Biarkan saja bila saya disebut “kikir”,
Karena selektif dalam berdonasi.
Karena saya punya cara saya
sendiri dalam berderma.
Biarkan saja bila orang lain menilai
saya sebagai antisosial,
Karena selektif dalam memilih
pergaulan.
Karena saya punya cara saya sendiri dalam bersosialisasi.
Biar saja bila ada orang yang
meremehkan saya,
Semata karena hidup secara
sederhana dan simpel.
Saya punya cara kreatif saya
sendiri dalam menemukan kebahagiaan.
Biar saja orang menilai saya
sebagai sosok yang terkucil,
Semata karena memiliki sifat
introvert.
Saya punya cara saya sendiri
untuk berteman dan akrab dengan diri saya sendiri.
Biar saja bila orang lain
memandang saya sebagai orang bodoh,
Semata karena saya tidak menguasai
banyak hal.
Saya punya cara saya sendiri
dalam menjalani kehidupan.
Biar saja bila ada yang berkomentar
bahwa saya telah gagal,
Karena bertarung secara adil tanpa
kecurangan pastilah menemui kekalahan.
Namun saya punya cara saya
sendiri dalam bertahan hidup.
Biar saja bila masyarakat tidak
memberikan apa yang menjadi hak saya,
Maupun keadilan yang seakan
jauh dari jangkauan.
Saya selalu punya cara saya
sendiri untuk menenangkan dan menghibur diri.
Biar saja bila ada orang yang
menilai bahwa saya tidak sopan,
Karena menolak keinginan orang
yang pernah membantu ataupun menolong.
Saya punya cara saya sendiri
dalam membalas budi baik orang lain.
Biar saja bila orang lain menilai
saya sebagai berhati beku,
Semata karena tidak bersedia
memberikan “ikan”.
Saya punya cara saya sendiri
dalam mengulurkan-tangan,
Semisal memberinya “pancing”.
Biar saja bila orang lain
menilai saya tidak memiliki kepedulian,
Semata karena tidak turut berdemonstrasi
menolak sesuatu yang tampak tidak ideal.
Saya punya cara saya sendiri
dalam berunjuk-rasa.
Biar saja bila seseorang
menilai saya tidak berani bertarung secara frontal,
Semata karena saya memahami
kelemahan diri sendiri dan kelebihan lawan.
Saya punya cara saya sendiri
untuk bertempur.
Biar saja bila aparatur
pemerintah memperlakukan kami selaku rakyat,
Secara sewenang-wenang.
Kami punya cara kami sendiri dalam
menyikapinya.
Biar saja orang lain merasa
senang,
Karena merasa menang dalam berdebat
dengan kita.
Saya punya cara saya sendiri dalam
mempertahankan keyakinan dan pendapat.
Biar saja bila saya hanya
sedikit menikmati kenikmatan indria,
Karena melihat adanya bahaya
dibalik kenikmatan indria.
Saya memiliki mengikuti cara
Sang Buddha menyelami “kenikmatan yang tidak berhubungan dengan kenikmatan
indria”,
Kenikmatan yang terasing dari
kenikmatan indria.
Ada, kenikmatan yang tidak
berhubungan dengan kenikmatan indria,
Dan tanpa adanya bahaya dalam menikmatinya,
Terjadi peningkatan dan
pertumbuhan kualitas batin,
Bukan kemerosotan.
Ada kualitas api yang
bergantung pada jenis bahan bakarnya dan bergantung pada jenis bahan bakar
tersebut.
Namun juga ada api yang tidak
bergantung pada jenis bahan bakar apapun,
Yakni “kekuatan batin”,
Demikianlah Sang Buddha menunjukkan
“Sang Jalan” yang telah ia Tempuh.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
