Kaum Ateis sama Konyol dan Berbahayanya dengan Kaum yang Mereka Kritik, yakni Kaum Pemeluk Agama Samawi
Question: Ada kalangan ateis, yang mencoba menyerang
Buddhisme, dengan mengatakan bahwa agama “menjual” ancaman dan ketakutan, untuk
memeroleh kepatuhan dari mereka yang menjadi umatnya. Kaum ateis menyatakan,
ancaman-ancaman dogma keagamaan seperti neraka maupun hukum karma, hanyalah
bermaksud untuk menakut-nakuti manusia. Mereka lalu mendalilkan, bila tidak dapat
dibuktikan secara ilmiah, maka belum tentu dimaknai “ada”, namun bisa jadi “tidak
ada”, dan yang harus membuktikan ialah si pembuat dogma, bukan menjadi beban
bagi pihak yang membantah dogma tersebut. Kaum ateis ini lalu mengklaim, bahwa
menjadi seorang ateis, bukan berarti menjadi orang jahat. Apakah ada keliru-pikir
dibalik logika kaum ateis yang mengagung-agungkan akal pikirannya sendiri yang
bisa jadi menyerupai “katak dalam tempurung”, sesat dan tersesat namun seolah
sudah mengetahui kebenaran mutlak?
Brief Answer: Malu dan takut berbuat jahat—yang merupakan
saripati Buddhime—adalah demi kepentingan siapakah? Sang Buddha tetap hanya
makan satu kali sehari, hanya memiliki harta berupa jubah dan mangkuk, sebanyak
apapun siswa-Nya. Hidup adalah perihal motivasi dan demotivasi. Dibalik setiap
aksi tindakan maupun sikap diam tidak berbuat, selalu ada kalkulasi instrinsik
mengenai “untung dan rugi”, “insentif dan disinsentif”, “reward and punishment”,
“pro and conds”, atau istilah sejenis lainnya. Adalah mustahil seseorang
berbuat kebaikan bila tidak dilandasi kesadaran terhadap konsekuensi yang baik dibaliknya,
juga adalah mustahil seseorang tidak berbuat kejahatan bila tidak dilandasi
oleh kesadaran terhadap konsekuensi bahaya dibaliknya. Ini disebut sebagai “motif”
personal, dibalik suatu sikap berbuat ataupun untuk tidak berbuat.
Dari situ saja, sudah terpatahkan “klaim sepihak” kaum ateis bahwa mereka
bukanlah orang jahat, namun orang baik, dimana mereka sendiri telah ternyata
membuat “klaim sepihak”. Mereka, para ateis, tidaklah mungkin “orang baik-baik”,
namun lebih mungkin cenderung menjelma menjadi kaum “pragmatis”, jauh dari sikap
idealistik maupun altruistik. Mereka hanya menghargai “kuantitas” yang dapat diukur
dengan alat ukur yang terbatas daya ukurnya, bukan “kualitas” yang menilai
kedalaman, keluasan, dan kapasitas. Albert Eisntein saja, yang ke-jenius-annya
telah diakui oleh dunia ilmiah, menyatakan bahwa “Tuhan adalah hukum alam,
hukum alam mana belum dapat dipahami sepenuhnya oleh manusia”.
Ilmu pengetahuan terus berkembang, kaum ateis semula berkeyakinan bahwa
atom merupakan partikel terkecil. Telah ternyata, sains terbaru membantah sains
yang sebelumnya dipandang telah mapan, bahwa atom masih dapat dipecah ke dalam
ukuran yang lebih kecil, seperti proton dan elektron, yang kemudian masih dapat
dipecah ke dalam quark. Kaum ateis, dibantah oleh kaum ateis itu sendiri, bahwa
“ateis tua” telah ternyata keliru, sebelum kemudian “ateis muda” akan menyerang
ateis generasi sebelumnya. Teori relativitas, kemudian diguncang oleh teori
fisika kuantum. Kebenaran dibalik sains yang diagung-agungkan oleh kaum ateis,
sejatinya merupakan kebenaran tentatif, bukan kebenaran mutlak.
Sugensi, telah ternyata sudah lama diakui dan menjadi bagian dari sains,
lewat fenomena efek “obat placebo”. Perihal “past life” alias tumimbal-lahir
yang dianggap sekadar sebagai dogma tidak terbuktikan, terpatahkan oleh
disiplin ilmu psikologi kontemporer lewat metode “past-life regression”
oleh para psikolog tersertifikasi dan sudah terbit laporan penelitian ilmiah yang
membuktikan kebenaran adanya “kelahiran kembali”, dimana bukti-buktinya sudah
tidak lagi terhitung jumlahnya. Hasil penelitian tersebut kemudian
terkonfirmasi oleh peneliti-peneliti berikutnya memakai metode yang sama dengan
subjek penelitian yang berjumlah besar.
Apakah, dogma kelahiran-kembali (rebirth), masih dapat disebut
sebagai “tidak saintifik”? Justru kaum ateis itu sendiri, yang mati-matian
membantahnya (membutakan mata sendiri alias “pilih-pilih fakta realita” yang
dicocok-cocokkan dengan keyakinan kaum ateis perihal “tidak ada Karma, neraka,
maupun rebirth), sekalipun bukti-bukti jelas-jelas menyatakan apa adanya,
adalah yang paling tidak ilmiah itu sendiri. Sekalipun kemudian ada bukti
penelitian mengenai kebenaran adanya alam metafisika bernama neraka sekalipun,
yang diyakini oleh kaum ateis ialah berupa “denial” (penyangkalan
terhadap fakta-realita), bersikukuh tidak ada yang namanya alam neraka.
Dari pengalaman realita dan pengamatan lapangan, orang-orang yang tidak
takut pada ancaman neraka, cenderung bersikap corrupt dan abusive.
Mereka adalah kaum ateis dan kaum pemeluk agama samawi. Kaum ateis, merupakan kaum “nihilistik” yang
tidak percaya pada Hukum Karma (hukum sebab dan akibat yang sejatinya sangat
ilmiah) meski mereka mengklaim dirinya sebagai seorang ilmuan ataupun sarjana
fisika sekalipun. Lalu, terhadap dalil kaum ateis bahwa banyak orang beragama
namun perilakunya jahat, meski mengakui adanya neraka, maka itu hanya benar adanya
sebatas teruntuk umat agama samawi-abrahamik. Mereka, kaum pemeluk agama
samawi, tidak takut pada ancaman neraka, karena mereka merupakan “PECANDU PENGHAPUSAN
/ PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”, dimana para pendosawan justru dimasukkan ke
neraka sebagaimana yesus memasukkan ke surga dua orang penjahat yang turut
disalib berasma yesus di kayu salib, sama sekali tanpa prinsip “merit system”
egalitarian. Karenanya, kaum ateis berpotensi sama berbahayanya dengan kaum
pemeluk agama samawi.
Adalah kebohongan terbesar kaum ateis yang mengklaim bahwa kaum ateis
adalah orang baik. Manusia merupakan “makhluk kalkulatif” yang selalu
menghitung “untung dan ruginya” dibalik sikap dan keputusannya untuk berbuat ataupun
tidak berbuat. Orang ateis berbuat baik untuk “kesia-siaan”? Dari postulat itu
saja, menjadi jelas bahwa orang-orang ateis ter-demotivasi untuk menanam
kebaikan, karena mereka tidak mengakui Karma Buruk maupun Karma Baik dibalik
setiap perbuatan.
Bagi mereka, kaum ateis tersebut, membiarkan kejahatan terjadi bukanlah “Karma
(Perbuatan) Buruk”. Bagi mereka juga, melakukan kejahatan bukanlah “Karma (Perbuatan)
Buruk” yang dapat menghasilkan akibat “Buah Karma Buruk”. Mereka bahkan tidak
takut terhadap Hukum Karma, karena mereka tidak percaya dan skeptis
terhadapnya, cenderung melakukan penentangan dan bahkan “menantangnya”. Boleh Anda
tidak percaya pada fengshui, semisal bahaya dibalik lokasi “tusuk sate”, namun adalah
tidak bijak bila Anda menantangnya dengan sengaja memilih untuk bermukim di
lokasi rumah yang berlokasi tepat di posisi “tusuk sate”.
Kesesatan logika kaum ateis berikutnya ialah, mereka selalu mendalilkan “siapa
yang mendalilkan, maka mereka yang harus membuktikannya” dan “selama belum
terbukti kebenarannya, maka itu berarti ‘tidak benar’, bukan ‘benar’ adanya”
(itu saja sudah berupa sikap “pilih-pilih”). Mereka itu sendiri telah melakukan
lompatan konklusi bahwa yang belum dapat terbukti oleh sains pada suatu waktu,
adalah “tidak benar” adanya. Itu lebih merupakan sebentuk kesombongan atau
arogansi intelektual kaum ateis, seolah otak mereka telah sempurna dan super
jenius, lengkap dengan alat-alat sains yang telah super canggih dan lengkap-sempurna
untuk melakukan ekplorasi maupun pengamatan. Faktanya, kapasitas / daya otak dan
pengetahuan mereka serba terbatas adanya, pengalaman mereka minim, serta alat-alat
instrumen mereka bahkan belum mampu menjelaskan fenomena seperti UFO dan ET.
Kaum ateis sebenarnya sama saja—alias tidak ubahnya—dengan kaum pemeluk
dogma theistik yang mereka kritik dan sepelekan. Mareka tidak mungkin
termotivasi berbuat kebaikan (menanam Karma Baik), karena mereka tidak
termotivasi untuk masuk alam surgawi—sama seperti umat agama samawi yang memandang
bahwa berbuat kebaikan bukanlah ibadah, namun ibadah semata-mata adalah perihal
ritual dan doa sembah-sujud kepada “Tuhan”.
Tengok saja fenomena seperti orang baik tidak disebut sebagai “agamais”,
sementara orang yang rajin ritual sembah-sujud disebut “agamais”. Orang yang
sedang berbuat kebaikan tidak disebut sebagai sedang beribadah, sementara itu
mereka yang sedang menjalani ritual sembah-sujud disebut sebagai sedang
beribadah. Bila kaum agama samawi menjadikan Allah sebagai “Tuhan” mereka, kaum
ateis menjadikan sains dan akal mereka yang dangkal dan sempit tersebut sebagai
“Tuhan” dan menghamba kepadanya. Adapun ibadah kaum Buddhisme, ialah : [bila masih
juga dikriitk, artinya pihak yang mengkritik ialah kaum yang paling patut
dikritik itu sendiri]
Ovada Patimokkha
Sabbapāpassa akaraṇaṃ
Kusalassa upasampadā
Sacittapariyodapanaṃ
Etaṃ buddhāna sāsanaṃ.
Khantī paramaṃ tapo titikkhā
Nibbāṇaṃ paramaṃ vadanti buddhā
Na hi pabbajito parūpaghātī
Samaṇo hoti paraṃ viheṭhayanto.
Anūpavādo anūpaghāto,
pātimokkhe ca saṃvaro
Mattaññutā ca bhattasmiṃ, pantañca sayanāsanaṃ
Adhicitte ca āyogo, etaṃ buddhāna sāsanaṃ.
Tidak melakukan segala bentuk kejahatan,
senantiasa mengembangkan kebajikan
dan membersihkan batin;
inilah Ajaran Para Buddha.
Kesabaran adalah praktek
bertapa yang paling tinggi.
“Nibbana adalah tertinggi”,
begitulah sabda Para Buddha.
Dia yang masih menyakiti orang lain
sesungguhnya bukanlah seorang pertapa (samana).
Tidak menghina, tidak
menyakiti, mengendalikan diri sesuai peraturan,
memiliki sikap madya dalam hal
makan, berdiam di tempat yang sunyi
serta giat mengembangkan
batin nan luhur; inilah Ajaran Para Buddha.
[Sumber: Dhammapada
183-184-185, Syair Gatha.]
PEMBAHASAN:
Arogansi kaum ateis, tidak kalah dengan arogansi
kaum umat pemeluk agama samawi. Setidaknya, pikiran mereka sama dangkal-kerdil
dan tertutupnya dengan kaum umat agama samawi, dengan selalu menyatakan bahwa konklusinya
sebagai yang “paling benar”. Sebenarnya, mudah saja membuat kesombongan kaum
ateis agar jatuh dan runtuh rata dengan tanah, sebagaimana telah pernah penulis
sendiri buktikan ketika terpaksa berdebat dengan kaum ateis yang melakukan
serangan verbal tendensius kepada Buddhime. Sudah sejak lama, Sang Buddha
berhadapan dengan penganut paham nihilisme (istilah lain dari ateisme)
demikian:
“Bayangkan seorang pria yang terkena panah beracun”,
kata Sang Buddha. “Seorang dokter datang, siap mencabut anak panah dan
memberinya penawarnya, tetapi pria itu menghentikannya.”
“'Jangan terburu-buru! Pertama, aku ingin tahu siapa
yang menembakku. Dari kota atau desa mana dia berasal? Aku juga ingin tahu dari
kayu apa busurnya dibuat. Juga, apakah itu busur silang atau busur panjang?'”
“Jelas,” kata Sang Buddha, “orang itu akan mati dan
pertanyaan-pertanyaannya akan tetap tidak terjawab.”
Pada akhirnya, kita yang akan menertawakan sikap
dunggu kaum ateis yang hanya bisa berakhir dalam spekulasi di dalam otak mereka
sendiri yang sempit dan picik, dimana vonis hidup mereka ialah “mati konyol
penuh penasaran”. Mereka bahkan memandang bahwa “bunuh diri” bukanlah perbuatan
buruk yang dapat melahirkan konsekuensi buruk bagi dirinya sendiri, karena mereka
tidak percaya neraka ataupun akibat dibalik perbuatan, dengan memandang bahwa
itu tubuh dan hidup milik mereka sendiri dan tidak ada alam setelah kematian
(nihilisme), terlebih bukti adanya alam tersebut (lagi-lagi mendasarkan pada
sains yang masih sangat terbatas instrumen observasinya).
Dalam tiap-tiap kasus—aktivitas Tuhan pencipta
(THEISTIK) ataupun tanpa-penyebab (ATEIS)—para pelaku menghindari tanggung
jawab atas perbuatan-perbuatan mereka, serta keduanya sama-sama merupakan pandangan “ekstrem” yang ditolak dalam
Buddhisme, dimana Sang
Buddha untuk itu telah pernah bersabda: [dikutip dari khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang
Buddha, JILID IV”,
Judul Asli : “The Numerical Discourses of
the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012,
terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, Penerjemah Edi
Wijaya dan Indra Anggara]
“Para
bhikkhu, ada tiga doktrin sektarian ini yang, ketika dipertanyakan,
diinterogasi, dan didebat oleh para bijaksana, dan dibawa menuju kesimpulan
mereka, akan berakhir dalam tidak berbuat. Apakah tiga ini?
(1) “Ada, para bhikkhu, beberapa petapa dan brahmana
yang menganut doktrin dan pandangan seperti ini: ‘Apa pun yang dialami orang
ini – apakah menyenangkan, menyakitkan, atau
bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan – semuanya disebabkan oleh apa yang telah
dilakukan di masa lalu.’
(2) Ada para petapa dan brahmana lainnya yang
menganut doktrin dan pandangan seperti ini: ‘Apa pun yang dialami orang ini –
apakah menyenangkan, menyakitkan, atau
bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan – semuanya disebabkan oleh aktivitas
Tuhan pencipta.’
(3) Dan ada para petapa dan brahmana lain lagi yang
menganut doktrin dan pandangan seperti ini: ‘Apa pun yang dialami orang ini –
apakah menyenangkan, menyakitkan, atau
bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan – semuanya terjadi tanpa suatu sebab
atau kondisi.’
“Kemudian, para bhikkhu, Aku mendatangi para petapa
dan brahmana itu yang menganut doktrin dan pandangan seperti ini: ‘Apa pun yang
dialami orang ini – apakah menyenangkan, menyakitkan, atau
bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan – semuanya terjadi tanpa suatu
sebab atau kondisi,’ dan Aku berkata kepada mereka: ‘Benarkah bahwa kalian
para mulia menganut doktrin dan pandangan demikian?’ Ketika Aku menanyakan hal
ini kepada mereka, mereka menegaskannya. Kemudian Aku berkata kepada mereka: ‘Kalau
begitu, adalah tanpa suatu penyebab atau kondisi maka kalian mungkin melakukan
pembunuhan, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan aktivitas seksual,
berbohong, mengucapkan kata-kata yang memecah-belah, berkata kasar, bergosip;
maka kalian mungkin penuh kerinduan, memiliki pikiran berniat buruk, dan
menganut pandangan salah.’
“Mereka yang mengandalkan ketiadaan penyebab dan
kondisi sebagai kebenaran mendasar tidak memiliki keinginan [untuk melakukan]
apa yang harus dilakukan dan [untuk menghindari melakukan] apa yang tidak boleh
dilakukan, juga mereka tidak berusaha dalam hal ini. Karena mereka tidak
memahami sebagai benar dan sah segala sesuatu yang harus dilakukan dan tidak
boleh dilakukan, maka mereka berpikiran kacau, mereka tidak menjaga diri mereka
sendiri, dan bahkan sebutan personal sebagai ‘petapa’ tidak dapat dengan benar
ditujukan kepada mereka. Ini adalah bantahan logisKu yang ke tiga atas para
petapa dan brahmana yang menganut doktrin dan pandangan demikian.
“Kemudian, para bhikkhu, Aku mendatangi para petapa
dan brahmana itu yang menganut doktrin dan pandangan seperti ini: ‘Apa pun yang
dialami orang ini – apakah menyenangkan, menyakitkan, atau
bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan – semuanya disebabkan oleh
aktivitas Tuhan pencipta,’ Dan Aku berkata kepada mereka: ‘Benarkah bahwa kalian para mulia menganut
doktrin dan pandangan demikian?’ Ketika Aku menanyakan hal ini kepada mereka, mereka menegaskannya.
Kemudian Aku berkata kepada mereka: ‘Kalau begitu, adalah karena aktivitas
Tuhan pencipta maka kalian mungkin melakukan pembunuhan, mengambil apa yang
tidak diberikan, melakukan aktivitas seksual, berbohong, mengucapkan kata-kata
yang memecah-belah, berkata kasar, bergosip; maka kalian mungkin penuh
kerinduan, memiliki pikiran berniat buruk, dan menganut pandangan salah.’
“Mereka yang mengandalkan aktivitas Tuhan
pencipta sebagai kebenaran mendasar tidak memiliki keinginan [untuk melakukan]
apa yang harus dilakukan dan [untuk menghindari melakukan] apa yang tidak boleh
dilakukan, juga mereka tidak berusaha dalam hal ini. Karena mereka tidak
memahami sebagai benar dan sah segala sesuatu yang harus dilakukan dan tidak
boleh dilakukan, maka mereka berpikiran kacau, mereka tidak menjaga diri mereka
sendiri, dan bahkan sebutan personal sebagai ‘petapa’ tidak dapat dengan benar
ditujukan kepada mereka. Ini adalah bantahan logisKu yang ke dua atas para
petapa dan brahmana yang menganut doktrin dan pandangan demikian.
“Ini, para bhikkhu, adalah ketiga doktrin sektarian
itu yang, ketika dipertanyakan, diinterogasi, dan didebat oleh para bijaksana,
dan dibawa menuju kesimpulan mereka, akan berakhir dalam tidak berbuat.”
Kaum ateis bahkan cenderung jatuh pada sikap
materialistik, hedonis, serta kental nuasan duniawi lengkap dengan kenikmatan
inderawi dan terjerat dalam kenikmatan inderawi tersebut, tanpa mau menyadari
bahaya dibaliknya. Mengapa? Karena mereka adalah kaum pemeluk aliran
positivisme yang menganggap diri mereka sebagai “membumi” dan empirik. Maka,
sikap mereka tidak jauh dari layaknya aliran air, yang secara alamiahnya
mengalir ke arah BAWAH, bukan ke arah ATAS. Adalah lebih mungkin atau
kecenderungan bagi kaum ateis untuk bernasib sama dengan kaum pemeluk agama
samawi yang mereka kritik dan cela, yakni : menjadi PENDOSAWAN.
Mereka, kaum ateis, lebih mementingkan kuantitas,
seperti kumulasi harta kepemilikan, ketimbang kualitas batin. Kaum ateis merupakan
kaum yang selalu merasa tidak puas, [mencari] kepuasan di luar, berpikiran
kacau, tanpa pemahaman jernih, tidak terkonsentrasi, dengan pikiran mengembara
dan organ-organ indria yang kendur. Kita dapat bercermin-diri lewat khotbah Sang
Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID I”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa
Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:
124 (2) Argumen
“Para bhikkhu, di mana pun para bhikkhu berargumen
dan bertengkar dan jatuh dalam perselisihan, saling menusuk satu sama lain
dengan kata-kata tajam, maka Aku merasa tidak nyaman untuk mengarahkan
perhatianKu ke sana, apalagi pergi ke sana. Aku menyimpulkan tentang mereka:
‘Tentu saja, para mulia itu telah meninggalkan tiga hal dan telah melatih tiga
hal [lainnya].’
“Apakah tiga hal yang telah ditinggalkan? Pikiran
meninggalkan keduniawian, pikiran berniat baik, dan pikiran tidak mencelakai. Ini adalah ketiga hal yang telah
ditinggalkan.
“Apakah tiga hal yang telah mereka latih? Pikiran
indriawi, pikiran berniat buruk, dan pikiran mencelakai. Ini adalah ketiga hal yang telah
mereka latih.
“Di mana pun para bhikkhu berargumen dan bertengkar
dan jatuh dalam perselisihan … Aku menyimpulkan: ‘Tentu saja, para mulia itu
telah meninggalkan ketiga hal ini dan telah melatih ketiga hal [lainnya].’
“Para bhikkhu, di mana pun para bhikkhu berdiam
dalam kerukunan, dengan harmonis, tanpa perselisihan, bercampur bagaikan susu
dan air, saling melihat satu sama lain dengan tatapan kasih sayang, maka Aku
merasa nyaman untuk pergi ke sana, apalagi untuk mengarahkan pikiranKu ke sana.
Aku menyimpulkan: ‘Tentu saja, para mulia itu telah meninggalkan tiga hal dan
telah melatih tiga hal [lainnya].’
“Apakah tiga hal yang telah mereka tinggalkan? [276]
Pikiran indriawi, pikiran berniat buruk, dan pikiran mencelakai. Ini adalah ketiga hal yang
telah mereka tinggalkan.
“Apakah tiga hal yang telah mereka latih? Pikiran
meninggalkan keduniawian, pikiran berniat baik, dan pikiran tidak mencelakai. Ini adalah ketiga hal yang
telah mereka latih.
“Di mana pun para bhikkhu berdiam dalam kerukunan …
Aku menyimpulkan: ‘Tentu saja, para mulia itu telah meninggalkan ketiga hal ini
dan telah melatih ketiga hal [lainnya].’”
~0~
128 (6) Kotoran
Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di
Bārāṇasī di taman rusa di Isipatana.
Kemudian, di pagi hari, Sang Bhagavā merapikan jubah, membawa mangkuk dan
jubahnya, dan memasuki Bārāṇasī
untuk menerima dana makanan. [280]
Sewaktu berjalan menerima dana makanan di dekat
pohon ara tempat ternak-ternak ditambatkan, Sang Bhagavā melihat seorang
bhikkhu yang merasa tidak puas, [mencari] kepuasan di luar, berpikiran kacau,
tanpa pemahaman jernih, tidak terkonsentrasi, dengan pikiran mengembara dan
organ-organ indria yang kendur. Setelah melihatnya, Beliau berkata kepada
bhikkhu tersebut:
[Kitab Komentar : Rittasādaṃ bāhirassādaṃ. “Merasa tidak puas: tanpa kenikmatan
jhāna. [Mencari] kepuasan di luar: kepuasan dari kenikmatan indria.” Paralel
China-Mandarin, SĀ 1081 (T II 283a20-283b26) mengatakan (pada 283a23) bahwa “ia
telah memunculkan suatu pikiran tidak bermanfaat yang berhubungan dengan
ketagihan yang jahat”.]
“Bhikkhu, bhikkhu! Jangan mengotori dirimu sendiri. Adalah tidak dapat
dihindarkan, bhikkhu, bahwa lalat-lalat akan mengejar dan menyerang seseorang
yang mengotori dirinya sendiri dan ternoda oleh bau busuk.”
[Kitab Komentar : Ma kho tvaṃ attānaṃ kaṭuviyam akāsi. “(apa yang) tersisa; (apa yang)
kotor, tidak murni.”]
Kemudian, karena didorong demikian oleh Sang
Bhagavā, bhikkhu itu memperoleh suatu rasa keterdesakan.
[Kitab Komentar : Saṃvegamāpādi. Penerjemah lain memaknainya
sebagai “Ia menjadi seorang pemasuk-arus.” Sutta-sutta biasanya menggunakan
formula baku ini untuk menunjukkan pencapaian tingkat memasuki-arus, tetapi
formula ini tidak terdapat dalam teks yang sekarang ini.]
Ketika Sang Bhagavā telah berjalan menerima dana
makanan di Bārāṇasī, setelah makan, ketika
Beliau telah kembali dari perjalanan itu, Beliau berkata kepada para bhikkhu:
“Para bhikkhu, pagi ini Aku merapikan jubah, membawa
mangkuk dan jubahKu, dan memasuki Bārāṇasī untuk menerima dana makanan. Sewaktu berjalan
menerima dana makanan di dekat pohon ara tempat ternak-ternak ditambatkan, Aku
melihat seorang bhikkhu yang merasa tidak puas, [mencari] kepuasan di luar,
berpikiran kacau, tanpa pemahaman jernih, tidak terkonsentrasi, dengan pikiran
mengembara dan organ-organ indria yang kendur. Setelah melihatnya, Aku
berkata kepada bhikkhu tersebut: ‘Bhikkhu, bhikkhu!
Jangan mengotori dirimu sendiri. Adalah tidak dapat dihindarkan, bhikkhu, bahwa
lalat-lalat akan mengejar dan menyerang seseorang yang mengotori dirinya
sendiri dan ternoda oleh bau busuk.’ Kemudian, karena didorong demikian olehKu,
bhikkhu itu memperoleh suatu rasa keterdesakan.”
Ketika hal ini dikatakan, seorang bhikkhu tertentu
bertanya kepada Sang Bhagavā: “Apakah, Bhante, yang dimaksudkan dengan
‘kotoran’? Apakah ‘bau busuk’? dan apakah ‘lalat-lalat’?”
(1) “Kerinduan, bhikkhu, adalah apa yang dimaksudkan dengan ‘kotoran.’
(2) Niat buruk adalah ‘bau busuk.’ (3) Pikiran-pikiran buruk yang tidak
bermanfaat adalah ‘lalat-lalat’. Adalah tidak dapat dihindarkan, bhikkhu, bahwa
lalat-lalat akan mengejar dan menyerang seseorang yang mengotori dirinya
sendiri dan ternoda oleh bau busuk.” [281]
Lalat-lalat – pikiran-pikiran yang berdasarkan pada nafsu
–
akan berlari mengejar seseorang
yang tidak terkendali dalam organ-organ indria,
tidak terjaga dalam mata dan telinga.
Seorang bhikkhu yang kotor,
ternoda oleh bau busuk,
adalah jauh dari nibbāna
dan hanya memetik kesusahan.
Apakah di desa atau di hutan,
orang dungu yang tidak bijaksana,
karena tidak memperoleh kedamaian bagi dirinya
sendiri,
bepergian diikuti lalat-lalat.
Tetapi mereka yang sempurna dalam perilaku bermoral
yang bersenang dalam kebijaksanaan dan kedamaian,
mereka yang damai itu hidup dengan bahagia,
setelah menghancurkan lalat-lalat.
[Kitab Komentar : Nāsayitvāna
makkhikā. Bentuk absolutif ini berasal dari kata kerja nāseti,
“menghancurkan.”]
Mengingat kaum ateis tidak mengakui adanya
konsekuensi dibalik suatu pikiran, keputusan, dan tindakan / aksi—pola berpikir
yang sejatinya tidak saintifik, karena sains berpedoman pada postulat “hukum
sebab dan akibat” sebagai hukum alam itu sendiri—maka mereka tidak ubahnya
dengan sikap berbahaya dan fatalistik kaum pemeluk agama samawi-abrahamik, yang
tidak takut ancaman neraka dan juga tidak mau menyadari ataupun mengakui konsekuensi
bahaya dibalik suatu perbuatan-perbuatan buruk—kesemua
ayat-ayat simbolik “SELFISH GENE” (mengikuti arus) berikut dikutip dari
Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar
gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan
Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk
surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi
menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga
berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan
merasa sebagai “polisi moral” yang berhak menceramahi maupun menghakimi kaum
lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling
rendah, hina, dan kotor, namun berdelusi sebagai kaum paling superior yang
memonopoli alam surgawi. Mereka sejatinya merupakan kaum pemalas yang begitu
pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah
manisnya di masa mendatang, dan disaat bersamaan merupakan pengecut yang begitu
pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri.
Babi disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP semacam “PENGHAPUSAN DOSA”
diklaim dan dikampanyekan lewat pengeras suara sebagai “halal lifestyle”—sekalipun
hanya seorang “KORUPTOR DOSA” yang butuh “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN
DOSA”.
“Abolition of sins” maupun “cuci dosa”
dipromosikan tanpa tabu ataupun malu lewat pengeras suara, alih-alih
mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun keberanian untuk
bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri. Busuk dan serakahnya jiwa yang
telah dikuasai sepenuhnya oleh “SELFISH GENE” sang “bocah tua berambut
putih” menjadikannya kasta paling rendah dan paling hina, pemeluk “Agama DOSA
dari Kitab DOSA”, dimana noda-noda dan kekotoran batin justru dipelihara dan
dilestarikan dengan rasa bangga, tanpa rasa malu ataupun takut. Agama samawi
paling efektif dalam memelihara sifat kekanak-kanakan (memberi makan dan
nutrisi bagi KEKOTORAN BATIN), dimana juga mengungkap “pikiran berkarat serta
beracun” sang “nabi rasul Allah”—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa
suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni
dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah
menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”
[HR Bukhari Muslim]