Berganti dan digantikan oleh
pejabat baru,
Namun masih juga terjadi
korupsi maupun pemerasan terhadap warga,
Maka itu bukanlah praktik
seorang “oknum”,
Namun memang budaya dari aparatur sipil negara kita.
Bila tahun demi tahun
seseorang memiliki watak,
Yang tidak berubah dari sejak
dahulu kala,
Maka itu bukanlah sifat yang
temporer dari yang besangkutan,
Namun memang merupakan
karakter sejati internal diri yang bersangkutan.
Bila silih berganti pimpinan
sebuah organisasi atau perusahaan,
Berganti dan digantikan oleh
pimpinan baru,
Namun praktik perusahaan atau
organisasi tersebut tetap saja tidak mengalami perubahan berarti,
Maka itu bukanlah kebijakan dibalik
sosok seorang pimpinan,
Namun memang adalah kultur
dari perusahaan atau organisasi tersebut.
Orang baik sekalipun,
Dapat sesekali berbuat nakal dari
sejarah panjang kehidupannya,
Namun kenakalan tersebut
hanya untuk hitungan jari jumlahnya,
Karenanya,
Dirinya tidak patut disebut
sebagai orang nakal.
Sebaliknya,
Orang jahat kerap bersikap seolah-olah
dirinya adalah orang baik,
Membangun jalan bagi warga, membagikan
bantuan sosial, dan kegiatan amal lainnya,
Namun kesemua itu hanyalah
selubung untuk menutupi watak kebiasaan jahat diri yang bersangkutan,
Karenanya,
Dirinya tidak layak untuk
disebut sebagai dermawan terlebih orang baik.
Ibarat resiko dibalik sebuah
usaha,
Dapat untung dan dapat
merugi,
Hal yang wajar.
Namun ketika yang terjadi
ialah lebih sering mengalami kerugian,
Maka usaha atau pengusaha
tersebut memang layak untuk jatuh pailit.
Silih berganti para wakil
rakyat kita di parlemen menjabat,
Berganti dan digantikan oleh
wakil rakyat yang baru,
Namun bila parlemen kita
masih juga bersikap korup,
Maka untuk apa juga warga
masih mengandalkan pemilihan umum,
Mengharap para wakil rakyat
mereka dalam pemilihan berikutnya,
Dapat diandalkan dan
menampilkan wajah berbeda?
Sikap korup para wakil wakil
rakyat kita di parlemen,
Berlangsung dan terjadi dekade
demi dekade lamanya,
Karenanya,
Siapapun yang kemudian
terpilih atau kita pilih sebagai wakil rakyat kita di parlemen di kemudian
hari,
Dapat diprediksi atau patut
diduga akan menampilkan wajah praktik yang tidak berbeda dari generasi mereka
sebelumnya,
Yakni korup.
Tetap saja,
Sekalipun para wakil rakyat
mereka korup dan didemo oleh masyarakat,
Generasi demi generasi,
Dekade demi dekade,
Masyarakat kita tetap melangsungkan
pemilihan umum untuk memilih dan menggantungkan harapan kepada wakil rakyat
mereka.
Bukankah,
Itu cerminan sebuah delusi
yang ilusioner,
Mengharapkan hasil yang
berbeda,
Dengan melakukan cara yang
serupa,
Secara berulang-ulang yang
sudah terbukti wajahnya sekalipun silih-berganti?
Pepatah pernah mengatakan,
Bangsa yang baik,
Perlu belajar dari sejarah
bangsanya sendiri,
Serta tidak mudah melupakan
sejarah negerinya sendiri.
Untuk mencari tahu sebuah watak
sejati yang tersebunyi dibalik sebuah selubung,
Kenali dan amati polanya.
Bahkan untuk ukuran seekor keledai,
Tidak akan jatuh pada lubang
yang sama.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.