Puasa Ramadhan Katanya Puasa Makan, Tapi Konsumsi para Muslim justru Meningkat, Mengharap Pahala dan Masih juga Berdelusi DOSA-DOSA SETAHUN DIHAPUSKAN. Pendosa Manakah yang Tidak Senang?
Kabar Gembira bagi PENDOSA, Sama artinya Kabar Duka bagi KORBAN
Tidak Ada Orang yang Lebih Dungu daripada Mabuk dan Kecanduan IMING-IMING yang
“too Good to be True”
Question: Iming-imingnya selalu saja “dosa-dosa selama setahun dihapuskan” bila berpuasa ramadhan. Bukankah itu artinya, lebih hebat orang yang tidak berpuasa ramadhan, karena memiliki jiwa ksatria dengan berani mengambil tanggung-jawab dan menghadapi konsekuensi atas perbuatannya sendiri yang pernah menyakiti, melukai, maupun merugikan pihak lainnya? Semua orang sanggup berpuasa ramadhan, dimana konsumsinya (justru) meningkat, menjadikan itu alasan untuk bekerja secara bermalas-malasan, menuntut THR, meminta dihormati, mempersekusi orang lain yang makan maupun yang membuka tempat makan, serta tentunya adiksi terhadap iming-iming “dosa-dosa setahun dihapuskan”.
Brief
Answer: Di dunia ini, bila kita
petakan kedalam tiga kategorisasi “kasta” manusia, maka terdapat tiga jenis
kasta. Pertama, Kasta SUCIWAN, yang terlatih dalam disiplin-diri yang ketat
bernama “mawas diri” dan “self-control”, yang bergaya hidup higienis dari
dosa maupun maksiat, karenanya tidak pernah butuh iming-iming KORUP semacam dogma
“PENGHAPUSAN DOSA”.
Kedua,
Kasta KSATRIAWAN, dimana mereka berjiwa ksatria sehingga sekalipun masih dapat
berbuat keliru seperti menyakiti, melukai, dan merugikan pihak lainnya, namun
pihak korban tidak perlu mengemis-ngemis pertanggung-jawaban dari sang
ksatriawan, sebab ia berani untuk bertanggung-jawab. Mereka, jijik dan alergi terhadap
dogma KORUP semacam “PENGAMPUNAN DOSA”. Hanya seorang pengecut dan pecundang
kehidupan, yang mengandalkan dan mencandu dogma KORUP demikian.
Ketiga,
Kasta PENDOSAWAN yang kecanduan “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”,
dimana agama yang mereka anut dan peluk ialah “Agama DOSA” yang bersumber dari “Kitab
DOSA” yang mempromosikan iming-iming “abolition of sins” alih-alih mengkampanyekan
gaya hidup higienis dari dosa maupun maksiat, alhasil mereka menjelma “KORUPTOR
DOSA”. Ketika PENDOSAWAN mencoba menghakimi dan menceramahi kaum SUCIWAN maupun
KSATRIAWAN, itu ibarat ORANG BUTA yang hendak menuntun orang yang pandangannya
jernih dan bersih pikirannya.
PEMBAHASAN:
Puasa ramadhan, tidak membuat kekotoran batin para umat muslim menjadi
terdegradasi sifatnya, justru terakumulasi kian serakah dimana dosa-dosa pun
dikorupsi lewat dogma “puasa ramadhan maka dosa-dosa setahun dihapuskan”
disamping fakta bahwa selama puasa ramadhan konsumsi kaum muslim meningkat
drastis dan dramatis. Kemerosotan moral yang justru dipetik oleh mereka yang
berpuasa ramadhan, lewat obsesi dan keserakahan berupa delusi “dosa-dosa setahun
dihapuskan”.
Adapun perihal “noda-noda di dalam diri yang sepatutnya ditanggalkan”,
dapat kita simak khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang
Buddha, JILID III”, Judul Asli
: “The Numerical Discourses of the Buddha”,
diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012,
terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan:
58 (4) Noda-Noda
“Para bhikkhu, dengan memiliki enam kualitas, seorang bhikkhu adalah
layak menerima pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan,
layak menerima penghormatan, lahan jasa yang tiada taranya di dunia. Apakah
enam ini? Di sini, melalui pengendalian seorang bhikkhu telah meninggalkan
noda-noda yang harus ditinggalkan melalui pengendalian; melalui penggunaan ia
telah meninggalkan noda-noda yang harus ditinggalkan melalui penggunaan;
melalui kesabaran dalam menahankan ia telah meninggalkan noda-noda yang harus ditinggalkan
melalui kesabaran dalam menahankan; melalui penghindaran ia telah meninggalkan
noda-noda yang harus ditinggalkan melalui penghindaran; melalui penghalauan ia
telah meninggalkan noda-noda yang harus ditinggalkan melalui penghalauan; dan
melalui pengembangan ia telah meninggalkan noda-noda yang harus ditinggalkan
melalui pengembangan.
(1) “Dan apakah, para bhikkhu, noda-noda
yang harus ditinggalkan melalui pengendalian yang telah ditinggalkan melalui pengendalian? Di sini, setelah merefleksikan dengan seksama, seorang
bhikkhu berdiam dengan terkendali pada indria mata. Noda-noda [388]
itu, yang menyusahkan dan menyebabkan demam, yang mungkin muncul pada seorang
yang tidak terkendali pada indria mata tidak muncul pada seorang yang
terkendali pada indria mata. Setelah merefleksikan dengan seksama, seorang bhikkhu
berdiam dengan terkendali pada indria telinga … indria hidung … indria
lidah … indria badan … indria pikiran. Noda-noda itu, yang
menyusahkan dan menyebabkan demam, yang mungkin muncul pada seorang yang tidak
terkendali pada indria pikiran tidak muncul pada seorang yang terkendali pada
indria pikiran. Noda-noda itu, yang menyusahkan dan menyebabkan demam, yang mungkin
muncul pada seseorang yang berdiam dengan tidak terkendali [pada hal-hal ini]
tidak muncul pada seseorang yang berdiam dengan terkendali. Ini disebut
noda-noda yang harus ditinggalkan melalui pengendalian yang telah ditinggalkan
melalui pengendalian.
(2) “Dan apakah noda-noda
yang harus ditinggalkan melalui penggunaan yang telah ditinggalkan melalui
penggunaan? Di sini, setelah
merefleksikan dengan seksama, seorang bhikkhu menggunakan jubah hanya untuk
mengusir dingin; untuk mengusir panas; untuk mengusir kontak dengan lalat,
nyamuk, angin, panas matahari, dan ular-ular; dan hanya untuk menutupi bagian
tubuh yang pribadi. Setelah merefleksikan dengan seksama, ia menggunakan dana
makanan bukan untuk kenikmatan juga bukan untuk kemabukan juga bukan untuk
keindahan dan kemenarikan fisik, melainkan hanya untuk menyokong dan memelihara
tubuh ini, untuk menghindari bahaya, dan untuk membantu kehidupan spiritual,
dengan pertimbangan: ‘Dengan demikian aku akan menghentikan perasaan lama dan
tidak membangkitkan perasaan baru, dan aku akan sehat dan tanpa cela dan
berdiam dengan nyaman.’ Setelah merefleksikan dengan seksama, seorang bhikkhu menggunakan
tempat tinggal hanya untuk mengusir dingin; untuk mengusir panas; untuk
mengusir kontak dengan lalat, nyamuk, angin, panas matahari, dan ular-ular; dan
hanya untuk perlindungan dari cuaca ganas dan untuk menikmati keterasingan.
Setelah merefleksikan dengan seksama, ia menggunakan obat-obatan dan perlengkapan
bagi yang sakit hanya untuk mengusir perasaan-perasaan menyakitkan yang telah
muncul dan untuk memelihara kesehatan. [389] Noda-noda itu, yang menyusahkan
dan menyebabkan demam, yang mungkin muncul pada seseorang yang tidak
menggunakan [benda-benda ini] tidak muncul pada seseorang yang menggunakannya.
Ini disebut noda-noda yang harus ditinggalkan melalui penggunaan yang telah
ditinggalkan melalui penggunaan.
(3) “Dan apakah noda-noda
yang harus ditinggalkan melalui kesabaran dalam menahankan yang telah
ditinggalkan melalui kesabaran dalam menahankan? Di sini, setelah merefleksikan dengan seksama
seorang bhikkhu dengan sabar menahankan dingin dan panas, lapar dan haus;
kontak dengan lalat, nyamuk, angin, panas matahari yang membakar, dan
ular-ular; ucapan yang kasar dan menghina; ia menahankan perasaan jasmani yang muncul
yang menyakitkan, menyiksa, tajam, menusuk, mengerikan, tidak menyenangkan,
melemahkan vitalitasnya. Noda-noda itu, yang menyusahkan dan menyebabkan
demam, yang mungkin muncul pada seseorang yang tidak dengan sabar menahankan [hal-hal
ini] tidak muncul pada seseorang yang dengan sabar menahankannya. Ini
disebut noda-noda yang harus ditinggalkan melalui kesabaran dalam menahankan
yang telah ditinggalkan melalui kesabaran dalam menahankan.
(4) “Dan apakah noda-noda
yang harus ditinggalkan melalui penghindaran yang telah ditinggalkan melalui
penghindaran? Di sini, setelah
merefleksikan dengan seksama seorang bhikkhu menghindari gajah liar, kuda liar,
sapi liar, dan anjing liar; ia menghindari ular, tunggul, rumpun berduri,
lubang, tebing curam, tempat sampah, dan lubang kakus. Setelah merefleksikan
dengan seksama, ia menghindari duduk di tempat-tempat duduk yang tidak selayaknya,
dan menghindari mengembara di tempat menerima dana makanan yang tidak layak,
dan menghindari bergaul dengan teman-teman jahat, agar teman-temannya
para bhikkhu yang bijaksana tidak mencurigainya telah melakukan perbuatan
jahat. Noda-noda itu, yang menyusahkan dan menyebabkan demam, yang mungkin
muncul pada seseorang yang tidak menghindari [hal-hal ini] tidak muncul pada
seseorang yang menghindarinya. [390] Ini disebut noda-noda yang harus
ditinggalkan melalui penghindaran yang telah ditinggalkan melalui penghindaran.
(5) “Dan apakah noda-noda
yang harus ditinggalkan melalui penghalauan yang telah ditinggalkan melalui
penghalauan? Di sini, setelah
merefleksikan dengan seksama seorang bhikkhu tidak membiarkan pikiran
indriawi yang telah muncul; ia meninggalkannya, menghalaunya, menghentikannya,
dan melenyapkannya. Setelah merefleksikan dengan seksama, ia tidak membiarkan
pikiran berniat buruk yang telah muncul … pikiran mencelakai yang telah
muncul … kondisi-kondisi tidak bermanfaat kapan pun munculnya; ia
meninggalkannya, menghalaunya, menghentikannya, dan melenyapkannya. Noda-noda
itu, yang menyusahkan dan menyebabkan demam, yang mungkin muncul pada seseorang
yang tidak menghalau [hal-hal ini] tidak muncul pada seseorang yang
menghalaunya. Ini disebut noda-noda yang harus ditinggalkan melalui penghalauan
yang telah ditinggalkan melalui penghalauan.
(6) “Dan apakah noda-noda
yang harus ditinggalkan melalui pengembangan yang telah ditinggalkan melalui
pengembangan? Di sini,
setelah merefleksikan dengan seksama seorang bhikkhu mengembangkan faktor
pencerahan perhatian, yang berdasarkan pada keterasingan, kebosanan, dan
lenyapnya, yang matang
dalam kebebasan. Setelah
merefleksikan dengan seksama, ia mengembangkan faktor pencerahan pembedaan
fenomena-fenomena … faktor pencerahan kegigihan … faktor
pencerahan sukacita … faktor pencerahan ketenangan … faktor
pencerahan konsentrasi … faktor pencerahan keseimbangan, yang
berdasarkan pada keterasingan, kebosanan, dan lenyapnya, yang matang dalam kebebasan.
Noda-noda itu, yang menyusahkan dan menyebabkan demam, yang mungkin muncul pada
seseorang yang tidak mengembangkan [hal-hal ini] tidak muncul pada seseorang
yang mengembangkannya. Ini disebut noda-noda yang harus ditinggalkan melalui
pengembangan yang telah ditinggalkan melalui pengembangan.
“Dengan memiliki keenam kualitas ini, seorang bhikkhu adalah layak
menerima pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan, layak
menerima penghormatan, lahan jasa yang tiada taranya di dunia.” [391]
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi,
disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam
“PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”.
Dosa-dosa
pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang
begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri
buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut
yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik
perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit
jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip
dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa,
namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang
berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN
DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi
sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun
hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga.
Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur,
adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun
disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.
Terhadap
dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda
keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik
menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan
membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA”
alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat
kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih
dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]