Perdebatan yang Tidak Produktif mengenai Meditasi Samatha Vs. Meditasi Vipassanā. Ajaran Sang Buddha Tidak Sedangkal Dikotomi Kerdil demikian
Question: Sejak beberapa dekade lampau sampai sekarang ini, umat
Buddhist yang mengaku berlatih meditasi, berdebat dan membuat dikotomi dua kubu
yang tampak saling berhadap-hadapan dan saling berseberangan bahkan berseteru
satu sama lainnya (mengklaim sebagai yang paling “benar”), yakni kubu pelatih
meditasi samatha dan pihak seberangnya ialah para pelatih meditasi vipassanā.
Sebenarnya di era Sang Buddha mengajar, meditasi manakah yang diunggulkan,
diutamakan, atau dibuat semacam urutan latihan?
Brief
Answer: Konsep spekulatif yang
dipegang-erat secara membuta, dapat menjelma “mental block” yang
menghambat kemajuan dalam bermeditasi, sementara itu Sang Buddha hanya memuji
kemajuan / peningkatan pencapaian. Kedua kubu tersebut, sama-sama “dungu”. Kita
punya dua tangan, namun jika hanya salah satunya yang digunakan dalam hdup, itulah
watak orang “dungu”. Fanatik pada satu kubu, menjadikan seseorang yang
bermaksud berlatih meditasi, tidak akan pernah mengalami kemajuan, stagnan.
Pada era
Sang Buddha masih mengajar, tidak ada pengkotak-kotakan metoda meditasi sekaku
demikian, kedua metoda digunakan secara simultan. Dalam Aṅguttara
Nikāya, banyak dijumpai sutta-sutta dimana Sang Buddha
memuji pencapaian jhāna, dan dalam kesempatan lainnya Sang Buddha memberikan
arahan pengamatan terhadap objek tubuh sekalipun tampaknya tidak
tersangkut-paut pada pencapaian jhāna. Bahkan, Sang Buddha dalam Aṅguttara
Nikāya juga menyebutkan bahwa merefleksikan dan
menjadikan Dhamma sebagai objek perenungan, juga dapat menghasilkan “buah”, karenanya
tidak mengherankan bila “perenungan terhadap Dhamma” menjadi salah satu objek
meditasi.
Bagai pembonsaian,
praktek meditasi dewasa kini di Tanah Air menjelma “meditasi hidung” maupun “meditasi
pernafasan masuk—pernafasan keluar” semata, sekalipun faktanya objek / subjek
meditasi yang diajarkan oleh Sang Buddha begitu kaya dan tidak monoton sifatnya,
mengingat tidak semua orang cocok menjadikan “pernafasan” sebagai objek
meditasi. Para “guru” meditasi di Vihara, seolah tidak memberikan opsi lain,
selain “meditasi hidung”, karenanya banyak umat Buddhist yang merasa jemu,
bosan, putus asa, dan menyerah selamanya (menjadi apatis dan merasa cukup
menjadi seorang Buddhist yang pragmatis saja dalam menjalani kehidupan sebagai umat
awam).
Contoh paling
sederhana, bila Anda menjadikan indera pendengaran sebagai pintu masuk
kesadaran, semisal mendengar suara udara keluar dari lubang hidup—karena bila
indera pendengaran Anda yang tajam serta mudah terkonsetrasi—dan menyadarinya
sebagai “nafas keluar”; dan mendengar adanya suara udara masuk ke dalam lubang
hidung, menyadarinya sebagai “nafas masuk”, itu pun termasuk meditasi. Akan tetapi,
banyak “guru” meditasi di Vihara menyebutnya sebagai BUKAN cara bermeditasi,
sehingga gagal untuk memberikan arahan / petunjuk, dengan memaksakan “meditasi
hidung” (sekalipun indera hidung ialah indera untuk mengenali bau-bauan, bukan sentuhan)—karena
pengetahuan sang “guru” tentang Dhamma begitu dangkal.
Meditasi,
terkonsentrasi lewat menyeleksi (proses seleksi secara sadar dan berkesinambungan),
menyingkirkan berbagai “noise” dengan terfokus pada satu hal yang telah
dipilih sebagai objeknya. Bila objeknya ialah “meditasi pernafasan” dimana “pernafasan”
menjadi pusat perhatiannya, maka segala sesuatu yang tidak relevan terhadap “nafas”,
dieliminir dari perhatian. Adapun yang dapat Anda pilih sebagai pendekatan,
berupa naik-turunnya perut, sentuhan di lubang hidung, ataupun berupa suara nafas
yang keluar-masuk. Satu objek, pendekatannya bisa beragam, bergantung pada
kecocokan masing-masing yang pihak mempraktekkan / berlatih.
Bukan mengeliminir
segalanya selain “hidung”. Adapun antara “meditasi pernafasan” dan “meditasi hidung”,
adalah dua hal yang berbeda. Sederhananya, sederhanakan konsep tentang meditasi
di benak Anda. Meditasi yang terlampau “teknokratik” (rumit atau kompleks),
cenderung dijauhi oleh umat awam—bahkan merupakan penghalang keberhasilan itu
sendiri—seolah-olah “berjarak” dengan mereka, “tidak terjangkau” oleh kemampuan
umat awam kebanyakan. Sekalipun, faktanya, ajaran Sang Buddha tentang meditasi
sebagaimana dalam sutta pitaka, tidaklah serumit itu, dan yang terpenting ialah
“dapat terjangkau” oleh umat awam.
PEMBAHASAN:
Mereka yang lebih sibuk berdebat dan berteori, daripada berlatih, akan terbentur
oleh konsep yang mengisi kepala mereka sendiri ketika mendengar / membaca khotbah
Sang Buddha dalam “Aṅguttara
Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID V”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh
Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015
oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan sebagai berikut:
60 (10) Girimānanda
Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta,
Taman Anāthapiṇḍika. Pada saat itu Yang Mulia Girimānanda sedang
sakit, menderita, sakit keras. Kemudian Yang Mulia Ānanda mendatangi Sang
Bhagavā, bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Beliau:
[Kitab Komentar : Selain dari teks ini tidak ada
informasi lainnya tentang Girimānanda dalam Nikāya-nikāya. Di Negara-negara
Buddhis Theravāda, sutta ini mendapatkan status paritta, sebuah “khotbah
perlindungan,” yang sering dibacakan oleh para bhikkhu kepada orang-orang yang menderita
penyakit.]
“Bhante, Yang Mulia Girimānanda sedang sakit, menderita, dan sakit keras.
Baik sekali jika Sang Bhagavā sudi menjenguknya demi belas kasihan.”
“Jika, Ānanda, engkau menjenguk Bhikkhu Girimānanda dan menyampaikan
sepuluh persepsi kepadanya, maka adalah mungkin bahwa setelah mendengarnya
penderitaannya akan segera mereda. Apakah sepuluh ini? [109]
“(1) Persepsi
ketidak-kekalan, (2) persepsi tanpa-diri, (3) persepsi
ketidak-menarikan, (4) persepsi bahaya, (5) persepsi
meninggalkan, (6) persepsi kebosanan, (7) persepsi
lenyapnya, (8) persepsi ketidak-senangan
pada seluruh dunia, (9) persepsi
ketidak-kekalan dalam segala fenomena terkondisi, dan (10) perhatian
pada pernapasan.
(1) “Dan apakah, Ānanda, persepsi
ketidak-kekalan? Di
sini, setelah pergi ke hutan, ke bawah sebatang pohon, atau ke gubuk kosong,
seorang bhikkhu merenungkan sebagai berikut: ‘Bentuk
adalah tidak kekal, perasaan adalah tidak kekal, persepsi adalah tidak kekal,
aktivitas-aktivitas kehendak adalah tidak kekal, kesadaran adalah tidak kekal.’ Demikianlah ia berdiam dengan merenungkan
ketidak-kekalan dalam kelima kelompok unsur kehidupan yang tunduk pada
kemelekatan. Ini disebut persepsi ketidak-kekalan.
(2) “Dan apakah, Ānanda, persepsi
tanpa-diri? Di sini,
setelah pergi ke hutan, ke bawah sebatang pohon, atau ke gubuk kosong, seorang
bhikkhu merenungkan sebagai berikut: ‘Mata
adalah tanpa-diri, bentuk-bentuk adalah tanpa-diri; telinga adalah tanpa-diri, suara-suara
adalah tanpa-diri; hidung adalah tanpa-diri, bau-bauan adalah tanpa-diri; lidah
adalah tanpa-diri, rasa kecapan adalah tanpa-diri; badan adalah tanpa-diri,
objek-objek sentuhan adalah tanpa-diri; pikiran adalah tanpa-diri, fenomena
pikiran adalah tanpa-diri.’ Demikianlah ia berdiam dengan merenungkan tanpa-diri dalam enam
landasan indria internal dan eksternal. Ini disebut persepsi tanpa-diri.
(3) “Dan apakah, Ānanda, persepsi
ketidak-menarikan? Di
sini, seorang bhikkhu memeriksa tubuh ini ke atas dari telapak kaki dan ke
bawah dari ujung rambut, yang diselubungi oleh kulit, sebagai penuh dengan
berbagai jenis kekotoran: ‘Ada pada tubuh ini rambut kepala, bulu badan, kuku,
gigi, kulit, daging, urat, tulang, sumsum, ginjal, jantung, hati, selaput
paru-paru, limpa, paru-paru, usus, selaput perut, lambung, kotoran tinja,
empedu, dahak, nanah, darah, keringat, lemak, air mata, pelumas, ludah, ingus,
cairan sendi, air kencing.’ Demikianlah ia berdiam dengan merenungkan ketidak-menarikan
dalam tubuh ini. Ini
disebut persepsi ketidak-menarikan.
(4) “Dan apakah, Ānanda, persepsi
bahaya? Di sini,
setelah pergi ke hutan, ke bawah sebatang pohon, atau ke gubuk kosong, seorang
bhikkhu merenungkan sebagai berikut: ‘Tubuh ini adalah sumber dari
begitu banyak kesakitan [110] dan bahaya; karena segala jenis penyakit muncul
dalam tubuh ini, yaitu, penyakit-mata, penyakit bagian dalam telinga,
penyakit-hidung, penyakit-lidah, penyakit-badan, penyakit-kepala, penyakit
telinga bagian luar, penyakit-mulut, penyakit-gigi, batuk, asma, radang selaput
lendir hidung, pireksia, demam, sakit perut, pingsan, disentri, keluhan-keluhan,
kolera, lepra, bisul, eksim, tuberkulosis, epilepsi, kurap, gatal, keropeng,
cacar, kudis, pendarahan, diabetes, wasir, kanker, hiliran; penyakit yang
berasal-mula dari empedu, dahak, angin, atau kombinasinya; penyakit yang
disebabkan karena perubahan iklim; penyakit yang disebabkan oleh perilaku
ceroboh; penyakit yang disebabkan karena serangan; atau penyakit yang
disebabkan karena akibat kamma; dan dingin, panas, lapar, haus, buang air besar,
dan buang air kecil.’ Demikianlah ia berdiam dengan merenungkan bahaya
dalam tubuh ini. Ini
disebut persepsi bahaya.
(5) “Dan apakah, Ānanda, persepsi
meninggalkan? Di sini, seorang bhikkhu tidak
mentolerir pikiran nafsu indria yang telah muncul; ia meninggalkannya,
menghalaunya, menghentikannya, dan melenyapkannya. Ia tidak mentolerir pikiran
berniat buruk yang telah muncul … pikiran mencelakai yang telah muncul …
kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat kapan pun kondisi-kondisi itu muncul;
ia meninggalkannya, menghalaunya, menghentikannya, dan melenyapkannya. Ini disebut persepsi meninggalkan.
(6) “Dan apakah, Ānanda, persepsi
kebosanan? Di sini,
setelah pergi ke hutan, ke bawah sebatang pohon, atau ke gubuk kosong, seorang
bhikkhu merenungkan sebagai berikut: ‘Ini
damai, ini luhur, yaitu, tenangnya segala aktivitas, lepasnya segala perolehan,
hancurnya ketagihan, kebosanan, nibbāna.’ Ini disebut persepsi kebosanan.
[Kitab Komentar : Ini dan persepsi berikutnya adalah
perenungan reflektif pada nibbāna. Dalam skema empat puluh subjek meditasi
klasik, persepsi-persepsi ini termasuk dalam “perenungan kedamaian” (upasamānussati).]
(7) “Dan apakah, Ānanda, persepsi
lenyapnya? Di sini,
setelah pergi ke hutan, ke bawah sebatang pohon, atau ke gubuk kosong, seorang
bhikkhu merenungkan sebagai berikut: Ini
damai, [111] ini luhur, yaitu, tenangnya segala aktivitas, lepasnya segala
perolehan, hancurnya ketagihan, lenyapnya, nibbāna.’ Ini disebut persepsi lenyapnya.
(8) “Dan apakah, Ānanda, persepsi
ketidak-senangan pada seluruh dunia? Di sini, seorang bhikkhu menahan
diri dari segala keterlibatan dan kemelekatan, sudut-sudut pandang pikiran, ketaatan,
dan kecenderungan tersembunyi sehubungan dengan dunia, meninggalkannya tanpa
melekat padanya. Ini
disebut persepsi ketidak-senangan pada seluruh dunia.
(9) “Dan apakah, Ānanda, persepsi
ketidak-kekalan dalam segala fenomena terkondisi? Di sini, seorang bhikkhu merasa muak, malu, dan
jijik oleh segala fenomena terkondisi. Ini disebut persepsi ketidak-kekalan dalam segala fenomena terkondisi.
[Kitab Komentar : Sulit untuk memastikan bagaimana
penjelasan ini berhubungan dengan tema ketidak-kekalan. Beberapa naskah membaca
persepsi ini sebagai sabbasaṅkhāresu anicchāsaññā, “persepsi tanpa pengharapan (atau tanpa keinginan)
sehubungan dengan segala fenomena terkondisi,” yang tampaknya berhubungan lebih
baik daripada definisi ini.]
(10) “Dan apakah, Ānanda, perhatian
pada pernapasan? Di
sini, seorang bhikkhu, setelah pergi ke hutan, ke bawah sebatang pohon, atau ke
gubuk kosong, duduk bersila, menegakkan tubuhnya, dan menegakkan perhatian di
depannya, dengan penuh perhatian ia menarik napas, penuh perhatian ia
mengembuskan napas.
“Menarik napas panjang, ia mengetahui: ‘Aku menarik napas panjang’; atau mengembuskan
napas panjang, ia mengetahui: ‘Aku mengembuskan napas panjang.’ Menarik napas
pendek, ia mengetahui: ‘Aku menarik napas pendek’; atau mengembuskan napas
pendek, ia mengetahui: ‘Aku mengembuskan napas pendek.’ Ia berlatih
sebagai berikut: ‘Dengan
mengalami seluruh tubuh, aku akan menarik napas’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Dengan mengalami
seluruh tubuh, aku akan mengembuskan napas.’ Ia berlatih sebagai berikut: ‘Dengan menenangkan
aktivitas jasmani, aku akan menarik napas’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Dengan menenangkan
aktivitas jasmani, aku akan mengembuskan napas.’
“Ia berlatih sebagai berikut: ‘Dengan mengalami sukacita, aku akan menarik napas’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Dengan mengalami
sukacita, aku akan mengembuskan
napas.’ Ia berlatih
sebagai berikut: ‘Dengan mengalami kebahagiaan, aku akan menarik napas’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Dengan mengalami kebahagiaan,
aku akan mengembuskan
napas.’ Ia berlatih
sebagai berikut: ‘Dengan mengalami aktivitas pikiran, aku akan menarik napas’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Dengan mengalami
aktivitas pikiran, aku akan mengembuskan
napas.’ Ia berlatih
sebagai berikut: ‘Dengan menenangkan aktivitas pikiran, aku akan menarik napas’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Dengan menenangkan
aktivitas pikiran, aku akan mengembuskan
napas.
[Kitab Komentar : Aktivitas pikiran (cittasaṅkhāra) di sini
adalah persepsi dan perasaan, karena hal-hal ini dikatakan sebagai terikat
dengan pikiran dan muncul dengan bergantung pada pikiran (baca Majjhima
Nikāya 44.15, I 301,28-29).]
“Ia berlatih sebagai berikut: ‘Dengan mengalami pikiran, aku akan menarik napas’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Dengan mengalami
pikiran, aku akan mengembuskan
napas.’ [112] Ia berlatih
sebagai berikut: ‘Dengan menggembirakan pikiran, aku akan menarik napas’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Dengan menggembirakan
pikiran, aku akan mengembuskan
napas.’ Ia berlatih
sebagai berikut: ‘Dengan mengkonsentrasikan pikiran, aku akan menarik napas’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Dengan mengkonsentrasikan
pikiran, aku akan mengembuskan
napas.’ Ia berlatih
sebagai berikut: ‘Dengan membebaskan pikiran, aku akan menarik napas’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Dengan membebaskan pikiran,
aku akan mengembuskan
napas.’
[Kitab Komentar : Yaitu, membebaskan pikiran dari
rintangan-rintangan menuju pemurnian ketenangan dan pandangan terang.]
“Ia berlatih sebagai berikut: ‘Dengan merenungkan ketidak-kekalan, aku
akan menarik
napas’; ia berlatih
sebagai berikut: ‘Dengan merenungkan ketidak-kekalan, aku akan mengembuskan napas.’ Ia berlatih sebagai berikut: ‘Dengan merenungkan peluruhan,
aku akan menarik
napas’; ia berlatih
sebagai berikut: ‘Dengan merenungkan peluruhan, aku akan mengembuskan napas.’ Ia berlatih sebagai berikut: ‘Dengan merenungkan lenyapnya,
aku akan menarik
napas’; ia berlatih
sebagai berikut: ‘Dengan merenungkan lenyapnya, aku akan mengembuskan napas.’ Ia berlatih sebagai berikut: ‘Dengan merenungkan pelepasan,
aku akan menarik
napas’; ia berlatih
sebagai berikut: ‘Dengan merenungkan pelepasan, aku akan mengembuskan napas.’
“Ini disebut perhatian
pada pernapasan.
“Jika, Ānanda, engkau menjenguk Bhikkhu Girimānanda dan menyampaikan
kesepuluh persepsi ini kepadanya, maka adalah mungkin bahwa setelah
mendengarnya ia akan segera sembuh dari penyakitnya.”
Kemudian, ketika Yang Mulia Ānanda telah mempelajari kesepuluh persepsi
ini dari Sang Bhagavā, ia mendatangi Yang Mulia Girimānanda dan menyampaikan
kesepuluh persepsi ini.
Ketika Yang Mulia Girimānanda mendengar tentang kesepuluh persepsi ini,
penyakitnya seketika mereda. Yang Mulia Girimānanda sembuh dari penyakitnya,
dan itu adalah bagaimana ia sembuh dari penyakitnya. [113]
Dalam sutta lain dari Nikaya yang sama, Sang Buddha juga membabarkan
metoda berikut:
“Ia bertindak
dengan pemahaman jernih ketika berjalan pergi dan kembali; ia bertindak
dengan pemahaman jernih ketika melihat ke depan dan berpaling; ia bertindak dengan
pemahaman jernih ketika
menekuk dan merentangkan bagian-bagian tubuhnya; ia bertindak dengan
pemahaman jernih ketika
mengenakan jubah dan membawa jubah luar dan mangkuknya; ia bertindak dengan
pemahaman jernih ketika
makan, minum, mengkonsumsi makanan, dan mengecap; ia bertindak dengan
pemahaman jernih ketika
buang air besar dan buang air kecil; ia bertindak
dengan pemahaman jernih ketika berjalan, berdiri, duduk, jatuh tertidur, terjaga, berbicara, dan
berdiam diri.”
Kini mari kita simak pendapat Bhikkhu Bodhi tentang meditasi pada era Sang
Buddha, dikutip dari kata pengantar Beliau pada “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang
Buddha, JILID I”, Judul Asli
: “The Numerical Discourses of the Buddha”,
diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012,
terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, sebagai berikut:
MEDITASI
Jantung dari kehidupan monastik adalah praktik dari apa yang kita sebut
meditasi, usaha metodis untuk menjinakkan dan menguasai pikiran dan untuk
mengembangkan kapasitasnya bagi ketenangan dan pandangan terang. Latihan dimulai dari
pikiran yang tidak terkembang, keruh dan tidak patuh, diserang oleh nafsu dan
kekotoran-kekotoran. Latihan ini berakhir dalam pikiran yang terbebaskan,
tenang, jinak, cerah dan bercahaya, bebas dari kekotoran-kekotoran dan belenggu
penjelmaan berulang.
Metode-metode latihan pikiran jatuh dalam dua kategori, ketenangan (samatha) dan pandangan terang (vipassanā); yang pertama dianggap sebagai alat untuk
mengembangkan konsentrasi, yang ke dua sebagai alat untuk mengembangkan
kebijaksanaan.
Ketenangan mengarah pada ditinggalkannya nafsu secara sementara dan
berakibat pada kebebasan pikiran. Pandangan terang mengarah pada
ditinggalkannya ketidak-tahuan dan berakibat pada kebebasan melalui
kebijaksanaan (2:31). Secara bersama-sama, “kebebasan pikiran” dan “kebebasan
melalui kebijaksanaan” merupakan Kearahattaan, tujuan akhir.
Walaupun urutan biasa dari latihan meditasi bergerak dari konsentrasi
menuju kebijaksanaan, namun beberapa sutta dalam AN menunjukkan bahwa meditator
dapat memilih berbagai rute untuk mencapai jalan-melampaui-keduniawian.
Bhikkhu
Ānanda menyebutkan bahwa mereka semua yang mencapai Kearahattaan melakukannya
dalam satu dari empat cara: apakah dengan mengembangkan ketenangan terlebih
dulu dan kemudian pandangan terang (urutan standar), dengan mengembangkan
pandangan terang terlebih dulu dan kemudian ketenangan, dengan mengembangkan
keduanya secara bersamaan, dan dengan keluar dari “kegelisahan tentang Dhamma”
dan mencapai keterpusatan pikiran (4:170).
Sutta lainnya menasihatkan seseorang yang memperoleh apakah ketenangan
ataupun pandangan terang (salah satunya) agar mencari seorang guru yang dapat
memberikan instruksi untuk memperoleh faktor yang belum diperoleh; seorang yang
tidak memperoleh keduanya harus mencari instruksi untuk memperoleh keduanya;
sedangkan seorang yang memperoleh keduanya harus mengembangkannya hingga
berkapasitas untuk mencapai hancurnya āsava (4:94).
Subjek-subjek meditasi yang disebutkan dalam Aṅguttara Nikāya ada banyak dan bermacam-macam. Seperti Nikāya-nikāya
lainnya, Aṅguttara Nikāya tidak memberikan instruksi terperinci
tentang teknologi meditasi, melainkan memperkenalkan berbagai macam subjek
meditasi. Jelas bahwa
subjek-subjek meditasi ini harus bermacam-macam untuk mengakomodasi watak yang
berbeda-beda dari orang-orang yang mendatangi Sang Buddha untuk memohon
pengajaran.
Buku Kelompok Satu memasukkan sebuah “katalog” tema dan pencapaian yang
berhubungan dengan praktik meditasi, semuanya dibabarkan sehubungan dengan apa
yang membuat seorang bhikkhu layak untuk menerima dana makanan (1:394-575).
Nipāta yang sama ditutup dengan sebuah pujian untuk perhatian pada jasmani (1:575-627), yang dinyatakan sebagai kunci untuk
merealisasi tanpa-kematian.
Sutta-sutta dalam Aṅguttara Nikāya menjelaskan banyak subjek-subjek
meditasi yang cukup dikenal yang memperoleh perlakuan yang lebih terperinci
dalam buku-buku seperti Visuddhimagga. Kita menemukan di sini perhatian pada
pernapasan (10:60 §10), enam perenungan (6:10, 6:25), cinta
kasih (8:1, 11:15)
bersama dengan seluruh empat tanpa batas atau “alam brahma” (3:65, 8:63), dan perhatian pada kematian (6:19-20, 8:73-74).
Meditasi
berjalan dipuji karena
memberikan lima manfaat (5:29). Yang menarik secara khusus adalah penekanan Aṅguttara Nikāya pada “persepsi” (saññā), subjek-subjek meditasi yang pada awalnya
melibatkan cukup banyak refleksi daripada pengamatan penuh perhatian. Aṅguttara Nikāya 7:49, misalnya, menyebutkan tujuh persepsi, yang dikatakan
“memuncak dalam tanpa-kematian, memiliki tanpa-kematian sebagai
kesempurnaannya.” Ketujuh ini adalah persepsi
ketidak-menarikan, persepsi kematian, persepsi
kejijikan makanan, persepsi
ketidak-senangan pada seluruh dunia, persepsi
ketidak-kekalan, persepsi penderitaan
dalam apa yang tidak kekal, dan persepsi
tanpa-diri dalam apa yang merupakan penderitaan.
Masing-masing dari persepsi ini kemudian dihubungkan pada persepsi
menyimpang tertentu atau kecenderungan yang meniadakannya. Demikianlah persepsi
ketidak-menarikan melenyapkan keinginan pada hubungan seksual, persepsi
kematian melawan keterikatan pada kehidupan, persepsi
kejijikan makanan menyebabkan pikiran menjauhi ketagihan pada rasa kecapan.
Girimānanda Sutta yang terkenal menjelaskan sepuluh persepsi, yang diajarkan oleh Sang Buddha kepada Ānanda agar
dibacakan untuk memulihkan kesehatan Bhikkhu Girimānanda, yang menderita sakit
keras (10:60).
Beberapa subjek meditasi yang disebutkan dalam Aṅguttara Nikāya berhubungan, dalam tradisi penafsiran Theravada, dengan
pengembangan ketenangan, yang lainnya berhubungan dengan pengembangan pandangan
terang. Akan tetapi, apa yang menarik dalam Aṅguttara Nikāya adalah bahwa walaupun ketenangan dan pandangan terang
diperlakukan sebagai wilayah meditasi yang terpisah dengan pokok-pokok
penekanan dan hasilnya, namun suatu garis yang tegas tidak ditarik antara
subjek-subjek meditasi itu sebagai berhubungan dengan salah satu atau yang
lainnya.
Cukup dapat diterima bahwa dalam
pandangan pribadi Sang Buddha terhadap meditasi, ketenangan dan pandangan
terang bukanlah mewakili dua kategori objek meditasi melainkan dua orientasi
subjektif yang saling melengkapi yang dapat dikembangkan pada landasan objek-objek
meditasi yang sama.
Dalam Aṅguttara Nikāya, kondisi kesadaran yang lebih tinggi
yang dicapai melalui meditasi sering disebutkan. Yang paling sering, tentu
saja, adalah empat
jhāna. Sebagai
tambahan, kita juga menemukan kelompok-kelompok seperti delapan landasan
melampaui (8:65),
delapan pembebasan (8:66), dan sembilan
keberdiaman progresif (9:31-61).
Keberhasilan dalam meditasi kadang-kadang ditunjukkan dengan memuncak
dalam tiga pengetahuan, atau tevijjā (3:58-59), yang Sang Buddha sendiri telah
mencapainya pada malam pencerahanNya (8:11). Di tempat lain meditasi
menghasilkan pencapaian enam jenis pengetahuan tinggi yang dikenal sebagai
abhiññā (3:101-2, 5:23, 6:2). Lima di antaranya melibatkan kekuatan batin,
sedangkan yang ke enam adalah pengetahuan yang melampaui keduniawian pada
hancurnya āsava.
KEBIJAKSANAAN
Ketika dikejar sebagai suatu akhir, konsentrasi mendalam disertai dengan
sukacita, kebahagiaan, ketenangan, dan keseimbangan. Pengalaman-pengalaman ini
dapat meyakinkan meditator yang tidak waspada bahwa ia telah mencapai tujuan
akhir dan menemukan “kedamaian nirvana dalam batin.” Akan tetapi,
kondisi-kondisi luhur demikian, dicapai hanya melalui intensifikasi kesadaran,
bukan melalui pandangan terang mendalam yang memotong belenggu penjelmaan
berulang.
Kondisi-kondisi
konsentrasi yang tinggi menghasilkan kamma bermanfaat, yang dapat mengarah pada
kelahiran kembali di alam berbentuk atau tidak berbentuk – alam-alam dewa yang
tinggi – tergantung pada pencapaian yang dicapai selama kehidupan si meditator di
alam manusia.
Tanpa
penglihatan kebijaksanaan yang mendalam, kamma ini pada akhirnya akan habis,
dan makhluk dewa tersebut akan meninggal dunia dan terlahir kembali di alam
lain, bahkan mungkin di alam-alam tujuan kelahiran yang buruk (3:116, 4:123-26).
Agar sang jalan menjadi sempurna dan memuncak dalam tanpa-kematian, maka
jalan itu pada akhirnya haruslah menghasilkan kebijaksanaan. Demikianlah Sang
Buddha memuji kebijaksanaan sebagai yang paling megah, bercahaya, bersinar,
berkilau dan menerangi (4:141-45).
Akan tetapi, terlepas dari analogi cahaya itu, kebijaksanaan tidak muncul
secara tiba-tiba dan spontan melalui pengharapan-pengharapan yang baik;
sebaliknya, kebijaksanaan secara bertahap diperoleh dengan mengikuti
perjalanan latihan yang telah dirumuskan.
Satu sutta menguraikan delapan kondisi untuk memperoleh dan mematangkan
kebijaksanaan yang berhubungan dengan kehidupan spiritual (8:2). Hal-hal ini
termasuk bersandar pada seorang guru, mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk
menghalau keragu-raguan seseorang, menjalankan aturan-aturan disiplin,
mempelajari dan merefleksikan, dan merenungkan muncul dan lenyapnya kelima
kelompok unsur kehidupan.
Faktor
pendukung lainnya bagi pertumbuhan kebijaksanaan adalah pandangan benar. Sang Buddha menempatkan pandangan benar pada
posisi pertama di antara jalan mulia berunsur delapan dan sepuluh benar
(10:103). Dari pandangan benar muncul kesembilan faktor lainnya, yang
berakhir pada pengetahuan benar dan kebebasan benar (10:105).
Mempelajari
dan menyelidiki Dhamma, juga berkontribusi pada tumbuhnya kebijaksanaan. Di antara empat Nikāya, mungkin Aṅguttara Nikāyayang paling memberikan penekanan pada pembelajaran.
Pembelajaran dijelaskan sebagai salah satu dari lima jenis kekayaan (5:47) dan
sebagai satu kualitas yang membuat seorang bhikkhu dihormati dan dihargai oleh
para bhikkhu teman-temannya (5:87).
Tentu saja, seorang
siswa yang telah belajar sedikit tetapi mempraktikkan apa yang telah ia
pelajari adalah lebih unggul daripada ia yang belajar banyak tanpa
mempraktikkannya (4:6). Tetapi belajar
memang memiliki nilai intrinsik, dan mereka yang unggul dalam pembelajaran dan
juga memiliki empat jhāna dan tiga pengetahuan sejati dianggap secara khusus
layak dihormati (10:97).
Penguasaan Dhamma memenuhi persyaratan seseorang untuk mengajar, agar ia
tidak hanya mempercepat kemajuannya sendiri, melainkan juga memajukan
kesejahteraan orang lain (8:62). Sutta-sutta Aṅguttara Nikāya tidak hanya sekedar memuji pembelajaran tetapi juga
memberikan instruksi-instruksi konkrit tentang bagaimana mempelajari dan
mengajarkan Dhamma.
Karena Dhamma selalu disampaikan secara lisan, bukan dalam bentuk dokumen
tertulis, maka teks-teks menekankan pentingnya mendengarkan dengan penuh
perhatian serta menghafalkan. Seorang yang tidak menyimak dengan seksama
adalah bagaikan mangkuk yang dibalikkan, yang tidak dapat menampung air; seorang
yang menyimak dengan seksama tetapi tidak menghafalkannya adalah bagaikan
seorang yang menumpahkan isi mangkuknya; sedangkan seorang yang menyimak
khotbah-khotbah dan menghafalkan apa yang telah dipelajari telah
melestarikannya untuk waktu yang lama, bagaikan mangkuk yang tegak yang dapat
menampung air untuk waktu yang lama (3:30).
Ānanda, yang paling terpelajar di antara para bhikkhu, menyebutkan enam faktor yang
menghasilkan penguasaan Dhamma, di antaranya adalah mempelajari banyak khotbah,
mengajarkan kepada orang lain, dan mengunjungi para senior untuk menjernihkan
hal-hal yang belum dipahami sepenuhnya (6:51).
Mendengarkan Dhamma dapat berfungsi sebagai suatu kesempatan untuk
memasuki jalan menuju kebebasan akhir yang tidak dapat dibalikkan, tetapi untuk
mendapatkan manfaat ini seseorang harus mendengarkan dengan seksama. Ini berarti bahwa ia harus mendengarkan dengan
hormat dan pikiran terbuka, bukan dengan pikiran untuk mencari kesalahan dan
mencela khotbah itu dan pembabarnya (5:151-53).
Mendengar
dan mengajar dapat mempercepat pencapaian kebebasan. Karena ketika mendengarkan Dhamma, mengajarkannya,
melafalkannya, atau memeriksa maknanya, maka ia akan memperoleh inspirasi,
mengalami kegembiraan, dan memutar suatu proses yang berakhir dalam kebebasan
sepenuhnya dari āsava (5:28).
Akan tetapi, belajar harus disertai dengan praktik. Demikianlah Sang Buddha mendorong para bhikkhu
agar tidak menghabiskan seluruh waktu mereka untuk belajar, mengajar,
melafalkan, dan merefleksikan melainkan agar mereka pergi sendiri-sendiri dan
menekuni pengembangan ketenangan internal dan kebijaksanaan yang berdasarkan pengalaman (5:73-74).
Belajar dan mengajar memainkan peran penting dalam memastikan lamanya
usia Dhamma. Dhamma memudar dan lenyap, menurut satu sutta, ketika para bhikkhu
tidak lagi dengan penuh hormat mendengarkannya, mempelajarinya,
menghafalkannya, memeriksa maknanya, dan mempraktikkannya; Dhamma akan
berlanjut tanpa kemunduran ketika para bhikkhu tekun mempelajari,
merefleksikan, dan mempraktikkan (5:154).
Sutta-sutta lain menekankan pentingnya mengajar dan menyuruh orang lain
melafalkan teks-teks (5:155).
Ketika mengajar, seseorang harus memiliki topik yang sesuai, menaksir minat dan
harapan para pendengar, dan kemudian membabarkan khotbah yang sesuai dengan
kecenderungan mereka (5:157).
Sang Buddha merumuskan lima tuntunan bagi seorang guru Dhamma: ia harus
membabarkan khotbah yang mengikuti urutan progresif; ia harus memberikan
alasan-alasan yang mendukung pernyataannya; ia harus memiliki empati terhadap
para pendengarnya; ia tidak boleh mengharapkan perolehan materi; dan ia tidak
boleh mengatakan apa pun yang membahayakan dirinya atau orang lain (5:159).
Kebijaksanaan menembus bukan sekedar menguasai batang tubuh teks-teks
atau sistem gagasan-gagasan melainkan melihat ke dalam sifat sejati
fenomena-fenomena. Prinsip-prinsip yang harus dilihat dengan kebijaksanaan
adalah “ketiga karakteristik” : ketidak-kekalan,
penderitaan, dan tanpa-diri.
Kita diberitahu bahwa apakah para Tathāgata muncul di dunia ini atau
tidak, hukum pasti ini tetap berlaku: bahwa
segala fenomena terkondisi adalah tidak kekal; bahwa segala fenomena terkondisi
adalah penderitaan; dan bahwa segala fenomena apa pun juga adalah tanpa-diri (3:136).
Melihat
sifat sejati fenomena-fenomena seperti demikian berarti melihatnya sebagai
tidak kekal, penderitaan, dan tanpa-diri. Pada umumnya, pikiran kita tunduk pada distorsi
persepsi dan konseptual, sehingga kita menafsirkan segala sesuatu sebagai
kekal, menyenangkan, dan diri. Betapa pun jelasnya gagasan-gagasan ini
tampak bagi kita, namun teks-teks menjelaskannya sebagai pembalikan persepsi
dan sebagai bentuk-bentuk kegilaan kognitif (4:49).
Tugas pandangan
terang adalah untuk
mengoreksi distorsi ini dengan cara merenungkan segala sesuatu “sebagaimana
adanya,” yaitu, sebagai
tidak kekal, penderitaan, dan tanpa-diri (7:16-18). Yang menarik, beberapa sutta dalam Aṅguttara Nikāya menambahkan tema ke empat pada perenungan: merenungkan
nibbāna sebagai kebahagiaan (6:101, 7:19).
Merenungkan fenomena-fenomena terkondisi sebagai tidak kekal dan
penderitaan, merenungkan segala fenomena sebagai tanpa-diri, dan merenungkan
nibbāna sebagai kebahagiaan, memungkinkan seorang siswa memperoleh “pendirian
yang selaras” dengan Dhamma (anulomikā khanti). Hal ini mempersiapkan pikiran untuk pandangan terang yang lebih dalam lagi, dan ketika pandangan terang selaras dengan Dhamma itu sendiri, hal ini
mengarahkan ia untuk memasuki “jalan pasti kebenaran” (sammattaniyāma),
yaitu jalan yang melampaui keduniawian yang pasti mengarah pada empat
tingkat pencerahan (6:98-101).
Sang Buddha mengajarkan bahwa tujuan tertinggi dari ajaranNya adalah padamnya penderitaan dalam kehidupan ini, dan untuk alasan ini Beliau
terus-menerus mendorong para bhikkhu agar tidak merasa puas dengan pencapaian
sebagian melainkan terus maju menuju tujuan akhir. Beliau mendesak mereka agar
bertekad: “Aku tidak akan mengendurkan kegigihanku selama aku belum mencapai
apa yang dapat dicapai melalui kekuatan, kegigihan, dan pengerahan usaha
manusia” (2:5).
Dua sutta dalam Aṅguttara Nikāya menjelaskan kepada kita sekilas
tentang proses perenungan yang dengannya para siswa dapat merealisasi tujuan
akhir. Satu khotbah menjelaskan bahwa seorang bhikkhu memasuki salah satu dari
empat jhāna atau tiga pencapaian tanpa bentuk yang lebih rendah dan merenungkan
unsur-unsurnya – kelima kelompok unsur kehidupan yang terdapat dalam pencapaian
itu (empat kelompok unsur kehidupan dalam pencapaian-pencapaian tanpa bentuk) –
sebagai tidak kekal, penderitaan, penyakit, bisul, anak panah, kesengsaraan,
kemalangan, makhluk asing, kehancuran, kosong, dan tanpa-diri. Pada titik
tertentu ia mengalihkan pikirannya dari fenomena-fenomena tersebut dan
mengarahkannya pada elemen tanpa-kematian, nibbāna. Dengan berdasarkan pada ini
ia mencapai hancurnya āsava, yaitu, Kearahattaan, atau jika ia tidak dapat
menyelesaikan pekerjaan itu, maka ia mencapai tingkat yang-tidak-kembali
(9:36).
Sutta lain dibabarkan oleh Ānanda kepada seorang umat awam yang
menanyakan tentang bagaimana seorang bhikkhu mencapai hancurnya noda-noda.
Ānanda menjelaskan bahwa bhikkhu itu memasuki salah satu dari empat jhāna,
empat tidak terbatas (cinta kasih, belas kasihan, kegembiraan altruistik, dan
keseimbangan), atau tiga pencapaian tanpa bentuk yang lebih rendah. Kemudian ia
meninjau pencapaiannya sebagai “dibangun dan dihasilkan melalui kehendak,” dan
ia melihat: “Apa
pun yang dibangun dan dihasilkan melalui kehendak adalah tidak kekal, tunduk
pada lenyapnya.” Dalam hal
ini juga, ia mencapai Kearahattaan atau pun yang-tidak-kembali (11:16).