Muslim, Kasta PENDOSA Pecandu PENGHAPUSAN DOSA

Buat Dosa ke Orang Lain, Minta Pengampunan Dosanya ke Allah, Ibarat Menyuruh Allah Merampas Hak Keadilan Kalangan Korban

Para Muslim Lebih Senang “Main Hakim Sendiri” ketika menjadi Korban Kejahatan, karena Menyadari bahwa Allah Lebih PRO terhadap PENDOSA (PENJAHAT), sehingga Percuma Mengadu / Melapor kepada Tuhan

Question: Pernah suatu hari, terdengar dari speaker eksternal masjid, ada kiai atau ustad bercemarah, bahwa dirinya tidak setuju terhadap pendapat seseorang yang menyebutkan bahwa orang-orang baik sekalipun nonmuslim akan masuk surga. Bagi ia, surga itu monopoli umat muslim. Lalu sang penceramah menutup argumennya dengan mengatakan, “Kalau orang baik tapi nonmuslim bisa masuk surga, lalu buat apa kita solat lima kali (dalam) sehari?

Mengapa saya merasa ajaran islam membuat “standar moral” umat pemeluknya menjadia rusak? Isi solat mereka, ialah doa-doa permohonan pengampunan dosa, lalu apa hubungannya dengan “orang baik”? Bila tidak bisa buat baik, setidaknya jangan buat jahat; dimana jika masih bisa berbuat buruk maka setidaknya siap untuk bertanggung-jawab dengan berani menerima konsekuensinya karena berani berbuat. Tapi muslim dan islam berbeda, mereka begitu pemalas untuk berbuat kebaikan, dan disaat bersamaan begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri.

Brief Answer: Itulah bukti, bahwa dalam dogma agama islam, “berbuat baik bukanlah ibadah”, sehingga “orang-orang yang sedang berbuat kebaikan bukanlah orang yang sedang beribadah”. Begitupula masih dalam perspektif dogma agama islam, “tidak melakukan kejahatan bukanlah ibadah”, sehingga “orang-orang yang sedang menghindari perbuatan buruk dan tercela bukanlah orang yang sedang beribadah”.

Terbukti, dari banyak perilaku keseharian umat agama islam, mereka tidak memandang bahwa “berbuat kebaikan” adalah hal yang penting, begitupula “tidak berbuat kejahatan” yang juga dipandang remeh “sebelah mata”. Satu-satunya yang mereka, para umat muslim, sebut sebagai “ibadah”, ialah praktek ritual sembah-sujud dan memuja-muji sosok imajiner yang mereka sebut sebagai Allah, serta:

“Umar bin al-Khattab, rekan Muhammad terusik dengan apa yang dilihatnya. Umar mendekati Batu Hitam dan menciumnya serta mengatakan, Tidak diragukan lagi, aku tahu kau hanyalah sebuah batu yang tidak berfaedah maupun tidak dapat mencelakakan siapa pun. Jika saya tidak melihat Utusan Allah mencium kau, aku tidak akan menciummu.” [Sahih al-Bukhari, Volume 2, Buku 26, Nomor 680]

PEMBAHASAN:

Kisah yang berangkat dari pengalaman nyata penulis berikut, menjadi afirmasi tidak terbantahkan bahwa islam adalah “Agama DOSA yang bersumber dari Kitab DOSA”, alih-alih mengklaim dirinya sebagai “Agama SUCI yang bersumber dari Kitab AUCI”. Suatu sore hari, penulis mengunjungi tempat yang lokasinya masih asing. Penulis mendekati sebuah mobil yang terparkir di samping jalan depan sebuah masjid yang penumpangnya baru saja turun dari mobil, lalu meminta informasi perihal jalan. Namun, dua orang pria muda berseragam Aparatur Sipil Negara / Pegawai Negeri Sipil, seketika menolak untuk memberi pertolongan yang sejatinya sekadar hanya menyita waktu sebentar untuk menjawab dan memberi petunjuk arah, beralasan sudah waktu bagi mereka untuk solat, lalu mereka bergegas masuk ke dalam masjid untuk “ibadah” (solat).

Mereka, para muslim tersebut, menyia-nyiakan kesempatan untuk menanam kebaikan. Bagi mereka, berbuat kebaikan tidak sepenting dan seberharga solat. Kemendesakan yang lebih mereka rasakan, ialah ritual solat, bukan menggunakan kesempatan yang ada untuk menanam kebaikan. Singkatnya, bagi mereka, “berbuat kebaikan bukanlah ibadah”. Berbuat kebaikan, dapat dinomor kesekian-kan. Yang dinomor-satukan dan diutamakan sebagai prioritas “very important”, satu-satunya ialah “ibadah ritual solat”.

Di lain waktu, pada suatu siang tengah hari pada hari Jum’at, penulis menumpang sebuah kendaraan umum, namun sang supir mengemudikan kendaraannya dengan ugal-ugalan, memperlakukan penumpang bak sapi, dengan alasan mengejar waktu untuk solat Jum’at. Bagi mereka, “tidak berbuat kejahatan bukanlah ibadah”. Satu-satunya yang disebut sebagai ibadah, bagi kaum muslim, ialah “ibadah ritual solat”.

Di kesempatan lainnya, ada seorang muslimah (berjilbab) yang sudah senior dan sepuh hendak menumpang sebuah kendaraan umum, namun seorang muslim (berjilbab) yang masih berusia muda yang juga calon penumpang, tidak mau mengalah untuk memberi tempat duduk di depan bagi sang calon penumpang lain yang telah manula yang notabene sesama muslimah, sekalipun penumpang lain telah menegur sang muslimah muda. Itulah bukti, kesempatan berbuat baik disia-siakan, karena perbuatan baik dipandang “TIDAK PENTING”, “TIDAK BERHARGA”, dan “TIDAK BERNILAI”.

Umat muslim, sungguh menyerupai orang BUTA, yang tidak mampu membedakan mana yang baik dan buruk, terpuji dan tercela, yang berharga dan yang tidak berharga. Tengok saja perihal babi yang disebut “haram”. Ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” dimana dosa-dosa pun dikorupsi, diklaim serta dipromosikan sebagai “halal lifestyle”. Terhadap dosa dan maksiat, demikian kompromisik. Namun terhadap kaum yang berbeda keyakinan, mereka bisa begitu intoleran. Ini dan itu, disebut haram. Menghalal-haramkan segala sesuatunya, mengkafir-kafirkan kaum lain, memberi delusi sebagai paling superior yang berhak menghakimi kaum lainnya, meski sejatinya mereka adalah kasta paling rendah dan paling hina. Bila kita petakan kasta-kasta dari topologi umat manusia, maka akan jumpai kasta-kasta yang terdiri dari:

1.) Kasta SUCIWAN. Mereka berkebalikan dari kasta PENDOSAWAN yang justru mempromosikan ideologi KORUP seperti “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA” (abolition of sins, bagi PENDOSA tentunya), kasta SUCIWAN justru mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun maksiat. Kaum SUCIWAN tidak membutuhkan dogma iming-iming “too good to be true” semacam “PENGHAPUSAN DOSA” atau sejeninya, justru merasa jijik terhadapnya. Mereka tidak membiarkan diri mereka ternoda dan menyadari bahaya dibalik pelanggaran moralitas sekecil apapun. Yang dipeluk oleh kasta SUCIWAN, ialah “Agama SUCI”, yang tidak sekadar nama. Mereka adalah seorang “PELAWAN ARUS”, mengutip sabda Sang Buddha:

“Para bhikkhu, ada empat jenis orang ini terdapat di dunia. Apakah empat ini? Orang yang mengikuti arus; orang yang melawan arus; orang yang kokoh dalam pikiran; dan orang yang telah menyeberang dan sampai di seberang, sang brahmana yang berdiri di atas daratan yang tinggi.

(1)  Dan apakah orang yang mengikuti arus? Di sini, seseorang menikmati kenikmatan indria dan melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Ini disebut orang yang mengikuti arus.

(2)  Dan apakah orang yang melawan arus? Di sini, seseorang tidak menikmati kenikmatan indria atau melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Bahkan dengan kesakitan dan kesedihan, menangis dengan wajah basah oleh air mata, ia menjalani kehidupan spiritual yang lengkap dan murni. Ini disebut orang yang melawan arus.”

2.) Kasta KSATRIAWAN. Bila seseorang masih dapat berbuat keliru baik disengaja maupun akibat kelalaiannya, sehingga mengakibatkan pihak lain menderita sakit, luka, maupun kerugian, maka seorang dengan kasta KSATRIAWAN akan siap-berani untuk tampil bertanggung-jawab, membuat para korbannya tidak perlu menuntut terlebih mengemis-ngemis pertanggung-jawaban. Berkebalikan dari Kasta KSATRIAWAN, ialah kasta PENDOSAWAN yang tidak memiliki jiwa keberanian untuk menghadapi konsekuensi dari perbuatan buruk mereka sendiri, justru lebih sibuk melakukan ritual “PENGAMPUNAN DOSA”, sehingga membuat kaum dari kasta PENDOSAWAN patut diberi gelar “PENGECUT dan PECUNDANG KEHIDUPAN”. Mereka yang memilih untuk berani merepotkan diri menanam benih-benih perbuatan baik (orang baik), alih-alih memohon dan meminta sesuatu dijatuhkan dari atas langit, juga tergolong sebagai kasta KSATRIAWAN. Yang dianut oleh kasta KSATRIAWAN, ialah “Agama KEBAIKAN”; dan

3.) Kasta PENDOSAWAN. Yang menjadi “business as usual” mereka, para PENDOSAWAN, dalam keseharian ialah berlomba-lomba memproduksi segunung dosa, mengoleksi segudang dosa, dan berkubang dalam lautan dosa. Ironisnya, “ibadah” mereka definisikan sebagai “MENCANDU PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA” yang lebih adiktif daripada obat-obatan terlarang, dimana seolah-olah belum cukup berbuat kejahatan, dosa-dosa pun mereka korupsi sehingga menjelma “KORUPTOR DOSA” alih-alih “kembali ke fitri”. Antara “BERBUAT DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” dan “PENGHAPUSAN DOSA”, sifatnya saling bundling satu sama lainnya ibarat pasta gigi dan sikat gigi yang saling komplomenter. Adapun agama yang dipeluk oleh kasta PENDOSAWAN, tentunya ialah “Agama DOSA”.

Tidak semua orang sanggup, menjalani ibadah Buddhisme, karena hanya mampu dijalankan oleh mereka yang ber-kasta SUCIWAN dan KSATRIAWAN. Pecundang kehidupan semacam para kasta PENDOSAWAN, ibarat air yang secara alamiahnya bergerak ke atas BAWAH, bukan ke arah ATAS. Adapun “ibadah” dalam Buddhisme, diwakili oleh sabda Sang Buddha berikut:

Ovada Patimokkha

Sabbapāpassa akaraa

Kusalassa upasampadā

Sacittapariyodapana

Eta buddhāna sāsana.

Khantī parama tapo titikkhā

Nibbāa parama vadanti buddhā

Na hi pabbajito parūpaghātī

Samao hoti para vihehayanto.

Anūpavādo anūpaghāto, pātimokkhe ca savaro

Mattaññutā ca bhattasmi, pantañca sayanāsana

Adhicitte ca āyogo, eta buddhāna sāsana.

Tidak melakukan segala bentuk kejahatan,

senantiasa mengembangkan kebajikan

dan membersihkan batin;

inilah Ajaran Para Buddha.

Kesabaran adalah praktek bertapa yang paling tinggi.

“Nibbana adalah tertinggi”, begitulah sabda Para Buddha.

Dia yang masih menyakiti orang lain

sesungguhnya bukanlah seorang pertapa (samana).

Tidak menghina, tidak menyakiti, mengendalikan diri sesuai peraturan,

memiliki sikap madya dalam hal makan, berdiam di tempat yang sunyi

serta giat mengembangkan batin nan luhur; inilah Ajaran Para Buddha.

[Sumber: Dhammapada 183-184-185, Syair Gatha.]

Sang Buddha pernah bersabda : Apa yang di mata orang dungu dipandang kenikmatan, merupakan dukkha di mata seorang Buddha. Di mata kasta PENDOSAWAN, bersikap korup—termasuk korupsi dosa—adalah nikmat, bahkan menjadikannya sebagai “candu” yang memabukkan. Kita dapat menyebut para “PENDOSA PECANDU PENGAMPUNAN DOSA” sebagai “orang BUTA” sebagaimana khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID I”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:

29 (9) Buta

“Para bhikkhu, ada tiga jenis orang ini terdapat di dunia ini. Apakah tiga ini? Orang buta, orang bermata satu, dan orang bermata dua.

(1) “Dan apakah, para bhikkhu, orang buta? Di sini, seseorang tidak memiliki jenis mata [129] yang dengannya ia dapat memperoleh kekayaan yang belum diperoleh atau meningkatkan kekayaan yang telah diperoleh, dan ia juga tidak memiliki jenis mata yang dengannya ia dapat mengetahui kualitas-kualitas yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, kualitas-kualitas tercela dan tanpa cela, kualitas-kualitas hina dan mulia, kualitas-kualitas gelap dan terang dengan padanannya. Ini disebut orang buta.

(2) “Dan apakah orang bermata satu? Di sini, seseorang memiliki jenis mata yang dengannya ia dapat memperoleh kekayaan yang belum diperoleh atau meningkatkan kekayaan yang telah diperoleh, tetapi ia tidak memiliki jenis mata yang dengannya ia dapat mengetahui kualitas-kualitas yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, kualitas-kualitas tercela dan tanpa cela, kualitas-kualitas hina dan mulia, kualitas-kualitas gelap dan terang dengan padanannya. Ini disebut orang bermata satu.

(3) “Dan apakah orang bermata dua? Di sini, seseorang memiliki jenis mata yang dengannya ia dapat memperoleh kekayaan yang belum diperoleh atau meningkatkan kekayaan yang telah diperoleh, dan ia juga memiliki jenis mata yang dengannya ia dapat mengetahui kualitas-kualitas yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, kualitas-kualitas tercela dan tanpa cela, kualitas-kualitas hina dan mulia, kualitas-kualitas gelap dan terang dengan padanannya. Ini disebut orang bermata dua.

“Ini, para bhikkhu, adalah ketiga jenis orang itu yang terdapat di dunia.”

Ia tidak memiliki kekayaan,

juga tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa;

si orang buta tanpa mata

melemparkan lemparan tidak beruntung pada kedua sisi.

orang yang digambarkan sebagai bermata satu.

adalah seorang munafik yang mencari kekayaan,

[kadang-kadang] dengan cara yang baik

[dan kadang-kadang] dengan cara yang tidak baik.

Dengan tindakan-tindakan mencuri dan menipu

dan dengan ucapan-ucapan dusta

orang itu yang menikmati kenikmatan indria

mahir dalam menimbun kekayaan.

setelah pergi dari sini menuju neraka,

orang bermata satu itu disiksa.

Seorang bermata dua dikatakan sebagai

orang dari jenis terbaik.

Kekayaannya diperoleh melalui usahanya sendiri,

dengan benda-benda yang diperoleh dengan jujur. [130]

Kemudian dengan kehendak terbaik ia memberi

orang ini dengan pikiran yang tidak terbagi

Ia pergi menuju [kelahiran kembali di] alam yang baik

di mana, setelah pergi, ia tidak bersedih.

Seseorang dari jauh harus menghindari

si orang buta dan orang bermata satu,

tetapi harus berteman dengan orang bermata dua,

orang dari jenis terbaik.

Kontras dengan “ibadah Buddhisme”, berikut inilah “ibadah kasta PENDOSAWAN”, yang mereka pandang dan perlakukan sebagai lebih penting daripada “berbuat kebaikan” maupun “menghindari perbuatan buruk”—kesemua ayat-ayat simbolik “SELFISH GENE” (mengikuti arus) berikut dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak menceramahi maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah, hina, dan kotor, namun berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Mereka sejatinya merupakan kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang, dan disaat bersamaan merupakan pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri.

Babi disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP semacam “PENGHAPUSAN DOSA” diklaim dan dikampanyekan lewat pengeras suara sebagai “halal lifestyle”—sekalipun hanya seorang “KORUPTOR DOSA” yang butuh “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”. Sekujur tubuh ditutupi busana, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Namun “AURAT TERBESAR” berupa “BERBUAT DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” sebelum kemudian ritual memohon “PENGAMPUNAN DOSA” justru dipertontonkan secara vulgar ke depan publik lewat speaker pengeras suara, tanpa rasa malu ataupun tabu.

Abolition of sins” maupun “cuci dosa” dipromosikan tanpa tabu ataupun malu lewat pengeras suara, alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun keberanian untuk bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri. Busuk dan serakahnya jiwa yang telah dikuasai sepenuhnya oleh “SELFISH GENE” menjadikan mereka kasta paling rendah dan paling hina, pemeluk “Agama DOSA dari Kitab DOSA”, dimana noda-noda dan kekotoran batin justru dipelihara dan dilestarikan dengan rasa bangga, tanpa rasa malu ataupun takut.

Agama samawi paling efektif dalam memelihara sifat kekanak-kanakan (memberi makan dan nutrisi bagi KEKOTORAN BATIN), dimana juga mengungkap “pikiran berkarat serta beracun” sang “nabi rasul Allah” yang menceramahi orang lain bahwa “perbuatan baik dapat menghapus dosa-dosa” namun telah ternyata lebih sibuk memohon “PENGAMPUNAN DOSA” ketimbang menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk bertanggung-jawab kepada korban-korbannya ataupun produktif berbuat kebaikan kepada masyarakat—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]