SELFISH GENE Allah dan Nabi yang Termanifestasi ke dalam Kitab DOSA Sumber Agama DOSA bernama Agama SAMAWI
Question: Setelah memelajari kitab-kitab agama samawi-abrahamik, telah ternyata Allah begitu pro terhadap penjahat dan pendosa, dengan memasukkan mereka ke neraka, semata karena Allah digambarkan menyerupai personifikasi “raja yang lalim” yang akan senang ketika disembah dan akan marah atau murka ketika tidak dipuja-puji. Bisa dikatakan, tidak ada satupun ajaran di dalam kitab-kitab agama samawi yang memihak kepada kalangan korban dari para pendosa yang justru diberi imbalan berupa dimasukkan ke sorga alih-alih ke neraka. Berangkat dari fakta tersebut, saya mulai memiliki kecurigaan yang kian solid bahwa Allah maupun nabi utusannya tunduk dan dikuasai oleh semacam “selfish gene” sehingga terbit kitab-kitab penuh EGO semacam alkitab maupun al-quran. Pertanyaan saya, jika hipotesis dan konklusi saya keliru, maka apa bentuk keberpihakan Allah terhadap kalangan korban?
Brief Answer: Adalah percuma, korban mengadu / melapor kepada
Allah, karena Allah lebih PRO terhadap “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”
tersebut. Tengok kitah yesus, yang justru memasukkan ke surga dua orang
penjahat (salah satunya berprofesi sebagai penyamun, alias bukan orang baik-baik
yang dihukum salib hingga mati pada zaman kelahiran yesus tersebut) semata karena
menjilat bokong yesus, alih-alih memberikan keadilan bagi kalangan korban dari
para penjahat tersebut alias yesus telah merampas hak keadilan dari kalangan
korban. Tengok juga doa di keseharian kaum muslim, dimana mereka dibiasakan dan
terbiasa mabuk serta kecanduan “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA”, sekalipun kita
ketahui bahwa hanya seorang PENDOSA yang butuh “PENGHAPUSAN DOSA”—dimana para “PENDOSA
PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” tersebut menjelma “KORUPTOR DOSA” alih-alih “kembali
ke fitri”.
.
PEMBAHASAN:
Kesadaran untuk berpikir “melawan
arus” memberi kita potensi untuk MEMBERONTAK terhadap sang pencipta, replikator
egois bernama “SELFISH GENE, yang menyuruh kita untuk makan dan beranak-pinak,
merampok hak orang lain demi keluarga / diri sendiri. Kawin dan berkembang
biak, adalah ibadah, kata dogma agama samawi. Sekalipun, hewan pun kawin dan
beranak-pinak TANPA PERLU DISURUH (insting hewani dan otak reptil).
Begitupula “gen egois” yang
membuat umat manusia mabuk “penghapusan dosa” dan tergila-gila “lahir ke surga”.
Richard Dawkins, penulis buku “The Selfish Gene”, gagasannya sangat
mirip Buddhisme, dimana Sang Buddha justru menunjukkan jalan untuk TIDAK LAGI
TERLAHIR KE ALAM MANAPUN, tidak tunduk pada sang pencipta. Manusia, terlahir
karena masih memiliki “kekotoran batin”, itulah yang disebut yang diistilahkan sebagai
“SELFISH GENE”.
Dogma dalam agama samawi
seperti “kawin adalah ibadah. Banyak kawin (maka) banyak ibadah” maupun “banyak
anak, (maka) banyak rezeki”, memotivasi sang ayah untuk kawin lalu
beranak-pinak sebanyak mungkin, dalam rangka untuk mempertebal isi kantung saku
sang Bapak (“SELFISH / EGO MOTIVE” sebagai landasan pemikiran dibalik pencetus dogma
tersebut maupun sang umat pemeluknya).
Ibrahim / Abraham melakukan
permulaan perbuatan dan niat / tekad bulat untuk menyembelih Ismail / Ishaq,
anak kandungnya sendiri, dalam rangka atau motivasi sang bapak agar bisa
bersetubuh dengan puluhan bidadari berdada montok dan bersenang-senang di
kerajaan Allah (“SELFISH / EGO MOTIVE”). At that time, Ibrahim / Abraham
was not a father, but an EXECUTOR!
NARSISTIK / NARSISME, semisal “Tuhan
membisiki saya”, “Tuhan memberikan saya petunjuk”, “Tuhan menolong saya”, “Saya
spesial di mata Tuhan”, “Tuhan sedang mencobai saya” (padahal usia umat manusia
sudah setua usia planet bumi ini), kesemua itu hanyalah bentuk manifestasi
kasar dari pikiran yang telah dikuasai dan dibudaki oleh “the SELFISH GEN”. Berhentilah
menyuruh Tuhan untuk melakukan sesuatu yang Anda ingin dan harapkan.
Contoh yang lebih jamak terjadi
di tengah masyarakat, ketika ada musibah, penduduk yang masih bisa bertahan
hidup karena lolos maut, berkata “ALHAMDULLILAH (karena saya hidup, sementara tetangga saya
mati).”
Contoh lain, sebelum makan
mereka berdoa “Terimakasih Tuhan, sudah memberikan kami makanan hari ini
(meski kami tahu ada orang di luar sana yang tidak punya penghasilan ataupun
makanan untuk dimakan).” SELFISH GENE telah membajak manusia, memanipulasi
lewat manifestasi dogma-dogma EGOISTIK-NARSISME. Mereka, tunduk sepenuhnya pada
warisan genetik PURBA yang belum mengenal kata “adab”.
Kabar gembira bagi pendosa yang
dihapus dosanya dan dimasukkan ke sorga, merupakan kabar duka bagi kalangan
korban. Jiwa memberontak terhadap “the SELFISH GENE” yang bersarang dalam diri
kita, membuat kita mampu untuk “menaklukkan diri kita sendiri”, dicerminkan
dari pembabaran Sang Buddha: [dikutip dari Dhammapada dan Angguttara Nikaya]
316. Barangsiapa malu terhadap
hal tak memalukan, tidak malu terhadap hal memalukan; mereka yang memegang
pandangan keliru itu akan menuju ke alam sengsara.
317. Juga, barangsiapa takut
terhadap hal tak menakutkan, tidak takut terhadap hal menakutkan; mereka yang
memegang pandangan keliru itu akan menuju ke alam sengsara.
318. Barangsiapa menganggap
tercela terhadap hal tak tercela, menganggap tak tercela terhadap hal tercela;
mereka yang memegang pandangan keliru itu akan menuju ke alam sengsara.
319. Sebaliknya, barangsiapa
menyadari hal tercela sebagai yang tercela, menyadari hal tak tercela sebagai
yang tak tercela; mereka yang memegang pandangan benar itu akan menuju ke alam
bahagia.
~0~
Para bhikkhu, dengan memiliki lima kualitas,
seseorang ditempatkan di neraka seolah-olah dibawa ke sana. Apakah lima ini?
(1) Tanpa menyelidiki dan tanpa
memeriksa, ia memuji seorang yang layak dicela.
(2) Tanpa menyelidiki dan tanpa
memeriksa, ia mencela seorang yang layak dipuji.
~0~
Para bhikkhu, dengan memiliki lima kualitas, seorang
bhikkhu tuan rumah ditempatkan di surga seolah-olah dibawa ke sana. Apakah lima
ini?
(1) Setelah menyelidiki dan
setelah memeriksa, ia mencela seorang yang layak dicela.
(2) Setelah menyelidiki dan
setelah memeriksa, ia memuji seorang yang layak dipuji.
~0~
Para bhikkhu, ada empat jenis orang ini terdapat di
dunia. Apakah empat ini? Orang yang mengikuti arus; orang yang melawan arus;
orang yang kokoh dalam pikiran; dan orang yang telah menyeberang dan sampai di
seberang, sang brahmana yang berdiri di atas daratan yang tinggi.
(1) Dan
apakah orang yang mengikuti arus? Di sini, seseorang menikmati kenikmatan
indria dan melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Ini disebut orang yang
mengikuti arus.
(2) Dan
apakah orang yang melawan arus? Di sini, seseorang tidak menikmati kenikmatan
indria atau melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Bahkan dengan kesakitan dan
kesedihan, menangis dengan wajah basah oleh air mata, ia menjalani kehidupan
spiritual yang lengkap dan murni. Ini disebut orang yang melawan arus.
Babi, disebut “haram”. Namun,
ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN /
PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”. Dosa-dosa pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat
agama samawi, kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma
Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang dan disaat
bersamaan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab
atas konsekuensi dibalik perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum
korban hanya bisa “gigit jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari
mereka—kesemua ayat-ayat simbolik “SELFISH GENE” berikut dikutip dari Hadis
Sahih Muslim:
- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan
membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya,
maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.”
- No. 4857 : “Barang
siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji
bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya
akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
- No. 4863 : “Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam
dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
- No. 4864 : “Apabila
ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya
tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii
warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku
dan anugerahkanlah aku rizki).”
- No. 4865 : “Ya
Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah
Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai
berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku,
kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”
- Aku mendengar Abu Dzar dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan
memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan
tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan
berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia
mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
- Dari Anas
radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam,
selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni
dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun
kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau
menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak
isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku
datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula”. (HR.
Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]
Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan
merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum
lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling
rendah dan kotor, namun berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli
alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka
pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi
berceramah perihal hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi,
dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN
PENGHAPUSAN DOSA”. Kasarnya jiwa yang telah dikuasai sepenuhnya oleh “SELFISH
GENE”—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
- No. 4891. “Saya
pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang
belum aku lakukan.’”
- No. 4892. “Aku
bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu
'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang
telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
- No. 4893. “dari
'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca:
‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang
belum aku lakukan.’”
- No. 4896. “dari
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai
berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan,
kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah bertanya kepada
Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah
Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan
datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]