Yesus Berkata : Wahai Orang JAHAT, Anda Harus Bangga menjadi PENJAHAT dengan Rajin Berbuat KEJAHATAN. PENJAHAT Masuk Surga
Umat Buddhis : “Betapa beruntungnya bahwa aku bersih!” Vs. Umat Nasrani
: “Betapa untungnya bahwa yesus memasukkan PENJAHAT ke surga!”
Question: Bukankah mengherankan, yesus memasukkan ke surga kedua penjahat yang turut disalib bersama dengannya di atas kayu salib, sekalipun saat itu yesus belum benar-benar mati alias masih hidup. Katanya, yesus mengklaim bahwa dirinya menebus dosa-dosa umat manusia dengan cara mati disalib. Tapi faktanya, yesus telah menyatakan kepada kedua penjahat yang turut disalib bersama dengannya di atas kayu salib, bahwa mereka dimasukkan ke surga bila beriman kepada yesus yang ironisnya bahkan tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Artinya, saat iming-iming “dimasukkan ke surga” dilontarkan kepada dua penjahat yang turut disalib, yesus masih hidup kondisinya, belum mati. Apakah itu bukti tidak terbantahkan bahwa yesus membuat klaim palsu tentang dogma “penebusan dosa”, alias OMONG-KOSONG-nya yesus?
Brief
Answer: Hanya orang dungu, yang
memeluk agama nasrani, dimana agama nasrani ialah agamanya (bagi) orang-orang dungu.
Disebutkan bahwa yesus mati demi menebus “dosa warisan”. Pertanyaannya, “harta
warisan” dari Adam dan Hawa, dikemanakan, di-korupsi oleh yesus? Disebutkan pula
oleh ajaran nasrani, bahwa hewan diciptakan untuk dimakan oleh manusia. Manusia
yang nonkristen, disebut “domba yang hilang”. Bila sang “domba” diketemukan,
maka akan disate atau dipanggang menjadi “domba-guling” untuk dimakan oleh
yesus.
PEMBAHASAN:
Hendaknya kita tidak bergaul dengan kalangan nasrani, agar tidak tertular
watak atau sifat-perilaku (perangai) khas orang-orang nasrani juga agar tidak
menjadi KORBAN dari para “nasrani sang predator yang berdelusi memonopoli alam
surgawi”, yakni : TIDAK
TAKUT BERBUAT DOSA. Berikut inilah
ciri khas ucapan kaum kristiani sejak dahulu kala : “Buat dosa, siapa takut?!
Dosa-dosa kami sudah ditebus oleh yesus lebih dari dua ribu tahun yang lampau. Kini,
kami bebas sebebas-bebasnya berbuat dosa dan kejahatan dengan menyakiti,
merugikan, maupun melukai pihak-pihak lainnya, karena yesus lebih PRO terhadap
penjahat dan memasukkan penjahat-penjahat seperti kami para umat kristen ke
surga.”
Ada dua jenis manusia, yakni mereka yang harus didekati dan mereka yang
tidak boleh didekati, sebagaimana diungkap lewat khotbah Sang Buddha
dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang
Buddha, JILID V”, Judul Asli
: “The Numerical Discourses of the Buddha”,
diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012,
terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan
sebagai berikut:
54 (4) Ketenangan
“Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang tidak terampil dalam jalan pikiran
orang-orang lain [harus berlatih]: ‘Aku akan terampil dalam jalan pikiranku
sendiri.’ Dengan cara inilah kalian harus berlatih.
“Dan bagaimanakah seorang bhikkhu terampil dalam jalan pikirannya
sendiri? Seperti halnya seorang perempuan atau laki-laki – muda, berpenampilan
muda, dan menyukai perhiasan – akan melihat pantulan wajahnya di sebuah cermin
yang bersih dan cemerlang atau di dalam semangkuk air jernih. Jika mereka
melihat debu atau noda apa pun di sana, maka mereka akan berusaha untuk
menghilangkannya. Tetapi jika mereka tidak melihat debu atau noda di sana, maka
mereka menjadi gembira, [99] dan keinginan mereka terpenuhi, mereka akan
berpikir, ‘Betapa
beruntungnya bahwa aku bersih!’
“Demikian pula, para bhikkhu, pemeriksaan-diri adalah sangat membantu
bagi seorang bhikkhu [agar tumbuh] dalam kualitas-kualitas bermanfaat: ‘Apakah
aku memperoleh ketenangan pikiran atau tidak? Apakah aku memperoleh
kebijaksanaan pandangan terang yang lebih tinggi ke dalam fenomena-fenomena atau
tidak?’
(1) “Jika, melalui pemeriksaan-diri demikian, seorang bhikkhu mengetahui:
‘Aku memperoleh ketenangan pikiran internal tetapi tidak memperoleh
kebijaksanaan pandangan terang yang lebih tinggi ke dalam fenomena-fenomena,’
maka ia harus mendasarkan dirinya pada ketenangan pikiran internal itu dan
mengerahkan usaha untuk mendapatkan kebijaksanaan pandangan terang yang lebih
tinggi ke dalam fenomena-fenomena. Kemudian, beberapa waktu kemudian, ia
memperoleh ketenangan pikiran internal serta kebijaksanaan pandangan terang
yang lebih tinggi ke dalam fenomena-fenomena.
(2) “Tetapi jika, melalui pemeriksaan-diri demikian, ia mengetahui: ‘Aku
memperoleh kebijaksanaan pandangan terang yang lebih tinggi ke dalam
fenomena-fenomena tetapi tidak memperoleh ketenangan pikiran internal,’ maka ia
harus mendasarkan dirinya pada kebijaksanaan pandangan terang yang lebih tinggi
ke dalam fenomena-fenomena itu dan mengerahkan usaha untuk mendapatkan
ketenangan pikiran internal. Kemudian, beberapa waktu kemudian, ia memperoleh
kebijaksanaan pandangan terang yang lebih tinggi ke dalam fenomena-fenomena serta
ketenangan pikiran internal.
(3) “Tetapi jika, melalui pemeriksaan-diri demikian, ia mengetahui: ‘Aku
tidak memperoleh ketenangan pikiran internal dan juga tidak memperoleh
kebijaksanaan pandangan terang yang lebih tinggi ke dalam fenomena-fenomena,’ maka
ia harus mengerahkan keinginan luar biasa, usaha luar biasa, kemauan luar biasa,
semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian luar biasa, dan
pemahaman jernih luar biasa untuk memperoleh kedua kualitas bermanfaat itu.
Seperti halnya seseorang yang pakaian atau kepalanya terbakar api akan
mengerahkan keinginan luar biasa, usaha luar biasa, kemauan luar biasa,
semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian luar biasa, dan pemahaman
jernih luar biasa untuk memadamkan [api] di pakaian atau kepalanya, demikian
pula bhikkhu itu harus mengerahkan keinginan luar biasa, [100] usaha luar
biasa, kemauan luar biasa, semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar biasa,
perhatian luar biasa, dan pemahaman jernih luar biasa untuk memperoleh kedua kualitas
bermanfaat itu. Kemudian, beberapa waktu kemudian, ia memperoleh ketenangan
pikiran internal serta memperoleh kebijaksanaan pandangan terang yang lebih
tinggi ke dalam fenomena-fenomena.
(4) “Tetapi jika, melalui pemeriksaan-diri demikian, ia mengetahui: ‘Aku
memperoleh ketenangan pikiran internal serta kebijaksanaan pandangan terang
yang lebih tinggi ke dalam fenomena-fenomena,’ maka ia harus mendasarkan
dirinya pada kualitas-kualitas bermanfaat yang sama itu dan berusaha lebih lanjut
untuk mencapai hancurnya noda-noda.
“Jubah, Aku katakan, ada dua jenis: yang harus digunakan dan yang tidak
boleh digunakan. Makanan
juga, Aku katakan, ada dua jenis: yang harus dimakan dan yang tidak boleh
dimakan. Tempat tinggal juga, Aku katakan, ada dua jenis: yang harus digunakan
dan yang tidak boleh digunakan. Pedesaan dan pemukiman juga, Aku katakan, ada
dua jenis: yang harus dikunjungi dan yang tidak boleh dikunjungi. Negara-negara
dan wilayah-wilayah juga, Aku katakan, ada dua jenis: yang harus dikunjungi dan
yang tidak boleh dikunjungi. Orang-orang juga, Aku katakan, ada dua jenis:
mereka yang harus didekati, dan mereka yang tidak boleh didekati.
(5) “Ketika dikatakan: ‘Jubah, Aku katakan, ada dua jenis: yang harus
digunakan dan yang tidak boleh digunakan,’ karena alasan apakah ini dikatakan?
Jika seseorang mengetahui tentang sehelai jubah: ‘Ketika aku menggunakan jubah
ini, kualitas-kualitas tidak bermanfaat bertambah dalam diriku dan
kualitas-kualitas bermanfaat berkurang,’ maka ia tidak boleh menggunakan jubah demikian.
Tetapi jika ia mengetahui tentang sehelai jubah: ‘Ketika aku menggunakan jubah
ini, kualitas-kualitas tidak bermanfaat berkurang dalam diriku dan
kualitas-kualitas bermanfaat bertambah,’ maka ia harus menggunakan jubah
demikian. Ketika dikatakan: ‘Jubah, Aku katakan, ada dua jenis: yang harus digunakan
dan yang tidak boleh digunakan,’ adalah karena ini maka hal itu dikatakan.
(6) “Ketika dikatakan: ‘Makanan juga, Aku katakan, ada dua jenis: yang
harus dimakan dan yang tidak boleh dimakan,’ karena alasan apakah ini
dikatakan? Jika seseorang mengetahui tentang suatu makanan: ‘Ketika aku memakan
makanan ini, kualitas-kualitas tidak bermanfaat bertambah dalam diriku dan
kualitas-kualitas bermanfaat [101] berkurang,’ maka ia tidak boleh memakan
makanan demikian. Tetapi jika ia mengetahui tentang suatu makanan: ‘Ketika aku
memakan makanan ini, kualitas-kualitas tidak bermanfaat berkurang dalam diriku
dan kualitas-kualitas bermanfaat bertambah,’ maka ia harus memakan makanan demikian.
Ketika dikatakan: ‘Makanan juga, Aku katakan, ada dua jenis: yang harus dimakan
dan yang tidak boleh dimakan,’ adalah karena ini maka hal itu dikatakan.
(7) “Ketika dikatakan: ‘Tempat tinggal juga, Aku katakan, ada dua jenis:
yang harus digunakan dan yang tidak boleh digunakan,’ karena alasan apakah ini
dikatakan? Jika seseorang mengetahui tentang suatu tempat tinggal: ‘Ketika aku
menggunakan tempat tinggal ini, kualitas-kualitas tidak bermanfaat bertambah
dalam diriku dan kualitas-kualitas bermanfaat berkurang,’ maka ia tidak boleh
menggunakan tempat tinggal demikian. Tetapi jika ia mengetahui tentang suatu
tempat tinggal: ‘Ketika aku menggunakan tempat tinggal ini, kualitas-kualitas
tidak bermanfaat berkurang dalam diriku dan kualitas-kualitas bermanfaat bertambah,’
maka ia harus menggunakan tempat tinggal demikian. Ketika dikatakan: ‘Tempat
tinggal juga, Aku katakan, ada dua jenis: yang harus digunakan dan yang tidak
boleh digunakan,’ adalah karena ini maka hal itu dikatakan.
(8) “Ketika dikatakan: ‘Pedesaan dan pemukiman juga, Aku katakan, ada dua
jenis: yang harus dikunjungi dan yang tidak boleh dikunjungi,’ karena alasan
apakah hal ini dikatakan? Jika seseorang mengetahui tentang suatu desa atau
pemukiman: ‘Ketika aku mengunjungi desa atau pemukiman ini, kualitas-kualitas
tidak bermanfaat bertambah dalam diriku dan kualitas-kualitas bermanfaat
berkurang,’ maka ia tidak boleh mengunjungi desa atau pemukiman demikian.
Tetapi jika ia mengetahui tentang suatu desa atau pemukiman: ‘Ketika aku
mengunjungi desa atau pemukiman ini, kualitas-kualitas tidak bermanfaat
berkurang dalam diriku dan kualitas-kualitas bermanfaat bertambah,’ maka ia
harus mengunjungi desa atau pemukiman demikian. Ketika dikatakan: ‘Pedesaan
atau pemukiman juga, Aku katakan, ada dua jenis: yang harus dikunjungi dan yang
tidak boleh dikunjungi,’ adalah karena ini maka hal itu dikatakan.
(9) “Ketika dikatakan: ‘Negara-negara dan wilayah-wilayah juga, Aku
katakan, ada dua jenis: yang harus dikunjungi dan yang tidak boleh dikunjungi,’
karena alasan apakah hal ini dikatakan? Jika seseorang mengetahui tentang suatu
negara atau wilayah: ‘Ketika aku mengunjungi negara atau wilayah ini,
kualitas-kualitas tidak bermanfaat bertambah dalam diriku [102] dan
kualitas-kualitas bermanfaat berkurang,’ maka ia tidak boleh mengunjungi negara
atau wilayah demikian. Tetapi jika ia mengetahui tentang suatu negara atau
wilayah: ‘Ketika aku mengunjungi negara atau wilayah ini, kualitas-kualitas
tidak bermanfaat berkurang dalam diriku dan kualitas-kualitas bermanfaat
bertambah,’ maka ia harus mengunjungi negara atau wilayah demikian. Ketika
dikatakan: ‘Negara-negara dan wilayah-wilayah juga, Aku katakan, ada dua jenis:
yang harus dikunjungi dan yang tidak boleh dikunjungi,’ adalah karena ini maka
hal itu dikatakan.
(10) “Ketika dikatakan: ‘Orang-orang juga, Aku katakan, ada dua jenis:
mereka yang harus didekati, dan mereka yang tidak boleh didekati,’ karena
alasan apakah hal ini dikatakan? Jika seseorang mengetahui tentang orang
lain: ‘Ketika aku bergaul dengan orang ini, kualitas-kualitas tidak bermanfaat
bertambah dalam diriku dan kualitas-kualitas bermanfaat berkurang,’ maka ia
tidak boleh mendekati orang demikian. Tetapi
jika ia mengetahui tentang orang lain: ‘Ketika aku bergaul dengan orang ini,
kualitas-kualitas tidak bermanfaat berkurang dalam diriku dan kualitas-kualitas
bermanfaat bertambah,’ maka ia harus mendekati orang demikian. Ketika dikatakan: ‘Orang-orang juga, Aku katakan,
ada dua jenis: mereka yang harus didekati, dan mereka yang tidak boleh
didekati,’ adalah karena ini maka hal itu dikatakan.”