Ibrahim / Abraham Bukanlah seorang Nabi juga Bukan seorang Ayah, namun EKSEKUTOR-PEMBUNUH BERDARAH DINGIN

Apakah pernah, Ibrahim berkata : “I treasure him more than my own life, I prefer EXCHANGE HIM WITH MY LIFE” dan Menyembelih Leher Ibrahim Sendiri?

Mengapa Ibrahim Merasa Berhak untuk Meng-KURBAN-kan Nyawa Ismail seolah Nyawa sang Anak ialah Milik sang Ayah, mengapa Ibrahim Tidak Meng-KURBAN-kan Nyawa Milik Ibrahim Sendiri?

Question : Hanya karena mengalami “mimpi-basah”, Ibrahim tega menyembelih anak kandungnya sendiri, Ismail, demi impian-liar Ibrahim yang ingin bersetubuh dengan puluhan bidadari berdada-montok di sorga. Menumbalkan nyawa milik orang lain, alih-alih menumbalkan nyawa milik Ibrahim sendiri, demi ego pribadi Ibrahim. Yang tidak saya mengerti, mengapa sosok psikopat haus-darah semacam itu, disebut sebagai “nabi”, bahkan disembah dan dihormati oleh para umat agama samawi, yang mereka rayakan setiap tahunnya, alih-alih merasa malu dan tabu?

Brief Answer : Mata dan nurani Ibrahim, telah dibutakan oleh nafsunya yang hendak bersenggama dengan puluhan bidadari di surga. Tidak pernah Ibrahim berkata bahwa ia lebih menghargai nyawa sang anak daripada nyawanya sendiri, karenanya Ibrahim tidak bersedia menyembelih leher MILIK-nya sendiri. Bahkan kita patut mulai mencurigai wajah asli Ibrahim ketika merasa berhak untuk menyembelih anak kandungnya sendiri, tidak lain ialah pola-pikir Ibrahim bahwa nyawa maupun hidup sang anak ialah MILIK sang ayah karenanya Ibrahim merasa berhak untuk merampas nyawa Ismail, sementara nyawa dan hidup sang ayah ialah MILIK sang ayah seorang diri. Sang Buddha telah pernah bersabda:

“Siapa yang berpenghidupan di antara manusia

Melalui keterampilan memanah, engkau seharusnya mengetahui

Disebut seorang prajurit, Vāseṭṭha;

Ia bukanlah seorang brahmana.”

Karenanya, siapa yang hidup dengan merampas nyawa-hidup orang lain, disebut PEMBUNUH, ia bukanlah seorang “nabi”; dan siapa yang hidup dengan menjadi eksekutor-pemenggal kepala, disebut EKSEKUTOR, ia bukanlah seorang “ayah”. At that time, Ibrahim was not a father, but an EXECUTOR!

Ibrahim / Abraham, nyata-nyata bukanlah seorang nabi ataupun orang mulia yang layak dihormati, ia bahkan tidak layak disebut sebagai seorang ayah ataupun mengaku-ngaku sebagai seorang ayah bagi korban / kurbannya, sebagaimana sabda Sang Buddha berupa kutipan syair berikut:

“Yang telah menyingkirkan tongkat pemukul

Terhadap semua makhluk lemah ataupun kuat,

Yang tidak membunuh atau menyebabkan makhluk lain terbunuh:

Ia Kusebut seorang brahmana.

Yang tidak lagi memiliki kerinduan

Sehubungan dengan alam ini dan alam mendatang,

Yang hidup tanpa kerinduan dan terlepas:

Ia Kusebut seorang brahmana.

Yang juga telah meninggalkan ketagihan,

Dan mengembara di sini tanpa rumah

Dengan ketagihan dan penjelmaan dihancurkan:

Ia Kusebut seorang brahmana.

Yang meninggalkan semua belenggu manusia

Dan telah melepaskan belenggu surgawi,

Terlepas dari segala belenggu di manapun:

Ia Kusebut seorang brahmana.

Karena nama dan kasta diberikan

Sebagai sekadar sebutan di dunia ini;

Berasal-mula dari konvensi,

Yang diberikan di sana-sini.

“Bagi mereka yang tidak mengetahui fakta ini,

Pandangan salah telah lama bersembunyi dalam batin mereka;

Tanpa mengetahui, mereka mengatakan kepada kita:

‘Ia adalah seorang brahmana melalui kelahiran.’

“Seseorang bukanlah seorang brahmana melalui kelahiran,

Juga bukan melalui kelahiran seseorang menjadi bukan-brahmana

Seseorang menjadi brahmana melalui perbuatan,

Seseorang menjadi bukan-brahmana melalui perbuatan.

“Karena orang-orang menjadi petani melalui perbuatan mereka,

Dan melalui perbuatan mereka menjadi orang-orang ahli;

Dan orang-orang menjadi pedagang melalui perbuatan mereka,

Dan juga melalui perbuatan mereka menjadi pelayan.

Dan orang-orang menjadi perampok melalui perbuatan mereka,

Dan melalui perbuatan mereka menjadi prajurit;

Dan orang-orang menjadi pandita melalui perbuatan mereka,

Dan juga melalui perbuatan mereka menjadi penguasa.

“Perbuatan menyebabkan dunia berputar,

Perbuatan menyebabkan generasi berganti.

Makhluk-makhluk hidup terikat oleh perbuatan

Bagaikan roda kereta terikat oleh porosnya.

“Pertapaan, kehidupan suci,

Pengendalian-diri dan latihan batin –

Dengan ini seseorang menjadi brahmana,

Dalam ketinggian ini kebrahmanaan itu terletak.”

PEMBAHASAN:

Orang yang mulia, agung, suci, bukan karena dilahirkan demikian adanya, namun karena perbuatannya. Begitupula manusia-iblis, manusia-setan, maupun para manusia-hewan, mereka demikian adanya bukan karena dilahirkan sedemikian, namun karena perbuatannya. Selengkapnya, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

SUTTA 98

Vāseṭṭha Sutta : Kepada Vāseṭṭha

[115] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Icchānangala, di dalam hutan di dekat Icchānangala.

[Kitab Komentar : Teks dari sutta ini tidak termasuk dalam Majjhima Nikāya edisi Pāli Text Society, karena identik dengan sutta dengan judul yang sama dalam Sutta Nipata, yang diterbitkan dalam dua versi yang berbeda oleh Pāli Text Society. Oleh karena itu nomor halaman dalam kurung siku merujuk pada edisi Sn dari Anderson-Smith.]

2. Pada saat itu sejumlah brahmana kaya dan terkenal sedang menetap di Icchānangala, yaitu, Brahmana Cankī, Brahmana Tārukkha, Brahmana Pokkharasāti, Brahmana Jāussoi, Brahmana Todeyya, dan para brahmana kaya dan terkenal lainnya.

3. Kemudian, sewaktu murid brahmana Vāseṭṭha dan Bhāradvāja sedang berjalan-jalan untuk berolah-raga, diskusi berikut ini terjadi antara mereka: “Bagaimanakah seseorang disebut seorang brahmana?” Murid brahmana Bhāradvāja berkata: “Jika ia berasal dari kelahiran baik pada kedua pihak, keturunan dari ibu dan ayah yang murni hingga tujuh generasi sebelumnya, tidak dapat dibantah dan tanpa cela dalam hal kelahiran, maka ia adalah seorang brahmana.” Murid brahmana Vāseṭṭha berkata: “Jika ia bermoral dan mematuhi peraturan-peraturan, maka ia adalah seorang brahmana.”

4. Tetapi murid brahmana Bhāradvāja tidak dapat [116] meyakinkan murid brahmana Vāseṭṭha, juga murid brahmana Vāseṭṭha tidak dapat meyakinkan murid brahmana Bhāradvāja.

5. Kemudian murid brahmana Vāseṭṭha berkata kepada murid brahmana Bhāradvāja: “Tuan, Petapa Gotama, putera Sakya, yang meninggalkan keduniawian dari suku Sakya, sedang menetap di Icchānangala, di dalam hutan di dekat Icchānangala. Sekarang suatu berita baik sehubungan dengan Guru Gotama telah menyebar sebagai berikut: ‘Bahwa Sang Bhagavā sempurna, telah tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, mulia, pengenal seluruh alam, pemimpin yang tanpa bandingnya bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia, tercerahkan, terberkahi.’ Marilah, Bhāradvāja, kita pergi menemui Petapa Gotama dan menanyakan kepada Beliau sehubungan dengan persoalan ini. Sebagaimana Beliau menjawabnya, demikianlah kita akan mengingatnya.” – “Baik, Tuan,” murid brahmana Bhāradvāja menjawab.

6. Kemudian kedua murid brahmana itu, Vāseṭṭha dan Bhāradvāja, mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, mereka duduk di satu sisi dan murid brahmana Vāseṭṭha berkata kepada Sang Bhagavā dalam syair sebagai berikut:

7. Vāseṭṭha

1. “Kami berdua diakui memiliki

Pengetahuan Tiga Veda,

Karena aku adalah murid Pokkharasāti

Dan ia adalah murid Tārukkha.

2. Kami telah mencapai penguasaan penuh

Atas segala yang diajarkan oleh para ahli Veda;

Mahir dalam ilmu bahasa dan tata bahasa

Kami setara dengan guru-guru kami dalam hal pembacaan. [117]

3. Perselisihan muncul di antara kami, Gotama,

Sehubungan dengan pertanyaan tentang kelahiran dan kasta:

Bhāradvāja mengatakan seseorang adalah brahmana melalui kelahiran,

Sedangkan aku mengatakan seseorang adalah brahmana melalui perbuatan.

[Kitab Komentar : Di sini kata “kamma” harus dipahami sebagai perbuatan atau tindakan sekarang, dan bukan perbuatan lampau yang menghasilkan akibat sekarang sebagai buahnya.]

Ketahuilah hal ini, O Petapa, sebagai perdebatan kami.

4. Karena kami tidak bisa saling meyakinkan satu sama lain,

Atau membuatnya melihat sudut pandang yang lain,

Kami telah mendatangiMu, Tuan,

Yang termasyhur sebagai seorang Buddha.

5. Seperti halnya orang-orang merangkapkan tangannya

Menyembah bulan ketika bulan mulai mengembang,

Demikian pula di dunia ini mereka memuliakan Engkau

Dan menyembah Engkau, Gotama.

6. Maka sekarang kami bertanya kepadaMu, Gotama,

Pembuka mata di dunia ini:

Apakah seseorang menjadi brahmana melalui kelahiran atau perbuatan?

Jelaskanlah kepada kami yang tidak mengetahui

Bagaimana kami seharusnya mengenali seorang brahmana.

8. Buddha

7. “Aku akan mengajarkan engkau secara berurutan sebagaimana adanya, Vāseṭṭha,” Sang Bhagavā berkata,

“Pengelompokan umum makhluk-makhluk hidup;

Karena banyak jenis kelahiran.

8. Pertama-tama ketahuilah rumput dan pepohonan:

Walaupun tidak memiliki kesadaran-diri,

Kelahirannya adalah tanda khususnya;

Karena banyak jenis kelahiran.

9. Berikutnya adalah ngengat dan kupu-kupu

Dan seterusnya hingga semut dan rayap:

Kelahirannya adalah tanda khususnya;

Karena banyak jenis kelahiran.

10. Kemudian ketahuilah jenis-jenis binatang kaki empat

[dari berbagai jenisnya] baik kecil maupun besar:

Kelahirannya adalah tanda khususnya;

Karena banyak jenis kelahiran.

11. Ketahuilah binatang-binatang yang perutnya adalah kakinya,

Yaitu, kelompok ular berbadan panjang:

Kelahirannya adalah tanda khususnya;

Karena banyak jenis kelahiran.

12. Ketahui juga ikan-ikan yang berdiam di air

Habitatnya adalah alam cair:

Kelahirannya adalah tanda khususnya;

Karena banyak jenis kelahiran.

13. Berikutnya ketahuilah burung-burung yang mengepakkan sayapnya

Ketika terbang di angkasa raya:

Kelahirannya adalah tanda khususnya;

Karena banyak jenis kelahiran.

9. 14. “Sementara dalam kelahiran-kelahiran ini perbedaan-perbedaan

Kelahiran menjadi tanda khususnya,

Pada manusia tidak ada perbedaan kelahiran

Yang menjadi tanda khususnya.

15. Tidak di rambut juga tidak di kepala

Tidak di telinga juga tidak di mata

Tidak di mulut juga tidak di hidung

Tidak di bibir juga tidak di kening;

16. Juga tidak di bahu atau di leher

Juga tidak di perut atau di punggung

Juga tidak di bokong atau di dada

Juga tidak di organ kelamin atau cara berhubungan seksual

17. Tidak di tangan juga tidak di kaki

Juga tidak di jari tangan atau di kuku

Tidak di lutut juga tidak di paha

Juga tidak dalam warna kulit atau dalam suara

Di sini kelahiran tidak memiliki tanda khusus

Seperti halnya dengan jenis kelahiran lainnya. [119]

18. Pada tubuh manusia

Tidak ada tanda khusus dapat ditemukan

Perbedaan di antara manusia

Hanyalah sebutan verbal

[Kitab Komentar : Sāmaññā, hanyalah sebutan verbal. Di antara binatang-binatang, keberagaman bentuk dari bagian-bagian tubuh mereka ditentukan oleh spesiesnya (yoni), tetapi hal itu (perbedaan spesies) tidak terdapat pada tubuh para brahmana dan kasta-kasta manusia lainnya. Oleh karena itu, perbedaan antara brahmana, khattiya, dan sebagainya, hanyalah sebutan verbal; diucapkan hanya sekadar sebagai ungkapan konvensional.]

10. 19. “Siapa yang berpenghidupan di antara manusia

[Kitab Komentar : Hingga pada titik ini Sang Buddha telah mengkritik pernyataan Bhāradvāja bahwa kelahiran menjadikan seseorang sebagai brahmana. Sekarang Beliau akan mendukung pernyataan Vāseṭṭha bahwa perbuatan menjadikan seseorang sebagai brahmana. Karena para brahmana masa lampau dan para bijaksana lainnya di dunia ini tidak akan mengakui kebrahmanaan seseorang yang cacat dalam penghidupan, moralitas, dan perilaku.]

Melalui pertanian, engkau seharusnya mengetahui

Disebut seorang petani, Vāseṭṭha;

Ia bukanlah seorang brahmana.

20. Siapa yang berpenghidupan di antara manusia

Melalui berbagai keahlian, engkau seharusnya mengetahui

Disebut seorang ahli, Vāseṭṭha;

Ia bukanlah seorang brahmana.

21. Siapa yang berpenghidupan di antara manusia

Melalui barang-barang dagangan, engkau seharusnya mengetahui

Disebut seorang pedagang, Vāseṭṭha;

Ia bukanlah seorang brahmana.

22. Siapa yang berpenghidupan di antara manusia

Dengan melayani orang-orang lain, engkau seharusnya mengetahui

Disebut seorang pelayan, Vāseṭṭha;

Ia bukanlah seorang brahmana.

23. Siapa yang berpenghidupan di antara manusia

Dengan mencuri, engkau seharusnya mengetahui

Disebut seorang perampok, Vāseṭṭha;

Ia bukanlah seorang brahmana.

24. Siapa yang berpenghidupan di antara manusia

Melalui keterampilan memanah, engkau seharusnya mengetahui

Disebut seorang prajurit, Vāseṭṭha;

Ia bukanlah seorang brahmana.

25. Siapa yang berpenghidupan di antara manusia

Melalui keterampilan religius, engkau seharusnya mengetahui

Disebut seorang pandita, Vāseṭṭha;

Ia bukanlah seorang brahmana.

26. Siapapun juga yang memerintah di antara manusia

Pemukiman dan kerajaan, engkau seharusnya mengetahui

Disebut seorang penguasa, Vāseṭṭha;

Ia bukanlah seorang brahmana.

11. 27. “Aku menyebutnya bukan seorang brahmana

Karena asal-usul dan silsilahnya

Jika rintangan masih bersembunyi dalam dirinya,

Ia hanyalah seorang yang mengatakan ‘Tuan.’

[Kitab Komentar : Bhavādi. Bho, “Tuan,” adalah cara menyapa yang biasanya digunakan di antara para brahmana. Mulai titik ini dan seterusnya Sang Buddha akan mengidentifikasikan brahmana sejati sebagai Arahant. Bait 27-54 di sini identik dengan Dhammapada 396-423, kecuali pada bait tambahan dalam Dhammapada 423.]

Siapapun yang tanpa rintangan dan tidak lagi melekat:

Ia Kusebut seorang brahmana.

28. Yang telah memotong semua belenggu

Dan tidak lagi terguncang oleh kesedihan,

Yang telah mengatasi segala ikatan, terlepas:

Ia Kusebut seorang brahmana. [120]

29. Yang telah memotong tali pengikat

Juga tali kendali dan tali kekang,

Yang palang penghalangnya telah diangkat, yang tercerahkan:

Ia Kusebut seorang brahmana.

30. Yang menahankan tanpa jejak kebencian

Hinaan, kekerasan, dan juga penindasan.

Dengan kekuatan kesabaran tertata baik:

Ia Kusebut seorang brahmana.

31. Yang tidak terbakar oleh kemarahan,

Patuh, bermoral, dan rendah-hati,

Lembut, membawa jasmani terakhirnya:

Ia Kusebut seorang brahmana.

32. Siapapun juga, yang bagaikan hujan di atas daun seroja,

[Komentar : Seroja adalah teratai, yang daunnya tidak terbasahi oleh air hujan karena air tidak melekat pada permukaan daun teratai.]

Atau biji mostar di atas ujung jarum,

Sama sekali tidak melekat pada kenikmatan indria

Ia Kusebut seorang brahmana.

33. Yang mengetahui di sini di dalam dirinya sendiri

Hancurnya segala penderitaan

Dengan beban diturunkan, dan terlepas:

Ia Kusebut seorang brahmana.

34. Yang dengan pemahaman mendalam, bijaksana,

Dapat mengetahui sang jalan dan bukan sang jalan

Dan telah mencapai tujuan tertinggi:

Ia Kusebut seorang brahmana.

35. Jauh dari para perumah-tangga

Dan mereka yang menjalani kehidupan tanpa rumah,

Yang mengembara tanpa rumah atau keinginan:

Ia Kusebut seorang brahmana.

36. Yang telah menyingkirkan tongkat pemukul

Terhadap semua makhluk lemah ataupun kuat,

Yang tidak membunuh atau menyebabkan makhluk lain terbunuh:

Ia Kusebut seorang brahmana.

[Komentar : Bandingkan dengan kisah Ibrahim / Abraham terhadap puteranya, Ismail / Ishaq, yang tega menyembelih dan menumpahkan darah (merampas nyawa) sang anak demi sang ayah bisa bersenang-senang masuk surga. Pengorbanan dalam Buddhisme bersifat “TANPA DARAH”.]

37. Yang tidak melawan di antara para lawannya.

Damai di antara mereka yang terbiasa melakukan kekerasan,

Yang tidak melekat di antara mereka yang melekat:

Ia Kusebut seorang brahmana.

38. Yang telah menjatuhkan segala nafsu dan kebencian,

Menurunkan keangkuhan dan sikap meremehkan,

Bagaikan biji mostar di ujung jarum:

Ia Kusebut seorang brahmana. [121]

39. Yang mengucapkan kata-kata yang bebas dari kekasaran,

Penuh makna, senantiasa jujur,

Yang tidak menghina siapapun:

Ia Kusebut seorang brahmana.

40. Yang di dunia ini tidak akan pernah mengambil

Apa yang tidak diberikan, panjang atau pendek,

Kecil atau besar atau indah atau menjijikkan:

Ia Kusebut seorang brahmana.

41. Yang tidak lagi memiliki kerinduan

Sehubungan dengan alam ini dan alam mendatang,

Yang hidup tanpa kerinduan dan terlepas:

Ia Kusebut seorang brahmana.

42. Yang tidak lagi memiliki kegemaran

Tidak ada lagi kebingungan karena ia mengetahui;

Yang telah memperoleh pijakan kokoh dalam Tanpa-Kematian:

Ia Kusebut seorang brahmana.

43. Yang telah melampaui segala ikatan di sini

Dari perbuatan baik dan buruk,

Tanpa kesedihan, tanpa noda, dan murni:

Ia Kusebut seorang brahmana.

44. Yang, murni bagaikan bulan tanpa noda,

Bersih dan jernih, dan yang padanya

Kesenangan dan penjelmaan telah dihancurkan:

Ia Kusebut seorang brahmana.

45. Yang telah menyeberangi rawa,

Lumpur, sasāra, segala delusi,

Yang telah menyeberang ke pantai seberang

Dan bermeditasi dalam jhāna-jhāna,

Tidak terganggu dan tidak bingung,

Mencapai Nibbāna melalui ketidak-melekatan:

Ia Kusebut seorang brahmana.

46. Yang telah meninggalkan kenikmatan-kenikmatan indria

Dan mengembara di sini tanpa rumah

Dengan keinginan indria dan penjelmaan dihancurkan:

Ia Kusebut seorang brahmana.

47. Yang juga telah meninggalkan ketagihan,

Dan mengembara di sini tanpa rumah

Dengan ketagihan dan penjelmaan dihancurkan:

Ia Kusebut seorang brahmana.

48. Yang meninggalkan semua belenggu manusia

Dan telah melepaskan belenggu surgawi,

Terlepas dari segala belenggu di manapun:

Ia Kusebut seorang brahmana.

49. Yang meninggalkan kesenangan dan ketidak-puasan,

Yang sejuk dan tanpa perolehan,

Pahlawan yang telah melampaui seluruh alam:

Ia Kusebut seorang brahmana. [122]

50. Yang mengetahui bagaimana makhluk-makhluk meninggal dunia

Untuk muncul kembali dalam banyak cara,

Ia tidak mencengkeram, mulia, sadar:

Ia Kusebut seorang brahmana.

51. Yang tujuannya tidak diketahui

Oleh para dewa, hantu, dan manusia,

Seorang Arahant dengan noda-noda dihancurkan:

Ia Kusebut seorang brahmana.

52. Yang tanpa rintangan sama sekali,

Di depan, di belakang, atau di tengah,

Yang tanpa rintangan dan tidak lagi melekat:

Ia Kusebut seorang brahmana.

53. Pemimpin kelompok, pahlawan sempurna,

Petapa besar yang kemenangannya telah diraih,

Tanpa gangguan, dimurnikan, tercerahkan:

Ia Kusebut seorang brahmana.

54. Yang mengetahui banyak kehidupan lampaunya

Dan melihat alam-alam surga dan alam sengsara,

Yang telah mencapai hancurnya kelahiran:

Ia Kusebut seorang brahmana.

12. 55. “Karena nama dan kasta diberikan

Sebagai sekadar sebutan di dunia ini;

Berasal-mula dari konvensi,

Yang diberikan di sana-sini.

56. Bagi mereka yang tidak mengetahui fakta ini,

Pandangan salah telah lama bersembunyi dalam batin mereka;

Tanpa mengetahui, mereka mengatakan kepada kita:

‘Ia adalah seorang brahmana melalui kelahiran.’

57. Seseorang bukanlah seorang brahmana melalui kelahiran,

Juga bukan melalui kelahiran seseorang menjadi bukan-brahmana

Seseorang menjadi brahmana melalui perbuatan,

Seseorang menjadi bukan-brahmana melalui perbuatan.

58. Karena orang-orang menjadi petani melalui perbuatan mereka,

[Kitab Komentar : Melalui perbuatan kehendak sekarang yang menyelesaikan pekerjaan bertani, dan sebagainya.]

Dan melalui perbuatan mereka menjadi orang-orang ahli;

Dan orang-orang menjadi pedagang melalui perbuatan mereka,

Dan juga melalui perbuatan mereka menjadi pelayan.

59. Dan orang-orang menjadi perampok melalui perbuatan mereka,

Dan melalui perbuatan mereka menjadi prajurit;

Dan orang-orang menjadi pandita melalui perbuatan mereka,

Dan juga melalui perbuatan mereka menjadi penguasa. [123]

13. 60. “Maka demikianlah bagaimana yang sungguh bijaksana

Melihat perbuatan sebagaimana adanya,

Yang melihat kemunculan bergantungan,

Terampil dalam perbuatan dan akibatnya.

[Kitab Komentar : Dengan bait ini kata “kamma” mengalami pergeseran makna yang ditandai oleh kata “kemunculan bergantungan.” “Kamma” di sini bukan lagi hanya berarti perbuatan sekarang yang menentukan status sosial seseorang, melainkan perbuatan dalam makna khusus kekuatan yang mengikat makhluk-makhluk pada lingkaran kehidupan. Pemikiran yang sama ini menjadi lebih jelas pada bait berikutnya.]

61. Perbuatan menyebabkan dunia berputar,

Perbuatan menyebabkan generasi berganti.

Makhluk-makhluk hidup terikat oleh perbuatan

Bagaikan roda kereta terikat oleh porosnya.

62. Pertapaan, kehidupan suci,

Pengendalian-diri dan latihan batin –

Dengan ini seseorang menjadi brahmana,

Dalam ketinggian ini kebrahmanaan itu terletak.

[Kitab Komentar : Bait di atas dan yang berikutnya sekali lagi merujuk pada Arahant. Akan tetapi, di sini, perbedaannya tidak terletak pada perbedaan Arahant sebagai seorang yang menjadi suci melalui perbuatannya dan brahmana melalui kelahiran yang tidak layak menyandang sebutan itu, melainkan pada perbedaan antara Arahant sebagai seorang yang terbebaskan dari belenggu perbuatan dan akibat, dan semua makhluk lainnya yang masih terikat oleh perbuatan mereka pada lingkaran kelahiran dan kematian.]

63. Seseorang yang memiliki tiga pengetahuan,

Damai, dengan segala penjelmaan dihancurkan:

Kenalilah ia demikian, O Vāseṭṭha,

Sebagai Brahmā dan Sakka bagi mereka yang memahami.”

14. Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Vāseṭṭha dan Bhāradvāja berkata kepada Sang Bhagavā: “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah menjelaskan Dhamma dalam berbagai cara, bagaikan menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan pada mereka yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma dan pada Sagha para bhikkhu. Mulai hari ini sudilah Guru Gotama mengingat kami sebagai umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”

Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, apakah layak “manusia-manusia sampah” semacam berikut disebut sebagai orang baik, orang suci, orang luhur, orang mulia, orang lurus, orang jujur, orang agung, bahkan mengklaim dirinya sebagai seorang “nabi”?—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Kini, tengoklah bagaimana sang “nabi rasul allah” kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA” akibat “DOSA-DOSANYA YANG MENGGUNUNG”, gagal menasehati dan mendidik dirinya sendiri, namun merasa paling superior yang berhak untuk menggurui, menceramahi, dan menghakimi kaum lainnya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]