Khotbah Sang Buddha tentang Kehidupan di Surga dan Kehidupan di Neraka
Question: Seperti apakah, derita di alam neraka serta kesenangan
di alam surga, menurut Buddhisme?
Brief
Answer: Sungguh sukar hanya dalam
satu atau dua kalimat, untuk dapat memberikan penggambaran akurat mengenai alam
surga maupun neraka lengkap dengan kondisi yang melingkupi masing-masing alam
tersebut. Namun Sang Buddha dalam Sutta Pitaka ada memberikan penggambaran mengenai
surga dan neraka, lewat perumpamaan.
PEMBAHASAN:
Gambaran
mengenai surga dan neraka sebagaimana diilustrasikan oleh Sang Buddha, dapat
kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima
Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A
Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by
Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia
oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):
SUTTA
129
Bālapaṇḍita Sutta: Orang Dungu
dan Orang Bijaksana
[163] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para
bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai
berikut:
(SI
DUNGU)
2. “Bhikkhu, ada
tiga karakteristik dari seorang dungu ini, tanda-tanda seorang dungu,
sifat-sifat seorang dungu. Apakah tiga ini? Di sini seorang dungu adalah seorang yang
memikirkan pikiran-pikiran buruk, mengucapkan kata-kata buruk, dan melakukan
perbuatan-perbuatan buruk. Jika seorang dungu tidak demikian, bagaimana
mungkin para bijaksana dapat mengenalinya sebagai berikut: ‘Orang ini adalah
seorang dungu, seorang bukan manusia sejati’? Tetapi karena seorang dungu
adalah seorang yang memikirkan pikiran-pikiran buruk, mengucapkan kata-kata
buruk, dan melakukan perbuatan-perbuatan buruk, maka para bijaksana
mengenalinya sebagai berikut: ‘Orang ini adalah seorang dungu, seorang bukan
manusia sejati.’
3. “Seorang
dungu merasakan kesakitan dan kesedihan di sini dan saat ini dalam tiga cara. Jika seorang dungu duduk dalam suatu pertemuan
atau berada di jalan atau di suatu lapangan dan orang-orang di sana sedang
mendiskusikan persoalan-persoalan yang berhubungan dan berkaitan, maka, jika si
dungu itu adalah seorang yang membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa
yang tidak diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan indria, mengucapkan
kebohongan, meminum anggur, minuman keras, dan minuman memabukkan, yang menjadi
dasar bagi kelengahan, ia berpikir: ‘Orang-orang ini sedang mendiskusikan
persoalan-persoalan yang berhubungan dan berkaitan; hal-hal ini terdapat
dalam diriku, dan aku terlihat sedang melakukan hal-hal tersebut.’ Ini adalah jenis
pertama kesakitan dan kesedihan yang dirasakan oleh seorang dungu di sini dan
saat ini.
4. “Kemudian, seorang penjahat perampok tertangkap, seorang dungu
menyaksikan raja-raja menjatuhkan berbagai jenis hukuman padanya: [164] setelah
menderanya dengan cambukan, memukulnya dengan rotan, memukulnya dengan pemukul;
setelah memotong tangannya, memotong kakinya, memotong tangan dan kakinya;
memotong telinganya, memotong hidungnya, memotong telinga dan hidungnya;
dikenai siksaan ‘panci bubur,’ ‘cukuran kulit kerang yang digosok,’ ‘mulut
Rāhu,’ ‘lingkaran api,’ ‘tangan menyala,’ ‘helai rumput,’ ‘pakaian kulit kayu,’
‘kijang,’ ‘kail daging,’ ‘kepingan uang,’ ‘cairan asin,’ ‘tusukan berporos,’
‘gulungan tikar jerami’; dan mereka disiram dengan minyak mendidih, dan mereka
dibuang agar dimangsa oleh anjing-anjing, dan mereka dalam keadaan hidup
ditusuk dengan kayu pancang, dan kepalanya dipenggal dengan pedang. Kemudian si
dungu berpikir: ‘Karena perbuatan-perbuatan jahat demikian, ketika seorang
penjahat perampok tertangkap, raja-raja menjatuhkan berbagai jenis hukuman
padanya: mereka menderanya dengan cambukan ... dan memenggal kepalanya dengan
pedang. Hal-hal itu terdapat dalam diriku, dan aku terlihat sedang melakukan
hal-hal tersebut.’ Ini
adalah jenis ke dua kesakitan dan kesedihan yang dirasakan oleh seorang dungu
di sini dan saat ini.
[Kitab Komentar : Kisah raja menjatuhkan berbagai
jenis hukuman kepada penjahat, dapat disimak pada Majjhima Nikāya 13.14]
5. “Kemudian, ketika seorang dungu sedang berada di atas kursinya atau di
atas ranjangnya atau sedang beristirahat di atas lantai, kemudian perbuatan-perbuatan
jahat yang ia lakukan di masa lalu – perilaku salah secara jasmani, ucapan, dan
pikiran – meliputinya, menyelimutinya, dan membungkusnya. Bagaikan bayangan sebuah puncak gunung besar di
malam hari meliputi, menyelimuti, dan membungkus bumi ini, demikian pula,
ketika seorang dungu sedang berada di atas kursinya atau di atas ranjangnya
atau sedang beristirahat di atas lantai, [165] kemudian perbuatan-perbuatan
jahat yang ia lakukan di masa lalu – perilaku salah secara jasmani, ucapan, dan
pikiran – meliputinya, menyelimutinya, dan membungkusnya. Kemudian si dungu
berpikir: ‘Aku tidak pernah melakukan apa yang baik, aku tidak pernah melakukan
apa yang bermanfaat, aku tidak pernah membangun tempat bernaung dari kesedihan
untuk diriku. Aku telah melakukan apa yang buruk, aku telah melakukan apa yang
kejam, aku telah melakukan apa yang jahat. Ketika aku meninggal dunia, aku akan
pergi menuju kelahiran kembali dari mereka yang tidak pernah melakukan apa yang
baik, yang tidak pernah melakukan apa yang bermanfaat, yang tidak pernah
membangun tempat bernaung dari kesedihan, yang telah melakukan apa yang buruk, yang
telah melakukan apa yang kejam, yang telah melakukan apa yang jahat.’ Ia
berdukacita, sedih, dan meratap, ia menangis dengan memukul dadanya dan menjadi
kebingungan. Ini
adalah jenis ke tiga kesakitan dan kesedihan yang dirasakan oleh seorang dungu
di sini dan saat ini.
6. “Seorang
dungu yang telah menyerahkan diri kepada perilaku salah dalam jasmani, ucapan,
dan pikiran, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan muncul kembali
dalam kondisi kesengsaraan, di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, bahkan
di neraka.
(NERAKA)
7. “Jika dengan benar mengatakan tentang sesuatu: ‘Sungguh tidak
diharapkan, sungguh tidak diinginkan, sungguh tidak menyenangkan,’ adalah
tentang neraka hal itu dikatakan, sedemikian sehingga sulit menemukan
perumpamaan bagi penderitaan di neraka.”
Ketika hal ini dikatakan, seorang bhikkhu bertanya kepada Sang Bhagavā:
“Tetapi, Yang Mulia, dapatkah suatu perumpamaan diberikan?”
8. “Dapat, Bhikkhu,” Sang Bhagavā berkata.
[Kitab Komentar : Perumpamaan berikut ini juga
digunakan pada Saṁyutta Nikāya 12:63/ii.100 untuk mengilustrasikan
makanan bagi kesadaran (viññāṇāhāra).]
“Para bhikkhu, misalkan beberapa orang menangkap seorang penjahat
perampok dan membawanya ke hadapan raja, dengan berkata: ‘Baginda, ini adalah
seorang penjahat perampok. Perintahkanlah hukuman apapun yang engkau inginkan
atas dirinya.’ Kemudian raja berkata: ‘Pergilah dan tusuk orang ini di pagi
hari dengan seratus tombak.’ Dan mereka menusuknya di pagi hari dengan seratus
tombak. Kemudian di siang hari raja bertanya: ‘Bagaimana orang itu?’ –
‘Baginda, ia masih hidup.’ Kemudian ia berkata: ‘Pergilah dan tusuk orang ini
di siang hari dengan seratus tombak.’ Dan mereka menusuknya di siang hari
dengan seratus tombak. Kemudian di malam hari raja bertanya: ‘Bagaimana orang
itu?’ – ‘Baginda, ia masih hidup.’ Kemudian ia berkata: ‘Pergilah dan tusuk
orang ini di malam hari dengan seratus tombak.’ Dan mereka menusuknya di malam
hari dengan seratus tombak. [166] Bagaimana
menurut kalian, para bhikkhu? Apakah orang itu mengalami kesakitan dan
kesedihan karena ditusuk dengan tiga ratus tombak?”
“Yang
Mulia, orang itu akan mengalami kesakitan dan kesedihan karena ditusuk bahkan
hanya dengan satu tombak, apa lagi tiga ratus.”
9. Kemudian, dengan mengambil sebutir batu berukuran sekepalan tanganNya,
Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Bagaimana
menurut kalian, para bhikkhu? Manakah yang lebih besar, batu kecil yang kuambil
ini, yang berukuran sekepalan tanganKu, atau Himalaya, raja pegunungan?”
“Yang Mulia, batu kecil yang telah Sang Bhagavā ambil itu, yang berukuran
sekepalan tangan Beliau, tidak berarti dibandingkan Himalaya, raja
pegunungan; bahkan tidak ada sebagian kecilnya, tidak dapat dibandingkan.”
“Demikian
pula, para bhikkhu, kesakitan dan kesedihan yang orang itu alami karena ditusuk
dengan tiga ratus tombak adalah tidak berarti dibandingkan penderitaan neraka;
bahkan tidak ada sebagian kecilnya, tidak dapat dibandingkan.
10. “Kemudian para penjaga neraka menyiksanya dengan lima tusukan. Mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus satu tangan, mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus tangan lainnya, mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus satu kakinya, mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus kaki lainnya, mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus perutnya. Di sana ia merasakan
perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari
perbuatan jahatnya belum habis.
11. “Kemudian para penjaga neraka melemparnya ke bawah dan mengulitinya
dengan kapak. Di
sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
12. “Kemudian para penjaga neraka menggantungnya dengan kaki di atas dan
kepala di bawah dan mengulitinya dengan alat pengukir kayu. Di sana ia merasakan
perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari
perbuatan jahatnya belum habis.
13. “Kemudian para penjaga neraka mengikatnya pada sebuah kereta dan
menariknya ke sana-sini di atas tanah yang terbakar, menyala, dan berpijar.
[167] Di
sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
14. “Kemudian para penjaga neraka menyuruhnya memanjat naik dan turun di
atas gundukan bara api yang terbakar, menyala, dan berpijar. Di sana ia merasakan
perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari
perbuatan jahatnya belum habis.
15. “Kemudian para penjaga neraka menggantungnya dengan kaki di atas dan
kepala di bawah dan mencelupkannya ke dalam panci logam panas yang terbakar,
menyala, dan berpijar. Ia direbus di sana di dalam pusaran buih. Dan ketika ia
direbus di sana di dalam pusaran buih, ia kadang-kadang terhanyut ke atas,
kadang-kadang ke bawah, kadang-kadang ke sekeliling. Di sana ia merasakan
perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari
perbuatan jahatnya belum habis.
16. “Kemudian para penjaga neraka melemparnya ke dalam Neraka Besar. Sekarang sehubungan dengan Neraka Besar, para bhikkhu:
Neraka ini memiliki empat sudut dan dibangun
Dengan empat pintu, satu di setiap sisinya,
Terbatasi dinding terbuat dari besi dan mengelilinginya
Dan ditutup dengan atap besi.
Lantainya juga terbuat dari besi
Dan dipanaskan dengan api hingga berpijar
Luasnya seratus liga
Yang mencakup seluruh wilayah itu.
17. “Para bhikkhu, Aku
dapat menjelaskan dalam banyak cara tentang neraka. Begitu banyak sehingga
sulit menyelesaikan penjelasan terhadap penderitaan di neraka.
[Kitab Komentar : Namun Beliau akan menjelaskan –
pada Majjhima Nikāya 130.17-27.]
(ALAM
BINATANG)
18. “Para bhikkhu, ada binatang-binatang yang memakan rumput.
Binatang-binatang itu makan dengan mengunyah rumput-rumput segar atau kering
dengan giginya. Dan binatang-binatang apakah yang memakan rumput? Kuda, sapi,
keledai, kambing, dan rusa, dan binatang-binatang lain semacam itu. Seorang dungu yang
sebelumnya bersenang dalam rasa kecapan di sini dan melakukan perbuatan jahat
di sini, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan muncul kembali di
tengah-tengah binatang-binatang pemakan rumput itu.
19. “Ada binatang-binatang yang memakan kotoran. Binatang-binatang itu
mencium bau kotoran dari kejauhan dan mendatanginya, dengan berpikir: ‘Kami
bisa makan, kami bisa makan!’ Seperti halnya para brahmana yang mendatangi
aroma suatu pengorbanan, dengan berpikir: ‘Kami bisa makan di sini, kami bisa
makan di sini!’ demikian pula binatang-binatang yang memakan kotoran ini [168]
mencium kotoran dari kejauhan dan mendatanginya, dengan berpikir: ‘Kami bisa
makan di sini, kami bisa makan di sini!’ Dan binatang-binatang apakah yang
memakan kotoran? Unggas, babi, anjing, dan serigala, dan binatang-binatang lain
semacam itu. Seorang
dungu yang sebelumnya bersenang dalam rasa kecapan di sini dan melakukan
perbuatan jahat di sini, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan
muncul kembali di tengah-tengah binatang-binatang pemakan kotoran itu.
20. “Ada binatang-binatang yang lahir, menjadi tua, dan mati dalam
kegelapan. Dan binatang-binatang apakah yang lahir, menjadi tua, dan mati dalam
kegelapan? Ngengat, belatung, dan cacing tanah, dan binatang-binatang lain
semacam itu. Seorang
dungu yang sebelumnya bersenang dalam rasa kecapan di sini dan melakukan
perbuatan jahat di sini, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan
muncul kembali di tengah-tengah binatang-binatang yang lahir, menjadi tua, dan
mati dalam kegelapan.
21. “Ada binatang-binatang yang lahir, menjadi tua, dan mati dalam air.
Dan binatang-binatang apakah yang lahir, menjadi tua, dan mati dalam air? Ikan,
kura-kura, dan buaya, dan binatang-binatang lain semacam itu. Seorang dungu yang
sebelumnya bersenang dalam rasa kecapan di sini dan melakukan perbuatan jahat
di sini, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan muncul kembali di
tengah-tengah binatang-binatang yang lahir, menjadi tua, dan mati dalam air.
22. “Ada binatang-binatang yang lahir, menjadi tua, dan mati dalam
kebusukan. Dan binatang-binatang apakah yang lahir, menjadi tua, dan mati dalam
kebusukan? Binatang-binatang yang lahir, menjadi tua, dan mati dalam ikan busuk
atau dalam mayat busuk atau dalam bubur basi atau dalam jamban atau dalam
saluran air kotor. [169] Seorang
dungu yang sebelumnya bersenang dalam rasa kecapan di sini dan melakukan
perbuatan jahat di sini, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan
muncul kembali di tengah-tengah binatang-binatang yang lahir, menjadi tua, dan
mati dalam kebusukan.
23. “Para bhikkhu, Aku
dapat menjelaskan dalam banyak cara tentang alam binatang. Begitu banyak
sehingga sulit menyelesaikan penjelasan terhadap penderitaan di alam binatang.
24. “Misalkan seseorang melemparkan sebuah gandar berlubang satu ke laut,
dan angin timur meniupnya ke barat, dan angin barat meniupnya ke timur, dan
angin utara meniupnya ke selatan, dan angin selatan meniupnya ke utara.
Misalkan ada seekor kura-kura buta yang muncul ke permukaan setiap satu abad
sekali. Bagaimana menurutmu, Para bhikkhu? Dapatkah kura-kura buta itu
memasukkan lehernya ke dalam gandar berlubang satu itu?”
“Dapat, Yang Mulia, pada suatu saat atau di akhir suatu masa yang lama.”
“Para bhikkhu,
kura-kura buta itu dapat memasukkan lehernya ke dalam gandar berlubang satu itu
lebih cepat daripada seorang dungu, yang begitu terlahir di alam sengsara,
dapat memperoleh kondisi manusianya kembali, Aku katakan. Mengapakah? Karena tidak ada praktik Dhamma di
sana, tidak ada praktik kebenaran, tidak melakukan apa yang bermanfaat, tidak
ada pelaksanaan kebajikan. Di sana hanya ada saling memangsa, dan pembantaian
pada yang lemah.
25. “Jika
pada suatu saat, di akhir suatu masa yang lama, si dungu itu terlahir kembali
menjadi manusia, adalah di dalam keluarga rendah ia terlahir kembali – dalam
keluarga buangan atau pemburu atau pengrajin bambu atau pengrajin kereta atau
pemungut sampah – seorang yang miskin dan kekurangan makanan dan minuman, yang
bertahan hidup dengan kesulitan, di mana ia sulit memperoleh makanan dan
pakaian; dan ia buruk rupa, tidak indah dilihat, dan cacat, berpenyakit, buta,
dengan tangan dan kaki yang timpang, atau lumpuh; ia tidak memperoleh makanan,
minuman, dan pakaian, [170] kendaraan, kalung-bunga, wangi-wangian dan salep,
tempat tidur, tempat tinggal, dan cahaya; ia berperilaku salah dalam jasmani,
ucapan, dan pikiran, dan setelah melakukan itu, ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, ia muncul kembali di alam menderita, di alam tujuan kelahiran
yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka.
26. “Para bhikkhu, misalkan seorang penjudi pada lemparan pertamanya
yang tidak beruntung kehilangan anak dan istrinya dan seluruh hartanya dan
lebih jauh lagi ia akhirnya diperbudak, namun suatu lemparan tidak beruntung
seperti itu adalah tidak berarti; adalah lemparan yang jauh lebih tidak
beruntung ketika seorang dungu berperilaku salah dalam jasmani, ucapan, dan
pikiran, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam
menderita, di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan,
bahkan di neraka. Ini
adalah kesempurnaan penuh dari tingkatan si dungu.
[Kitab Komentar : “Kesempurnaan penuh dari tingkatan
si dungu” yaitu, si dungu melakukan ketiga jenis perilaku salah, yang karenanya
ia terlahir kembali di neraka. Karena sisa-sisa kamma itu, ketika ia
terlahir kembali di alam manusia, ia terlahir kembali di keluarga rendah.
Sekali lagi melakukan ketiga jenis perilaku salah—semisal mengatas-namakan
kemiskinan, lalu melakukan kejahatan maupun penipuan agar memeroleh
kekayaan—yang karenanya sekali lagi terlahir kembali di neraka.]
(ORANG
BIJAKSANA)
27. “Bhikkhu, ada
tiga karakteristik dari seorang bijaksana ini, tanda-tanda seorang bijaksana,
sifat-sifat seorang bijaksana. Apakah tiga ini? Di sini seorang bijaksana adalah seorang yang
memikirkan pikiran-pikiran baik, mengucapkan kata-kata baik, dan melakukan
perbuatan-perbuatan baik. Jika seorang bijaksana tidak demikian, bagaimana
mungkin para bijaksana dapat mengenalinya sebagai berikut: ‘Orang ini adalah
seorang bijaksana, seorang manusia sejati’? Tetapi karena seorang bijaksana
adalah seorang yang memikirkan pikiran-pikiran baik, mengucapkan kata-kata
baik, dan melakukan perbuatan-perbuatan baik, maka para bijaksana mengenalinya
sebagai berikut: ‘Orang ini adalah seorang bijaksana, seorang manusia sejati.’
28. “Seorang
bijaksana merasakan kenikmatan dan kegembiraan di sini dan saat ini dalam tiga
cara. Jika seorang
bijaksana duduk dalam suatu pertemuan atau berada di jalan atau di suatu
lapangan dan orang-orang di sana sedang mendiskusikan persoalan-persoalan yang
berhubungan dan berkaitan, maka, jika si bijaksana itu adalah seorang yang
menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang
tidak diberikan, menghindari berperilaku salah dalam kenikmatan indria, [171]
menghindari kebohongan, menghindari meminum anggur, minuman keras, dan minuman
memabukkan, yang menjadi dasar bagi kelengahan, ia berpikir: ‘Orang-orang ini
sedang mendiskusikan persoalan-persoalan yang berhubungan dan berkaitan; hal-hal
ini tidak terdapat dalam diriku, dan aku tidak terlihat sedang melakukan
hal-hal tersebut.’ Ini
adalah jenis pertama kenikmatan dan kegembiraan yang dirasakan oleh seorang
bijaksana di sini dan saat ini.
[Kitab Komentar : Walaupun teks Pali tidak
mencantumkan partikel negatif “na” terkait kalimat “tidak terlihat
sedang melakukan hal-hal tersebut”, namun tampaknya di sini diperlukan untuk
menghasilkan makna yang dimaksudkan, dan ini muncul pada klausa sejenis dalam
paragraf berikutnya.]
29. “Kemudian, seorang penjahat perampok tertangkap, seorang bijaksana
menyaksikan raja-raja menjatuhkan berbagai jenis hukuman padanya ... (seperti pada paragraf nomor ke-4) ... Kemudian
si bijaksana berpikir: ‘Karena perbuatan-perbuatan jahat demikian, ketika
seorang penjahat perampok tertangkap, raja-raja menjatuhkan berbagai jenis
hukuman padanya. Hal-hal itu tidak terdapat dalam diriku, dan aku tidak
terlihat sedang melakukan hal-hal tersebut.’ Ini adalah jenis ke dua
kenikmatan dan kegembiraan yang dirasakan oleh seorang bijaksana di sini dan
saat ini.
30. “Kemudian, ketika seorang bijaksana sedang berada di atas kursinya
atau di atas ranjangnya atau sedang beristirahat di atas lantai, kemudian
perbuatan-perbuatan baik yang ia lakukan di masa lalu – perilaku baik secara
jasmani, ucapan, dan pikiran – meliputinya, menyelimutinya, dan membungkusnya.
Bagaikan bayangan sebuah puncak gunung besar di malam hari meliputi,
menyelimuti, dan membungkus bumi ini, demikian pula, ketika seorang bijaksana
sedang berada di atas kursinya atau di atas ranjangnya atau sedang beristirahat
di atas lantai, kemudian perbuatan-perbuatan baik yang ia lakukan di masa lalu
– perilaku baik secara jasmani, ucapan, dan pikiran – meliputinya,
menyelimutinya, dan membungkusnya. Kemudian si bijaksana berpikir: ‘Aku tidak pernah
melakukan apa yang buruk, aku tidak pernah melakukan apa yang kejam, aku tidak
pernah melakukan apa yang jahat. Aku telah melakukan apa yang baik, aku telah
melakukan apa yang bermanfaat, aku telah membangun tempat bernaung dari
kesedihan untuk diriku. Ketika aku meninggal dunia, Aku akan pergi menuju alam
tujuan kelahiran dari mereka yang tidak pernah melakukan apa yang jahat, yang
tidak pernah melakukan apa yang buruk, yang tidak pernah melakukan apa yang
kejam, yang telah melakukan apa yang baik, yang telah melakukan apa yang
bermanfaat, yang telah membangun tempat bernaung dari kesedihan untuk diri
mereka.’ Ia tidak
berdukacita, sedih, atau meratap, ia tidak menangis dengan memukul dadanya dan
tidak menjadi kebingungan. Ini
adalah jenis ke tiga kenikmatan dan kegembiraan yang dirasakan oleh seorang
bijaksana di sini dan saat ini.
31. “Seorang
bijaksana yang telah menyerahkan diri kepada perilaku baik dalam jasmani,
ucapan, dan pikiran, [172] ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan
muncul kembali di alam tujuan kelahiran yang bahagia, bahkan di alam surga.
[Komentar : Agama samawi mencoba memuliakan “Tuhan
Sang Pencipta” dengan ritual sembah-sujud dan puja-pujian. Sebaliknya,
Buddhisme menjadikan seseorang memiliki perilaku mulia dan menjadi seorang
mulia untuk memuliakan semesta.]
(SURGA)
32. “Jika dengan benar mengatakan tentang sesuatu: ‘Sungguh sangat
diharapkan, sungguh sangat diinginkan, sungguh sangat menyenangkan,’ adalah
tentang surga hal ini dikatakan, sedemikian
sehingga sulit untuk menyelesaikan penggambaran kebahagiaan di alam surga.”
Ketika hal ini dikatakan, seorang bhikkhu bertanya kepada Sang Bhagavā:
“Tetapi, Yang Mulia, dapatkah suatu perumpamaan diberikan?”
33. “Dapat, Bhikkhu,” Sang Bhagavā berkata. “Para bhikkhu, misalkan bahwa
seorang Raja Pemutar-Roda memiliki tujuh pusaka dan empat jenis keberhasilan,
dan karena hal itu mengalami kenikmatan dan kegembiraan.
[Kitab Komentar : Perihal “Raja Pemutar-Roda”, baca
Majjhima Nikāya 91.5. Legenda Raja Pemutar-Roda dibahas secara lengkap dalam
Dīgha Nikāya 17 dan Dīgha Nikāya 26.]
34. “Apakah ketujuh pusaka ini? Di sini, ketika seorang raja mulia yang
sah telah mencuci kepalanya di hari Uposatha tanggal lima belas dan telah naik
ke kamar atas istana untuk melaksanakan Uposatha, di sana muncul padanya
pusaka-roda surgawi berjeruji seribu, dengan lingkaran, dan porosnya, lengkap
dalam segala aspek. Ketika melihatnya, raja mulia yang sah itu berpikir: ‘Aku
telah mendengar bahwa ketika seorang raja mulia yang sah telah mencuci
kepalanya di hari Uposatha tanggal lima belas dan telah naik ke kamar atas
istana untuk melaksanakan Uposatha, dan di sana muncul padanya pusaka-roda
surgawi berjeruji seribu, dengan lingkaran, dan porosnya, lengkap dalam segala
aspek, maka raja itu menjadi seorang Raja Pemutar-Roda. Apakah aku adalah
seorang Raja Pemutar-Roda?’
[Kitab Komentar : Perihal hari Uposatha tanggal lima
belas, Uposatha merupakan hari pelaksanaan religius di India Kuno, juga diserap
apa adanya dalam Buddhisme. Ada malam-malam yang secara khusus sangat baik
yaitu malam ke empat belas, ke lima belas, dan ke delapan dalam dwiminggu.
Tahun India, menurut sistem kuno yang diwarisi oleh
Buddhisme, terbagi dalam tiga musim – musim dingin, musim panas, dan musim
hujan – masing-masing berlangsung selama empat bulan. Empat bulan itu dibagi
lagi dalam delapan periode dua mingguan (pakkha), yang ke tiga dan ke
tujuh terdiri dari empat belas hari dan yang lainnya terdiri dari lima belas
hari. Pada masing-masing dua mingguan, malam bulan purnama dan bulan baru (baik
tanggal empat belas atau lima belas) dan malam bulan setengah (hari ke delapan)
dianggap sebagai hari yang keramat.
Dalam Buddhisme masa sekarang menjadi Uposatha, hari
pelaksanaan aturan-aturan religius. Pada hari bulan purnama dan bulan baru para
bhikkhu membacakan aturan-aturan dan umat-umat awam mengunjungi vihara untuk
mendengarkan khotbah atau mempraktikkan meditasi.]
35. “Kemudian raja mulia yang sah itu bangkit dari duduknya, dan dengan
membawa sekendi air di tangan kirinya, ia memercikkan pusaka-roda itu dengan
tangan kanannya, dengan berkata: ‘Berputarlah maju, pusaka-roda yang baik;
menanglah, pusaka-roda yang baik!’ Kemudian pusaka-roda itu berputar maju ke
arah timur dan Sang Raja Pemutar Roda mengikutinya bersama dengan empat barisan
bala tentaranya. Sekarang di wilayah manapun pusaka-roda itu berhenti, di sana
Sang Raja Pemutar-Roda berdiam bersama keempat barisan bala tentaranya. Dan
[173] para raja lawan di arah timur mendatangi Raja Pemutar-Roda dan berkata:
‘Datanglah, Raja Agung; selamat datang, Raja Agung; perintahlah, Raja Agung;
nasihatilah, Raja Agung.’ Sang Raja Pemutar-Roda berkata sebagai berikut: ‘Kalian tidak boleh
membunuh makhluk-makhluk hidup; kalian tidak boleh mengambil apa yang tidak
diberikan; kalian tidak boleh berperilaku salah dalam kenikmatan indria; kalian
tidak boleh mengucapkan kebohongan; kalian tidak boleh meminum minuman memabukkan;
kalian seharusnya memakan apa yang biasanya kalian makan.’ Dan para raja lawan di arah timur mematuhi Raja
Pemutar-Roda.
“Kemudian pusaka-roda masuk ke dalam samudra timur dan keluar kembali.
Dan kemudian berputar maju ke arah selatan ... Dan para raja lawan di arah
selatan mematuhi Raja Pemutar-Roda. Kemudian pusaka-roda masuk ke dalam samudra
selatan dan keluar kembali. Dan kemudian berputar maju ke arah barat ... Dan
para raja lawan di arah barat mematuhi Raja Pemutar-Roda. Kemudian pusaka-roda
masuk ke dalam samudra barat dan keluar kembali. Dan kemudian berputar maju ke
arah utara ... Dan para raja lawan di arah utara mematuhi Raja Pemutar-Roda.
“Sekarang ketika pusaka-roda telah memenangkan seluruh bumi hingga ke
batas samudra, pusaka-roda itu kembali ke ibukota dan berdiam seolah-olah
terpasang pada porosnya di gerbang istana di istana dalam Sang Raja
Pemutar-Roda, sebagai penghias gerbang menuju istana dalamnya. Demikianlah
pusaka-roda yang muncul bagi seorang Raja Pemutar-Roda.
36. “Kemudian, pusaka-gajah muncul untuk si Raja Pemutar-Roda, berwarna
putih, dengan tujuh sikap berdiri, dengan kekuatan gaib, terbang melalui
angkasa, raja gajah bernama ‘Uposatha.’ Ketika melihatnya, pikiran Sang Raja
Pemutar-Roda berkeyakinan sebagai berikut: ‘Akan menakjubkan sekali menunggang
gajah ini, jika ia dapat dijinakkan!’ Kemudian pusaka-gajah itu [174]
dijinakkan seperti seekor gajah dari keturunan murni yang baik yang telah
dijinakkan dengan baik untuk waktu yang lama. Dan demikianlah yang terjadi pada
Raja Pemutar-Roda, ketika mencoba pusaka-gajahnya, menungganginya di pagi hari,
dan setelah melewati seluruh permukaan bumi hingga ke batas samudra, ia kembali
ke ibukota kerajaan untuk sarapan pagi. Demikianlah pusaka-gajah yang muncul
bagi seorang Raja Pemutar-Roda.
37. “Kemudian, pusaka-kuda muncul untuk si Raja Pemutar-Roda, berwarna
putih, dengan kepala sehitam burung gagak, dengan bulu tengkuk seperti rumput
muñja, dengan kekuatan gaib, terbang melalui angkasa, raja kuda bernama
‘Valāhaka’ [‘Awan Petir’]. Ketika melihatnya, pikiran Sang Raja Pemutar-Roda
berkeyakinan sebagai berikut: ‘Akan menakjubkan sekali menunggang kuda ini,
jika ia dapat dijinakkan!’ Kemudian pusaka-kuda itu dijinakkan seperti seekor
kuda dari keturunan murni yang baik yang telah dijinakkan dengan baik untuk
waktu yang lama. Dan demikianlah yang terjadi pada Raja Pemutar-Roda, ketika
mencoba pusaka-kudanya, menungganginya di pagi hari, dan setelah melewati
seluruh permukaan bumi hingga ke batas samudra, ia kembali ke ibukota kerajaan
untuk sarapan pagi. Demikianlah pusaka-kuda yang muncul bagi seorang Raja
Pemutar-Roda.
38. “Kemudian, pusaka-permata muncul untuk si Raja Pemutar-Roda. Permata
itu adalah sebutir permata beryl sebening air yang paling murni, bersisi
delapan, dipotong dengan baik. Sekarang cahaya dari pusaka-permata itu bersinar
sejauh satu liga. Dan demikianlah yang terjadi ketika Sang Raja Pemutar-Roda
mencoba pusaka-permatanya, ia membariskan keempat barisan bala tentaranya, dan
menaikkan permata itu di atas benderanya, ia berjalan di dalam kegelapan dan
kekelaman malam. Kemudian semua [penduduk] desa di dekatnya mulai bekerja
dengan penerangan dari permata itu, menganggap bahwa hari telah siang.
Demikianlah pusaka-permata yang muncul bagi seorang Raja Pemutar-Roda.
39. “Kemudian, pusaka-perempuan muncul untuk si Raja Pemutar-Roda,
cantik, menarik dan anggun, memiliki kulit yang sangat indah, tidak terlalu
tinggi juga tidak terlalu pendek, [175] tidak terlalu kurus juga tidak terlalu
gemuk, tidak terlalu gelap juga tidak terlalu cerah, melampaui kecantikan
manusia tanpa menyaingi kecantikan surgawi. Sentuhan pusaka-perempuan adalah
seperti sentuhan segumpal kapuk atau segumpal kapas. Ketika cuaca dingin,
tubuhnya hangat; ketika cuaca hangat, tubuhnya dingin. Dari tubuhnya menguar
aroma cendana, dan dari mulutnya menguar aroma seroja. Ia bangun sebelum Sang
Raja dan tidur setelah Sang Raja. Ia suka melayani, berperilaku menyenangkan,
dan bertutur-kata manis. Karena ia tidak pernah berkhianat pada Sang Raja
Pemutar-Roda bahkan dalam pikiran, bagaimana mungkin ia melakukannya secara
jasmani? Demikianlah pusaka-perempuan yang muncul bagi seorang Raja
Pemutar-Roda.
40. “Kemudian, pusaka-pelayan muncul untuk si Raja Pemutar-Roda. Mata
dewa yang muncul karena perbuatan masa lampau muncul dalam dirinya sehingga ia
mampu melihat harta-harta karun tersembunyi baik yang ada pemiliknya maupun
yang tidak ada pemiliknya. Ia mendatangi Raja Pemutar-Roda dan berkata:
‘Baginda, silakan engkau bersantai. Aku akan mengatur urusan keuanganmu.’ Dan
demikianlah yang terjadi ketika Sang Raja Pemutar-Roda mencoba
pusaka-pelayannya, ia menaiki perahu, dan melayarkannya ke sungai Gangga, di
tengah sungai ia berkata kepada pusaka-pelayan: ‘Aku memerlukan emas dan perak,
pelayan.’ – ‘Kalau begitu, Baginda, silahkan perahu ini menepi ke satu sisi.’ –
‘Pelayan, sebenarnya aku memerlukan emas dan perak itu di sini.’ Maka
pusaka-pelayan itu mencelupkan tangannya ke air dan menarik sekendi penuh emas
dan perak, dan ia berkata kepada Raja Pemutar-Roda: ‘Apakah ini cukup, Baginda?
Cukupkah yang telah dilakukan, cukupkah yang telah dipersembahkan?’ – ‘Ini
cukup, Pelayan, apa yang dilakukan telah mencukupi, apa yang dipersembahkan
telah mencukupi.’ Demikianlah pusaka-pelayan yang muncul bagi seorang Raja
Pemutar-Roda.
41. “Kemudian, pusaka-penasihat muncul [176] untuk si Raja Pemutar-Roda,
bijaksana, cerdas, dan cerdik, mampu menyarankan Sang Raja Pemutar-Roda untuk
memajukan apa yang seharusnya dimajukan, untuk menolak apa yang seharusnya
ditolak, dan untuk menegakkan apa yang seharusnya ditegakkan. Ia mendatangi
Raja Pemutar-Roda dan berkata: ‘Baginda, silakan engkau bersantai. Aku akan
memerintah.’ Demikianlah pusaka-penasihat yang muncul bagi seorang Raja
Pemutar-Roda.
“Ini adalah
ketujuh pusaka yang dimiliki oleh seorang Raja Pemutar-Roda.
42. “Apakah keempat
jenis keberhasilan? Di sini
seorang Raja Pemutar-Roda tampan, menarik dan anggun, memiliki kulit yang
sangat indah, dan ia melampaui manusia lainnya dalam hal ini. Ini adalah
keberhasilan pertama yang dimiliki oleh seorang Raja Pemutar-Roda.
43. “Kemudian seorang Raja Pemutar-Roda berumur panjang dan bertahan
lama, dan ia melampaui manusia lainnya dalam hal ini. Ini adalah
keberhasilan ke dua yang dimiliki oleh seorang Raja Pemutar-Roda.
44. “Kemudian seorang Raja Pemutar-Roda bebas dari penyakit dan
penderitaan, memiliki pencernaan yang baik yang tidak terlalu dingin dan tidak
terlalu panas, dan ia melampaui manusia lainnya dalam hal ini. Ini adalah
keberhasilan ke tiga yang dimiliki oleh seorang Raja Pemutar-Roda.
45. “Kemudian seorang Raja Pemutar-Roda disayangi dan menyenangkan
bagi para brahmana dan para perumah-tangga. Seperti halnya seorang ayah
disayangi dan menyenangkan bagi anak-anaknya, demikian pula seorang Raja
Pemutar-Roda disayangi dan menyenangkan bagi para brahmana dan para
perumah-tangga. Para brahmana dan para perumah-tangga, juga, disayangi dan
menyenangkan bagi Sang Raja Pemutar-Roda. Seperti halnya anak-anak disayang
dan menyenangkan bagi seorang ayah, demikian pula para brahmana dan para
perumah-tangga, juga, disayangi dan menyenangkan bagi Sang Raja Pemutar-Roda.
Suatu ketika seorang Raja Pemutar-Roda sedang berkendara di Taman Rekreasi
bersama dengan keempat barisan bala-tentaranya. Kemudian para brahmana dan para
perumah-tangga mendatanginya dan berkata: ‘Baginda, berjalanlah lebih lambat
agar kami dapat melihatmu lebih lama.’ Dan demikianlah ia memerintahkan
kusirnya: [177] ‘Kusir, berjalanlah lebih lambat agar aku dapat melihat para
brahmana dan para perumah-tangga ini lebih lama.’ Ini adalah keberhasilan ke
empat yang dimiliki oleh seorang Raja Pemutar-Roda.
“Ini adalah keempat
jenis keberhasilan yang dimiliki oleh seorang Raja Pemutar-Roda.
46. “Bagaimana menurut kalian, Para Bhikkhu? Apakah seorang Raja
Pemutar-Roda mengalami kenikmatan dan kegembiraan karena memiliki ketujuh
pusaka dan keempat keberhasilan ini?”
“Yang Mulia, seorang Raja Pemutar-Roda akan mengalami kenikmatan dan
kegembiraan karena memiliki bahkan hanya satu pusaka, apalagi ketujuh pusaka
dan keempat keberhasilan ini.”
47. Kemudian, dengan mengambil sebutir batu berukuran sekepalan
tanganNya, Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Bagaimana menurut
kalian, para bhikkhu? Manakah yang lebih besar, batu kecil yang kuambil ini,
yang berukuran sekepalan tanganKu, atau Himalaya, raja pegunungan?”
“Yang Mulia, batu
kecil yang telah Sang Bhagavā ambil itu, yang berukuran sekepalan tangan
Beliau, tidak berarti dibandingkan Himalaya, raja pegunungan; bahkan tidak ada
sebagian kecilnya, tidak dapat dibandingkan.”
“Demikian
pula, para bhikkhu, kenikmatan dan kegembiraan yang dialami oleh seorang Raja
Pemutar-Roda karena memiliki ketujuh pusaka dan keempat keberhasilan adalah
tidak berarti dibandingkan kebahagiaan surgawi; bahkan tidak ada sebagian
kecilnya, tidak dapat dibandingkan.
48. “Jika
pada suatu saat, di akhir suatu masa yang lama, si bijaksana itu terlahir
kembali menjadi manusia, adalah di dalam keluarga yang tinggi ia terlahir
kembali – dalam keluarga mulia makmur, atau keluarga brahmana makmur, atau
keluarga perumah-tangga makmur – yang kaya, memiliki banyak harta kekayaan,
memiliki banyak kepemilikan, dengan emas dan perak berlimpah, dan aset dan
harta berlimpah, dan dengan uang dan hasil panen berlimpah. Ia tampan, menarik,
dan anggun, memiliki kulit yang sangat indah. Ia mendapatkan makanan dan
minuman, pakaian, kendaraan, kalung-bunga, wangi-wangian dan salep, tempat
tidur, tempat tinggal, dan cahaya. Ia berperilaku baik dalam jasmani, ucapan,
dan pikiran, [178] dan setelah melakukan itu, ketika hancurnya jasmani, setelah
kematian, ia muncul kembali di alam tujuan kelahiran yang bahagia, bahkan di
alam surga.
49. “Para bhikkhu, misalkan
seorang penjudi pada lemparan pertamanya yang beruntung memenangkan harta
besar, namun suatu lemparan beruntung seperti itu adalah tidak berarti; adalah
lemparan yang jauh lebih beruntung ketika seorang bijaksana yang berperilaku
baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, ketika hancurnya jasmani, setelah
kematian, ia muncul kembali di alam tujuan kelahiran yang bahagia, bahkan di
alam surga. Ini adalah kesempurnaan penuh dari tingkatan si bijaksana.”
[Kitab Komentar : Yaitu, si bijaksana melakukan
ketiga jenis perbuatan baik, yang karenanya ia terlahir kembali di alam surga.
Kembali ke alam manusia, ia terlahir kembali dalam keluarga yang baik dengan
kerupawanan dan kekayaan. Sekali lagi ia melakukan ketiga jenis perbuatan baik
dan sekali lagi terlahir kembali di alam surga. Harus dipahami bahwa
“kesempurnaan sepenuhnya dari tingkatan si bijaksana” adalah sepenuhnya konteks
pencapaian duniawi, yang tidak berkorelasi dengan tingkat-tingkat kesucian pada
“jalan kebebasan”.]
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas
dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, setelah para muslim puas
berbuat kejahatan, berikut inilah yang dilakukan oleh mereka yang terlampau
pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri
serta selamanya dididik untuk produktif mengoleksi dosa-dosa sebelum kemudian
kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA” sehingga menjelma “KORUPTOR DOSA” dimana dosa-dosa
pun dikorupsi—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Simak
juga bagaimana sang “nabi rasul allah” junjungan para muslim, begitu tergila-gila
pada “PENGHAPUSAN DOSA” akibat dosa-dosanya yang telah menggunung serta masih tergila-gila
untuk mengoleksi segudang dosa lainnya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]