Babi dibilang “haram”. “PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”, Dasar “KORUPTOR DOSA”!
Question: Ada orang yang berpura-pura terhadap orang lain juga terhadap dirinya sendiri. Ada juga orang yang bukan hanya pandai menipu orang lain, namun juga sering menipu, ingkar janji, dan berbohong kepada dirinya sendiri. Dia pikir jika orang lain tidak tahu perbuatannya, maka artinya ia tidak pernah melakukan perbuatan-perbuatan jahat itu. Memangnya kita benar-benar bisa mencurangi kehidupan ini, orang lain, maupun mencurangi diri sendiri?
Brief Answer: Itu karena ia menjadikan kejahatan, keserakahan,
maupun kekotoran batin lain yang bersarang dalam dirinya sebagai otoritas yang
mengambil-alih kendali atas diri, pikiran, dan tubuhnya. Namun, ada yang lebih
buruk daripada itu, yakni mereka yang tergolong sebagai kalangan “PENDOSA
PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas
perbuatan buruknya sendiri, alih-alih membayar konsekuensi dibaliknya justru
melakukan aksi “KORUPSI DOSA” lewat memakan dan mencandu iming-iming KORUP-DELUSIF
bernama “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”. Antara “BERBUAT DOSA-DOSA
UNTUK DIAMPUNI” dan “PENGAMPUNAN DOSA” (abolition of sins), sejatinya
saling bundling satu sama lainnya ibarat pasta gigi dan sikat gigi yang saling
komplomenter yang tidak dapat dipisahkan. Artinya, otoritas tertinggi kaum atau
kalangan KORUP demikian, ialah dosa-dosa itu sendiri alias sikap koruptif,
dimana dosa-dosa pun dikorupsi dengan merampas hak korban atas keadilan.
PEMBAHASAN:
Kita dspat menyebut kaum “PENDOSA PENGECUT PECANDU
PENGHAPUSAN DOSA” demikian sebagai kaum yang tercerabut dari akar
kemanusiaannya, dan menjelma “manusia sampah-beracun”, sebagaimana khotbah Sang
Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID I”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa
Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:
40 (10) Otoritas
“Para bhikkhu, ada tiga otoritas ini. Apakah tiga ini? Diri sendiri
sebagai otoritas seseorang, dunia sebagai otoritas seseorang, dan Dhamma sebagai otoritas
seseorang.
[Kitab Komentar : Dalam Pāli: attādhipateyyaṃ lokādhipateyyaṃ dhammādhipateyyaṃ. Walaupun Bucknell (2004) tidak mencantumkan paralel China dari sutta
ini dalam daftar, tetapi kita dapat menemukan sebuah paralel yang terdapat
dalam *Śāriputrābhidharmaśāstra, pada T XXVIII 679c22-680a27. Walaupun bagian
prosa di sana lebih sederhana daripada yang terdapat dalam Pāli, namun keduanya
pada intinya menyampaikan makna yang sama. Syair-syairnya, dengan pengecualian
syair terakhir, bersesuaian sangat erat.]
(1) “Dan apakah, para bhikkhu, diri sendiri sebagai otoritas seseorang? Di sini, setelah pergi ke hutan, ke bawah pohon,
atau ke gubuk kosong, seorang bhikkhu merefleksikan: ‘Aku tidak meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah demi
jubah, makanan, atau tempat tinggal, atau demi menjadi ini atau itu, melainkan
[dengan pikiran]: “Aku tenggelam dalam kelahiran, penuaan, dan kematian; dalam
dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan kesengsaraan. Aku tenggelam dalam
penderitaan, didera oleh penderitaan. Mungkin akhir dari keseluruhan kumpulan
penderitaan ini dapat terlihat.”
{Kitab Komentar : Na itibhavābhavahetu.
Penerjemah lain menganggap bahwa vokal panjang yang menghubungkan kedua kata bhava
sebagai menyiratkan pengulangan, bukan negasi: “Bukan demi penjelmaan yang
makmur di masa depan ini atau itu, [dengan harapan]: ‘[Semoga aku mendapatkan]
penjelmaan ini [atau] penjelmaan itu’” (iti bhavo, iti
bhavo ti evaṃ āyatiṃ na tassa tassa sampattibhavassa hetu).]
[148] Sebagai seorang yang telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan
rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, tidaklah selayaknya bagiku untuk
mencari kenikmatan-kenikmatan indria yang serupa atau lebih buruk dari apa yang
telah kutinggalkan.’ Kemudian ia merefleksikan sebagai berikut: ‘Kegigihan harus
dibangkitkan dalam diriku tanpa mengendur; perhatian harus ditegakkan tanpa
kacau; tubuhku harus tenang tanpa gangguan; pikiranku harus dikonsentrasikan
dan terpusat.’ Setelah menjadikan dirinya sendiri sebagai otoritasnya, ia
meninggalkan apa yang tidak bermanfaat dan mengembangkan apa yang bermanfaat;
ia meninggalkan apa yang tercela dan mengembangkan apa yang tidak tercela; ia
mempertahankan dirinya dalam kemurnian. Ini disebut diri sendiri sebagai
otoritas.
(2) “Dan apakah, para bhikkhu, dunia sebagai otoritas seseorang? Di sini, setelah pergi ke hutan, ke bawah pohon,
atau ke gubuk kosong, seorang bhikkhu merefleksikan: ‘Aku tidak meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah demi jubah
… melainkan [dengan pikiran]: “Aku terbenam dalam kelahiran, penuaan, dan
kematian … Mungkin akhir dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini dapat
terlihat.”
Sebagai seorang yang telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah
tangga menuju kehidupan tanpa rumah, aku mungkin memikirkan pikiran-pikiran
indriawi, pikiran-pikiran berniat buruk, atau pikiran-pikiran mencelakai.
Tetapi bidang dunia ini sangat luas. Dalam luasnya dunia ini terdapat para
petapa dan brahmana yang memiliki kekuatan batin dan mata dewa yang mengetahui
pikiran makhluk-makhluk lain. Mereka melihat benda-benda yang jauh tetapi
mereka sendiri tidak terlihat bahkan ketika mereka berada cukup dekat; mereka
mengetahui pikiran [makhluk-makhluk lain] dengan pikiran mereka sendiri.
Mereka akan mengetahuiku sebagai berikut: “Lihatlah orang ini: walaupun
ia telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan
tanpa rumah, namun ia ternoda oleh kondisi-kondisi buruk yang tidak
bermanfaat.” Juga ada para dewa dengan kekuatan batin dan mata dewa yang
mengetahui pikiran makhluk-makhluk lain. Mereka melihat benda-benda yang jauh
tetapi mereka sendiri tidak terlihat bahkan ketika mereka berada cukup dekat;
mereka mengetahui pikiran [makhluk-makhluk lain] dengan pikiran mereka sendiri.
Mereka juga akan mengetahuiku sebagai berikut: “Lihatlah orang ini: walaupun ia
telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan
tanpa rumah, namun ia ternoda oleh kondisi-kondisi buruk yang tidak
bermanfaat.”’
Kemudian ia merefleksikan sebagai berikut: ‘Kegigihan harus
dibangkitkan dalam diriku [149] tanpa mengendur; perhatian harus ditegakkan
tanpa kacau; tubuhku harus tenang tanpa gangguan; pikiranku harus
dikonsentrasikan dan terpusat.’ Setelah menjadikan dunia sebagai otoritasnya,
ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat dan mengembangkan apa yang
bermanfaat; ia meninggalkan apa yang tercela dan mengembangkan apa yang tidak
tercela; ia mempertahankan dirinya dalam kemurnian. Ini disebut dunia
sebagai otoritas.
(3) “Dan apakah, para bhikkhu, Dhamma sebagai otoritas seseorang? Di sini, setelah pergi ke hutan, ke bawah pohon,
atau ke gubuk kosong, seorang bhikkhu merefleksikan: ‘Aku tidak meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah demi jubah
… melainkan [dengan pikiran]: “Aku terbenam dalam kelahiran, penuaan, dan
kematian … Mungkin akhir dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini dapat
terlihat.” Dhamma telah dibabarkan dengan baik oleh Sang Bhagavā, terlihat
langsung, segera, mengundang seseorang untuk datang dan melihat, dapat
diterapkan, untuk dialami secara pribadi oleh para bijaksana. Ada
sahabat-sahabatku para bhikkhu yang mengetahui dan melihat. Sebagai seorang
yang telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju
kehidupan tanpa rumah dalam Dhamma dan disiplin yang telah dibabarkan dengan
sempurna ini, adalah tidak selayaknya bagiku untuk bermalas-malasan dan
lalai.’
Kemudian ia merefleksikan sebagai berikut: ‘Kegigihan harus
dibangkitkan dalam diriku tanpa mengendur; perhatian harus ditegakkan tanpa
kacau; tubuhku harus tenang tanpa gangguan; pikiranku harus dikonsentrasikan
dan terpusat.’ Setelah menjadikan Dhamma sebagai otoritasnya, ia meninggalkan apa
yang tidak bermanfaat dan mengembangkan apa yang bermanfaat; ia meninggalkan
apa yang tercela dan mengembangkan apa yang tidak tercela; ia mempertahankan
dirinya dalam kemurnian. Ini disebut Dhamma sebagai otoritas.
“Ini, para bhikkhu, adalah tiga otoritas.”
Bagi
seorang yang melakukan perbuatan jahat
tidak
ada tempat yang dikatakan “tersembunyi.”
Diri
di dalammu sendiri mengetahui, O manusia,
apakah
itu benar atau salah.
[Kitab Komentar : Attā te purisa jānāti saccaṃ vā yadi vā musā. Penerjemah lain menerjemahkannya sebagai : “Engkau sendiri yang
mengetahui, apa pun yang engkau lakukan, apakah bersifat ini atau itu. Karena
alasan ini, harus dimengerti bahwa, bagi seorang yang melakukan perbuatan
jahat, maka tidak ada tempat di dunia ini yang dapat disebut ‘tersembunyi.’”]
Sesungguhnya,
Tuan, engkau adalah saksi
meremehkan
dirimu yang baik;
engkau
menyembunyikan dirimu yang jahat
yang
terdapat di dalam dirimu sendiri. [150]
[Kitab Komentar : Seorang yang mengatakan ‘ini tidak
salah’ adalah lebih baik, karena dengan begitu ia tidak merusak dirinya
sendiri. Jika suatu pelanggaran terjadi dan ia mengetahuinya, jangan
menyembunyikannya.]
Para
deva dan Tathāgata melihat si dungu
berbuat
tidak baik di dunia.
Oleh
karena itu seseorang harus mengembara dengan penuh perhatian,
menjadikan
diri sendiri sebagai otoritas;
awas
dan meditatif, menjadikan dunia sebagai otoritas;
dan
mengembara sesuai Dhamma,
dengan
menjadikan Dhamma sebagai otoritas.
Sungguh-sungguh
mengerahkan dirinya, seorang bijaksana
tidak
akan mundur.
Setelah
menaklukkan Māra
dan
mengatasi pembuat-akhir,
sang
pejuang telah menyelesaikan kelahiran.
Seorang petapa demikian, bijaksana, seorang pengenal dunia,
tidak mengidentifikasikan sebagai apa pun sama sekali.
[Kitab Komentar : Setelah melenyapkan dan
meninggalkan keenam organ indria, ia mengakhiri penderitaan dan tidak mengambil
penjelmaan [lainnya]. Setelah meninggal dunia, ia tidak kembali, karena
selamanya terbebaskan dari kelahiran dan kematian.]
~0~
17 (7) Diri Sendiri
“Para bhikkhu, tiga kualitas ini mengarah pada
penderitaan diri sendiri, penderitaan orang lain, dan penderitaan keduanya.
Apakah tiga ini? Perbuatan buruk melalui jasmani, perbuatan buruk melalui
ucapan, dan perbuatan buruk melalui pikiran. Ketiga kualitas ini mengarah pada
penderitaan diri sendiri, penderitaan orang lain, dan penderitaan keduanya.
“Tiga kualitas [lainnya] ini tidak mengarah pada
penderitaan diri sendiri, penderitaan orang lain, dan penderitaan keduanya.
Apakah tiga ini? Perbuatan baik melalui jasmani, perbuatan baik melalui
ucapan, dan perbuatan baik melalui pikiran. Ketiga kualitas ini tidak mengarah
pada penderitaan diri sendiri, penderitaan orang lain, dan penderitaan keduanya.” [115]
Agama samawi, secara berkebalikan dari Dhamma,
yakni Adhamma, justru menjadikan DOSA dan MAKSIAT sebagai otoritasnya serta
tunduk pada “KEKOTORAN BATIN” yang (justru) mereka pelihara dan lestarikan
sebelum kemudian diperbudak oleh “KEKOTORAN BATIN”-nya sendiri yang
mengabil-alih otoritatif atas diri mereka, mengingat antara “BERBUAT DOSA-DOSA
UNTUK DIHAPUSKAN” dan “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA” saling
bundling satu sama lainnya, umpama sikat gigi dan pasta gigi yang saling
komplomenter tanpa dapat dipisahkan. Yang dijadikan otoritatif oleh umat agama
samawi, sejatinya bukanlah sosok Allah, namun dogma “PENGAMPUNAN DOSA”—kesemua
ayat-ayat simbolik “SELFISH GENE” (mengikuti arus) berikut dikutip dari
Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar
gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan
Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk
surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi
menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga
berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan
merasa sebagai “polisi moral” yang berhak menceramahi maupun menghakimi kaum
lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling
rendah, hina, dan kotor, namun berdelusi sebagai kaum paling superior yang
memonopoli alam surgawi. Mereka sejatinya merupakan kaum pemalas yang begitu
pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah
manisnya di masa mendatang, dan disaat bersamaan merupakan pengecut yang begitu
pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri.
“Abolition of sins” maupun “cuci dosa”
dipromosikan tanpa tabu ataupun malu lewat pengeras suara, alih-alih
mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun keberanian untuk
bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri. Busuk dan serakahnya jiwa yang
telah dikuasai sepenuhnya oleh “SELFISH GENE” sang “bocah tua berambut
putih” menjadikannya kasta paling rendah dan paling hina, pemeluk “Agama DOSA
dari Kitab DOSA”, dimana noda-noda dan kekotoran batin justru dipelihara dan
dilestarikan dengan rasa bangga, tanpa rasa malu ataupun takut. Agama samawi
paling efektif dalam memelihara sifat kekanak-kanakan (memberi makan dan
nutrisi bagi KEKOTORAN BATIN), dimana juga mengungkap wajah asli sang “nabi rasul
Allah”—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa
suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni
dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah
menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”
[HR Bukhari Muslim]