Agama Samawi Tidak Memotivasi Umatnya untuk Bertobat, namun untuk Menjelma KORUPTOR DOSA yang KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA untuk Seumur Hidup dan Sepanjang Hidup Mereka
Umat Agama Samawi Divonis Hidup dan
Matinya sebagai PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA
Question: Heran saya terhadap agama
samawi, bikin citra ke publik atau klaim seolah-olah membuat orang jahat
menjadi tobat lewat “kitab suci” mereka. Tapi, jika kita bedah dan lihat ke
dalam sumber otentik agama samawi seperti al-quran, hadist, alkitab, yang
katanya “agama paling superior” itu yang karena menjadi agama mayoritas
penduduk dunia, yang ada justru iming-iming pengampunan maupun penebusan dosa.
Gimana mau bertobat dan jera, jika tidak ada sistem merit seperti “reward”
dan “punishment”?
Alih-alih bertobat, umat agama samawi justru mabuk dan kecanduan penghapusan dosa untuk seumur hidup mereka, alias menjadi pasien untuk seumur hidup yang ketergantungan obat-obatan, alih-alih sembuh dari penyakitnya. Itu bukankah, lebih tepat bila disebut “tobat sambel”, yang hari ini bilangnya tobat, tapi besoknya begitu lagi dan mengulanginya lagi?
Brief Answer: Antara “DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” dan
“PENGHAPUSAN DOSA”, sifatnya ialah saling bundling, alias komplomenter
sebagaimana pasta gigi dan sikat gigi yang tidak dapat dipisahkan satu sama
lainnya. Alhasil, dogma-dogma “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA” (abolition
of sins) dalam agama samawi, justru men-demotivasi umatnya untuk
memperbaiki diri, dan disaat bersamaan memotivasi mereka untuk berlomba-lomba
memproduksi segudang dosa, mengoleksi segudang dosa, serta berkubang dalam
lautan dosa-dosa sembari berdelusi terjamin masuk alam surgawi setelah ajal
menjemput mereka.
Agama samawi, sejatinya
merupakan ideologi beracun (“toxic”) yang bahkan jauh lebih berbahaya
daripada ideologi komun!sme karena daya penetrasi dan sebar paham-paham
beracunnya yang menyerupai wabah, mengingat komun!sme sekalipun tidak
mengajarkan para pengikutnya untuk tidak takut ataupun malu berbuat dosa, atau
mengumbar dan mengobral iming-iming KORUP semacam “PENGHAPUSAN DOSA”.
Sebaliknya, agama samawi mengajarkan dogma-dogma agar terhadap terhadap dosa dan
maksiat para umatnya bersikap kompromistik, namun disaat bersamaan terhadap
kaum yang berbeda keyakinan begitu intoleran dengan mengutuk kaum “NON” sebagai
“penghuni neraka jahanam”. Namun, mengapa komun!sme yang justru dilarang dan
ditetapkan sebagai ideologi terlarang?
Alhasil, alih-alih membuat umat
manusia bertobat, agama samawi “menyulap” umat pengikutnya menjelma pemalas
yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik
sendiri buah manisnya di kehidupan mendatang, dan disaat bersamaan menjadi kaum
pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan
mereka sendiri dengan “cuci tangan” dari konsekuensinya yang telah pernah atau
masih sedang menyakiti, melukai, maupun merugikan pihak lainnya. Bisa
dikatakan, agama samawi terbukti efektif merusak “standar moral” umat
pengikutnya menjelma kasta paling rendah, yakni “manusia hewan” alih-alih
“manusia dewa” maupun “manusia manusia”.
PEMBAHASAN:
Bila kita klasifikasi
agama-agama yang ada di dunia ini, sejatinya hanya ada tiga kategori agama,
yakni : Kesatu, “Agama SUCI” dimana para umatnya ialah kalangan suciwan yang
tidak kompromisik terhadap segala jenis kejahatan maupun perbuatan yang dapat dicela
oleh para bijaksanawan, dimana gaya hidup higienis dari dosa dan maksiat
menjadi “harga mati” yang tidak dapat ditawar-tawar. Seperti yang disabdakan
oleh Sang Buddha, kualitas dan pikiran baik yang belum muncul
dalam diri, agar dimunculkan; serta agar pikiran maupun kualitas buruk yang
telah ada dalam diri, agar dilepaskan; memasuki latihan disiplin diri yang
ketat, bernama wamas diri (self-control) alias penuh perhatian terhadap
pikiran, ucapan, dan perbuatan diri kita sendiri.
Kedua, “Agama KSATRIA”, dimana
umat pengikutnya ialah kalangan ksatriawan yang berjiwa berani untuk tampil dan
mengambil tanggung-jawab atas segala perbuatannya sendiri, baik perbuatan baik
maupun perbuatan buruk, untuk menerima konsekuensi serta untuk “membayar
harganya”, dimana kalangan korban tidak perlu menggugat, menuntut, atau bahkan
menagih-nagih pertanggung-jawaban dari sang ksatriawan. Adapun
lawan kata dari sikap pengecut semacam “cuci tangan” (sins laundring)
maupun “PENGHAPUSAN DOSA”, ialah sikap “penuh TANGGUNG JAWAB”.
Ketiga, “Agama DOSA yang
bersumber dari Kitab DOSA”—dimana kerap dibalut dengan kemasan label merek
“Kitab SUCI” agar dapat membodohi orang-orang dungu maupun memberi iming-iming
kepada kalangan penjahat yang berdelusi dapat masuk surga; karenanya “don’t
judge the book by the cover”—dimana dogma-dogma ajarannya justru
mempromosikan ideologi KORUP (bagi “KORUPTOR DOSA”, tentunya) semacam
“PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA” alih-alih mengkampanyekan gaya
hidup higienis dari dosa-dosa maupun maksiat.
Babi, mereka sebut sebagai
“haram”. Namun, disaat bersamaan dengan ironisnya, ideologi KORUP dan menjelma
“KORUPTOR DOSA” mereka klaim lewat pengeras suara secara vulgar sebagai “halal
lifestyle”. Bung, hanya seorang “KORUPTOR DOSA” alias “PENGECUT-PECUNDANG
PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” yang butuh “PENGHAPUSAN DOSA”. Begitulah modus kaum
pengikut agama samawi berupaya membangun ilusi seolah mereka “meng-haram-kan
ini dan itu” agar tampak sebagai kaum paling superior atau “polisi moral” yang
merasa berhak untuk menghakimi kaum lainnya, akan tetapi disaat bersamaan
mereka justru “meng-halal-kan” segala bentuk kejahatan, keburukan, kekotoran
batin, kebathilan, kebusukan, kedangkalan, kemunafikan, dan kebiadaban.
Mengenai kaum pemalas, yang
hanya tahu meminta-mengemis-memohon dijatuhi “nikmat” dari langit, tanpa mau
merepotkan diri menanam benih-benih perbuatan baik maupun untuk
bertanggung-jawab atas perbuatan buruk dirinya sendiri dengan menerima
konsekuensi serta “membayar harganya”, dapat dicerminkan lewat khotbah
Sang Buddha dalam “Aṅguttara
Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID IV”,
Judul Asli : “The Numerical Discourses of
the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi
oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun
2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan sebagai berikut:
80 (10) Dasar-Dasar Bagi
Kemalasan dan Pembangkitan Kegigihan
“Para bhikkhu, ada delapan
dasar bagi kemalasan ini. Apakah delapan ini?
(1) “Di sini, seorang bhikkhu
harus melakukan suatu pekerjaan. Ia berpikir: ‘Aku harus melakukan suatu
pekerjaan. Sewaktu aku sedang bekerja, tubuhku akan menjadi lelah. Biarlah aku
berbaring.’ Ia berbaring. Ia tidak membangkitkan kegigihan untuk mencapai apa
yang belum dicapai, untuk memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk
merealisasikan apa yang belum direalisasikan. Ini adalah dasar pertama bagi
kemalasan.
(2) “Kemudian, seorang bhikkhu
telah menyelesaikan suatu pekerjaan. Ia berpikir: ‘Aku telah menyelesaikan
suatu pekerjaan. Karena pekerjaan itu, tubuhku menjadi lelah. Biarlah aku
berbaring.’ Ia berbaring. Ia tidak membangkitkan kegigihan … untuk merealisasikan
apa yang belum direalisasikan. Ini adalah dasar ke dua bagi kemalasan.
(3) “Kemudian, seorang bhikkhu
harus melakukan suatu perjalanan. Ia berpikir: ‘Aku harus melakukan suatu
perjalanan. Sewaktu sedang melakukan perjalanan, tubuhku akan menjadi lelah.
Biarlah aku berbaring.’ Ia berbaring. Ia tidak membangkitkan kegigihan … untuk
merealisasikan apa yang belum direalisasikan. Ini adalah dasar ke tiga bagi
kemalasan.
(4) “Kemudian, seorang bhikkhu
telah melakukan suatu perjalanan. Ia berpikir: ‘Aku telah melakukan suatu
perjalanan. Sewaktu sedang melakukan perjalanan, tubuhku telah menjadi lelah.
Biarlah aku berbaring.’ Ia berbaring. Ia tidak membangkitkan kegigihan … untuk
merealisasikan apa yang belum direalisasikan. Ini adalah dasar ke empat bagi
kemalasan.
(5) “Kemudian, seorang bhikkhu
telah berjalan untuk menerima dana makanan di sebuah desa atau pemukiman namun
tidak mendapatkan sebanyak yang ia butuhkan, apakah kasar atau baik. Ia
berpikir: [333] ‘Aku telah berjalan untuk menerima dana makanan di sebuah desa
atau pemukiman namun tidak mendapatkan sebanyak yang kubutuhkan, apakah kasar
atau baik. Tubuhku telah menjadi lelah dan susah digerakkan. Biarlah aku berbaring.’
Ia berbaring. Ia tidak membangkitkan kegigihan … untuk merealisasikan apa yang
belum direalisasikan. Ini adalah dasar ke lima bagi kemalasan.
(6) “Kemudian, seorang bhikkhu
telah berjalan untuk menerima dana makanan di sebuah desa atau pemukiman dan
telah mendapatkan sebanyak yang ia butuhkan, apakah kasar atau baik. Ia
berpikir: ‘Aku telah berjalan untuk menerima dana makanan di sebuah desa atau
pemukiman dan telah mendapatkan sebanyak yang kubutuhkan, apakah kasar atau
baik. Tubuhku telah menjadi berat dan susah digerakkan bagaikan tumpukan
biji-bijian basah. Biarlah aku berbaring.’ Ia berbaring. Ia tidak membangkitkan
kegigihan … untuk merealisasikan apa yang belum direalisasikan. Ini adalah
dasar ke enam bagi kemalasan.
(7) “Kemudian, seorang bhikkhu
merasa kurang sehat. Ia berpikir: ‘Aku merasa kurang sehat. Biarlah aku
berbaring.’ Ia berbaring. Ia tidak membangkitkan kegigihan … untuk merealisasikan
apa yang belum direalisasikan. Ini adalah dasar ke tujuh bagi kemalasan.
(8) “Kemudian, seorang bhikkhu
telah sembuh dari sakitnya. Segera setelah ia sembuh, ia berpikir: ‘Aku telah
sembuh dari sakit; aku baru saja sembuh dari sakit. Tubuhku masih lemah dan
susah digerakkan. Biarlah aku berbaring.’ Ia berbaring. Ia tidak membangkitkan
kegigihan untuk mencapai apa yang belum dicapai, untuk memperoleh apa yang
belum diperoleh, untuk merealisasikan apa yang belum direalisasikan. Ini adalah
dasar ke delapan bagi kemalasan.
“Ini adalah kedelapan dasar
bagi kemalasan itu. [334]
“Para bhikkhu, ada delapan
dasar ini untuk membangkitkan kegigihan. Apakah delapan ini?
(1) “Di sini, seorang bhikkhu
harus melakukan suatu pekerjaan. Ia berpikir: ‘Aku harus melakukan suatu
pekerjaan. Sewaktu sedang bekerja, tidaklah mudah bagiku untuk menekuni ajaran
para Buddha. Biarlah aku terlebih dulu membangkitkan kegigihan untuk mencapai
apa yang belum dicapai, untuk memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk
merealisasikan apa yang belum direalisasikan.’ Ia membangkitkan kegigihan untuk
mencapai apa yang belum dicapai, untuk memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk
merealisasikan apa yang belum direalisasikan. Ini adalah dasar pertama untuk
membangkitkan kegigihan.
(2) “Kemudian, seorang bhikkhu
telah menyelesaikan suatu pekerjaan. Ia berpikir: ‘Aku telah menyelesaikan
suatu pekerjaan. Sewaktu sedang bekerja, tidaklah mudah bagiku untuk menekuni ajaran
para Buddha. Biarlah aku membangkitkan kegigihan …’ Ini adalah dasar ke dua
untuk membangkitkan kegigihan.
(3) “Kemudian, seorang bhikkhu
harus melakukan suatu perjalanan. Ia berpikir: ‘Aku harus melakukan suatu
perjalanan. Sewaktu sedang melakukan perjalanan, tidaklah mudah bagiku untuk
menekuni ajaran para Buddha. Biarlah aku terlebih dulu membangkitkan kegigihan
…’ Ini adalah dasar ke tiga untuk membangkitkan kegigihan.
(4) “Kemudian, seorang bhikkhu
telah melakukan suatu perjalanan. Ia berpikir: ‘Aku telah melakukan suatu
perjalanan. Sewaktu sedang melakukan perjalanan, tidaklah mudah bagiku untuk
menekuni ajaran para Buddha. Biarlah aku membangkitkan kegigihan …’ Ini adalah
dasar ke empat untuk membangkitkan kegigihan. [335]
(5) “Kemudian, seorang bhikkhu
telah berjalan untuk menerima dana makanan di sebuah desa atau pemukiman namun
tidak mendapatkan sebanyak yang ia butuhkan, apakah kasar atau baik. Ia
berpikir: ‘Aku telah berjalan untuk menerima dana makanan di sebuah desa atau
pemukiman namun tidak mendapatkan sebanyak yang kubutuhkan, apakah kasar atau
baik. Tubuhku telah menjadi ringan dan mudah digerakkan. Biarlah aku
membangkitkan kegigihan …’ Ini adalah dasar ke lima untuk membangkitkan kegigihan.
(6) “Kemudian, seorang bhikkhu
telah berjalan untuk menerima dana makanan di sebuah desa atau pemukiman dan
telah mendapatkan sebanyak yang ia butuhkan, apakah kasar atau baik. Ia
berpikir: ‘Aku telah berjalan untuk menerima dana makanan di sebuah desa atau
pemukiman dan telah mendapatkan sebanyak yang kubutuhkan, apakah kasar atau
baik. Tubuhku telah menjadi kuat dan mudah digerakkan. Biarlah aku
membangkitkan kegigihan …’ Ini adalah dasar ke enam untuk membangkitkan
kegigihan.
(7) “Kemudian, seorang bhikkhu
merasa kurang sehat. Ia berpikir: ‘Aku merasa kurang sehat. Adalah mungkin
bahwa penyakitku akan bertambah parah. Biarlah aku terlebih dulu membangkitkan
kegigihan …’ Ini adalah dasar ke tujuh untuk membangkitkan kegigihan.
(8) “Kemudian, seorang bhikkhu
telah sembuh dari sakitnya. Segera setelah ia sembuh, ia berpikir: ‘Aku telah
sembuh dari sakit; baru saja sembuh dari sakit. Adalah mungkin bahwa penyakitku
akan kambuh. Biarlah aku terlebih dulu membangkitkan kegigihan untuk mencapai
apa yang belum dicapai, untuk memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk
merealisasikan apa yang belum direalisasikan.’ Ia membangkitkan kegigihan untuk
mencapai apa yang belum dicapai, untuk memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk
merealisasikan apa yang belum direalisasikan. Ini adalah dasar ke delapan untuk
membangkitkan kegigihan. “Ini adalah kedelapan dasar untuk membangkitkan
kegigihan itu.” [336]
Agar tidak “merugi”, tentunya
kaum “PECUNDANG PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” tersebut perlu memproduksi
sebanyak-banyaknya “DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” sebelum kemudian mabuk dan
mencandu “PENGHAPUSAN DOSA”. Mereka, kaum sampah-pengecut (pecundang kehidupan)
tersebut, lebih sibuk ritual memohon “PENGHAPUSAN DOSA” alih-alih menggunakan
waktu yang ada untuk bertanggung-jawab terhadap korban maupun memperbaiki diri.
Dimana letak “tobat”-nya, bila untuk seumur hidup mereka, alias hidup dan mati
mereka, sudah mendapat vonis sebagai “PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan
membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya,
maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.”
- No. 4857 : “Barang
siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji
bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya
akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
- No. 4863 : “Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam
dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
- No. 4864 : “Apabila
ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya
tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii
warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku
dan anugerahkanlah aku rizki).”
- No. 4865 : “Ya
Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah
Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai
berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku,
kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”
- Aku mendengar Abu Dzar dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan
memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan
tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan
berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia
mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
- Dari Anas
radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam,
selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni
dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun
kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau
menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak
isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku
datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula”. (HR.
Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]
PENDOSA, namun hendak berceramah perihal akhlak, moral,
hidup suci, luhur, adil, jujur, mulia, agung, lurus, bertanggung-jawab, berjiwa
ksatria, dan bersih? Itu menyerupai ORANG BUTA yang hendak membimbing para
BUTAWAN lainnya, berbondong-bondong secara deras menuju jurang-lembah nista,
dimana neraka pun diyakini sebagai surga. Alhasil, sang nabi rasul Allah dalam
keseharian lebih sibuk mabuk serta kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA” (bagi PENDOSA
maupun KORUPTOR DOSA, tentunya), alih-alih introspeksi diri, mengenali serta
mengakui perbuatan buruknya, meminta maaf kepada korban-korbannya, terlebih
menggunakan waktu yang ada untuk bertanggung-jawab kepada mereka, lebih sibuk
lari dari tanggung-jawab ketimbang sibuk untuk mempertanggung-jawabkan
perbuatannya sendiri. Tergila-gila memohon “PENGHAPUSAN DOSA”, artinya
sepanjang hidupnya kecanduan “mencetak dosa-dosa yang serupa ataupun dosa-dosa
baru lainnya” tanpa pernah jera ataupun bertobat—juga masih dikutip dari Hadis
Muslim:
- No. 4891. “Saya
pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang
belum aku lakukan.’”
- No. 4892. “Aku
bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu
'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang
telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
- No. 4893. “dari
'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca:
‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang
belum aku lakukan.’”
- No. 4896. “dari
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai
berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan,
kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah bertanya kepada
Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah
Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan
datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]