Kiat menjadi Tidak Takut pada Allah yang Mengancam Dimasukkan ke Neraka karena Tidak Bersedia Menggadaikan Jiwa & Dijadikan Budak Sembah-Sujud Allah

Allah Takut pada Orang Suci dan Neraka Jauh dari Orang Baik

Allah Senang kepada Orang Jahat dan Neraka Dekat kepada Pendosawan

Question: Saya merasa, hanya ada satu buah motif dan satu buah motivasi dibalik keputusan seseorang untuk memeluk agama samawi-abrahamik. Motifnya ialah ketakutan atas ancaman Allah akan dimasukkan ke neraka bila tidak menyembah Allah. Adapun motivasinya, ialah mabuk dan mencandu pengampunan dosa sehingga bisa “business as usual” berbuat dosa-dosa untuk kemudian memohon dihapuskan. Harga mahal yang harus mereka bayarkan, ialah terdemotivasi untuk menjadi orang baik, karena “orang jahat saja dimasukkan ke surga” lewat ritual sembah-sujud. Lalu, bagaimana dengan jenis-jenis orang seperti mereka yang berhati baik yang suka berbuat kebaikan, orang berjiwa ksatria yang berani untuk bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri dan berani membayar serta menerima konsekuensi dari perbuatan buruknya sendiri, terlebih orang suci yang terlatih dalam disiplin diri yang ketat yang bernama “self-control”, apakah Allah bisa menyetir dan membuat mereka tunduk pada keinginan Allah yang minta untuk disembah?

Brief Answer: Allah paling benci dan takut pada orang-orang baik, para ksatria, terlebih kaum suci, namun mereka tidak pernah takut pada Allah ataupun ancamannya perihal neraka. Mengapa? Karena orang baik dan orang suci tidak butuh iming-iming “too good to be true” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”. Mereka tidak memakan dan tidak termakan iming-iming KORUP demikian, karena mereka bukanlah seorang “KORUPTOR DOSA” (istilah dimana dosa-dosa pun masih juga dikorupsi). Allah pun putus asa, sekalipun telah mengutus setan-setan untuk menggodai para “kafir” (kaum NON, kaum yang tidak bersedia menggadaikan jiwanya kepada Allah, karenanya menolak untuk tunduk pada Allah).

Surah Maryam ayat 83, berbunyi : “Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Kami telah mengutus setan-setan kepada orang-orang kafir untuk benar-benar menggoda mereka (berbuat maksiat)?” Karena setan-setan Allah terpental ketika mencoba mendekati orang-orang baik, orang berjiwa ksatria, maupun para mulia suciwan, para setan-setan tersebut kemudian membuat para umat agama samawi takluk dan tunduk sepenuhnya pada dosa-dosa dan berbagai maksiat, karenanya mereka kemudian mabuk dan kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”—kail pancing yang memang sengaja ditebar oleh Allah dalam rangka merekrut “manusia-manusia yang rela menjilat bokong Allah”.

PEMBAHASAN:

Hanya seorang pendosa, yang takut mati dan terhadap alam neraka. Hanya seorang pendosa, yang karenanya butuh iming-iming “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”. Hanya seorang pendosa yang takut pada Allah, dan hanya dengan gaya hidup higienis dari dosa dan maksiat barulah Allah dan neraka tidak dapat menundukkan seorang manusia, sebagaimana khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID I”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:

57 (6)

“Para bhikkhu, ada dua ini yang tidak ketakutan oleh ledakan halilintar. Siapakah dua ini? Seorang bhikkhu yang noda-nodanya telah dihancurkan dan seekor gajah berdarah murni. Ini adalah dua yang tidak ketakutan oleh ledakan halilintar.”

[Kitab Komentar : Arahant tidak ketakutan karena ia telah meninggalkan pandangan ke-ada-an personal (sakkāyadiṭṭhiyā pahīnattā); gajah berdarah murni, karena pandangan ke-ada-an personalnya sangat kuat (sakkādiṭṭhiyā balavattā).]

58 (7)

“Para bhikkhu, ada dua ini yang tidak ketakutan oleh ledakan halilintar. Siapakah dua ini? Seorang bhikkhu yang noda-nodanya telah dihancurkan dan seekor kuda berdarah murni. Ini adalah dua yang tidak ketakutan oleh ledakan halilintar.”

59 (8)

“Para bhikkhu, ada dua ini yang tidak ketakutan oleh ledakan halilintar. Siapakah dua ini? Seorang bhikkhu yang noda-nodanya telah dihancurkan dan seekor raja binatang buas. Ini adalah dua yang tidak ketakutan oleh ledakan halilintar.”

~0~

VIII. Dengan Suatu Landasan

77 (1)

“Para bhikkhu, kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk muncul dengan suatu landasan, bukan tanpa landasan. Dengan meninggalkan landasan ini, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk ini tidak muncul.”

[Kitab Komentar : ‘Dengan suatu landasan’ berarti ‘dengan suatu alasan.’ Metode yang sama berlaku pada sutta-sutta berikutnya. Karena kata-kata ‘sumber,’ ‘penyebab,’ ‘aktivitas penyebab,’ ‘kondisi,’ dan ‘bentuk’ semuanya adalah sinonim untuk ‘alasan’” (Sanimittā ti sakāraā … Nidāna hetu sakhāro paccayo rūpan ti sabbāni pi hi etāni kāraavevacanān’eva).]

78 (2)

“Para bhikkhu, kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk muncul melalui suatu sumber, bukan tanpa sumber. Dengan meninggalkan sumber ini, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk ini tidak muncul.”

79 (3)

“Para bhikkhu, kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk muncul melalui suatu penyebab, bukan tanpa penyebab. Dengan meninggalkan penyebab ini, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk ini tidak muncul.”

80 (4)

“Para bhikkhu, kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk muncul melalui aktivitas-aktivitas penyebab, bukan tanpa aktivitas-aktivitas penyebab. Dengan meninggalkan aktivitas-aktivitas penyebab ini, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk ini tidak muncul.”

81 (5)

“Para bhikkhu, kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk muncul dengan suatu kondisi, bukan tanpa kondisi. Dengan meninggalkan kondisi ini, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk ini tidak muncul.” [83]

82 (6)

“Para bhikkhu, kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk muncul bersama dengan bentuk, bukan tanpa bentuk. Dengan meninggalkan bentuk ini, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk ini tidak muncul.”

83 (7)

“Para bhikkhu, kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk muncul bersama dengan perasaan, bukan tanpa perasaan. Dengan meninggalkan perasaan ini, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk ini tidak muncul.”

84 (8)

“Para bhikkhu, kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk muncul bersama dengan persepsi, bukan tanpa persepsi. Dengan meninggalkan persepsi ini, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk ini tidak muncul.”

85 (9)

“Para bhikkhu, kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk muncul bersama dengan kesadaran, bukan tanpa kesadaran. Dengan meninggalkan kesadaran ini, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk ini tidak muncul.”

86 (10)

“Para bhikkhu, kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk muncul dengan berdasarkan pada apa yang terkondisi, bukan tanpa landasan pada apa yang terkondisi. Dengan meninggalkan apa yang terkondisi, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk ini tidak muncul.”

Dengan tidak meninggalkan sumber maupun penyebab para umat agama samawi kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA” hingga mabuk, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang buruk akan tetap muncul, yang karenanya juga mereka gentar dan takut pada ancaman Allah maupun ancaman dilempar ke neraka. Penyebab, sumber, landasan, atau kondisinya ialah “BERBUAT DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN”. Kombinasi antara “BERBUAT DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” dan “PENGHAPUSAN DOSA”, merupakan “resep beracun” yang paling berbahaya bagi peradaban umat manusia disamping sifatnya yang “TOXIC namun ADIKTIF”.

Terhadap kaum yang berbeda keyakinan, begitu intoleran. Namun, disaat bersamaan, terhadap dosa dan maksiat, mereka begitu kompromistik. Babi, disebut “haram”. Namun terhadap ideologi KORUP semacam “PENGAMPUNAN DOSA”, justru diklaim sebagai “halal lifestyle” alias dipraktekkan untuk keseharian dan sepanjang hidup sang “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, yang karenanya semakin tersandera oleh Allah dan takut tidak lagi dapat mencandu “PENGHAPUSAN DOSA” serta takut masuk neraka karena dosa-dosa mereka tidak dihapuskan—kesemua ayat-ayat simbolik “SELFISH GENE” (mengikuti arus) berikut dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak menceramahi maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah, hina, dan kotor, namun berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Mereka sejatinya merupakan kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang, dan disaat bersamaan merupakan pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri.

Abolition of sins” maupun “cuci dosa” dipromosikan tanpa tabu ataupun malu kepada publik, alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun keberanian untuk bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri. Busuk dan serakahnya jiwa yang telah dikuasai sepenuhnya oleh “SELFISH GENE” sang “bocah tua berambut putih” menjadikannya kasta paling rendah dan paling hina, pemeluk “Agama DOSA dari Kitab DOSA”, dimana noda-noda dan kekotoran batin justru dipelihara dan dilestarikan dengan rasa bangga, tanpa rasa malu ataupun takut. Ayat-ayat berikut mengungkap betapa sang “nabi rasul Allah” telah ternyata begitu ketakutan terhadap dosa-dosa dan maksiat yang dibuat sendiri olehnya, namun “pengecut” karena tidak berani untuk bertanggung-jawab, karenanya menjadi budak sembah-sujud Allah dengan menggadaikan jiwanya yang kotor—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]