Meditasi vipassanā

Sutta-Sutta yang Membahas Meditasi vipassanā

Question: Apakah sutta yang membahas meditasi vipassanā, hanya pernah dibabarkan oleh Sang Buddha dalam satipatthana sutta saja? Apakah ada juga sutta-sutta lain dari Sang Buddha yang menguraikan tentang meditasi vipassanā? Rasanya mustahil untuk hal sepenting ini, hanya terdapat satu buah kesempatan khotbah saja dari Sang Buddha untuk menjadi rujukannya.

Brief Answer: Dalam banyak sutta yang berisi khotbah dan sabda Sang Buddha, telah ternyata Sang Buddha sangat memuji pencapaian “jhāna realisasi samatha” (konsentrasi dari ketenangan), sehingga tidak diragukan lagi bahwa “meditasi samatha” adalah esensial dalam jalan Buddhisme. Namun telah ternyata pula disamping “satipatthana sutta” dalam Dīgha Nikāya, Sutta Pitaka, peran penting “latihan perhatian yang diarahkan pada jasmani / tubuh” juga dapat kita jumpai dalam Aguttara Nikāya, Sutta Pitaka.

“Pencatatan dalam batin” terhadap pengamatan berkesinambungan kita secara penuh kesabaran (menyadari dan mengamati) terhadap postur tubuh—semisal duduk, rebah, maupun berdiri, berjalan, dsb—ataupun ketika merasakan suatu sensasi fisik—semisal sakit, kaku, keram, pegal, nyeri, panas, dingin, dsb—dalam meditasi vipassanā sebagaimana metode yang diperkenalkan oleh Mahasi Sayadaw, memiliki dasar pijakan sutta-nya untuk dilatih.

PEMBAHASAN:

Pikiran, ibarat “monyet liar yang melompat kesana dan kemari”. Untuk menenangkan dan menjerat “monyet liar” tersebut, pengamatan dan pencatatan berkesinambungan terhadap postur tubuh dapat cukup efektif. Perihal peran penting melatih “perhatian yang diarahkan pada jasmani”, dapat kita jumpai lewat khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID I”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:

XIX. Perhatian Yang Diarahkan Pada Jasmani

575 (1)

“Para bhikkhu, seperti halnya seseorang yang dengan pikirannya melingkupi samudra raya telah memasukkan semua aliran yang memasuki samudra, demikian pula, siapa pun yang mengembangkan dan melatih perhatian yang diarahkan pada jasmani telah memasukkan semua kualitas-kualitas bermanfaat yang berhubungan dengan pengetahuan sejati.”

[Kitab Komentar : Dalam sutta ini dan sutta-sutta berikutnya, kāyagatāsati harus dipahami dalam makna luas dari Kāyagatāsati Sutta (Majjhima Nikāya 119), sebagai terdiri dari semua latihan meditasi yang berdasarkan pada jasmani, bukan dalam makna sempit yang membatasinya pada perenungan tiga puluh dua bagian-bagian tubuh.

Kualitas-kualitas bermanfaat yang berhubungan dengan pengetahuan sejati (kusalā dhammā ye keci vijjābhāgiyā): Terdapat delapan jenis pengetahuan sejati: pengetahuan pandangan terang, tubuh ciptaan-pikiran, dan enam jenis pengetahuan langsung. Kualitas-kualitas yang berhubungan dengan delapan ini adalah hal-hal yang berhubungan dengan pengetahuan sejati.

Atau, jika salah satu dari delapan ini dianggap sebagai pengetahuan sejati, maka yang lainnya adalah ‘kualitas-kualitas yang berhubungan dengan pengetahuan sejati.’ Pada 2:31, samatha dan vipassanā dikatakan sebagai dua hal yang berhubungan dengan pengetahuan sejati.]

~0~

576 (2) – 582 (8)

“Para bhikkhu, satu hal ini, ketika dikembangkan dan dilatih, (576) mengarah pada rasa keterdesakan kuat … (577) mengarah pada manfaat besar … (578) mengarah pada keamanan tinggi dari belenggu … (579) mengarah pada perhatian dan pemahaman jernih … (580) mengarah pada pencapaian pengetahuan dan penglihatan … (581) mengarah pada keberdiaman yang nyaman dalam kehidupan ini … (582) mengarah pada realisasi buah pengetahuan dan kebebasan. Apakah satu hal itu? Perhatian yang diarahkan pada jasmani. Ini adalah satu hal itu yang, ketika dikembangkan dan dilatih, mengarah pada realisasi buah pengetahuan dan kebebasan.”

[Kitab Komentar : “Delapan landasan bagi rasa keterdesakan” (aṭṭha savegavatthūni): kelahiran, usia tua, penyakit, kematian; penderitaan di alam sengsara; penderitaan yang berakar dalam masa lalu sasāra seseorang; penderitaan yang harus dialami di masa depan sasāra seseorang; dan penderitaan yang berakar dalam pencarian makanan.]

~0~

583 (9) 207

“Para bhikkhu, ketika satu hal ini dikembangkan dan dilatih, maka jasmani menjadi tenang, pikiran menjadi tenang, pemikiran dan pemeriksaan mereda, dan semua kualitas-kualitas bermanfaat yang berhubungan dengan pengetahuan sejati mencapai pemenuhan melalui pengembangan. Apakah satu hal itu? Perhatian yang diarahkan pada jasmani. [44] Ketika satu hal ini dikembangkan dan dilatih, maka jasmani menjadi tenang … dan semua kualitas-kualitas bermanfaat yang berhubungan dengan pengetahuan sejati mencapai pemenuhan melalui pengembangan.”

~0~

584 (10) 208

“Para bhikkhu, ketika satu hal ini dikembangkan dan dilatih, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang belum muncul menjadi tidak muncul dan kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang telah muncul menjadi ditinggalkan. Apakah satu hal itu? Perhatian yang diarahkan pada jasmani. Ketika satu hal ini dikembangkan dan dilatih, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang belum muncul menjadi tidak muncul dan kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang telah muncul menjadi ditinggalkan.”

~0~

585 (11) 209

“Para bhikkhu, ketika satu hal ini dikembangkan dan dilatih, maka kualitas-kualitas bermanfaat yang belum muncul menjadi muncul dan kualitas-kualitas bermanfaat yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat. Apakah satu hal itu? Perhatian yang diarahkan pada jasmani. Ketika satu hal ini dikembangkan dan dilatih, maka kualitas-kualitas bermanfaat yang belum muncul menjadi muncul dan kualitas-kualitas bermanfaat yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat.”

~0~

586 (12) – 590 (16) 210

“Para bhikkhu, ketika satu hal dikembangkan dan dilatih, maka (586) ketidak-tahuan ditinggalkan … (587) pengetahuan sejati muncul … (588) keangkuhan ‘aku’ ditinggalkan … (589) kecenderungan tersembunyi tercabut … (590) belenggu-belenggu ditinggalkan. Apakah satu hal itu? Perhatian yang diarahkan pada jasmani. Ketika satu hal ini dikembangkan dan dilatih, maka ketidak-tahuan ditinggalkan … pengetahuan sejati muncul … keangkuhan ‘aku’ ditinggalkan … kecenderungan tersembunyi tercabut … belenggu-belenggu ditinggalkan.”

~0~

591 (17) – 592 (18)

“Para bhikkhu, satu hal ini, ketika dikembangkan dan dilatih, maka (591) mengarah menuju pembedaan melalui kebijaksanaan … (592) mengarah menuju nibbāna melalui ketidak-melekatan. Apakah satu hal itu? Perhatian yang diarahkan pada jasmani. Ini adalah satu hal itu yang, ketika dikembangkan dan dilatih, maka mengarah menuju pembedaan melalui kebijaksanaan … mengarah menuju nibbāna melalui ketidak-melekatan.”

~0~

593 (19) – 595 (21)

“Para bhikkhu, ketika satu hal ini dikembangkan dan dilatih, maka (593) terjadi penembusan pada banyak elemen … (594) terjadi penembusan pada keberagaman elemen-elemen… (595) muncul pengetahuan analitis pada banyak elemen. Apakah satu hal itu? Perhatian yang diarahkan pada jasmani. Ketika satu hal ini dikembangkan dan dilatih, maka terjadi penembusan pada banyak elemen … terjadi penembusan pada keberagaman elemen-elemen … muncul pengetahuan analitis pada banyak elemen.”

[Kitab Komentar : “Penembusan pada banyak elemen” (anekadhātupaivedha) sebagai penembusan karakteristik-karakteristik (lakkhaa) dari delapan belas elemen; “penembusan pada keberagaman elemen” (nānādhātupaivedha) sebagai penembusan pada karakteristik-karakteristik dari delapan belas elemen itu melalui keberagamannya (nānābhāvena); dan “pengetahuan analitis pada banyak elemen” (anekadhātupaisambhidā) sebagai pengetahuan yang mengelompokkan elemen-elemen sebagai berikut: “Ketika elemen ini menonjol, maka muncul itu.”

Majjhima Nikāya 115, III 62-63, menjelaskan berbagai cara yang dengannya seorang bhikkhu disebut “terampil dalam elemen-elemen” (dhātukusala), semua itu mungkin berhubungan dengan paragraf sekarang ini.]

~0~

596 (22) – 599 (25)

“Para bhikkhu, satu hal ini, ketika dikembangkan dan dilatih, akan mengarah (596) pada realisasi buah memasuki-arus … (597) pada realisasi buah yang-kembali-sekali … (598) pada realisasi buah yang-tidak-kembali [45] … (599) pada realisasi buah Kearahattaan. Apakah satu hal itu? Perhatian yang diarahkan pada jasmani. Ini adalah satu hal itu yang, ketika dikembangkan dan dilatih, akan mengarah pada realisasi buah memasuki-arus … pada realisasi buah yang-kembali-sekali … pada realisasi buah yang-tidak-kembali … pada realisasi buah Kearahattaan.”

~0~

600 (26) – 615 (41)

“Para bhikkhu, satu hal ini, ketika dikembangkan dan dilatih, akan mengarah (600) pada perolehan kebijaksanaan … (601) pada pertumbuhan kebijaksanaan … (602) pada pengembangan kebijaksanaan … (603) pada kebesaran kebijaksanaan … (604) pada keberagaman kebijaksanaan … (605) pada luasnya kebijaksanaan … (606) pada dalamnya kebijaksanaan … (607) pada kondisi kebijaksanaan yang tidak terlampaui … (608) pada ketebalan kebijaksanaan … (609) pada keberlimpahan kebijaksanaan … (610) pada kecepatan kebijaksanaan … (611) pada mengapungnya kebijaksanaan … (612) pada kegembiraan kebijaksanaan … (613) ketangkasan kebijaksanaan … (614) pada ketajaman kebijaksanaan … (615) pada kemampuan penembusan oleh kebijaksanaan. Apakah satu hal itu? Perhatian yang diarahkan pada jasmani. Ini adalah satu hal itu yang, ketika dikembangkan dan dilatih, maka mengarah pada kemampuan penembusan oleh kebijaksanaan.”