NARCISTIC GOD Menciptakan “SELFISH GENE” para Umat Agama Samawi
Question: Tuhannya agama samawi bersikap seolah-olah dunia ini hanya ada planet bernama bumi saja, tidak ada alam semesta bernama galaksi lain, tiada bumi lain yang juga berpenghuni manusia selain bumi ini, karenanya menjadi sempit dan kerdil juga dangkal gaya berpikirnya. Mengapa manusia punya “SELFISH GENE”, apakah karena diciptakan oleh “NARCISTIC GOD” (Tuhan yang narsistik)?
Brief
Answer: Menurut ilmu psikologi,
sifat narsistik adalah pangkal dari sifat egoistik. Kita hampir selalu menemukan
adanya watak narsis pada orang-orang yang dengan karakter egois. Agama samawi
memandang bahwa dunia ini bergerak berdasarkan “bumi-sentris”, bukan “matahari-sentris”
sebagai pusat rotasi dan revolusi tata surya, meski yang sebetulnya ialah “kosmos-sentris”
sebagai dasar pergerakan mengembang dan menyusutnya alam semesta.
Begitupula
sifat atau DNA yang paling mencolok dari agama samawi, ialah “PENDOSA-SENTRIS”
(sinners-centric), dengan lebih berpihak kepada para pendosa yang
karenanya merampas hak-hak kalangan korban atas keadilan dengan menghapus dosa-dosa
para pendosa tersebut lewat dogma KORUP bernama “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN /
PENEBUSAN DOSA”.
Silahkan saja
bila Allah mengklaim jagat-raya dan seluruh isi diluar Planet Bumi, adalah
ciptaan Allah. Buddha sudah selesai dengan Allah yang “kesepian”, “butuh umat-penyembah”,
dan “kurang kerjaan” demikian, sebagaimana sabda Sang Buddha yang
memperlihatkan “jalan” bagi para siswa-Nya, untuk berkata lantang:
“Aku
adalah seorang yang telah selesai dengan neraka, alam binatang, dan alam hantu
menderita; aku telah selesai dengan alam sengsara, alam tujuan kelahiran yang
buruk, alam rendah; aku adalah seorang pemasuk-arus, tidak lagi tunduk pada
[kelahiran kembali] di alam rendah, pasti dalam tujuan, mengarah menuju
pencerahan.”
PEMBAHASAN:
Silahkan Allah berfoya-foya terhadap begitu banyak planet mati di luar
sana, begitu banyak matahari dan “lubang hitam”, begitu banyak galaksi di semesta
raya, namun kesemua itu “tidak ada artinya” dan “tiada nilainya” sebagaimana dibabarkan
oleh Sang Buddha lewat khotbah-Nya dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang
Buddha, JILID V”, Judul Asli
: “The Numerical Discourses of the Buddha”,
diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012,
terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan
sebagai berikut:
92 (2) Permusuhan
Perumah tangga Anāthapiṇḍika mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau,
dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya:
“Perumah tangga, ketika seorang siswa mulia telah melenyapkan lima bahaya
dan permusuhan, memiliki empat faktor memasuki-arus, dan telah melihat dengan
jelas dan secara seksama menembus metode mulia dengan kebijaksanaan, ia dapat,
jika ia menghendaki, menyatakan dirinya: ‘Aku
adalah seorang yang telah selesai dengan neraka, alam binatang, dan alam hantu
menderita; aku telah selesai dengan alam sengsara, alam tujuan kelahiran yang
buruk, alam rendah; aku adalah seorang pemasuk-arus, tidak lagi tunduk pada
[kelahiran kembali] di alam rendah, pasti dalam tujuan, mengarah menuju
pencerahan.’
“Apakah lima bahaya dan permusuhan yang telah dilenyapkan? [183] (1)
Perumah tangga, seorang yang membunuh, dengan pembunuhan sebagai kondisi,
menciptakan bahaya dan permusuhan yang berhubungan dengan kehidupan ini dan
bahaya dan permusuhan yang berhubungan dengan kehidupan mendatang, dan ia juga
mengalami kesakitan batin dan kesedihan. Seorang yang menghindari membunuh
tidak menciptakan bahaya dan permusuhan demikian yang berhubungan dengan
kehidupan ini atau bahaya dan permusuhan demikian yang berhubungan dengan
kehidupan mendatang, juga ia tidak mengalami kesakitan batin dan kesedihan.
Dengan demikian, pada seorang yang menghindari membunuh, bahaya dan permusuhan
itu telah dilenyapkan.
(2) “Seorang yang mengambil apa yang tidak diberikan …
(3) Seorang yang melakukan hubungan seksual yang salah …
(4) Seorang yang berbohong …
(5) Seorang yang menikmati minuman keras, anggur, dan minuman memabukkan,
yang menjadi landasan bagi kelengahan, dengan menikmati minuman keras, anggur,
dan minuman memabukkan sebagai kondisi, menciptakan bahaya dan permusuhan yang
berhubungan dengan kehidupan ini dan bahaya dan permusuhan yang berhubungan
dengan kehidupan mendatang, dan ia juga mengalami kesakitan batin dan
kesedihan. Seorang yang menghindari menikmati minuman keras, anggur, dan minuman
memabukkan, yang menjadi landasan bagi kelengahan, tidak menciptakan bahaya dan
permusuhan demikian yang berhubungan dengan kehidupan ini atau bahaya dan
permusuhan demikian yang berhubungan dengan kehidupan mendatang, juga ia tidak
mengalami kesakitan batin dan kesedihan. Dengan demikian, pada seorang yang
menghindari menikmati minuman keras, anggur, dan minuman memabukkan, yang
menjadi landasan bagi kelengahan, bahaya dan permusuhan itu telah dilenyapkan.
“Ini adalah kelima bahaya dan permusuhan itu yang telah dilenyapkan.
“Dan apakah empat faktor memasuki-arus yang ia miliki?
(6) Di sini, perumah tangga, seorang siswa mulia memiliki keyakinan yang tak
tergoyahkan pada Sang Buddha sebagai berikut: ‘Sang Bhagavā adalah seorang Arahant, tercerahkan
sempurna, sempurna dalam
pengetahuan sejati dan perilaku, sempurna
menempuh sang jalan, pengenal dunia, pelatih
terbaik bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru
para deva dan manusia, Yang
Tercerahkan, Yang Suci.’
(7) Ia memiliki keyakinan tak tergoyahkan pada Dhamma sebagai berikut:
‘Dhamma telah dibabarkan dengan baik oleh Sang Bhagavā, terlihat langsung,
segera, mengundang seseorang untuk datang dan melihat, dapat diterapkan,
untuk dialami secara pribadi oleh para bijaksana.’
(8) Ia memiliki keyakinan tak tergoyahkan pada Saṅgha sebagai berikut: ‘Saṅgha para siswa Sang Bhagavā mempraktikkan jalan yang
baik, mempraktikkan jalan yang lurus, mempraktikkan jalan yang benar,
mempraktikkan jalan yang selayaknya; yaitu empat pasang makhluk, delapan jenis individu
- Saṅgha para siswa Sang Bhagavā ini layak menerima pemberian, layak menerima
keramahan, layak menerima persembahan, layak menerima penghormatan, lahan
jasa yang tiada taranya di dunia.’
(9) Ia memiliki
perilaku bermoral yang disukai oleh para mulia, [184] yang tidak rusak, tidak
cacat, tanpa noda, tanpa bercak, membebaskan, dipuji oleh para bijaksana, tidak
digenggam, mengarah pada konsentrasi. Ini adalah keempat faktor memasuki-arus yang ia miliki.
“Dan apakah metode mulia yang telah ia lihat dengan jelas dan secara
seksama ditembus dengan kebijaksanaan?
[Kitab Komentar : Metode mulia (ariya ñāya)
adalah ‘sang jalan’ yang disertai dengan pandangan terang.]
(10) Di sini, perumah tangga, siswa mulia itu merefleksikan sebagai
berikut: ‘Ketika ini ada, maka itu muncul; dengan munculnya ini, maka muncul
pula itu. Ketika ini tidak ada, maka itu tidak muncul; dengan lenyapnya ini,
maka lenyap pula itu. Yaitu, dengan
ketidak-tahuan sebagai kondisi, maka aktivitas-aktivitas kehendak [muncul]; dengan
aktivitas-aktivitas kehendak sebagai kondisi, maka kesadaran; dengan kesadaran
sebagai kondisi, maka nama-dan-bentuk; dengan nama-dan-bentuk sebagai kondisi,
maka enam landasan indria; dengan enam landasan indria sebagai kondisi, maka
kontak; dengan kontak sebagai kondisi, maka perasaan; dengan perasaan sebagai
kondisi, maka ketagihan; dengan ketagihan sebagai kondisi, maka kemelekatan;
dengan kemelekatan sebagai kondisi, maka penjelmaan; dengan penjelmaan sebagai
kondisi, maka kelahiran; dengan kelahiran sebagai kondisi, maka penuaan dan
kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan kesengsaraan muncul.
Demikianlah asal-mula keseluruhan kumpulan penderitaan ini.
“‘Tetapi dengan
peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya ketidak-tahuan, maka lenyap pula
aktivitas-aktivitas kehendak; dengan lenyapnya aktivitas-aktivitas kehendak,
maka lenyap pula kesadaran; dengan lenyapnya kesadaran, maka lenyap pula nama-dan-bentuk;
dengan lenyapnya nama-dan-bentuk, maka lenyap pula enam landasan indria; dengan
lenyapnya enam landasan indria, maka lenyap pula kontak; dengan lenyapnya
kontak, maka lenyap pula perasaan; dengan lenyapnya perasaan, maka lenyap pula
ketagihan; dengan lenyapnya ketagihan, maka lenyap pula kemelekatan; dengan
lenyapnya kemelekatan, maka lenyap pula penjelmaan; dengan lenyapnya
penjelmaan, maka lenyap pula kelahiran; dengan lenyapnya kelahiran, maka lenyap
pula penuaan dan kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan kesengsaraan.
Demikianlah lenyapnya keseluruhan kumpulan penderitaan ini.’
“Ini
adalah metode mulia itu yang telah ia lihat dengan jelas dan secara seksama
ditembus dengan kebijaksanaan.
“Perumah tangga, ketika seorang siswa mulia telah melenyapkan lima bahaya
dan permusuhan, dan memiliki empat faktor memasuki-arus, dan telah melihat
dengan jelas dan secara seksama menembus metode mulia dengan kebijaksanaan, ia dapat,
jika ia menghendaki, menyatakan dirinya: ‘Aku
adalah seorang yang telah selesai dengan neraka, alam binatang, dan alam hantu
menderita; aku telah selesai dengan alam sengsara, alam tujuan kelahiran yang
buruk, alam rendah; aku adalah seorang pemasuk-arus, tidak lagi tunduk pada
[kelahiran kembali] di alam rendah, pasti dalam tujuan, mengarah menuju
pencerahan.’” [185]
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi,
disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam
“PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”.
Dosa-dosa
pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang
begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri
buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut
yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik
perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit
jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip
dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa,
namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang
berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN
DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi
sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun
hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga.
Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur,
adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun
disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.
Terhadap
dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda
keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik
menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan
membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA”
alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat
kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih
dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]