Air, Alamiahnya Bergerak ke Arah Bawah, Bukan ke Arah Atas. Sama seperti Kesenangan Orang Dungu
Orang Mabuk manakah, yang Mengakui atau Menyadari
bahwa Dirinya sedang Mabuk dan Mencandu?
Question: Disebutkan bahwa Indonesia merupakan negara yang penduduknya paling bahagia di dunia ini. Itu survei dari mana ya? Mengapa berita yang muncul di pemberitaan media, seperti ada anak sekolah dasar mengakhiri hidupnya akibat tidak mampu membeli buku tulis dan alat tulis, anak yang tewas akibat terpapar cacing parasit, bencana alam bertubi-tubi, korupsi merajalela mulai dari pejabat hingga ketua rukun tentangga maupun ketua rukun warga, angka stunting yang tinggi pada balita, bantuan sosial yang tidak tepat sasaran, penjara yang selalu penuh sesak oleh penghuni narapidana, polisi yang justru menjadi pelaku premanisme terhadap warga, pungutan liar oleh pejabat yang digaji dari rakyat yang dibayarkan oleh rakyat, kesenjangan sosial dan ekonomi yang lebar, pejabat bertindak bak raja dan rakyat jelata bak bangsa jajahan, pengangguran membludak, kemacetan parah, banjir dan bencana sepanjang tahun, daerah-daerah kumuh yang bertebaran dengan sanitasi yang buruk, hingga data dari Badan Pusat Statistik bahwa anak yang tewas bunuh diri di Indonesia tergolong paling tertinggi se-Asia Tenggara. Ini “bahagia” semacam apa yang dimaksud dan apakah patut dibanggakan dan dirayakan?
Brief Answer: Ada “bahagia yang sehat” dan ada pula “bahagia yang
tidak sehat”. “Kebahagiaan yang tidak sehat”, seperti melawan arus ketika
berkendara, lebih galak yang merampas hak daripada korban yang dirampas haknya
dan sekadar menegur perbuatan sang pelanggar, aksi maling teriak maling,
korupsi berjemaah namun imun dari penghukuman, bebas putar-balik fakta,
kriminalisasi, penjahat “kerah putih” yang menyalah-gunakan instrumen hukum
sebagai justifikasi kejahatannya, bebas persekusi ala premanisme, menjadi
preman namun dipelihara dan dibiarkan berkeliaran oleh negara, bahagia menjadi
bangsa miskin dalam rangka bisa diberi bantuan sosial oleh pemerintah, yang
penting bisa memilih dalam pemilihan umum meski berbiaya mahal dan meski tidak
bisa dipilih, bangsa pelupa dimana mantan koruptor kembali terpilih dalam
pemilihan kepala daerah, hukum yang mudah dibeli, perizinan yang mudah
dilanggar dan diputihkan, aparatur penegak hukum yang justru menindas sipil, kesenjangan
yang kian berdisparitas antara si kaya dan si miskin, dan segala kesenangan
tidak sehat lainnya.
Terdapat postulat dalam Buddhisme : Pertama, penjahat-penjahat yang
beruntung ialah penjahat yang selalu gagal ketika menjalankan aksi kejahatannya.
Kedua, penjahat yang malang ialah penjahat yang selalu berhasil melancarkan rencana
dan niat jahatnya. Karenanya, konsep “kebahagiaan” sangat bergantung pada
perspektif sang subjek itu sendiri. Orang dungu, kesenangannya cenderung bersifat
dungu, mereka bahkan senang bisa “lempar batu sembunyi tangan”, merasa bangga
ketika berhasil korupsi tanpa tersentuh oleh hukum, melakukan kejahatan secara
tersembunyi dan merasa tidak melakukan kejahatan karena tidak diketahui oleh
orang lain, memandang sebagai prestasi dapat mencandu “PENGHAPUSAN /
PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA” agar tidak “merugi” sehingga dalam kesehariannya berlomba-lomba
memproduksi segunung dosa, mengoleksi segudang dosa, dan berkubang dalam
samudera dosa-dosa.
PEMBAHASAN:
Ilustrasi sederhananya ialah agama yang
mempromosikan “PENGHAPUSAN DOSA” (bagi “KORUPTOR DOSA”, tentunya) alih-alih
mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa dan maksiat, disebut “Agama SUCI”
alih-alih “Agama DOSA”. Babi, disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP
semacam “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA” (abolition of sins)
diklaim sebagai “halal lifestyle”. Terhadap dosa dan maksiat, demikian
kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda keyakinan, begitu intoleran. Sekujur
tubuh ditutup busana, “aurat berjalan” kata mereka. Namun, terhadap “AURAT
TERBESAR” berupa “berbuat dosa-dosa untuk dihapuskan” (sebelum kemudian mabuk ritual
doa permohonan “PENGHAPUSAN DOSA”) justru dikampanyekan lewat speaker pengeras
suara alias dipertontonkan secara vulgar ke publik.
Apa yang di mata orang-orang yang mata-nuraninya
masih tertutup kekotoran batin tebal dianggap sebagai kenikmatan, adalah duka
di mata seorang Buddha. Banyak pecandu tembakau yang berdelusi bahwa dirinya
yang mengendalikan tembakau, alih-alih menyadari dirinya telah dikuasai dan
diperbudak olehnya. Kesemuanya adalah faktor pikiran, menguasai pikiran kita
sendiri ataukah diperdaya oleh ilusi pikiran, sebagaimana khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya :
Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID 1”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012,
terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, Penerjemah Edi
Wijaya dan Indra Anggara, dengan kutipan:
V. Tangkai
41 (1)
“Para bhikkhu, misalkan sebatang tangkai padi atau
gandum yang arahnya terbalik ditekankan pada tangan atau kaki. Adalah tidak mungkin
bahwa tangkai itu dapat menembus tangan atau kaki dan mengeluarkan darah.
Karena alasan apakah? Karena tangkai itu terbalik. Demikian pula, adalah
tidak mungkin bahwa seorang bhikkhu dengan pikiran yang salah arah dapat
menembus ketidak-tahuan, membangkitkan pengetahuan sejati, dan merealisasi
nibbāna. Karena alasan apakah? Karena pikiran itu salah arah.”
42 (2)
“Para bhikkhu, misalkan sebatang tangkai padi atau
gandum yang diarahkan dengan benar ditekankan pada tangan atau kaki. Adalah mungkin
bahwa tangkai itu dapat menembus tangan atau kaki dan mengeluarkan darah.
Karena alasan apakah? Karena tangkai itu diarahkan dengan benar. Demikian pula,
adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu dengan pikiran yang diarahkan dengan
benar dapat menembus ketidak-tahuan, membangkitkan pengetahuan sejati, dan
merealisasi nibbāna. Karena alasan apakah? Karena pikiran itu diarahkan dengan
benar.”
43 (3)
“Di sini, para bhikkhu, setelah dengan pikiranKu
melingkupi pikiran seseorang yang berpikiran rusak, Aku memahami bahwa jika
orang ini mati pada saat ini, maka ia akan masuk ke neraka seolah-olah dibawa
ke sana. Karena alasan apakah? Karena pikirannya rusak. Adalah
karena kerusakan pikiran maka dengan hancurnya jasmani, setelah kematian,
beberapa makhluk di sini terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan
kelahiran yang buruk, di alam rendah, di neraka.”
[Kitab Komentar : Pikiran yang
dirusak oleh kebencian (dosena paduṭṭhacittaṃ).]
44 (4)
“Di sini, para bhikkhu, setelah dengan pikiranKu
melingkupi pikiran seseorang yang berpikiran tenang, Aku memahami bahwa jika
[9] orang ini mati pada saat ini, maka ia akan masuk ke surga seolah-olah dibawa
ke sana. Karena alasan apakah? Karena pikirannya tenang. Adalah
karena ketenangan pikiran maka dengan hancurnya jasmani, setelah kematian,
beberapa makhluk di sini terlahir kembali di alam tujuan kelahiran yang baik,
di alam surga.”
[Kitab Komentar : (Pikiran)
yang tenang dengan keyakinan dan kepercayaan (saddhāpasādena pasannaṃ).]
45 (5)
“Para bhikkhu, misalkan terdapat sebuah kolam dengan
air yang kotor, keruh, dan berlumpur. Kemudian seseorang yang berpenglihatan
baik berdiri di tepinya tidak dapat melihat kerang-kerang, kerikil dan koral,
dan kawanan ikan yang berenang kesana-kemari dan beristirahat. Karena alasan
apakah? Karena air itu kotor. Demikian pula, adalah tidak mungkin bagi seorang bhikkhu dengan pikiran
yang kotor dapat mengetahui kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, atau
kebaikan keduanya, atau merealisasi keluhuran melampaui manusia dalam hal
pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia. Karena alasan apakah? Karena
pikirannya kotor.”
[Kitab Komentar : “Keruh (āvilena):
diselimuti oleh kelima rintangan.” Pada sutta terpisah, air keruh secara khusus
diidentifikasikan sebagai keragu-raguan dan air jernih sebagai kebebasan dari
keragu-raguan.]
46 (6)
“Para bhikkhu, misalkan terdapat sebuah kolam dengan
air yang bersih, tenang, dan jernih. Kemudian seseorang yang berpenglihatan
baik berdiri di tepinya dapat melihat kerang-kerang, kerikil dan koral, dan
kawanan ikan yang berenang kesana-kemari dan beristirahat. Karena alasan
apakah? Karena air itu jernih. Demikian pula, adalah mungkin bagi seorang bhikkhu dengan pikiran yang
jernih dapat mengetahui kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan
keduanya, dan merealisasi keluhuran melampaui manusia dalam hal pengetahuan dan
penglihatan selayaknya para mulia. Karena alasan apakah? Karena pikirannya
jernih.”
[Kitab Komentar : Manusia luar biasa:
lebih unggul daripada moralitas manusia yang terdapat dalam sepuluh kamma
bermanfaat. Sepuluh moralitas ini disebut ‘moralitas manusia’ karena dijalankan
oleh orang-orang atas kehendak mereka sendiri – bahkan tanpa dorongan orang
lain – setelah mereka tergerak di akhir ‘periode pedang’ (satthantarakappa).
Hal-hal yang lebih unggul dari
ini adalah jhāna-jhāna, pandangan terang, jalan, dan buah. Keluhuran
dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia: keluhuran [keunggulan]
yang terdapat dalam pengetahuan dan penglihatan yang sesuai bagi para mulia
atau mampu menghasilkan kondisi mulia. Pengetahuan itu sendiri disebut
‘pengetahuan’ dalam hal bahwa pengetahuan itu mengetahui, dan disebut
‘penglihatan’ karena melihat. Ini adalah sebuah sebutan bagi pengetahuan mata
dewa, pengetahuan pandangan terang, pengetahuan jalan, pengetahuan buah, dan pengetahuan
peninjauan.]
47 (7)
“Para bhikkhu, seperti halnya kayu cendana
dinyatakan sebagai yang terbaik di antara pepohonan sehubungan dengan kelunakan
dan kelenturannya, demikian pula Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang, ketika
dikembangkan dan dilatih, dapat menjadi begitu lunak dan lentur selain daripada
pikiran. Pikiran yang terkembang dan terlatih adalah lunak dan lentur.”
[10]
48 (8)
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang begitu cepat
berubah selain daripada pikiran. Tidaklah mudah memberikan perumpamaan untuk
menggambarkan betapa cepatnya pikiran berubah.”
[Kitab Komentar : Salah satu
contohnya ialah seseorang dapat mendadak berubah pikiran, meninggalkan
kehidupan selibat untuk menyerah pada pikatan perempuan.]
49 (9)
“Bercahaya, para bhikkhu, pikiran ini, tetapi dikotori
oleh kekotoran dari luar.”
50 (10)
“Bercahaya, para bhikkhu, pikiran ini, dan terbebaskan
dari kekotoran dari luar.”
[Komentar Bhikkhu Bodhi : Teks Pali
hanya menyebutkan “pikiran ini bercahaya,” tanpa kualifikasi. Ini menyiratkan
bahwa kecerahan itu adalah intrinsik pada pikiran itu sendiri, dan bukan pada
jenis peristiwa pikiran itu. Interpretasi paling sederhana dari pernyataan ini,
sejauh yang bisa saya lihat, adalah bahwa kecerahan itu adalah karakteristik
bawaan dari pikiran, dilihat dalam kapasitasnya untuk menerangi bidang
objektifnya. Kecerahan ini, walaupun menjadi sifatnya, secara fungsional
terhalangi karena pikiran “dikotori oleh kekotoran-kekotoran yang datang dari
luar” (āgantukehi upakkilesehi upakkiliṭṭhaṃ).
Kekotoran-kekotoran disebut “datang
dari luar” karena, tidak seperti kecerahan, kekotoran-kekotoran itu tidak
intrinsik pada pikiran itu sendiri. Tentu saja, seperti yang ditegaskan dalam
10:61 dan 10:62, tidak ada “titik awal” bagi ketidak-tahuan dan ketagihan (dan
kekotoran-kekotoran lainnya). Tetapi kekotoran-kekotoran ini dapat dilenyapkan
melalui latihan pikiran.
Dengan pelenyapannya, kecerahan
intrinsik pikiran muncul – atau, lebih tepat lagi, menjadi terwujud. Pernyataan
persis di bawah tentang siswa mulia yang memahami bahwa pikiran adalah bercahaya
menyiratkan bahwa pandangan terang ke dalam kecerahan intrinsik pikiran
berfungsi sebagai landasan bagi latihan pikiran lebih lanjut, yang membebaskan
pikiran dari kekotoran-kekotoran. Dengan pelenyapan kekotoran sepenuhnya, maka kecerahan
intrinsik pikiran bersinar tanpa terhalangi.
Pada 3:102, I 257,7 kata
pabhassara digunakan untuk menggambarkan pikiran (citta) yang telah mencapai
konsentrasi (samādhi). Dengan demikian tampaknya bahwa adalah di dalam samādhi
mendalam maka kecerahan intrinsik pikiran itu muncul, setidaknya untuk
sementara.
5:23, III 16,29 – 17,2
mengatakan secara eksplisit bahwa pikiran yang terbebas dari lima rintangan adalah
bercahaya (pabhassara) dan terkonsentrasi dengan benar pada hancurnya
noda-noda. Baca juga MN III 243,11-12, di mana adalah keseimbangan (upekkhā),
yang diduga adalah jhāna ke empat, yang digambarkan sebagai bercahaya.]
Karena pikirannya jahat, maka mereka merasa
senang dapat berhasil menjahati, melukai, merugikan, dan menyakiti pihak-pihak
maupun makhluk hidup lainnya. Sekalipun, terdapat padangan sebaliknya dalam
Buddhisme, yakni : Penjahat yang beruntung, ialah penjahat yang selalu gagal
menjalankan niat jahatnya. Penjahat yang tidak mujur, ialah penjahat yang
selalu berhasil melancarkan niat jahatnya.
Alih-alih merealisasi keluhuran melampaui manusia
dalam hal pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia, agama samawi
justru membuat umat pemeluknya memelihara dan melestarikan pikiran yang kotor
serta menyimpang, bahkan mencandu pikiran-pikiran kotor demikian—kesemua
ayat-ayat simbolik “SELFISH GENE” (mengikuti arus) berikut dikutip dari
Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar
gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan
Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk
surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi
menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga
berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan
merasa sebagai “polisi moral” yang berhak menceramahi maupun menghakimi kaum
lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling
rendah, hina, dan kotor, namun berdelusi sebagai kaum paling superior yang
memonopoli alam surgawi. Mereka sejatinya merupakan kaum pemalas yang begitu
pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah
manisnya di masa mendatang, dan disaat bersamaan merupakan pengecut yang begitu
pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri.
“Abolition of sins” maupun “cuci dosa”
dipromosikan tanpa tabu ataupun malu lewat pengeras suara, alih-alih
mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun keberanian untuk
bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri. Busuk dan serakahnya jiwa yang
telah dikuasai sepenuhnya oleh “SELFISH GENE” sang “bocah tua berambut
putih” menjadikannya kasta paling rendah dan paling hina, pemeluk “Agama DOSA
dari Kitab DOSA”, dimana noda-noda dan kekotoran batin justru dipelihara dan
dilestarikan dengan rasa bangga, tanpa rasa malu ataupun takut. Agama samawi
paling efektif dalam memelihara sifat kekanak-kanakan (memberi makan dan
nutrisi bagi KEKOTORAN BATIN), dimana juga mengungkap “pikiran berkarat serta
beracun” sang “nabi rasul Allah”—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa
suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni
dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah
menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”
[HR Bukhari Muslim]