Ayah yang Baik, “Treasure His Own Son & Daughter Life and Happiness, More than His Own Life”—Ibrahim / Abraham BUKANLAH seorang Ayah yang Baik, ia Teladan yang Buruk dan Tercela, seorang Eksekutor yang Mabuk-Bidadari
Question : ibrahim tidak rela berkorban demi kebahagiaan dan keselamatan anak, justru sebaliknya, merampas nyawa dan hidup anak demi EGO sang bapak yang akibat mimpi-basah tergila-gila ingin bersetubuh dengan puluhan bidadari berdada-montok di sorga dengan cara menyembelih leher MILIK ORANG LAIN, bukan leher MILIK IBRAHIM SENDIRI. Itu namanya mengorbankan ORANG LAIN, bukan mengorbankan DIRI SENDIRI. Itu adalah bukti tidak terbantahkan bahwa Ibrahim tidaklah mencintai hidup sang anak, “more than his own life”; namun (justru) sebaliknya, EGOISTIC FATHER. Bahkan ia tidak patut disebut sebagai seorang “ayah sejati”, akan tetapi seorang EKSEKUTOR yang EGOIS!
Brief
Answer : Siswa Sang Buddha, akan menanggapi
godaan Allah, Satan, ataupun bidadari manapun, dengan kalimat singkat berikut :
“Kami tidak menjalani
kehidupan suci demi bidadari, Saudari-saudari”, lalu pergi meninggalkannya tanpa terjerat, tanpa
kemelekatan apapun. Orangtua yang benar-benar mengasihi hidup dan masa depan
sang anak, memberi mereka kebebasan untuk mengejar impian serta kebahagiaan
mereka sendiri, bukan justru menyeret mereka demi EGO pribadi sang ayah / ibu—itulah
yang disebut “peng-kurban-an” dalam perspektif Buddhisme.
PEMBAHASAN:
Hanya orang dungu,
yang jatuh pada rintangan klasik “wanita, uang, dan kekuasaan”, sebagaimana dapat
kita simak selengkapnya dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha
(Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of
the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli
to English by Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom
Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya
& Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):
SUTTA
82
Raṭṭhapāla Sutta: Tentang
Raṭṭhapāla
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
mengembara di negeri Kuru bersama dengan sejumlah besar Saṅgha para bhikkhu, dan akhirnya Beliau tiba di suatu pemukiman Kuru
bernama Thullakoṭṭhita.
2. Para brahmana perumah-tangga di Thullakoṭṭhita mendengar: “Petapa Gotama, putera Sakya yang meninggalkan keduniawian
dari suku Sakya, telah mengembara di Negeri Kuru [55] bersama dengan sejumlah
besar Saṅgha para bhikkhu dan telah sampai di Thullakoṭṭhita. Sekarang berita baik sehubungan dengan Guru Gotama telah menyebar
sebagai berikut: ‘Bahwa
Sang Bhagavā sempurna, telah tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan
sejati dan perilaku, mulia, pengenal seluruh alam, pemimpin yang tanpa
bandingnya bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia,
tercerahkan, terberkahi. Beliau menyatakan dunia ini bersama dengan para dewa, Māra, dan Brahmā,
generasi ini dengan para petapa dan brahmana, para pangeran dan rakyatnya, yang
telah Beliau tembus oleh diriNya sendiri dengan pengetahuan langsung. Beliau
mengajarkan Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di
akhir, dengan kata-kata dan makna yang benar, dan Beliau mengungkapkan
kehidupan suci yang murni dan sempurna sepenuhnya.’ Sekarang adalah baik
sekali jika dapat menemui para Arahant demikian.”
3. Kemudian para brahmana perumah-tangga dari Thullakoṭṭhita pergi menemui Sang Bhagavā. Beberapa bersujud kepada Sang Bhagavā
dan duduk di satu sisi; beberapa lainnya saling bertukar sapa dengan Beliau,
dan ketika ramah-tamah ini berakhir, duduk di satu sisi; beberapa lainnya
merangkapkan tangan sebagai penghormatan kepada Sang Bhagavā dan duduk di satu
sisi; beberapa lainnya menyebutkan nama dan suku mereka di hadapan Sang Bhagavā
dan duduk di satu sisi; beberapa hanya berdiam diri dan duduk di satu sisi.
Ketika mereka telah duduk, Sang Bhagavā memberikan instruksi, mendorong,
membangkitkan semangat, dan menggembirakan mereka dengan khotbah Dhamma.
4. Pada saat itu seorang anggota keluarga bernama Raṭṭhapāla, putera seorang kepala suku di Thullakoṭṭhita itu, sedang duduk di tengah-tengah pertemuan itu. Kemudian ia berpikir:
“Seperti yang kupahami dari Dhamma yang diajarkan oleh Sang Bhagavā, tidaklah mudah selagi
menetap di rumah juga menjalani kehidupan suci, yang sepenuhnya murni dan sempurna
bagaikan kulit kerang yang digosok. Bagaimana jika aku mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah
kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju
kehidupan tanpa rumah.”
[Kitab Komentar : Karena Raṭṭhapāla
siap menerima resiko kematian untuk memperoleh izin dari orangtuanya untuk
meninggalkan keduniawian, kelak ia dinyatakan oleh Sang Buddha sebagai yang
terbaik di antara mereka yang meninggalkan keduniawian karena keyakinan.
Syair syairnya terdapat pada Theragāthā 769-93.]
5. Kemudian para brahmana perumah-tangga Thullakoṭṭhita, setelah diberikan instruksi, didorong, dibangkitkan semangatnya, dan
digembirakan oleh Sang Bhagavā dengan khotbah Dhamma, merasa senang dan gembira
mendengar kata-kata Beliau. Mereka bangkit dari duduk [56], dan setelah
bersujud kepada Beliau, mereka pergi, dengan Beliau tetap di sisi kanan mereka.
6. Segera setelah mereka pergi, Raṭṭhapāla mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah bersujud
kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang
Mulia, seperti yang kupahami dari Dhamma yang diajarkan oleh Sang Bhagavā, tidaklah
mudah selagi menetap di rumah juga menjalani kehidupan suci, yang sepenuhnya
murni dan sempurna bagaikan kulit kerang yang digosok. Yang Mulia, aku ingin
mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan
kedunaiwian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Aku ingin
menerima pelepasan keduniawian di bawah Sang Bhagavā, aku ingin menerima penahbisan
penuh.”
“Apakah engkau telah diizinkan oleh orangtuamu, Raṭṭhapāla, untuk meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju
kehidupan tanpa rumah?”
“Belum, Yang Mulia, aku belum diizinkan oleh orangtuaku.”
“Raṭṭhapāla, Tathāgata tidak memberikan pelepasan keduniawian
kepada siapapun yang belum mendapatkan izin orangtuanya.”
“Yang Mulia, Aku akan memastikan bahwa orangtuaku mengizinkan aku
meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah.”
7. Kemudian Raṭṭhapāla bangkit dari duduknya, dan setelah bersujud
kepada Sang Bhagavā, ia pergi, dengan Beliau tetap di sisi kanannya. Ia
menghadap orangtuanya dan memberitahu mereka: “Ibu dan ayah, seperti yang
kupahami dari Dhamma yang diajarkan oleh Sang Bhagavā, tidaklah mudah selagi menetap
di rumah juga menjalani kehidupan suci, yang sepenuhnya murni dan sempurna
bagaikan kulit kerang yang digosok. Aku ingin mencukur rambut dan janggutku, mengenakan
jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju
kehidupan tanpa rumah. Izinkanlah aku meninggalkan keduniawian dari kehidupan
rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.”
Ketika ia mengatakan hal ini, orangtuanya menjawab: “Anakku Raṭṭhapāla, engkau adalah anak
kami satu-satunya, yang kami sayangi dan cintai. Engkau dibesarkan dalam kenyamanan, tumbuh
dalam kenyamanan, engkau tidak tahu apa-apa tentang penderitaan, anakku Raṭṭhapāla. [57] Bahkan
jika engkau meninggal dunia, kami tidak akan rela kehilangan engkau, jadi bagaimana
mungkin kami mengizinkan engkau meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah
tangga menuju kehidupan tanpa rumah selagi engkau masih hidup?”
[Komentar : Melepaskan anak untuk hidup bebas sesuai
aspirasinya, merupakan “peng-kurban-nan TANPA DARAH” dalam Buddhisme.]
Untuk ke dua kalinya … Untuk ke tiga kalinya si anggota keluarga Raṭṭhapāla berkata kepada orangtuanya: “Ibu
dan ayah … izinkanlah aku meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga
menuju kehidupan tanpa rumah.”
Untuk ke dua kalinya … Untuk ke tiga kalinya orangtuanya menjawab: “Anakku Raṭṭhapāla … bagaimana
mungkin kami mengizinkan engkau meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah
tangga menuju kehidupan tanpa rumah selagi engkau masih hidup?”
Kemudian, karena tidak menerima izin dari orangtuanya untuk meninggalkan
keduniawian, si anggota keluarga Raṭṭhapāla berbaring di lantai, dan berkata: “Di sini aku akan mati
atau menerima pelepasan keduniawian.” [58]
8. Kemudian orangtua Raṭṭhapāla berkata kepadanya: “Anakku Raṭṭhapāla, engkau adalah
anak kami satu-satunya, yang kami sayangi dan cintai. Engkau dibesarkan dalam kenyamanan, tumbuh dalam
kenyamanan, engkau tidak mengetahui penderitaan, anakku Raṭṭhapāla. Bangunlah, anakku Raṭṭhapāla, makan, minum, dan hiburlah dirimu. Sambil
makan, minum, dan menghibur diri, engkau dapat berbahagia menikmati kenikmatan
indria dan melakukan perbuatan baik. Kami tidak mengizinkan engkau meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Bahkan
jika engkau meninggal dunia, kami tidak akan rela kehilangan engkau, jadi
bagaimana mungkin kami mengizinkan engkau meninggalkan keduniawian dari
kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah selagi engkau masih hidup.”
Ketika hal ini dikatakan, Raṭṭhapāla berdiam diri.
Untuk ke dua kalinya … Untuk ke tiga kalinya orangtuanya berkata
kepadanya: “Anakku Raṭṭhapāla … jadi bagaimana mungkin kami mengizinkan
engkau meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan
tanpa rumah selagi engkau masih hidup.” Untuk ke tiga kalinya, Raṭṭhapāla berdiam diri.
9. Kemudian orangtua Raṭṭhapāla mendatangi teman-temannya dan berkata:
“Anak-anak, Raṭṭhapāla berbaring di lantai, setelah berkata: ‘Di
sini aku akan mati atau menerima pelepasan keduniawian.’ Marilah, anak-anak,
datangilah Raṭṭhapāla dan katakan kepadanya: ‘Teman Raṭṭhapāla, engkau adalah putera tunggal orangtuamu … Bangunlah, teman Raṭṭhapāla, makan, minum, dan hiburlah dirimu … [59] bagaimana mungkin
orangtuamu mengizinkan engkau meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah
tangga menuju kehidupan tanpa rumah selagi engkau masih hidup?’”
10. Kemudian teman-teman Raṭṭhapāla mendatanginya dan berkata: “Sahabat Raṭṭhapāla, engkau adalah
putera tunggal orangtuamu, yang disayangi dan dicintai. Engkau dibesarkan dalam kenyamanan, tumbuh dalam
kenyamanan, engkau tidak tahu apa-apa tentang penderitaan, Sahabat Raṭṭhapāla. Bangunlah, Sahabat Raṭṭhapāla, makan, minum, dan hiburlah dirimu. Sambil
makan, minum, dan menghibur diri, engkau dapat berbahagia menikmati kenikmatan
indria dan melakukan perbuatan baik. Orangtuamu tidak mengizinkan engkau meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Bahkan
jika engkau meninggal dunia, mereka tidak akan rela kehilangan engkau, jadi
bagaimana mungkin mereka mengizinkan engkau meninggalkan keduniawian dari
kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah selagi engkau masih hidup?”
Ketika hal ini dikatakan, Raṭṭhapāla berdiam diri.
Untuk ke dua kalinya … Untuk ke tiga kalinya teman-temannya berkata
kepadanya: “Teman Raṭṭhapāla … bagaimana mungkin mereka mengizinkan engkau
meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah selagi engkau masih hidup?” Untuk ke tiga kalinya Raṭṭhapāla berdiam diri.
11. Kemudian teman-teman Raṭṭhapāla mendatangi orangtuanya dan berkata kepada
mereka: “Ibu dan ayah, Raṭṭhapāla berbaring di lantai, setelah berkata: ‘Di
sini aku akan mati atau [60] menerima pelepasan keduniawian.’ Sekarang jika kalian
tidak mengizinkannya meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga
menuju kehidupan tanpa rumah, ia akan mati di sana. Tetapi jika kalian
mengizinkannya, kalian akan melihatnya lagi setelah ia meninggalkan
keduniawian. Dan jika ia tidak menikmati pelepasan keduniawian, apa lagi yang
dapat ia lakukan selain kembali ke sini? Jadi izinkanlah ia meninggalkan keduniawian
dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.”
“Kalau begitu, anak-anak, kami mengizinkan Raṭṭhapāla meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan
tanpa rumah. Tetapi ketika ia telah meninggalkan keduniawian, ia harus
mengunjungi orangtuanya.”
Kemudian teman-teman Raṭṭhapāla mendatanginya dan berkata: “Bangun, teman Raṭṭhapāla. Orangtuamu mengizinkan engkau meninggalkan keduniawian dari
kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Tetapi ketika engkau telah
meninggalkan keduniawian, engkau harus mengunjungi orangtuamu.”
12. Kemudian Raṭṭhapāla bangun, dan ketika ia telah memulihkan
kekuatannya, ia mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, ia
duduk di satu sisi dan memberitahu Beliau: “Yang Mulia, aku telah mendapatkan
izin dari orangtuaku untuk meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga
menuju kehidupan tanpa rumah. Sudilah Sang Bhagavā memberikan pelepasan
keduniawian kepadaku.”
Kemudian Raṭṭhapāla menerima pelepasan keduniawian di bawah Sang
Bhagavā, dan ia menerima penahbisan penuh.
13. Kemudian, tidak lama setelah Yang Mulia Raṭṭhapāla menerima penahbisan penuh, setengah bulan setelah ia menerima
penahbisan penuh, Sang Bhagavā, setelah menetap di Thullakoṭṭhita selama yang Beliau kehendaki, melakukan perjalanan menuju Sāvatthī,
dan di sana [61] Beliau menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
14. Tidak lama kemudian, dengan berdiam sendirian, terasing, rajin,
tekun, dan bersungguh-sungguh, Yang Mulia Raṭṭhapāla, dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung,
di sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam tujuan tertinggi kehidupan suci
yang dicari oleh anggota-anggota keluarga yang meninggalkan keduniawian dari
kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Ia mengetahui secara langsung:
“Kelahiran telah
dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah
dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.” Dan Yang Mulia Raṭṭhapāla menjadi salah satu di antara para Arahant.
[Kitab Komentar : Walaupun frasa umum “tidak lama”
digunakan di sini, perlu waktu selama dua belas tahun bagi Raṭṭhapāla
untuk mencapai Kearahantaan. Pernyataan ini sepertinya benar dengan memandang
fakta bahwa ketika ia kembali ke rumah orangtuanya, ayahnya tidak seketika
mengenalinya.]
15. Kemudian Yang Mulia Raṭṭhapāla menghadap Sang Bhagavā, dan setelah bersujud
kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan memberitahu Beliau: “Yang Mulia, aku
ingin mengunjungi orangtuaku, jika Sang Bhagavā mengizinkan.”
Kemudian Sang Bhagavā dengan pikiranNya menembus pikiran Yang Mulia Raṭṭhapāla. Ketika Beliau mengetahui bahwa Raṭṭhapāla tidak mungkin lagi meninggalkan latihan dan kembali ke kehidupan
rendah, Beliau berkata: “Engkau boleh pergi, Raṭṭhapāla.”
16. Kemudian Yang Mulia Raṭṭhapāla bangkit dari duduknya, dan setelah bersujud
kepada Sang Bhagavā, ia pergi, dengan Beliau tetap di sisi kanannya. Kemudian
ia merapikan tempat tinggalnya, dan dengan membawa mangkuk dan jubahnya, ia pergi
menuju Thullakoṭṭhita. Dengan berjalan secara bertahap, ia akhirnya
tiba di Thullakoṭṭhita. Di sana ia menetap di Thullakoṭṭhita di Kebun Migācira milik Raja Koravya. Kemudian, pada pagi harinya,
ia merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, memasuki Thullakoṭṭhita untuk menerima dana makanan. Ketika berjalan untuk menerima dana
makanan dari rumah ke rumah di Thullakoṭṭhita, ia sampai di rumah ayahnya sendiri.
17. Pada saat itu ayah dari Yang Mulia Raṭṭhapāla sedang duduk di aula di pintu tengah setelah merapikan rambutnya. Ketika
dari kejauhan ia melihat kedatangan Yang Mulia Raṭṭhapāla, ia berkata: “Putera tunggal kami, yang kami sayangi dan cintai,
telah meninggalkan keduniawian gara-gara para petapa gundul ini.” [62] Kemudian
di rumah ayahnya sendiri Yang Mulia Raṭṭhapāla tidak menerima dana makanan maupun penolakan
yang sopan; melainkan ia menerima hinaan.
18. Kemudian seorang budak perempuan milik salah satu sanak saudaranya
sedang membuang bubur basi. Melihat hal ini, Yang Mulia Raṭṭhapāla berkata kepadanya: “Saudari, jika makanan itu hendak dibuang,
buanglah ke dalam mangkukku ini.”
Ketika ia melakukan hal itu, ia mengenali ciri-ciri tangan, kaki, dan
suaranya. Kemudian ia mendatangi sang ibu dan berkata: “Untuk engkau ketahui,
Nyonya, bahwa putera majikanku, Raṭṭhapāla, telah datang.”
“Astaga! Jika apa yang engkau katakan benar, maka engkau tidak akan
menjadi budak lagi!”
Kemudian ibu Yang Mulia Raṭṭhapāla mendatangi sang ayah dan berkata: “Untuk
engkau ketahui, perumah-tangga, bahwa sang anggota keluarga, Raṭṭhapāla, telah datang.”
19. Saat itu Yang Mulia Raṭṭhapāla sedang memakan bubur basi di dekat tembok di
suatu tempat berteduh. Ayahnya mendatanginya dan berkata: “Raṭṭhapāla, anakku, tentu saja ada … dan engkau memakan bubur basi! Apakah
itu bukan rumahmu untuk engkau kunjungi?”
[Kitab Komentar menjelaskan bahwa ayahnya bermaksud
mengatakan: “Raṭṭhapāla, anakku, ada harta kekayaan kita – kita tidak
dapat disebut miskin – namun engkau duduk di tempat seperti ini memakan bubur
basi!” Akan tetapi, perumah-tangga itu dirundung kesedihan sehingga tidak mampu
menyelesaikan kata-katanya.]
“Bagaimana mungkin kami memiliki rumah, perumah-tangga, jika kami telah
meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah? Kami tidak memiliki rumah, perumah-tangga. Kami mendatangi [63] rumahmu,
namun kami tidak menerima dana makanan maupun penolakan yang sopan di sana;
sebaliknya kami hanya menerima hinaan.”
“Marilah, anakku Raṭṭhapāla, mari masuk ke rumah.”
“Cukup, perumah-tangga, aku sudah selesai makan hari ini.”
“Kalau begitu, anakku Raṭṭhapāla, sudilah menerima makanan besok.” Yang Mulia
Raṭṭhapāla menerima dengan berdiam diri.
20. Kemudian, setelah mengetahui bahwa Yang Mulia Raṭṭhapāla telah menerima, ayahnya pulang ke rumahnya di mana ia meletakkan
uang-uang emas dan perak dalam tumpukan besar dan menutupinya dengan kain.
Kemudian ia menyuruh para mantan istri Yang Mulia Raṭṭhapāla: “Kemarilah, para menantu, hiaslah dirimu dengan
perhiasan-perhiasan agar Raṭṭhapāla melihatmu sangat cantik dan menarik.”
21. Ketika malam telah berlalu, ayah Yang Mulia Raṭṭhapāla mempersiapkan berbagai jenis makanan di rumahnya dan mengumumkan
waktunya kepada Yang Mulia Raṭṭhapāla: “Sudah waktunya, anakku Raṭṭhapāla, makanan telah siap.”
22. Kemudian, pada pagi harinya, Yang Mulia Raṭṭhapāla merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, ia
pergi ke rumah ayahnya dan duduk di tempat yang telah dipersiapkan. Kemudian
ayahnya membuka tumpukan uang emas dan perak itu dan berkata: “Anakku Raṭṭhapāla, ini adalah kekayaan dari pihak ibumu; kekayaan dari pihak ayahmu
adalah tumpukan yang lain dan kekayaan leluhurmu adalah tumpukan yang lain
lagi. Anakku Raṭṭhapāla, engkau dapat menikmati kekayaan dan
melakukan perbuatan baik. Marilah, anakku, [64] tinggalkanlah latihan dan
kembalilah ke kehidupan rendah, nikmatilah kekayaan dan melakukan perbuatan
baik.”
“Perumah-tangga, jika engkau sudi menuruti nasihatku, maka muatlah
tumpukan uang emas dan perak ini dalam kereta dan bawalah untuk dibuang di
tengah arus sungai Gangga. Mengapakah? Karena,
perumah-tangga, dari benda-benda ini akan muncul padamu dukacita, ratapan,
kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan.”
23. Kemudian para mantan istri Yang Mulia Raṭṭhapāla memeluk kakinya dan berkata kepadanya: “Bagaimanakah rupa mereka,
putera junjunganku, para bidadari yang karena mereka engkau menjalani kehidupan
suci?”
“Kami
tidak menjalani kehidupan suci demi bidadari, Saudari-saudari.”
“Putera junjungan kami, Raṭṭhapāla, memanggil kami ‘saudari-saudari,’” mereka menangis dan jatuh pingsan di sana.
[Komentar : Bandingkan dengan ajaran agama samawi,
dimana Abraham / Ibrahim menyembelih leher alias merampas nyawa-hidup MILIK
ORANG LAIN alih-alih hidup Abraham / Ibrahim sendiri, yakni leher milik sang anak,
Ismail / Ishaq, semata karena sang ayah tergila-gila untuk bersenang-senang dengan
puluhan bidadari di surga.]
24. Kemudian Yang Mulia Raṭṭhapāla berkata kepada ayahnya: “Perumah-tangga, jika
ada makanan yang hendak diberikan, maka berikanlah. Jangan menyusahkan kami.”
“Makanlah, anakku Raṭṭhapāla, makanan telah siap.”
Kemudian, dengan tangannya sendiri, ayah Yang Mulia Raṭṭhapāla melayaninya dengan berbagai makanan baik. Ketika Yang Mulia Raṭṭhapāla telah selesai makan dan telah menggeser mangkuknya ke samping, ia
berdiri dan mengucapkan syair ini:
25. “Lihatlah
sebuah boneka di sini didandani,
[Kitab Komentar : Syair-syair ini jelas merujuk pada mantan
istri-istrinya, yang dihias untuk menggodanya agar kembali ke kehidupan awam. Meski,
tidak disebutkan mengenai istri-istri ini dalam bagian sutta mengenai hari-hari
sebelum penahbisannya.]
Sebuah
tubuh yang dibangun dari luka,
Sakit,
suatu objek keprihatinan,
Di
mana tidak ada kestabilan di dalamnya.
Lihatlah
sesosok patung di sini didandani
Dengan
perhiasan dan anting-anting juga,
Kerangka
tulang-belulang yang dibungkus kulit,
Dibuat
menarik oleh pakaiannya.
Kakinya
dihias dengan warna kemerahan
Dan
bedak ditaburkan di wajahnya:
Ini
dapat memperdaya seorang dungu, tetapi tidak
Seorang
yang mencari pantai seberang. [65]
Rambutnya
dihias dalam delapan kepangan
Dan
salep dioleskan di matanya:
Ini
dapat memperdaya seorang dungu, tetapi tidak
Seorang
yang mencari pantai seberang.
Tubuh
kotor yang dihias indah
Bagaikan
kendi salep yang baru dicat:
Ini
dapat memperdaya seorang dungu, tetapi tidak
Seorang
yang mencari pantai seberang.
Pemburu
rusa memasang perangkap
Tetapi
sang rusa tidak terjebak;
Kami
memakan umpan dan sekarang pergi
Meninggalkan
si pemburu yang meratap.”
26. Setelah Yang Mulia Raṭṭhapāla berdiri dan mengucapkan syair ini, ia pergi
ke kebun Migācira milik Raja Koravya dan duduk di bawah sebatang pohon untuk
melewatkan hari.
27. Kemudian Raja Koravya berkata kepada penjaga kebun sebagai berikut:
“Penjaga kebun, bersihkan Kebun Migācira agar kami dapat pergi ke kebun
rekreasi untuk melihat tempat yang menyenangkan.” – “Baik, Baginda,” ia
menjawab. Ketika ia sedang membersihkan Kebun Migācira, si penjaga kebun
melihat Yang Mulia Raṭṭhapāla duduk di bawah sebatang pohon untuk melewatkan
hari. Ketika ia melihatnya, ia mendatangi Raja Koravya dan memberitahunya:
“Baginda, Kebun Migācira telah dibersihkan. Raṭṭhapāla ada di sana, putera seorang kepala suku terkemuka di Thullakoṭṭhita ini, yang sering engkau puji, ia duduk di bawah sebatang pohon untuk
melewatkan hari.”
[Kitab Komentar : Dengan mengingat bhikkhu ini, raja
akan memujinya di tengah-tengah bala tentaranya atau haremnya: “Anak muda itu telah
melakukan hal yang sulit – setelah meninggalkan harta kekayaannya, ia
meninggalkan keduniawian tanpa berbalik atau melihat ke belakang.”]
“Kalau begitu, penjaga kebun, cukuplah dengan kebun rekreasi untuk hari
ini. Sekarang kami akan pergi memberi penghormatan kepada Guru Raṭṭhapāla itu.”
28. Kemudian, dengan berkata: “Bagikanlah semua makanan yang telah
dipersiapkan di sana,” Raja Koravya mempersiapkan sejumlah kereta, dan
mengendarai salah satunya, dengan disertai oleh banyak kereta, ia pergi keluar
dari Thullakoṭṭhita dengan kemegahan penuh seorang raja untuk
menemui Yang Mulia Raṭṭhapāla. Ia berkendara sejauh jalan yang dapat
dilalui oleh kereta, dan kemudian ia turun dari kereta dan melanjutkan dengan
berjalan kaki bersama dengan para pejabat pentingnya menuju tempat di mana Yang
Mulia Raṭṭhapāla berada. [66] Ia saling bertukar sapa dengan
Yang Mulia Raṭṭhapāla, dan ketika ramah-tamah ini berakhir, ia
berdiri di satu sisi dan berkata: “Ini adalah permadani kulit gajah. Silahkan
Guru Raṭṭhapāla duduk di sini.”
“Tidak perlu, Baginda. Duduklah, aku sudah duduk di alas dudukku
sendiri.”
Raja Koravya duduk di tempat yang telah dipersiapkan dan berkata:
29. “Guru Raṭṭhapāla, ada empat jenis kehilangan. Karena mereka
mengalami empat jenis kehilangan ini, beberapa orang mencukur rambut dan
janggut mereka, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari
kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Apakah empat ini? Yaitu kehilangan karena
penuaan, kehilangan karena penyakit, kehilangan kekayaan, dan kehilangan sanak
saudara.
30. “Dan apakah kehilangan
karena penuaan? Di sini,
Guru Raṭṭhapāla, seseorang menjadi tua, jompo, terbebani tahun demi tahun, lanjut
dalam usia, sampai pada tahap terakhir kehidupan. Ia mempertimbangkan sebagai
berikut: ‘Aku sudah tua, jompo, terbebani tahun demi tahun, lanjut dalam usia,
sampai pada tahap terakhir kehidupan. Tidaklah mudah bagiku untuk memperoleh
kekayaan yang belum diperoleh atau untuk menambah kekayaan yang telah
diperoleh. Bagaimana jika aku mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah
kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan
tanpa rumah.’ Karena ia mengalami kehilangan karena penuaan itu, ia mencukur
rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian
dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Ini disebut kehilangan
karena penuaan.
Tetapi Guru Raṭṭhapāla saat ini masih
muda, seorang pemuda berambut hitam yang memiliki berkah kemudaan, dalam tahap
utama kehidupan. Guru Raṭṭhapāla tidak mengalami
kehilangan apapun karena penuaan. Apakah yang telah ia ketahui atau ia lihat
atau ia dengar sehingga ia meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga
menuju kehidupan tanpa rumah?
31. “Dan apakah kehilangan
karena penyakit? Di
sini, Guru Raṭṭhapāla, seseorang menjadi sakit, menderita, dan
sakit parah. Ia mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Aku sakit, menderita, dan sakit
parah. Tidaklah mudah bagiku untuk memperoleh kekayaan yang belum diperoleh …
[67] … menuju kehidupan tanpa rumah.’ Karena ia mengalami kehilangan karena
penyakit itu … ia meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan
tanpa rumah. Ini disebut kehilangan karena penyakit. Tetapi Guru Raṭṭhapāla saat ini bebas
dari penyakit dan kesakitan; ia memiliki pencernaan yang baik yang tidak
terlalu dingin juga tidak terlalu panas melainkan sedang. Guru Raṭṭhapāla tidak mengalami
kehilangan apapun karena penyakit. Apakah yang telah ia ketahui atau ia lihat
atau ia dengar sehingga ia meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga
menuju kehidupan tanpa rumah?
32. “Dan apakah kehilangan
kekayaan? Di sini,
Guru Raṭṭhapāla, seseorang yang kaya, memiliki banyak harta, memiliki banyak
kepemilikan. Perlahan-lahan kekayaannya menyusut. Ia mempertimbangkan sebagai
berikut: ‘Sebelumnya aku kaya, memiliki banyak harta, memiliki banyak
kepemilikan. Perlahan-lahan kekayaanku menyusut. Tidaklah mudah bagiku untuk memperoleh
kekayaan yang belum diperoleh … menuju kehidupan tanpa rumah.’ Karena ia telah
mengalami kehilangan kekayaan … ia meninggalkan keduniawian dari kehidupan
rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Ini disebut kehilangan kekayaan. Tetapi Guru Raṭṭhapāla tidak mengalami
kehilangan kekayaan. Apakah yang telah ia ketahui atau ia lihat atau ia dengar
sehingga ia meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju
kehidupan tanpa rumah?
33. “Dan apakah kehilangan
sanak saudara? Di sini,
Guru Raṭṭhapāla, seseorang memiliki banyak teman dan sahabat, sanak saudara dan
kerabat. Perlahan-lahan sanak saudaranya itu menyusut. Ia mempertimbangkan
sebagai berikut: ‘Sebelumnya aku memiliki banyak teman dan sahabat, sanak
saudara dan kerabat. Perlahan-lahan sanak saudaranya itu menyusut. Tidaklah mudah
bagiku untuk memperoleh kekayaan yang belum diperoleh … [68] … menuju kehidupan
tanpa rumah.’ Karena ia telah mengalami kehilangan sanak saudara … ia
meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah. Ini disebut kehilangan sanak saudara. Tetapi
Guru Raṭṭhapāla tidak mengalami
kehilangan sanak saudara manapun. Apakah yang telah ia ketahui atau ia lihat
atau ia dengar sehingga ia meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga
menuju kehidupan tanpa rumah?
34. “Guru Raṭṭhapāla, ini adalah empat jenis kehilangan itu. Karena
mereka mengalami empat jenis kehilangan ini, beberapa orang mencukur rambut dan
janggut mereka, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari
kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Guru Raṭṭhapāla tidak mengalami
salah satu dari empat ini. Apakah yang telah ia ketahui atau ia lihat atau ia
dengar sehingga ia meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju
kehidupan tanpa rumah?”
35. “Baginda, ada empat ringkasan Dhamma yang telah diajarkan oleh Sang Bhagavā yang
mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Setelah mengetahui dan melihat dan mendengarnya,
aku meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah. Apakah empat ini?
36. (1) “‘[Kehidupan
di] alam manapun juga adalah tidak stabil, terhanyutkan’: ini adalah ringkasan pertama dari Dhamma yang diajarkan
oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan
sempurna. Setelah mengetahui dan melihat dan mendengarnya, aku meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.
[Kitab Komentar : Upaniyati loko addhuvo,
terhanyut ke arah penuaan dan kematian.]
(2) “‘[Kehidupan
di] alam manapun juga adalah tanpa naungan dan tanpa pelindung’: ini adalah ringkasan ke dua dari Dhamma yang
diajarkan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat …
[Kitab Komentar : Attāṇo loko anabhissaro, “[Kehidupan
di] alam manapun juga adalah tanpa naungan dan tanpa pelindung’”. Tidak ada
seorang pun yang dapat memberikan naungan atau menghiburnya dengan
perlindungan. Pernyataan ini, tentu saja, tidak membantah perlindungan dari
dunia, yang juga merupakan apa yang diberikan oleh Dhamma.]
(3) “‘[Kehidupan
di] alam manapun juga adalah tidak memiliki apa-apa, seseorang harus
meninggalkan segalanya dan melanjutkan: ini adalah ringkasan ke tiga dari Dhamma yang diajarkan oleh Sang
Bhagavā yang mengetahui dan melihat …
(4) “‘[Kehidupan
di] alam manapun juga adalah tidak lengkap, tidak pernah terpuaskan, budak
ketagihan: ini adalah
ringkasan ke empat dari Dhamma yang diajarkan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui
dan melihat …
37. “Baginda, ini adalah ringkasan Dhamma yang telah diajarkan oleh Sang
Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna.
[69] Setelah mengetahui dan melihat dan mendengarnya, aku meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.”
38. “Guru Raṭṭhapāla berkata: ‘[Kehidupan
di] alam manapun juga adalah tidak stabil, terhanyutkan.’ Bagaimanakah makna dari pernyataan ini dipahami?”
“Bagaimana menurutmu, Baginda? Ketika engkau berusia dua puluh atau dua
puluh lima tahun, apakah engkau adalah seorang penunggang gajah yang mahir,
seorang penunggang kuda yang mahir? Seorang kusir kereta yang mahir? Seorang
pemanah mahir, seorang pemain pedang yang mahir, dengan tangan dan kaki yang
kuat, kekar, dan mampu bertempur?”
“Ketika aku berusia dua puluh atau dua puluh lima tahun, Guru Raṭṭhapāla aku adalah seorang penunggang gajah yang mahir … dengan tangan dan
kaki yang kuat, kekar, dan mampu bertempur. Bahkan kadang-kadang aku berpikir
bahwa aku memiliki kekuatan super. Aku tidak melihat seorangpun yang dapat
menyamaiku dalam hal kekuatan.”
“Bagaimana menurutmu, Baginda? Apakah
engkau sekarang memiliki tangan dan kaki yang sama kuatnya, sama kekarnya dan sama
mampunya untuk bertempur?”
“Tidak,
Guru Raṭṭhapāla. sekarang aku
sudah tua, jompo, terbebani tahun demi tahun, lanjut dalam usia, sampai pada tahap
terakhir kehidupan; umurku sudah delapan puluh tahun. Kadang-kadang aku
bermaksud meletakkan kakiku di sini namun aku meletakkannya di tempat lain.”
“Baginda, adalah karena hal ini maka Sang Bhagavā yang mengetahui dan
melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, berkata: ‘[Kehidupan di] alam
manapun juga adalah tidak stabil, terhanyutkan’; dan ketika aku mengetahui dan melihat dan
mendengarnya, aku meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju
kehidupan tanpa rumah.”
“Sungguh mengagumkan, Guru Raṭṭhapāla, sungguh menakjubkan, betapa benarnya hal itu
diungkapkan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan
sempurna: ‘[Kehidupan di] alam manapun juga adalah tidak stabil, terhanyutkan.’
Sungguh memang
demikianlah adanya!
39. “Guru Ratthapāla, ada di kerajaan ini pasukan gajah dan pasukan
berkuda, pasukan kereta dan pasukan pejalan kaki, yang akan mengatasi segala
ancaman pada kita. [70] Sekarang Guru Ratthapāla berkata: ‘[Kehidupan di] alam
manapun juga adalah tanpa naungan dan tanpa pelindung.’ Bagaimanakah makna dari pernyataan ini dipahami?”
“Bagaimana menurutmu, Baginda? Apakah
engkau memiliki penyakit kronis?”
“Aku memiliki penyakit masuk angin kronis, Guru Raṭṭhapāla. Kadang-kadang teman-teman dan sahabatku, sanak saudara dan
kerabatku, berdiri di sekelilingku, berpikir: ‘Sekarang Raja Koravya akan mati, sekarang Raja Koravya akan mati!’”
“Bagaimana menurutmu, Baginda? Dapatkah
engkau memerintahkan teman-teman dan sahabatmu, sanak saudara dan kerabatmu:
‘Marilah, teman-teman dan sahabatku, sanak saudara dan kerabatku, semua kalian
yang hadir di sini ambillah sebagian perasaan sakit ini agar perasaan sakit ini
menjadi berkurang’? Atau apakah engkau harus merasakan sakit itu sendiri?”
“Aku
tidak dapat memerintahkan teman-teman dan sahabatku, sanak saudara dan
kerabatku demikian, Guru Raṭṭhapāla. Aku harus
merasakan sakit itu sendiri.”
“Baginda, adalah karena hal ini maka Sang Bhagavā yang mengetahui dan
melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, berkata: ‘[Kehidupan di] alam
manapun juga adalah tanpa naungan dan tanpa pelindung’; dan ketika aku mengetahui dan melihat dan
mendengarnya, aku meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju
kehidupan tanpa rumah.”
[Komentar : Dengan demikian doktrin Buddhisme tegas
menolak dogma “penebusan dosa” yang menjadi pilar agama nasrani.]
“Sungguh mengagumkan, Guru Raṭṭhapāla, sungguh menakjubkan, betapa benarnya hal itu
diungkapkan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan
sempurna: ‘[Kehidupan di] alam manapun juga adalah tanpa naungan dan tanpa
pelindung.’ Sungguh
memang demikianlah adanya!
40. “Guru Raṭṭhapāla, ada di kerajaan ini uang-uang emas dan perak
yang berlimpah yang tersimpan dalam gudang-gudang harta dan lumbung-lumbung.
Sekarang Guru Raṭṭhapāla berkata: ‘[Kehidupan
di] alam manapun juga adalah tidak memiliki apa-apa, seseorang harus
meninggalkan segalanya dan melanjutkan.’ Bagaimanakah makna dari pernyataan ini dipahami?”
“Bagaimana menurutmu, Baginda? Engkau
sekarang [71] memiliki dan menikmati lima utas kenikmatan indria, tetapi apakah
engkau dapat memilikinya dalam kehidupan mendatang: ‘Semoga aku dapat menikmati
dan memiliki kelima utas kenikmatan indria yang sama ini’? Atau apakah orang
lain akan mengambil-alih harta ini, sementara engkau harus berlanjut sesuai dengan
perbuatanmu?”
“Aku
tidak dapat memilikinya dalam kehidupan mendatang, Guru Raṭṭhapāla. Sebaliknya,
orang lain akan mengambil-alih harta ini sementara aku harus berlanjut sesuai
dengan perbuatanku.”
“Baginda, adalah karena hal ini maka Sang Bhagavā yang mengetahui dan
melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, berkata: ‘[Kehidupan di] alam
manapun juga adalah tidak memiliki apa-apa, seseorang harus meninggalkan
segalanya dan melanjutkan’; dan ketika aku mengetahui dan melihat dan mendengarnya, aku
meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah.”
“Sungguh mengagumkan, Guru Raṭṭhapāla, sungguh menakjubkan, betapa benarnya hal itu
diungkapkan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan
sempurna: ‘[Kehidupan di] alam manapun juga adalah tidak memiliki apa-apa,
seseorang harus meninggalkan segalanya dan melanjutkan.’ Sungguh memang
demikianlah adanya!
41. “Sekarang Guru Raṭṭhapāla berkata: ‘[Kehidupan
di] alam manapun juga adalah tidak lengkap, tidak pernah terpuaskan, budak
ketagihan.’
Bagaimanakah makna dari pernyataan ini dipahami?”
“Bagaimana menurutmu, Baginda? Apakah
engkau menguasai negeri Kuru yang kaya ini?”
“Benar, Guru Raṭṭhapāla.”
“Bagaimana menurutmu, Baginda? Misalkan
seorang yang terpercaya dan dapat diandalkan mendatangimu dari timur dan berkata:
‘Untuk engkau ketahui, Baginda, bahwa aku datang dari timur, dan di sana aku
melihat suatu negeri yang luas, kuat dan kaya, berpenduduk padat dan ramai oleh
orang-orang. Terdapat banyak pasukan gajah di sana, banyak pasukan berkuda, pasukan
kereta, dan pasukan pejalan kaki; ada banyak gading di sana, dan banyak
uang-uang emas dan perak baik yang telah diolah maupun belum diolah, dan banyak
perempuan untuk dijadikan istri. Dengan kekuatanmu yang sekarang engkau dapat menaklukkannya.
Taklukkanlah, Baginda.’ Apakah yang akan engkau lakukan?” [72]
“Kami
akan menaklukkannya dan menguasainya, Guru Raṭṭhapāla.”
“Bagaimana menurutmu, Baginda? Misalkan
seorang yang terpercaya dan dapat diandalkan mendatangimu dari barat … dari
utara … dari selatan … dari seberang samudra dan berkata: ‘Untuk engkau
ketahui, Baginda, bahwa aku datang dari seberang samudra, dan di sana aku
melihat suatu negeri yang luas, kuat dan kaya … Taklukkanlah, Baginda.’ Apakah
yang akan engkau lakukan?”
“Kami
akan menaklukkannya juga dan menguasainya, Guru Raṭṭhapāla.”
“Baginda, adalah karena hal ini maka Sang Bhagavā yang mengetahui dan
melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, berkata: ‘[Kehidupan di] alam
manapun juga adalah tidak lengkap, tidak pernah terpuaskan, budak ketagihan’; dan ketika aku mengetahui dan melihat dan
mendengarnya, aku meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan
tanpa rumah.”
“Sungguh mengagumkan, Guru Raṭṭhapāla, sungguh menakjubkan, betapa benarnya hal itu
diungkapkan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan
sempurna: ‘[Kehidupan di] alam manapun juga adalah tidak lengkap, tidak pernah
terpuaskan, budak ketagihan.’ Sungguh
memang demikianlah adanya!”
42. Itu adalah apa yang dikatakan oleh Yang Mulia Raṭṭhapāla. Dan setelah mengatakan hal itu ia berkata lebih lanjut:
“Aku
melihat orang-orang kaya di dunia ini, yang masih
Karena
ketidaktahuan mereka tidak memberikan harta yang mereka kumpulkan.
Dengan
serakah mereka menimbun kekayaan mereka
Masih
menginginkan kenikmatan indria yang lebih jauh lagi.
Seorang
raja yang telah menaklukkan bumi ini secara paksa
Dan
menguasai negeri yang dibatasi oleh samudra
Namun
masih tidak puas dengan pantai sebelah sini
Dan
lapar akan pantai seberang juga. [73]
Sebagian
besar orang juga, bukan hanya seorang raja,
Menemui
kematian dengan ketagihan tidak mereda;
[Dengan
rencana-rencana] yang masih belum terlaksana mereka meninggalkan jasad
Keinginan
masih tetap tidak terpuaskan di dunia ini.
Sanak saudaranya meratap dan menjambak rambut mereka,
Menangis, ‘Aduh! Celaka! Orang yang kami cintai sudah mati!’
Mereka membawa jasad yang terbungkus kain pembungkus mayat
Untuk meletakkannya di atas tumpukan kayu bakar dan membakarnya disana.
Dengan
Berpakaian kain pembungkus mayat, ia meninggalkan harta kekayaannya.
Didorong
dengan tongkat kayu ia terbakar [di atas tumpukan kayu bakar]
Dan
ketika ia mati, tidak ada sanak saudara atau teman-teman
Yang
dapat memberikannya naungan dan perlindungan di sini.
Sementara
keturunannya mengambil alih harta kekayaannya, makhluk ini
Harus
berlanjut sesuai dengan perbuatannya;
Dan
ketika ia mati tak seorangpun yang dapat mengikutinya;
Tidak
anak atau istri atau harta kekayaan ataupun kerajaan.
Usia
panjang tidak diperoleh melalui harta kekayaan
Juga
kemakmuran tidak dapat menghalau usia tua;
Hidup
ini singkat, seperti yang dikatakan oleh semua orang bijaksana,
Tidak
mengenal keabadian, hanya perubahan.
Yang
kaya dan yang miskin sama-sama akan merasakan sentuhan [Kematian],
Yang
dungu dan yang bijaksana juga akan merasakannya;
Tetapi
sementara si dungu terpukul oleh kedunguannya,
Si
bijaksana tidak gemetar akan sentuhannya.
Kebijaksanaan
adalah lebih baik di sini daripada harta kekayaan,
Karena
dengan kebijaksanaan seseorang mencapai tujuan akhir.
Karena
orang-orang melalui ketidak-tahuan melakukan perbuatan-perbuatan jahat
Sementara
gagal mencapai tujuan dalam kehidupan demi kehidupan.
Ketika seseorang memasuki rahim dan alam berikutnya,
Memperbarui lingkaran kelahiran berikutnya,
Yang lain yang memiliki sedikit kebijaksanaan, karena mempercayainya,
Juga memasuki rahim dan alam berikutnya. [74]
Bagaikan
seorang perampok yang tertangkap basah dalam perampokan
Mengalami
penderitaan karena perbuatan jahatnya,
Demikian
pula orang-orang setelah kematian, di alam berikutnya,
Mengalami
penderitaan karena perbuatan-perbuatan jahat mereka.
Kenikmatan
indria, bervariasi, manis, menyenangkan,
Dalam
berbagai cara mengganggu pikiran:
Melihat
bahaya dalam ikatan indria ini
Aku
memilih menjalani kehidupan tanpa rumah, O Baginda.
Bagaikan
buah yang jatuh dari pohonnya, demikian pula orang-orang,
Baik
muda maupun tua, jatuh ketika jasmani ini hancur.
Melihat
hal ini juga, O Baginda, aku meninggalkan keduniawian:
Kehidupan
pertapaan adalah jaminan yang lebih baik.”
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, umat agama samawi justru
sibuk dan rajin menimbun segunung kejahatan dan dosa-dosa sebelum kemudian
mabuk-kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”, jatuh dalam perangkap klasik yang selalu
berhasil menumbangkan dan memerangkap orang-orang DUNGU—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
silahkan nilai dengan nurani serta akal-sehat maupun pikiran-jernih Anda
sendiri, apakah sang “nabi rasul Allah” adalah stabil ataukah terhanyutkan,
memiliki naungan ataukah tanpa pelindung, memiliki apapun ataukah harus
meninggalkan segalanya dan mewarisi Karma Buruknya, telah lengkap ataukah tidak
pernah terpuaskan dan menjelma “budak ketagihan”—juga masih dikutip dari Hadis
Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]