Membaca Pola untuk Membaca Kultur dan Watak Sejati, sebuah Puisi

HERY SHIETRA, Membaca Pola untuk Membaca Kultur dan Watak Sejati, sebuah Puisi

 Bila silih berganti pejabat pemerintahan kita,

Berganti dan digantikan oleh pejabat baru,

Namun masih juga terjadi korupsi maupun pemerasan terhadap warga,

Maka itu bukanlah praktik seorang “oknum”,

Namun memang budaya dari aparatur sipil negara kita.

Bila tahun demi tahun seseorang memiliki watak,

Yang tidak berubah dari sejak dahulu kala,

Maka itu bukanlah sifat yang temporer dari yang besangkutan,

Namun memang merupakan karakter sejati internal diri yang bersangkutan.

Bila silih berganti pimpinan sebuah organisasi atau perusahaan,

Berganti dan digantikan oleh pimpinan baru,

Namun praktik perusahaan atau organisasi tersebut tetap saja tidak mengalami perubahan berarti,

Maka itu bukanlah kebijakan dibalik sosok seorang pimpinan,

Namun memang adalah kultur dari perusahaan atau organisasi tersebut.

Orang baik sekalipun,

Dapat sesekali berbuat nakal dari sejarah panjang kehidupannya,

Namun kenakalan tersebut hanya untuk hitungan jari jumlahnya,

Karenanya,

Dirinya tidak patut disebut sebagai orang nakal.

Sebaliknya,

Orang jahat kerap bersikap seolah-olah dirinya adalah orang baik,

Membangun jalan bagi warga, membagikan bantuan sosial, dan kegiatan amal lainnya,

Namun kesemua itu hanyalah selubung untuk menutupi watak kebiasaan jahat diri yang bersangkutan,

Karenanya,

Dirinya tidak layak untuk disebut sebagai dermawan terlebih orang baik.

Ibarat resiko dibalik sebuah usaha,

Dapat untung dan dapat merugi,

Hal yang wajar.

Namun ketika yang terjadi ialah lebih sering mengalami kerugian,

Maka usaha atau pengusaha tersebut memang layak untuk jatuh pailit.

Silih berganti para wakil rakyat kita di parlemen menjabat,

Berganti dan digantikan oleh wakil rakyat yang baru,

Namun bila parlemen kita masih juga bersikap korup,

Maka untuk apa juga warga masih mengandalkan pemilihan umum,

Mengharap para wakil rakyat mereka dalam pemilihan berikutnya,

Dapat diandalkan dan menampilkan wajah berbeda?

Sikap korup para wakil wakil rakyat kita di parlemen,

Berlangsung dan terjadi dekade demi dekade lamanya,

Karenanya,

Siapapun yang kemudian terpilih atau kita pilih sebagai wakil rakyat kita di parlemen di kemudian hari,

Dapat diprediksi atau patut diduga akan menampilkan wajah praktik yang tidak berbeda dari generasi mereka sebelumnya,

Yakni korup.

Tetap saja,

Sekalipun para wakil rakyat mereka korup dan didemo oleh masyarakat,

Generasi demi generasi,

Dekade demi dekade,

Masyarakat kita tetap melangsungkan pemilihan umum untuk memilih dan menggantungkan harapan kepada wakil rakyat mereka.

Bukankah,

Itu cerminan sebuah delusi yang ilusioner,

Mengharapkan hasil yang berbeda,

Dengan melakukan cara yang serupa,

Secara berulang-ulang yang sudah terbukti wajahnya sekalipun silih-berganti?

Pepatah pernah mengatakan,

Bangsa yang baik,

Perlu belajar dari sejarah bangsanya sendiri,

Serta tidak mudah melupakan sejarah negerinya sendiri.

Untuk mencari tahu sebuah watak sejati yang tersebunyi dibalik sebuah selubung,

Kenali dan amati polanya.

Bahkan untuk ukuran seekor keledai,

Tidak akan jatuh pada lubang yang sama.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.