Cacat-Logika Kaum ATEIS

Kaum Ateis sama Konyol dan Berbahayanya dengan Kaum yang Mereka Kritik, yakni Kaum Pemeluk Agama Samawi

Question: Ada kalangan ateis, yang mencoba menyerang Buddhisme, dengan mengatakan bahwa agama “menjual” ancaman dan ketakutan, untuk memeroleh kepatuhan dari mereka yang menjadi umatnya. Kaum ateis menyatakan, ancaman-ancaman dogma keagamaan seperti neraka maupun hukum karma, hanyalah bermaksud untuk menakut-nakuti manusia. Mereka lalu mendalilkan, bila tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, maka belum tentu dimaknai “ada”, namun bisa jadi “tidak ada”, dan yang harus membuktikan ialah si pembuat dogma, bukan menjadi beban bagi pihak yang membantah dogma tersebut. Kaum ateis ini lalu mengklaim, bahwa menjadi seorang ateis, bukan berarti menjadi orang jahat. Apakah ada keliru-pikir dibalik logika kaum ateis yang mengagung-agungkan akal pikirannya sendiri yang bisa jadi menyerupai “katak dalam tempurung”, sesat dan tersesat namun seolah sudah mengetahui kebenaran mutlak?

Brief Answer: Malu dan takut berbuat jahat—yang merupakan saripati Buddhime—adalah demi kepentingan siapakah? Sang Buddha tetap hanya makan satu kali sehari, hanya memiliki harta berupa jubah dan mangkuk, sebanyak apapun siswa-Nya. Hidup adalah perihal motivasi dan demotivasi. Dibalik setiap aksi tindakan maupun sikap diam tidak berbuat, selalu ada kalkulasi instrinsik mengenai “untung dan rugi”, “insentif dan disinsentif”, “reward and punishment”, “pro and conds”, atau istilah sejenis lainnya. Adalah mustahil seseorang berbuat kebaikan bila tidak dilandasi kesadaran terhadap konsekuensi yang baik dibaliknya, juga adalah mustahil seseorang tidak berbuat kejahatan bila tidak dilandasi oleh kesadaran terhadap konsekuensi bahaya dibaliknya. Ini disebut sebagai “motif” personal, dibalik suatu sikap berbuat ataupun untuk tidak berbuat.

Dari situ saja, sudah terpatahkan “klaim sepihak” kaum ateis bahwa mereka bukanlah orang jahat, namun orang baik, dimana mereka sendiri telah ternyata membuat “klaim sepihak”. Mereka, para ateis, tidaklah mungkin “orang baik-baik”, namun lebih mungkin cenderung menjelma menjadi kaum “pragmatis”, jauh dari sikap idealistik maupun altruistik. Mereka hanya menghargai “kuantitas” yang dapat diukur dengan alat ukur yang terbatas daya ukurnya, bukan “kualitas” yang menilai kedalaman, keluasan, dan kapasitas. Albert Eisntein saja, yang ke-jenius-annya telah diakui oleh dunia ilmiah, menyatakan bahwa “Tuhan adalah hukum alam, hukum alam mana belum dapat dipahami sepenuhnya oleh manusia”.

Ilmu pengetahuan terus berkembang, kaum ateis semula berkeyakinan bahwa atom merupakan partikel terkecil. Telah ternyata, sains terbaru membantah sains yang sebelumnya dipandang telah mapan, bahwa atom masih dapat dipecah ke dalam ukuran yang lebih kecil, seperti proton dan elektron, yang kemudian masih dapat dipecah ke dalam quark. Kaum ateis, dibantah oleh kaum ateis itu sendiri, bahwa “ateis tua” telah ternyata keliru, sebelum kemudian “ateis muda” akan menyerang ateis generasi sebelumnya. Teori relativitas, kemudian diguncang oleh teori fisika kuantum. Kebenaran dibalik sains yang diagung-agungkan oleh kaum ateis, sejatinya merupakan kebenaran tentatif, bukan kebenaran mutlak.

Sugensi, telah ternyata sudah lama diakui dan menjadi bagian dari sains, lewat fenomena efek “obat placebo”. Perihal “past life” alias tumimbal-lahir yang dianggap sekadar sebagai dogma tidak terbuktikan, terpatahkan oleh disiplin ilmu psikologi kontemporer lewat metode “past-life regression” oleh para psikolog tersertifikasi dan sudah terbit laporan penelitian ilmiah yang membuktikan kebenaran adanya “kelahiran kembali”, dimana bukti-buktinya sudah tidak lagi terhitung jumlahnya. Hasil penelitian tersebut kemudian terkonfirmasi oleh peneliti-peneliti berikutnya memakai metode yang sama dengan subjek penelitian yang berjumlah besar.

Apakah, dogma kelahiran-kembali (rebirth), masih dapat disebut sebagai “tidak saintifik”? Justru kaum ateis itu sendiri, yang mati-matian membantahnya (membutakan mata sendiri alias “pilih-pilih fakta realita” yang dicocok-cocokkan dengan keyakinan kaum ateis perihal “tidak ada Karma, neraka, maupun rebirth), sekalipun bukti-bukti jelas-jelas menyatakan apa adanya, adalah yang paling tidak ilmiah itu sendiri. Sekalipun kemudian ada bukti penelitian mengenai kebenaran adanya alam metafisika bernama neraka sekalipun, yang diyakini oleh kaum ateis ialah berupa “denial” (penyangkalan terhadap fakta-realita), bersikukuh tidak ada yang namanya alam neraka.

Dari pengalaman realita dan pengamatan lapangan, orang-orang yang tidak takut pada ancaman neraka, cenderung bersikap corrupt dan abusive. Mereka adalah kaum ateis dan kaum pemeluk agama samawi. Kaum ateis, merupakan kaum “nihilistik” yang tidak percaya pada Hukum Karma (hukum sebab dan akibat yang sejatinya sangat ilmiah) meski mereka mengklaim dirinya sebagai seorang ilmuan ataupun sarjana fisika sekalipun. Lalu, terhadap dalil kaum ateis bahwa banyak orang beragama namun perilakunya jahat, meski mengakui adanya neraka, maka itu hanya benar adanya sebatas teruntuk umat agama samawi-abrahamik. Mereka, kaum pemeluk agama samawi, tidak takut pada ancaman neraka, karena mereka merupakan “PECANDU PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”, dimana para pendosawan justru dimasukkan ke neraka sebagaimana yesus memasukkan ke surga dua orang penjahat yang turut disalib berasma yesus di kayu salib, sama sekali tanpa prinsip “merit system” egalitarian. Karenanya, kaum ateis berpotensi sama berbahayanya dengan kaum pemeluk agama samawi.

Adalah kebohongan terbesar kaum ateis yang mengklaim bahwa kaum ateis adalah orang baik. Manusia merupakan “makhluk kalkulatif” yang selalu menghitung “untung dan ruginya” dibalik sikap dan keputusannya untuk berbuat ataupun tidak berbuat. Orang ateis berbuat baik untuk “kesia-siaan”? Dari postulat itu saja, menjadi jelas bahwa orang-orang ateis ter-demotivasi untuk menanam kebaikan, karena mereka tidak mengakui Karma Buruk maupun Karma Baik dibalik setiap perbuatan.

Bagi mereka, kaum ateis tersebut, membiarkan kejahatan terjadi bukanlah “Karma (Perbuatan) Buruk”. Bagi mereka juga, melakukan kejahatan bukanlah “Karma (Perbuatan) Buruk” yang dapat menghasilkan akibat “Buah Karma Buruk”. Mereka bahkan tidak takut terhadap Hukum Karma, karena mereka tidak percaya dan skeptis terhadapnya, cenderung melakukan penentangan dan bahkan “menantangnya”. Boleh Anda tidak percaya pada fengshui, semisal bahaya dibalik lokasi “tusuk sate”, namun adalah tidak bijak bila Anda menantangnya dengan sengaja memilih untuk bermukim di lokasi rumah yang berlokasi tepat di posisi “tusuk sate”.

Kesesatan logika kaum ateis berikutnya ialah, mereka selalu mendalilkan “siapa yang mendalilkan, maka mereka yang harus membuktikannya” dan “selama belum terbukti kebenarannya, maka itu berarti ‘tidak benar’, bukan ‘benar’ adanya” (itu saja sudah berupa sikap “pilih-pilih”). Mereka itu sendiri telah melakukan lompatan konklusi bahwa yang belum dapat terbukti oleh sains pada suatu waktu, adalah “tidak benar” adanya. Itu lebih merupakan sebentuk kesombongan atau arogansi intelektual kaum ateis, seolah otak mereka telah sempurna dan super jenius, lengkap dengan alat-alat sains yang telah super canggih dan lengkap-sempurna untuk melakukan ekplorasi maupun pengamatan. Faktanya, kapasitas / daya otak dan pengetahuan mereka serba terbatas adanya, pengalaman mereka minim, serta alat-alat instrumen mereka bahkan belum mampu menjelaskan fenomena seperti UFO dan ET.

Kaum ateis sebenarnya sama saja—alias tidak ubahnya—dengan kaum pemeluk dogma theistik yang mereka kritik dan sepelekan. Mareka tidak mungkin termotivasi berbuat kebaikan (menanam Karma Baik), karena mereka tidak termotivasi untuk masuk alam surgawi—sama seperti umat agama samawi yang memandang bahwa berbuat kebaikan bukanlah ibadah, namun ibadah semata-mata adalah perihal ritual dan doa sembah-sujud kepada “Tuhan”.

Tengok saja fenomena seperti orang baik tidak disebut sebagai “agamais”, sementara orang yang rajin ritual sembah-sujud disebut “agamais”. Orang yang sedang berbuat kebaikan tidak disebut sebagai sedang beribadah, sementara itu mereka yang sedang menjalani ritual sembah-sujud disebut sebagai sedang beribadah. Bila kaum agama samawi menjadikan Allah sebagai “Tuhan” mereka, kaum ateis menjadikan sains dan akal mereka yang dangkal dan sempit tersebut sebagai “Tuhan” dan menghamba kepadanya. Adapun ibadah kaum Buddhisme, ialah : [bila masih juga dikriitk, artinya pihak yang mengkritik ialah kaum yang paling patut dikritik itu sendiri]

Ovada Patimokkha

Sabbapāpassa akaraa

Kusalassa upasampadā

Sacittapariyodapana

Eta buddhāna sāsana.

Khantī parama tapo titikkhā

Nibbāa parama vadanti buddhā

Na hi pabbajito parūpaghātī

Samao hoti para vihehayanto.

Anūpavādo anūpaghāto, pātimokkhe ca savaro

Mattaññutā ca bhattasmi, pantañca sayanāsana

Adhicitte ca āyogo, eta buddhāna sāsana.

Tidak melakukan segala bentuk kejahatan,

senantiasa mengembangkan kebajikan

dan membersihkan batin;

inilah Ajaran Para Buddha.

Kesabaran adalah praktek bertapa yang paling tinggi.

“Nibbana adalah tertinggi”, begitulah sabda Para Buddha.

Dia yang masih menyakiti orang lain

sesungguhnya bukanlah seorang pertapa (samana).

Tidak menghina, tidak menyakiti, mengendalikan diri sesuai peraturan,

memiliki sikap madya dalam hal makan, berdiam di tempat yang sunyi

serta giat mengembangkan batin nan luhur; inilah Ajaran Para Buddha.

[Sumber: Dhammapada 183-184-185, Syair Gatha.]

PEMBAHASAN:

Arogansi kaum ateis, tidak kalah dengan arogansi kaum umat pemeluk agama samawi. Setidaknya, pikiran mereka sama dangkal-kerdil dan tertutupnya dengan kaum umat agama samawi, dengan selalu menyatakan bahwa konklusinya sebagai yang “paling benar”. Sebenarnya, mudah saja membuat kesombongan kaum ateis agar jatuh dan runtuh rata dengan tanah, sebagaimana telah pernah penulis sendiri buktikan ketika terpaksa berdebat dengan kaum ateis yang melakukan serangan verbal tendensius kepada Buddhime. Sudah sejak lama, Sang Buddha berhadapan dengan penganut paham nihilisme (istilah lain dari ateisme) demikian:

“Bayangkan seorang pria yang terkena panah beracun”, kata Sang Buddha. “Seorang dokter datang, siap mencabut anak panah dan memberinya penawarnya, tetapi pria itu menghentikannya.”

“'Jangan terburu-buru! Pertama, aku ingin tahu siapa yang menembakku. Dari kota atau desa mana dia berasal? Aku juga ingin tahu dari kayu apa busurnya dibuat. Juga, apakah itu busur silang atau busur panjang?'”

“Jelas,” kata Sang Buddha, “orang itu akan mati dan pertanyaan-pertanyaannya akan tetap tidak terjawab.”

Pada akhirnya, kita yang akan menertawakan sikap dunggu kaum ateis yang hanya bisa berakhir dalam spekulasi di dalam otak mereka sendiri yang sempit dan picik, dimana vonis hidup mereka ialah “mati konyol penuh penasaran”. Mereka bahkan memandang bahwa “bunuh diri” bukanlah perbuatan buruk yang dapat melahirkan konsekuensi buruk bagi dirinya sendiri, karena mereka tidak percaya neraka ataupun akibat dibalik perbuatan, dengan memandang bahwa itu tubuh dan hidup milik mereka sendiri dan tidak ada alam setelah kematian (nihilisme), terlebih bukti adanya alam tersebut (lagi-lagi mendasarkan pada sains yang masih sangat terbatas instrumen observasinya).

Dalam tiap-tiap kasus—aktivitas Tuhan pencipta (THEISTIK) ataupun tanpa-penyebab (ATEIS)—para pelaku menghindari tanggung jawab atas perbuatan-perbuatan mereka, serta keduanya sama-sama merupakan pandangan “ekstrem” yang ditolak dalam Buddhisme, dimana Sang Buddha untuk itu telah pernah bersabda: [dikutip dari khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID IV”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, Penerjemah Edi Wijaya dan Indra Anggara]

 “Para bhikkhu, ada tiga doktrin sektarian ini yang, ketika dipertanyakan, diinterogasi, dan didebat oleh para bijaksana, dan dibawa menuju kesimpulan mereka, akan berakhir dalam tidak berbuat. Apakah tiga ini?

(1) “Ada, para bhikkhu, beberapa petapa dan brahmana yang menganut doktrin dan pandangan seperti ini: ‘Apa pun yang dialami orang ini – apakah menyenangkan, menyakitkan, atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan – semuanya disebabkan oleh apa yang telah dilakukan di masa lalu.’

(2) Ada para petapa dan brahmana lainnya yang menganut doktrin dan pandangan seperti ini: ‘Apa pun yang dialami orang ini – apakah menyenangkan, menyakitkan, atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan – semuanya disebabkan oleh aktivitas Tuhan pencipta.’

(3) Dan ada para petapa dan brahmana lain lagi yang menganut doktrin dan pandangan seperti ini: ‘Apa pun yang dialami orang ini – apakah menyenangkan, menyakitkan, atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan – semuanya terjadi tanpa suatu sebab atau kondisi.’

“Kemudian, para bhikkhu, Aku mendatangi para petapa dan brahmana itu yang menganut doktrin dan pandangan seperti ini: ‘Apa pun yang dialami orang ini – apakah menyenangkan, menyakitkan, atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan – semuanya terjadi tanpa suatu sebab atau kondisi,’ dan Aku berkata kepada mereka: ‘Benarkah bahwa kalian para mulia menganut doktrin dan pandangan demikian?’ Ketika Aku menanyakan hal ini kepada mereka, mereka menegaskannya. Kemudian Aku berkata kepada mereka: ‘Kalau begitu, adalah tanpa suatu penyebab atau kondisi maka kalian mungkin melakukan pembunuhan, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan aktivitas seksual, berbohong, mengucapkan kata-kata yang memecah-belah, berkata kasar, bergosip; maka kalian mungkin penuh kerinduan, memiliki pikiran berniat buruk, dan menganut pandangan salah.’

Mereka yang mengandalkan ketiadaan penyebab dan kondisi sebagai kebenaran mendasar tidak memiliki keinginan [untuk melakukan] apa yang harus dilakukan dan [untuk menghindari melakukan] apa yang tidak boleh dilakukan, juga mereka tidak berusaha dalam hal ini. Karena mereka tidak memahami sebagai benar dan sah segala sesuatu yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan, maka mereka berpikiran kacau, mereka tidak menjaga diri mereka sendiri, dan bahkan sebutan personal sebagai ‘petapa’ tidak dapat dengan benar ditujukan kepada mereka. Ini adalah bantahan logisKu yang ke tiga atas para petapa dan brahmana yang menganut doktrin dan pandangan demikian.

“Kemudian, para bhikkhu, Aku mendatangi para petapa dan brahmana itu yang menganut doktrin dan pandangan seperti ini: ‘Apa pun yang dialami orang ini – apakah menyenangkan, menyakitkan, atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan – semuanya disebabkan oleh aktivitas Tuhan pencipta,’ Dan Aku berkata kepada mereka: ‘Benarkah bahwa kalian para mulia menganut doktrin dan pandangan demikian?’ Ketika Aku menanyakan hal ini kepada mereka, mereka menegaskannya. Kemudian Aku berkata kepada mereka: ‘Kalau begitu, adalah karena aktivitas Tuhan pencipta maka kalian mungkin melakukan pembunuhan, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan aktivitas seksual, berbohong, mengucapkan kata-kata yang memecah-belah, berkata kasar, bergosip; maka kalian mungkin penuh kerinduan, memiliki pikiran berniat buruk, dan menganut pandangan salah.’

Mereka yang mengandalkan aktivitas Tuhan pencipta sebagai kebenaran mendasar tidak memiliki keinginan [untuk melakukan] apa yang harus dilakukan dan [untuk menghindari melakukan] apa yang tidak boleh dilakukan, juga mereka tidak berusaha dalam hal ini. Karena mereka tidak memahami sebagai benar dan sah segala sesuatu yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan, maka mereka berpikiran kacau, mereka tidak menjaga diri mereka sendiri, dan bahkan sebutan personal sebagai ‘petapa’ tidak dapat dengan benar ditujukan kepada mereka. Ini adalah bantahan logisKu yang ke dua atas para petapa dan brahmana yang menganut doktrin dan pandangan demikian.

“Ini, para bhikkhu, adalah ketiga doktrin sektarian itu yang, ketika dipertanyakan, diinterogasi, dan didebat oleh para bijaksana, dan dibawa menuju kesimpulan mereka, akan berakhir dalam tidak berbuat.”

Kaum ateis bahkan cenderung jatuh pada sikap materialistik, hedonis, serta kental nuasan duniawi lengkap dengan kenikmatan inderawi dan terjerat dalam kenikmatan inderawi tersebut, tanpa mau menyadari bahaya dibaliknya. Mengapa? Karena mereka adalah kaum pemeluk aliran positivisme yang menganggap diri mereka sebagai “membumi” dan empirik. Maka, sikap mereka tidak jauh dari layaknya aliran air, yang secara alamiahnya mengalir ke arah BAWAH, bukan ke arah ATAS. Adalah lebih mungkin atau kecenderungan bagi kaum ateis untuk bernasib sama dengan kaum pemeluk agama samawi yang mereka kritik dan cela, yakni : menjadi PENDOSAWAN.

Mereka, kaum ateis, lebih mementingkan kuantitas, seperti kumulasi harta kepemilikan, ketimbang kualitas batin. Kaum ateis merupakan kaum yang selalu merasa tidak puas, [mencari] kepuasan di luar, berpikiran kacau, tanpa pemahaman jernih, tidak terkonsentrasi, dengan pikiran mengembara dan organ-organ indria yang kendur. Kita dapat bercermin-diri lewat khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID I”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:

124 (2) Argumen

“Para bhikkhu, di mana pun para bhikkhu berargumen dan bertengkar dan jatuh dalam perselisihan, saling menusuk satu sama lain dengan kata-kata tajam, maka Aku merasa tidak nyaman untuk mengarahkan perhatianKu ke sana, apalagi pergi ke sana. Aku menyimpulkan tentang mereka: ‘Tentu saja, para mulia itu telah meninggalkan tiga hal dan telah melatih tiga hal [lainnya].’

“Apakah tiga hal yang telah ditinggalkan? Pikiran meninggalkan keduniawian, pikiran berniat baik, dan pikiran tidak mencelakai. Ini adalah ketiga hal yang telah ditinggalkan.

“Apakah tiga hal yang telah mereka latih? Pikiran indriawi, pikiran berniat buruk, dan pikiran mencelakai. Ini adalah ketiga hal yang telah mereka latih.

“Di mana pun para bhikkhu berargumen dan bertengkar dan jatuh dalam perselisihan … Aku menyimpulkan: ‘Tentu saja, para mulia itu telah meninggalkan ketiga hal ini dan telah melatih ketiga hal [lainnya].’

“Para bhikkhu, di mana pun para bhikkhu berdiam dalam kerukunan, dengan harmonis, tanpa perselisihan, bercampur bagaikan susu dan air, saling melihat satu sama lain dengan tatapan kasih sayang, maka Aku merasa nyaman untuk pergi ke sana, apalagi untuk mengarahkan pikiranKu ke sana. Aku menyimpulkan: ‘Tentu saja, para mulia itu telah meninggalkan tiga hal dan telah melatih tiga hal [lainnya].’

“Apakah tiga hal yang telah mereka tinggalkan? [276] Pikiran indriawi, pikiran berniat buruk, dan pikiran mencelakai. Ini adalah ketiga hal yang telah mereka tinggalkan.

“Apakah tiga hal yang telah mereka latih? Pikiran meninggalkan keduniawian, pikiran berniat baik, dan pikiran tidak mencelakai. Ini adalah ketiga hal yang telah mereka latih.

“Di mana pun para bhikkhu berdiam dalam kerukunan … Aku menyimpulkan: ‘Tentu saja, para mulia itu telah meninggalkan ketiga hal ini dan telah melatih ketiga hal [lainnya].’”

~0~

128 (6) Kotoran

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Bārāasī di taman rusa di Isipatana. Kemudian, di pagi hari, Sang Bhagavā merapikan jubah, membawa mangkuk dan jubahnya, dan memasuki Bārāasī untuk menerima dana makanan. [280]

Sewaktu berjalan menerima dana makanan di dekat pohon ara tempat ternak-ternak ditambatkan, Sang Bhagavā melihat seorang bhikkhu yang merasa tidak puas, [mencari] kepuasan di luar, berpikiran kacau, tanpa pemahaman jernih, tidak terkonsentrasi, dengan pikiran mengembara dan organ-organ indria yang kendur. Setelah melihatnya, Beliau berkata kepada bhikkhu tersebut:

[Kitab Komentar : Rittasāda bāhirassāda. “Merasa tidak puas: tanpa kenikmatan jhāna. [Mencari] kepuasan di luar: kepuasan dari kenikmatan indria.” Paralel China-Mandarin, SĀ 1081 (T II 283a20-283b26) mengatakan (pada 283a23) bahwa “ia telah memunculkan suatu pikiran tidak bermanfaat yang berhubungan dengan ketagihan yang jahat”.]

“Bhikkhu, bhikkhu! Jangan mengotori dirimu sendiri. Adalah tidak dapat dihindarkan, bhikkhu, bahwa lalat-lalat akan mengejar dan menyerang seseorang yang mengotori dirinya sendiri dan ternoda oleh bau busuk.

[Kitab Komentar : Ma kho tva attāna kauviyam akāsi. “(apa yang) tersisa; (apa yang) kotor, tidak murni.”]

Kemudian, karena didorong demikian oleh Sang Bhagavā, bhikkhu itu memperoleh suatu rasa keterdesakan.

[Kitab Komentar : Savegamāpādi. Penerjemah lain memaknainya sebagai “Ia menjadi seorang pemasuk-arus.” Sutta-sutta biasanya menggunakan formula baku ini untuk menunjukkan pencapaian tingkat memasuki-arus, tetapi formula ini tidak terdapat dalam teks yang sekarang ini.]

Ketika Sang Bhagavā telah berjalan menerima dana makanan di Bārāasī, setelah makan, ketika Beliau telah kembali dari perjalanan itu, Beliau berkata kepada para bhikkhu:

“Para bhikkhu, pagi ini Aku merapikan jubah, membawa mangkuk dan jubahKu, dan memasuki Bārāasī untuk menerima dana makanan. Sewaktu berjalan menerima dana makanan di dekat pohon ara tempat ternak-ternak ditambatkan, Aku melihat seorang bhikkhu yang merasa tidak puas, [mencari] kepuasan di luar, berpikiran kacau, tanpa pemahaman jernih, tidak terkonsentrasi, dengan pikiran mengembara dan organ-organ indria yang kendur. Setelah melihatnya, Aku berkata kepada bhikkhu tersebut: ‘Bhikkhu, bhikkhu! Jangan mengotori dirimu sendiri. Adalah tidak dapat dihindarkan, bhikkhu, bahwa lalat-lalat akan mengejar dan menyerang seseorang yang mengotori dirinya sendiri dan ternoda oleh bau busuk.’ Kemudian, karena didorong demikian olehKu, bhikkhu itu memperoleh suatu rasa keterdesakan.”

Ketika hal ini dikatakan, seorang bhikkhu tertentu bertanya kepada Sang Bhagavā: “Apakah, Bhante, yang dimaksudkan dengan ‘kotoran’? Apakah ‘bau busuk’? dan apakah ‘lalat-lalat’?”

(1) “Kerinduan, bhikkhu, adalah apa yang dimaksudkan dengan ‘kotoran.’ (2) Niat buruk adalah ‘bau busuk.’ (3) Pikiran-pikiran buruk yang tidak bermanfaat adalah ‘lalat-lalat’. Adalah tidak dapat dihindarkan, bhikkhu, bahwa lalat-lalat akan mengejar dan menyerang seseorang yang mengotori dirinya sendiri dan ternoda oleh bau busuk.” [281]

Lalat-lalat – pikiran-pikiran yang berdasarkan pada nafsu –

akan berlari mengejar seseorang

yang tidak terkendali dalam organ-organ indria,

tidak terjaga dalam mata dan telinga.

Seorang bhikkhu yang kotor,

ternoda oleh bau busuk,

adalah jauh dari nibbāna

dan hanya memetik kesusahan.

Apakah di desa atau di hutan,

orang dungu yang tidak bijaksana,

karena tidak memperoleh kedamaian bagi dirinya sendiri,

bepergian diikuti lalat-lalat.

Tetapi mereka yang sempurna dalam perilaku bermoral

yang bersenang dalam kebijaksanaan dan kedamaian,

mereka yang damai itu hidup dengan bahagia,

setelah menghancurkan lalat-lalat.

[Kitab Komentar : Nāsayitvāna makkhikā. Bentuk absolutif ini berasal dari kata kerja nāseti, “menghancurkan.”]

Mengingat kaum ateis tidak mengakui adanya konsekuensi dibalik suatu pikiran, keputusan, dan tindakan / aksi—pola berpikir yang sejatinya tidak saintifik, karena sains berpedoman pada postulat “hukum sebab dan akibat” sebagai hukum alam itu sendiri—maka mereka tidak ubahnya dengan sikap berbahaya dan fatalistik kaum pemeluk agama samawi-abrahamik, yang tidak takut ancaman neraka dan juga tidak mau menyadari ataupun mengakui konsekuensi bahaya dibalik suatu perbuatan-perbuatan buruk—kesemua ayat-ayat simbolik “SELFISH GENE” (mengikuti arus) berikut dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak menceramahi maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah, hina, dan kotor, namun berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Mereka sejatinya merupakan kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang, dan disaat bersamaan merupakan pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri. Babi disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP semacam “PENGHAPUSAN DOSA” diklaim dan dikampanyekan lewat pengeras suara sebagai “halal lifestyle”—sekalipun hanya seorang “KORUPTOR DOSA” yang butuh “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”.

Abolition of sins” maupun “cuci dosa” dipromosikan tanpa tabu ataupun malu lewat pengeras suara, alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun keberanian untuk bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri. Busuk dan serakahnya jiwa yang telah dikuasai sepenuhnya oleh “SELFISH GENE” sang “bocah tua berambut putih” menjadikannya kasta paling rendah dan paling hina, pemeluk “Agama DOSA dari Kitab DOSA”, dimana noda-noda dan kekotoran batin justru dipelihara dan dilestarikan dengan rasa bangga, tanpa rasa malu ataupun takut. Agama samawi paling efektif dalam memelihara sifat kekanak-kanakan (memberi makan dan nutrisi bagi KEKOTORAN BATIN), dimana juga mengungkap “pikiran berkarat serta beracun” sang “nabi rasul Allah”—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]