Agama Versi Fantasi, Umatnya justru Mereproduksi Hoax untuk Menutupi Borok Agama yang Ia Peluk dan Yakini

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi

Nabi Pedofil, Buruk Wajah Jangan Cermin Dibelah

Keyakinan yang Berdiri Diatas Fondasi Rapuh Bernama Hoax dan Fantasi yang Menyimpang dari Fakta, Memungkiri Kitab Agamanya Sendiri dan Berbangga Diri dalam Fiksi Rekaan

Question: Apakah akan disebut sebagai menista Agama Islam, jika mengatakan bahwa nabi yang disembah umat Muslim adalah seorang nabi yang pedofil?

Ketika Dizolimi Membalas dengan PEMBUNUHAN, Alasan Pembenar (Justifikasi Kejahatan) yang Tidak Proporsional, Hewanis alih-alih Humanis

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Menzolimi Teriak Dizolimi

BELA DIRI dan MELAKUKAN PERLAWANAN ketika Diancam akan Dibunuh, merupakan Hak Asasi Manusia

Salahkan yang Terlebih Dahulu Mengancam dan Menyerang, Bukan yang Sekadar Bela Diri dan Melawan

Question: Disebutkan bahwa umat Muslim dan nabi mereka hanya sekadar membalas penzoliman yang mereka terima dari kaum nonMuslim. Jika memang betul Muslim telah dizolimi pada saat itu, maka mengapa membalas dengan pembunuhan? Apa iya, para nonMuslim begitu menzolimi kaum Muslim tanpa sebab yang mendahului atau melatar-belakanginya? JIka merujuk sejarah agama-agama di daratan Arab ribuan tahun lampau sebelum Islam lahir, sudah banyak agama-agama di sana sebelum Islam lahir, dan satu sama lain rukun hidup berdampingan antar umat beragama yang majemuk. Pastilah ada sebabnya sehingga para nonMuslim kemudian melakukan perlawanan terhadap kaum Muslim, sehingga siapa yang paling patut dipersalahkan jika sudah seperti itu?

Ketika Tuhan Bermain TEKA-TEKI dengan Umat Manusia, Bukan Salah Manusia bila Manusia menjadi Tersesat akibat Salah Baca dan Salah Tafsir

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi

Question: Semua aksi radikalisme dan ekstremis, terjadi akibat pelaku radikal tersebut yang salah menafsirkan isi kitab agama. Jadi, bukankah mereka sendiri juga merupakan “korban”?

Praktik Pengkurbanan dan yang Dikurbankan dalam Buddhisme, MELEPAS alih-alih MERAMPAS Hak Hidup Makhluk Hidup Lainnya

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi bersama Hery Shietra

Tidak Melakukan Dosa ataupun Kejahatan Apapun, adalah Pengorbanan Tertinggi, Tidak Semua Orang Sanggup Berkorban Diri dengan Tidak Melakukan Dosa ataupun Kejahatan Apapun

Question: Kalau dalam agama Islam ada Idul Adha, hari raya para Muslim yang menyembelih hewan kurban. Bagaimana dengan di Agama Buddha, apakah ada hari raya semacam itu bagi para umatnya?

Pernah Dipecat secara Tidak Hormat, lantas Mengharap Mencari Pegawai yang Bermutu? Kasus Dipecatnya EDDY SANTOSO TJAHJA secara Tidak Hormat karena Eksploitasi / Perbudakan Tenaga Manusia

SENI SOSIAL

Pendosa Tidak Berhak Menceramahi Pendosa Lainnya Perihal Hidup Suci dan Baik

Question: Bukankah lucu jadinya, tidak sukses dalam karir lantas hendak menasehati dan mengajari orang lain tentang cara berbisnis? Ada juga orang yang selalu kalah besar di pasar modal, lalu hendak menulis buku tentang kiat bermain di pasar saham. Apa tidak salah?

Akar Musabab Mentalitas Tidak Bertanggung-Jawab, “BUAT DOSA, SIAPA TAKUT? Ada Penghapusan / Pengampunan Dosa”

SENI SOSIAL

Hanya seorang PENDOSA, yang Membutuhkan Iming-Iming Penghapusan / Pengampunan DOSA, bahkan menjadi Menu Sehari-Hari, Produktif Mencetak dan Menimbun DOSA. Semakin BERDOSA, Semakin Mencandu Penghapusan / Pengampunan DOSA

Tanggung Jawab Vs. Penghapusan / Pengampunan / Penebusan Dosa, Anda yang Manakah?

Question: Mengapa orang-orang bisa begitu tidak bertanggung-jawab atas perbuatan dan perilakunya sendiri (yang telah melukai, menyakiti, maupun merugikan orang lain)? Bukan hanya itu, tidak jarang mereka bahkan lebih sibuk berkelit dan mencari alibi, bahkan “maling teriak maling”, lebih galak ketika ditegur dan dimintakan pertanggung-jawaban oleh korban-korbannya, tidak punya rasa bersalah bahkan tidak tahu malu kepada korban yang telah mereka korbankan, ketimbang secara jantan mengakui perbuatannya, kesalahannya, dan bertanggung-jawab lewat kesadaran pribadi tanpa perlu ditagih, meski mereka mengaku sebagai ber-agama (“agamais”) dan ber-Tuhan?

Bayar Dahulu ataukah Minta Dilayani Dahulu? Johnsen Tannato dan Fenny Imelda, PENIPU Dibalik Modus ATOMY INDONESIA

LEGAL OPINION

Norma Otonom menjadi Hak Prerogatif Tuan Rumah, Tamu yang Bertamu Wajib Patuh secara Hukum maupun secara Etika Sosial

Modus Penipuan dan Eksploitatif “Johnsen Tannato”, Tamu yang Memperkosa Tuan Rumah, bahkan Memaksakan Aturan Main sang Tamu kepada Tuan Rumah

Question: JIka kita menjual jasa dan mensyaratkan pihak-pihak yang meminta pelayanan jasa kami untuk membayar tarif jasa profesi terlebih dahulu, lalu ada calon pengguna jasa yang memaksakan kehendaknya secara sepihak untuk meminta dilayani terlebih dahulu, maka secara hukum aturan milik siapa yang berlaku dan sahih? Belajar dari banyak pengalaman pahit, dimana banyak pengguna jasa yang kabur begitu saja secara tidak bertanggung-jawab setelah menikmati pelayanan jasa yang kami berikan, apa salah jika kami selaku penyedia jasa menetapkan kebijakan “bayar dahulu sebelum calon pengguna jasa berhak meminta dilayani”?

SANG BUDDHA, Pengetahu Segenap Alam

SENI SOSIAL

SANG BUDDHA, Guru Agung bagi para Dewa dan para Manusia

Question: Mengapa sang Buddha disebut sebagai si pengetahu segenap alam?

Menyembelih dan Mengorbankan Anak, Bukanlah Cinta, namun EGO

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi

Akal Sehat Milik Orang Sehat Vs. Akal Sakit Milik Orang Sakit

Jika Anak Sendiri Saja Mau dan Tega Disembelih Demi EGO PRIBADI, apalagi terhadap Orang Lain yang Dikorbankan Demi EGO PRIBADI (Termakan Iming-Iming Masuk Surga dan Bidadari)

Question: Bukankah yang semestinya takut ialah orang-orang yang buat jahat seperti menyakiti kita, melukai kita, ataupun merugikan kita? Namun mengapa yang lebih sering terjadi ialah kita sebagai korban atau calon korban, yang lebih takut disakiti orang-orang jahat itu?

Kaitan antara Kualitas Genetik, Seleksi Alam, dan Survival of the Fittest

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi bersama Hery Shietra

Question: JIka memang penentu bisa lolos atau tidaknya kita sebagai manusia dari “seleksi alam”, ialah faktor genetik manusia masing-masing individu, maka bukankah itu artinya menihilkan peran penting dan arti dibalik sebuah upaya maupun perjuangan? Genetik, seolah-olah kita diasingkan dari hakekat manusia yang berakal-budi, serba mekanistik. Bukankah itu artinya seseorang yang memang punya warisan genetik yang baik dan berkualitas dari ayah-ibu maupun silsilah nenek-moyangnya, sudah “menang” (dan akan lolos dari “seleksi alam”) bahkan sejak masih dalam kandungan dalam rahim ibunya?

ETIKA KOMUNIKASI saat Lawan Bicara notabene Berbeda Agama dengan Kita

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi

Umat Agama yang Rendah EQ-nya, Dicirikan lewat Tiadanya Etika Komunikasi dengan Membawa-Bawa serta Melontarkan Istilah Agama Tertentu kepada Lawan Bicara

Question: Sudah jelas-jelas saya bukan beragama Islam, dan ia tahu itu, mengapa juga ya orang Islam selalu secara sengaja suka bawa-bawa istilah agamanya saat berbicara dengan saya yang jadi lawan bicara ia? Orang-orang Nasrani juga seperti itu, memakai atribut-atribut keagamaan. Mereka suka memakai atribut keagamaan mereka sendiri, seperti kalung berliontin, busana berupa kerudung, dan sebagainya, itu masih bisa kita toleransi sebagai bagian dari ekspresi dan kebebasan berbusana dan beratribut. Namun, yang tidak bisa diberi ruang toleransi ialah ketika mereka berbicara dengan lawan bicara, mengapa mereka tidak punya apa yang disebut sebagai etika komunikasi terhadap orang lain yang berbeda agama? Terlagipula ini adalah Negara Indonesia, bukan Arab, dan kita pun suah punya SUMPAH PEMUDA, mengapa justru kemudian dilanggar oleh bangsa kita sendiri?

Bulan Penuh Berkah bagi para PENDOSA, Disaat Bersamaan merupakan Bulan Penuh Kabar Buruk bagi KORBAN

SENI PIKIR & TULIS

Menista (Perilaku) UMAT, Tidak dapat Dipidana. Menista UMAT Vs. Menista AGAMA, Dua Hal yang Berbeda Domain

Yang Paling Hebat adalah Orang-Orang yang Berpuasa BUAT DOSA, bukan Mereka yang Berpuasa dari Anti Minta Ampuni Dosa-Dosa (alias Umbar Pengampunan Dosa, Nafsu Itu Sendiri)

Bila tujuan dibalik puasa bukan untuk latihan pengendalian diri maupun dari praktik “korup” semacam pengampunan dosa, maka itu adalah praktik umbar pengampunan dosa dimana menjadi pesta-pora akbar bagi para pendosa, sekaligus disaat bersamaan menjadi mimpi buruk bagi para korban dari para pendosa tersebut. Mengapa juga agama samawi menggambarkan versi Tuhan yang lebih PRO terhadap pendosa alih-alih berpihak kepada korban-korban dari para pendosa tersebut? Berpuasa yang sejati, ialah untuk melatih dan meningkatkan kesucian diri, bukan justru meminta pengampunan dosa (otak picik, licik, dan korup yang mengemuka).

Tes SQ (Spiritual Queotient, Kecerdasan Spiritual) Anda Disini, Keyakinan yang Berstandar-Ganda

SENI JIWA

Pertanyaan bagi para Muslim, Mohon Klarifikasi dan Dijawab

Diluar Agama Islam, Semuanya Serba Salah, Sesat, dan Jahat

Apapun yang Mengatasnamakan Islam, Semuanya Serba Benar, Lurus, dan Suci

Sering penulis menuturkan, tingkat SQ seseorang berkorelasi erat dengan tinggi atau rendahnya IQ masing-masing individu. Dalam “test case” berikut di bawah ini, kita akan bersama-sama menguji level atau tingkat SQ Anda, sebagai sebuah “self test”, sekaligus bahan renungan betapa suatu kaum tertentu kerap mengatas-namakan agama untuk menjustifikasi apapun, tidak terkecuali sebagai pembenaran diri untuk perbuatan yang keliru dan tidak dapat dibenarkan secara etika maupun secara moril.

Selama ini, para umat Agama Islam, para Muslim, kerap menampilkan citra sebagai “pahlawan moral”, yang pula merasa berhak untuk menghakimi serta main hakim sendiri (persekusi). Mereka, para Muslim tersebut, menyerukan bahwasannya mencuri harus dipotong tangan, berselingkuh atau berzina harus dirajam hukumnya, anti maksiat, melawan dosa dan menjunjung kesucian, cinta damai, anti kekerasan, anti pemaksaan berkeyakinan (“agamamu agamamu, agamaku agamaku”), melawan penzoliman terlebih perbudakan, tidak membenarkan perampokan, tidak membenarkan ketidak-adilan, dan klaim-klaim lainnya.

Sekarang, mari kita masuk pada bahasan tes secara sederhana saja, untuk melihat sendiri betapa Anda adalah seseorang yang “subjektif” ataukah seseorang yang mampu bersikap “objektif”, dengan sesederhana melabel apakah ajaran-ajaran di bawah ini sebagai lurus, baik, dan benar; ataukah sebaliknya, sesat, bengkok, serta jahat:

- A bertanya kepada R, mengapa suaminya menyembah malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Tuhan telah mengampuni dosa R baik yang dulu maupun yang akan datang? Rmenjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”

- ‘Dan (diharamkan bagi kamu mengawini) wanita yang bersuami kecuali budak-budak yang kamu miliki. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari Isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina.’

- U, rekan M terusik dengan apa yang dilihatnya. “U mendekati Batu Hitam dan menciumnya serta mengatakan, ‘Tidak diragukan lagi, aku tahu kau hanyalah sebuah batu yang tidak berfaedah maupun tidak dapat mencelakakan siapa pun. Jika saya tidak melihat Utusan Tuhan mencium kau, aku tidak akan menciummu.”

- “Aku mendengar dari Nabi, beliau bersabda: “J menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Tuhan dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina.”

- Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan 'TIDAK ADA TUHAN SELAIN A DAN BAHWA M RASUL TUHAN, menghadap kiblat kami, memakan sembelihan kami, dan melakukan shalat dengan kami. Apabila mereka melakukan hal tersebut, niscaya kami diharamkan MENUMPAHKAN DARAH dan MERAMPAS HARTA mereka.”

- Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Tuhan dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Tuhan  dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Tuhan), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah (upeti) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.

- Perangilah mereka, niscaya Tuhan akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Tuhan akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.

- Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahannam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.

- Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu; dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di M, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir. [Balas dizolimi dengan pembunuhan]

- Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Tuhan dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.

- Ingatlah, ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang telah beriman”. Kelak aku akan jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka PENGGALLAH KEPALA MEREKA dan PANCUNGLAH TIAP-TIAP UJUNG JARI MEREKA.

- Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. [Sebagai bukti, selama ini kaum mana dan siapa yang lebih suka menyerang, alih-alih yang dizolimi. Bagaimana mungkin, yang diserang justru yang sembunyi-sembunyi mengintai dan mengepung, sebelum kemudian menangkapi orang-orang untuk dibunuh?]

Umat agama manapun, atau siapapun itu, tidak terkecuali para Muslim, akan secara kompak an koor menyatakan bahwa ajaran-ajaran di atas merupakan ajaran sesat karena merupakan “Agama DOSA” dari “Kitab DOSA”—semata karena alih-alih mempromosikan gerakan kemanusiaan yang humanis, justru mengkampanyekan pembunuhan, pertumpahan darah, haram, peperangan, maksiat, perampasan, perbudakan, dan segala dosa lainnya, bahkan ajakan atau seruan untuk “BUAT DOSA? SIAPA TAKUT?!”, dimana juga hanya seorang pendosa yang membutuhkan iming-iming “korup” penuh kecurangan semacam pengampunan dosa yang sifatnya “too good to be true”, sekaligus “kabar baik” bagi para pendosa dan disaat bersamaan menjadi “kabar buruk” bagi korban-korban para pendosa tersebut; yang alih-alih memberi keadilan bagi korban justru dosa-dosa para pendosa yang dihapuskan, insentif dan dis-insentif yang tidak sesuai tempatnya.

Gaibnya, ketika segala sesuatunya dikaitkan, diberi merek “Made in Islam” atau mengatas-namakan Agama Islam, maka semua kelakuan umat Muslim maupun ajaran agamanya disebut sebagai “halal”, baik, lurus, suci, damai, mulia, agung, luhur, dan segala puja-puji “lip service” lainnya. Padahal, kesemua kutipan ayat-ayat di atas merupakan ayat-ayat “generik” yang disadur dari kitab Agama Islam, dengan kutipan aslinya sebagai berikut:

- HR Bukhari Muslim : Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”

- QS An-Nissa 25 : ‘Dan (diharamkan bagi kamu mengawini) wanita yang bersuami kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari Isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina.’

- Sahih al-Bukhari, Volume 2, Buku 26, Nomor 680 : Umar bin al-Khattab, rekan Muhammad terusik dengan apa yang dilihatnya. “Umar mendekati Batu Hitam dan menciumnya serta mengatakan, ‘Tidak diragukan lagi, aku tahu kau hanyalah sebuah batu yang tidak berfaedah maupun tidak dapat mencelakakan siapa pun. Jika saya tidak melihat Utusan Allah mencium kau, aku tidak akan menciummu.”

- Shahih Bukhari 6933 : “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Ghundar telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Washil dari Al Ma’rur berkata, “Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina.”

- Hadist Tirmidzi Nomor 2533 : Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan 'TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN BAHWA MUHAMMAD RASUL ALLAH', menghadap kiblat kami, memakan sembelihan kami, dan melakukan shalat dengan kami. Apabila mereka melakukan hal tersebut, niscaya kami diharamkan MENUMPAHKAN DARAH dan MERAMPAS HARTA mereka.”

- QS 9:29. Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah (upeti) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.

- QS 9:14. Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.

- QS 66:9. Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahannam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.

- QS 2:191. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir. [Balas dizolimi dengan pembunuhan, itukah keadilan dan kedamaian dalam islam?]

- QS 5:33. Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.

- QS 8:12. Ingatlah, ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang telah beriman”. Kelak aku akan jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka PENGGALLAH KEPALA MEREKA dan PANCUNGLAH TIAP-TIAP UJUNG JARI MEREKA.

QS 9:5. Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. [Sebagai bukti, selama ini kaum mana dan siapa yang lebih suka menyerang, alih-alih yang dizolimi. Bagaimana mungkin, yang diserang justru yang sembunyi-sembunyi mengintai dan mengepung, sebelum kemudian menangkapi orang-orang untuk dibunuh?]

Secara tidak konsisten, para Muslim yang semula menyatakan menolak maksiat, anti kekerasan terlebih pembunuhan dan pertumpahan darah, mengklaim “cinta damai”, mengumandangkan hanya kesucian (suciwan manakah yang butuh pengampunan dosa?), Tuhan yang “Maha Adil” (namun lebih PRO terhadap pendosa dengan menghapus dosa-dosa para pendosa dimana disaat bersamaan membiarkan korban hanya dapat “gigit jari” dan terus bertumbangan menjadi “mangsa empuk” kebengisan para pendosa), pelaku zina harus dihukum rajam, mencuri harus dipotong tangannya, tiada pemaksaan keyakinan (namun ekstrem intoleran dan radikal menjadi perintah Tuhan umat Islam, sehingga sama artinya umat Muslim mencoba membangkang dan membantah perintah Tuhan yang mereka sembah sendiri), rahmatan bagi semesta (namun tidak melarang praktik perbudakan, bahkan “budak seksuil” di-halal-kan), mengharamkan dosa (namun disaat bersamaan meng-halal-kan penghapusan dosa), dimana adalah absurd seorang pendosa hendak menyebut atau memandang dirinya sebagai seorang suciwan terlebih hendak berceramah perihal hidup suci, baik, luruh, bersih, dan mulia.

Namun bagai menerapkan “standar ganda” (praktik “mau menang sendiri”), segala sesuatu yang diembel-embel sebagai Agama Islam, atau ketika para umat Muslim mengatas-namakan Agama Islam, maka (seolah-olah) apa yang semula mereka “haram”-kan, kini (secara mendadak) menjelma suci dan “halal”? Contoh, ketika para Muslim mengatas-namakan hendak beribadah atau melayat, mereka merasa berhak untuk merampas kemerdekaan warga pemilik rumah dengan parkir liar tanpa izin warga pemilik rumah, persis di depan pagar secara berjejer sehingga pemilik rumah dan anggota keluarganya tidak dapat keluar ataupun masuk dari dan ke dalam kediamannya sendiri selama berjam-jam, tidak terkecuali menutup jalan (milik) umum. Sebaliknya, ajaran agama lain yang selama ini mereka “kafir-kafirkan” semata karena berbeda keyakinan, sekalipun baik adanya karena hanya mempromosikan kebaikan dan jalan hidup yang luhur serta mulia, tetap saja secara membuta mereka stigma sebagai “kafir”, “haram”, dan “sesat” untuk mereka musuhi, benci, dan perangi.

Menjadi jelaslah kini, untuk memiliki tingkat SQ paling minimum, seseorang harus setidaknya memiliki level IQ yang memadai. Mustahil seseorang “cerdas” dari segi IQ namun “bodoh” dalam segi SQ maupun EQ, ataupun sebaliknya “cerdas” dari segi SQ namun “bodoh” dalam segi IQ maupun EQ. Yang ada dan yang hanya mungkin terjadi, ialah dua kemungkinan berikut : “cerdas” dalam aspek IQ, EQ, dan SQ; atau sebaliknya, “bodoh” dalam aspek IQ, EQ, maupun SQ. Karenanya pula, adalah terlampau dipaksakan peng-kotak-kotak-kan tiga jenis kecerdasan, seolah-olah satu aspek tertentu bisa jadi “cerdas” namun dua aspek lainnya “bodoh”. Hanya dua kemungkinan yang valid, yakni : jika seseorang tidak dapat disebut sebagai “cerdas”, maka ia adalah “bodoh” adanya.

Zolim namun Teriak Dizolimi, sebagai Alasan Pembenar untuk Bersikap Radikal Membunuh, sebuah Modus

SENI JIWA

Pertanyaan bagi para Muslim, Mohon Klarifikasi dan Dijawab

Sekalipun memang benar telah dizolimi, namun apakah artinya sampai harus membalas dengan sebuah pertumpahan darah, korban jiwa, bahkan hingga pembunuhan? Senggol dikit, bunuh. Singgung dikit, bunuh. Sikut dikit, bunuh. Sungguh pendek “sumbu”-nya, dimana segala sesuatu diselesaikan dengan kekerasan fisik, bahkan pembunuhan untuk membungkam segala sesuatu yang bersifat majemuk atau berbeda. Segala sesuatu, mengatas-namakan agama sebagai alibi untuk perbuatan-perbuatan tercela seperti “parkir liar” (itu sedang dalam rangka beribadah, bagaimana ketika mereka tidak sedang beribadah dan tidak sedang memakai busana agamais?), mengait-kaitkan dengan agama, menjadikan ayat-ayat keagamaan sebagai justifikasi untuk melakukan perbuatan tercela, bahkan mengeluhkan praktik ibadah kaum agama tertentu yang menimbulkan “polusi suara” dipandang sebagai “menista toa speaker pengeras suara = menista agama”.

Anda Pikir Diri Anda adalah Tuhan, yang Merasa Berhak Mencobai atau Menguji Orang Lain?

SENI SOSIAL

Untuk Anak Sendiri, Kok Dicoba-Coba?!

Kampanye Gerakan SAYANG ANAK (maka juga) SAYANG UMAT MANUSIA

Question: Sering dibuat gerah juga geram, betapa tidak, orang-orang kerap membuat saya kesal, dengan alasan sedang menguji kesabaran saya. Mereka pikir diri mereka itu siapa, merasa berhak menguji kesabaran orang lain tanpa diminta? Siapa juga yang suka diuji-uji kesabarannya, lantas seolah untuk itu mereka berhak bertindak seenaknya terhadap diri kita, kemudian masih pula men-cap (memberi label) sebagai tidak lulus ujian kesabaran. Siapa juga yang mau dan yang berhak membuat standar kesabaran.

Jika mau tuntut orang agar lapang dada dan berbesar hati juga penuh kesabaran, sesabar mayat yang hanya bisa diam terbujur kaku disakiti seperti apapun, mengapa tidak mereka tuntut diri mereka sendiri saja alih-alih menuntut orang lain untuk bersikap sabar terhadap mereka? Mereka sendiri ternyata tidak punya kesabaran terhadap orang lain maupun kepada diri mereka sendiri, namun masih juga menuntut orang lain untuk bersikap sabar terhadap mereka.

Siapa yang paling Perlu Belajar HAM, Hak Asasi Manusia?

SENI SOSIAL

Agama DOSA (Kitab DOSA) Vs. Konsep Hak Asasi Manusia Vs. Disiplin Moralitas, yang manakah Anda?

Question: Siapa saja, yang perlu memelajari dan memahami ajaran tentang konsep hak asasi manusia?

Lebih Enak jadi Buddhist, Umat Agama Buddha

SENI PIKIR & TULIS

Hidup Berdampingan dengan para PENDOSA, Nyamankah Anda?

Umat Buddhist sejati, dicirikan oleh wataknya yang damai dan hening (tidak suka merampas hak-hak orang lain, terutama tabiat anti kekerasan, ahimsa), tidak mudah tersulut emosi ataupun “kesetanan” dan sedikit-sedikit “main hakim sendiri” (kekerasan fisik seperti menganiaya, merusak, menghancurkan, membakar, bahkan hingga membunuh) ketika baru sedikit disinggung atau merasa tersinggung (pendek “sumbu”-nya). Umat Buddhist sudah cukup bahagia dengan hidupnya, tanpa perlu merampas hak-hak pihak lain, karenanya lebih damai, lebih hening, dan lebih penuh kepuasan hidup, karenanya tidak mudah “mabuk” harta maupun “kesetanan” (tersulut untuk menganiaya orang lain).

Ciri Bangsa yang PENGECUT Sekaligus PEMALAS

SENI PIKIR & TULIS

Manusia adalah MAKHLUK YANG IRASIONAL

Betapa Tidak, Sebagian Diantara Kita PELIT dan KIKIR dalam Menanam Benih Karma Baik, Menyia-Nyiakan Kesempatan Berbuat Kebajikan yang Dibiarkan Lewat Begitu Saja di Depan Mata, dan Disaat Bersamaan Tidak Takut Berbuat Dosa untuk Dipetik Sendiri Konsekuensinya

Banyak kesempatan untuk berbuat baik yang sejatinya selalu muncul di hadapan kita, namun lebih banyak disia-siakan dan tidak dihargai berbagai kesempatan berharga tersebut yang justru biarkan lewat berlalu secara begitu saja, bahkan mengganggapnya sekadar sebagai gangguan semata untuk secepatnya disingkirkan—akibat kebodohan batin yang begitu tebal menutupi mata. Banyak diantara masyarakat kita di Indonesia, sebagai fenomena sosial atau memang sudah menjadi kultur, bersikap seolah-olah “sok sibuk”, namun waktu dan kehidupan mereka ternyata hanya diisi oleh kegiatan-kegiatan tidak produktif disamping kesibukan “sok sibuk” itu sendiri. “Sok sibuk” untuk “sok sibuk”, gejala khas fenomena sosial masyarakat urban yang telah menjadi kultur tersendiri di tengah masyarakat kita.

Sebagai salah satu contohnya, meski bukan baru satu atau dua kali penulis alami di Indonesia, sebagai pecinta kegiatan berjalan kaki dalam kegiatan sehari-hari dari dan menuju rumah, seorang pemuda pengendara kendaraan bermotor roda dua dari arah belakang mengklakson penulis dengan demikian keras, seolah-olah jalan umum tersebut adalah miliknya—jika berani, berjalan kaki alih-alih dengan malasnya menaiki kendaraan dan menikmati subsidi bahan bakar minyak dari pemerintah—lalu melewati penulis yang hanya dapat berdiri terperangah, dengan laju kendaraan yang dikemudikan olehnya secara mengebut. Mungkin orang yang sangat amat sibuk, sehingga mengemudi bagai “kesetanan”.

Penulis melanjutkan perjalanan, dan alangkah terkejutnya ketika lima puluh meter kemudian penulis mendapati sang pengendara ternyata hanya sibuk kumpul-kumpul bersama teman-teman pergaulannya di sebuah warung sekadar untuk urusan “tetek-bengek” berupa ngobrol “ngolor-ngidul” yang tidak berfaedah juga tidak produktif. Tetap saja, ia berdelusi bahwa dirinya adalah orang penting, orang super sibuk yang lebih penting daripada warga lainnya. Dalam kejadian terpisah, saat penulis masih sebagai seorang mahasiswa, ruang perkuliahan di kampus pada suatu ketika dikunjungi oleh seorang mantan mahasiswa pada kampus tersebut, yang kini menempuh program studi lebih lanjut di luar negeri, dan sedang mengumpulkan data di Indonesia untuk keperluan disertasinya, dengan subjek responden pengisi kuesionernya ialah para mahasiswa.

Sang tamu memohon kesediaan para mahasiswa yang telah bubaran kuliah (pukul telah menunjukkan tiada kelas perkuliahan lain, karena telah menjelang sore hari) untuk menjadi sukarelawan sekadar merelakan beberapa menit mengisi kuesioner yang telah disediakan untuk kepentingan kelulusan program studi doktoral sang tamu. Namun, dari sekian banyak mahasiswa, hanya segelitir diantaranya yang bersedia untuk meluangkan sedikit waktu untuk membantu sang tamu, itu pun atas ajakan penulis agar kawan-kawan satu angkatan dengan penulis tidak lekas pulang dan mengikuti kegiatan “sosial” ini—sekalipun, penulis mengetahui betul tabiat setiap kawan-kawan kuliah, mereka segera lekas keluar ruang perkuliahan bukan untuk belajar ataupun kegiatan penting lain, namun sekadar untuk mengobrol dan kegiatan yang sekadar membuang-buang waktu secara tidak produktif.

Demikian egoistik dan individualis-nya masyarakat perkotaan kita di Indonesia, dimana rasanya lebih berjiwa sosial masyarakat di negara-negara Barat yang kerap menjadi sumber penelitian para peneliti untuk dijadikan sukarelawan responden, sehingga banyak publikasi ilmiah diterbitkan oleh para peneliti di Barat. Dalam kasus kejadian di ruang perkuliahan di atas, sukarelawan sekadar dimintai pertolongan mengisi kuesioner, itu pun hanya memakan sekian menit, tidak sampai setengah jam mengisinya, tidak sampai harus diuji eksperimen dengan alat-alat sensor di sekujur tubuh atau eksperimen lainnya seperti dimasukkan ke dalam tabung uji. Itulah sebabnya, betapa minimnya hasil-hasil penelitian di Indonesia.

Kesempatan berbuat baik yang ada di depan mata, namun disia-siakan dan dibiarkan berlalu begitu saja seolah tidak memiliki nilai ataupun harga untuk dihargai sebagai sesuatu yang amat bernilai untuk diperjuangkan dan berlomba-lomba untuk diraih. Begitu banyak kesempatan baik mengalir di hadapan kita, namun banyak diantara kita yang membutakan mata serta telinga mereka sendiri, akibatnya kurangnya kepekaan serta minimnya kepedulian. Mereka mengaku ber-EQ tinggi, klaim mana semata karena mereka merasa memiliki lingkungan pergaulan yang luas untuk berbagi kesenangan konyol yang kadang tidak sehat serta tidak produktif, namun perihal “empati” mereka justru amat sangat memprihantinkan disamping tidak dapat diandalkan.

Salah satu kesempatan paling melimpah untuk berbuat kebajikan, ialah bersikap sabar ataupun penuh kesabaran, toleran, kompromistis, kesediaan untuk mengalah, merelakan sedikit waktu kita (berdana waktu), pengertian serta kepedulian, berempati, turut bersimpati dan prihatin, dan welas asih kepada sesama maupun kepada semua makhluk hidup—salah satu gradasinya, ialah dengan tidak bersikap seolah “sok sibuk”, meski entah apa yang mereka sibukkan selama ini, dan apakah ada yang lebih pantas disibukkan daripada menabung modal hidup berupa menanam benih-benih Karma Baik untuk kita petik sendiri manis buahnya dikemudian hari saat benih tersebut ranum? Orang-orang yang lebih cenderung abai atas nasibnya sendiri di masa mendatang, tergolong sebagai orang-orang yang “egoistik terhadap diri mereka sendiri”—mereka bahkan tidak punya atau miskin kesabaran terhadap diri mereka sendiri.

Manusia dapat menjelma makhluk yang demikian irasional, manusia sebagai “makhluk irasional”. Berikut ini kisah favorit penulis berisi pengalaman pribadi yang kerap mengalami sendiri secara langsung dikeseharian menghadapi tingkah para pengendara kendaraan bermotor kita di Tanah Air, pada ruas jalan manapun itu di perkotaan. Sebagai seorang pejalan kaki, yang harus memberanikan diri dan menguatkan diri berletih-letih untuk sampai tujuan, disamping teriknya panas matahari, beceknya jalanan yang penuh lubang, guyuran hingga derasnya limpahan air hujan, disembur asap knalpot yang panas dan tajam oleh knalpot kendaraan yang melintas di depan mata, sengatan serangga yang tidak terduga, hingga ancaman mata yang berpotensi tergores oleh rerantingan yang tumbuh menjalar hingga ke bahu jalan, alih-alih dihargai dan dihormati, atau setidaknya diperlakukan secara manusiawi sebagai sesama manusia, namun diperlakukan bak kasta paling rendah yang oleh para pengedara kendaraan bermotor, yang mana lagi-lagi beralasan sedang “(sok) sibuk”.

Sebagai seseorang yang lebih kerap berjalan kaki ketika berada di luar rumah, penulis mengalami fenomena “sok sibuk” masyarakat perkotaan kita bukan hanya dilakoni para pengendara kendaraan bermotor roda dua, namun juga pengendara sepeda, pengendara mobil, apapun latar belakang gender, tingkat ekonomi, maupun umur—meski tidak semua warga perkotaan di Indonesia bersikap demikian, tanpa bermaksud menggeneralisir ataupun menghakimi. Mereka dengan tidak sabar akan seketika itu juga membunyikan klakson, atau membentak penulis seolah-olah mereka hendak mengejar pesawat yang hendak lepas landas. Begitu tipis daya lenting toleransi mereka, bersumbu pendek, betapa miskin kesabaran mereka, meski mereka sejatinya bisa menanam banyak kebajikan dengan memanfaatkan berbagai kesempatan berbuat bajik semudah bersikap sabar dan bersabar, penuh kesadaran dan kesabaran.

Jangankan mengharap mereka untuk mampu dan mau menanam Karma Baik yang lebih besar dan lebih hebat, bila untuk hal-hal “kecil” (tanpa bermaksud menyepelekan perbuatan baik sekecil apapun itu bentuknya) seperti kesempatan untuk menanam Karma Baik lewat kesabaran yang mudah kita jumpai momentumnya di keseharian, mereka abaikan dan sia-siakan seolah tidak berharga sama sekali. Semua hal dimulai dan dibiasakan dari hal-hal “kecil”—tanpa bermaksud menyepelekan nilai berharga dibalik sebuah kebaikan, sekecil apapun—seperti bersikap sabar. Menanam kesabaran, berbuah kesabaran. Kesabaran, sekecil apapun, tetap saja manis buah Karma yang akan kita petik. Menanam ketidak-sabaran, berbuah ketidak-sabaran.

Penulis menjalankan sendiri apa yang penulis ajarkan. Setiap kali ada kesempatan berbuat baik, sekecil apapun itu, tidak penulis remehkan. Harga pengorbanan yang kita ambil sangatlah murah dan mudah, cukup bersikap sabar tidak sampai hitungan belasan ataupun puluhan menit. Semisal mengalah di jalan, membiarkan pengguna jalan lain terlebih dahulu lewat, bersikap sabar dengan memperlakukan orang lain dan pengguna jalan lain sebagai seorang manusia yang dimanusiakan—bersikap manusiawi dan penuh welas asih—bahkan hal-hal sederhana semisal bersikap hangat dengan menyampaikan sapaan “selamat pagi” disertai senyum penuh apresiasi kepada petugas kebersihan yang sedang menyapu dan membersihkan taman umum atau ketika mereka menyapu daun-daun yang berguguran di pinggir jalan ataupun di fasilitas umum lainnya di pagi hari.

Ketika Anda bertugas sebagai seorang petugas kasir pada suatu minimarket ataupun swalayan, mungkin Anda berpikir bahwa pelayanan secara biasa-biasa saja tidak membawa banyak arti bila melayani konsumen ataupun pelanggan dan pengunjung dengan hati dan antusiasme berupa kehangatan, keramahan, serta kepedulian disamping senyum dan empati. Namun mohon untuk tidak bersikap “buang-buang kesempatan” seperti demikian. Kita dapat berbuat “plus” dengan menambahkan suatu nilai tambah berupa kebaikan dalam setiap tugas, peran, maupun eksistensi kita selaku sesama warga maupun ketika kita sedang beraktivitas dan bekerja.

Semisal dalam contoh seorang petugas kasir, kita bisa memanfaatkan kesempatan dengan bersikap (menanam benih) ramah, hangat, dan bersahabat, semata agar kelak kita sendiri yang memetik buah manisnya keramahan, kehangatan, serta sikap bersahabat orang lain kepada kita. Banyak Aparatur Sipil Negara kita yang terjebak dalam mentalitas kerdil, bahwa bekerja “melayani” publik secara standar saja, atau bahkan secara tidak optimal, tidak ada ancaman apapun bagi karir jabatannya, sehingga untuk apa merepotkan diri melayani dengan penuh antusias, empati, bertanggung-jawab, keramahan, kehangatan, kepedulian, maupun nilai plus lainnya? Zona nyaman, sungguh melenakan, sekaligus menjebak mereka yang selama ini duduk pada kursi Pegawai Negeri Sipil.

Kita hendaknya memperlakukan atau berbuat kepada orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang lain. Bila Anda tidak ingin diintimidasi lewat klakson atau pengeras suara kendaraan, maka bersikaplah sabar seperti menghormati hak seorang pejalan kaki untuk turut melintas di jalan umum. Bila Anda tidak ingin jalan Anda dihalangi, maka jangan rampas hak-hak pengguna jalan atas jalan milik umum seperti tidak menggelar hajatan dengan memakai jalan (milik) umum—bukan milik pihak warga setempat yang menggelar hajatan.

Bila kita tidak ingin dilayani oleh petugas yang “dingin” dan minim kepedulian, maka jadilah pribadi yang hangat serta penuh kepedulian, jika perlu disertai empati dan penuh pengertian ketika melayani pihak konsumen / pengunjung. Kita selalu memiliki banyak kesempatan untuk menanam benih-benih Karma Baik, yang kelak kita sendiri warisi dan petik. Sehingga, bukan pada tempatnya kita bersikap egoistik kepada diri kita sendiri, mengingat kita sendiri yang menanggung konsekuensi dibalik setiap “aksi” kita, cepat atau lambat akan berbuah “reaksi”.

Sebagai sesama pengguna jalan yang saling berbagi ruang gerak, tidak semestinya kita merampas hak pengguna jalan yang lain, karena setiap warganegara sama derajatnya di mata hukum serta memiliki hak yang sama terhadap jalan (milik) umum. Merampas hak orang lain, merupakan kata kerja (verba, Karma), karenanya akan memiliki konsekuensi berupa buah Karma diperlakukan sebagaimana ia memperlakukan orang lain, yakni akan dirampas haknya oleh pihak lain lagi. Sehingga untuk apa, kita bersikukuh mencoba mencurangi hidup ini seolah-olah Hukum Karma membuka ruang celah bagi Anda untuk berbuat curang dan mencurangi kehidupan?

Pengguna jalan yang berjalan secara melawan arus, baik itu pengendara kendaraan bermotor roda dua, pengguna sepeda, tidak terkecuali sesama pejalan kaki, yang alih-alih berjalan pada haknya di lajur kiri, mereka justru berjalan pada lajur kanan dimana penulis yang merupakan pejalan kaki yang sekadar menggunakan hak untuk berjalan bebas dari gangguan “pelawan arus” manapun, dari sekian banyak kasus dan pengalaman langsung yang penulis alami, seratus persen dari total pelawan arus tersebut bersikap arogan dimana lebih galak daripada penulis yang dikorbankan haknya sekalipun mereka yang berbuat keliru tanpa rasa malu ataupun rasa bersalah telah melintas secara melawan arus, bahkan penulis pula yang harus mengalah bergeser ke badan jalan dengan resiko potensi tertabrak pengendara kendaraan bermotor dari arah belakang—mengapa juga, mereka yang melanggar aturan lalu-lintas dengan melintas secara melawan arus, namun penulis pula yang telah dikorbankan serta selaku korban yang harus mengalah dan membuat diri sendiri berpotensi tertabrak kendaraan dari arah belakang yang juga kebetulan melintas? Mereka yang melawan arus, namun orang lain yang patuh hukum dan sekadar menggunakan haknya yang harus mengalah, dirugikan, dan berpotensi celaka akibat perbuatan egoistiknya merampas hak pengguna jalan lainnya.

Menjadi jelas, bahwa mentalitas bangsa Indonesia belum mengenal apa yang disebut sebagai kultur “rasa malu” dan “rasa takut” berbuat jahat ataupun keliru. Betapa tidak, motto atau semboyan favorit bangsa “agamais” di republik ini ialah sebaliknya, kontras dengan itu, yakni : “BUAT DOSA? SIAPA TAKUT!”—semata-mata mereka telah menjadi pelanggan tetap yang setiap hari dan setiap tahunnya mengonsumsi iming-iming “penghapusan / pengampunan dosa” maupun “penebusan dosa”, dimana “merugi sendiri” menjadi korban atau dikorbankan, dan juga adalah “RUGI” bila tidak menjadi seorang penjahat ataupun pendosa. Mengapa mereka justru bangga, bersikukuh, tanpa malu serta tanpa rasa takut, secara arogan berbuat buruk dan tercela dengan merampas hak-hak orang lain dimana bahkan korban adalah justru pihak yang patuh terhadap hukum seolah-olah tidak punya hak dan seolah-olah hanya pelakunya yang punya hak?

Inilah bagian kisah yang paling lucu sekaligus yang paling irasional dari perilaku pengendara kendaraan bermotor, sebagaimana selalu penulis alami sebagai pejalan kaki yang berjalan kaki di ruas jalan mana pun di Kota Jakarta, Indonesia. Para pengendara tersebut, entah roda empat ataukah roda dua, mengklakson pejalan kaki secara tidak manusiawi. Perlakuan mereka terhadap sesama manusia, yang notabene makhluk hidup, penuh ketidaksabaran dan arogansi, tanpa welas-asih. Mereka begitu tampak “sok sibuk”, tanpa rempati bersikap tega mengklakson pejalan kaki dan memacu kendaraannya secara cepat, seolah pejalan kaki tidak memiliki hak atas jalan tersebut dan hanya menghalangi jalan “milik” mereka.

Namun, tidak sampai berjarak dua ratus meter di depan, terdapat motor ataupun motor yang dalam kondisi terparkir di sisi jalan kiri tersebut, sehingga hanya menyisakan satu ruas / lajur jalan yang berlawanan arah. Gaibnya, para pengendara yang sebelumnya dengan entengnya mengklakson pejalan kaki, ketika menemui adanya kendaraan bermotor yang diparkir atau dalam kondisi terparkir pada ruas jalan di depan mereka, mereka tidak mengklaksonnya, seketika dengan penuh kesabaran melambatkan laju kendaraan, “mendadak alim”, bahkan berhenti sama sekali, menunggu ada kesempatan untuk melaju di lajur kanan ketika tiada lagi yang melintas kendaraan dari arah berlawanan.

Terhadap benda mati seperti kendaraan bermotor yang diparkir di jalan, para pengendara tersebut bisa sangat toleran, penuh kesabaran, kompromistis, penyabar, dan santun. Namun, terhadap pejalan kaki, yang notabene sesama manusia, sesama warga dari negara yang sama, sesama makhluk hidup, para pengendara tersebut menampilkan wajah dan watak demikian intoleran, bak penjajah, merendahkan martabat, tidak penyabar, tidak sabaran, jahat, tidak berwelas-asih, keji, jahat, bahkan pernah terjadi pengendara tersebut lebih memilih menabrak penulis selaku pejalan kaki—sehingga kaki penulis mengalami memar luka, itu pun pelaku penabrak yang menyalahi penulis selaku korbannya, seolah-olah jalan umum hanya monopoli milik pengendara—ketimbang menabrak motornya kepada pengendara lain yang duduk diam di atas kendaraan bermotor miliknya yang diparkir secara liar di pinggir jalan dan memakan bahu jalan.

Irasonal atau kegilaan serupa tampak dalam kondisi sebangun, dimana pada lajur kanan terparkir kendaraan roda empat, sehingga hanya menyisakan lajur sebelah kiri. Gilanya, ketika penulis hendak melintas, masih sebagai seorang pejalan kaki, seorang pengedara kendaraan bermotor roda empat dari arah belakang mengklaksoni penulis, seolah-olah penulis tidak berhak atas jalan milik umum tersebut, sekalipun sang pengemudi tidak berlelah-letih dan cukup duduk manis untuk bisa tiba lebih cepat daripada pejalan kaki, namun masih juga dikuasai oleh keserakahan, “abuse of power” berupa bumper mobil yang terbuat dari besi (“banteng besi sang penanduk manusia”), justru memperlakukan penulis selaku makhluk hidup sesama manusia tidak lebih manusiawi ketimbang perlakuan sang pengemudi terhadap mobil (benda mati) yang diparkir di pinggir jalan.

Jika warga pengemudi kita masih waras, semestinya mereka mengklaksoni benda mati untuk mereka tabrak jika perlu, alih-alih pamer arogansi kepada makhluk hidup yang mereka takut-takuti dengan membunyikan klakson bahkan tidak jarang pula para pengendara tersebut mencaci-maki penulis seolah sebagai penghalang jalan, sementara itu disaat bersamaan terhadap kendaraan bermotor yang diparkir secara liar di badan jalan sehingga hanya menyisakan satu lajur jalan dari ruas jalan yang ada, para pengendara tersebut demikian penyabar, toleran, kompromistik, serta tidak pernah mengutuk maupun mencaci-maki kendaraan yang diparkir maupun terhadap pemilik kendaraan yang memarkir kendaraannya secara liar, ataupun bersungut-sungut atas kondisi yang ditemui sang pengendara.

Kini kita masuk pada puncak bahasan kita. Bangsa Indonesia layak menyandang gelar sebagai bangsa yang “PENGECUT” sekaligus “PEMALAS”. Mengapa? Mereka, adalah para pemalas yang selama ini malas menanam Karma Baik, maunya semudah memohon, mengemis-ngemis, sembah sujud, melantunkan lagu puja-puji, budaya serba “instan”, seolah segala sesuatu dapat terjadi tanpa didahului suatu sebab yang mendahului, dan dapat jatuh begitu saja dari langit tanpa sebab, lalu masih juga mengharap “penghapusan / pengampunan dosa” maupun “penebusan dosa”. Pengecut, plus pemalas, kombinasi serupa dari tipikal “manusia hewan”, alih-alih humanis bak “manusia manusia” ataupun Tuhanis bak “manusia dewa”.

Untuk memperoleh “akibat”, suka tidak suka kita harus merepotkan diri menyingsingkan lengan baju untuk menanam sebagai “sebab”. Kita dapat menyebutnya sebagai “hukum aksi dan reaksi”. Ada reaksi, disebabkan oleh aksi yang mendahuluinya. Tiada aksi, maka tiada reaksi. Dengan kata lain, tiada sebab, maka jangan mengharapkan akibat—mengharap pun jangan, karena itu adalah delusi seolah sesuatu dapat terjadi tanpa sebab yang mendahuluinya ataupun sekadar berharap dan memohon sesuatu dapat jatuh tanpa sebab, begitu saja dari langit. Seorang petani tahu betul hukum “tabur-tuai”, dimana mereka bila hendak menuai suatu berkah manis, harus menanam yang benih manis terlebih dahulu, dengan sikap gigih, ulet, kesabaran, dan usaha, bukan dengan segala ritual sembah-sujud. Dengan kata lain, kerja keras berbuah manis.

Diluar itu, yang ada ialah hanya para pemalas dan para pemimpi yang sekadar bermimpi. Mereka berpikir dan berasumsi, bahwa bertanggung-jawab atas hidup mereka adalah pihak eksternal diri mereka, yakni sang “pemberi” cobaan. Karena itulah, mereka disebut juga sebagai seorang pecundang, pemalas-pecundang. Sebaliknya, para pejuang kehidupan disamping gigih (mau merepotkan diri) untuk menanam, juga bertanggung-jawab atas hidupnya sendiri, yang karenanya tidak menjadi beban bagi orang lain, juga tidak menjadi beban bagi “langit”, “Tuhan”, atau sebutan imajinatif lainnya. Mereka menjadi arsitek bagi takdir dan nasib mereka sendiri, sebagai bagian dari “the right of self determination”, hak untuk menentukan nasib sendiri.

Seolah belum cukup, mereka pun tergolong sebagai kaum pengecut, disamping pemalas serta pecundang. Betapa tidak, bila para ksatria bersikap ksatria dengan siap dan sigap untuk bertanggung-jawab atas setiap perbuatannya, baik perbuatan baik maupun perbuatan buruk, sekecil apapun, maka keadilan selalu akan diperoleh oleh para korban. Menjadi suciwan, artinya penuh kewaspadaan serta mawas diri terhadap perbuatan diri sendiri, sehingga tidak merugikan, melukai, ataupun menyakiti pihak lain. Seorang suciwan, tidak pernah membutuhkan—terlebih menjadi pelanggan tetap—ideologi “korup” penuh kecurangan semacam “pengampunan / penghapusan dosa” maupun “penebusan dosa”.

Bila Anda beralasan, bahwa kita bisa jadi berbuat kelalaian yang mengakibatkan kerugian, luka, maupun derita bagi orang lain, sehingga tidak memungkinkan hidup sebagai orang awam untuk menjadi seorang suciwan. Namun, janganlah bersikap seolah-olah Anda tidak memiliki opsi lainnya, yakni untuk menjadi seorang ksatria dengan jiwa ksatria. Bukan tidak mampu, namun ketidakmauan. Ketika Anda sejatinya dapat memilih untuk memilih jalan hidup layaknya seorang ksatria, namun telah ternyata Anda tetap saja menjatuhkan pilihan sebagai seorang pengecut tulen dengan menjadi pelanggan tetap ideologi “korup” semacam “pengampunan / penghapusan dosa” maupun “penebusan dosa”, maka Anda memang adalah seorang pengecut berdasarkan pilihan Anda sendiri.

Kombinasi antara orang-orang berjiwa pemalas, sebagai pecundang kehidupan hanya tahu meminta, memohon, dan mengemis-ngemis, tanpa bersedia merepotkan dan meletihkan diri untuk menanam kebaikan, sekadar mengharap suatu berkah jatuh begitu saja dari langit berdasarkan semudah ritual puja-puji ataupun sembah-sujud—seolah-olah Tuhan butuh sosok manusia busuk dan kotor semacam “pendosa penjilat penuh dosa yang berdosa”—disatukan dengan tabiat atau watak pengecut, yang semata tidak menaruh pengendalian diri terhadap perbuatannya sendiri, dan masih pula mengharap “too good to be true” aksi “cuci tangan” dan “lempar batu sembunyi tangan” (melarikan diri bak tabrak-lari) berupa “pengampunan / penghapusan dosa” maupun “penebusan dosa”—seolah-olah Tuhan lebih PRO tehadap pendosa alih-alih bersimpati kepada jeritan korban—maka itulah yang disebut sebagai bangsa yang pemalas nan pengecut.

Bangsa dengan mentalitas kerdil dan korup, namun berdelusi bahwa dirinya adalah bangsa besar yang patut berbangga diri dengan kemasan “agamais”, ataupun fatamorgana bahwa mereka disayangi oleh Tuhan dan terjamin masuk alam surgawi, seolah surga adalah tong sampah raksasa bagi para pendosa. Bukankah memprihatinkan, mendapati sebuah bangsa yang memandang citra dirinya di cermin sebagai seekor singa yang besar dan berwibawa, meski sejatinya adalah seekor kucing kecil yang pengecut juga pemalas, masih pula berdelusi bahwa dirinya dicintai dan dibutuhkan oleh Tuhan, yang jelas-jelas hanya akan mencemari kemurnian Tuhan bila seorang manusia kotor hendak bersatu dengan diri-Nya.

Penghapusan dosa, deterjen merek baru yang dipromosikan dapat mencuci bersih dosa sehingga para pendosa dapat kembali suci-bersih-murni? Itu menyerupai upaya memanipulasi sejarah yang telah tercipta, dan berdelusi dapat menghapusnya, cuci-tangan (sin laundring). Lantas, bagaimana dengan hak-hak keadilan bagi para korban dari para pendosa (para “pengecut”) tersebut? Apapun alibi para pendosa tersebut, siapa yang dapat memungkiri bahwa “hanya seorang pendosa, yang membutuhkan penghapusan dosa”. Pendosa, namun mengharap berhak untuk berceramah perihal hidup baik, suci, mulia, dan luhur?

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.