Kita Bisa Punya Cara Kita Sendiri dalam Menyikapi dan Merespon

HERY SHIETRA, Kita Bisa Punya Cara Kita Sendiri dalam Menyikapi dan Merespon

Biarkan saja bila saya disebut “kikir”,

Karena selektif dalam berdonasi.

Karena saya punya cara saya sendiri dalam berderma.

Biarkan saja bila orang lain menilai saya sebagai antisosial,

Karena selektif dalam memilih pergaulan.

Karena saya punya cara saya sendiri dalam bersosialisasi.

Biar saja bila ada orang yang meremehkan saya,

Semata karena hidup secara sederhana dan simpel.

Saya punya cara kreatif saya sendiri dalam menemukan kebahagiaan.

Biar saja orang menilai saya sebagai sosok yang terkucil,

Semata karena memiliki sifat introvert.

Saya punya cara saya sendiri untuk berteman dan akrab dengan diri saya sendiri.

Biar saja bila orang lain memandang saya sebagai orang bodoh,

Semata karena saya tidak menguasai banyak hal.

Saya punya cara saya sendiri dalam menjalani kehidupan.

Biar saja bila ada yang berkomentar bahwa saya telah gagal,

Karena bertarung secara adil tanpa kecurangan pastilah menemui kekalahan.

Namun saya punya cara saya sendiri dalam bertahan hidup.

Biar saja bila masyarakat tidak memberikan apa yang menjadi hak saya,

Maupun keadilan yang seakan jauh dari jangkauan.

Saya selalu punya cara saya sendiri untuk menenangkan dan menghibur diri.

Biar saja bila ada orang yang menilai bahwa saya tidak sopan,

Karena menolak keinginan orang yang pernah membantu ataupun menolong.

Saya punya cara saya sendiri dalam membalas budi baik orang lain.

Biar saja bila orang lain menilai saya sebagai berhati beku,

Semata karena tidak bersedia memberikan “ikan”.

Saya punya cara saya sendiri dalam mengulurkan-tangan,

Semisal memberinya “pancing”.

Biar saja bila orang lain menilai saya tidak memiliki kepedulian,

Semata karena tidak turut berdemonstrasi menolak sesuatu yang tampak tidak ideal.

Saya punya cara saya sendiri dalam berunjuk-rasa.

Biar saja bila seseorang menilai saya tidak berani bertarung secara frontal,

Semata karena saya memahami kelemahan diri sendiri dan kelebihan lawan.

Saya punya cara saya sendiri untuk bertempur.

Biar saja bila aparatur pemerintah memperlakukan kami selaku rakyat,

Secara sewenang-wenang.

Kami punya cara kami sendiri dalam menyikapinya.

Biar saja orang lain merasa senang,

Karena merasa menang dalam berdebat dengan kita.

Saya punya cara saya sendiri dalam mempertahankan keyakinan dan pendapat.

Biar saja bila saya hanya sedikit menikmati kenikmatan indria,

Karena melihat adanya bahaya dibalik kenikmatan indria.

Saya memiliki mengikuti cara Sang Buddha menyelami “kenikmatan yang tidak berhubungan dengan kenikmatan indria”,

Kenikmatan yang terasing dari kenikmatan indria.

Ada, kenikmatan yang tidak berhubungan dengan kenikmatan indria,

Dan tanpa adanya bahaya dalam menikmatinya,

Terjadi peningkatan dan pertumbuhan kualitas batin,

Bukan kemerosotan.

Ada kualitas api yang bergantung pada jenis bahan bakarnya dan bergantung pada jenis bahan bakar tersebut.

Namun juga ada api yang tidak bergantung pada jenis bahan bakar apapun,

Yakni “kekuatan batin”,

Demikianlah Sang Buddha menunjukkan “Sang Jalan” yang telah ia Tempuh.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.