Pria yang Kerap Lapar Mata dan Indera Tidak Terkendali, Mudah Terjatuh dalam Pikatan seorang Wanita

Jangan Pernah Remehkan Kekotoran Batin yang Bersarang dalam Diri, Terlebih Menantangnya, Pasti Kalah bila Belum Terlatih dalam “SELF-CONTROL

Question: Apakah Sang Buddha pernah memberikan wejangan perihal daya pikat seorang perempuan, agar pria tidak mudah tunduk dibawah daya pikat tersebut?

Brief Answer: Salah satu yang patut diwaspadai ialah “cinta lokasi”. Sang Buddha pernah bersabda : Akibat sering bertemu satu sama lain, maka suatu keterikatan terbentuk; karena keterikatan terbentuk, maka keakraban muncul; karena ada keakraban, maka nafsu mendapatkan peluang. Cukup berlatih untuk mengendalikan pikiran sendiri, bukan sibuk mengendalikan individu diluar diri kita.

PEMBAHASAN:

Bila indera-indera tidak terkendali dan tidak terlatih dalam disiplin diri yang ketat bernama “self-control”, maka seseorang cenderung terjatuh dalam kondisi dikuasai oleh nafsu keinginan, berpoligami, hingga melakukan kejahatan asusila terhadap anggota keluarga sendiri. Jangan bermain api, bila takut terbakar, sebagaimana khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID III”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan:

55 (5) Ibu dan Anak

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Pada saat itu seorang ibu dan putranya, yang adalah seorang bhikkhunī dan seorang bhikkhu, memasuki masa keberdiaman musim hujan di Sāvatthī. Mereka sering kali ingin saling bertemu satu sama lain, sang ibu sering ingin bertemu putranya dan sang putra ingin bertemu ibunya. Karena mereka sering bertemu satu sama lain, maka suatu keterikatan terbentuk; karena keterikatan terbentuk, maka keakraban muncul; karena ada keakraban, maka nafsu mendapatkan peluang.

Dengan pikiran mereka dicengkeram oleh nafsu, tanpa meninggalkan latihan dan menyatakan kelemahan mereka, mereka melakukan hubungan seksual.

Kemudian sejumlah para bhikkhu mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan melaporkan apa yang telah terjadi. [68] [Sang Bhagavā berkata:]

“Para bhikkhu, apakah orang dungu itu berpikir: ‘Seorang ibu tidak jatuh cinta pada putranya, atau seorang putra tidak jatuh cinta pada ibunya’?

(1) Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu bentuk lain pun yang begitu menggoda, sensual, memabukkan, memikat, menggilakan, dan begitu menghalangi untuk mencapai keamanan yang tidak terlampaui dari belenggu seperti halnya bentuk seorang perempuan. Makhluk-makhluk yang bernafsu pada bentuk seorang perempuan – kelaparan, terikat padanya, tergila-gila, dan secara membuta terserap di dalamnya – berdukacita untuk waktu yang lama di bawah kendali bentuk seorang perempuan.

(2) Aku tidak melihat bahkan satu suara lain pun …

(3) … bahkan satu bau lain pun …

(4) … bahkan satu rasa kecapan lain pun …

(5) … bahkan satu sentuhan lain pun yang begitu menggoda, sensual, memabukkan, memikat, menggilakan, dan begitu menghalangi untuk mencapai keamanan yang tidak terlampaui dari belenggu seperti halnya sentuhan seorang perempuan. Makhluk-makhluk yang bernafsu pada sentuhan seorang perempuan – kelaparan, terikat padanya, tergila-gila, dan secara membuta terserap di dalamnya - berdukacita untuk waktu yang lama di bawah kendali sentuhan seorang perempuan.

“Para bhikkhu, sewaktu berjalan, seorang perempuan menguasai pikiran seorang laki-laki; sewaktu berdiri … sewaktu duduk … sewaktu berbaring … sewaktu tertawa … sewaktu berbicara … sewaktu bernyanyi … sewaktu menangis seorang perempuan menguasai pikiran seorang laki-laki. Ketika membengkak, juga seorang perempuan menguasai pikiran seorang laki-laki. Bahkan ketika mati, seorang perempuan menguasai pikiran seorang laki-laki. Jika, para bhikkhu, seseorang dapat dengan benar mengatakan tentang sesuatu: ‘Keseluruhan jerat Māra,’ adalah sehubungan dengan para perempuan hal ini dikatakan.” [69]

Seseorang boleh berbicara dengan musuh yang berniat membunuh,

seseorang boleh berbicara dengan makhluk jahat,

seseorang bahkan boleh mendekati seekor ular berbisa,

yang gigitannya pasti mengakibatkan kematian;

tetapi dengan seorang perempuan, satu lawan satu,

seseorang tidak boleh berbicara.

Mereka mengikat seseorang yang pikirannya kacau

dengan lirikan dan senyuman,

dengan pakaiannya yang berantakan,

dan dengan tutur kata yang lembut,

Tidaklah aman mendekati orang demikian

walaupun ia membengkak dan mati.

Kelima objek kenikmatan indria ini

terlihat dalam tubuh seorang perempuan:

bentuk, suara, rasa kecapan, dan bau-bauan,

dan juga sentuhan yang menyenangkan.

Mereka yang terhanyutkan oleh banjir indriawi,

yang tidak sepenuhnya memahami kenikmatan-kenikmatan indria,

jatuh dengan kepala lebih dulu ke dalam sasāra, [ke dalam] waktu,

alam tujuan, dan penjelmaan demi penjelmaan.

Tetapi mereka yang telah sepenuhnya memahami

kenikmatan-kenikmatan indria.

hidup tanpa takut dari arah mana pun juga,

Setelah mencapai hancurnya noda-noda,

selagi masih di dunia ini, mereka telah menyeberang.