Apakah Buddha adalah Ateis?

Misleading Terbesar tentang Agama Buddha, Pandangan Theistik, dan Paham Ateisme

Tuhan Beragama Buddha, Bukan Sebaliknya

Question: Apakah dikenal adanya Tuhan seperti di agama-agama samawi, dalam agama Buddha? Jika memang tidak ada, apakah karena Buddha tidak berani menghadapi kenyataan tentang Tuhan?

Brief Answer: Buddhisme atau Sang Buddha, tidak takut menghadapi kaum ateis (pemegang paham nihilisme, tanpa sebab ataupun akibat yang mendahului suatu kejadian, kaum spekulan yang semata berpegang pada probalibilitas semata) maupun kaum pemegang pandangan theistik (ada mahkluk adikodrati yang bekerja dibalik kehidupan umat manusia dan sebagai penentu nasibnya). Sehingga tidak benar bahwa Sang Buddha tidak pernah membahas maupun menghadapi kaum ateis dan pengikut paham theistik. Dalam berbagai kesempatan, ketika menghadapi kaum ateis maupun kaum theistik, penulis cukup mengutip khotbah Sang Buddha dari Sutta Pitana, Tipitaka, dan seketika itu juga mereka “mati langkah” (skak mat)—membuktikan bahwa paham atau pandangan mereka mengandung cacat falsafah yang tidak dapat diperbaiki seperti apapun mereka membangun dogma yang ditopang asumsi yang delusif, ilusioner, dan rapuh.

PEMBAHASAN:

Banyak beredar konten-konten yang misleading dari berbagai narasi yang beredar di luar sana, seolah-olah Agama Buddha bukanlah “agama”, tidak perlu “diyakini”, hanya sekadar ilmu filasafat, tidak mengenal kata “Tuhan”, Buddha hanya manusia biasa, dan segudang misleading lainnya—yang ironisnya banyak misleading juga direproduksi oleh mereka yang mengaku-ngaku sebagai umat Buddhist namun hanya sekadar ritual tanpa pernah benar-benar mengetahui ajaran otentik dari Sang Buddha.

Sumber otentik agama Buddha, ialah Tipitaka, salah satu Pitaka ialah Sutta Pitaka. Berbagai khotbah Sang Buddha tentang “Tuhan sang pencipta” dapat kita jumpai dalam berbagai sutta pada Sutta Pitaka, salah satunya dalam artikel ini akan kita kutip dari Angguttara Nikaya, Sutta Pitaka. Sebelum membahas mengenai paham theistik, kita ulas terlebih dahulu pandangan Sang Buddha tentang ateisme, pandangan nihilisme para kaum ateistik. Sudah sejak lama, Sang Buddha berhadapan dengan penganut paham nihilisme atau ateisme demikian. Sang Buddha bersabda secara singkat saja kepada mereka:

“Bayangkan seorang pria yang terkena panah beracun, kata Sang Buddha. Seorang dokter datang, siap mencabut anak panah dan memberinya penawarnya, tetapi pria itu menghentikannya.

“'Jangan terburu-buru! Pertama, aku ingin tahu siapa yang menembakku. Dari kota atau desa mana dia berasal? Aku juga ingin tahu dari kayu apa busurnya dibuat. Juga, apakah itu busur silang atau busur panjang?'

“Jelas, kata Sang Buddha, orang itu akan mati dan pertanyaan-pertanyaannya akan tetap tidak terjawab.”

Dalam tiap-tiap kasus aktivitas Tuhan pencipta (THEISTIK) ataupun tanpa-penyebab (ATEIS) para pelaku menghindari tanggung jawab atas perbuatan-perbuatan mereka, dimana Sang Buddha untuk itu telah pernah bersabda: [dikutip dari khotbah Sang Buddha dalam Aguttara Nikaya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID IV, Judul Asli :  The Numerical Discourses of the Buddha, diterjemahkan dari Bahasa Pali oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, Penerjemah Edi Wijaya dan Indra Anggara]

Para bhikkhu, ada tiga doktrin sektarian ini yang, ketika dipertanyakan, diinterogasi, dan didebat oleh para bijaksana, dan dibawa menuju kesimpulan mereka, akan berakhir dalam tidak berbuat. Apakah tiga ini?

(1)  Ada, para bhikkhu, beberapa petapa dan brahmana yang menganut doktrin dan pandangan seperti ini: Apa pun yang dialami orang ini   apakah menyenangkan, menyakitkan, atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan semuanya disebabkan oleh apa yang telah dilakukan di masa lalu.

(2) Ada para petapa dan brahmana lainnya yang menganut doktrin dan pandangan seperti ini: Apa pun yang dialami orang ini apakah menyenangkan, menyakitkan, atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan semuanya disebabkan oleh aktivitas Tuhan pencipta.

(3) Dan ada para petapa dan brahmana lain lagi yang menganut doktrin dan pandangan seperti ini: Apa pun yang dialami orang ini apakah menyenangkan, menyakitkan, atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan semuanya terjadi tanpa suatu sebab atau kondisi.

(3) Kemudian, para bhikkhu, Aku mendatangi para petapa dan brahmana itu yang menganut doktrin dan pandangan seperti ini: Apa pun yang dialami orang ini apakah menyenangkan, menyakitkan, atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan semuanya terjadi tanpa suatu sebab atau kondisi, dan Aku berkata kepada mereka: Benarkah bahwa kalian para mulia menganut doktrin dan pandangan demikian?  Ketika Aku menanyakan hal ini kepada mereka, mereka menegaskannya. Kemudian Aku berkata kepada mereka: Kalau begitu, adalah tanpa suatu penyebab atau kondisi maka kalian mungkin melakukan pembunuhan, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan aktivitas seksual, berbohong, mengucapkan kata-kata yang memecah-belah, berkata kasar, bergosip; maka kalian mungkin penuh kerinduan, memiliki pikiran berniat buruk, dan menganut pandangan salah.

Mereka yang mengandalkan ketiadaan penyebab dan kondisi sebagai kebenaran mendasar tidak memiliki keinginan [untuk melakukan] apa yang harus dilakukan dan [untuk menghindari melakukan] apa yang tidak boleh dilakukan, juga mereka tidak berusaha dalam hal ini.

Karena mereka tidak memahami sebagai benar dan sah segala sesuatu yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan, maka mereka berpikiran kacau, mereka tidak menjaga diri mereka sendiri, dan bahkan sebutan personal sebagai  petapa  tidak dapat dengan benar ditujukan kepada mereka. Ini adalah bantahan logisKu yang ke tiga atas para petapa dan brahmana yang menganut doktrin dan pandangan demikian.

Kemudian, para bhikkhu, Aku mendatangi para petapa dan brahmana itu yang menganut doktrin dan pandangan seperti ini: Apa pun yang dialami orang ini apakah menyenangkan, menyakitkan, atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan semuanya disebabkan oleh aktivitas Tuhan pencipta,

Dan Aku berkata kepada mereka: Benarkah bahwa kalian para mulia menganut doktrin dan pandangan demikian?

Ketika Aku menanyakan hal ini kepada mereka, mereka menegaskannya. Kemudian Aku berkata kepada mereka: Kalau begitu, adalah karena aktivitas Tuhan pencipta maka kalian mungkin melakukan pembunuhan, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan aktivitas seksual, berbohong, mengucapkan kata-kata yang memecah-belah, berkata kasar, bergosip; maka kalian mungkin penuh kerinduan, memiliki pikiran berniat buruk, dan menganut pandangan salah.

Mereka yang mengandalkan aktivitas Tuhan pencipta sebagai kebenaran mendasar tidak memiliki keinginan [untuk melakukan] apa yang harus dilakukan dan [untuk menghindari melakukan] apa yang tidak boleh dilakukan, juga mereka tidak berusaha dalam hal ini.

Karena mereka tidak memahami sebagai benar dan sah segala sesuatu yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan, maka mereka berpikiran kacau, mereka tidak menjaga diri mereka sendiri, dan bahkan sebutan personal sebagai  petapa  tidak dapat dengan benar ditujukan kepada mereka. Ini adalah bantahan logisKu yang ke dua atas para petapa dan brahmana yang menganut doktrin dan pandangan demikian.

Ini, para bhikkhu, adalah ketiga doktrin sektarian itu yang, ketika dipertanyakan, diinterogasi, dan didebat oleh para bijaksana, dan dibawa menuju kesimpulan mereka, akan berakhir dalam tidak berbuat.

Dalam Digha Nikaya, Sutta Pitaka, ada sutta bernama Brahmajala Sutta dan Tevijja Sutta, disitu kita jadi tahu, siapa itu “Tuhan” yang disembah oleh umat agama samawi (sutta yang telah diantisipasi oleh Sang Buddha, jauh sebelum agama samawi-abrahamik lahir), telah ternyata hanya makhluk di alam Brahma yang sedang berdelusi seolah dirinya abadi semata karena umurnya yang panjang. Jadi, please, jangan buat misleading seolah-oleh tidak ada istilah “Tuhan” dalam Buddhisme. Sang Buddha telah membantah dan mematahkannya hingga berkeping-keping pandangan kaum theistik yang tidak mampu berkutik hingga saat kini.

JIka Tuhan telah ternyata adalah makhluk Brahma, maka itu artinya kasta Buddha jauh ada di atas kasta-nya Tuhan, dimana kita mulai paham mengapa makhluk Brahma “sungkem” dan bersujud di hadapan Buddha, bahkan memohon agar Dhamma dibabarkan ketika Pangeran Siddhatta Gotama mencapai pencerahan di bawah Pohon Bodhi.

Ada otoritas tertinggi dalam Buddhisme, namun itu bukan sosok adikodrati semacam “Tuhan lengkap dengan personifikasi manusia yang bisa murka, marah, senang, iri, dengki, suka, maupun benci”. Sang Buddha pernah bersabda : “Otoritas tertinggi, ialah DHAMMA.” Dhamma adalah hal-hal yang sama yang diajarkan oleh semua Sammasambuddha, “sang jalan” itu sendiri.

Di Aguttara Nikaya, dijelaskan bahwa dalam setiap galaksi, ada surga dan nerakanya sendiri, juga ada dunia manusia serta Buddha-nya masing-masing. Di Aguttara Nikaya pula, ada sutta yang menerangkan kesaktian Buddha yang malampaui Tuhan, karena Buddha mampu beresonansi ke Maha Galaksi yang tidak terbatas di mana alam semesta ini mengembang dan menyusut (persis seperti teori “Big Bang”, meski ilmuan belum menemukan bahwa alam semesta bisa menyusut).

Sebelum membahas perihal “seluas apakah alam semesta ini” serta antara “agama Buddha dan keyakinan”, akan kita bahas terlebih dahulu kasta kaum Brahma (Tuhan), Buddha menyembah dan sujud di hadapan Tuhan, ataukah sebaliknya Tuhan (alias makhluk Brahma) yang bersujud di hadapan Sang Buddha, sebagaimana Khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha JILID II”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:

III. Uruvelā

21 (1) Uruvelā (1)32

Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu!”

“Yang Mulia!” para bhikkhu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Para bhikkhu, pada suatu ketika Aku sedang menetap di Uruvelā, di bawah pohon banyan penggembala di tepi Sungai Neranjarā, tidak lama setelah Aku mencapai Pencerahan Sempurna. Kemudian, sewaktu Aku sedang sendirian dalam keterasingan, suatu pemikiran muncul dalam pikiranku sebagai berikut: ‘Sungguh menyakitkan berdiam tanpa penghormatan dan penghargaan. Sekarang petapa atau brahmana manakah yang dapat Kuhormati, Kuhargai, dan berdiam dengan bergantung padanya?’

“Kemudian Aku berpikir:

(1) ‘Jika kelompok perilaku bermoralKu belum sempurna, maka demi untuk menyempurnakannya Aku akan menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung pada petapa atau brahmana lain. Akan tetapi, di dunia ini bersama dengan para deva, Māra, dan Brahmā, di antara populasi ini dengan para petapa dan brahmana, para deva dan manusia, Aku tidak melihat petapa atau brahmana lain yang lebih sempurna dalam hal perilaku bermoral daripada diriKu sendiri yang kepadanya Aku dapat menghormat, menghargai, dan berdiam dengan bergantung padanya.

(2) “‘Jika kelompok konsentrasiKu belum sempurna, maka demi untuk menyempurnakannya Aku akan menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung pada petapa atau brahmana lain. Akan tetapi … Aku tidak melihat petapa atau brahmana lain yang lebih sempurna dalam hal konsentrasi daripada diriKu sendiri …

(3) “‘Jika kelompok kebijaksanaanKu belum sempurna, maka demi untuk menyempurnakannya Aku akan menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung pada petapa atau brahmana lain. Akan tetapi … Aku tidak melihat petapa atau brahmana lain yang lebih sempurna dalam hal kebijaksanaan daripada diriKu sendiri …

(4) “‘Jika kelompok kebebasanKu belum sempurna, maka demi untuk menyempurnakannya Aku akan menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung pada petapa atau brahmana lain. Akan tetapi, di dunia ini bersama dengan para deva, Māra, dan Brahmā, di antara populasi ini dengan para petapa dan brahmana, para deva dan manusia, Aku tidak melihat petapa atau brahmana lain yang lebih sempurna dalam hal kebebasan daripada diriKu sendiri yang kepadanya Aku dapat menghormat, menghargai, dan berdiam dengan bergantung padanya.

“Aku berpikir: ‘Biarlah Aku menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung pada Dhamma ini yang karenanya Aku telah menjadi tercerahkan sempurna.’

“Kemudian Brahmā Sahampati, [21] setelah dengan pikirannya mengetahui refleksi dalam pikiranKu, lenyap dari alam Brahmā dan muncul kembali di hadapanKu seperti halnya seorang kuat merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang. Ia merapikan jubahnya di satu bahunya, membungkuk dengan lutut kanannya di tanah, memberi hormat kepadaKu, dan berkata: ‘Begitulah, Bhagavā! Begitulah, Yang Sempurna Menempuh Sang Jalan! Bhante, mereka yang telah menjadi Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna di masa lampau – para Bhagavā itu, juga, menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung hanya pada Dhamma. Mereka yang akan menjadi Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna di masa depan – para Bhagavā itu, juga, akan menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung hanya pada Dhamma. Biarlah Sang Bhagavā, juga, yang sekarang ini menjadi seorang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna, menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung hanya pada Dhamma.’

“Ini adalah apa yang dikatakan oleh Brahmā Sahampati. Setelah mengatakan ini, ia berkata lebih lanjut sebagai berikut:

“‘Para Buddha yang sempurna di masa lampau, Para Buddha di masa depan dan Sang Buddha di masa sekarang Yang melenyapkan dukacita banyak makhluk:

Mereka semua telah berdiam, sekarang berdiam,

dan [di masa depan] akan berdiam

dengan menghormati Dhamma sejati.

Ini adalah ciri para Buddha.

“‘Oleh karena itu seseorang yang menginginkan kebaikan,

bercita-cita untuk mencapai kebesaran,

harus menghormati Dhamma sejati,

mengingat ajaran para Buddha.’

“Ini adalah apa yang dikatakan oleh Brahmā Sahampati. Kemudian ia memberi hormat kepadaKu, dan dengan Aku tetap berada di sisi kanannya, ia lenyap dari sana. Kemudian, setelah menerima permohonan Brahmā dan apa yang sesuai bagi diriKu sendiri, maka Aku menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung hanya pada Dhamma yang karenanya Aku telah menjadi tercerahkan sempurna. Dan sekarang bahwa Sagha telah mencapai kebesaran, maka Aku juga menghormati Sagha.” [22]

~0~

22 (2) Uruvelā (2)

“Para bhikkhu, pada suatu ketika Aku sedang menetap di Uruvelā, di bawah pohon banyan penggembala di tepi Sungai Neranjarā, tidak lama setelah Aku mencapai Pencerahan Sempurna. Kemudian sejumlah para brahmana yang sepuh, tua, terbebani tahun demi tahun, berusia lanjut, sampai pada tahap akhir, mendatangiKu dan saling bertukar sapa denganKu. Ketika mereka telah mengakhiri ramah tamah itu, mereka duduk di satu sisi dan berkata kepadaKu:

“‘Kami telah mendengar, Guru Gotama: “Petapa Gotama tidak menghormat para brahmana yang sepuh, tua, terbebani tahun demi tahun, berusia lanjut, sampai pada tahap akhir; Beliau juga tidak bangkit untuk mereka dan menawarkan tempat duduk kepada mereka.” Hal ini memang benar, karena Guru Gotama tidak menghormat para brahmana yang sepuh, tua, terbebani tahun demi tahun, berusia lanjut, sampai pada tahap akhir; Beliau juga tidak bangkit untuk mereka dan menawarkan tempat duduk kepada mereka. Hal ini tidak selayaknya, Guru Gotama.’

[Kitab Komentar : Penempatan sutta ini pada periode persis setelah pencerahan Sang Buddha agak aneh. Kata-kata para brahmana yang menyiratkan agar Sang Buddha, dari posisi otoritas, terlibat dalam diskusi rutin dengan para brahmana; namun Beliau pasti tidak melakukannya sebelum Beliau memulai karirnya sebagai seorang guru. Pada sutta yang terpisah, seorang brahmana melakukan tuduhan yang sama terhadap Sang Buddha belakangan setelah Beliau menjadi seorang guru yang berhasil.]

“Kemudian Aku berpikir: Para mulia ini tidak mengetahui apa itu sepuh dan kualitas-kualitas apa yang membuat seseorang menjadi sepuh. Walaupun seseorang berusia tua – delapan puluh, sembilan puluh, atau seratus tahun sejak lahir – jika ia berbicara pada waktu yang tidak tepat, berbohong, mengatakan apa yang tidak bermanfaat, mengatakan apa yang berlawanan dengan Dhamma dan disiplin, jika pada waktu yang tidak tepat ia mengucapkan kata-kata yang tidak berguna, tidak masuk akal, berbicara tanpa tujuan, dan tidak bermanfaat, maka ia dianggap sebagai seorang sepuh yang dungu [yang kekanak-kanakan].

“Tetapi walaupun seseorang berusia muda, seorang pemuda berambut hitam, memiliki berkah kemudaan, pada masa utama kehidupannya, jika ia berbicara pada waktu yang tepat, jujur, mengatakan apa yang bermanfaat, mengatakan apa yang sesuai dengan Dhamma dan disiplin, dan jika pada waktu yang tepat ia mengucapkan kata-kata yang layak diingat, masuk akal, ringkas, dan bermanfaat, maka ia dianggap sebagai sesepuh bijaksana.

“Ada, para bhikkhu, keempat kualitas ini yang membuat seseorang menjadi sesepuh. Apakah empat ini?

(1) “Di sini, seorang bhikkhu adalah bermoral; ia berdiam terkendali oleh Pātimokkha, memiliki perilaku dan tempat kunjungan yang baik, melihat bahaya dalam pelanggaran-pelanggaran kecil. Setelah menerima aturan-aturan latihan, ia berlatih di dalamnya.

(2) “Ia telah banyak belajar, [23] mengingat apa yang telah ia pelajari, dan mengumpulkan apa yang telah ia pelajari. Ajaran-ajaran itu yang baik di awal, baik di tengah, dan baik di akhir, dengan kata-kata dan makna yang benar, yang mengungkapkan kehidupan spiritual yang lengkap dan murni sempurna – ajaran-ajaran demikian telah banyak ia pelajari, diingat, diulangi secara lisan, diselidiki dengan pikiran, dan ditembus dengan baik melalui pandangan.

(3) “Ia adalah seorang yang memperoleh sesuai kehendak, tanpa kesulitan atau kesusahan, keempat jhāna yang merupakan pikiran yang lebih tinggi dan merupakan keberdiaman yang nyaman dalam kehidupan ini.

(4) “Dengan hancurnya noda-noda, ia telah mencapai untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya.

“Ini adalah keempat kualitas yang membuat seseorang menjadi sesepuh.”

Si dungu dengan pikiran resah

yang banyak membicarakan ucapan-ucapan tanpa tujuan,

pikirannya kacau,

bersenang dalam ajaran yang buruk,

menganut pandangan sesat, tidak sopan,

adalah jauh dari status seorang sesepuh.

Tetapi seorang yang sempurna dalam moralitas,

terpelajar dan melihat,

terkendali oleh diri sendiri dalam faktor-faktor kekokohan,

yang dengan jelas melihat makna dengan kebijaksanaan;

yang melampaui segala fenomena,

tidak mandul, melihat;

[Kitab Komentar : Penerjemah lain dari Bahasa Pali, saññato thiradhammesu, menerjemahkannya sebagai “terkendali oleh diri sendiri dan kokoh di antara fenomena-fenomena.” Klausa ini bersesuaian dengan jhāna-jhāna, “faktor-faktor kekokohan” merujuk pada samādhi. Penerjemah lain mengemas “yang dengan jelas melihat makna kebijaksanaan” (paññāyattha vipassati) sebagai melihat makna keempat kebenaran mulia dengan kebijaksanaan sang jalan bersama dengan pandangan terang. Penerjemah lain menjelaskan “telah melampaui segala fenomena” (pāragū sabbadhammāna) sebagai “telah melampaui semua fenomena seperti kelima kelompok unsur kehidupan” dan “mendatangi kesempurnaan dari semua kualitas [baik]” melalui enam melampaui (chabbidhena pāragamanena): sehubungan dengan pengetahuan langsung, pemahaman penuh, meninggalkan, mengembangkan, realisasi, dan pencapaian-pencapaian meditatif. Penerjemah tersebut tidak menjelaskan pengulangan paibhānavā (“melihat”) dalam syair, yang tampaknya khas.]

Yang telah meninggalkan kelahiran dan kematian,

[Komentar Penyunting : Itulah yang membuat Sang Buddha dapat disebut sebagai “melawan arus”, “melawan Tuhan sang pencipta”.]

sempurna dalam kehidupan spiritual,

padanya tidak ada noda-noda

ia adalah seorang yang Kusebut sesepuh.

Dengan hancurnya noda-noda

seorang bhikkhu disebut sesepuh.

Adalah lebih mungkin, sosok Allah yang diklaim sebagai “Tuhan” dalam kitab-kitab agama samawi, ternyata hanyalah sesosok makhluk Brahma di alam Brahma yang sedang berdelusi sebagai “Tuhan” semata karena umurnya yang panjang dan sehingga mulai mengembangkan ilusi “abadi” pada dirinya sendiri sementara planet yang kini bernama Bumi ini dahulunya pernah hancur dan terbentuk kembali dalam proses yang sangat panjang dan lama. Hal tersebut tercatat dalam Digha Nikaya, Sutta Pitaka, tepatnya pada sutta yang dinamakan “Brahmajala Sutta” dan “Tevijja Sutta” dimana Sang Buddha “membuka topeng” dan mengungkap wajah sejati dibalik sosok-sosok yang disebut “Tuhan”, “Allah”, atau apapun itu nama yang lekatkan padanya.

Masing-masing galaksi, memiliki planet hidup seperti Planet Bumi di galaksi bernama Bimasakti tempat tata surya kita hidup, dimana masing-masing galaksi tersebut juga memiliki alam surga, neraka, brahma, manusia, dan Buddha-nya masing-masing. Ketika telah ternyata “Tuhan” dunianya sangat sempit dan terbatas bahkan hanya di planet Bumi, sebagaimana digambarkan dalam agama-agama samawi-abrahamik, maka kita patut menaruh curiga bahwa “Tuhan” hanyalah makhluk Brahma di alam brahma.

Kini, silahkan Anda bandingkan dengan agama samawi yang dalam kitabnya memandang bahwa Bumi ini bersifat geosentris dan berbentuk FLAT DATAR seperti PIRING, alih-alih bundar dan heliosentris. Khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha JILID II”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:

80 (10) Abhibhū

Yang Mulia Ānanda mendatangi Sang Bhagavā … [227] … dan berkata kepada Beliau:

“Bhante, di hadapan Sang Bhagavā aku mendengar ini; di hadapan Beliau aku mempelajari ini: ‘Abhibhū, seorang siswa Sang Bhagavā Sikhī, sewaktu sedang menetap di alam brahmā, menyampaikan suaranya ke seluruh seribu sistem dunia.’ Berapa jauhkah, Bhante, Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna, dapat menyampaikan suaraNya?”

[Kitab Komentar : “Menyampaikan suaranya” diterjemahkan dari sarena viññāpesi, secara lebih literal “berkomunikasi dengan suaranya.”]

“Ia adalah seorang siswa, Ānanda. Para Tathāgata adalah tidak terukur.”

Untuk ke dua kalinya Yang Mulia Ānanda berkata kepada Sang Bhagavā: “Bhante, di hadapan Sang Bhagavā aku mendengar ini … Berapa jauhkah, Bhante, Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna, dapat menyampaikan suaraNya?”

“Ia adalah seorang siswa, Ānanda. Para Tathāgata adalah tidak terukur.”

Untuk ke tiga kalinya Yang Mulia Ānanda berkata kepada Sang Bhagavā: “Bhante, di hadapan Sang Bhagavā aku mendengar ini … Berapa jauhkah, Bhante, Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna, dapat menyampaikan suaraNya?”

“Pernahkah engkau mendengar, Ānanda, tentang seribu sistem dunia kecil?”

“Sekarang adalah waktunya, Sang Bhagavā. Sekarang adalah waktunya, Yang Sempurna. Sudilah Sang Bhagavā menjelaskan. Setelah mendengarnya dari Sang Bhagavā, para bhikkhu akan mengingatnya.”

“Baiklah, Ānanda, dengarkan dan perhatikanlah. Aku akan berbicara.”

“Baik, Bhante,” Yang Mulia Ānanda menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

(1) “Seribu kali dunia di mana matahari dan rembulan berputar dan menerangi segala penjuru dengan cahayanya disebut seribu sistem dunia kecil. Dalam seribu sistem dunia kecil tersebut terdapat seribu rembulan, seribu matahari, seribu raja pegunungan Sineru, seribu Jambudīpa, seribu Aparagoyāna, seribu Uttarakuru, seribu Pubbavideha, dan seribu empat samudra raya; seribu empat raja dewa, seribu [surga] para deva yang dipimpin oleh empat raja dewa, seribu [surga] Tāvatisa, seribu [228] [surga] Yāma, seribu [surga] Tusita, seribu [surga] para deva yang bersenang-senang dalam penciptaan, seribu [surga] para deva yang mengendalikan ciptaan para deva lain, seribu alam brahmā.

[Kitab Komentar : Ini adalah empat benua, berturut-turut terletak di selatan, barat, utara, dan timur.]

[Komentar Penyunting : Dari berbagai sutta, Sang Buddha memaparkan bahwa makhluk Brahma di Alam Brahma, memiliki kecenderungan berdelusi bahwa ia adalah “Tuhan”. Karenanya, besar kemungkinan di masing-masing sistem dunia kecil tersebut terdapat juga ribuan “Tuhan-Tuhan” alias Brahma yang berdelusi bahwa dirinya adalah “Pencipta” akibat umurnya yang panjang sementara itu planet semacam bumi telah hancur, lebur, dan terbentuk kembali namun sang Brahma masih hidup akibat umurnya yang panjang.]

(2) “Sebuah dunia yang terdiri dari seribu kali seribu sistem dunia kecil disebut sistem dunia menengah seribu-pangkat-dua.

[Komentar Penyunting : Karena itulah, betapa dangkalnya agama-agama samawi yang menjadikan Bumi dan manusianya ini sebagai pusat perhatian Tuhan, alias “narsisme”. Planet Bumi tempat kita bernaung ini, hanyalah debu kecil dibandingkan megahnya alam semesta.]

(3) “Sebuah dunia yang terdiri dari seribu kali sistem dunia menengah seribu-pangkat-dua disebut sistem dunia besar seribu pangkat-tiga. Ānanda, Sang Tathāgata dapat menyampaikan suaranya sejauh yang Beliau inginkan dalam sistem dunia besar seribu-pangkat-tiga.”

[Kitab Komentar : Itu barulah sistem dunia menengah. Dvisahassī majjhimā lokadhātu. Adalah perlu untuk menggunakan ungkapan demikian daripada “sistem dunia menengah dua ribu.” Karena sistem dunia menengah bukan dua kali ukuran seribu sistem dunia kecil, melainkan seribu kali ukuran itu, yaitu, seribu sistem dunia kuadrat. Demikian pula, persis di bawah, sebuah tisahassī mahāsahassī lokadhātu bukanlah tiga kali ukuran sistem dunia kecil, melainkan seribu kali ukuran sistem dunia menengah seribu-pangkat dua, dengan kata lain seribu sistem dunia kubik.]

“Tetapi dengan cara bagaimanakah, Bhante, Sang Tathāgata dapat menyampaikan suaranya sejauh yang Beliau inginkan dalam sistem dunia besar seribu-pangkat-tiga?”

“Di sini, Ānanda, Sang Tathāgata dengan sinarnya meliputi satu sistem dunia besar seribu-pangkat-tiga. Ketika makhluk-makhluk itu merasakan cahaya itu, kemudian Sang Tathāgata memproyeksikan suaranya dan membuat mereka mendengar suara itu. Dengan cara demikianlah, Ānanda, Sang Tathāgata menyampaikan suaranya sejauh yang Beliau inginkan dalam sistem dunia besar seribu-pangkat-tiga.”

[Kitab Komentar : Mungkinkah paragraf ini menandai langkah besar menuju pendewaan Sang Buddha? Dalam nuansanya tampaknya lebih untuk mencocokkan dengan bagian pembukaan dari sūtra-sūtra Mahāyāna seperti Saddharmapuṇḍarīka dan Pañcavīsati-prajñāpāramitā daripada Nikāya-nikāya Pāli.]

Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Ānanda berkata kepada Sang Bhagavā: “Ini adalah keberuntunganku! Aku sangat beruntung karena Guruku begitu kuat dan perkasa.”

Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Udāyī berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Apa urusannya denganmu, teman Ānanda, bahwa Gurumu begitu kuat dan perkasa?”

[Kitab Komentar : Ini adalah seorang Bhikkhu pengacau dalam Sagha). Dikatakan bahwa di masa lalu ia kesal terhadap Bhikkhu [Ānanda karena ditunjuk menjadi] pelayan Sang Buddha. Oleh karena itu sekarang ia memperoleh kesempatan, di akhir auman singa Sang Buddha, ia mencoba untuk menusuk keyakinan Bhikkhu Ānanda, seolah-olah memadamkan lilin yang menyala, memukul moncong sapi yang berkeliaran, atau membalikkan mangkuk yang penuh berisi makanan.]

Ketika hal ini dikatakan, Sang Bhagavā berkata kepada Yang Mulia Udāyī: “Jangan berkata begitu, Udāyī! Jangan berkata begitu, Udāyī! Udāyī, jika Ānanda meninggal dunia tanpa terbebaskan dari nafsu, maka berkat keyakinannya ia akan menguasai kerajaan surgawi tujuh kali dan kerajaan besar di Jambudīpa ini tujuh kali. Akan tetapi, dalam kehidupan ini juga Ānanda akan mencapai nibbāna akhir.”

[Kitab Komentar : Sang Buddha mengatakan ini, seolah-olah seorang yang baik hati yang berulang-ulang memberitahu orang lain yang berjalan terhuyung-huyung di tepi jurang, ‘Jalan lewat sini.]

Menjadi tidak mengherankan, bila dalam judul sutta yang sama, sūtra Mahāyāna ada menyebutkan sebagai berikut : “Ānanda, mengapa engkau mengatakan ini? Ia adalah seorang siswa yang kokoh dalam sebagian pengetahuan. Tetapi para Tathāgata, setelah memenuhi sepuluh kesempurnaan dan mencapai Kemahatahuan, adalah tidak terukur. Wilayah, jangkauan, dan kekuatan seorang siswa adalah satu hal, jangkauan para Buddha adalah sangat berbeda. Ini seperti membandingkan sedikit tanah di ujung kukumu dengan tanah di seluruh bumi ini.

Berkebalikan dari Buddhisme, agama samawi mengajarkan kepada para umatnya agar menjadi kaum kerdil yang “kenakak-kanakkan” untuk seumur hidup mereka, tanpa dilatih ataupun dibiasakan untuk melihat adanya bahaya dibalik pelanggaran besar maupun pelanggaran kecil terhadap prinsip-prinsip moralitas, kebaikan, kebenaran, keberanian untuk menerima konsekuensi serta bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri—kesemua ayat-ayat simbolik “SELFISH GENE” (mengikuti arus) berikut dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, namun berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal akhlak, hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.

Babi, disebut “haram”. Namun, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”, diklaim sebagai “HALAL LIFESTYLE” yang mereka obral dan bangga-banggakan secara vulgar. “Abolition of sins” maupun “cuci dosa” dipromosikan tanpa tabu ataupun malu lewat pengeras suara, alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun keberanian untuk bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri. Terhadap dosa dan maksiat, begitu kompromisik. Akan tetapi disaat bersamaan, terhadap kaum yang berbeda keyakinan, begitu intoleran. Busuknya jiwa yang telah dikuasai sepenuhnya oleh “SELFISH GENE” sang “bocah tua berambut putih” menjadikannya kasta paling rendah dan paling hina, pemeluk “Agama DOSA dari Kitab DOSA”—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]