Misi Misionaris Sang Buddha

Umat Buddhis yang Butuh Sang Buddha, Bukan Sebaliknya

Allah yang Butuh Umat Agama Samawi, Bukan Sebaliknya

Question: Bagaimana cara kita bisa mengetahui, mengenali, dan membedakan, mana “misi misionaris” yang motifnya ialah demi EGO dan mana yang motifnya ialah murni-tulus demi kepentingan umat manusia?

Brief Answer: Sebanyak apapun umat pengikut maupun siswa-siswi Sang Buddha, tetap saja Sang Buddha hanya makan satu kali sehari, hidup selibat, hanya memiliki harta berupa mangkuk untuk berpindapata menerima dana makan dari penduduk dan jubah-bekas yang melekat di badan. Bukanlah Sang Buddha, yang memohon, mengemis, bahkan mengancam agar umat manusia bersedia mendengarkan ajaran-Nya. Sebaliknya, kontras dengan Sang Buddha, Allah dalam agama samawi-abrahamik digambarkan penuh dogma-dogma berisi ancaman bila tidak menyembah dirinya, sehingga kepatuhan dan ketaatan dibangun diatas landasan ketakutan para umat pemeluknya. Bahkan, Allah rela mengobral surga, rela merampas hak kalangan korban atas keadilan dengan iming-iming “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA” bagi para penjahat (kalangan pendosa).

PEMBAHASAN:

Tanpa welas-asih demi kebebasan umat manusia dari penderitaan dan samsara, Sang Buddha tidak akan membabarkan Dhamma. Adalah karena welas-asih, Sang Buddha beranjak untuk memutar Roda-Dhamma, dapat kita simak perjuangan Sang Buddha dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

SUTTA 26

Ariyapariyesanā Sutta: Pencarian Mulia

1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

[Kitab Komentar : Khotbah ini juga dikenal sebagai Pāsarāsi Sutta, tumpukan perangkap dengan referensi pada perumpamaan dalam paragraf 32-33.]

2. Kemudian, pada pagi harinya, Sang Bhagavā merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarNya, pergi ke Sāvatthī untuk menerima dana makanan. Kemudian sejumlah bhikkhu mendatangi Yang Mulia Ānanda dan berkata kepadanya: “Teman Ānanda, telah lama sejak kami mendengar Dhamma dari mulut Sang Bhagavā. Baik sekali jika kami dapat mendengar khotbah demikian, teman Ānanda.” – “Kalau begitu, silahkan para mulia pergi ke pertapaan brahmana Rammaka. Mungkin kalian akan mendengarkan khotbah Dhamma dari mulut Sang Bhagavā sendiri.” – “Baik, teman,” mereka menjawab.

3. Kemudian, ketika Sang Bhagavā telah menerima dana makanan di Sāvatthī dan telah kembali dari perjalanan itu, setelah makan ia berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Ānanda, mari kita pergi ke Taman Timur, ke Istana ibunya Migāra, untuk melewatkan hari.” – “Baik, Yang Mulia,” Yang Mulia Ānanda menjawab. [161] Kemudian Sang Bhagavā pergi bersama Yang Mulia Ānanda ke Taman Timur, Istana ibunya Migāra, untuk melewatkan hari. Kemudian, pada malam harinya, Sang Bhagavā bangkit dari meditasi dan berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Ānanda, mari kita pergi ke Pemandian Timur untuk mandi.” – “Baik, Yang Mulia,” Yang Mulia Ānanda menjawab. Kemudian Sang Bhagavā pergi bersama Yang Mulia Ānanda ke Pemandian Timur untuk mandi. Ketika Beliau telah selesai, Beliau keluar dari air dan berdiri dengan mengenakan satu jubah mengeringkan badanNya. Kemudian Yang Mulia Ānanda berkata kepada Sang Bhagavā:

“Yang Mulia, pertapaan Brahmana Rammaka ada di dekat sini. Pertapaan itu indah dan menyenangkan. Yang Mulia, baik sekali jika Sang Bhagavā pergi ke sana demi belas kasihNya.” Sang Bhagavā menyetujui dengan berdiam diri.

4. Kemudian Sang Bhagavā pergi menuju pertapaan Brahmana Rammaka. Pada saat itu sejumlah bhikkhu sedang duduk bersama di pertapaan itu mendiskusikan Dhamma. Sang Bhagavā berdiri di luar pintu menunggu diskusi mereka berakhir. Ketika Beliau mengetahui bahwa diskusi itu telah berakhir, Beliau berdehem dan mengetuk, dan para bhikkhu membuka pintu untuk Beliau. Sang Bhagavā masuk, duduk di tempat duduk yang telah disediakan, dan berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu, apakah yang kalian diskusikan saat kalian duduk bersama di sini saat ini? Dan apakah yang sedang kalian diskusikan yang terhenti?”

“Yang Mulia, diskusi kami yang terhenti adalah tentang Sang Bhagavā sendiri. Kemudian Sang Bhagavā datang.”

“Bagus, para bhikkhu. Adalah selayaknya bagi kalian para anggota keluarga yang telah meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah untuk duduk bersama dan mendiskusikan Dhamma. Ketika kalian berkumpul bersama, para bhikkhu, kalian harus melakukan salah satu dari dua hal ini: berdiskusi Dhamma atau mempertahankan keheningan mulia.

[Kitab Komentar : Jhāna ke-dua dan subjek meditasi utama seseorang keduanya disebut “keheningan mulia” (ariyo tuhībhāvo). Mereka yang tidak mampu mencapai jhāna ke dua disarankan untuk mempertahankan keheningan mulia dengan memperhatikan subjek meditasi utama mereka.]

(DUA JENIS PENCARIAN)

5. “Para bhikkhu, ada dua jenis pencarian ini: pencarian mulia dan pencarian tidak mulia. Dan apakah pencarian tidak mulia? Di sini seorang yang tunduk pada kelahiran mencari apa yang juga tunduk pada kelahiran; dengan dirinya tunduk pada penuaan, [162] ia mencari apa yang juga tunduk pada penuaan; dengan dirinya tunduk pada penyakit, ia mencari apa yang juga tunduk pada penyakit; dengan dirinya tunduk pada kematian, ia mencari apa yang juga tunduk pada kematian; dengan dirinya tunduk pada dukacita, ia mencari apa yang juga tunduk pada dukacita; dengan dirinya tunduk pada kekotoran, ia mencari apa yang juga tunduk pada kekotoran.

6. “Dan apakah yang dikatakan sebagai tunduk pada kelahiran? Istri dan anak-anak tunduk pada kelahiran, budak-budak laki-laki dan perempuan, kambing dan domba, unggas dan babi, gajah, sapi, kuda-kuda jantan dan betina, emas dan perak adalah tunduk pada kelahiran. Perolehan-perolehan ini tunduk pada kelahiran; dan seseorang yang terikat pada hal-hal ini, tergila-gila pada hal-hal ini, dan menyerah total pada hal-hal ini, dengan dirinya tunduk pada kelahiran, mencari apa yang juga tunduk pada kelahiran.

[Kitab Komentar : “Perolehan-perolehan ini” (upadhi), makna akarnya adalah fondasi, dasar, landasan (PED). Dalam komentar dijelaskan berbagai jenis upadhi, diantaranya adalah kelima kelompok unsur kehidupan, objek-objek kenikmatan indria, kekotoran-kekotoran, dan kamma. Ñm menerjemahkan kata ini secara konsisten sepanjang sutta sebagai “sifat dasar kehidupan,” yang sering kali mengaburkan makna kontekstualnya. Penerjemah mencoba menangkap beberapa konotasi kata ini dengan menerjemahkannya menjadi “perolehan-perolehan” yang mana makna objektifnya lebih menonjol (seperti di sini) dan sebagai “perolehan” yang mana makna subjektifnya lebih menonjol. Pada Majjhima Nikāya 26.19, Nibbāna disebut “lepasnya segala perolehan” (sabb’ūpadhipainissagga), dengan kedua makna itu yang dimaksudkan.]

7. “Dan apakah yang dikatakan sebagai tunduk pada penuaan? Istri dan anak-anak tunduk pada penuaan, budak-budak laki-laki dan perempuan, kambing dan domba, unggas dan babi, gajah, sapi, kuda-kuda jantan dan betina, emas dan perak adalah tunduk pada penuaan. Perolehan-perolehan ini tunduk pada penuaan; dan seseorang yang terikat pada hal-hal ini, tergila-gila pada hal-hal ini, dan menyerah total pada hal-hal ini, dengan dirinya tunduk pada penuaan, mencari apa yang juga tunduk pada penuaan.

8. “Dan apakah yang dikatakan sebagai tunduk pada penyakit? Istri dan anak-anak tunduk pada penyakit, budak-budak laki-laki dan perempuan, kambing dan domba, unggas dan babi, gajah, sapi, kuda-kuda jantan dan betina adalah tunduk pada penyakit. Perolehan-perolehan ini tunduk pada penyakit; dan seseorang yang terikat pada hal-hal ini, tergila-gila pada hal-hal ini, dan menyerah total pada hal-hal ini, dengan dirinya tunduk pada penyakit, mencari apa yang juga tunduk pada penyakit.

[Kitab Komentar : Emas dan perak dikecualikan dari benda-benda yang tunduk pada penyakit, kematian, dan dukacita, tetapi benda-benda tersebut tunduk pada kekotoran, karena benda-benda tersebut dapat dicampur dengan logam yang bernilai lebih rendah.]

9. “Dan apakah yang dikatakan sebagai tunduk pada kematian? Istri dan anak-anak tunduk pada kematian, budak-budak laki-laki dan perempuan, kambing dan domba, unggas dan babi, gajah, sapi, kuda-kuda jantan dan betina adalah tunduk pada kematian. Perolehan-perolehan ini tunduk pada kematian; dan seseorang yang terikat pada hal-hal ini, tergila-gila pada hal-hal ini, dan menyerah total pada hal-hal ini, dengan dirinya tunduk pada kematian, mencari apa yang juga tunduk pada kematian.

10. “Dan apakah yang dikatakan sebagai tunduk pada dukacita? Istri dan anak-anak tunduk pada dukacita, budak-budak laki-laki dan perempuan, kambing dan domba, unggas dan babi, gajah, sapi, kuda-kuda jantan dan betina adalah tunduk pada dukacita. Perolehan-perolehan ini tunduk pada dukacita; dan seseorang yang terikat pada hal-hal ini, tergila-gila pada hal-hal ini, dan menyerah total pada hal-hal ini, dengan dirinya tunduk pada dukacita, mencari apa yang juga tunduk pada dukacita.

11. “Dan apakah yang dikatakan sebagai tunduk pada kekotoran? Istri dan anak-anak tunduk pada kekotoran, budak-budak laki-laki dan perempuan, kambing dan domba, unggas dan babi, gajah, sapi, kuda-kuda jantan dan betina, emas dan perak adalah tunduk pada kekotoran. Perolehan-perolehan ini tunduk pada kekotoran; dan seseorang yang terikat pada hal-hal ini, tergila-gila pada hal-hal ini, dan menyerah total pada hal-hal ini, dengan dirinya tunduk pada kekotoran, mencari apa yang juga tunduk pada kekotoran. Ini adalah pencarian tidak mulia.

[Komentar : Mungkin Anda pernah mengenal anggota keluarga yang pada mulanya berperilaku baik, cerdsa, penuh welas-asih, namun seiring berjalannya waktu, akibat pengaruh pergaulan atau sebagainya, berubah, menjelma seseosok individu yang tidak lagi dapat kita kenali, bagai orang asing yang tega menyakiti anggota keluarganya sendiri. Keluarga, tidaklah terkecuali, mereka “tunduk pada kekotoran”. Kita hanya dapat mengawasi, mengarahkan, mendidik, dan mendisiplinkan kualitas pikiran kita sendiri agar “tidak merosot”, menghindar dari paparan “kekotoran”.]

12. “Dan apakah pencarian mulia? Di sini seseorang yang tunduk pada kelahiran, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada kelahiran, [163] mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak terlahirkan, Nibbāna; dengan dirinya tunduk pada penuaan, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada penuaan, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak mengalami penuaan, Nibbāna; dengan dirinya tunduk pada penyakit, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada penyakit, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak mengalami penyakit, Nibbāna; dengan dirinya tunduk pada kematian, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada kematian, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tanpa kematian, Nibbāna; dengan dirinya tunduk pada dukacita, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada dukacita, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tanpa dukacita, Nibbāna; dengan dirinya tunduk pada kekotoran, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada kekotoran, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tanpa kekotoran, Nibbāna. Ini adalah pencarian mulia.

(PENCARIAN PENCERAHAN)

13. “Para bhikkhu, sebelum pencerahanKu, sewaktu Aku masih menjadi seorang Bodhisatta yang belum tercerahkan, Aku juga, dengan diriKu yang tunduk pada kelahiran, mencari apa yang juga tunduk pada kelahiran; dengan diriKu yang tunduk pada penuaan, penyakit, kematian, dukacita, dan kekotoran, Aku mencari apa yang juga tunduk pada penuaan, penyakit, kematian, dukacita, dan kekotoran. Kemudian Aku merenungkan: ‘Mengapa, dengan diriku sendiri tunduk pada kelahiran, Aku mencari apa yang juga tunduk pada kelahiran? Mengapa, dengan diriKu sendiri yang tunduk pada penuaan, penyakit, kematian, dukacita, dan kekotoran, Aku mencari apa yang juga tunduk pada penuaan, penyakit, kematian, dukacita, dan kekotoran? Bagaimana jika, dengan diriKu sendiri tunduk pada kelahiran, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada kelahiran, Aku mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak terlahirkan, Nibbāna. Bagaimana jika, dengan diriKu sendiri yang tunduk pada penuaan, penyakit, kematian, dukacita, dan kekotoran, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada penuaan, penyakit, kematian, dukacita, dan kekotoran, Aku mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak mengalami penuaan, penyakit, kematian, dukacita, dan kekotoran, Nibbāna.’

14. “Kemudian, sewaktu Aku masih muda, seorang pemuda berambut hitam memiliki berkah kemudaan, dalam tahap kehidupan utama, walaupun ibu dan ayahku menginginkan sebaliknya dan menangis dengan wajah basah oleh air mata, Aku mencukur rambut dan janggutKu, mengenakan jubah kuning, dan pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.

15. “Setelah meninggalkan keduniawian, para bhikkhu, dalam mencari apa yang bermanfaat, mencari kondisi tertinggi dari kedamaian tertinggi, Aku mendatangi Āāra Kālāma dan berkata kepadanya: ‘Teman Kālāma, Aku ingin menjalani kehidupan suci dalam Dhamma dan Disiplin ini.’ Āāra Kālāma menjawab: ‘Yang Mulia boleh menetap di sini. Dhamma ini adalah sedemikian sehingga seorang bijaksana [164] dapat segera memasuki dan berdiam di dalamnya, menembus doktrin gurunya sendiri untuk dirinya sendiri melalui pengetahuan langsung.’ Aku dengan segera mempelajari Dhamma itu. Sejauh hanya mengulangi dan melafalkan ajarannya melalui mulut, Aku dapat mengatakan dengan pengetahuan dan kepastian, dan Aku mengakui, ‘Aku mengetahui dan melihat’ – dan ada orang-orang lain yang juga melakukan demikian.

“Aku merenungkan: ‘Bukan hanya sekadar keyakinan saja maka Āāra Kālāma menyatakan: “Dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung, Aku masuk dan berdiam dalam Dhamma ini.” Āāra Kālāma pasti berdiam dengan mengetahui dan melihat Dhamma ini.’ Kemudian Aku mendatangi Āāra Kālāma dan bertanya: ‘Teman Kālāma, dalam cara bagaimanakah engkau menyatakan bahwa dengan menembusnya untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung engkau masuk dan berdiam dalam Dhamma ini?’ Sebagai jawaban ia menyatakan landasan kekosongan.

[Kitab Komentar : Āāra Kālāma mengajarkan Sang Bodhisatta Gotama tujuh pencapaian (meditasi ketenangan) yang berakhir pada landasan kekosongan, ke-tiga dari empat pencapaian tanpa-materi. Walaupun pencapaian-pencapaian ini adalah luhur secara spiritual, namun masih dalam lingkup lokiya dan tidak secara langsung mengarah pada Nibbāna.]

“Aku merenungkan: ‘Bukan hanya Āāra Kālāma yang memiliki keyakinan, kegigihan, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Aku juga memiliki keyakinan, kegigihan, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Bagaimana jika Aku berjuang untuk menembus Dhamma yang dinyatakan oleh Āāra Kālāma bahwa ia telah masuk dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung?’

“Aku dengan cepat memasuki dan berdiam dalam Dhamma dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung. Kemudian Aku mendatangi Āāra Kālāma dan bertanya: ‘Teman Kālāma, apakah dengan cara ini engkau menyatakan bahwa engkau masuk dan berdiam dalam Dhamma ini dengan menembusnya untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung?’ – ‘Demikianlah, teman.’ – ‘Adalah dengan cara ini, teman, bahwa Aku juga masuk dan berdiam dalam Dhamma ini dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung.’ – ‘Suatu keuntungan bagi kita, teman, suatu keuntungan besar bagi kita bahwa kita memiliki seorang mulia demikian bagi teman-teman kita dalam kehidupan suci. Jadi Dhamma yang kunyatakan telah kumasuki dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk diriku sendiri dengan pengetahuan langsung adalah juga Dhamma yang Engkau masuki dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk diriMu sendiri dengan pengetahuan langsung. [165] Dan Dhamma yang Engkau masuki dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk diriMu sendiri dengan pengetahuan langsung adalah Dhamma yang kunyatakan telah aku masuki dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk diriku sendiri dengan pengetahuan langsung. Jadi Engkau mengetahui Dhamma yang kuketahui dan aku mengetahui Dhamma yang Engkau ketahui. Sebagaimana aku, demikian pula Engkau; sebagaimana Engkau, demikian pula aku. Marilah, teman, mari kita memimpin komunitas ini bersama-sama.’

“Demikianlah Āāra Kālāma, guruKu, menempatkan Aku, muridnya, setara dengan dirinya dan menganugerahi diriku dengan penghormatan tertinggi. Tetapi aku berpikir: ‘Dhamma ini tidak menuntun menuju kekecewaan, tidak menuntun menuju kebosanan, tidak menuntun menuju lenyapnya, tidak menuntun menuju kedamaian, tidak menuntun menuju pengetahuan langsung, tidak menuntun menuju Nibbāna, tetapi hanya menuntun menuju kemunculan kembali dalam landasan kekosongan.’ Karena tidak puas dengan Dhamma itu, Aku pergi dan meninggalkan tempat itu.

[Kitab Komentar : “Kemunculan kembali dalam landasan kekosongan”, yaitu menuntun menuju kelahiran-kembali di alam kehidupan yang disebut landasan kekosongan, tujuan dari pencapaian meditatif ke-tujuh. Di sini umur kehidupannya adalah 60.000 kappa, tetapi ketika jangka waktu itu telah berlalu, seseorang akan meninggal dunia dan kembali ke alam yang lebih rendah. Dengan demikian seseorang yang mencapai ini masih belum terbebas dari kelahiran dan kematian namun terperangkap dalam jebakan Māra. Horner melewatkan hal penting bahwa kelahiran-kembali adalah intinya dengan menerjemahkan “hanya sejauh mencapai alam kekosongan” (MLS 1:209).]

16. “Masih dalam pencarian, para bhikkhu, terhadap apa yang bermanfaat, mencari kondisi tertinggi dari kedamaian tertinggi, Aku mendatangi Uddaka Rāmaputta dan berkata kepadanya: ‘Teman, Aku ingin menjalani kehidupan suci dalam Dhamma dan Disiplin ini.’ Uddaka Rāmaputta menjawab: ‘Yang Mulia boleh menetap di sini. Dhamma ini adalah sedemikian sehingga seorang bijaksana dapat segera memasuki dan berdiam di dalamnya, menembus doktrin gurunya sendiri untuk dirinya sendiri melalui pengetahuan langsung.’ Aku dengan segera mempelajari Dhamma itu. Sejauh hanya mengulangi dan melafalkan ajarannya melalui mulut, Aku dapat mengatakan dengan pengetahuan dan kepastian, dan Aku mengakui, ‘Aku mengetahui dan melihat’ – dan ada orang-orang lain yang juga melakukan demikian.

[Kitab Komentar : Baik Horner dalam MLS dan Ñm dalam Ms melakukan kesalahan dalam terjemahan mereka mengenai kisah pertemuan Sang Bodhisatta dengan Uddaka Rāmaputta dengan menganggap Uddaka sama dengan Rāma. Akan tetapi, seperti ditunjukkan oleh namanya, Uddaka adalah putra (putta) dari Rāma, yang pasti telah meninggal dunia sebelum kedatangan Sang Bodhisatta. Perhatikan bahwa semua rujukan pada Rāma dituliskan dalam bentuk lampau dan sebagai orang ke tiga, dan bahwa Uddaka pada akhirnya menempatkan Sang Bodhisatta dalam posisi guru. Walaupun teks tidak memberikan akhir yang pasti, namun ini menyiratkan bahwa ia sendiri belum mencapai pencapaian ke empat tanpa-bentuk itu.]

“Aku merenungkan: ‘Bukan hanya sekadar keyakinan saja maka Rāma menyatakan: “Dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung, Aku masuk dan berdiam dalam Dhamma ini.” Rāma pasti berdiam dengan mengetahui dan melihat Dhamma ini.’ Kemudian Aku mendatangi Uddaka Rāmaputta dan bertanya: ‘Teman, dalam cara bagaimanakah Rāma menyatakan bahwa dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung ia masuk dan berdiam dalam Dhamma ini?’ Sebagai jawaban ia menyatakan landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.

“Aku merenungkan: ‘Bukan hanya Rāma yang memiliki keyakinan, [166] kegigihan, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Aku juga memiliki keyakinan, kegigihan, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Bagaimana jika Aku berjuang untuk menembus Dhamma yang dinyatakan oleh Rāma bahwa ia telah masuk dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung?’

“Aku dengan cepat masuk dan berdiam dalam Dhamma dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung. Kemudian Aku mendatangi Uddaka Rāmaputta dan bertanya: ‘Teman, apakah dengan cara ini Rāma menyatakan bahwa ia masuk dan berdiam dalam Dhamma ini dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung?’ – ‘Demikianlah, teman.’ – ‘Adalah dengan cara ini, teman, bahwa Aku juga masuk dan berdiam dalam Dhamma ini dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung.’ – ‘Suatu keuntungan bagi kita, teman, suatu keuntungan besar bagi kita bahwa kita memiliki seorang mulia demikian bagi teman-teman kita dalam kehidupan suci. Jadi Dhamma yang dinyatakan oleh Rāma telah ia masuki dan diami di dalamnya dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung adalah juga Dhamma yang Engkau masuki dan diami di dalamnya dengan menembusnya untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung. Dan Dhamma yang Engkau masuki dan diami di dalamnya dengan menembusnya untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung adalah Dhamma yang dinyatakan oleh Rāma telah ia masuki dan diami di dalamnya dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung. Jadi Engkau mengetahui Dhamma yang diketahui oleh Rāma dan Rāma mengetahui Dhamma yang Engkau ketahui. Sebagaimana Rāma, demikian pula Engkau; sebagaimana Engkau, demikian pula Rāma. Marilah, teman, mari kita memimpin komunitas ini bersama-sama.

“Demikianlah Uddaka Rāmaputta, temanKu dalam kehidupan suci, menempatkan Aku dalam posisi seorang guru dan menganugerahi diriku dengan penghormatan tertinggi. Tetapi aku berpikir: ‘Dhamma ini tidak menuntun menuju kekecewaan, menuju kebosanan, menuju lenyapnya, menuju kedamaian, menuju pengetahuan langsung, menuju Nibbāna, tetapi hanya menuju kemunculan kembali dalam landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.’ Karena tidak puas dengan Dhamma itu, Aku pergi dan meninggalkan tempat itu.

17. “Masih dalam pencarian, para bhikkhu, terhadap apa yang bermanfaat, mencari kondisi tertinggi dari kedamaian tertinggi, Aku mengembara secara bertahap melewati Negeri Magadha hingga akhirnya Aku sampai di Senānigama di dekat Uruvelā. [167] Di sana Aku melihat sepetak tanah yang nyaman, hutan yang indah dengan aliran sungai yang jernih dengan pantai yang halus dan menyenangkan dan di dekat sana terdapat sebuah desa sebagai sumber dana makanan. Aku merenungkan: ‘Ini adalah sepetak tanah yang nyaman, ini adalah hutan yang indah dengan aliran sungai yang jernih dengan pantai yang halus dan menyenangkan dan di dekat sana terdapat sebuah desa sebagai sumber dana makanan. Ini akan membantu usaha seseorang yang bersungguh-sungguh untuk berusaha.’ Dan Aku duduk di sana berpikir: ‘Ini akan membantu usaha.’

[Kitab Komentar : Majjhima Nikāya 36, yang mencantumkan kisah pertemuan Sang Bodhisatta dengan Āāra Kālāma dan Uddaka Rāmaputta, dari sini dilanjutkan dengan kisah praktik pertapaan keras yang membawaNya hingga ke ambang kematian dan selanjutnya tentang penemuanNya akan jalan tengah yang menuntunNya menuju pencerahan.]

(PENCERAHAN)

18. “Kemudian, para bhikkhu, dengan diriku sendiri tunduk pada kelahiran, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada kelahiran, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak terlahirkan, Nibbāna, Aku mencapai keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak terlahirkan, Nibbāna; dengan diriku sendiri tunduk pada penuaan, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada penuaan, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak mengalami penuaan, Nibbāna, Aku mencapai keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak mengalami penuaan, Nibbāna; dengan diriku sendiri tunduk pada penyakit, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada penyakit, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak mengalami penyakit, Nibbāna, Aku mencapai keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak mengalami penyakit, Nibbāna; dengan diriku sendiri tunduk pada kematian, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada kematian, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tanpa kematian, Nibbāna, Aku mencapai keamanan tertinggi dari belenggu yang tanpa kematian, Nibbāna; dengan diriku sendiri tunduk pada dukacita, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada dukacita, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tanpa dukacita, Nibbāna, Aku mencapai keamanan tertinggi dari belenggu yang tanpa dukacita, Nibbāna; dengan diriku sendiri tunduk pada kekotoran, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada kekotoran, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tanpa kekotoran, Nibbāna, Aku mencapai keamanan tertinggi dari belenggu yang tanpa kekotoran, Nibbāna. Pengetahuan dan penglihatan muncul padaKu: ‘KebebasanKu tidak tergoyahkan; ini adalah kelahiranKu yang terakhir; sekarang tidak ada lagi penjelmaan makhluk yang baru.

19. “Aku merenungkan: ‘Dhamma ini yang telah Kucapai sungguh mendalam, sulit dilihat dan sulit dipahami, damai dan luhur, tidak dapat dicapai hanya dengan penalaran, halus, untuk dialami oleh para bijaksana. Tetapi generasi ini menyenangi keduniawian, bergembira dalam keduniawian, bersukacita dalam keduniawian. Adalah sulit bagi generasi demikian untuk melihat kebenaran ini, yaitu, kondisionalitas spesifik, kemunculan bergantungan. Dan adalah sulit untuk melihat kebenaran ini, yaitu, tenangnya segala bentukan, lepasnya segala perolehan, hancurnya ketagihan, kebosanan, lenyapnya, Nibbāna. [168] Jika Aku harus mengajarkan Dhamma, orang-orang lain tidak akan memahamiKu, dan itu akan melelahkan dan menyusahkan bagiKu.’ Setelah itu muncullah padaKu secara spontan syair-syair ini yang tidak pernah didengar sebelumnya:

[Kitab Komentar : “Dhamma ini” dapat diidentifikasikan sebagai Empat Kebenaran Mulia. Dua kebenaran atau kondisi-kondisi (hāna) yang dibicarakan persis di bawah – kemunculan bergantungan dan Nibbāna – adalah kebenaran asal-mula dan lenyapnya penderitaan, yang berturut-turut menyiratkan kebenaran penderitaan dan “sang Jalan”.

Ālaya. Sulit untuk menemukan padanan yang tepat untuk kata ini dalam Bahasa Inggris yang belum digunakan oleh kata Pali lainnya yang lebih sering muncul. Horner menerjemahkannya sebagai “kenikmatan indria,” yang sesuai dengan terjemahan biasa bagi kāma dan mungkin terlalu sempit. Dalam Ms dan dalam terbitan lainnya Ñm menerjemahkannya sebagai “sesuatu untuk bersandar,” yang mungkin ditarik dari konotasi kata tersebut yang tidak sesuai di sini. MA menjelaskan ālaya sebagai terdiri dari kenikmatan indria objektif dan pikiran-pikiran ketagihan yang berhubungan dengannya.

Dalam berbagai sutta, Sang Buddha menyatakan desakan untuk terlepas dari tumimbal-lahir (samsara), ialah faktor kebosanan, kejijikan, serta kejemuan terhadap siklus tiada akhir dari tumimbal-lahir yang sudah tidak terhitung jumlahnya dan akan terus berlangsung tanpa akhir bila tidak dipotong. “Kebosanan” juga menjadi lawan-kata dari “kemelekatan / ketagihan”.]

‘Cukuplah dengan mengajarkan Dhamma

Yang bahkan Kuketahui sulit untuk dicapai;

Karena tidak akan pernah dilihat

Oleh mereka yang hidup dalam nafsu dan kebencian.

Mereka yang tenggelam dalam nafsu, terselimuti dalam kegelapan

Tidak akan pernah melihat Dhamma yang mendalam ini

Yang mengalir melawan arus duniawi.

Halus, dalam, dan sulit dilihat.’

Dengan pertimbangan demikian, batinKu lebih condong pada tidak melakukan apa-apa daripada mengajarkan Dhamma.

[Kitab Komentar mengangkat pertanyaan mengapa, ketika Sang Bodhisatta yang sejak lama bercita-cita untuk mencapai Kebuddhaan dengan tujuan untuk membebaskan makhluk-makhluk lain, sekarang pikirannya condong untuk tidak melakukan apa-apa. Alasannya, menurut komentar, adalah bahwa baru sekarang, setelah mencapai pencerahan, Beliau menyadari sepenuhnya betapa kuatnya kekotoran-kekotoran dalam batin makhluk-makhluk dan betapa mendalamnya Dhamma. Juga Beliau menghendaki agar Brahmā memohonNya untuk mengajar sehingga makhluk-makhluk yang menyembah Brahmā dapat mengenali nilai berharga dari Dhamma dan berkeinginan untuk mendengarnya.]

20. “Kemudian, para bhikkhu, Brahmā Sahampati dengan pikirannya mengetahui pikiranKu dan ia mempertimbangkan: ‘Dunia akan musnah, dunia akan binasa, karena pikiran Sang Tathāgata, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, lebih condong pada tidak berbuat apa-apa daripada mengajarkan Dhamma.’ Kemudian secepat seorang kuat merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang, Brahmā Sahampati lenyap dari alam Brahmā dan muncul di hadapanKu. Ia merapikan jubah atasnya di satu bahunya, dan merangkapkan tangan sebagai penghormatan kepadaKu, dan berkata: ‘Yang Mulia, sudilah Sang Bhagavā mengajarkan Dhamma, sudilah Yang Sempurna mengajarkan Dhamma. Ada makhluk-makhluk dengan sedikit debu di mata mereka yang tersia-sia karena tidak mendengarkan Dhamma. Akan ada di antara mereka yang akan memahami Dhamma.’ Brahmā Sahampati berkata demikian, dan kemudian ia berkata lebih lanjut:

[Komentar : Brahmā Sahampati merupakan makhluk Brahmā dari alam Brahmā, alam yang lebih tinggi daripada alam dewa maupun makhluk dewata.]

‘Di Magadha telah muncul hingga sekarang

Ajaran tidak murni yang diajarkan oleh mereka yang masih ternoda.

Bukalah pintu menuju Tanpa-Kematian! Biarkan mereka mendengar

Dhamma yang ditemukan oleh Yang Tanpa Noda.

Bagaikan seseorang yang berdiri di sebuah puncak gunung

Dapat melihat ke bawah, orang-orang di segala penjuru,

Maka, O Yang Bijaksana, Yang Maha-Melihat,

Naiklah ke istana Dhamma

Sudilah Yang Tanpa Dukacita mengamati keturunan manusia ini,

Diliputi oleh dukacita, dikuasai oleh kelahiran dan usia tua. [169]

Bangkitlah, pahlawan pemenang, pemimpin pengembara,

Yang tanpa kewajiban, dan mengembaralah di dunia.

Sudilah Sang Bhagavā mengajarkan Dhamma,

Akan ada di antara mereka yang dapat memahami Dhamma.

21. “Kemudian Aku mendengarkan permohonan Brahmā, dan demi belas kasih kepada makhluk-makhluk Aku memeriksa dunia dengan mata Buddha. Dengan memeriksa dunia dengan mata Buddha, Aku melihat makhluk-makhluk dengan sedikit debu di mata mereka dan dengan banyak debu di mata mereka, dengan indria tajam dan dengan indria tumpul, dengan kualitas-kualitas baik dan dengan kualitas-kualitas buruk, mudah diajar dan sulit diajar, dan beberapa yang berdiam melihat dengan takut pada kejahatan dan pada dunia lain. Bagaikan dalam sebuah kolam seroja biru atau merah atau putih, beberapa seroja lahir dan tumbuh dalam air berkembang dalam air tanpa keluar dari air, dan beberapa seroja lain lahir dan berkembang dalam air dan berdiam di permukaan air, dan beberapa seroja lainnya lahir dan berkembang dalam air keluar dari air dan berdiri dengan bersih, tidak dibasahi oleh air; demikian pula, dengan memeriksa dunia ini dengan mata Buddha, Aku melihat makhluk-makhluk dengan sedikit debu di mata mereka dan dengan banyak debu di mata mereka, dengan indria tajam dan dengan indria tumpul, dengan kualitas-kualitas baik dan dengan kualitas-kualitas buruk, mudah diajar dan sulit diajar, dan beberapa yang berdiam melihat dengan takut pada kejahatan dan pada dunia lain. Kemudian Aku menjawab Brahmā Sahampati dalam syair ini: ‘Terbukalah bagi mereka pintu menuju Tanpa-Kematian, Semoga mereka yang memiliki telinga menunjukkan keyakinan mereka. Karena berpikir akan menyusahkan, O Brahmā, Aku tidak membabarkan Dhamma yang halus dan luhur.’ Kemudian Brahmā Sahampati berpikir: ‘Sang Bhagavā telah memenuhi permohonanku untuk mengajarkan Dhamma.’ Dan setelah memberi hormat kepadaKu, dengan Aku tetap di sisi kanannya, ia seketika lenyap dari sana.

[Kitab Komentar : Seroja adalah sejenis teratai, yang kuncup bunganya dapat muncul ke atas permukaan kolam dan berkembang di atas permukaan air kolam.]

22. “Aku merenungkan: ‘Kepada siapakah pertama kali Aku mengajarkan Dhamma? Siapakah yang akan memahami Dhamma ini dengan cepat?’ Kemudian Aku berpikir: ‘Āāra Kālāma bijaksana, cerdas, dan dapat melihat; ia telah lama memiliki sedikit debu di matanya. Bagaimana jika Aku [170] mengajarkan Dhamma pertama kali kepada Āāra Kālāma. Ia akan memahaminya dengan cepat.’ Kemudian para dewa mendatangiKu dan berkata: ‘Yang Mulia, Āāra Kālāma meninggal dunia tujuh hari yang lalu.’ Dan pengetahuan dan penglihatan muncul padaku: ‘Āāra Kālāma meninggal dunia tujuh hari yang lalu.’ Aku berpikir: ‘Kerugian Āāra Kālāma sungguh besar. Jika ia mendengarkan Dhamma ini, ia akan memahaminya dengan cepat.’

23. “Aku merenungkan: ‘Kepada siapakah pertama kali Aku mengajarkan Dhamma? Siapakah yang akan memahami Dhamma ini dengan cepat?’ Kemudian Aku berpikir: ‘Uddaka Rāmaputta bijaksana, cerdas, dan dapat melihat; ia telah lama memiliki sedikit debu di matanya. Bagaimana jika Aku mengajarkan Dhamma pertama kali kepada Uddaka Rāmaputta. Ia akan memahaminya dengan cepat.’ Kemudian para dewa mendatangiKu dan berkata: ‘Yang Mulia, Uddaka Rāmaputta meninggal dunia kemarin malam.’ Dan pengetahuan dan penglihatan muncul padaku: ‘Uddaka Rāmaputta meninggal dunia kemarin malam.’ Aku berpikir: ‘Kerugian Uddaka Rāmaputta sungguh besar. Jika ia mendengarkan Dhamma ini, ia akan memahaminya dengan cepat.’

24. “Aku merenungkan: ‘Kepada siapakah pertama kali Aku mengajarkan Dhamma? Siapakah yang akan memahami Dhamma ini dengan cepat?’ Kemudian Aku berpikir: ‘Para bhikkhu dari kelompok lima yang melayaniKu sewaktu aku menjalani usahaku telah sangat membantu. Bagaimana jika Aku mengajarkan Dhamma pertama kali kepada mereka.’ Kemudian Aku berpikir: ‘Di manakah para bhikkhu dari kelompok lima itu menetap?’ Dan dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, Aku melihat bahwa mereka sedang menetap di Benares di Taman Rusa di Isipatana.

[Kitab Komentar : Kelima bhikkhu ini melayani Sang Bodhisatta selama masa penyiksaan-diri (masa-masa awal kepetapaan Beliau, yang hampir merenggut nyawa Beliau), percaya bahwa Beliau akan mencapai pencerahan dan mengajarkan Dhamma kepada mereka. Akan tetapi, ketika Beliau meninggalkan praktik kerasNya dan kembali memakan makanan padat, mereka kehilangan keyakinan padaNya, menuduhNya kembali kepada kemewahan, dan meninggalkanNya. Baca Majjhima Nikāya 36.33.]

(PENGAJARAN DHAMMA)

25. “Kemudian, para bhikkhu, ketika Aku telah menetap di Uruvelā selama yang Aku inginkan, Aku melakukan perjalanan secara bertahap menuju Benares. Antara Gayā dan tempat pencerahan, Ājīvaka Upaka melihatKu dalam perjalanan itu dan berkata: ‘Teman, indriaMu cerah, warna kulitMu bersih dan cemerlang. Di bawah siapakah Engkau meninggalkan keduniawian, teman? Siapakah guruMu? Dhamma siapakah yang Engkau [171] anut? Aku menjawab Ājīvaka Upaka dalam syair:

‘Aku adalah seorang yang telah melampaui segalanya, pengenal segalanya,

Tidak ternoda di antara segalanya, meninggalkan segalanya,

Terbebaskan dalam lenyapnya keinginan. Setelah mengetahui semua ini

Bagi diriKu, siapakah yang harus Kutunjuk sebagai guru?

Aku tidak memiliki guru, dan seseorang yang setara denganKu Tidak ada di segala alam

Bersama dengan semua dewanya, karena Aku tidak memiliki

Siapapun yang dapat menandingiKu.

Aku adalah Yang Sempurna di dunia ini,

Aku adalah Guru Tertinggi.

Aku sendiri adalah seorang Yang Tercerahkan Sempurna

Yang api-apinya telah padam.

Aku pergi sekarang menuju kota Kāsi

Untuk memutar Roda Dhamma.

Dalam dunia yang telah buta

Aku pergi untuk menabuh tambur Tanpa-Kematian.’

‘Dengan pengakuanMu, teman, engkau pasti adalah Pemenang Segalanya.’

‘Para pemenang adalah mereka yang sepertiKu

Yang telah memenangkan penghancuran noda-noda.

Aku telah menaklukkan segala kondisi jahat,

Oleh karena itu, Upaka, Aku adalah pemenang.’

“Ketika ini dikatakan, Ājīvaka Upaka berkata: ‘Semoga demikian, teman.’ Dengan menggelengkan kepala, ia berjalan melalui jalan kecil dan pergi.

[Kitab Komentar : Upaka selanjutnya jatuh cinta dengan puteri seorang pemburu dan menikahinya. Ketika pernikahannya ternyata tidak membahagiakan, ia kembali pada Sang Buddha, memasuki Sangha, dan merealisasi pencapaian tingkat kesucian “yang-tidak-kembali”, ia terlahir kembali di alam surga Aviha, di mana ia mencapai Kearahantaan.]

26. “Kemudian, para bhikkhu, dengan berjalan secara bertahap, Aku akhirnya sampai di Benares, Taman Rusa di Isipatana, dan Aku mendekati para bhikkhu dari kelompok lima. Dari jauh Para bhikkhu melihatKu mendekat, dan mereka sepakat: ‘Teman-teman, telah datang Petapa Gotama yang hidup dalam kemewahan, yang telah meninggalkan usahaNya, dan kembali kepada kemewahan. Kita tidak perlu memberi hormat kepadaNya atau bangkit menyambutNya atau menerima mangkuk dan jubah luarNya. Tetapi sebuah tempat duduk boleh disediakan untukNya. Jika Ia menginginkan, Ia boleh duduk.’ Akan tetapi, ketika Aku mendekat, para bhikkhu itu tidak dapat mempertahankan kesepakatan mereka. Salah seorang datang menyambutKu dan mengambil mangkuk dan jubah luarKu, yang lain menyiapkan tempat duduk, dan yang lain lagi menyediakan air untuk membasuh kakiKu; akan tetapi mereka menyapaKu dengan nama dan sebagai ‘teman.’

[Kitab Komentar : “Āvuso” adalah kata sebutan bersahabat yang digunakan untuk menyapa mereka yang setara.]

27. “Kemudian Aku memberitahu mereka: ‘Para bhikkhu, jangan menyapa Sang Tathāgata dengan nama dan sebagai “teman.” Sang Tathāgata adalah seorang yang sempurna, [172] seorang Yang Tercerahkan Sempurna. Dengarkanlah, para bhikkhu, Tanpa-Kematian telah dicapai. Aku akan memberikan instruksi kepada kalian, Aku akan mengajarkan Dhamma kepada kalian. Dengan mempraktikkan sesuai yang diinstruksikan, dengan menembusnya untuk kalian sendiri di sini dan saat ini melalui pengetahuan langsung, kalian akan segera memasuki dan berdiam dalam tujuan tertinggi kehidupan suci yang karenanya para anggota keluarga meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.’

“Ketika hal ini dikatakan, para bhikkhu dari kelompok lima itu menjawabKu sebagai berikut: ‘Teman Gotama, dengan perilaku, praktik, dan pelaksanaan pertapaan keras yang Engkau jalani, Engkau tidak mencapai kondisi apapun yang melampaui manusia, tidak mencapai keluhuran apapun dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia. Karena sekarang Engkau hidup dalam kemewahan, telah meninggalkan usahaMu dan kembali kepada kemewahan, bagaimana mungkin Engkau telah mencapai kondisi apapun yang melampaui manusia, telah mencapai keluhuran apapun dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia?’ Ketika hal ini dikatakan, Aku memberitahu mereka: ‘Sang Tathāgata tidak hidup dalam kemewahan, juga tidak meninggalkan usahaNya dan tidak kembali kepada kemewahan. Sang Tathāgata adalah Yang Sempurna, seorang Yang Tercerahkan Sempurna. Dengarkanlah, para bhikkhu, Tanpa-Kematian telah dicapai ... dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.’

[Kitab Komentar : Kondisi-kondisi melampaui manusia (uttari manussadhammā) adalah kondisi-kondisi, moralitas, atau pencapaian yang lebih tinggi daripada manusia biasa yang terdiri dari sepuluh perbuatan baik (baca Majjhima Nikāya 9.6); termasuk jhāna-jhāna, jenis-jenis pengetahuan langsung, dan jalan dan buah.

“Keluhuran dalam hal pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia” (alamariyañāadassanavisesa), ungkapan yang sering muncul dalam sutta-sutta, menyiratkan semua tingkatan pengetahuan meditatif yang lebih tinggi yang menjadi karakteristik individu mulia. Di sini, ini secara khusus berarti jalan lokuttara, yang disangkal oleh Sunakkhatta pada Sang Buddha.]

“Untuk ke dua kalinya para bhikkhu dari kelompok lima itu berkata kepadaKu: ‘Teman Gotama ... bagaimana mungkin Engkau telah mencapai kondisi apapun yang melampaui manusia, telah mencapai keluhuran apapun dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia?’ Untuk ke dua kalinya Aku memberitahu mereka: ‘Sang Tathāgata tidak hidup dalam kemewahan ... dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.’ Untuk ke tiga kalinya para bhikkhu dari kelompok lima itu berkata kepadaKu: ‘Teman Gotama ... bagaimana mungkin Engkau telah mencapai kondisi apapun yang melampaui manusia, telah mencapai keluhuran apapun dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia?’

28. “Ketika hal ini dikatakan Aku bertanya kepada mereka: ‘Para bhikkhu, pernahkah kalian mendengar Aku berkata seperti ini sebelumnya?’ – ‘Tidak, Yang Mulia.’ – ‘Para bhikkhu, Sang Tathāgata adalah seorang yang sempurna, seorang Yang Tercerahkan Sempurna. Dengarkanlah, para bhikkhu, Tanpa-Kematian telah dicapai. Aku akan memberikan instruksi kepada kalian, Aku akan mengajarkan Dhamma kepada kalian. Dengan mempraktikkan sesuai yang diinstruksikan, dengan menembusnya untuk kalian sendiri di sini dan saat ini melalui pengetahuan langsung, kalian akan segera memasuki dan berdiam dalam tujuan tertinggi kehidupan suci yang karenanya para anggota keluarga meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.’ [173]

[Kitab Komentar : Perubahan panggilan dari “teman” menjadi “Yang Mulia” (bhante) menunjukkan bahwa mereka sekarang telah menerima pengakuan Sang Buddha dan siap untuk menganggapnya sebagai yang lebih mulia daripada mereka.]

29. “Aku berhasil meyakinkan para bhikkhu dari kelompok lima. Kemudian Aku kadang-kadang memberikan instruksi kepada dua bhikkhu sementara tiga lainnya mengumpulkan dana makanan, dan kami berenam bertahan hidup dari apa yang dibawa kembali oleh ketiga bhikkhu dari perjalanan mereka menerima dana makanan. Kadang-kadang Aku memberikan instruksi kepada tiga bhikkhu sementara dua lainnya mengumpulkan dana makanan, dan kami berenam bertahan hidup dari apa yang dibawa kembali oleh kedua bhikkhu dari perjalanan mereka menerima dana makanan.

[Kitab Komentar : Pada titik ini Sang Buddha membabarkan khotbah pertamaNya kepada kelima murid pertama-Nya, Dhammacakkappavattana Sutta, Memutar Roda Dhamma, tentang Empat Kebenaran Mulia. Beberapa hari berikutnya, setelah mereka semuanya telah menjadi “pemasuk-arus”, Beliau mengajarkan Anattalakkhana Sutta, Karakteristik Bukan-diri, yang setelah mendengarnya mereka semua mencapai Kearahantaan. Penjelasan lengkap, terdapat dalam Mahāvagga (Vin i.7-14), yang juga termasuk dalam Ñaamoli, The Life of the Buddha, hal.42-47.

Yang juga perlu dipahami dari sejarah pembabaran awal Dhamma oleh Sang Buddha, faktor “keyakinan” memiliki peran sentral dalam pencapaian tingkatan kemurnian batin dalam suatu disiplin latihan para murid Beliau. Dari pemaparan demikian pula, “misi misionaris” Sang Buddha tidaklah sesederhana yang dibayangkan kebanyakan umat manusia masa kini.]

30. “Kemudian para bhikkhu dari kelompok lima, setelah diajari dan diberikan instruksi olehKu, dengan diri mereka sendiri tunduk pada kelahiran, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada kelahiran, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak terlahirkan, yaitu Nibbāna, mencapai keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak terlahirkan, yaitu Nibbāna; dengan diri mereka sendiri tunduk pada penuaan, penyakit, kematian, dukacita, dan kekotoran, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada penuaan, penyakit, kematian, dukacita, dan kekotoran, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak mengalami penuaan, penyakit, kematian, dukacita, dan kekotoran, yaitu Nibbāna, mereka mencapai keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak mengalami penuaan, penyakit, kematian, dukacita, dan kekotoran, yaitu Nibbāna. Pengetahuan dan penglihatan muncul pada mereka: ‘Kebebasan kami tidak tergoyahkan; ini adalah kelahiran kami yang terakhir; sekarang tidak ada lagi penjelmaan makhluk yang baru.’

(KENIKMATAN INDRIA)

31. “Para bhikkhu, terdapat lima utas kenikmatan indria ini. Apakah lima ini? Bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan, dan disukai, berhubungan dengan keinginan indria, dan merangsang nafsu. Suara-suara yang dikenali oleh telinga … Bau-bauan yang dikenali oleh hidung … Rasa kecapan yang dikenali oleh lidah … Objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan, dan disukai, berhubungan dengan keinginan indria, dan merangsang nafsu. Ini adalah lima utas kenikmatan indria.

[Kitab Komentar : Bagian ini kembali pada tema “pencarian mulia dan tidak mulia” yang memulai khotbah Sang Buddha ini. Ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa menjalani kehidupan monastik bukan jaminan bahwa seseorang telah memulai pencarian mulia, karena pencarian tidak mulia juga dapat menyerbu kehidupan monastik.]

32. “Sehubungan dengan para petapa dan brahmana itu yang terikat dengan kelima utas kenikmatan indria ini, tergila-gila pada hal-hal ini, dan menyerah total pada hal-hal ini, dan yang menggunakannya tanpa melihat bahaya di dalam hal-hal ini atau tidak memahami jalan membebaskan diri dari hal-hal ini, dapat dipahami bahwa: ‘Mereka telah menemui bencana, menemui kemalangan, Yang Jahat dapat melakukan apapun yang ia sukai terhadap mereka.’ Misalkan seekor rusa hutan yang terbaring terikat di atas tumpukan jerat; dapat dipahami bahwa: ‘Ia telah menemui bencana, ia telah menemui kemalangan, pemburu dapat melakukan apapun yang ia sukai terhadap rusa itu, dan ketika pemburu itu datang rusa itu tidak mampu pergi ke manapun yang ia inginkan.’ Demikian pula, sehubungan dengan para petapa dan brahmana itu yang terikat dengan kelima utas kenikmatan indria ini … dapat dipahami bahwa: ‘Mereka telah menemui bencana, menemui kemalangan, Yang Jahat dapat melakukan apapun yang ia sukai terhadap mereka.’

33. “Sehubungan dengan para petapa dan brahmana itu yang tidak terikat dengan kelima utas kenikmatan indria ini, tidak tergila-gila pada hal-hal ini, dan tidak menyerah total pada hal-hal ini, dan yang menggunakannya dengan melihat bahaya di dalam hal-hal ini dan memahami jalan membebaskan diri dari hal-hal ini, [174] dapat dipahami bahwa: ‘Mereka tidak menemui bencana, tidak menemui kemalangan, Yang Jahat tidak dapat melakukan apapun yang ia sukai terhadap mereka.’ Misalkan seekor rusa hutan yang tidak terbaring terikat di atas tumpukan jerat; dapat dipahami bahwa: ‘Ia tidak menemui bencana, ia tidak menemui kemalangan, pemburu tidak dapat melakukan apapun yang ia sukai terhadap rusa itu, dan ketika pemburu itu datang rusa itu mampu pergi ke manapun yang ia inginkan.’ Demikian pula, sehubungan dengan para petapa dan brahmana itu yang tidak terikat dengan kelima utas kenikmatan indria ini … dapat dipahami bahwa: ‘Mereka tidak menemui bencana, tidak menemui kemalangan, Yang Jahat tidak dapat melakukan apapun yang ia sukai terhadap mereka.’

[Kitab Komentar : ‘Mereka tidak menemui bencana, tidak menemui kemalangan, Yang Jahat tidak dapat melakukan apapun yang ia sukai terhadap mereka’ merujuk pada penggunaan empat benda kebutuhan dengan perenungan terhadap penggunaan selayaknya dalam kehidupan meninggalkan keduniawian. Baca Majjhima Nikāya 2.13-16.]

34. “Misalkan seekor rusa hutan sedang mengembara di hutan belantara: ia berjalan tanpa takut, berdiri tanpa takut, duduk tanpa takut, berbaring tanpa takut. Mengapakah? Karena ia berada di luar jangkauan pemburu. Demikian pula, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Bhikkhu ini dikatakan telah membutakan Māra, menjadi tidak terlihat oleh si Jahat dengan mencabut mata Māra dari kesempatannya.

[Kitab Komentar : Delapan pencapaian meditatif di sini harus dipahami sebagai landasan bagi pandangan terang. Ketika seorang bhikkhu telah memasuki jhāna demikian, Māra tidak dapat melihat bagaimana pikirannya bekerja. Akan tetapi, kekebalan dari pengaruh Māra ini hanya bersifat sementara.]

35. “Kemudian, dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi. Bhikkhu ini dikatakan telah membutakan Māra …

36. “Kemudian, dengan meluruhnya sukacita, seorang bhikkhu berdiam dalam keseimbangan, dan penuh perhatian dan waspada penuh, masih merasakan kenikmatan pada jasmani, ia memasuki dan berdiam dalam jhāna ke tiga, yang sehubungan dengannya para mulia mengatakan: ‘Ia memiliki kediaman yang menyenangkan yang memiliki keseimbangan dan penuh perhatian.’ Bhikkhu ini dikatakan telah membutakan Māra …

37. “Kemudian dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya atas kegembiraan dan kesedihan, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang memiliki bukan-kesakitan juga bukan-kenikmatan dan kemurnian perhatian karena keseimbangan. Bhikkhu ini dikatakan telah membutakan Māra …

38. “Kemudian, dengan sepenuhnya melampaui persepsi bentuk, dengan lenyapnya persepsi kontak indria, dengan tanpa-perhatian pada persepsi keberagaman, menyadari bahwa ‘ruang adalah tanpa batas,’ seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan ruang tanpa batas. Bhikkhu ini dikatakan telah membutakan Māra …

39. “Kemudian, dengan sepenuhnya melampaui landasan ruang tanpa batas, menyadari bahwa ‘kesadaran adalah tanpa batas,’ seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan kesadaran tanpa batas. Bhikkhu ini dikatakan telah membutakan Māra …

40. “Kemudian, dengan sepenuhnya melampaui landasan kesadaran tanpa batas, menyadari bahwa ‘tidak ada apa-apa,’ seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan kekosongan. Bhikkhu ini dikatakan telah membutakan Māra …

41. “Kemudian, dengan sepenuhnya melampaui landasan kekosongan, [175] seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Bhikkhu ini dikatakan telah membutakan Māra, menjadi tidak terlihat oleh si Jahat dengan mencabut mata Māra dari kesempatannya.

[Komentar : Kita dapat menyebut, meditasi sebagai pertarungan dan pertempuran “epik” melawan cengkeraman Māra dan melampaui jangkauan Māra.]

42. “Kemudian, dengan sepenuhnya melampaui landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam lenyapnya persepsi dan perasaan. Dan noda-nodanya dihancurkan melalui penglihatannya dengan kebijaksanaan. Bhikkhu ini dikatakan telah membutakan Māra, menjadi tidak terlihat oleh si Jahat dengan mencabut mata Māra dari kesempatannya, dan telah menyeberang melampaui kemelekatan pada dunia.318 Ia berjalan tanpa takut, berdiri tanpa takut, duduk tanpa takut, berbaring tanpa takut. Mengapakah? Karena ia berada di luar jangkauan si Jahat.

[Kitab Komentar : “telah menyeberang melampaui kemelekatan pada dunia”, dengan menghancurkan noda-noda, telah menjadi bukan hanya tidak terlihat oleh Māra secara sementara namun secara permanen tidak terjangkau oleh Māra. Mengenai lenyapnya persepsi dan perasaan, baca Pendahuluan, p.41.]

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.

Kini, kontras dengan pengorbanan Sang Buddha sehingga Dhamma dibabarkan, silahkan Anda nilai sendiri, apakah Allah yang butuh umat penyembah ataukah umat agama samawi yang butuh Allah—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Tengoklah juga, bagaimana Allah menjual-murah surga demi manusia yang “kesetanan” (dirasuki setan) semacam berikut—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]