Praktek Makan Secukupnya dalam Perspektif Buddhisme Vs. Makan Secukupnya dalam Dogma Agama Samawi
Question: Kita tahu betapa kuatnya sensasi dari bahan kimia seperti pemanis buatan, micin atau MSG, pewarna artifisial yang membuat hormon otak rusak sehingga emosi menjadi labil, perisa sintetik yang bahkan “lebih buah daripada buah” cita-rasanya, disamping kandungan tinggi gula, lemak, dan garam yang adiktif dalam setiap kemasan Ultra Process Food (UPF) atau produk-produk food industry yang demi profit, tega memanipulasi reseptor lidah dan otak konsumennya agar menjadi “budak”. Untuk bisa bahagia beralih ke pangan-pangan alami yang baik dan sehat bagi tubuh seperti “Whole Food”, apakah ada bahan perenungan agar bagi kami yang baru memulai untuk beralih secara perlahan atau sepenuhnya ke “Whole Food”, bisa tetap konsisten dan berkesinambungan “STOP produk-produk UPF”?
Brief Answer: Makna “makan secukupnya” dalam Buddhisme, memiliki
perbedaan harafiah substansial dengan ajaran agama samawi. “Makan secukupnya” menurut
Buddhisme, bukan dimaknai kuantitas atau jumlah makanan yang kita asup ke dalam
mulut dan perut, namun motivasi atau perspektif kita dalam memakan makanan
yakni untuk latihan disiplin diri yang bernama “kontrol pikiran” yang membatasi keliaran pikiran kita seperti ketidak-puasan.
Berbeda dengan ajaran seperti agama samawi, pada “puasa
ramadhan” para muslim justru konsumsinya meningkat drastis sehingga bahan
pangan meningkat signifikan harganya di pasar, lalu mabuk dan kecanduan “dosa-dosa
selama setahun dihapuskan”, sehingga nafsu dan delusi (kekotoran batin) mereka justru
menjadi “gemuk-obesitas”. Sang Buddha mengajarkan objek perenungan berikut kepada
para murid-Nya, ketika akan memakan makanan:
“Beginilah Nanda menjalankan praktik makan
secukupnya: Di sini, setelah merefleksikan dengan seksama, Nanda mengkonsumsi
makanan bukan untuk kesenangan juga bukan untuk kemabukan juga bukan demi
kecantikan fisik dan kemenarikan, melainkan hanya untuk mendukung pemeliharaan
tubuh ini, untuk menghindari bahaya, dan untuk membantu kehidupan spiritual,
dengan pertimbangan: ‘Dengan demikian aku akan menghentikan perasaan lama dan
tidak membangkitkan perasaan baru, dan aku akan menjadi sehat dan tanpa cela
dan berdiam dengan nyaman.’ Ini adalah bagaimana Nanda menjalankan praktik
makan secukupnya.
PEMBAHASAN:
Bila umat kristiani berdoa “makasih
Allah, sudah memberi kami makan tanpa perlu kami repot-repot menanam”, maka
Buddhisme mengajarkan para siswa Sang Buddha untuk merenungkan bahwa apa yang
kita makan merupakan buah manis dari perbuatan baik yang kita tanam dimasa
lampau, karenanya perlu giat untuk kembali menanam benih-benih perbuatan bajik demi
kelangsungan hidup di masa mendatang alias tidak menjadi seorang “pemalas”
selayaknya kaum umat pemeluk agama samawi yang “narsistik”.
Disamping itu, objek perenungan
kedua yang tidak kalah pentingnya, dapat kita simak sebagaimana khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya :
Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID IV”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa
Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan sebagai berikut:
9 (9) Nanda
“Para bhikkhu, (1) seseorang yang berkata benar akan
mengatakan tentang Nanda bahwa ia adalah seorang anggota keluarga, (2) bahwa ia
kuat, (3) bahwa ia anggun, dan (4) bahwa ia sangat rentan pada nafsu. Bagaimana
lagi Nanda dapat menjalani kehidupan spiritual yang lengkap dan murni jika (5)
ia tidak menjaga pintu-pintu indrianya, (6) tidak menjalankan praktik makan
secukupnya, (7) tidak condong pada keawasan, dan (8) tidak memiliki perhatian
dan pemahaman jernih?
[Kitab Komentar : Nanda, adik
sepupu Sang Buddha, jelas memiliki keinginan indriawi yang kuat. Setelah ia
menjadi seorang bhikkhu, ia terus-menerus memikirkan tunangannya dan kelak
berharap dapat terlahir di antara para bidadari surgawi.]
“Para bhikkhu, beginilah Nanda menjaga pintu-pintu
indrianya: [167] Jika ia harus melihat ke arah timur, ia melakukannya setelah ia
mempertimbangkan hal itu dan memahaminya dengan jernih sebagai berikut: ‘Ketika
aku melihat ke arah timur, kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat berupa
kerinduan dan kesedihan tidak akan mengalir masuk dalam diriku.’ Jika ia harus
melihat ke arah barat … ke arah utara … ke arah selatan … ke atas … ke bawah …
mengamati arah-arah di antaranya, ia melakukannya setelah ia mempertimbangkan
hal itu dan memahaminya dengan jernih sebagai berikut: ‘Ketika aku melihat ke
arah-arah di antaranya, kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat berupa
kerinduan dan kesedihan tidak akan mengalir masuk dalam diriku.’ Ini adalah bagaimana
Nanda menjaga pintu-pintu indrianya.
“Beginilah Nanda menjalankan praktik makan
secukupnya: Di sini, setelah merefleksikan dengan seksama, Nanda
mengkonsumsi makanan bukan untuk kesenangan juga bukan untuk kemabukan juga
bukan demi kecantikan fisik dan kemenarikan, melainkan hanya untuk mendukung
pemeliharaan tubuh ini, untuk menghindari bahaya, dan untuk membantu kehidupan
spiritual, dengan pertimbangan: ‘Dengan demikian aku akan menghentikan perasaan
lama dan tidak membangkitkan perasaan baru, dan aku akan menjadi sehat dan
tanpa cela dan berdiam dengan nyaman.’ Ini adalah bagaimana Nanda
menjalankan praktik makan secukupnya.
“Beginilah Nanda condong pada keawasan: [168] Selama
siang hari, ketika berjalan mondar-mandir dan duduk, Nanda
memurnikan pikirannya dari kualitas-kualitas yang menghalangi. Pada jaga pertama malam hari,
ketika berjalan mondar-mandir dan duduk, ia memurnikan pikirannya dari
kualitas-kualitas yang menghalangi. Pada jaga pertengahan malam hari, ia
berbaring pada sisi kanan dalam postur singa dengan satu kaki di atas kaki
lainnya, penuh perhatian dan memahami dengan jernih, setelah mencatat dalam pikirannya
gagasan untuk terjaga. Setelah terjaga, pada jaga terakhir malam hari, ketika
berjalan mondar-mandir dan duduk, ia memurnikan pikirannya dari
kualitas-kualitas yang menghalangi. Ini adalah bagaimana Nanda condong
pada keawasan.
“Beginilah perhatian dan pemahaman jernih Nanda: Nanda
mengetahui perasaan-perasaan ketika perasaan-perasaan itu muncul, ketika
perasaan-perasaan itu berlangsung, ketika perasaan-perasaan itu lenyap; ia
mengetahui persepsi-persepsi ketika persepsi-persepsi itu muncul, ketika
persepsi-persepsi itu berlangsung, ketika persepsi-persepsi itu lenyap; ia
mengetahui pemikiran-pemikiran ketika pemikiran-pemikiran itu muncul, ketika
pemikiran-pemikiran itu berlangsung, ketika pemikiran-pemikiran itu lenyap. Ini adalah bagaimana perhatian
dan pemahaman jernih Nanda.
[Kitab Komentar : ini disebut
pengembangan konsentrasi yang mengarah pada perhatian dan pemahaman jernih.]
“Bagaimana lagi, para bhikkhu, Nanda
dapat menjalani kehidupan spiritual yang lengkap dan murni jika ia tidak
menjaga pintu-pintu indrianya, jika ia tidak menjalankan praktik makan
secukupnya, jika ia tidak condong pada keawasan, dan jika ia tidak memiliki
perhatian dan pemahaman jernih?”
Berbeda dengan Buddhisme, agama
samawi justru memiliki selera dan motivasi / paradigma yang bertolak-belakang
dengan Buddhisme. Babi, disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi
“KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai
“halal lifestyle”—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan
membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya,
maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.”
- No. 4857 : “Barang
siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji
bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya
akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
- No. 4863 : “Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam
dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
- No. 4864 : “Apabila
ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya
tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii
warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku
dan anugerahkanlah aku rizki).”
- No. 4865 : “Ya
Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah
Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai
berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku,
kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”
- Aku mendengar Abu Dzar dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan
memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan
tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan
berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia
mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
- Dari Anas
radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam,
selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni
dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun
kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau
menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak
isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku
datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula”. (HR.
Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]
Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan
merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum
lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling
rendah dan kotor, namun berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli
alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka
pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi
berceramah perihal hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi,
dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN
PENGHAPUSAN DOSA”. Sehingga, bisa kita katakan bahwa makanan pokok kaum agama
samawi ialah “MEMAKAN DOSA-DOSA & MABUK KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”—juga
masih dikutip dari Hadis Muslim:
- No. 4891. “Saya
pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang
belum aku lakukan.’”
- No. 4892. “Aku
bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu
'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang
telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
- No. 4893. “dari
'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca:
‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang
belum aku lakukan.’”
- No. 4896. “dari
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai
berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan,
kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah bertanya kepada
Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah
Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan
datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]