Apakah Dunia ini, Betul-Betul Butuh Agama Samawi, Sekalipun Telah Terdapat Hukum Alam Bernama HUKUM KARMA (HUKUM SEBAB-AKIBAT)?

Agama Samawi hanya dapat Membuat Umat Pemeluknya Mengalami Kemunduran Moralitas : BUAT DOSA, SIAPA TAKUT? ADA PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA!

Question: Sebelum agama samawi-abrahamik dilahirkan atau diperkenalkan ke dunia ini, orang-orang baik otomatis masuk surga dan orang jahat dikodratkan masuk neraka. Namun, setelah agama samawi lahir, orang-orang baik justru dilempar ke neraka oleh sang nabi atau oleh tuhannya mereka, dimana kemudian surga dimonopoli oleh penjahat-penjahat berdosa yang pandai menjilat bokong tuhan beserta nabinya. Jadilah itu kabar gembira bagi penjahat, dan merupakan kabar buruk bagi kalangan orang baik ataupun korban dari para penjahat tersebut. Juru selamat bagi penjahat, merupakan juru petaka bagi kalangan korban maupun bagi orang-orang baik.

Anehnya, hari atau tanggal dilahirkannya agama-agama bagi penjahat seperti itu justru dirayakan setiap tahunnya dengan semarak serta gegap-gempita, alih-alih dijadikan “hari berkabung global” dan diperingati sebagai hari “hari raya duka” dimana surga dirampas dari semula hak orang baik untuk dimonopoli oleh menusia-jahat yang menggadaikan jiwanya kepada sosok yang mereka sebut dan klaim sebagai “tuhan”? Sering saya bertanya, apakah dunia ini betul-betul butuh agama samawi, meski telah ada hukum alam semacam hukum karma (hukum sebab dan akibat) dimana bahkan tuhan tidak butuh terlibat ataupun mengintervensi kehidupan manusia?

Mengapa juga agama yang dibawa oleh penjajah, justru kemudian dipeluk dan dianut oleh bangsa yang dijajah olehnya, tanpa mau bertanya “Mengapa agama tersebut tidak menasehati atau menceramahi para penjajah tersebut agar tidak menjajah bangsa kami?” Agama yang betul-betul cinta damai, tidak mungkin dibawa oleh penjajah. Semakin agama yang memanipulasi manusia tersebut mencari pembenaran diri, justru kian menyerupai “benang-kusut” yang saling bertentangan antar dogma internal agama bersangkutan itu sendiri.

Brief Answer: Orang baik masuk surga dan orang jahat masuk neraka, itulah “agama optimistik”. Sebaliknya, hanya pendosa yang mencandu pengampunan / penebusan dosa yang bisa masuk surga, dimana orang-orang baik yang tidak menyembah “Tuhan” tertentu justru dimasukkan ke neraka, itulah yang disebut “agama pesimistik”. Orang-orang yang pesimistis akan cenderung berkohesi dengan “agama pesimistik”, sementara itu orang-orang yang optimistis akan cenderung berkohesi dengan “agama optimistik”. Serupa dengan aliran air yang secara alamiahnya bergerak ke arah bawah, bukan ke arah atas. Kebodohan batin, sangat menyerupai aliran air yang alamiah demikian, kecenderungannya membuat kemerosotan moral. Karenanya, merenung serta menganalisa, menjadi penting dalam rangka merawat dan menumbuhkan kebijaksanaan di dalam diri agar tidak mudah termakan dan memakan ideologi “toxic” yang dipenuhi oleh dogma-dogma pendegradasi moral.

PEMBAHASAN:

Perihal kemunduran dan ketidak-munduran, dapat kita simak khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID IV”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan sebagai berikut:

III. Tujuh Vajji

21 (1) Sārandada

[16] Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Vesālī di Altar Sārandada. Kemudian sejumlah orang Licchavi mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, dan duduk di satu sisi. Sang Bhagavā berkata kepada mereka sebagai berikut:

“Aku akan mengajarkan kepada kalian, para Licchavi, tentang tujuh prinsip ketidak-munduran. Dengarkan dan perhatikanlah. Aku akan berbicara.”

“Baik, Bhante,” para Licchavi itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Dan apakah, para Licchavi, tujuh prinsip ketidak-munduran itu?

(1) “Para Licchavi, selama para Vajji sering berkumpul dan sering mengadakan pertemuan, maka hanya pertumbuhan yang menanti mereka, bukan kemunduran.

(2) “Selama para Vajji berkumpul dengan rukun, bubar dengan rukun, dan melakukan urusan-urusan Vajji dengan rukun, maka hanya pertumbuhan yang menanti mereka, bukan kemunduran.

(3) “Selama para Vajji tidak menetapkan apa pun yang belum ditetapkan atau meniadakan apa yang telah ditetapkan melainkan menjalankan dan mengikuti prinsip-prinsip kuno Vajji seperti yang telah ditetapkan, maka hanya pertumbuhan yang menanti mereka, bukan kemunduran.

(4) “Selama para Vajji menghormati, menghargai, menjunjung, dan memuliakan para sesepuh Vajji dan berpendapat bahwa mereka seharusnya dipatuhi, maka hanya pertumbuhan yang menanti mereka, bukan kemunduran.

(5) “Selama para Vajji tidak menculik perempuan-perempuan dan anak-anak gadis dari keluarga mereka dan memaksa mereka untuk hidup bersama, maka hanya pertumbuhan yang menanti mereka, bukan kemunduran.

(6) “Selama para Vajji menghormati, menghargai, menjunjung, dan memuliakan altar-altar tradisi, baik yang berada di dalam [kota] maupun di luar kota, [17] dan tidak mengabaikan pengorbanan baik seperti yang dipersembahkan kepada altar-altar itu di masa lalu, maka hanya pertumbuhan yang menanti mereka, bukan kemunduran.

[Kitab Komentar : Ketika orang-orang mengabaikan persembahan yang baik, para dewata tidak melindungi mereka, dan bahkan jika mereka tidak memunculkan penderitaan baru, namun mereka meningkatkan penderitaan yang telah muncul, seperti batuk dan sakit kepala, dan sebagainya; dan pada masa perang, orang-orang tidak memiliki sekutu. Tetapi ketika orang-orang tidak mengabaikan persembahan, para dewata melindungi mereka dengan baik, dan bahkan jika mereka tidak memunculkan penderitaan baru, namun mereka melenyapkan penyakit-penyakit lama; dan pada masa perang, orang-orang memiliki sekutu.]

(7) “Selama para Vajji memberikan perlindungan baik, naungan baik, dan penjagaan baik kepada para Arahant, [dengan niat]: ‘Bagaimanakah agar para Arahant yang belum datang ke sini dapat datang ke negeri kami, dan bagaimanakah agar para Arahant itu yang telah datang dapat berdiam dengan nyaman di sini?’ maka hanya pertumbuhan yang menanti mereka, bukan kemunduran.

“Para Licchavi, selama ketujuh prinsip ketidak-munduran ini berlanjut di antara para Vajji, dan para Vajji terlihat [kokoh] di dalamnya, maka hanya pertumbuhan yang menanti mereka, bukan kemunduran.”

~0~

IV. Para Dewata

32 (1) Kewaspadaan

Ketika malam telah larut, sesosok dewata tertentu dengan keindahan mempesona, menerangi seluruh Hutan Jeta, [28] mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, berdiri di satu sisi, dan berkata kepada Sang Bhagavā:

“Bhante, ada tujuh kualitas yang mengarah pada ketidak-munduran seorang bhikkhu. Apakah tujuh ini? Penghormatan kepada Sang Guru, penghormatan kepada Dhamma, penghormatan kepada Sagha, penghormatan kepada latihan, penghormatan kepada konsentrasi, penghormatan kepada kewaspadaan, dan penghormatan kepada keramahan. Ketujuh kualitas ini mengarah pada ketidak-munduran seorang bhikkhu.”

Ini adalah apa yang dikatakan oleh dewata tersebut. Sang Guru menyetujui. Kemudian dewata itu, [berpikir]: “Sang Guru setuju denganku,” bersujud kepada Sang Bhagavā, mengelilingi Beliau dengan sisi kanannya menghadap Beliau, dan lenyap dari sana. Kemudian, ketika malam telah berlalu, Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Tadi malam, para bhikkhu, ketika malam telah larut, sesosok dewata tertentu dengan keindahan mempesona, menerangi seluruh Hutan Jeta, mendatangiKu, bersujud kepadaKu, berdiri di satu sisi, dan berkata kepadaKu: ‘Bhante, ada tujuh kualitas yang mengarah pada ketidak-munduran seorang bhikkhu. Apakah tujuh ini? Penghormatan kepada Sang Guru … dan penghormatan kepada keramahan. Ketujuh kualitas ini mengarah pada ketidak-munduran seorang bhikkhu.’ Ini adalah apa yang dikatakan oleh dewata tersebut. Kemudian dewata tersebut bersujud kepadaKu, mengelilingiKu dengan sisi kanannya menghadapKu, dan lenyap dari sana.”

Hormat kepada Sang Guru,

hormat kepada Dhamma,

hormat kepada Sagha,

hormat kepada konsentrasi, bersungguh-sungguh,

sangat menghormati latihan,

hormat kepada ketekunan,

menggenggam keramahan dengan hormat:

bhikkhu ini tidak akan jatuh,

melainkan dekat pada nibbāna.

Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi, disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”. Dosa-dosa pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.

Terhadap dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA” alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]