Saripati DHAMMA

Apakah yang Paling Ditakutkan oleh Umat Agama Samawi? Itu adalah BERTANGGUNG-JAWAB Atas Perbuatan-Perbuatan Buruk Mereka Sendiri

Lempar Batu, Sembunyi Tangan. Cuci Tangan dan Cuci Dosa. Itulah Ideologi KORUP Dibalik Dogma “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”

Agama Samawi Lebih Berbahaya dan TOXIC daripada Ideologi Komun!sme yang Tidak Menganjurkan “ABOLITION OF SINS” bagi para Pengikut / Pemeluknya

Question: Apakah yang paling menakutkan bagi seorang manusia, apakah ancaman dimasukkan ke neraka?

Brief Answer: Agama samawi-abrahamik, adalah ideologi SESAT yang jauh lebih berbahaya daripada ideologi komun!sme, atas dasar pertimbangan empirik yang merujuk pada dogma-dogma internal agama samawi itu sendiri, terutama dogma “too good to be true” bernama “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”, yang membuat para umat pemeluknya berdelusi terjamin masuk surga sekalipun sepanjang hidupnya memproduksi segunung dosa, mengoleksi segudang dosa, dan berkumbang dalam lautan dosa. Mereka, bahkan tidak diajarkan bahwa lawan kata dari “PENGAMPUNAN DOSA” ialah “BERTANGGUNG-JAWAB”.

Berangkat dari fakta realita di atas, umat agama samawi tidak lagi merasa takut atas ancaman neraka, dan disaat bersamaan menjelaskan mengapa ajaran mengenai “hukum konsekuensi” semacam “hukum sebab dan akibat”, tidak digemari oleh mayoritas penduduk dunia, dunia mana tidak pernah kekurangan kaum pendosawan pecandu “PENGHAPUSAN DOSA” yang berharap masuk surga sekalipun sepanjang hidupnya sibuk berbuat jahat. Satu-satunya yang mereka takutkan, ialah “BERTANGGUNG-JAWAB” yang mensyaratkan keberanian untuk tampil dan membayar “harga”-nya, sehingga korban tidak perlu mengemis-ngemis pertanggung-jawaban dari sang pelaku.

Contoh nyata berikut, adalah pengalaman pribadi keluarga penulis yang dapat cukup mewakili apa yang paling ditakutkan oleh umat agama samawi. Adik dari ibu kandung penulis (paman dari penulis), memiliki seorang istri yang serakah (bibi dari penulis). Paman dari penulis, demi gaya hidup mewah istri dan anak-anaknya yang berlatar-belakang pemeluk / penganut nasrani, berhutang kesana dan kemari, bahkan menggadaikan sertifikat rumah warisan nenek penulis yang mana terkandung hak ibu dari penulis, tanpa seizin ibu dari penulis. Hutang-hutang paman penulis, menumpuk dan telah menggunung.

Akhirnya, paman penulis meninggal dunia dalam usia yang relatif masih tergolong belum mencapai paruh baya, membawa serta hutang-hutang yang sama sekali tidak terbayarkan. Apa yang terjadi tidak lama kemudian, sungguh mengguncang nurani penulis. Anak dari paman penulis, alias sepupu dari penulis, membuat acara pernikahannya di Bali, dan berbulan madu di luar negeri—alih-alih menggunakan dana yang ada untuk melunasi sedikit-banyaknya hutang-hutang almarhum ayahnya, atau bahkan dana untuk resepsi pernikahan dan bulan madu bersumber dari hutang-hutang sang ayah?

Konsep “penebusan dosa”, serupa dengan konstruksi “minta maaf dahulu, sebelum kemudian membuat pelanggaran / kejahatan”. Yang berhutang adalah sang umat kristiani, namun yesus yang harus menebus / menanggung hutang-hutangnya. Dimana pun penulis berada, ucapan yang paling khas dari orang-orang kristiani ketika mereka berbincang dengan kristiani lainnya, ialah : “Umat Buddhist, baik-baik sih orangnya. Tapi, karena mereka tidak beriman pada yesus, maka mereka masuk neraka.” Yesus, kejam dan keji, merampas hak orang-orang baik untuk masuk surga, dan menjadikan orang-orang jahat (penjahat) memonopoli alam surgawi.

PEMBAHASAN:

Butuh jiwa ksatria, untuk berani bertanggung-jawab dan menghadapi konsekuensi dibalik perbuatan buruk kita yang masih dapat berbuat keliru terhadap orang lain, seperti menyakiti, melukai, maupun merugikan pihak lainnya. Pengalaman pribadi penulis berikut, yang kemudian sangat penulis sesali dikemudian hari, dapat menjadi ilustrasi sederhana namun tepat guna. Suatu hari, penulis ke sebuah swalayan untuk membeli telur. Saat memilih dan memilah telur yang akan dibeli, penulis secara kurang hati-hati membuat sebutir telur mengalami “retak rambut”.

Alih-alih mengambil dan membelinya, penulis “lari dari tanggung-jawab” dengan tidak membelinya, mengakibatkan toko maupun pembeli lain yang tidak sengaja membelinya, menjadi merugi. Padahal, seberapa “mahal”-kah, harta sebutir telur? Apakah akan membuat penulis, jatuh miskin, karena tetap membelinya sebagai sikap bertanggung-jawab? Itu adalah bukti, bahwa manusia merupakan “makhluk irasional”, dimana kita perlu “melawan arus irasional” tersebut (dalam rangka membina diri) alih-alih tunduk terhadap “arus irasional” yang bersarang dalam diri kita, sebagai bagian dari latihan disiplin diri.

Itu baru urusan tanggung-jawab sebutir telur yang harganya tidak seberapa, namun telah ternyata membutuhkan keberanian yang luar biasa. Itu juga menjelaskan fenomena, dimana orang yang bersalah, ketika ditegur, justru lebih galak daripada korbannya yang menegur atau sekadar meminta pertanggung-jawaban. Penjelasannya sederhana : pelakunya takut untuk bertanggung-jawab, karenanya bila tidak “play victim” alias “maling teriak maling”, maka mereka akan bersikap “play KINGKONG” dengan besikap “lebih galak” (arogan) agar korbannya bungkam, takut, mundur, dan mengurungkan niat untuk meminta pertanggung-jawaban.

Air, secara alamiahnya bergerak ke arah BAWAH, bukan ke arah ATAS. Karenanya, janganlah menjadis seperti air yang “mengalir seperti air”. Kita harus bergerak “melawan arus”, dalam rangka menaklukkan sifat irasional yang bersarang di dalam diri (menundukkan EGO pribadi), dan benar-benar membuat diri kita “UNDER CONTROL” lewat praktek latihan disiplin diri berkesinambungan yang ketat bernama “SELF-CONTROL”. Berikut Sang Buddha pernah membabarkan:

“Para bhikkhu, ada empat jenis orang ini terdapat di dunia. Apakah empat ini? Orang yang mengikuti arus; orang yang melawan arus; orang yang kokoh dalam pikiran; dan orang yang telah menyeberang dan sampai di seberang, sang brahmana yang berdiri di atas daratan yang tinggi.

(1)  Dan apakah orang yang mengikuti arus? Di sini, seseorang menikmati kenikmatan indria dan melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Ini disebut orang yang mengikuti arus.

(2)  Dan apakah orang yang melawan arus? Di sini, seseorang tidak menikmati kenikmatan indria atau melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Bahkan dengan kesakitan dan kesedihan, menangis dengan wajah basah oleh air mata, ia menjalani kehidupan spiritual yang lengkap dan murni. Ini disebut orang yang melawan arus.”

Bila kita memilah dan membuat kategori agama-agama yang ada di dunia, apapun nama agamanya, telah ternyata kita dapat membaginya hanya ke dalam tiga kelompok besar agama. Dengan mengupas kulit ataupun judul kitabnya—don’t judge the book, by the cover—maka kita akan menemukan fakta dengan rincian sebagai berikut:

1.) Agama SUCI. Sebagaimana namanya, umat pemeluknya ialah seorang suciwan, yang mana tidak butuh ideologi korup-kotor-tercela-ternoda bernama “penghapusan / pengampunan dosa” maupun “penebusan dosa”. Mengingat para suciwan tidak butuh ideologi ataupun iming-iming korup demikian, maka timbul distingsi pembeda (perbandingan) antara si “suciwan” dan si “pendosa”. Para suciwan memuliakan Tuhan, dengan cara menjadi manusia yang mulia. Hanya seorang pendosa, yang butuh iming-iming ideologi korup bernama “penghapusan dosa”;

Para suciwan disebut demikian, suci dan suciwan, semata karena lebih memilih hidup dalam latihan diri yang ketat dalam praktik kontrol diri dan mawas diri (self-control), dimana mawas diri dan perhatian terhadap perilaku, pikiran, dan ucapan sendiri adalah objek perhatian utamanya, sehingga tiada seorang lainnya pun yang akan disakiti, dirugikan, terlebih dilukai oleh sang suciwan. Mereka memurnikan serta memuliakan dirinya dengan usaha diri mereka sendiri, tanpa noda, dan tidak tersandera, tanpa cela, bebas sempurna, dan tercerahkan—yang dalam bahasa Buddhistik, “break the chain of kamma”;

2.) Agama KSATRIA. Sebagaimana namanya, umat pemeluknya ialah seorang ksatria, yang mana memilih untuk bertanggung-jawab atas setiap perilaku maupun perbuatan buruknya yang telah pernah ataupun masih dapat menyakiti, melukai, dan merugikan pihak-pihak lainnya, baik secara disengaja maupun akibat kelalaiannya, dimana korban-korbannya tidak perlu bersusah-payah menagih tanggung-jawab, bahkan sang ksatria menyadari bahwa sekalipun ia bertanggung-jawab semisal dengan ganti-rugi biaya berobat hingga korbannya sembuh, tetap saja sang korban masih merugi waktu, merugi pikiran, merugi tenaga, belum lagi kenyataan fisiknya tidak dapat pulih sempurna seperti sebelumnya. Singkat kata, para kaum ksatria senantiasa “tahu diri”.

Ideologi bertanggung-jawab yang penuh tanggung-jawab kalangan ksatria, dianggap sebagai ancaman maupun musuh terbesar di mata kaum dosawan yang membuat para dosawan tersebut tampak sebagai “manusia sampah” yang selama ini menjadi pecandu tetap iming-iming “pengampunan / penghapusan dosa” maupun “penebusan dosa”—sementara kalangan ksatria justru mempromosikan gerakan hidup bertanggung-jawab dan berke-jantan-an alih-alih “cuci tangan” ataupun lari dari tanggung-jawab. Kalangan korban yang telah dirugikan / terluka, tidak perlu sibuk menagih tanggung-jawab—terlebih mengemis-ngemis tanggung-jawab—dari seseorang berjiwa ksatria. Karenanya, seorang ksatria layak menyandang gelar sebagai seseorang yang “jantan”, alias jentelmen, bukan “pengecut” yang lari dari tanggung-jawab maupun “cuci dosa” (sins laundring);

3.) Agama DOSA. Sebagaimana namanya, umat pemeluknya disebut sebagai seorang pendosa, dimana para dosawan menjadi umatnya, yang mana memilih untuk tetap berbuat dosa semata agar dapat menjadi pecandu yang mencandu ideologi korup penuh kecurangan bernama “penghapusan / pengampunan dosa” maupun “penebusan dosa” (abolition of sins)—masuk ke dalam lingkaran komunitas “pendosa”, memakan dan termakan ideologi korup penuh kecurangan, terjebak untuk selamanya, “point of no return”.

Bagaikan raja yang lalim, yang senang ketika dipuja-puji oleh hamba-hambanya, lalu memberikan hadiah, dan akan murka sejadi-jadinya ketika tidak disembah-sujud sebelum kemudian memberikan hukuman, maka para pendosa yang pandai menyanjung dan “menjilat” (pendosa penjilat penuh dosa) akan dimasukkan ke alam surgawi—alam dimana telah sangat tercemari oleh kekotoran batin para pendosa yang menjadi mayoritas penghuninya jika tidak dapat disebut sebagai satu-satunya penghuni alam surgawi. Dengan kata lain, secara tidak langsung, para dosawan menggambarkan sosok Tuhan tidak ubahnya “raja yang lalim”.

Itulah penjelasannya, mengapa berbagai penjara di Indonesia tidak pernah sepi dari para narapidana penghuninya, bahkan sepanjang tahun selalu mengalami fenomena klise “overcapacity” dan “overload” yang konon sepanjang tahunnya hampir mendekati 200% kapasitas maksimum, sekalipun bangsa kita dikenal “agamais” (kurang “agamais” apa, warga di negeri ini?), disamping fakta aktual bahwasannya jauh lebih banyak aduan maupun laporan warga korban pelapor yang diabaikan dan ditelantarkan oleh aparatur penegak hukum. Alam surgawi, karenanya, menjadi menyerupai “dunia manusia jilid kedua”, dimana para pendosa kembali beraksi tanpa “self-control” (menyakiti, merugikan, maupun melukai) orang-orang maupun makhluk-makhluk lainnya. Ketika kalangan pendosawan ini berceramah perihal hidup mulia, itu ibarat orang buta hendak menuntun kalangan butawan lainnya, alam neraka pun disebut sebagai “surga”.

Tidak ada yang benar-benar bisa kita curangi dalam hidup ini. Kita harus “membayar” atas perbuatan kita sendiri, dimana setiap pilihan perbuatan ada “bayarannya” yang harus kita “bayarkan”. Selengkapnya dalam khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID I”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:

34 (4) Penyebab-penyebab

“Para bhikkhu, ada tiga penyebab ini bagi asal-mula kamma. Apakah tiga ini? Keserakahan adalah satu penyebab bagi asal-mula kamma; kebencian adalah satu penyebab bagi asal-mula kamma; delusi adalah satu penyebab bagi asal-mula kamma.

(1) “Kamma apa pun juga, para bhikkhu, yang dirancang melalui keserakahan, muncul dari keserakahan, disebabkan oleh keserakahan, berasal-mula dari keserakahan, akan matang di mana pun individu tersebut terlahir kembali. Di mana pun kamma itu matang, adalah di sana ia mengalami akibatnya, apakah dalam kehidupan ini, atau dalam kehidupan [berikutnya], atau dalam beberapa kesempatan berikutnya.

[Kitab Komentar : Ini disebutkan untuk menunjukkan bahwa kamma adalah [dari jenis] yang harus dialami dalam kehidupan ini, atau harus dialami dalam kelahiran kembali berikutnya, atau harus dialami dalam beberapa kehidupan mendatang.

Beberapa orang terpelajar telah memperdebatkan dari berbagai tulisan bahwa hanya dua alternatif yang terlibat: apakah dalam kehidupan ini atau pada saat kelahiran kembali. Akan tetapi, Bhikkhu Bodhi menerjemahkan teks Pali menurut pemahaman komentar. Sementara komentar mungkin memaksakan interpretasi belakangan pada teks-teks yang lebih kuno yang menegaskan hanya dua cara bagi kamma untuk matang, namun sebagai penerjemah saya merasa lebih bertanggung jawab pada teks yang telah disampaikan daripada teori-teori tentang teks kuno yang lebih asli. Pengakuan tiga masa matangnya kamma tidak eksklusif pada aliran Theravāda tetapi juga ditemukan dalam naskah-naskah sistem Abhidharma Sarvāstivāda. Definisi ketiga jenis ini – misalnya, dalam Abhidharma Mahāvibhāā āstra pada T XXVII 592a22-593b8, dan dalam Abhidharmakośa pada T XXIX 81c10-16 – adalah persis sama dengan tradisi Pāli dan dengan demikian mendahului perpecahan aliran-aliran.]

(2) “Kamma apa pun juga, para bhikkhu, yang dirancang melalui kebencian, muncul dari kebencian, disebabkan oleh kebencian, berasal-mula dari kebencian, akan matang di mana pun individu tersebut terlahir kembali. Di mana pun kamma itu matang, adalah di sana ia mengalami akibatnya, apakah dalam kehidupan ini, atau dalam kehidupan [berikutnya], atau dalam beberapa kesempatan berikutnya.

(3) “Kamma apa pun juga, para bhikkhu, yang dirancang melalui delusi, muncul dari delusi, disebabkan oleh delusi, berasal-mula dari delusi, akan matang di mana pun individu tersebut terlahir kembali. Di mana pun kamma itu matang, [135] adalah di sana ia mengalami akibatnya, apakah dalam kehidupan ini, atau dalam kehidupan [berikutnya], atau dalam beberapa kesempatan berikutnya.

“Misalkan, para bhikkhu, benih-benih masih utuh, murni, tidak rusak oleh angin dan panas matahari, subur, disimpan dengan baik, ditanam dengan baik di tanah yang dipersiapkan dengan baik di lahan yang baik dan menerima curah hujan yang cukup: dengan cara ini, benih-benih itu akan tumbuh, menjadi besar, dan matang. Demikian pula, kamma apa pun juga yang dirancang melalui keserakahan … kebencian … delusi, muncul dari delusi, disebabkan oleh delusi, berasal-mula dari delusi, akan matang di mana pun individu tersebut terlahir kembali. Di mana pun kamma itu matang, adalah di sana ia mengalami akibatnya, apakah dalam kehidupan ini, atau dalam kehidupan [berikutnya], atau dalam beberapa kesempatan berikutnya.

“Ini adalah tiga penyebab bagi asal-mula kamma.

“Para bhikkhu, ada tiga penyebab [lain] bagi asal-mula kamma. Apakah tiga ini? Ketidak-serakahan adalah satu penyebab bagi asal-mula kamma; ketidak-bencian adalah satu penyebab bagi asal-mula kamma; ketidak-delusian adalah satu penyebab bagi asal-mula kamma.

(1) “Kamma apa pun juga, para bhikkhu, yang dirancang melalui ketidak-serakahan, muncul dari ketidak-serakahan, disebabkan oleh ketidak-serakahan, berasal-mula dari ketidak-serakahan, akan ditinggalkan ketika keserakahan telah dilenyapkan; terpotong di akarnya, dibuat menjadi seperti tunggul pohon palem, dilenyapkan sehingga tidak muncul lagi di masa depan.

[Kitab Komentar : Pernyataan ini harus diinterpretasikan dengan hati-hati. Bagi seorang Arahant – yang telah meninggalkan keserakahan, kebencian, dan delusi – kamma yang diciptakan sebelumnya, apakah baik atau buruk, masih mampu menjadi matang dalam kehidupan terakhirnya.

Tetapi karena tidak ada lagi kelahiran kembali, bersama dengan kematiannya maka semua kamma yang terakumulasi sejak masa lampau menjadi mandul. Dengan Demikian maksud dari pernyataan ini bukanlah bahwa kamma masa lalu seorang Arahant tidak dapat menjadi matang selama Arahant itu masih hidup, melainkan bahwa kamma itu menjadi mandul bersama dengan kematian sang Arahant; karena tidak ada lagi rangkaian kehidupan yang didalamnya buah kamma itu dapat muncul.

Brahmāli menuliskan: “Pasti ada perbedaan antara ‘ketidak-serakahan’ (alobha) dan situasi ketika ‘keserakahan telah dilenyapkan’ (lobhe vigata). Yang pertama pasti merujuk pada motivasi di balik perbuatan tertentu, sedangkan yang terakhir merujuk pada tercabutnya keserakahan sepenuhnya, yang dicapai hanya oleh yang-tidak-kembali atau bahkan oleh Arahant. Hanya dalam makna perbedaan ini maka pernyataan ini menjadi masuk akal.”]

(2) “Kamma apa pun juga, para bhikkhu, yang dirancang melalui ketidak-bencian, muncul dari ketidak-bencian, disebabkan oleh ketidak-bencian, berasal-mula dari ketidak-bencian, akan ditinggalkan ketika kebencian telah dilenyapkan; terpotong di akarnya, dibuat menjadi seperti tunggul pohon palem, dilenyapkan sehingga tidak muncul lagi di masa depan.

(3) “Kamma apa pun juga, para bhikkhu, yang dirancang melalui ketidak-delusian, muncul dari ketidak-delusian, disebabkan oleh ketidak-delusian, berasal-mula dari ketidak-delusian, akan ditinggalkan ketika delusi telah dilenyapkan; terpotong di akarnya, dibuat menjadi seperti tunggul pohon palem, dilenyapkan sehingga tidak muncul lagi di masa depan.

“Misalkan, para bhikkhu, benih-benih masih utuh, murni, [136] tidak rusak oleh angin dan panas matahari, subur, disimpan dengan baik. Kemudian seseorang membakarnya dalam api, mengubahnya menjadi abu, dan menebarkan abunya dalam angin kencang atau membiarkannya dihanyutkan oleh arus sungai. Dengan cara ini, benih-benih itu akan terpotong di akarnya, dibuat menjadi seperti tunggul pohon palem, dilenyapkan sehingga tidak muncul lagi di masa depan. Demikian pula, kamma apa pun juga yang dirancang melalui ketidak-serakahan … ketidak-bencian … ketidak-delusian, muncul dari ketidak-delusian, disebabkan oleh ketidak-delusian, berasal-mula dari ketidak-delusian, akan ditinggalkan ketika delusi telah dilenyapkan; terpotong di akarnya, dibuat menjadi seperti tunggul pohon palem, dilenyapkan sehingga tidak muncul lagi di masa depan.”

“Ini, para bhikkhu, adalah tiga penyebab bagi asal-mula kamma.”

Kamma apa pun [yang telah dilakukan] oleh seorang dungu

muncul dari keserakahan, kebencian, dan delusi,

apakah yang dirancang olehnya itu sedikit atau banyak,

harus dialami di sini:

tidak ada tempat lain [baginya].

[Kitab Komentar : mohajañ cāpaviddasu, yang dipecah menjadi mohajañcāpi aviddasu. Maknanya dituliskan sebagai berikut: “Kamma apa pun yang diciptakan oleh kaum duniawi yang buta dan dungu adalah muncul dari keserakahan, kebencian, dan delusi – apakah kamma yang dirancang itu kecil atau besar – harus dialami di sini (idh’eva tavedaniya), yaitu, harus dialami oleh si dungu itu di sini dalam penjelmaannya yang ini (idha sake attabhāveyeva); ini berarti bahwa kamma itu matang dalam penjelmaan individunya itu. Tidak ada tempat lain [baginya] (vatthu añña na vijjati): tidak ada tempat lain bagi matangnya kamma itu; karena kamma yang dilakukan oleh seseorang tidak akan matang dalam penjelmaan orang lain.”]

Oleh karena itu orang bijaksana harus meninggalkan

[perbuatan apa pun] yang muncul dari keserakahan,

kebencian, dan delusi.

Seorang bhikkhu, dengan memunculkan pengetahuan,

harus meninggalkan semua alam tujuan yang buruk.

[Kitab Komentar : Tasmā lobha ca dosa ca, mohaja cāpi viddasu. Penerjemah lain menerjemahkannya sebagai : “Oleh karena itu seorang bijaksana tidak melakukan kamma yang muncul dari keserakahan dan seterusnya” (yo vidū … ta lobhajādibhedakamma na karoti).]

Karenanya, banyak orang jahat takut pada Buddhisme, karena mereka menyadari bahwa mereka dapat dipastikan masuk NERAKA, sebagai konsekuensi atas perbuatan mereka sendiri. Itu juga menjelaskan mengapa agama samawi alias “Agama DOSA” lebih laku dari segi peminat dan pemeluknya, semata karena ibadahnya bukan berupa ibadah sebagaimana dalam Buddhisme, namun ibadah ritual doa permohonan “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA” alias menjelma “KORUPTOR DOSA”—yang bundling dengan “BERBUAT DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” sehingga mereka tidak merasa perlu untuk menanggalkan kebiasaan buruk dan jahat mereka, business as usual.

Bagi orang-orang “BUTA-KOTOR” (dungu) tersebut, berbuat baik bukanlah “ibadah” dan orang yang sedang berbuat baik bukanlah orang yang “sedang beribadah”. Begitupula, masih di mata orang-orang dungu tersebut, tidak berbuat kejahatan bukanlah “ibadah” dan orang yang tidak sedang berbuat kejahatan juga bukanlah orang yang “sedang beribadah”. Sang Buddha pernah bersabda : Apa yang menurut orang kebanyakan dinilai sebagai kenikmatan (akibat kekotoran batin yang menutupi pandangannya), adalah dukkha di mata seorang Buddha. Adapun ibadah Buddhisme, tidak sanggup dijalani oleh orang-orang jahat tersebut, karena sama sekali bukan berupa ritual sebagaimana agama samawi, yakni:

Ovada Patimokkha

Sabbapāpassa akaraa

Kusalassa upasampadā

Sacittapariyodapana

Eta buddhāna sāsana.

Khantī parama tapo titikkhā

Nibbāa parama vadanti buddhā

Na hi pabbajito parūpaghātī

Samao hoti para vihehayanto.

Anūpavādo anūpaghāto, pātimokkhe ca savaro

Mattaññutā ca bhattasmi, pantañca sayanāsana

Adhicitte ca āyogo, eta buddhāna sāsana.

Tidak melakukan segala bentuk kejahatan,

senantiasa mengembangkan kebajikan

dan membersihkan batin;

inilah Ajaran Para Buddha.

Kesabaran adalah praktek bertapa yang paling tinggi.

“Nibbana adalah tertinggi”, begitulah sabda Para Buddha.

Dia yang masih menyakiti orang lain

sesungguhnya bukanlah seorang pertapa (samana).

Tidak menghina, tidak menyakiti, mengendalikan diri sesuai peraturan,

memiliki sikap madya dalam hal makan, berdiam di tempat yang sunyi

serta giat mengembangkan batin nan luhur; inilah Ajaran Para Buddha.

[Sumber: Dhammapada 183-184-185, Syair Gatha.]

Dunia ini, tidak pernah kekurangan pendosa. Ada “demand” berupa pendosa yang mengharap masuk surga, maka ada “supply” bernama agama iming-iming “too good to be true” yang mengobral surga bagi para “PENDOSA-PENGECUT PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”. Agama samawi, justru memberi makan dan memelihara “KEKOTORAN BATIN” umat pemeluknya—kesemua ayat-ayat simbolik “SELFISH GENE” (mengikuti arus) berikut dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak menceramahi maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah, hina, dan kotor, namun berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Mereka sejatinya merupakan kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang, dan disaat bersamaan merupakan pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri. Babi disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP semacam “PENGHAPUSAN DOSA” diklaim dan dikampanyekan lewat pengeras suara sebagai “halal lifestyle”—sekalipun hanya seorang “KORUPTOR DOSA” yang butuh “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”.

Abolition of sins” maupun “cuci dosa” dipromosikan tanpa tabu ataupun malu lewat pengeras suara, alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun keberanian untuk bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri. Busuk dan serakahnya jiwa yang telah dikuasai sepenuhnya oleh “SELFISH GENE” sang “bocah tua berambut putih” menjadikannya kasta paling rendah dan paling hina, pemeluk “Agama DOSA dari Kitab DOSA”, dimana noda-noda dan kekotoran batin justru dipelihara dan dilestarikan dengan rasa bangga, tanpa rasa malu ataupun takut. Agama samawi paling efektif dalam memelihara sifat kekanak-kanakan (memberi makan dan nutrisi bagi KEKOTORAN BATIN), dimana juga mengungkap “pikiran berkarat serta beracun” sang “nabi rasul Allah”—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]