Buat Dosa ke Orang Lain, Minta Pengampunan Dosanya ke Allah, Ibarat Menyuruh Allah Merampas Hak Keadilan Kalangan Korban
Para Muslim Lebih Senang “Main Hakim Sendiri” ketika menjadi Korban
Kejahatan, karena Menyadari bahwa Allah Lebih PRO terhadap PENDOSA (PENJAHAT),
sehingga Percuma Mengadu / Melapor kepada Tuhan
Question: Pernah suatu hari, terdengar dari speaker eksternal
masjid, ada kiai atau ustad bercemarah, bahwa dirinya tidak setuju terhadap
pendapat seseorang yang menyebutkan bahwa orang-orang baik sekalipun nonmuslim
akan masuk surga. Bagi ia, surga itu monopoli umat muslim. Lalu sang penceramah
menutup argumennya dengan mengatakan, “Kalau orang baik tapi nonmuslim bisa masuk
surga, lalu buat apa kita solat lima kali (dalam) sehari?”
Mengapa saya merasa
ajaran islam membuat “standar moral” umat pemeluknya menjadia rusak? Isi solat
mereka, ialah doa-doa permohonan pengampunan dosa, lalu apa hubungannya dengan “orang
baik”? Bila tidak bisa buat baik, setidaknya jangan buat jahat; dimana jika
masih bisa berbuat buruk maka setidaknya siap untuk bertanggung-jawab dengan berani
menerima konsekuensinya karena berani berbuat. Tapi muslim dan islam berbeda,
mereka begitu pemalas untuk berbuat kebaikan, dan disaat bersamaan begitu
pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri.
Brief
Answer: Itulah bukti, bahwa dalam
dogma agama islam, “berbuat baik bukanlah ibadah”, sehingga “orang-orang yang
sedang berbuat kebaikan bukanlah orang yang sedang beribadah”. Begitupula masih
dalam perspektif dogma agama islam, “tidak melakukan kejahatan bukanlah ibadah”,
sehingga “orang-orang yang sedang menghindari perbuatan buruk dan tercela bukanlah
orang yang sedang beribadah”.
Terbukti,
dari banyak perilaku keseharian umat agama islam, mereka tidak memandang bahwa “berbuat
kebaikan” adalah hal yang penting, begitupula “tidak berbuat kejahatan” yang
juga dipandang remeh “sebelah mata”. Satu-satunya yang mereka, para umat
muslim, sebut sebagai “ibadah”, ialah praktek ritual sembah-sujud dan
memuja-muji sosok imajiner yang mereka sebut sebagai Allah, serta:
“Umar bin al-Khattab, rekan Muhammad terusik dengan apa yang dilihatnya.
Umar mendekati Batu
Hitam dan menciumnya serta
mengatakan, Tidak diragukan lagi, aku tahu kau
hanyalah sebuah batu yang tidak berfaedah maupun tidak dapat mencelakakan siapa pun. Jika
saya tidak melihat Utusan Allah mencium kau, aku tidak akan menciummu.” [Sahih al-Bukhari, Volume 2, Buku 26, Nomor 680]
PEMBAHASAN:
Kisah yang berangkat dari pengalaman nyata penulis berikut, menjadi
afirmasi tidak terbantahkan bahwa islam adalah “Agama DOSA yang bersumber dari
Kitab DOSA”, alih-alih mengklaim dirinya sebagai “Agama SUCI yang bersumber dari
Kitab AUCI”. Suatu sore hari, penulis mengunjungi tempat yang lokasinya masih asing.
Penulis mendekati sebuah mobil yang terparkir di samping jalan depan sebuah
masjid yang penumpangnya baru saja turun dari mobil, lalu meminta informasi perihal
jalan. Namun, dua orang pria muda berseragam Aparatur Sipil Negara / Pegawai
Negeri Sipil, seketika menolak untuk memberi pertolongan yang sejatinya sekadar
hanya menyita waktu sebentar untuk menjawab dan memberi petunjuk arah, beralasan
sudah waktu bagi mereka untuk solat, lalu mereka bergegas masuk ke dalam masjid
untuk “ibadah” (solat).
Mereka, para muslim tersebut, menyia-nyiakan kesempatan untuk menanam
kebaikan. Bagi mereka, berbuat kebaikan tidak sepenting dan seberharga solat. Kemendesakan
yang lebih mereka rasakan, ialah ritual solat, bukan menggunakan kesempatan
yang ada untuk menanam kebaikan. Singkatnya, bagi mereka, “berbuat kebaikan bukanlah ibadah”. Berbuat kebaikan, dapat dinomor kesekian-kan. Yang
dinomor-satukan dan diutamakan sebagai prioritas “very important”, satu-satunya
ialah “ibadah ritual solat”.
Di lain waktu, pada suatu siang tengah hari pada hari Jum’at, penulis menumpang
sebuah kendaraan umum, namun sang supir mengemudikan kendaraannya dengan ugal-ugalan,
memperlakukan penumpang bak sapi, dengan alasan mengejar waktu untuk solat Jum’at.
Bagi mereka, “tidak
berbuat kejahatan bukanlah ibadah”. Satu-satunya yang disebut sebagai ibadah, bagi kaum muslim, ialah “ibadah
ritual solat”.
Di kesempatan lainnya, ada seorang muslimah (berjilbab) yang sudah senior
dan sepuh hendak menumpang sebuah kendaraan umum, namun seorang muslim (berjilbab)
yang masih berusia muda yang juga calon penumpang, tidak mau mengalah untuk
memberi tempat duduk di depan bagi sang calon penumpang lain yang telah manula
yang notabene sesama muslimah, sekalipun penumpang lain telah menegur sang
muslimah muda. Itulah bukti, kesempatan berbuat baik disia-siakan, karena perbuatan
baik dipandang “TIDAK PENTING”, “TIDAK BERHARGA”, dan “TIDAK BERNILAI”.
Umat muslim, sungguh menyerupai orang BUTA, yang tidak mampu membedakan
mana yang baik dan buruk, terpuji dan tercela, yang berharga dan yang tidak
berharga. Tengok saja perihal babi yang disebut “haram”. Ironisnya, ideologi
KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” dimana dosa-dosa pun dikorupsi, diklaim serta
dipromosikan sebagai “halal lifestyle”. Terhadap dosa dan maksiat,
demikian kompromisik. Namun terhadap kaum yang berbeda keyakinan, mereka bisa begitu
intoleran. Ini dan itu, disebut haram. Menghalal-haramkan segala sesuatunya, mengkafir-kafirkan
kaum lain, memberi delusi sebagai paling superior yang berhak menghakimi kaum
lainnya, meski sejatinya mereka adalah kasta paling rendah dan paling hina. Bila
kita petakan kasta-kasta dari topologi umat manusia, maka akan jumpai kasta-kasta
yang terdiri dari:
1.) Kasta
SUCIWAN. Mereka berkebalikan dari
kasta PENDOSAWAN yang justru mempromosikan ideologi KORUP seperti “PENGAMPUNAN
/ PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA” (abolition of sins, bagi PENDOSA
tentunya), kasta SUCIWAN justru mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa
maupun maksiat. Kaum SUCIWAN tidak membutuhkan dogma iming-iming “too good
to be true” semacam “PENGHAPUSAN DOSA” atau sejeninya, justru merasa jijik
terhadapnya. Mereka tidak membiarkan diri mereka ternoda dan menyadari bahaya
dibalik pelanggaran moralitas sekecil apapun. Yang dipeluk oleh kasta SUCIWAN,
ialah “Agama SUCI”, yang tidak sekadar nama. Mereka adalah seorang “PELAWAN
ARUS”, mengutip sabda Sang Buddha:
“Para bhikkhu, ada empat jenis orang ini terdapat di dunia. Apakah empat
ini? Orang yang mengikuti arus; orang yang melawan arus; orang yang kokoh dalam
pikiran; dan orang yang telah menyeberang dan sampai di seberang, sang brahmana
yang berdiri di atas daratan yang tinggi.
(1) Dan apakah orang yang
mengikuti arus? Di sini, seseorang menikmati kenikmatan indria dan melakukan
perbuatan-perbuatan buruk. Ini disebut orang yang mengikuti arus.
(2) Dan apakah orang yang melawan
arus? Di sini, seseorang tidak menikmati kenikmatan indria atau melakukan
perbuatan-perbuatan buruk. Bahkan dengan kesakitan dan kesedihan, menangis
dengan wajah basah oleh air mata, ia menjalani kehidupan spiritual yang lengkap
dan murni. Ini disebut orang yang melawan
arus.”
2.) Kasta KSATRIAWAN. Bila seseorang masih dapat berbuat keliru baik
disengaja maupun akibat kelalaiannya, sehingga mengakibatkan pihak lain menderita
sakit, luka, maupun kerugian, maka seorang dengan kasta KSATRIAWAN akan siap-berani
untuk tampil bertanggung-jawab, membuat para korbannya tidak perlu menuntut
terlebih mengemis-ngemis pertanggung-jawaban. Berkebalikan dari Kasta
KSATRIAWAN, ialah kasta PENDOSAWAN yang tidak memiliki jiwa keberanian untuk
menghadapi konsekuensi dari perbuatan buruk mereka sendiri, justru lebih sibuk
melakukan ritual “PENGAMPUNAN DOSA”, sehingga membuat kaum dari kasta PENDOSAWAN
patut diberi gelar “PENGECUT dan PECUNDANG KEHIDUPAN”. Mereka yang memilih
untuk berani merepotkan diri menanam benih-benih perbuatan baik (orang baik), alih-alih
memohon dan meminta sesuatu dijatuhkan dari atas langit, juga tergolong sebagai
kasta KSATRIAWAN. Yang dianut oleh kasta KSATRIAWAN, ialah “Agama KEBAIKAN”; dan
3.) Kasta
PENDOSAWAN. Yang menjadi “business
as usual” mereka, para PENDOSAWAN, dalam keseharian ialah berlomba-lomba memproduksi
segunung dosa, mengoleksi segudang dosa, dan berkubang dalam lautan dosa. Ironisnya,
“ibadah” mereka definisikan sebagai “MENCANDU PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN /
PENEBUSAN DOSA” yang lebih adiktif daripada obat-obatan terlarang, dimana seolah-olah
belum cukup berbuat kejahatan, dosa-dosa pun mereka korupsi sehingga menjelma “KORUPTOR
DOSA” alih-alih “kembali ke fitri”. Antara “BERBUAT DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN”
dan “PENGHAPUSAN DOSA”, sifatnya saling bundling satu sama lainnya ibarat pasta
gigi dan sikat gigi yang saling komplomenter. Adapun agama yang dipeluk oleh
kasta PENDOSAWAN, tentunya ialah “Agama DOSA”.
Tidak semua orang sanggup, menjalani ibadah Buddhisme, karena hanya mampu
dijalankan oleh mereka yang ber-kasta SUCIWAN dan KSATRIAWAN. Pecundang kehidupan
semacam para kasta PENDOSAWAN, ibarat air yang secara alamiahnya bergerak ke
atas BAWAH, bukan ke arah ATAS. Adapun “ibadah” dalam Buddhisme, diwakili oleh
sabda Sang Buddha berikut:
Ovada Patimokkha
Sabbapāpassa akaraṇaṃ
Kusalassa upasampadā
Sacittapariyodapanaṃ
Etaṃ buddhāna sāsanaṃ.
Khantī paramaṃ tapo titikkhā
Nibbāṇaṃ paramaṃ vadanti buddhā
Na hi pabbajito parūpaghātī
Samaṇo hoti paraṃ viheṭhayanto.
Anūpavādo anūpaghāto, pātimokkhe ca saṃvaro
Mattaññutā ca bhattasmiṃ,
pantañca sayanāsanaṃ
Adhicitte ca āyogo, etaṃ buddhāna
sāsanaṃ.
Tidak
melakukan segala bentuk kejahatan,
senantiasa
mengembangkan kebajikan
dan
membersihkan batin;
inilah Ajaran Para Buddha.
Kesabaran adalah praktek bertapa yang paling tinggi.
“Nibbana adalah tertinggi”, begitulah sabda Para
Buddha.
Dia
yang masih menyakiti orang lain
sesungguhnya
bukanlah seorang pertapa (samana).
Tidak menghina, tidak menyakiti, mengendalikan diri
sesuai peraturan,
memiliki sikap madya dalam hal makan, berdiam di
tempat yang sunyi
serta giat mengembangkan batin nan luhur;
inilah Ajaran Para Buddha.
[Sumber: Dhammapada 183-184-185, Syair Gatha.]
Sang Buddha pernah bersabda : Apa yang di mata orang dungu dipandang
kenikmatan, merupakan dukkha di mata seorang Buddha. Di mata kasta PENDOSAWAN, bersikap
korup—termasuk korupsi dosa—adalah nikmat, bahkan menjadikannya sebagai “candu”
yang memabukkan. Kita dapat menyebut para “PENDOSA PECANDU PENGAMPUNAN DOSA” sebagai
“orang BUTA” sebagaimana khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang
Buddha, JILID I”, Judul Asli
: “The Numerical Discourses of the Buddha”,
diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012,
terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:
29 (9) Buta
“Para bhikkhu, ada tiga jenis orang ini terdapat di dunia ini. Apakah tiga
ini? Orang buta, orang bermata satu, dan orang bermata dua.
(1) “Dan apakah, para bhikkhu, orang buta? Di sini, seseorang tidak
memiliki jenis mata [129] yang dengannya ia dapat memperoleh kekayaan yang
belum diperoleh atau meningkatkan kekayaan yang telah diperoleh, dan ia juga tidak
memiliki jenis mata yang dengannya ia dapat mengetahui kualitas-kualitas yang bermanfaat
dan tidak bermanfaat, kualitas-kualitas tercela dan tanpa cela,
kualitas-kualitas hina dan mulia, kualitas-kualitas gelap dan terang dengan
padanannya. Ini disebut orang
buta.
(2) “Dan apakah orang bermata satu? Di sini, seseorang memiliki jenis
mata yang dengannya ia dapat memperoleh kekayaan yang belum diperoleh atau
meningkatkan kekayaan yang telah diperoleh, tetapi ia tidak memiliki jenis
mata yang dengannya ia dapat mengetahui kualitas-kualitas yang bermanfaat dan
tidak bermanfaat, kualitas-kualitas tercela dan tanpa cela, kualitas-kualitas
hina dan mulia, kualitas-kualitas gelap dan terang dengan padanannya. Ini
disebut orang
bermata satu.
(3) “Dan apakah orang bermata dua? Di sini, seseorang memiliki jenis mata
yang dengannya ia dapat memperoleh kekayaan yang belum diperoleh atau
meningkatkan kekayaan yang telah diperoleh, dan ia juga memiliki jenis mata
yang dengannya ia dapat mengetahui kualitas-kualitas yang bermanfaat dan
tidak bermanfaat, kualitas-kualitas tercela dan tanpa cela, kualitas-kualitas hina
dan mulia, kualitas-kualitas gelap dan terang dengan padanannya. Ini
disebut orang
bermata dua.
“Ini, para bhikkhu, adalah ketiga jenis orang itu yang terdapat di dunia.”
Ia tidak memiliki kekayaan,
juga tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa;
si orang buta tanpa mata
melemparkan lemparan tidak beruntung pada kedua sisi.
orang yang digambarkan sebagai bermata satu.
adalah seorang munafik yang mencari kekayaan,
[kadang-kadang] dengan cara yang baik
[dan kadang-kadang] dengan cara yang tidak baik.
Dengan tindakan-tindakan mencuri dan menipu
dan dengan ucapan-ucapan dusta
orang itu yang menikmati kenikmatan indria
mahir dalam menimbun kekayaan.
setelah pergi dari sini menuju neraka,
orang bermata satu itu disiksa.
Seorang bermata dua dikatakan sebagai
orang dari jenis terbaik.
Kekayaannya diperoleh melalui usahanya sendiri,
dengan benda-benda yang diperoleh dengan jujur. [130]
Kemudian dengan kehendak terbaik ia memberi
orang ini dengan pikiran yang tidak terbagi
Ia pergi menuju [kelahiran kembali di] alam yang baik
di mana, setelah pergi, ia tidak bersedih.
Seseorang
dari jauh harus menghindari
si
orang buta dan orang bermata satu,
tetapi
harus berteman dengan orang bermata dua,
orang
dari jenis terbaik.
Kontras dengan “ibadah
Buddhisme”, berikut inilah “ibadah kasta PENDOSAWAN”, yang mereka pandang dan
perlakukan sebagai lebih penting daripada “berbuat kebaikan” maupun “menghindari
perbuatan buruk”—kesemua ayat-ayat simbolik “SELFISH GENE” (mengikuti
arus) berikut dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa,
namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang
berhak menceramahi maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN
DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah, hina, dan kotor, namun
berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Mereka
sejatinya merupakan kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih
Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang, dan
disaat bersamaan merupakan pengecut yang begitu pengecut untuk
bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri.
Babi
disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP semacam “PENGHAPUSAN DOSA”
diklaim dan dikampanyekan lewat pengeras suara sebagai “halal lifestyle”—sekalipun
hanya seorang “KORUPTOR DOSA” yang butuh “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN
DOSA”. Sekujur tubuh ditutupi busana, mulai dari ujung rambut hingga ujung
kaki. Namun “AURAT TERBESAR” berupa “BERBUAT DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” sebelum
kemudian ritual memohon “PENGAMPUNAN DOSA” justru dipertontonkan secara vulgar
ke depan publik lewat speaker pengeras suara, tanpa rasa malu ataupun tabu.
“Abolition
of sins” maupun “cuci dosa” dipromosikan tanpa tabu ataupun malu lewat
pengeras suara, alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun
keberanian untuk bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri. Busuk dan
serakahnya jiwa yang telah dikuasai sepenuhnya oleh “SELFISH GENE”
menjadikan mereka kasta paling rendah dan paling hina, pemeluk “Agama DOSA dari
Kitab DOSA”, dimana noda-noda dan kekotoran batin justru dipelihara dan
dilestarikan dengan rasa bangga, tanpa rasa malu ataupun takut.
Agama
samawi paling efektif dalam memelihara sifat kekanak-kanakan (memberi makan dan
nutrisi bagi KEKOTORAN BATIN), dimana juga mengungkap “pikiran berkarat serta
beracun” sang “nabi rasul Allah” yang menceramahi orang lain bahwa “perbuatan
baik dapat menghapus dosa-dosa” namun telah ternyata lebih sibuk memohon
“PENGAMPUNAN DOSA” ketimbang menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk
bertanggung-jawab kepada korban-korbannya ataupun produktif berbuat kebaikan
kepada masyarakat—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]