Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,
Bila tidak mengonsumsi produk
bakaran tembakau,
Sekalipun mereka yang bebas
dari candu tembakau dapat hidup sehat dengan pikiran yang jernih.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,
Bila tidak mengonsumsi produk
bakaran tembakau,
Sekalipun mereka yang bebas
dari candu tembakau dapat hidup sehat dengan pikiran yang jernih.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Pernah terdapat seorang pemuka
agama,
Yang berceramah lewat pengeras
suara,
“Untuk apa kita ritual lima kali
dalam sehari,
Bila orang baik bisa masuk
surga tanpa melakukan ritual lima kali dalam sehari untuk setiap harinya seperti
kita?”
Ia menolak pandangan bahwa
orang baik bisa masuk surga,
Dan menyebarkan propaganda
bahwa hanya ritual yang bisa menyelamatkan dan menjamin seseorang masuk surga,
Bukan kualitas perbuatan dalam keseharian.
AGAMA DOSA yang Mempromosikan Dogma Korup “PENGHAPUSAN DOSA”, Ajaran-Ajarannya Indah di Awal, Bengkok di Pertengahan, dan Sesat di Akhir, dengan Makna dan Kata-Kata yang Menyimpang, dan yang Menegaskan Kehidupan Kotor-Korup Sepenuhnya yang Hina dan Tercela
Question : Katanya, hukum syariat islam ialah vonis hukuman “potong tangan” bagi yang mencuri? Namun mengapa muslim-muslim yang setiap harinya ritual doa memohon penghapusan dosa, setiap tahunnya ritual “dosa setahun dihapuskan” (puasa ramadhan), pergi umroh dengan iming-iming “dosa-dosa sebelumnya dihapuskan”, bahkan ketika meninggal dunia minta didoakan “hapus dosa-dosa semasa hidupnya”, yang artinya merampas hak-hak korban mereka atas keadilan, tidak dihukum “potong tangan” bagi para muslim pecandu penghapusan dosa tersebut?
Bahaya Dibalik Obsesi bahwa Hidup Ini Adil dan Ada Keadilan untuk Diperjuangkan dan Diraih, bahwa Hidup ini Nikmat, dan bahwa Kehidupan Ini adalah Ideal—Kesemua Itu adalah “Delusi”
Bung, Dunia Tidak Pernah dan Tidak akan Pernah Seindah maupun Seideal Harapan
Anda, Sekalipun Anda Korupsi maupun menjadi Kriminal yang Merampas Hak-Hak ataupun
Kebahagiaan Milik Orang Lain
Hidup adalah “nikmat”? Jeruk, manis dan lezat adanya. Namun cobalah Anda makan sekaligus dua puluh butir, Anda akan muntah—“teori marginal” dalam ilmu ekonomi bahkan telah lama menjelaskan fakta dan realita demikian. Ketika kita tidak sedang memakan jeruk tersebut, kita mengidamkan dan tergiur dan kecewa menemukan diri kita tidak memiliki buah tersebut untuk dimakan—bahaya dibalik kerinduan, dimana kerinduan adalah “dukkha” itu sendiri. Baiklah, Anda mungkin tidak menyukai buah jeruk. Jika demikian, silahkan ganti dengan buah atau makanan lainnya, dan yakin Anda tetap akan muntah akibat “overdosis”. Sesuatu yang awalnya tampak lezat sekalipun, dapat menjelma penolakan dan menjauhinya.
Tidak Menggenggam Gambaran [Penglihatan] Beserta Ciri-Cirinya, Gambaran [Penciuman] Beserta Ciri-Cirinya, Gambaran [Pengecapan] Beserta Ciri-Cirinya, Gambaran [Pendengaran] Beserta Ciri-Cirinya, Gambaran [Sentuhan] Beserta Ciri-Cirinya, maupun Gambaran [Objek Pikiran] Beserta Ciri-Cirinya
Hendaknya kita tidak berlarut-berlarut terlebih tenggelam dalam kegembiraan maupun kesedihan, kerinduan maupun penyesalan, kecintaan maupun kebencian, kesukaan maupun ketidaksukaan, kenikmatan maupun kekecewaan, kegiuran maupun kejijikan, terhadap segala jenis kondisi yang muncul dari kontak keenam indera kita—penglihatan, penciuman, pengecapan, sentuhan, pendengaran, maupun pikiran. Batasi pada kurun waktu temporer bila kondisi tersebut muncul dan kita alami, sebatas tempo waktu temporer yang singkat saja, selanjutnya kita kembali ke dalam mode “keseimbangan batin” dengan kurva yang landai dan tenang-datar tanpa naik ataupun turun secara curam. Dengan cara begitulah, kita menjaga “sumur energi batin” kita tidak terkuras-kering.
Agama TERKONYOL di Dunia : Agama SAMAWI-ABRAHAMIK yang Mengumbar dan
Mengobral Iming-Iming PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA
Agama Samawi adalah Agama-nya para HIPOKRIT yang MUNAFIK
Question : Bukankah tidak rasional, koruptor-uang dituntut oleh masyarakat kita agar dihukum mati, akan tetapi disaat bersamaan telah ternyata agama samawi yang menjadi agama mayoritas penduduk kita, justru mempromosikan korupsi-dosa dengan menjadi koruptor-dosa, dimana dosa-dosa pun dikorupsi lewat ritual (iming-iming) semacam penghapusan-dosa, penebusan-dosa, ataupun pengampunan-dosa?
Hanya Orang Dungu yang Meremehkan Dhamma yang Dibabarkan oleh Sang Buddha
Question : Pernah ada film dari TIongkok, yang mengisahkan seorang biksu selalu merasa bosan dan mengantuk ketika mendengarkan khotbah Buddha. Bukankah itu sungguh mecelehkan Dhamma, dimana bisa jadi pembuat film tersebut tidak pernah membaca ataupun mendengarkan khotbah Buddha sebagaimana tertuang dalam Sutta Pitaka, Tipitaka? Semua orang yang telah pernah membaca khotbah-khotbah Buddha dalam Sutta Pitaka, seperti dalam Majjhima Nikāya, Dīgha Nikāya, Saṁyutta Nikāya, Aṅguttara Nikāya, dan sebagainya, akan merasa kagum dan terkesan pada ajaran-ajaran Buddha. Hanya orang yang tidak pernah membaca ataupun mendengar ajaran Buddha, yang meremehkan sebagai “tidak bagus” atau diskredit lainnya. Bukankah aneh, menyatakan “tidak bagus” akan tetapi tidak pernah mengetahui seperti apakah ajaran Buddha?
“Agama DOSA” Membuat Umatnya (Pendosa) Kecanduan Dogma KORUP Bernama PENGHAPUSAN DOSA
Umat Agama Samawi bahkan Tidak Mampu Membedakan manakah “Agama SUCI” dan “Agama
DOSA”, Terlebih Membedakan antara si Bijaksana dan si Dungu
Question : Umat muslim hipokrit. Mereka membuat citra atau kesan seolah sangat anti dan memerangi perbuatan-dosa maupun maksiat. Katakanlah yang namanya perbuatan-dosa ataupun maksiat benar-benar bisa dipunahkan dari muka bumi. Pertanyaannya, jika tidak ada lagi dosa maupun maksiat, maka apa gunanya ritual agama islam yang setiap harinya terglla-gila berdoa memohon “penghapusan dosa”? Dapat kita balik pertanyaannya, bila setiap harinya umat muslim mabuk serta kecanduan-berat dogma “penghapusan dosa”, maka bukankah itu pertanda atau indikasi nyata tidak terbantahkan bahwa mereka melestarikan serta memelihara dosa-dosa maupun maksiat, alias punya KONFLIK-KEPENTINGAN?
Yang Belum Meninggalkan Perbuatan Dosa namun Kecanduan Ritual “PENGHAPUSAN
DOSA”, artinya BELUM TOBAT, justru Kian Parah dengan Menjelma KORUPTOR-DOSA
dimana Dosa-Dosa pun Dikorupsi
Orang Indonesia Mayoritas Beragama Islam, namun Islam Versi FANTASI
Question : Apakah benar, menurut islam adalah dosa adanya melakukan pencemaran ataupun perusakan terhadap lingkungan hidup semisal dengan melakukan penambangan maupun penggalian yang merusak ekosistem maupun habitat alami flora dan fauna?
“Dengan meninggalkan ketamakan terhadap dunia, ia berdiam dengan pikiran bebas dari ketamakan; ia memurnikan pikirannya dari ketamakan. Dengan meninggalkan permusuhan dan kebencian, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari permusuhan, berbelas kasih demi kesejahteraan makhluk-makhluk hidup; ia memurnikan pikirannya dari permusuhan dan kebencian.” [SANG BUDDHA]
Question : Mengapa terdapat kesan, di mata umat agama samawi, manusia yang berbahaya dan patut mereka perangi serta musuhi, bahkan punahkan, ialah kaum “non-agama samawi”? Bukankah yang paling membawa ancaman serta berbahaya, ialah orang-orang yang tidak takut berbuat kejahatan alias sesama umat agama samawi itu sendiri yang setiap harinya kecanduan ritual doa “penghapusan dosa”?
Apakah HUKUM KARMA adalah Adil Adanya? Sang Buddha bahkan Tidak Pernah Menyatakan bahwa HUKUM KARMA adalah Adil Adanya ataupun bahwa ia Patut untuk Dilekati
Sebaliknya, Pangeran Siddhatta Gotama justru Berjuang
untuk Memutus Belenggu Rantai Karma (Nibbana, Break the Chain / Shackle of
Karmic Law)
Dari pengamatan pribadi, kurang dari satu persen umat Buddhist yang sekalipun rutin mengunjungi vihara selama puluhan tahun, telah pernah membaca atau mendengar khotbah-khotbah otentik Sang Buddha sebagaimana tertuang dalam Tipitaka. Akibatnya, banyak pemahaman keliru yang menguasai cara berpikir mayoritas umat Buddhist di Tanah Air. Mereka tidak ingin masuk Nibbana, dan berdelusi-ria bahwa menanam Karma Baik sudah cukup bagi mereka sebagai jaminan hidup bahagia dan aman serta sentosa baik di kehidupan masa kini maupun sebagai modal bagi kehidupan berikutnya. Mereka yakin, dengan melakukan kebaikan-kebaikan di kehidupan masa kini, maka kehidupan berikutnya terjamin tidak akan terlahir-kembali ke alam rendah, namun akan kembali-terlahir ke alam bahagia. Pandangan yang berkembang di tengah komunitas Buddhist perihal Hukum Karma, bisa dikatakan adalah “versi fantasi” mereka sendiri.
Sekalipun Mengalami Kesakitan dan Kesedihan dengan Menghindari Perbuatan Buruk, Berbuah Kebahagiaan di Kehidupan Mendatang
Question : Dalam agama samawi seperti islam, yang mereka perhatikan hanyalah apa yang mereka makan, halal ataukah tidak halal (haram). Sementara itu persoalan perbuatan ataupun perilaku mereka sama sekali tidak diberikan bobot perhatian, mengingat dalam islam ada anekdot klise yang sangat kontraproduktif terhadap “standar moral” peradaban umat manusia, yakni : Babi, haram. Penghapusan dosa (bagi pendosa), halal. Mengapa terhadap dosa maupun maksiat, mereka begitu kompromistik; akan tetapi terhadap kaum yang berbeda keyakinan, mereka begitu intoleran?
Agama Samawi Bukanlah AGAMA SUCI, namun AGAMA DOSA yang Mempromosikan PENGHAPUSAN DOSA bagi KORUPTOR-DOSA, alih-alih Mengkampanyekan Gaya Hidup Higienis dari Dosa maupun Maksiat
KORUPTOR-DOSA, dimana Dosa-Dosa pun Dikorupsi. Namun Orang Buta
Memandangnya sebagai “Kembali ke Fitri” (Kembali ke NERAKA)
Ketika kita disakiti, dilukai, maupun dirugikan oleh umat agama samawi, tanyakanlah apa agama mereka yang menyakiti, melukai, maupun merugikan kita. Tanpa malu, mereka akan mengaku sebagai beragama samawi, bahkan mengenakan busana agamais. Selama ini mereka bermulut-besar mengenai agama, tuhan, neraka, surga, kitab, ayat, nabi, namun perihal tanggung-jawab, NOL BESAR. Mengapa mereka tidak malu juga tidak takut berbuat buruk, jahat, serta tercela?—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
Bila Anda merasakan Fenomena Sosial dengan Pola yang Ganjil dan Janggal, Kita Patut Curiga Adanya Keterlibatan “Māra si Jahat dan Penghasut” Dibaliknya
Sejahat apakah Māra? Penulis pernah berulang kali dibuat hampir mati oleh satu orang “manusia jahat yang bersekutu dengan iblis bernama dukun ilmu hitam”. Namun yang paling membuat penulis merasa heran dan tidak dapat memahaminya, orang-orang terdekat penulis sekalipun, tidak mau menolong, juga siapapun itu tidak mau menolong, mengabaikan, seolah mata mereka tertutup tembok tebal yang gelap. Bahkan, dewa pun mengabaikan kejahatan demikian berlangsung selama puluhan tahun. Keanehan tersebut, bukan terjadi untuk satu atau dua kali, namun selalu terjadi selama hampir separuh abad lama usia penulis.
Agama yang Mem-promosikan PENGHAPUSAN DOSA alih-alih Meng-kampanyekan Gaya Hidup Higienis dari Dosa maupun Maksiat, adalah AGAMA DOSA—Bukan “Agama Suci”
Question : Dulu, sebelum agama samawi diperkenalkan ke dunia ini, tiada orang jahat (penjahat / pendosa) yang berdelusi dapat masuk surga setelah ajal menjeput orang-orang jahat tersebut. Kini, setelah agama samawi dikenal luas oleh masyarakat dunia, para penjahat berbondong-bondong memeluknya sembari “business as usual” berbuat jahat, dan disaat bersamaan berlomba-lomba kecanduan ritual doa “penghapusan dosa” (maupun “penebusan / pengampunan dosa”), dan merasa terjamin masuk surga. Bukankah itu artinya, agama samawi menjadi juru-petaka bagi peradaban umat manusia, alih-alih sebagai “juru selamat”?
Biarkan saja bila saya disebut “kikir”,
Karena selektif dalam berdonasi.
Karena saya punya cara saya
sendiri dalam berderma.
Biarkan saja bila orang lain menilai
saya sebagai antisosial,
Karena selektif dalam memilih
pergaulan.
Karena saya punya cara saya sendiri dalam bersosialisasi.
Tugas Seorang Bhikkhu Bukanlah Mencari Uang, namun Menjadikan Dirinya sebagai “Ladang Menanam Jasa Baik yang Subur” dengan Berlatih dalam Jalan Kesucian dan Terasing dari Kenikmatan Indria
Question : Banyak umat nonBuddhis, terutama muslim, yang menghina bhikkhu sebagai pengemis pemalas yang tidak mau bekerja, tapi maunya minta-minta. Bagaimana tanggapan Sang Buddha terhadap kaum yang merendahkan martabat kehidupan monastik?
Yesus Lahir Tragis di KANDANG TERNAK dan Mati Konyol hanya Mengenakan CELANA DALAM di Kayu Salib, bagaimana Mungkin Yesus Mampu Menolong Nasib para Umat Nasrani?
Question : Yesus yang disembah oleh umat nasrani, membuat klaim sebagai kasta tertinggi, sementara seluruh umat manusia adalah “kasta hamba”. Ia membuat klaim sepihak bahwa dirinya adalah “the Son of GOD / Light”. Bukankah aneh, faktanya kontradiktif ketika kita membaca kisah kelahiran Yesus yang justru lahir di tengah keluarga yang tergolong bukan dari kelas atas juga lahir di kandang ternak, dari rahim seorang manusia wanita.
Bila Anda tidak mau bergelut
pada derita menjadi seorang pegawai atau buruh,
Maka janganlah menjadi seorang
buruh atau pekerja.
Bila Anda tidak berani
menanggung resiko usaha dan kerugian,
Maka janganlah berbisnis.
Yang tidak pernah atau belum menjadi
korban,
Tidak akan pernah memahami,
Bagaimana rasanya dijadikan
korban,
Dan menjadi seorang korban.
Namun,
Entah kabar baik atau kabar
buruknya,
Ialah semua orang berpotensi menjadi korban.
Dengan tidak meninggalkan noda-noda, maka seseorang menjadi terdelusi. Dengan mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah noda-noda”, noda-noda ditinggalkan dan tidak terdelusi
Menurut pendapat Anda, apa yang akan terjadi bila tipikal orang di bawah ini yang belum meninggalkan noda-noda yang mengotori, menjadi seorang hakim, menjadi seorang “polisi moral”, menjadi auditor pada Badan Pemeriksa Keuangan, menjadi Menteri Keuangan di Kabinet Pemerintah, menjadi petugas pajak dari Kantor Pajak, ataupun menjadi seorang guru bagi putera-puteri Anda?—dikutip dari Hadis Muslim:
Tiada yang Lebih Berbahaya,
Daripara Orang Dungu,
Berjubah Agamais.
Sekujur tubuh,
Ditutup busana,
“Aurat Berjalan”,
Begitu mereka berkata.
Siapa Juga yang Butuh Nyawa Yesus, juga Tidak Ada yang Meminta Nyawa Yesus, Yesus Sendiri yang Justru Mencampakkan Nyawa-Hidupnya Ibarat Sampah Tidak Berharga, dengan Menyerahkan Nyawanya Agar Dibunuh dan Terbunuh di Kayu Salib alias “BUNUH DIRI”—Yesus Mati Konyol dan Sia-Sia
Question : Hidup adalah duka, karenanya melanjutkan hidup dan tetap hidup, adalah perjuangan sejati itu sendiri. Perspektifnya menjadi bertolak-belakang dengan ajaran agama samawi seperti nasrani, yang mengajarkan bahwa hidup adalah nikmat, karenanya yesus yang mati bunuh diri karena menyerahkan nyawanya bak sampah tidak berharga untuk dibunuh, sehingga mati muda, lalu mengundang keprihatinan para umat nasrani, seolah-olah yesus telah mengorbankan “tidak menikmati kenikmatan hidup hingga tua”. Padahal bila yesus memilih untuk tidak mencampakkan nyawanya dan hidup hingga tua, belum tentu ia tahan menanggung duka seperti kelaparan, kesedihan, penyakit, kekecewaan, wabah, bencana alam, bencana kemanusiaan, maupun penderitaan lainnya.
Tekad untuk Terlahir-Kembali di Alam Pilihan Tertentu, hanya menjadi Hak
Istimewa Seseorang yang Memiliki Keyakinan, Moralitas, Pembelajaran,
Kedermawanan, dan Kebijaksanaan
Pendosa Pecandu “PENGHAPUSAN DOSA” Tidak Punya Hak Istimewa karena Tidak Memiliki Keyakinan, Moralitas, Pembelajaran, Kedermawanan, maupun Kebijaksanaan
Question : Setelah mengamati dan mencermati, betapa dunia ini butuh “polisi” untuk menertibkan para makhluk arwah yang selama ini “merajalela” agar tidak lagi mengganggu manusia. Apakah bisa, bila kita bertekad untuk terlahir kembali menjadi seorang “demon hunter” (pemburu setan jahat) yang setingkat dewa dan mampu sesakti Sun-Go-Kong (Wukong) yang ditakuti oleh para setan dan disegani oleh para jin jahat, sehingga tiada lagi manusia yang menjadi korban gangguan ataupun dicelakai oleh para makhluk-makhluk dari alam jahat tersebut?
Ayah yang Baik, “Treasure His Own Son & Daughter Life and Happiness, More than His Own Life”—Ibrahim / Abraham BUKANLAH seorang Ayah yang Baik, ia Teladan yang Buruk dan Tercela, seorang Eksekutor yang Mabuk-Bidadari
Question : ibrahim tidak rela berkorban demi kebahagiaan dan keselamatan anak, justru sebaliknya, merampas nyawa dan hidup anak demi EGO sang bapak yang akibat mimpi-basah tergila-gila ingin bersetubuh dengan puluhan bidadari berdada-montok di sorga dengan cara menyembelih leher MILIK ORANG LAIN, bukan leher MILIK IBRAHIM SENDIRI. Itu namanya mengorbankan ORANG LAIN, bukan mengorbankan DIRI SENDIRI. Itu adalah bukti tidak terbantahkan bahwa Ibrahim tidaklah mencintai hidup sang anak, “more than his own life”; namun (justru) sebaliknya, EGOISTIC FATHER. Bahkan ia tidak patut disebut sebagai seorang “ayah sejati”, akan tetapi seorang EKSEKUTOR yang EGOIS!
Ciri Seorang Manusia Sejati Vs. Ciri Seorang Bukan Manusia Sejati
Untuk mengetahui dan mengenali apakah seorang “nabi” adalah orang suci ataukah sebaliknya, seorang “rasul iblis”, lihatlah ciri-ciri hidupnya. Untuk mengetahui dan mengenali apakah sebuah agama adalah agama suci ataukah sebaliknya, agama kotor-jahat-tercela, tengoklah isi ajaran / dogma-dogmanya. Untuk mengetahui apakah suatu kitab adalah “Kitab SUCI” ataukah “Kitab DOSA”, maka cermatilah apakah kitab tersebut mengajarkan gaya hidup higienis dari dosa-dosa maupun maksiat ataukah justru ironisnya mempromosikan dan mengkampanyekan ideologi korup bagi kalangan pendosawan semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”—dimana dosa-dosa pun dikorupsi.
Allah as a Tool of Muhammad, Allah sebagai “Alat
Pemuas Nafsu” Muhammad yang Tergila-gila Kecanduan pada Dosa-Dosa dan Maksiat
Siswa Sang Buddha Condong pada SURGA dan NIBBĀNA Vs. Pengikut Agama Samawi Condong pada NERAKA
Perilaku Rendah dan Hina Semacam “PENGHAPUSAN DOSA”, Pelakunya Condong ke Alam
Rendah HEWAN, SETAN, dan NERAKA
NAFSU, MABUK, TERGILA-GILA, serta KECANDUAN DOSA-DOSA / MAKSIAT, Condong
pada “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”—menjelma BUDAK “AGAMA DOSA” dan
KORUPTOR DOSA dimana Dosa-Dosa pun DIkorupsi
Question : Setelah saya pelajari isi ajaran islam dari sumber otentiknya, yakni alquran dan hadis yang dinyatakan sahih, telah ternyata nabi junjungan para muslim, muhammad, memperalat dan mengeksploitasi allah, dimana allah dengan bodohnya bersedia dijadikan “alat pemuas nafsu” sang nabi yang tergila-gila dan kecanduan pada dosa-dosa dan maksiat. Apakah motivasi banyak penjahat masuk islam, ialah dilandasi motif yang serupa dengan motivasi sang nabi, yakni kecanduan dosa-dosa untuk dihapuskan?
Apakah pernah, Ibrahim berkata : “I treasure him more than my own life, I prefer EXCHANGE HIM WITH MY LIFE” dan Menyembelih Leher Ibrahim Sendiri?
Mengapa Ibrahim Merasa Berhak untuk Meng-KURBAN-kan Nyawa Ismail seolah
Nyawa sang Anak ialah Milik sang Ayah, mengapa Ibrahim Tidak Meng-KURBAN-kan
Nyawa Milik Ibrahim Sendiri?
Question : Hanya karena mengalami “mimpi-basah”, Ibrahim tega menyembelih anak kandungnya sendiri, Ismail, demi impian-liar Ibrahim yang ingin bersetubuh dengan puluhan bidadari berdada-montok di sorga. Menumbalkan nyawa milik orang lain, alih-alih menumbalkan nyawa milik Ibrahim sendiri, demi ego pribadi Ibrahim. Yang tidak saya mengerti, mengapa sosok psikopat haus-darah semacam itu, disebut sebagai “nabi”, bahkan disembah dan dihormati oleh para umat agama samawi, yang mereka rayakan setiap tahunnya, alih-alih merasa malu dan tabu?
Halusinasi Terbesar Umat Agama Samawi : Dosa-Dosa Bisa Dihapus Semudah
Ritual Pengampunan / Penebusan Dosa—Agama bagi para PEMALAS dan PENGECUT
Kesalahan adalah tentang Masa Lampau. Tanggung Jawab adalah tentang Masa Kini dan Masa Depan
Question: Kenapa sih, umat agama samawi tidak bertanggung-jawab saja kepada para korban mereka, justru lebih sibuk ritual doa permohonan pengampunan dosa kepada “Tuhan” yang mereka sembah?
“Nabi Rasul Allah” TIDAK PERNAH MELIHAT SURGA ataupun Melihat Bidadari di Surga
Perihal Persepsi yang Dikotori Imajinasi Subjektif Seseorang
Question: Nabi muhammad sudah punya belasan istri, namun pikirannya sudah selingkuh alias menyeleweng dengan puluhan bidadari di surga, yang katanya ia lihat saat terbang mengunjungi undangan Allah. Apa yang menjadi pandangan Buddhisme, terhadap ajaran agama padang-gurun tersebut yang motivasinya masuk surga ialah untuk bersenggama dengan puluhan bidadari berdada-montok yang selaput-dara-nya dapat didaur-ulang, motivasi yang sama yang menjadi motif dibalik sikap Ibrahim ketika tega hendak menyembelih anak kandungnya sendiri, Ismail?
Mengatasnamakan Ibadah, Muslim Merampas Hak Orang Lain. Bagaimana ketika para Muslim tersebut Tidak Sedang Beribadah dan Tidak Sedang Mengenakan Busana Agamais?
Terlahir di Tengah Komunitas Muslim dan Terpaksa Hidup di Negara Islam,
adalah DUKKHA. Itulah Sebabnya Orang Indonesia yang Pernah Belajar ke Luar
Negeri, cenderung Tidak Mau Kembali ke Indonesia
Tiada yang Lebih Berbahaya daripada ORANG DUNGU : Buat Jahat, namun
Berdelusi Terjamin Masuk Surga
Question: Mengatas-namakan ibadah, para muslim merampas kemerdekaan orang lain dengan memarkirkan kendaraan motornya secara berjejer tepat di depan rumah warga, meski mereka sebetulnya bisa saja dari rumahnya ke masjid dengan jalan kaki, mengakibatkan pemilik atau penghuni rumah tersandera, tidak bisa masuk maupun keluar dari dan ke rumah sendiri. Mengatas-namakan ibadah, para muslim merampas ketenangan hidup orang lain dengan membuat polusi suara berupa speaker pengeras suara yang begitu berisik dan norak, seolah hanya mereka sendiri yang berhak untuk beribadah.
KORUPTOR DOSA, Dosa-Dosa pun Dikorupsi lewat Dogma “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”
Question: Bukti argumentasi apakah yang paling valid tidak terbantahkan, yang dapat membuktikan bahwa agama samawi merupakan “agama dosa”, bukan “agama suci”?
Makna Penghasilan Benar dalam Buddhisme
Merampas Nyawa Makhluk Hidup Lain (Menumpahkan Darah) dan KORUPSI DOSA pun
Disebut “Halal”, Agama yang Meng-Halal-kan Pertumpahan Darah dimana Dosa-Dosa
pun Dikorupsi. Lalu, yang Disebut “Haram”, seperti Apakah?
Penghasilan Benar artinya “EQUAL TRADE”, Pertukaran yang
Setara—Saling Menguntungkan, Simbiosis Mutualisme
Question: Salah satu dari “jalan mulia beruas delapan” yang diajarkan oleh Sang Buddha, ialah “penghasilan benar”. Apa yang sebetulnya dimaksud dengan “penghasilan benar” dalam bahasa yang paling sederhana?
Menjelma menjadi KORUPTOR DOSA adalah Nikmat? Korupsi Dosa Dipandang sebagai “Nikmat” dan “Untung”, Orang BUTA—Mereka TERCELA, Bukan TERPUJI
Question: Bila ada pihak-pihak eksternal maupun internal komunitas Buddhistik yang meng-kritik, bahwa mengapa Agama Buddha justru memiliki slogan “hidup adalah duka”, mengapa tidak seperti agama samawi dengan jargonnya “hidup adalah nikmat” sehingga banyak peminatnya? Dogma ajaran agama samawi selalu mengiming-imingi alam surgawi sebagai tujuan akhir para umat pemeluknya, yang anehnya justru digambarkan penuh kenikmatan-duniawi alih-alih kesenangan non-duniawi ataupun kegembiraan meditatif.
Alih-Alih MENGHAPUS SIFAT BURUK (Memadamkan Api yang Membakar dan Membara), Umat Agama Samawi justru Sibuk Ritual PENGHAPUSAN DOSA (Menyalahkan Asap)
Question: Apakah umat-umat agama nasrani selama lebih dari dua ribu tahun ini tidak ada yang mampu berpikir dengan akal sehat, bahwa yesus mencampakkan dan membuang nyawanya sendiri bagaikan “sampah” yang sama sekali tidak ia hargai. Katanya mampu membuat mukjizat, sakti, namun justru menyerahkan nyawanya saat akan disalib. Jika begitu adanya, bagaimana mungkin kita berdelusi bahwa yesus akan menghargai nyawa-nyawa orang lain dan berharap menolong hidup mereka?
Sang Buddha bahkan Mengajarkan Umat Buddhist untuk Terampil dalam Menguji Watak Asli Allah : Ada Kemarahan, Permusuhan, dan Kebencian ataukah Tiada Kemarahan maupun Kebencian Laten dalam Diri Allah?
Muslim dan Kristen Patuh pada Allah, Bukan karena Cinta ataupun Respek,
namun Takut pada Amarah, Kebencian, dan Ancaman Allah
Muslim dan Kristen Menyukai Allah, Bukan karena Ketiadaan Kebencian dalam
Diri Allah, namun karena Allah Mengobral Dogma “PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”,
bagi “KORUPTOR DOSA” dimana Dosa-Dosa pun Turut Dikorupsi
Allah Sendiri yang Merusak dan Mencoreng Reputasinya, Bukan Kafir. Sang
Buddha telah Membongkar Wajah Asli Allah : MAHA PEMBUAL
Question: Bagaimana cara paling simpel dan sederhana, menghadapi marketing-marketing agama samawi. Mereka itu pemaksa, tapi ketika diajak berdebat maka ucapan mereka selalu tidak nyambung. Apakah ada kalimat ringkas, yang bisa membuat mereka menutup mulut-besarnya, merasa malu sendiri, pergi, dan tidak lagi mengganggu?
Kegigihan artinya,
Tidak bergantung pada motivasi,
Tidak menunggu datangnya
inspirasi,
Tidak mengharap kondisi yang ideal
sempurna,
Juga tidak menyerah pada rasa kantuk ataupun rasa takut.
Buddha Mengajarkan Dhamma Demi Belas Kasih kepada Umat Manusia Vs. Allah Mengumbar Dogma “Penghapusan Dosa” Demi Memuaskan Ego-Narsistik-nya
Question: Godaan terbesar dari setan, adalah kejahatan yang semacam apakah?
NARCISTIC GOD Menciptakan “SELFISH GENE” para Umat Agama Samawi
Question: Tuhannya agama samawi bersikap seolah-olah dunia ini hanya ada planet bernama bumi saja, tidak ada alam semesta bernama galaksi lain, tiada bumi lain yang juga berpenghuni manusia selain bumi ini, karenanya menjadi sempit dan kerdil juga dangkal gaya berpikirnya. Mengapa manusia punya “SELFISH GENE”, apakah karena diciptakan oleh “NARCISTIC GOD” (Tuhan yang narsistik)?
Kata Allah, “Wahai Umat Muslim, mengapa Engkau Mengharamkan Kenikmatan
Duniawi dan Inderawi yang mana PENGHAPUSAN DOSA Saja Halal Hukumnya?”
Jika Semua Dosa dapat Dihapus / Diampuni, maka Semuanya Halal di Mata Agama DOSA—Allah “Maha Zolim”, Menzolimi Kalangan Korban dengan Merampas Hak Korban Atas Keadilan
Question: Dalam pengamatan saya sejauh ini, umat agama samawi terjebak dalam mental “aji mumpung”, yakni “kenikmatan duniawi dan inderawi adalah ciptaan dan pemberian Allah, sehingga mengapa ditolak ataupun diharamkan?” Bukankah itu bertolak-belakang dengan ajaran Buddha bahwa ada bahaya dibalik kenikmatan inderawi sehingga demi kebaikan kita sendiri untuk terasing dari kenikmatan duniawi?