Sejahat apakah Māra si Jahat?

Bila Anda merasakan Fenomena Sosial dengan Pola yang Ganjil dan Janggal, Kita Patut Curiga Adanya Keterlibatan “Māra si Jahat dan Penghasut” Dibaliknya

Sejahat apakah Māra? Penulis pernah berulang kali dibuat hampir mati oleh satu orang “manusia jahat yang bersekutu dengan iblis bernama dukun ilmu hitam”. Namun yang paling membuat penulis merasa heran dan tidak dapat memahaminya, orang-orang terdekat penulis sekalipun, tidak mau menolong, juga siapapun itu tidak mau menolong, mengabaikan, seolah mata mereka tertutup tembok tebal yang gelap. Bahkan, dewa pun mengabaikan kejahatan demikian berlangsung selama puluhan tahun. Keanehan tersebut, bukan terjadi untuk satu atau dua kali, namun selalu terjadi selama hampir separuh abad lama usia penulis.

Belakangan, penulis baru mengetahui dari Sutta Pitaka, bahwa itulah ciri khas hasutan “Māra si jahat”. Orang-orang yang tidak mau menolong penulis yang berulang-kali di “ujung tanduk”, mata mereka seolah gelap tanpa mau menyadari kejahatan si pelaku kejahatan yang nyata-nyata dan jelas-jelas berulang-kali mencelakai penulis, karena dihasut dan terhasut oleh Māra. Ibaratnya, kejahatan senyata apapun di depan mata publik, publik seolah tidak melihat adanya kejahatan apapun maupun eksistensi si pelaku kejahatan.

Bahkan, Sang Buddha yang “harmless” sekali pun bisa dicelakai seseorang karena orang yang mencelakai Sang Buddha tersebut dihasut Māra. Ketika suatu fenomena kejadian yang tampak begitu ganjil dan tidak masuk di akal, dengan pola yang selalu berulang, maka kita patut curiga adanya peran keterlibatan Māra si jahat yang menghasut dan membuat “gelap mata” orang-orang yang menjahati kita maupun perilaku orang-orang yang berhadapan / berhubungan dengan kita, semisal tiada seorang pun yang mau menolong, semua mengabaikan kita, semua mengkhianati kita, semua mencelakai kita, dan keanehan ataupun keganjilan lainnya yang sukar diterima dengan akal-sehat akan tetapi dapat kita baca pola keganjilannya.

Adapun salah satu contoh tipikal kejahatan Māra, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

~ SUTTA 50 ~

Māratajjanīya Sutta: Teguran kepada Māra

[332] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Yang Mulia Mahā Moggallāna sedang menetap di negeri Bhagga di Susumāragira di Hutan Bhesakaā, Taman Rusa.

2. Pada saat itu Yang Mulia Mahā Moggallāna sedang berjalan mondar-mandir di ruang terbuka. Dan pada saat itu Māra si Jahat masuk ke dalam perut Yang Mulia Mahā Moggallāna dan memasuki ususnya. Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna mempertimbangkan: “Mengapa perutku menjadi sangat berat? Seseorang akan berpikir bahwa perutku penuh kacang.”

Demikianlah ia meninggalkan jalan setapak itu dan memasuki kediamannya, di mana ia duduk di tempat yang telah tersedia.

3. Ketika ia telah duduk, ia mengerahkan pengamatan penuh pada dirinya, dan melihat bahwa Māra si Jahat telah memasuki perutnya dan masuk ke dalam ususnya. Ketika ia melihat ini, ia berkata: “Keluarlah, Yang Jahat! Jangan mengganggu Sang Tathāgata, jangan menganggu siswa Sang Tathāgata, atau hal ini akan membawamu ke dalam bencana dan penderitaan untuk waktu yang lama.”

4. Kemudian Māra si Jahat berpikir: “Petapa ini tidak mengenali aku, ia tidak melihat aku ketika ia mengatakan itu. Bahkan gurunya tidak akan mengenaliku begitu cepat, bagaimana mungkin siswa ini mengenaliku?”

5. Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna berkata: “Meskipun demikian, aku mengenalimu, Yang Jahat. Jangan berpikir: ‘Ia tidak mengenaliku.’ Engkau adalah Māra, si Jahat, engkau berpikir: ‘Petapa ini tidak mengenali aku, ia tidak melihat aku ketika ia mengatakan itu. Bahkan gurunya tidak akan mengenaliku begitu cepat, bagaimana mungkin siswa ini mengenaliku?’”

6. Kemudian Māra si Jahat berpikir: “Petapa ini mengenali aku, ia melihat aku ketika ia mengatakan itu,” kemudian ia [333] keluar dari mulut Yang Mulia Mahā Moggallāna dan berdiri dengan bersandar pada palang pintu.

7. Yang Mulia Mahā Moggallāna melihatnya berdiri di sana dan berkata: “Aku melihat engkau di sana juga, Yang Jahat. Jangan berpikir: ‘Ia tidak melihatku.’ Engkau sedang berdiri bersandar pada palang pintu, Yang Jahat.

8. “Pernah terjadi suatu ketika, Yang Jahat, aku adalah Māra bernama Dūsi, dan aku memiliki saudara perempuan bernama Kāli. Engkau adalah putranya, maka engkau adalah keponakanku,

[Kitab Komentar : Nama “Dūsi” berarti “Penjahat” atau “Yang Jahat.” Dalam konsep semesta Buddhis, posisi Māra, seperti halnya Mahā Brahmā, adalah posisi yang tetap yang dipegang oleh individu-individu berbeda sesuai dengan kamma mereka.]

9. “Pada saat itu Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, telah muncul di dunia. Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, memiliki sepasang siswa utama yang mulia bernama Vidhura dan Sañjiva. Di antara para siswa Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, tidak ada yang menandingi Yang Mulia Vidhura dalam hal mengajarkan Dhamma. Itulah sebabnya Yang Mulia Vidhura memperoleh nama ‘Vidhura.’ Tetapi Yang Mulia Sañjiva, pergi ke hutan atau ke bawah pohon atau ke gubuk kosong, tanpa kesulitan masuk ke dalam lenyapnya persepsi dan perasaan.

[Kitab Komentar : Kakusandha merupakan Buddha pertama yang muncul dalam siklus kosmis yang sekarang ini, yang disebut “masa keberuntungan.” Beliau diikuti oleh Buddha Konagamaa dan Kassapa, dan setelahnya adalah kemunculan Buddha Gotama yang sekarang ini.

Nama “Vidhura” berarti “Yang tanpa banding”.]

10. “Pernah terjadi pada suatu ketika, Yang Mulia Sañjiva telah duduk di bawah sebatang pohon dan memasuki lenyapnya persepsi dan perasaan. Beberapa orang penggembala sapi, penggembala kambing, pembajak sawah, dan pengembara melihat Yang Mulia Sañjiva sedang duduk di bawah pohon setelah memasuki lenyapnya persepsi dan perasaan, dan mereka berpikir: ‘Sungguh mengagumkan, tuan-tuan, sungguh menakjubkan! Petapa ini mati sambil duduk. Mari kita mengkremasinya.’ Kemudian para penggembala sapi, penggembala kambing, pembajak sawah, dan pengembara itu mengumpulkan rumput, kayu, dan kotoran sapi, dan setelah menumpuknya di atas tubuh Yang Mulia Sañjiva, mereka membakarnya dan pergi.

11. “Sekarang, Yang Jahat, ketika malam telah berlalu, Yang Mulia Sañjiva keluar dari pencapaian itu. Ia mengibaskan jubahnya, karena hari telah pagi, ia merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, ia memasuki desa untuk menerima dana makanan. Para penggembala sapi, penggembala kambing, pembajak sawah, dan pengembara melihat Yang Mulia Sañjiva berjalan menerima dana makanan, dan mereka berpikir: ‘Sungguh mengagumkan, tuan-tuan, sungguh menakjubkan! Petapa ini yang mati sambil duduk telah hidup kembali!’ [334] Itulah sebabnya Yang Mulia Sañjiva memperoleh nama ‘Sañjiva.’

[Kitab Komentar : Seorang yang telah memiliki pencapaian kekuatan batin merealisasi lenyapnya persepsi dan perasaan, sepertinya, tidak akan mengalami luka atau kematian di dalam pencapaian itu sendiri. Pada Visuddhimagga XXIII, 37 dikatakan bahwa pencapaian itu melindungi bahkan benda-benda miliknya seperti jubah dan tempat duduknya dari kehancuran.

Nama “Sañjiva” berarti “Yang selamat”.]

12. “Kemudian, Yang Jahat, Māra Dūsi mempertimbangkan: ‘terdapat para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik ini, tetapi aku tidak mengetahui kedatangan dan kepergian mereka. Aku akan menguasai para brahmana perumah-tangga, dengan mengatakan kepada mereka: “Marilah, caci, maki, cela, dan ganggulah para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik; dan mungkin ketika mereka dicaci, dimaki, dicela, dan digoda oleh kalian, beberapa perubahan akan terjadi dalam pikiran mereka di mana Māra Dūsi akan memperoleh kesempatan.”’

[Kitab Komentar : Māra berupaya “memancing di air keruh”, berharap agar para bhikkhu yang diperlakukan buruk oleh warga, akan memperlihatkan “noda-noda kekotoran batin” dalam pikiran mereka, noda-noda mana akan mencegah mereka membebaskan diri dari sasāra. Itu menyerupai “perang proxy”, dimana pihak yang sebetulnya menjadi target utama godaan Māra ialah para bhikkhu.]

13. “Kemudian, Yang Jahat, Māra Dūsi menguasai para brahmana perumah-tangga, dengan mengatakan kepada mereka: ‘Marilah, caci, maki, cela, dan ganggulah para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik; dan mungkin ketika mereka dicaci, dimaki, dicela, dan diganggu oleh kalian, beberapa perubahan akan terjadi dalam pikiran mereka di mana Māra Dūsi akan memperoleh kesempatan.’ Kemudian, ketika Māra Dūsi telah menguasai para brahmana perumah-tangga, mereka mencaci, memaki, mencela, dan mengganggu para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik sebagai berikut: ‘Para petapa berkepala gundul ini, budak-budak berkulit gelap keturunan kaki Leluhur, mengaku: “Kami adalah meditator, kami adalah meditator!” dan dengan bahu membungkuk, kepala menunduk, dan seluruh tubuh lemas, mereka bermeditasi, mengulangi meditasi, bermeditasi lebih baik lagi, dan bermeditasi secara keliru. Seperti halnya seekor burung hantu yang menghinggapi sebuah dahan menunggu seekor tikus, bermeditasi, mengulangi meditasi, bermeditasi lebih baik lagi, dan bermeditasi secara keliru, atau seperti halnya seekor serigala di tepi sungai menunggu ikan, bermeditasi, mengulangi meditasi, bermeditasi lebih baik lagi, dan bermeditasi secara keliru, atau seperti halnya seekor kucing, menunggu seekor tikus di lorong atau saluran pembuangan atau tempat sampah, bermeditasi, mengulangi meditasi, bermeditasi lebih baik lagi, dan bermeditasi secara keliru, atau seperti halnya seekor keledai yang tanpa beban, berdiri di dekat tiang pintu atau tempat sampah atau saluran pembuangan, bermeditasi, mengulangi meditasi, bermeditasi lebih baik lagi, dan bermeditasi secara keliru, demikian pula, Para petapa berkepala gundul ini, budak-budak berkulit gelap keturunan kaki Leluhur, mengaku: “Kami adalah meditator, kami adalah meditator!” dan dengan bahu membungkuk, kepala menunduk, dan seluruh tubuh lemas, mereka bermeditasi, mengulangi meditasi, bermeditasi lebih baik lagi, dan bermeditasi secara keliru.’ Sekarang, Yang Jahat, pada masa itu sebagian besar manusia, ketika mati, muncul kembali setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, dalam kondisi buruk, di alam yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka. [335]

[Kitab Komentar bersusah-payah menunjukkan bahwa Māra tidak mengerahkan kekuatan untuk mengendalikan perbuatan mereka, yang mana jika demikian maka ia sendiri yang akan bertanggung jawab dan para brahmana tidak menghasilkan kamma buruk karena perbuatan itu. Sebaliknya, Māra membuat para brahmana membayangkan gambaran para bhikkhu yang terlibat dalam perilaku yang tidak selayaknya, dan ini membangkitkan kebencian mereka dan memicu mereka untuk menggoda para bhikkhu itu. Niat Māra dalam melakukan hal itu adalah untuk membangkitkan kemarahan dan kekesalan para bhikkhu.

“Leluhur” (bandhu) adalah Brahmā, yang disebut demikian oleh para brahmana karena mereka menganggapnya sebagai leluhur pertama. Kitab Komentar menjelaskan bahwa adalah kepercayaan di antara para brahmana bahwa mereka adalah keturunan mulut Brahmā, khattiya adalah keturunan dada Brahmā, vessa dari perut, sudda dari kaki, dan samaa dari telapak kaki.

Jhāyanti pajjhāyanti nijjhāyanti apajjhāyanti, “bermeditasi, mengulangi meditasi, bermeditasi lebih baik lagi, dan bermeditasi secara keliru”. Walaupun kata kerja ini secara berdiri sendiri tidak memiliki makna negatif, rangkaian ini jelas dimaksudkan sebagai penurunan. Pada Majjhima Nikāya 108.26 empat kata kerja ini digunakan untuk menggambarkan meditasi seseorang yang pikirannya dikuasai oleh lima rintangan.]

14. “Kemudian Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: ‘Para bhikkhu, Māra Dūsi telah menguasai para brahmana perumah-tangga dengan mengatakan kepada mereka: “Marilah, caci, maki, cela, dan ganggulah para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik; dan mungkin ketika mereka dicaci, dimaki, dicela, dan diganggu oleh kalian, beberapa perubahan akan terjadi dalam pikiran mereka di mana Māra Dūsi akan memperoleh kesempatan.” Ayo, para bhikkhu, berdiamlah dengan meliputi satu arah dengan pikiran yang penuh cinta kasih, demikian pula dengan arah ke dua, demikian pula dengan arah ke tiga, demikian pula dengan arah ke empat; ke atas, ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala penjuru, dan kepada semua makhluk seperti kepada diri kalian sendiri, berdiamlah dengan meliputi seluruh dunia dengan pikiran penuh cinta kasih, berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan. Berdiamlah dengan meliputi satu arah dengan pikiran penuh belas kasih … dengan pikiran penuh dengan kegembiraan altruistik … dengan pikiran penuh dengan keseimbangan … berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.’

[Kitab Komentar : Empat brahmavihāra adalah penawar (objek meditasi) yang tepat bagi permusuhan pada orang lain, serta bagi kecenderungan pada kemarahan dan kekesalan dalam pikiran seseorang.]

15. “Maka, Yang Jahat, ketika para bhikkhu itu telah dinasihati dan diberi instruksi oleh Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, kemudian, pergi ke hutan atau ke bawah pohon atau ke gubuk kosong, mereka berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran yang penuh dengan cinta kasih … dengan pikiran yang penuh dengan belas kasih … dengan pikiran yang penuh dengan kegembiraan altruistik … dengan pikiran yang penuh dengan keseimbangan … tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.

16. “Kemudian, si Jahat, Māra Dūsi mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Walaupun aku melakukan seperti apa yang sedang kulakukan, namun aku masih tidak mengetahui kedatangan dan kepergian para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik ini. Aku akan menguasai para brahmana perumah-tangga, dengan mengatakan kepada mereka: “Marilah sekarang, hormati, hargai, sembah, dan muliakanlah para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik; [336] dan mungkin, ketika mereka dihormati, dihargai, disembah, dan dimuliakan oleh kalian, beberapa perubahan akan terjadi dalam pikiran mereka di mana Māra Dūsi akan memperoleh kesempatan.”’

[Kitab Komentar : Kali ini Māra berniat untuk menjatuhkan para bhikkhu dalam kesombongan, kepuasan, dan kelengahan. Namun, Māra akan mendapati para bhikkhu yang menjadi target utamanya telah ternyata telah merealisasi “keseimbangan batin”.]

17. “Kemudian, Yang Jahat, Māra Dūsi menguasai para brahmana perumah-tangga, dengan mengatakan kepada mereka: ‘Marilah sekarang, hormati, hargai, sembah, dan muliakanlah para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik; dan mungkin, ketika mereka dihormati, dihargai, disembah, dan dimuliakan oleh kalian, beberapa perubahan akan terjadi dalam pikiran mereka di mana Māra Dūsi akan memperoleh kesempatan.’ Kemudian, ketika Māra Dūsi telah menguasai para brahmana perumah-tangga, mereka menghormati, menghargai, menyembah, dan memuliakan para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik itu. Sekarang, Yang Jahat, pada masa itu sebagian besar manusia, ketika mati, muncul kembali setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, dalam kondisi bahagia, bahkan di alam surga.

18. “Kemudian Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: ‘Para bhikkhu, Māra Dūsi telah menguasai para brahmana perumah-tangga dengan mengatakan kepada mereka: “Marilah sekarang, hormati, hargai, sembah, dan muliakanlah para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik; dan mungkin, ketika mereka dihormati, dihargai, disembah, dan dimuliakan oleh kalian, beberapa perubahan akan terjadi dalam pikiran mereka di mana Māra Dūsi akan memperoleh kesempatan.” Ayo, para bhikkhu, berdiamlah dengan merenungkan kejijikan dalam jasmani, melihat kejijikan dalam makanan, merasakan kekecewaan terhadap segalanya di dunia, merenungkan ketidak-kekalan dalam segala bentukan.’

[Kitab Komentar mengutip sebuah sutta dari Anguttara Nikāya 7:46/iv.46-53, yang menyebutkan bahwa objek meditasi berupa empat perenungan demikian adalah penawar, berturut-turut, bagi keinginan indria, ketagihan pada rasa kecapan, ketertarikan pada dunia, dan ketergila-gilaan pada perolehan, kehormatan, dan pujian, termasuk keinginan terhadap penjelmaan-kembali.]

19. “Maka, Yang Jahat, ketika para bhikkhu itu telah dinasihati dan diberi instruksi oleh Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, kemudian, pergi ke hutan atau ke bawah pohon atau ke gubuk kosong, mereka berdiam dengan merenungkan kejijikan dalam jasmani, melihat kejijikan dalam makanan, merasakan kekecewaan terhadap segalanya di dunia, merenungkan ketidak-kekalan dalam segala bentukan.

20. “Kemudian, pada pagi harinya, Sang Bhagavā Kakusandha, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarNya, ia pergi ke desa untuk menerima dana makanan dengan Yang Mulia Vidhura sebagai pelayanNya.

21. “Kemudian Māra Dūsi menguasai seorang anak, dan dengan mengambil sebongkah batu, ia melempari Yang Mulia Vidhura di kepalanya dengan batu itu dan melukai kepalanya. Dengan darah menetes dari kepalanya yang terluka, [337] Yang Mulia Vidhura mengikuti persis di belakang Sang Bhagavā Kakusandha yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Kemudian Sang Bhagavā Kakusandha yang sempurna dan tercerahkan sempurna, berbalik dan melihatnya dengan tatapan gajah: ‘Māra Dūsi ini tidak mengenal batas.’ Dan dengan tatapan itu, si Jahat, Māra Dūsi jatuh dari tempat itu dan muncul kembali di Neraka Besar.

[Kitab Komentar : Tatapan gajah (nāgapalokita) berarti bahwa tanpa menggerakkan leher, ia memutar seluruh tubuhnya untuk menatap. Māra Dūsi bukan mati karena tatapan gajah Sang Buddha melainkan karena kamma buruk yang ia hasilkan dalam menyerang seorang siswa utama yang memotong kehidupannya pada saat itu juga.]

22. “Sekarang, Yang Jahat, ada tiga sebutan bagi Neraka Besar: neraka enam landasan kontak, neraka tusukan tombak, dan neraka yang dirasakan untuk diri sendiri. Kemudian, Yang Jahat, penjaga neraka mendatangiku dan berkata: ‘Tuan, ketika tombak bertemu tombak di jantungmu, maka engkau akan tahu: “Aku sudah terpanggang di neraka selama seribu tahun.”’

[Kitab Komentar : Neraka Besar, juga disebut Avīci, dijelaskan secara lengkap dalam Majjhima Nikāya 130, Devadūta Sutta, paragraf nomor ke-16—19, dengan kutipan sabda Sang Buddha sebagai berikut:

16. “Kemudian para penjaga neraka melemparnya ke dalam Neraka Besar. Sekarang sehubungan dengan Neraka Besar, para bhikkhu:

Neraka ini memiliki empat sudut dan dibangun

Dengan empat pintu, satu di setiap sisinya,

Terbatasi dinding terbuat dari besi dan mengelilinginya

Dan ditutup dengan atap besi.

Lantainya juga terbuat dari besi

Dan dipanaskan dengan api hingga berpijar

Luasnya seratus liga

Yang mencakup seluruh wilayah itu.

17. “Sekarang lidah api yang menyambar dari tembok timur mengenai tembok barat. Lidah api yang menyambar dari tembok barat mengenai [184] tembok timur. Lidah api yang menyambar dari tembok utara mengenai tembok selatan. Lidah api yang menyambar dari tembok selatan mengenai tembok utara. Lidah api yang menyambar dari lantai mengenai atap. Lidah api yang menyambar dari atap mengenai lantai. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.

18. “Pada suatu saat, para bhikkhu, di akhir suatu masa yang lama, pintu timur Neraka Besar itu terbuka. Ia berlari menuju pintu itu, melangkah dengan cepat. Ketika berlari itu, kulit luarnya terbakar, kulit dalamnya terbakar, dagingnya terbakar, uratnya terbakar, tulangnya berasap; dan hal yang sama terjadi ketika kakinya diangkat. Ketika akhirnya ia mencapai pintu itu, pintu itu tertutup. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.

“Pada suatu saat, di akhir suatu masa yang lama, pintu barat Neraka Besar itu terbuka ... pintu utara Neraka Besar itu terbuka ... pintu selatan Neraka Besar itu terbuka. Ia berlari menuju pintu itu, melangkah dengan cepat ... Ketika akhirnya ia mencapai pintu itu, pintu itu tertutup. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.

19. “Pada suatu saat, para bhikkhu, di akhir suatu masa yang lama, pintu timur Neraka Besar itu terbuka. Ia berlari menuju pintu itu, melangkah dengan cepat. Ketika berlari itu, kulit luarnya terbakar, kulit dalamnya terbakar, dagingnya terbakar, uratnya terbakar, tulangnya berasap; dan hal yang sama terjadi ketika kakinya diangkat. Ia keluar melalui pintu itu.

20. “Persis di sebelah Neraka Besar [185] adalah Neraka Kotoran yang luas. Ia terjatuh ke dalam neraka itu. Di dalam Neraka Kotoran itu makhluk-makhluk bermulut jarum mengebor kulit luarnya dan mengebor kulit dalamnya dan mengebor dagingnya dan mengebor uratnya dan mengebor tulangnya dan melahap sumsumnya. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.

21. “Persis di sebelah Neraka Kotoran adalah Neraka Bara Api Panas yang luas. Ia terjatuh di sana. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.

22. “Persis di sebelah Neraka Bara Api Panas adalah Hutan Pepohonan Simbali yang luas, tingginya satu liga, berduri dengan duri-duri sepanjang enam belas lebar jari, yang terbakar, menyala, dan berpijar. Mereka menyuruhnya memanjat pepohonan itu naik dan turun. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.

23. “Persis di sebelah Hutan Pepohonan Simbali adalah Hutan Daun-pedang yang luas. Ia masuk ke sana. Dedaunannya, digerakkan oleh angin, memotong tangannya dan memotong kakinya dan memotong tangan dan kakinya; memotong telinganya dan memotong hidungnya dan memotong telinga dan hidungnya. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.

24. “Persis di sebelah Hutan Daun-pedang adalah sungai besar berair tajam membakar. Ia terjatuh di sana. di sana ia tersapu mengikuti arus dan melawan arus dan mengikuti-sekaligus-melawan arus. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.

25. “Kemudian para penjaga neraka menariknya dengan kail, [186] dan menaikkannya ke atas tanah, mereka bertanya kepadanya: ‘Apa yang engkau inginkan?’ Ia berkata: ‘Aku lapar, Tuan-tuan.’ Kemudian para penjaga neraka membuka paksa mulutnya dengan penjepit besi yang panas membara, yang terbakar, menyala, dan berpijar, dan mereka memasukkan bola besi yang panas membara, yang terbakar, menyala, dan berpijar ke dalam mulutnya, bola besi itu membakar tenggorokannya, membakar perutnya, dan menerobos keluar melalui bawah membawa usus dan selaput pengikat organ dalam tubuhnya. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.

26. “Kemudian para penjaga bertanya kepadanya: ‘Apa yang engkau inginkan?’ ia berkata: ‘Aku haus, Tuan-tuan.’ Kemudian para penjaga neraka membuka paksa mulutnya dengan penjepit besi yang panas membara, yang terbakar, menyala, dan berpijar, dan mereka menuangkan tembaga cair yang terbakar, menyala, dan berpijar ke dalam mulutnya. Tembaga itu membakar bibirnya, membakar mulutnya, membakar tenggorokannya, membakar perutnya, dan menerobos keluar melalui bawah membawa usus dan selaput pengikat organ dalam tubuhnya. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.

27. “Kemudian para penjaga neraka melemparnya kembali ke dalam Neraka Besar.

29. “Para bhikkhu, Aku mengatakan hal ini kepada kalian bukan sebagai sesuatu yang Kudengar dari petapa atau brahmana lain. Aku mengatakan hal ini kepada kalian sebagai sesuatu yang sebenarnya diketahui, dilihat, dan ditemukan olehKu sendiri.]

23. “Selama bertahun-tahun, Yang Jahat, selama berabad-abad, selama ribuan tahun, aku terpanggang di Neraka Besar. Selama sepuluh milenium aku terpanggang di Neraka Besar tambahan, mengalami perasaan yang disebut neraka yang muncul dari kematangan. Tubuhku berbentuk sama dengan tubuh manusia, Yang Jahat, tetapi kepalaku menyerupai kepala ikan.

[Kitab Komentar : “Perasaan yang disebut neraka yang muncul dari kematangan” ini, yang dialami dalam tambahan (ussada) dari Neraka Besar, dikatakan lebih menyakitkan daripada perasaan yang dialami dalam Neraka Besar itu sendiri.]

24. “Bagaimanakah neraka dapat diperbandingkan

Di mana Dūsi terpanggang, si penyerang

Vidhura Sang Siswa

Dan Sang Brahmana Kakusandha?

[Kitab Komentar : Buddha Kakusandha disebut Brahmana dalam makna seperti pada Majjhima Nikāya 39.24.]

Tombak-tombak baja, bahkan berjumlah seratus,

Masing-masing diderita secara terpisah;

Dengan inilah neraka itu dapat diperbandingkan

Di mana Dūsi terpanggang, si penyerang

Vidhura Sang Siswa

Dan Sang Brahmana Kakusandha.

Yang Gelap, engkau akan sangat menderita

Dengan menyerang seorang bhikkhu demikian,

Seorang siswa dari Yang Tercerahkan

Yang secara langsung mengetahui fakta ini.

25. “Di tengah samudra

Terdapat istana-istana yang bertahan selama satu kappa,

Bersinar safir, memancarkan api

Dengan kilauan jernih yang tembus pandang,

Di mana bidadari laut warna-warni menari

Dalam irama yang rumit dan sulit diikuti

Yang Gelap, engkau akan sangat menderita …

Yang secara langsung mengetahui fakta ini.

26. “Aku adalah seorang yang, ketika dinasihati

Oleh Yang Tercerahkan secara pribadi,

Mengguncang Istana Ibunya Migāra

Dengan jari kaki, dengan disaksikan oleh Sagha.

[Kitab Komentar : Referensinya adalah pada Sayutta Nikāya 51:14/v.269-70.]

Yang Gelap, engkau akan sangat menderita …

Yang secara langsung mengetahui fakta ini.

27. “Aku adalah seorang yang, secara kokoh mengerahkan

Kekuatan batin,

Mengguncang seluruh Istana Vejayanta

Dengan jari kaki untuk mendorong para dewa: [338]

[Kitab Komentar : Peristiwa ketika Moggallāna mengunjungi istana dewa di alam dewata dan memberikan teguran kepada para dewa, dapat dibaca pada Majjhima Nikāya Sutta 37.11, berupa kutipan ayat berikut dari Cūatahāsankhaya Sutta:

“Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna mempertimbangkan sebagai berikut: “Makhluk-makhluk ini hidup dengan sangat lalai. Bagaimana jika aku membangkitkan dorongan spiritual yang mengesankan dalam dirinya?” Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna melakukan keajaiban dengan kekuatan batinnya sehingga dengan ujung jari kakinya ia membuat Istana Vejayanta bergoyang, berguncang dan bergetar. Sakka dan Raja Dewa Vessavaa dan para dewa Tiga Puluh Tiga merasa kagum dan takjub, dan mereka berkata: “Tuan-tuan, sangat mengagumkan, sangat menakjubkan, sungguh petapa itu memiliki kekuatan dan kesaktian, sehingga dengan ujung jari kakinya ia membuat Istana alam surga ini, berguncang dan bergetar!”]

Yang Gelap, engkau akan sangat menderita …

Yang secara langsung mengetahui fakta ini.

28. “Aku adalah seorang yang, di Istana itu

Mengajukan pertanyaan ini kepada Sakka:

‘Tahukah engkau, teman, kebebasan

Dalam hancurnya ketagihan sepenuhnya?’

Yang mana Sakka menjawab dengan benar

Sesuai dengan pertanyaan yang diajukan kepadanya:

[Kitab Komentar : Merujuk Majjhima Nikāya sutta 37.12, Cūatahāsankhaya Sutta, berupa kutipan ayat berikut:

“Ketika Yang Mulia Mahā Moggallāna mengetahui bahwa Sakka, penguasa para dewa, telah tergerak oleh dorongan spiritual yang mengesankan, ia bertanya kepadanya: “Kosiya, bagaimanakah Sang Bhagavā menjelaskan kepadamu secara ringkas mengenai kebebasan dalam hancurnya ketagihan? Baik sekali jika kami juga mendengarkan pernyataan itu.”

“Tuan Moggallāna yang baik, aku mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah memberi hormat kepada Beliau, aku berdiri di satu sisi dan berkata: ‘Yang Mulia, bagaimanakah secara ringkas seorang bhikkhu terbebaskan dalam hancurnya ketagihan, seorang yang telah mencapai akhir tertinggi, keamanan tertinggi dari belenggu, kehidupan suci tertinggi, tujuan tertinggi, seorang yang terkemuka di antara para dewa dan manusia?” Ketika hal ini dikatakan, Tuan Moggallāna yang baik, Sang Bhagavā memberitahuku: ‘Di sini, penguasa para dewa, seorang bhikkhu telah mendengar bahwa tidak ada yang layak dilekati. Ketika seorang bhikkhu telah mendengar bahwa tidak ada yang layak dilekati, ia secara langsung sepenuhnya mengetahui segala sesuatu; setelah sepenuhnya mengetahui segala sesuatu, ia sepenuhnya memahami segala sesuatu; setelah sepenuhnya memahami segala sesuatu, apapun perasaan yang ia rasakan, apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan, ia berdiam dengan merenungkan ketidak-kekalan dalam perasaan-perasaan itu, merenungkan peluruhannya, merenungkan lenyapnya, merenungkan pelepasannya. Dengan merenungkan demikian, ia tidak melekat pada apapun di dunia. Ketika ia tidak melekat, ia tidak terganggu. Ketika ia tidak terganggu, ia secara pribadi mencapai Nibbāna. Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’ Secara ringkas, dengan cara inilah, penguasa para dewa, bahwa seorang bhikkhu terbebaskan dalam hancurnya ketagihan, seorang yang telah mencapai akhir tertinggi, keamanan tertinggi dari belenggu, kehidupan suci tertinggi, tujuan tertinggi, seorang yang terkemuka di antara para dewa dan manusia.’ Demikianlah bagaimana Sang Bhagavā menjelaskan kepadaku secara ringkas mengenai kebebasan dalam hancurnya keinginan, Tuan Moggallāna.”]

Yang Gelap, engkau akan sangat menderita …

Yang secara langsung mengetahui fakta ini.

29. “Aku adalah seorang yang, terpikir untuk mengajukan

Pertanyaan ini kepada Brahmā

Di Aula Suddhama di surga:

‘Masih adakah padamu, teman,

Pandangan salah yang pernah engkau terima?

Apakah engkau melihat cahaya

Yang melampaui cahaya alam Brahmā?’

Kemudian Brahmā menjawab pertanyaanku

Dengan jujur dan sesuai urutan:

‘Tidak ada lagi padaku,

Tuan, pandangan salah yang pernah kugenggam;

Sungguh aku melihat cahaya

Yang melampaui cahaya alam Brahmā.

Sekarang bagaimana mungkin aku mempertahankan

Bahwa aku adalah kekal dan abadi?’:

[Kitab Komentar : Referensi kisah kejadiannya adalah pada Sayutta Nikāya 6:5/i.145.]

Yang Gelap, engkau akan sangat menderita …

Yang secara langsung mengetahui fakta ini.

30. “Aku adalah seorang yang, dengan kebebasan,

Telah menyentuh puncak Gunung Sineru,

Mengunjungi hutan Pubbavidehi

Dan manusia manapun yang mendiami bumi.

[Kitab Komentar : Syair tersebut merujuk pada kemampuan Yang Mulia Moggallāna dalam mengerahkan kekuatan batin terbang di angkasa seperti burung.]

Yang Gelap, engkau akan sangat menderita

Dengan menyerang seorang bhikkhu demikian,

Seorang siswa dari Yang Tercerahkan

Yang secara langsung mengetahui fakta ini.

31. “Tidak pernah ada api

Yang berniat, ‘aku akan membakar si dungu,’

Tetapi si dungu yang menyerang api

Membakar dirinya dengan perbuatannya sendiri

Demikian pula engkau, O Māra:

Dengan menyerang Sang Tathāgata,

Bagaikan si dungu yang bermain api

Engkau hanya akan membakar dirimu sendiri.

Dengan menyerang Sang Tathāgata,

Engkau menghasilkan banyak keburukan.

Yang Jahat, apakah engkau membayangkan

Bahwa kejahatanmu tidak akan matang?

Dengan melakukan demikian, engkau menimbun kejahatan

Yang akan bertahan lama, O Pembuat-Akhir!

Māra, menjauhlah dari Yang Tercerahkan,

Jangan lagi memainkan tipuanmu pada para bhikkhu.”

Demikianlah bhikkhu itu menyadarkan Māra

Dalam belantara Bhesakaā

Kemudian makhluk gelap itu

Lenyap di sana pada saat itu juga