulia Ānanda mendatangiku
untuk mendengarkan Dhamma. Dari jauh aku melihat mereka datang dan [216]
berkata kepada Yang Mulia Ānanda: ‘Silahkan Yang Mulia Ānanda datang, selamat
datang kepada Yang Mulia Ānanda … Teman Ānanda, Hutan pohon Sāla Gosinga
sungguh indah … Bhikkhu seperti apakah, teman Ānanda, yang dapat menerangi
Hutan pohon Sāla Gosinga?’ Ketika ditanya demikian, Yang Mulia, Yang Mulia
Ānanda menjawab: ‘Di sini, teman Sāriputta, seorang bhikkhu telah banyak
belajar … (seperti pada paragraf nomor ke-4) … Bhikkhu seperti itu dapat menerangi
Hutan pohon Sāla Gosinga.’”
“Bagus, bagus, Sāriputta. Sesungguhnya, Ānanda memang harus berkata
seperti yang ia katakan. Karena Ānanda telah banyak belajar, mengingat apa yang
telah ia pelajari, dan menggabungkan apa yang telah ia pelajari. Ajaran-ajaran
yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir, dengan makna dan
kata-kata yang benar, dan yang mengokohkan kehidupan suci yang murni dan
sempurna – ajaran-ajaran seperti ini telah banyak ia pelajari, dan ia ingat, ia
kuasai secara verbal, ia selidiki dengan pikiran, dan ia tembus dengan baik
melalui pandangan. Dan ia mengajarkan Dhamma kepada empat kelompok dengan kalimat-kalimat
dan kata-kata yang benar dan masuk akal untuk melenyapkan kecenderungan
tersembunyi.”
12. “Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia, Aku berkata kepada Yang Mulia
Revata: ‘Teman Revata … Bhikkhu seperti apakah, yang dapat menerangi Hutan
pohon Sāla Gosinga?’ Dan Yang Mulia Revata menjawab: ‘Di sini, teman Sāriputta,
seorang bhikkhu bergembira dalam meditasi terasing … (seperti pada paragraf nomor
ke-5) … Bhikkhu seperti itu dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga.’”
“Bagus, bagus, Sāriputta. Sesungguhnya, Revata memang harus berkata
seperti yang ia katakan. Karena Revata bergembira dalam meditasi terasing,
senang dalam meditasi terasing, menekuni ketenangan pikiran internal, tidak
mengabaikan meditasi, memiliki pandangan terang, dan berdiam dalam gubuk kosong.”
[217]
13. “Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia, Aku berkata kepada Yang Mulia
Anuruddha: ‘Teman Anuruddha … Bhikkhu seperti apakah yang dapat menerangi Hutan
pohon Sāla Gosinga?’ Dan Yang Mulia Anuruddha menjawab: ‘Di sini, teman
Sāriputta, dengan mata dewa … (seperti pada paragraf nomor ke-6) … Bhikkhu
seperti itu dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga.’”
“Bagus, bagus, Sāriputta. Sesungguhnya, Anuruddha memang harus berkata
seperti yang ia katakan. Karena dengan mata dewa, yang murni dan melampaui
manusia, Anuruddha mengamati seribu dunia.”
14. “Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia, Aku berkata kepada Yang Mulia
Mahā Kassapa: ‘Teman Kassapa … Bhikkhu seperti apakah yang dapat menerangi
Hutan pohon Sāla Gosinga?’ Dan Yang Mulia Mahā Kassapa menjawab: ‘Di sini,
teman Sāriputta, seorang bhikkhu adalah penghuni hutan … (seperti pada paragraf
nomor ke-7) … Bhikkhu seperti itu dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga.’” [218]
“Bagus, bagus, Sāriputta. Sesungguhnya, Kassapa memang harus berkata
seperti yang ia katakan. Karena Kassapa adalah seorang penghuni hutan dan
memuji kediaman di dalam hutan … ia telah mencapai pengetahuan dan
penglihatan akan kebebasan dan memuji pencapaian pengetahuan dan penglihatan
akan kebebasan.”
15. “Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia, Aku berkata kepada Yang Mulia
Mahā Moggallāna: ‘Teman Moggallāna … Bhikkhu seperti apakah yang dapat
menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga?’ Dan Yang Mulia Mahā Moggallāna menjawab:
‘Di sini, teman Sāriputta, dua orang bhikkhu terlibat dalam pembicaraan mengenai
Dhamma yang lebih tinggi … (seperti pada paragraf nomor ke-8) … Bhikkhu seperti
itu dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga.’”
“Bagus, bagus, Sāriputta. Sesungguhnya, Moggallāna memang harus berkata
seperti yang ia katakan. Karena Moggallāna adalah seorang yang membicarakan
Dhamma.”
16. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Mahā Moggallāna memberitahu Sang
Bhagavā: “Kemudian, Yang Mulia, aku berkata kepada Yang Mulia Sāriputta: ‘Teman
Sāriputta … Bhikkhu seperti apakah yang dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga?’
Dan Yang Mulia Sāriputta menjawab: ‘Di sini, teman Moggallāna, seorang bhikkhu
menguasai pikirannya … [219] (seperti pada paragraf nomor ke-9) … Bhikkhu
seperti itu dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga.’”
“Bagus, bagus, Moggallāna. Sesungguhnya, Sāriputta memang harus berkata
seperti yang ia katakan. Karena Sāriputta menguasai pikirannya, ia tidak
membiarkan pikirannya memguasainya. Di pagi hari ia berdiam dalam kediaman
atau pencapaian apapun yang ingin ia diami selama pagi hari; di siang hari ia
berdiam dalam kediaman atau pencapaian apapun yang ingin ia diami selama siang
hari; di malam hari ia berdiam dalam kediaman atau pencapaian apapun yang ingin
ia diami selama malam hari.”
17. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Sāriputta bertanya kepada Sang
Bhagavā: “Yang Mulia, yang manakah di antara kami yang telah berkata dengan
benar?”
“Kalian semua telah berkata dengan benar, Sāriputta, masing-masing dengan
caranya masing-masing. Dengarkanlah juga dariKu bhikkhu seperti apakah yang
dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga. Di sini, Sāriputta, ketika seorang
bhikkhu telah kembali dari perjalanan menerima dana makanan, setelah makan, ia
duduk bersila, menegakkan badan, dan menegakkan perhatian di depannya,
bertekad: ‘Aku
tidak akan bangkit dari posisi duduk ini hingga batinku terbebas dari noda-noda
melalui ketidak-melekatan.’ Bhikkhu seperti itu dapat menerangi Hutan pohon Sāla Gosinga.”
[Kitab Komentar : Sementara jawaban-jawaban para
siswa dianggap sebagai idealisme seorang bhikkhu yang telah mencapai kemahiran
dalam bidang tertentu dari kehidupan meninggalkan keduniawian, jawaban Sang
Buddha, dengan menitik-beratkan pada seorang bhikkhu yang masih berjuang untuk
mencapai tujuan, menggaris-bawahi tujuan utama dari kehidupan suci itu sendiri.]
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para mulia itu merasa
puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, umat agama samawi diajarkan
untuk tenggelam dan termakan oleh imajinasi serta fantasi-korupnya, pikiran yang
liar tidak terkendali—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih
Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
silahkan nilai dengan nurani serta akal-sehat maupun pikiran-jernih Anda
sendiri, apakah sang “nabi rasul Allah”, apakah layak “PENDOSA PECANDU-BERAT
PENGHAPUSAN DOSA” berikut di bawah ini layak dan patut diklaim sebagai “manusia
paling baik dan paling sempurna”, sebagaimana sesumbar para muslim yang memeluk
“agama islam versi fantasi mereka sendiri”?—juga masih dikutip dari Hadis
Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]