Agama yang Mem-promosikan PENGHAPUSAN DOSA alih-alih Meng-kampanyekan Gaya Hidup Higienis dari Dosa maupun Maksiat, adalah AGAMA DOSA—Bukan “Agama Suci”
Question : Dulu, sebelum agama samawi diperkenalkan ke dunia ini, tiada orang jahat (penjahat / pendosa) yang berdelusi dapat masuk surga setelah ajal menjeput orang-orang jahat tersebut. Kini, setelah agama samawi dikenal luas oleh masyarakat dunia, para penjahat berbondong-bondong memeluknya sembari “business as usual” berbuat jahat, dan disaat bersamaan berlomba-lomba kecanduan ritual doa “penghapusan dosa” (maupun “penebusan / pengampunan dosa”), dan merasa terjamin masuk surga. Bukankah itu artinya, agama samawi menjadi juru-petaka bagi peradaban umat manusia, alih-alih sebagai “juru selamat”?
Brief
Answer : Juru-selamat bagi
siapakah, bagi kalangan korban ataukah bagi kalangan pendosa-penjahat tersebut?
Bila kita bersikap cukup realistis, maka kita tidak akan memakan ataupun
termakan dogma korup semacam iming-iming “too good to be true” bernama “PENGAMPUNAN
/ PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”. Meng-korupsi dosa-dosa, adalah kejahatan itu
sendiri. Berbuat kejahatan adalah satu dosa, dan berupaya untuk “mengorupsi
dosa” adalah dosa baru lainnya, sehingga ibarat menimpali dosa yang semula dengan
dosa baru lainnya. Mereka yang meng-korupsi dosa-dosa, lebih layak diberi gelar
sebagai “KORUPTOR DOSA”.
PEMBAHASAN:
Kita perlu diberikan pengetahuan, mengenai apa yang niscaya dan apa yang
sejatinya mustahil terjadi. Dogma-dogma KORUP semacam “PENGAMPUNAN /
PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA” adalah sesuatu dogma yang mustahil terjadi, bukan
keniscayaan, sebagaimana dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
~
SUTTA 115 ~
Bahudhātuka
Sutta: Banyak Jenis Unsur
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap Di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para
bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai
berikut:
2. “Para bhikkhu, ketakutan
apapun yang muncul, semuanya muncul karena si dungu, bukan karena seorang
bijaksana; kesulitan apapun yang muncul, semuanya muncul karena si dungu, bukan
karena seorang bijaksana; bencana apapun yang muncul, semuanya muncul karena si
dungu, bukan karena seorang bijaksana. Seperti halnya api yang muncul di sebuah lumbung yang terbuat dari
rumpun gelagah atau rerumputan akan membakar bahkan rumah-rumah beratap lancip,
dengan dinding yang diplester luar dan dalam, yang tertutup, terkunci dengan
palang, dengan jendela berpenutup; demikian pula, para bhikkhu, ketakutan
apapun yang muncul, semuanya muncul karena si dungu, bukan karena seorang
bijaksana; kesulitan apapun yang muncul, semuanya muncul karena si dungu, bukan
karena seorang bijaksana; bencana apapun yang muncul, semuanya muncul karena si
dungu, bukan karena seorang bijaksana. Demikianlah si dungu membawa
ketakutan, si bijaksana tidak membawa ketakutan; si dungu membawa kesulitan, si
bijaksana tidak membawa kesulitan; si dungu membawa bencana, si bijaksana tidak
membawa bencana. Tidak ada ketakutan yang datang dari si bijaksana, tidak ada
kesulitan yang datang dari si bijaksana, tidak ada bencana yang datang dari si
bijaksana. Oleh karena
itu, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami harus menjadi
orang bijaksana, kami harus menjadi penyelidik.’” [62]
3. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Ānanda bertanya kepada Sang
Bhagavā: “Dengan cara bagaimanakah, Yang Mulia, seorang bhikkhu dapat disebut
seorang bijaksana dan seorang penyelidik?”
“Ketika,
Ānanda, seorang bhikkhu terampil dalam unsur-unsur, terampil dalam
landasan-landasan, terampil dalam kemunculan bergantungan, terampil dalam apa
yang mungkin dan apa yang tidak mungkin, dengan cara itulah ia dapat disebut
seorang bijaksana dan seorang penyelidik.”
(UNSUR-UNSUR)
4. “Tetapi, Yang Mulia, dengan cara bagaimanakah seorang bhikkhu dapat
disebut terampil
dalam unsur-unsur?”
“Terdapat, Ānanda, delapan belas unsur ini: unsur mata, unsur bentuk,
unsur kesadaran-mata; unsur telinga, unsur suara, unsur kesadaran-telinga;
unsur hidung, unsur bau-bauan, unsur kesadaran-hidung; unsur lidah, unsur rasa
kecapan, unsur kesadaran-lidah; unsur badan, unsur objek sentuhan, unsur kesadaran-badan;
unsur pikiran, unsur objek-pikiran, unsur kesadaran-pikiran. Ketika ia
mengetahui dan melihat kedelapan-belas unsur ini, maka seorang bhikkhu dapat
disebut terampil dalam unsur-unsur.”
[Kitab Komentar : Delapan belas unsur ini
didefinisikan dalam Vibhaṅga §§183-84 / 87-90 dan dijelaskan secara terperinci
dalam Visuddhimagga XV, 17-43. Secara ringkas, unsur pikiran (manodhātu),
menurut Abhidhamma, termasuk kesadaran yang beralih pada kelima objek indria
yang mengalami kontak dengan kelima organ indria (pañcadvārāvajjana-citta)
dan kesadaran yang menerima objek setelah dikenali melalui indria-indria (sampaṭicchana-citta).
Unsur kesadaran-pikiran (manoviññāṇadhātu) termasuk
semua jenis kesadaran kecuali kesadaran lima indria dan unsur pikiran. Unsur
objek-pikiran (dhammadhātu) termasuk jenis-jenis fenomena materi yang
halus yang tidak terlibat dalam pengenalan indria, yaitu ketiga kelompok unsur
batin perasaan, persepsi, dan bentukan-bentukan, dan Nibbāna. Tidak
termasuk konsep-konsep, gagasan-gagasan abstrak, penilaian-penilaian, dan
sebagainya. Walaupun yang terakhir ini termasuk dalam gagasan objek-pikiran (dhammārammaṇa), unsur objek-pikiran
hanya termasuk hal-hal yang ada karena sifat alaminya, bukan hal-hal yang
dibentuk oleh pikiran.]
5. “Tetapi, Yang Mulia, adakah cara lain yang mana seorang bhikkhu dapat
disebut terampil dalam unsur-unsur?”
“Ada, Ānanda. Terdapat, Ānanda, enam unsur ini: unsur tanah, unsur air,
unsur api, unsur udara, unsur ruang, dan unsur kesadaran. Ketika ia mengetahui
dan melihat keenam unsur ini, maka seorang bhikkhu dapat disebut terampil dalam
unsur-unsur.”
6. “Tetapi, Yang Mulia, adakah cara lain yang mana seorang bhikkhu dapat
disebut terampil dalam unsur-unsur?”
“Ada,
Ānanda. Terdapat, Ānanda, enam unsur ini: unsur kenikmatan, unsur kesakitan,
unsur kegembiraan, unsur kesedihan, unsur keseimbangan, dan unsur
ketidak-tahuan. Ketika ia mengetahui dan melihat keenam unsur ini, maka seorang
bhikkhu dapat disebut terampil dalam unsur-unsur.”
[Kitab Komentar : Ini didefinisikan dalam Vibhaṅga §§180
/ 85-86. Unsur kenikmatan dan kesakitan adalah perasaan menyenangkan dan
menyakitkan dalam jasmani; unsur kegembiraan dan kesedihan adalah perasaan
menyenangkan dan menyakitkan dalam batin; unsur
keseimbangan adalah perasaan bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan. Kitab Komentar mengatakan bahwa ketidak-tahuan
disebutkan karena jelas serupa dengan unsur keseimbangan.]
7. “Tetapi, Yang Mulia, adakah cara lain yang mana seorang bhikkhu dapat
disebut terampil dalam unsur-unsur?”
“Ada,
Ānanda. Terdapat, Ānanda, enam unsur ini: unsur keinginan indria, unsur
pelepasan keduniawian, unsur permusuhan, unsur tanpa permusuhan, [63] unsur
kekejaman, dan unsur tanpa-kekejaman. Ketika ia mengetahui dan melihat keenam
unsur ini, maka seorang bhikkhu dapat disebut terampil dalam unsur-unsur.”
[Kitab Komentar : Vibhaṅga §§183
/ 86-87 mendefinisikan ini sebagai enam yang bersesuaian dengan jenis-jenis
awal pikiran (vitakka); baca Majjhima Nikāya 19.2. Karena terampil dalam
“mengetahui dan melihat keenam unsur ini”, maka ia mampu membedakan manakah
yang merupakan unsur keinginan indria, unsur pelepasan keduniawian, unsur
permusuhan, unsur tanpa permusuhan, unsur kekejaman, maupun unsur
tanpa-kekejaman.]
8. “Tetapi, Yang Mulia, adakah cara lain yang mana seorang bhikkhu dapat
disebut terampil dalam unsur-unsur?”
“Ada,
Ānanda. Terdapat, Ānanda, tiga unsur ini: unsur alam-indria, unsur materi
halus, dan unsur tanpa materi. Ketika ia mengetahui dan melihat ketiga unsur
ini, maka seorang bhikkhu dapat disebut terampil dalam unsur-unsur.”
[Kitab Komentar menjelaskan unsur bidang-indria
sebagai kelima kelompok unsur kehidupan yang berhubungan dengan alam-indria (kāmāvacara),
unsur materi-halus sebagai kelima kelompok unsur kehidupan yang berhubungan
dengan alam-materi halus (rūpāvacara), dan unsur tanpa materi sebagai
empat kelompok unsur kehidupan yang berhubungan dengan alam tanpa materi (arūpāvacara).]
9. “Tetapi, Yang Mulia, adakah cara lain yang mana seorang bhikkhu dapat
disebut terampil dalam unsur-unsur?”
“Ada,
Ānanda. Terdapat, Ānanda, dua unsur ini: unsur terkondisi dan unsur tidak
terkondisi. Ketika ia mengetahui dan melihat kedua unsur ini, maka seorang
bhikkhu dapat disebut terampil dalam unsur-unsur.”
[Kitab Komentar : Unsur terkondisi termasuk segala
sesuatu yang dihasilkan oleh kondisi dan merupakan sebutan bagi “kelima
kelompok unsur kehidupan”. Unsur tidak terkondisi adalah Nibbāna.
Karakteristik ketidak-kekalan yang menandai segala
sesuatu yang terkondisi, mengarah secara langsung pada pengenalan universalitas
dukkha atau penderitaan. Sang Buddha menggaris-bawahi aspek dukkha
yang meliputi segalanya ini ketika, dalam penjelasannya pada kebenaran mulia
pertama, Beliau berkata, “singkatnya, kelima kelompok unsur kehidupan yang
terpengaruh oleh kemelekatan adalah penderitaan.”
Kelima
kelompok unsur kehidupan yang
terpengaruh oleh kemelekatan (pañc’upādānakkhandhā) adalah skema
pengelompokan yang dirancang oleh Sang Buddha untuk mendemonstrasikan sifat
personalitas. Skema ini terdiri dari segala jenis keterkondisian yang mungkin,
yang tersebar dalam lima kategori – bentuk
materi, perasaan, persepsi, bentukan-bentukan pikiran, dan kesadaran.
Kelompok unsur bentuk materi (rūpa) termasuk jasmani fisik dengan
organ-organ indrianya serta objek-objek materi eksternal. Kelompok unsur perasaan (vedanā) adalah unsur perasaan dalam
pengalaman, apakah menyenangkan, menyakitkan, atau netral. Persepsi (saññā), kelompok unsur ke tiga, adalah
faktor yang bertanggung jawab untuk mencatat kualitas-kualitas segala sesuatu
dan juga merupakan pelaku dalam pengenalan dan ingatan. Kelompok unsur bentukan-bentukan (sankhārā) adalah sebuah istilah payung yang
mencakup segala kehendak, emosi, dan aspek-aspek intelektual dari pikiran. Dan kesadaran (viññāṇa), kelompok unsur ke lima, adalah kesadaran dasar dari suatu objek yang
sangat diperlukan bagi segala kognisi.
Seperti yang ditunjukkan oleh Yang Mulia Sāriputta
dalam analisis cerdasnya atas kebenaran mulia pertama, perwakilan dari seluruh “lima
kelompok unsur kehidupan” hadir pada setiap kesempatan pengalaman, muncul
sehubungan dengan masing-masing dari keenam organ indria dan objek-objeknya.
Pernyataan Sang Buddha bahwa “kelima kelompok unsur
kehidupan” adalah dukkha, mengungkapkan bahwa segala sesuatu yang sedang
kita identifikasikan dan kita anggap sebagai landasan bagi kebahagiaan, jika
dilihat dengan benar, adalah landasan bagi penderitaan. Bahkan ketika kita
merasa diri kita sedang nyaman dan aman, ketidak-stabilan kelompok-kelompok
unsur kehidupan itu sendiri adalah sumber tindasan dan mempertahankan kita
terus-menerus diterpa oleh penderitaan dalam bentuk yang lebih mencolok.
Keseluruhan situasi menjadi berlipat ganda lebih
jauh lagi pada dimensi yang di luar jangkauan perhitungan ketika kita
memperhitungkan pengungkapan Sang Buddha atas fakta kelahiran kembali. Semua
makhluk yang ketidak-tahuan dan ketagihannya masih ada akan mengembara dalam
lingkaran kelahiran berulang, saṁsāra (lafal baca : “sang-saa-ra”), tidak kekal dan tunduk pada perubahan,
tidak mampu memberikan keamanan yang bertahan lama. Kehidupan di alam manapun
adalah tidak stabil, terhanyutkan, tanpa naungan dan pelindung, tidak memiliki
apa-apa.]
(LANDASAN-LANDASAN)
10. “Tetapi, Yang Mulia, dengan cara bagaimanakah seorang bhikkhu dapat
disebut terampil
dalam landasan-landasan?”
“Terdapat,
Ānanda, enam landasan indria internal dan eksternal ini: mata dan
bentuk-bentuk, telinga dan suara-suara, hidung dan bau-bauan, lidah dan rasa
kecapan, badan dan objek-objek sentuhan, pikiran dan objek-objek pikiran.
Ketika ia mengetahui dan melihat keenam landasan internal dan eksternal ini,
maka seorang bhikkhu dapat disebut terampil dalam landasan-landasan.”
[Kitab Komentar : Kedua-belas landasan didefinisikan
dalam Vibhaṅga §§155-167/70-73 dan dijelaskan dalam Visuddhimagga XV, 1-6. landasan
pikiran termasuk semua jenis kesadaran, dan dengan demikian terdiri dari
seluruh tujuh unsur yang memfungsikan kesadaran. Landasan objek-pikiran adalah
identik dengan unsur objek-pikiran.]
(KEMUNCULAN
BERGANTUNGAN)
11. “Tetapi, Yang Mulia, dengan cara bagaimanakah seorang bhikkhu dapat
disebut terampil
dalam kemunculan bergantungan?”
[Kitab Komentar : Formulasi umum “Empat Kebenaran
Mulia” sesungguhnya adalah versi ringkas dari formulasi yang lebih panjang yang
mengungkapkan asal-mula dan lenyapnya keterikatan dalam saṁsāra. Doktrin dalam versi yang
lebih luas dari pembabaran kedua kebenaran ini disebut paṭicca samuppāda, kemunculan bergantungan. Dalam pernyataan yang paling lengkapnya doktrin
ini menjelaskan asal-mula dan lenyapnya penderitaan dalam formula dua belas
faktor yang saling berhubungan dalam sebelas dalil.
Yang Mulia Sāriputta mengutip kata-kata Sang Buddha
bahwa seorang yang melihat kemunculan bergantungan melihat Dhamma dan seorang
yang melihat Dhamma melihat kemunculan bergantungan. Menurut interpretasi
biasa, rangkaian dua belas faktor merentang hingga tiga masa kehidupan dan
dibagi dalam tahap sebab dan akibat.
Karena ketidak-tahuan (avijjā) – didefinisikan sebagai ketiadaan
pengetahuan atas Empat Kebenaran Mulia – maka seseorang terlibat dalam
perbuatan-perbuatan berkehendak atau kamma, yang dapat berupa jasmani,
ucapan, atau pikiran, bermanfaat atau tidak bermanfaat. Perbuatan-perbuatan kamma
ini adalah bentukan-bentukan (sankhārā), dan matang dalam kondisi-kondisi
kesadaran (viññāṇa) – pertama sebagai kesadaran kelahiran kembali pada momen konsepsi dan setelah
itu sebagai kondisi kesadaran pasif yang dihasilkan dari kamma yang
matang dalam perjalanan sepanjang kehidupan.
Bersama dengan kesadaran di sana muncul batin-jasmani (nāmarupa), yaitu organisme psikofisikal,
yang dilengkapi dengan enam
landasan (saḷāyatana), kelima
organ indria fisik dan pikiran sebagai indria dengan fungsi kognisi yang lebih
tinggi. Melalui organ indria, kontak (phassa) terjadi antara kesadaran dan objeknya,
dan kontak mengondisikan perasaan (vedanā).
Mata rantai dari kesadaran hingga perasaan adalah
produk kamma masa lampau, dari tahap sebab yang diwakili oleh
ketidak-tahuan dan bentukan-bentukan. Dengan mata rantai berikutnya tahap aktif
secara kamma dari kehidupan sekarang dimulai, menghasilkan penjelmaan
baru di masa depan.
Dengan dikondisikan oleh perasaan, maka ketagihan (taṇhā) muncul, ini adalah kebenaran mulia ke dua. Ketika ketagihan menguat,
maka akan memunculkan kemelekatan (upādāna), yang dengannya sekali lagi
seseorang akan terlibat dalam perbuatan-perbuatan berkehendak yang penuh dengan
penjelmaan baru (bhava). Penjelmaan baru dimulai dari kelahiran (jāti), yang tak terhindarkan akan mengarah
pada penuaan dan kematian (jarāmaraṇa).
Ajaran kemunculan bergantungan juga menunjukkan
bagaimana lingkaran / siklus kehidupan (tumimbal-lahir) dapat dipatahkan. Dengan munculnya pengetahuan sejati, penembusan
sepenuhnya pada Empat Kebenaran Mulia, maka ketidak-tahuan
dapat dilenyapkan. Akibatnya,
pikiran tidak lagi menuruti ketagihan dan kemelekatan, perbuatan kehilangan
potensinya untuk menghasilkan kelahiran kembali, dan bahan bakarnya dihilangkan,
lingkaran itu berakhir. Hal ini menandai tujuan ajaran yang disiratkan oleh
kebenaran mulia ke tiga, yaitu lenyapnya
penderitaan.]
“Di sini, Ānanda, seorang
bhikkhu mengetahui sebagai berikut: “Jika ini ada, maka itu terjadi; dengan
munculnya ini, maka muncul pula itu. Jika ini tidak ada, maka itu tidak
terjadi; dengan lenyapnya ini, maka lenyap pula itu. Yaitu, dengan ketidak-tahuan sebagai kondisi,
maka bentukan-bentukan [muncul]; dengan bentukan-bentukan sebagai kondisi, maka
kesadaran; dengan kesadaran sebagai kondisi, maka batin-jasmani; dengan
batin-jasmani sebagai kondisi, maka enam landasan; dengan enam landasan sebagai
kondisi, maka kontak; dengan kontak sebagai kondisi, maka perasaan; dengan
perasaan sebagai kondisi, maka ketagihan; dengan ketagihan sebagai kondisi,
maka kemelekatan; dengan kemelekatan sebagai kondisi, maka [64] penjelmaan;
dengan penjelmaan sebagai kondisi, maka kelahiran; dengan kelahiran sebagai
kondisi, maka penuaan dan kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan,
dan keputus-asaan terjadi. Demikianlah
asal-mula dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini.
[Komentar : Mengapa terdapat serta terjadi “penuaan
dan kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan”?
Karena adanya “kelahiran sebagai kondisi”. Mengapa ada kelahiran? Bila kita
rujuk dengan urutan yang dibalik, maka pangkal-sebabnya ialah adanya “ketidak-tahuan
sebagai kondisi”.]
“Tetapi
dengan peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya ketidaktahuan, maka lenyap pula
bentukan-bentukan; dengan lenyapnya bentukan-bentukan, maka lenyap pula
kesadaran; dengan lenyapnya kesadaran, maka lenyap pula batin-jasmani; dengan
lenyapnya batin-jasmani, maka lenyap pula enam landasan; dengan lenyapnya enam
landasan, maka lenyap pula kontak; dengan lenyapnya kontak, maka lenyap pula
perasaan; dengan lenyapnya perasaan, maka lenyap pula ketagihan; dengan
lenyapnya ketagihan, maka lenyap pula kemelekatan; dengan lenyapnya
kemelekatan, maka lenyap pula penjelmaan; dengan lenyapnya penjelmaan, maka
lenyap pula kelahiran; dengan lenyapnya kelahiran, maka lenyap pula penuaan dan
kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan. Demikianlah lenyapnya keseluruhan kumpulan
penderitaan ini.’ Dengan cara inilah, Ānanda, seorang bhikkhu dapat disebut
terampil dalam
kemunculan bergantungan.”
(YANG
MUNGKIN DAN YANG TIDAK MUNGKIN)
12. “Tetapi, Yang Mulia, dengan
cara bagaimanakah seorang bhikkhu dapat disebut terampil dalam apa yang mungkin
dan apa yang tidak mungkin?”
“Di sini, Ānanda, seorang bhikkhu memahami: ‘Adalah mustahil, tidak
mungkin terjadi bahwa seseorang yang memiliki pandangan benar dapat menganggap
bentukan apapun sebagai kekal – tidak ada kemungkinan seperti itu.’ Dan ia memahami: ‘Adalah
mungkin bahwa seorang biasa dapat menganggap suatu bentukan sebagai kekal – ada
kemungkinan seperti itu.’ Ia memahami: ‘Adalah
mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa seseorang yang memiliki pandangan benar
dapat menganggap bentukan apapun sebagai menyenangkan – tidak ada kemungkinan
seperti itu.’ Dan ia
memahami: ‘Adalah
mungkin bahwa seorang biasa dapat menganggap suatu bentukan sebagai
menyenangkan – ada
kemungkinan seperti itu.’ Ia memahami: ‘Adalah
mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa seseorang yang memiliki pandangan benar
dapat menganggap apa pun sebagai diri – tidak ada kemungkinan seperti itu.’ Dan ia memahami: ‘Adalah
mungkin bahwa seorang biasa dapat menganggap sesuatu sebagai diri – ada
kemungkinan seperti itu.’
[Kitab Komentar : Tidak ada kemungkinan seseorang
yang memiliki pandangan benar dapat menganggap bentukan apapun sebagai kekal.
Seseorang yang memiliki pandangan benar (diṭṭhisampanno) adalah
seorang yang memiliki pandangan sang jalan, seorang siswa mulia dengan tingkat
minimal pemasuk-arus. “Bentukan” di sini harus dipahami sebagai bentukan
terkondisi (sankhatasankhāra) yaitu, segala sesuatu yang terkondisi.
Tidak ada kemungkinan seseorang yang memiliki
pandangan benar dapat menganggap bentukan apapun sebagai menyenangkan. Itu menunjukkan
bahwa seorang siswa mulia di bawah tingkat Kearahantaan masih dapat memahami
bentukan-bentukan sebagai menyenangkan dengan pikiran yang terlepas dari
pandangan salah, tetapi ia tidak dapat mengadopsi pandangan bahwa segala
bentukan adalah menyenangkan. Walaupun persepsi dan pikiran atas
bentukan-bentukan sebagai menyenangkan muncul dalam dirinya, ia mengetahui
melalui perenungan bahwa gagasan demikian adalah keliru.
Ada kemungkinan bahwa seorang biasa dapat menganggap
sesuatu sebagai diri. Dalam paragraf tentang “diri” ini, sankhāra,
“bentukan”, digantikan oleh dhamma, “sesuatu”. Kitab Komentar
menjelaskan bahwa penggantian ini dilakukan untuk memasukkan konsep-konsep,
seperti gambaran kasiṇa, dan sebagainya, yang oleh orang biasa cenderung diidentifikasikan
sebagai “diri”. Akan tetapi, dengan memandang fakta bahwa Nibbāna
digambarkan sebagai tidak dapat hancur (accuta) dan sebagai kebahagiaan
(sukha), dan juga dapat disalah-pahami sebagai “diri” (baca Majjhima
Nikāya 1.26), kata sankhāra dapat dianggap hanya termasuk yang
terkondisi, sedangkan dhamma termasuk baik yang terkondisi maupun yang
tidak terkondisi. Akan tetapi, interpretasi ini tidak disetujui oleh
komentar-komentar dari Ācariya Buddhaghosa.]
13. “Ia memahami: ‘Adalah mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa seseorang
yang memiliki pandangan benar dapat membunuh ibunya – tidak ada kemungkinan
seperti itu.’ Dan ia memahami: ‘Adalah mungkin bahwa seorang biasa dapat membunuh
ibunya – ada kemungkinan seperti itu.’ Ia memahami: ‘Adalah mustahil, tidak
mungkin terjadi bahwa seseorang yang memiliki pandangan benar dapat membunuh
ayahnya … dapat membunuh seorang Arahant – tidak ada kemungkinan seperti itu.’
Dan ia memahami: ‘Adalah mungkin bahwa seorang biasa dapat membunuh ayahnya …
dapat membunuh seorang Arahant – ada kemungkinan seperti itu.’ Ia memahami:
‘Adalah mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa seseorang yang memiliki pandangan
benar dapat, dengan pikiran membenci, melukai seorang Tathāgata hingga berdarah
– tidak ada kemungkinan seperti itu.’ Dan ia memahami: ‘Adalah mungkin bahwa
seorang biasa dapat, dengan pikiran membenci, melukai seorang Tathāgata hingga
berdarah – ada kemungkinan seperti itu.’ Ia memahami: ‘Adalah
mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa seseorang yang memiliki pandangan benar
dapat memecah-belah Saṅgha … dapat menerima
ajaran guru lain – tidak ada kemungkinan seperti itu.’ Dan ia memahami: ‘Adalah
mungkin bahwa seorang biasa dapat memecah-belah Saṅgha … dapat menerima
ajaran guru lain – ada kemungkinan seperti itu.’
[Kitab Komentar : Bagian di atas membedakan orang
biasa dan siswa mulia dalam hal lima kejahatan berat. Kitab Komentar
menunjukkan bahwa seorang siswa mulia tidak mampu secara sengaja membunuh
makhluk hidup, tetapi perbedaan yang diberikan di sini melalui pembunuhan ibu
dan pembunuhan ayah menekankan pada sisi bahaya dari kondisi orang biasa dan
kekuatan seorang siswa mulia.
Adalah mungkin bahwa seorang biasa dapat menerima
ajaran guru lain, yaitu, dapat mengakui seorang lain selain Sang Buddha sebagai
guru spiritual tertinggi.]
14. “Ia memahami: ‘Adalah
mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa dua orang Yang Sempurna, Yang Tercerahkan
Sempurna dapat muncul pada masa yang sama dalam satu sistem dunia – tidak ada
kemungkinan seperti itu.’ Dan ia memahami: ‘Adalah
mungkin bahwa satu orang Yang Sempurna, Yang Tercerahkan Sempurna dapat muncul
dalam satu sistem dunia – ada kemungkinan seperti itu.’ Ia memahami: ‘Adalah
mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa dua orang Raja Pemutar-Roda dapat muncul
pada masa yang sama dalam satu sistem dunia – tidak ada kemungkinan seperti itu.’ Dan ia memahami: ‘Adalah
mungkin bahwa satu orang Raja Pemutar-Roda dapat muncul dalam satu sistem dunia
– ada kemungkinan seperti itu.’
[Kitab Komentar : Kemunculan seorang Buddha lain
adalah tidak mungkin terjadi sejak pada saat seorang Bodhisatta memasuki rahim
ibunya dalam kehidupan terakhirNya hingga PengajaranNya lenyap sama sekali.
Persoalan ini dibahas dalam Milindapañha 236-39.]
15. “Ia memahami: ‘Adalah mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa seorang
perempuan dapat menjadi seorang Yang Sempurna, seorang Yang Tercerahkan
Sempurna – tidak ada kemungkinan seperti itu.’ Dan ia memahami: ‘Adalah mungkin
bahwa seorang laki-laki dapat menjadi seorang Yang Sempurna, seorang Yang
Tercerahkan Sempurna – ada kemungkinan seperti itu.’ Ia memahami: ‘Adalah
mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa seorang perempuan dapat menjadi seorang
Raja Pemutar-Roda … bahwa seorang perempuan dapat menempati posisi Sakka [66] …
bahwa seorang perempuan dapat menempati posisi Māra … bahwa seorang perempuan
dapat menempati posisi Brahmā – tidak ada kemungkinan seperti itu.’ Dan ia
memahami: ‘Adalah mungkin bahwa seorang laki-laki dapat menjadi seorang Raja Pemutar-Roda
… bahwa seorang laki-laki dapat menempati posisi Sakka … bahwa seorang
laki-laki dapat menempati posisi Māra … bahwa seorang laki-laki dapat menempati
posisi Brahmā – ada kemungkinan seperti itu.’
[Kitab Komentar : Pernyataan ini hanya menegaskan
bahwa seorang Buddha yang Tercerahkan Sempurna adalah selalu berjenis kelamin
laki-laki, tetapi tidak menyangkal bahwa seorang yang sekarang adalah perempuan
dapat menjadi seorang Yang Tercerahkan Sempurna di masa depan. Akan tetapi,
untuk menjadi demikian, pada tahap awalnya, ia harus terlahir kembali
sebagai seorang laki-laki.
Dalam Buddhisme, tidak ada diskriminasi gender
secara absolut, mengingat setiap individu yang kini terlahir bergender pria,
dalam kehidupan sebelumnya, tidak terhitung jumlahnya telah pernah terlahir
sebagai seorang perempuan, demikian juga sebaliknya.]
16. “Ia memahami: ‘Adalah
mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa suatu akibat yang diharapkan, diinginkan,
menyenangkan dapat dihasilkan dari perilaku jasmani yang salah. Adalah
mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa suatu akibat yang diharapkan, diinginkan,
menyenangkan dapat dihasilkan dari perilaku ucapan yang salah. Adalah mustahil,
tidak mungkin terjadi bahwa suatu akibat yang diharapkan, diinginkan,
menyenangkan dapat dihasilkan dari perilaku pikiran yang salah - tidak ada
kemungkinan seperti itu.’ Dan ia memahami: ‘Adalah
mungkin bahwa suatu akibat yang tidak diharapkan, tidak diinginkan, tidak
menyenangkan dapat dihasilkan dari perilaku jasmani yang salah. Adalah mungkin
bahwa suatu akibat yang tidak diharapkan, tidak diinginkan, tidak menyenangkan
dapat dihasilkan dari perilaku ucapan yang salah. Adalah mungkin bahwa suatu
akibat yang tidak diharapkan, tidak diinginkan, tidak menyenangkan dapat
dihasilkan dari perilaku pikiran yang salah - ada kemungkinan seperti itu.’
17. “Ia memahami: ‘Adalah
mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa suatu akibat yang tidak diharapkan, tidak
diinginkan, tidak menyenangkan dapat dihasilkan dari perilaku jasmani yang baik.
Adalah mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa suatu akibat yang tidak
diharapkan, tidak diinginkan, tidak menyenangkan dapat dihasilkan dari perilaku
ucapan yang baik. Adalah mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa suatu akibat
yang tidak diharapkan, tidak diinginkan, tidak menyenangkan dapat dihasilkan
dari perilaku pikiran yang baik – tidak ada kemungkinan seperti itu.’ Dan ia memahami: ‘Adalah
mungkin terjadi bahwa suatu akibat yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan
dapat dihasilkan dari perilaku jasmani yang baik. Adalah mungkin terjadi bahwa
suatu akibat yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dapat dihasilkan dari
perilaku ucapan yang baik. Adalah mungkin terjadi bahwa suatu akibat yang
diharapkan, diinginkan, menyenangkan dapat dihasilkan dari perilaku pikiran
yang baik – ada kemungkinan seperti itu.’
18. “Ia memahami: ‘Adalah
mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa seseorang yang menekuni perbuatan salah
dalam jasmani dapat karena hal itu, karena alasan itu, ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam
surga. [67] Adalah mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa seseorang yang
menekuni perbuatan salah dalam ucapan dapat karena hal itu, karena alasan itu,
ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam bahagia,
bahkan di alam surga. Adalah mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa seseorang
yang menekuni perbuatan salah dalam pikiran dapat karena hal itu, karena alasan
itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam
bahagia, bahkan di alam surga – tidak ada kemungkinan seperti itu.’ Dan ia memahami: ‘Adalah
mungkin bahwa seseorang yang menekuni perbuatan salah dalam jasmani dapat
karena hal itu, karena alasan itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian,
muncul kembali di alam menderita, di alam yang tidak bahagia, dalam
kesengsaraan, bahkan di neraka. Adalah mungkin bahwa seseorang yang menekuni
perbuatan salah dalam ucapan dapat karena hal itu, karena alasan itu, ketika
hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam menderita, di alam
yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka . Adalah mungkin bahwa
seseorang yang menekuni perbuatan salah dalam pikiran dapat karena hal itu,
karena alasan itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali
di alam menderita, di alam yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di
neraka – ada kemungkinan seperti itu.’
[Kitab Komentar : Dalam paragraf di atas, perihal “Adalah
mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa seseorang yang menekuni perbuatan salah
dalam jasmani dapat karena hal itu, karena alasan itu, ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam
surga. ... yang menekuni perbuatan salah dalam ucapan dapat karena hal itu, karena
alasan itu, ketika
hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam bahagia, bahkan di
alam surga. ... yang menekuni perbuatan salah dalam pikiran dapat karena hal itu, karena
alasan itu, ketika
hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam bahagia, bahkan di
alam surga – tidak ada kemungkinan seperti itu.”, frasa “karena
hal itu, karena alasan itu” (tannidāna
tappaccayā) adalah sangat penting. Seperti yang akan diperlihatkan oleh
Sang Buddha dalam Majjhima Nikāya 136, seorang yang menekuni perbuatan jahat
mungkin terlahir kembali di alam surga dan seorang yang menekuni perbuatan baik
mungkin terlahir kembali di alam rendah. Tetapi dalam kasus-kasus itu kelahiran
kembali itu disebabkan oleh beberapa kamma yang berbeda dengan kamma
dari kebiasaan yang ia tekuni. Hukum yang ketat hanya berlaku pada hubungan
antara kamma dan akibatnya.]
19. “Ia
memahami: ‘Adalah mustahil, tidak mungkin terjadi bahwa seseorang yang menekuni
perbuatan benar dalam jasmani dapat karena hal itu, karena alasan itu, ketika
hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam menderita, di alam
yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka. Adalah mustahil,
tidak mungkin terjadi bahwa seseorang yang menekuni perbuatan benar dalam
ucapan dapat karena hal itu, karena alasan itu, ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, muncul kembali di alam menderita, di alam yang tidak bahagia,
dalam kesengsaraan, bahkan di neraka. Adalah mustahil, tidak mungkin terjadi
bahwa seseorang yang menekuni perbuatan benar dalam pikiran dapat karena hal
itu, karena alasan itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul
kembali di alam menderita, di alam yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan,
bahkan di neraka – tidak ada kemungkinan seperti itu.’ Dan ia memahami: ‘Adalah
mungkin bahwa seseorang yang menekuni perbuatan benar dalam jasmani dapat
karena hal itu, karena alasan itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian,
muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga. Adalah mungkin bahwa
seseorang yang menekuni perbuatan benar dalam ucapan dapat karena hal itu,
karena alasan itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali
di alam bahagia, bahkan di alam surga. Adalah mungkin bahwa seseorang yang
menekuni perbuatan benar dalam pikiran dapat karena hal itu, karena alasan itu,
ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam bahagia,
bahkan di alam surga – ada kemungkinan seperti itu.’
“Dengan cara inilah, Ānanda, seorang bhikkhu dapat disebut terampil dalam apa yang
mungkin dan apa yang tidak mungkin.”
(PENUTUP)
20. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Ānanda berkata kepada Sang
Bhagavā: “Sungguh
mengagumkan, Yang Mulia, sungguh menakjubkan! Apakah nama dari khotbah Dhamma ini?”
“Engkau boleh mengingat khotbah Dhamma ini, Ānanda, sebagai ‘Banyak Jenis
Unsur’ dan sebagai ‘Empat Putaran’1092 dan sebagai ‘Cermin Dhamma’ dan sebagai
‘Tambur Tanpa-Kematian’ dan sebagai ‘Kemenangan
Tertinggi dalam Peperangan.’”
[Kitab Komentar : “Empat putaran” adalah
unsur-unsur, landasan-landasan, kemunculan bergantungan, dan yang mungkin dan
yang tidak mungkin.]
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Ānanda merasa
puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, agama samawi nyata-nyata merusak
“standar moralitas” umat manusia sehingga menjelma “Buat dosa, siapa takut? Ada
ritual doa pengampunan dosa!”—kesemuanya dikutip
dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Bukankah
tiada yang lebih dungu, daripada menjadikan sosok “nabi rasul Allah” berikut
sebagai suri-teladan, seolah-olah tidak ada orang yang lebih bersih dan lebih
tidak tercela dari sang “nabi rasul Allah” untuk dijadikan junjungan dan
tauladan hidup—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]