Cacat Dogma Agama Samawi yang Berhubungan dengan Kehidupan Mendatang. Tidak Takut pada Cacat dan Tidak Melihat Bahaya dalam Cacat, maka Tidak akan Terbebas dari Segala Cacat

Tuhan saja Patuh dan Hormat terhadap Hukum Alam seperti Hukum Fisika, Tidak Terkecuali Hukum Karma

Tidak Ada Alasan Valid bagi Tuhan untuk Mengesampingkan maupun Mengintervensi Hukum Alam Ciptaannya Sendiri

Ketika Allah Mengesampingkan Hukum Alam Ciptaannya Sendiri, artinya Allah Mengakui Cacat atau Tidak Sempurnanya Allah maupun Hukum Alam yang Ia Ciptakan Sendiri

Question: Sering saya bertanya-tanya, jika Tuhan saja patuh dan hormat terhadap hukum fisika sebagai otoritas yang ia ciptakan sendiri, semisal ada gedung tempat ibadah yang berlantai tiga namun lantai dua dan lantai tiga-nya justru menjorok ke arah jalan sehingga dapat dipastikan akan roboh berdasarkan hukum gravitasi, mengakibatkan banyak umat meninggal dunia tertimpa reruntuhan, maka bukankah artinya Tuhan juga akan patuh dan hormat terhadap otoritas hukum alam lainnya semisal hukum sebab-akibat yang lebih sering kita kenal dengan sebutan “hukum karma”? Bagaimana mungkin, Tuhan menyimpangi hukumnya sendiri dengan menghapus dosa-dosa penjahat, mengesampingkan hukum sebab-akibat dengan memasukkan penjahat-penjahat yang dikodratkan masuk neraka, justru dimasukkan ke surga.

Brief Answer: Itulah kontradiktif terbesar dalam dogma agama-agama samawi yang selama ini membahas panjang-lebar tentang “kodrat manusia”, akan tetapi dan telah ternyata dibantah sendiri dengan “memasukkan penjahat ke surga alih-alih dilempar ke neraka” sekalipun “penjahat pada kodratnya masuk neraka”. Yang paling ironis dari agama samawi, ialah inkonsistensi antar dogma internal agama bersangkutan. Contoh, hukuman bagi pencuri merujuk hukum syariat islam, ialah dipotong tangannya. Hukuman bagi berzina, ialah dirajam. Namun, terhadap dosa-dosa dan maksiat, justru diganjar surga lewat iming-iming dogma “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”, dimana yesus memasukkan ke surga dua penjahat—salah satunya ialah seorang penyamun—yang turut disalib bersama yesus di atas kayu salib, dan muhammad rasul Allah telah ternyata adalah figur yang mabuk serta kecanduan “PENGAMPUNAN DOSA”.

PEMBAHASAN:

Agama samawi justru mengajarkan agar umatnya memelihara dan melestarikan “cacat yang berhubungan dengan kehidupan mendatang”, sebagaimana dapat kita simak khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID I”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:

1 (1) Cacat

Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu!”

“Yang Mulia!” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Para bhikkhu, ada dua cacat ini. Apakah dua ini? Cacat yang berhubungan dengan kehidupan sekarang dan cacat yang berhubungan dengan kehidupan mendatang.

“Dan apakah cacat yang berhubungan dengan kehidupan sekarang? Di sini, seseorang melihat ketika raja-raja menangkap seorang perampok, seorang kriminal, mereka menjatuhkan berbagai hukuman kepadanya: mereka mencambuknya dengan cemeti, memukulnya dengan rotan, memukulnya dengan tongkat pemukul; mereka memotong tangannya, memotong kakinya, memotong tangan dan kakinya; memotong telinganya, memotong hidungnya, memotong telinga dan hidungnya; mereka menjatuhkan kepadanya siksaan ‘panci bubur,’ ‘cukuran kulit kerang yang digosok,’ ‘mulut Rāhu,’ ‘lingkaran api,’ ‘tangan menyala,’ ‘helai rumput,’ [48] ‘pakaian kulit kayu,’ ‘antelop,’ ‘kail daging,’ ‘kepingan uang,’ ‘cairan asam,’ ‘tusukan berporos,’ ‘gulungan tikar jerami’; dan mereka menyiramnya dengan minyak mendidih, dan mereka membuangnya agar dimangsa oleh anjing-anjing, dan dalam keadaan hidup ia ditusuk dengan kayu pancang, dan kepalanya dipenggal dengan pedang.

[Kitab Komentar :

(1) Panci bubur (bilagathālika): mereka memecahkan tengkoraknya, mengambil sebuah bola besi panas dengan penjepit, dan meletakkan bola itu ke dalamnya, dan mendidihkan otaknya hingga meluap.

(2) Cukuran kulit kerang yang digosok (sakhamuṇḍika): mereka menyayat kulitnya [pada bagian] yang dibatasi dengan bibir atasnya, bawah telinga, dan tenggorokan, mengikat rambutnya menjadi satu simpul, mengikatnya di sebatang tongkat, dan menariknya, sehingga kulit bersama dengan rambut kepalanya terlepas; kemudian mereka menggosok tengkoraknya dengan pasir kasar dan mencucinya, sehingga berwarna menyerupai kulit kerang.

(3) Mulut Rāhu (sāhumukha): mereka membuka paksa mulutnya dengan sebatang tombak dan menyalakan pelita di dalam mulutnya, atau mereka menggali ke dalam mulutnya menggunakan sekop hingga darah mengalir dan memenuhi mulutnya.

(4) Lingkaran api (jotimālika): mereka menggulung kain yang telah dibasahi minyak ke seluruh tubuhnya dan membakarnya.

(5) Tangan menyala (hatthapajjotika): mereka menggulung kain yang telah dibasahi minyak ke lengannya dan membakarnya hingga menyala bagaikan pelita.]

“Ia berpikir: ‘Ketika raja-raja menangkap seorang perampok, seorang kriminal, mereka menjatuhkan berbagai hukuman kepadanya: mereka mencambuknya dengan cemeti … kepalanya dipenggal dengan pedang. Sekarang jika aku melakukan perbuatan jahat itu, dan jika raja-raja menangkapku, maka mereka akan menjatuhkan hukuman yang sama kepadaku. Mereka akan mencambukku dengan cemeti … dan kepalaku akan dipenggal dengan pedang.’ Takut pada cacat yang berhubungan dengan kehidupan sekarang, ia tidak merampas barang-barang milik orang lain. Ini disebut cacat yang berhubungan dengan kehidupan sekarang.

[Kitab Komentar : Bahkan jika suatu gumpalan berisikan seribu [keping emas] terjatuh di jalan, ia tidak akan mencurinya dengan pikiran untuk menyokong dirinya dengan emas itu, tetapi ia akan membalikkannya dengan kakinya dan melanjutkan perjalanannya, dengan pikiran: “Kebutuhan apa yang kuperlukan dengan ini?”]

“Dan apakah cacat yang berhubungan dengan kehidupan mendatang? Di sini, seseorang merenungkan sebagai berikut: ‘Perbuatan buruk melalui jasmani memiliki akibat yang buruk dan menyakitkan di masa depan; perbuatan buruk melalui ucapan memiliki akibat yang buruk dan menyakitkan di masa depan; perbuatan buruk melalui pikiran memiliki akibat yang buruk dan menyakitkan di masa depan. Sekarang jika aku melakukan perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran, maka, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, aku akan terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan kelahiran yang buruk, di alam rendah, di neraka!’ [49] Takut pada cacat yang berhubungan dengan kehidupan mendatang, ia meninggalkan perbuatan buruk melalui jasmani dan mengembangkan perbuatan baik melalui jasmani; ia meninggalkan perbuatan buruk melalui ucapan dan mengembangkan perbuatan baik melalui ucapan; ia meninggalkan perbuatan buruk melalui pikiran dan mengembangkan perbuatan baik melalui pikiran. Ini disebut cacat yang berhubungan dengan kehidupan mendatang.

“Ini, para bhikkhu, adalah dua cacat. Oleh karena itu, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan takut pada cacat yang berhubungan dengan kehidupan sekarang; kami akan takut pada cacat yang berhubungan dengan kehidupan mendatang. Kami akan takut pada cacat dan melihat bahaya dalam cacat.’ Dengan cara demikianlah kalian harus berlatih. Dapat diharapkan bahwa seorang yang takut pada cacat dan melihat bahaya dalam cacat akan terbebas dari segala cacat.”

Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi, disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”. Dosa-dosa pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.

Terhadap dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA” alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]