Nabi Rasul Allah Masih Belum Berhenti Berbuat Kejahatan, Ia seorang PENDOSA PECANDU-BERAT PENGHAPUSAN DOSA
Question
: Bila nabinya umat muslim yang bernama muhammad,
berjumpa dengan Sang Buddha Gotama, maka apakah kira-kira yang akan dikatakan
oleh Sang Buddha terhadap nabi yang gila “memerangi dan menumpahkan darah
manusia” dengan pedangnya yang berlumuran darah itu? Ciri khas watak muslim,
akibat memakan dan termakan ajaran islam, ialah kerap “menyelesaikan setiap masalah
dengan kekerasan fisik” serta “haus pertumpahan darah”, dimana anak kandung
sendiri pun disembelih demi bisa bersenang-senang dengan puluhan bidadari
berdada-montok di surga (selfish motive, “EGO”).
Brief
Answer : Sama seperti apa yang
dikatakan oleh Sang Buddha kepada Angulimāla, yang tangannya berlumuran darah
sebelum kemudian dijinakkan secara tanpa kekerasan oleh Sang Buddha. Kita tahu
bahwa “nabi rasul allah” mengumandangkan peperangan terhadap kaum NONmuslim,
dengan menggunakan pedang dan pertumpahan darah, sebagaimana ajaran islam
berikut:
“Saya diperintahkan untuk memerangi
manusia hingga mereka
mengucapkan TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH
DAN BAHWA MUHAMMAD RASUL ALLAH, menghadap kiblat kami, memakan sembelihan kami,
dan melakukan shalat dengan kami. Apabila mereka melakukan hal tersebut, niscaya
kami diharamkan MENUMPAHKAN
DARAH dan MERAMPAS HARTA mereka.” [Hadist Tirmidzi No.
2533]
“Berhenti, Petapa! Berhenti, Petapa!” seru
sang “nabi haus darah”, sembari mengayunkan pedangnya yang terhunus, menunggangi
unta berpunuk mengejar Sang Buddha.
“Aku telah berhenti,
Angulimāla, Engkau juga berhentilah.”
“Selagi engkau berjalan, petapa, engkau berkata bahwa engkau telah
berhenti; Tetapi sekarang, ketika aku telah berhenti, engkau berkata bahwa aku
belum berhenti. Aku bertanya kepadamu, O Petapa, mengenai maknanya: Bagaimanakah bahwa
Engkau telah berhenti dan aku belum?”
“Angulimāla, Aku
telah berhenti untuk selamanya, Aku menghindari kekerasan terhadap
makhluk-makhluk hidup; Tetapi engkau tidak memiliki pengendalian terhadap
segala sesuatu yang hidup: Itulah mengapa Aku telah berhenti dan engkau belum.”
PEMBAHASAN:
“Nabi rasul allah” adalah
kuda-liar yang belum dijinakkan, dimana Allah telah ternyata gagal menjinakkan “nabi”
utusan-nya sendiri, sebagaimana puluhan nabi telah diutus namun tiada satupun
maksiat paling primitif yang berhasil diberantas hingga punah—justru
sebaliknya, para umatnya mabuk serta kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”—sebagaimana dapat
kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima
Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A
Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by
Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
SUTTA
86
Angulimāla
Sutta : Tentang Angulimāla
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
2. Pada saat itu terdapat seorang penjahat di wilayah kerajaan Raja
Pasenadi dari Kosala bernama Angulimāla, yang adalah seorang pembunuh,
bertangan darah, kejam, tanpa belas kasih terhadap makhluk-makhluk hidup.
Desa-desa, kota-kota, [98] dan wilayah-wilayah dihancurkan olehnya. Ia
terus-menerus membunuh orang dan ia menggunakan jari korbannya sebagai kalung.
[Kitab Komentar : Nama “Angulimāla” adalah julukan
yang berarti “si kalung (mālā) jari (anguli).” Ia adalah putera
Brahmana Bhaggava, seorang penasehat Raja Pasenadi Kosala. Nama aslinya adalah
Ahiṁsaka, yang berarti “yang tidak berbahaya.” Ia belajar di Takkasila, di
mana ia menjadi murid kesayangan gurunya. Teman-teman murid lainnya, karena iri
padanya, melaporkan kepada sang guru bahwa Ahiṁsaka telah berselingkuh dengan istrinya. Sang guru,
berniat untuk menghancurkan Ahiṁsaka, memerintahkannya untuk membawakan seribu jari
tangan kanan manusia sebagai upah.
Ahiṁsaka menetap di hutan Jālini, menyerang para pejalan
kaki, memotong satu jari mereka, dan mengalungkannya di lehernya. Pada saat
dimulainya Sutta, ia kekurangan satu dari seribu dan ia bertekad untuk membunuh
orang berikutnya yang datang.
Sang Buddha melihat bahwa ibu Angulimāla sedang
dalam perjalanan untuk mengunjunginya, dan mengetahui bahwa Angulimāla memiliki
kondisi pendukung untuk mencapai kesucian Arahant, Beliau mencegatnya sesaat
sebelum ibunya tiba.
Membunuh ibu adalah satu dari lima kejahatan berat
yang mengakibatkan kelahiran di alam neraka. Demikianlah Sang Buddha menyela
untuk mencegah Angulimāla melakukan kejahatan ini.]
3. Kemudian, pada suatu pagi hari, Sang Bhagavā merapikan jubah, dan
dengan membawa mangkuk dan jubah luarNya, pergi ke Sāvatthī untuk menerima dana
makanan. Setelah berkeliling menerima dana makanan di Sāvatthī dan telah
kembali dari perjalanan itu, setelah makan Beliau merapikan tempat tinggalNya,
dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, berjalan ke arah Angulimāla.
Para penggembala sapi, penggembala kambing, para pekerja bajak, dan para
pejalan kaki melihat Sang Bhagavā berjalan di jalan yang menuju Angulimāla dan
memberitahu Beliau: “Jangan melewati jalan ini, Petapa. Di jalan ini, ada
penjahat bernama Angulimāla, yang adalah seorang pembunuh, bertangan darah,
kejam, tanpa belas kasih terhadap makhluk-makhluk hidup. Desa-desa, kota-kota,
dan wilayah-wilayah dihancurkan olehnya. Ia terus-menerus membunuh orang dan ia
menggunakan jari korbannya sebagai kalung. Orang-orang melewati jalan ini dalam
rombongan berjumlah sepuluh, dua puluh, tiga puluh, dan bahkan empat puluh,
tetapi mereka masih jatuh ke tangan Angulimāla.” Ketika ini diucapkan, Sang
Bhagavā berlalu sambil berdiam diri.
Untuk ke dua kalinya … Untuk ke tiga kalinya para penggembala sapi,
penggembala kambing, para pekerja bajak, dan para pejalan kaki memberitahu hal
ini kepada Sang Bhagavā, namun Sang Bhagavā tetap berlalu sambil berdiam diri.
4. Dari jauh penjahat Angulimāla melihat Sang Bhagavā datang. Ketika ia
melihat Beliau, ia berpikir: “Sungguh menakjubkan, sungguh mengagumkan!
Orang-orang melewati jalan ini dalam rombongan berjumlah sepuluh, dua puluh,
[99] tiga puluh, dan bahkan empat puluh, tetapi mereka masih jatuh ke tanganku.
Tetapi sekarang petapa ini datang sendirian, tanpa teman, seolah-olah
memaksakan diri. Mengapa aku tidak mengambil nyawa petapa ini?” Angulimāla
kemudian mengambil pedang dan tamengnya, mengikat busur dan sarung anak panah, dan
mengikuti persis di belakang Sang Bhagavā.
5. Kemudian Sang Bhagavā mengerahkan kekuatan batinNya sehingga penjahat
Angulimāla, walaupun berlari secepat yang ia mampu, namun tidak dapat
mengejar Sang Bhagavā, yang berjalan dengan kecepatan biasa. Kemudian
penjahat Angulimāla berpikir: “Sungguh menakjubkan, sungguh mengagumkan! Sebelumnya
aku bahkan mampu mengejar gajah yang tercepat dan menangkapnya; aku bahkan
mampu mengejar kuda yang tercepat dan menangkapnya; aku bahkan mampu mengejar kereta
yang tercepat dan menangkapnya; aku bahkan mampu mengejar rusa yang tercepat
dan menangkapnya; tetapi sekarang, walaupun aku berlari secepat yang aku
mampu, namun tidak dapat mengejar Petapa ini, yang berjalan dengan kecepatan
biasa!” Ia berhenti dan berteriak kepada Sang Bhagavā: “Berhenti, Petapa!
Berhenti, Petapa!”
“Aku
telah berhenti, Angulimāla, Engkau juga berhentilah.”
Kemudian Penjahat Angulimāla berpikir: “Para Petapa ini, putera-putera
suku Sakya, mengatakan yang sebenarnya, menegaskan kebenaran; tetapi
walaupun petapa ini masih berjalan, ia mengatakan: ‘Aku telah berhenti,
Angulimāla, Engkau juga berhentilah.’ Aku akan menanyai petapa ini.”
6. Kemudian Penjahat Angulimāla berkata kepada Sang Bhagavā dalam syair
sebagai berikut:
“Selagi engkau berjalan, petapa, engkau berkata bahwa
engkau
telah berhenti;
Tetapi sekarang, ketika aku telah berhenti, engkau berkata
bahwa
aku belum berhenti.
Aku bertanya kepadamu, O Petapa, mengenai maknanya:
Bagaimanakah bahwa Engkau
telah berhenti dan aku belum?”
“Angulimāla, Aku
telah berhenti untuk selamanya,
Aku
menghindari kekerasan terhadap makhluk-makhluk hidup;
Tetapi
engkau tidak memiliki pengendalian terhadap segala sesuatu yang hidup:
Itulah
mengapa Aku telah berhenti dan engkau belum.” [100]
“Oh, setelah sekian lama Petapa ini, seorang bijaksana terhormat,
Telah datang ke hutan ini demi kesejahteraanku.
[Kitab Komentar : Angulimāla baru menyadari bahwa bhikkhu di hadapannya
adalah Sang Buddha sendiri, dan bahwa Beliau datang ke hutan itu untuk
menyadarkannya.]
Setelah mendengar syairMu mengajarkan aku Dhamma,
Aku
akan meninggalkan kejahatan selamanya.”
Setelah mengatakan hal itu, penjahat itu mengambil pedang dan
senjata-senjatanya
Dan melemparkannya ke dalam celah dalam;
Sang penjahat menyembah kaki Yang Tertinggi,
Dan pada saat itu dan di tempat itu juga memohon penahbisan.
Yang Tercerahkan, Sang Bijaksana yang penuh belas kasih,
Sang Guru dunia bersama dengan [semua] dewa,
Berkata kepadanya, “Datanglah,
bhikkhu.”
Dan demikianlah ia menjadi seorang bhikkhu.
7. Kemudian Sang Bhagavā berjalan kembali ke Sāvatthī bersama dengan
Angulimāla sebagai pelayanNya. Berjalan setahap demi setahap, akhirnya Beliau
tiba di Sāvatthī, dan di sana Beliau menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman
Anāthapiṇḍika.
8. Pada saat itu banyak orang berkumpul di gerbang istana dalam Raja
Pasenadi, gaduh dan berisik, meneriakkan: “Baginda, Penjahat Angulimāla berada
di wilayahmu; ia adalah seorang pembunuh, bertangan darah, kejam, tanpa belas
kasih terhadap makhluk-makhluk hidup. Desa-desa, kota-kota, dan wilayah-wilayah
dihancurkan olehnya. Ia terus-menerus membunuh orang dan ia menggunakan jari
korbannya sebagai kalung. Raja harus menangkapnya!”
9. Kemudian pada tengah hari itu Raja Pasenadi dari Kosala keluar dari
Sāvatthī bersama dengan lima ratus orang prajurit dan pergi menuju taman. Ia
berkendara sejauh yang bisa dilalui keretanya, dan kemudian turun dari kereta
dan melanjutkan dengan berjalan kaki menuju Sang Bhagavā. [101] setelah bersujud
kepada Sang Bhagavā, ia duduk di satu sisi, dan Sang Bhagavā berkata kepadanya:
“Ada apa, Baginda? Apakah Raja Seniya Bimbisāra dari Magadha menyerangmu, atau
para Licchavi dari Vesālī, atau raja-raja lainnya yang bermusuhan?”
10. ”Yang Mulia, Raja Seniya Bimbisāra dari Magadha tidak menyerangku,
juga tidak para Licchavi dari Vesālī, juga tidak raja-raja lainnya yang
bermusuhan. Tetapi ada seorang penjahat di wilayahku bernama Angulimāla, yang
adalah seorang pembunuh, bertangan darah, kejam, tanpa belas kasih terhadap
makhluk-makhluk hidup. Desa-desa, kota-kota, dan wilayah-wilayah dihancurkan
olehnya. Ia terus-menerus membunuh orang dan ia menggunakan jari korbannya
sebagai kalung. Aku tidak akan bisa menangkapnya, Yang Mulia.”
11. “Baginda, seandainya engkau melihat Angulimāla mencukur rambut dan
janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan kehidupan duniawi menuju
kehidupan tanpa rumah; bahwa ia menghindari pembunuhan makhluk-makhluk
hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan dan menghindari ucapan
salah; makan sekali sehari, dan hidup selibat, bermoral, bersikap baik.
Jika engkau melihatnya demikian, bagaimanakah engkau memperlakukannya?”
“Yang Mulia, kami akan memberi hormat kepadanya, atau bangkit untuknya
atau mengundangnya untuk duduk; atau kami akan mengundangnya untuk menerima
jubah, makanan, tempat peristirahatan, atau obat-obatan; atau kami akan
menyediakan penjagaan, pertahanan, dan perlindungan. Tetapi, Yang Mulia,
bagaimana mungkin seorang yang tidak bermoral demikian, seorang yang bersifat
jahat, mungkin memiliki moralitas dan pengendalian seperti itu?”
12. Pada saat itu Yang Mulia Angulimāla duduk tidak jauh dari Sang
Bhagavā. Kemudian Sang Bhagavā merentangkan lengan kanannya dan berkata kepada
Raja Pasenadi dari Kosala: “Baginda, inilah Angulimāla.”
Kemudian Raja Pasenadi ketakutan, gelisah dan was-was. Mengetahui ini,
Sang Bhagavā memberitahunya: “Jangan takut, Baginda, jangan takut. Tidak ada yang perlu
engkau takutkan darinya.”
Kemudian rasa takut, [102] gelisah dan was-was lenyap. Ia mendekati Yang
Mulia Angulimāla dan berkata: “Yang Mulia, benarkah Yang Mulia adalah
Angulimāla?”
“Benar, Baginda.”
“Yang Mulia, dari keluarga apakah ayah dari Yang Mulia? Dari keluarga
apakah ibunya?”
“Ayahku adalah seorang Gagga, Baginda; ibuku adalah seorang Mantāṇi.”
“Semoga Yang Mulia Gagga Mantāṇiputta berdiam dengan nyaman. Aku akan menyediakan
jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan untuk Yang Mulia Gagga Mantāṇiputta.”
13. Pada saat itu Yang Mulia Angulimāla adalah seorang penghuni hutan,
pemakan dana makanan, pemakai jubah dari kain terbuang, dan membatasi dirinya
dengan tiga jubah. Ia menjawab: “Cukup, Baginda, tiga jubahku sudah lengkap.”
Raja Pasenadi kemudian kembali ke Sang Bhagavā, dan setelah memberi
hormat kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan berkata: “Sungguh menakjubkan,
Yang Mulia, sungguh mengagumkan bagaimana Sang Bhagavā menjinakkan yang belum
jinak, membawa kedamaian bagi yang tidak damai, dan menuntun ke Nibbāna bagi
mereka yang belum mencapai Nibbāna. Yang Mulia, kami sendiri tidak mampu menjinakkannya dengan kekerasan
dan senjata, namun
Sang Bhagavā menjinakkannya tanpa menggunakan kekerasan dan senjata. Dan sekarang, Yang Mulia, kami pamit. Kami sibuk
dan banyak yang harus dikerjakan.”
“Silakan engkau pergi, Baginda.”
Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala bangkit dari duduknya, dan setelah
memberi hormat kepada Sang Bhagavā, dan dengan Beliau tetap di sisi kanannya,
ia pergi.
14. Kemudian, pagi harinya, Yang Mulia Angulimāla merapikan jubah, dan
dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, pergi ke Sāvatthī untuk menerima dana
makanan. Ketika ia sedang berjalan untuk menerima dana makanan dari rumah ke
rumah di Sāvatthī, ia menyaksikan seorang perempuan yang sedang kesulitan dan
kesakitan melahirkan anaknya. [103] Ketika ia melihat hal itu, ia berpikir: “Betapa makhluk-makhluk
menderita! Sungguh, betapa makhluk-makhluk menderita!”
[Kitab Komentar menjelaskan ungkapan mūḷhagabbha untuk
menggambarkan bahwa janin itu terbalik dan hanya sebagian berada di dalam rahim
dan keluar secara horizontal, sehingga jalan keluarnya terhalang. Walaupun
Angulimāla telah membunuh hampir seribu orang, ia tidak pernah memunculkan
pikiran belas kasih. Tetapi sekarang, melalui kekuatan penahbisan, belas kasih
muncul dalam dirinya segera setelah ia melihat perempuan yang melahirkan dengan
penuh kesakitan itu.]
Ketika ia telah berkeliling untuk menerima dana makanan di Sāvatthī dan
telah kembali dari menerima dana makanan, setelah makan ia menghadap Sang
Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan berkata:
“Yang Mulia, pagi hari ini aku merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan
jubah luarku, pergi ke Sāvatthī untuk menerima dana makanan. Ketika aku sedang
berjalan untuk menerima dana makanan dari rumah ke rumah di Sāvatthī, aku
menyaksikan seorang perempuan yang sedang kesulitan dan kesakitan melahirkan
anaknya. Ketika aku melihat hal itu, aku berpikir: ‘Betapa makhluk-makhluk
menderita! Sungguh, betapa makhluk-makhluk menderita!’”
15. “Kalau begitu, Angulimāla, pergilah ke Sāvatthī dan katakan kepada
perempuan itu: ‘Saudari, sejak aku dilahirkan, aku tidak ingat bahwa aku pernah
dengan sengaja membunuh makhluk hidup. Dengan kebenaran ini, semoga engkau
sejahtera dan semoga bayimu sejahtera!’”
“Yang Mulia, bukankah dengan demikian aku mengatakan kebohongan dengan
sengaja, karena aku telah dengan sengaja membunuh banyak makhluk hidup?”
“Kalau begitu, pergilah ke Sāvatthī dan katakan kepada perempuan itu:
‘Saudari, sejak
aku terlahir mulia, aku tidak ingat bahwa aku pernah dengan sengaja membunuh
makhluk hidup. Dengan
kebenaran ini, semoga engkau sejahtera dan semoga bayimu sejahtera!’”
[Kitab Komentar : Bahkan hingga hari ini, kalimat
ini sering diucapkan oleh para bhikkhu sebagai paritta perlindungan bagi
perempuan hamil menjelang melahirkan.]
“Baik, Yang Mulia,” Yang Mulia Angulimāla menjawab, dan setelah pergi ke
Sāvatthī, ia berkata kepada perempuan itu: “Saudari, sejak aku terlahir mulia,
aku tidak ingat bahwa aku pernah dengan sengaja membunuh makhluk hidup. Dengan kebenaran ini,
semoga engkau sejahtera dan semoga bayimu sejahtera!” Kemudian perempuan itu dan bayinya selamat.
16. Tidak lama, dengan berdiam sendirian, mengasingkan diri, rajin,
tekun, dan bersungguh-sungguh, Yang mulia Angulimāla, dengan mengalami oleh
dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, di sini dan saat ini memasuki
dan berdiam dalam tujuan tertinggi dari kehidupan suci yang dicari oleh
anggota-anggota keluarga yang meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga
menuju kehidupan tanpa rumah. Ia mengetahui secara langsung: “Kelahiran telah
dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah
dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.” [104] Dan Yang Mulia Angulimāla menjadi salah
satu dari para Arahant.
17. Kemudian, pagi harinya, Yang Mulia Angulimāla merapikan jubah dan
dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, pergi ke Sāvatthī untuk menerima dana
makanan. Pada saat itu seseorang melemparkan segumpal tanah dan mengenai tubuh Yang
Mulia Angulimāla, seorang lainnya melemparkan tongkat dan mengenai tubuhnya,
dan seorang lainnya melemparkan pecahan tembikar dan mengenai tubuhnya.
Kemudian, dengan darah mengucur dari kepalanya yang terluka, dengan mangkuk pecah,
dan dengan jubah luar robek, Yang Mulia Angulimāla mendatangi Sang Bhagavā.
Dari jauh Sang Bhagavā melihatnya datang dan berkata kepadanya: “Tahankanlah, Brahmana! Tahankanlah,
Brahmana! Engkau sedang mengalami di sini dan saat ini akibat dari perbuatanmu
yang karenanya engkau seharusnya disiksa di neraka selama bertahun-tahun,
selama ratusan tahun, selama ribuan tahun.”
[Kitab Komentar menjelaskan bahwa setiap perbuatan
kehendak (kamma) adalah mampu menghasilkan tiga jenis akibat: akibat
yang dialami di sini dan saat ini, yaitu, dalam kehidupan yang sama dengan
perbuatan yang dilakukan; akibat yang dialami dalam kehidupan berikut; dan
akibat yang dialami dalam kehidupan manapun setelah kehidupan berikutnya,
selama seseorang masih mengembara dalam saṁsāra. Karena ia telah mencapai kesucian Arahant,
Angulimāla telah melepaskan diri dari dua jenis akibat yang terakhir tetapi
tidak jenis yang pertama, karena bahkan para Arahant masih dapat mengalami
akibat dalam kehidupan sekarang dari perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan
sebelum mencapai kesucian Arahant.]
18. Kemudian, selagi Yang Mulia Angulimāla sedang sendirian dalam
keheningan mengalami kebahagiaan kebebasan, ia mengucapkan seruan berikut ini:
[Kitab Komentar : Beberapa syair berikut juga muncul
dalam Dhammapada. Syair Angulimāla juga ditemukan secara lengkap dalam Theragāthā
866-91.]
“Siapapun
yang dulu hidup dalam kelengahan
Dan
kemudian menjadi tidak lengah lagi,
Ia
menerangi dunia ini
Bagaikan
bulan yang bebas dari awan.
Yang
melawan perbuatan jahat yang ia lakukan
Dengan
melakukan perbuatan-perbuatan baik,
Ia
menerangi dunia ini
Bagaikan
bulan yang bebas dari awan.
Bhikkhu
muda yang mengabdikan
Usahanya
pada Ajaran Sang Buddha
Ia
menerangi dunia ini
Bagaikan
bulan yang bebas dari awan.
Semoga
musuh-musuhku mendengarkan Khotbah Dhamma
Semoga
mereka mengabdi pada Ajaran Buddha
Semoga
musuh-musuhku melayani orang-orang baik
Yang
menuntun orang lain untuk menerima Dhamma
[105]
Semoga musuh-musuhku menyimak dari waktu ke waktu
Untuk
mendengarkan Dhamma dari mereka yang membabarkan kesabaran,
Dan
mereka yang membicarakan serta memuji kebajikan,
Dan
semoga mereka melanjutkan perbuatan baik.
Karena
pasti mereka tidak akan ingin mencelakaiku,
Juga
mereka tidak berpikir untuk mencelakai makhluk lain,
Demikianlah
mereka yang melindungi semua makhluk, lemah atau kuat,
Semoga
mereka mencapai kedamaian yang tanpa banding.
Pembuat
saluran mengarahkan air,
Pembuat
anak panah meluruskan batang anak panah,
Tukang
kayu meluruskan kayu,
Tetapi
orang bijaksana menjinakkan dirinya sendiri.
Ada
beberapa yang jinak dengan pukulan,
Beberapa
dengan tongkat kendali dan beberapa dengan cambukan;
Tetapi
aku dijinakkan oleh Orang
Yang
tidak memiliki tongkat pemukul atau senjata apapun.
‘Tanpa-bahaya’
adalah nama yang kubawa,
Walaupun
aku berbahaya di masa lalu.
[Walaupun Kitab Komentar mengatakan bahwa Ahiṁsaka, “Tanpa-bahaya” adalah
nama asli Angulimāla, Komentar Theragāthā mengatakan bahwa nama aslinya adalah Hiṁsaka, artinya “Berbahaya.”]
Nama
yang kubawa sekarang adalah benar:
Aku
tidak menyakiti makhluk hidup sama sekali.
Dan
walaupun aku pernah hidup sebagai penjahat
Yang
dikenal sebagai si ‘Kalung-jari,’
Seorang
yang terhanyutkan oleh banjir besar,
Aku
berlindung pada Sang Buddha.
Dan
walaupun aku pernah bertangan-darah
Dengan
nama si ‘Kalung-jari’
Bertemu
dengan perlindungan yang kutemukan:
Belenggu
penjelmaan telah terpotong.
Walaupun
aku melakukan banyak perbuatan yang mengarah
pada
kelahiran kembali di alam rendah,
namun
akibatnya telah mendatangiku sekarang,
dan
karenanya aku makan dengan bebas dari hutang.
[Kitab Komentar : Sementara para bhikkhu bermoral
yang masih belum Arahant dikatakan memakan dana makanan sebagai warisan dari
Sang Buddha, para Arahant dikatakan memakan makanan yang “bebas dari hutang”
karena ia telah membuat dirinya sepenuhnya layak menerima persembahan.
Baca Visuddhimagga I, 125-27.]
Mereka
adalah orang-orang dungu dan tidak berakal sehat
Yang
menyerah pada kelengahan,
Tetapi
mereka yang bijaksana menjaga ketekunan
Dan
memperlakukannya sebagai kebaikan yang terbesar.
Jangan
menyerah pada kelengahan
Juga
jangan mencari kesenangan dalam kenikmatan indria,
Tetapi
bermeditasilah dengan tekun
Agar
dapat mencapai kebahagiaan sempurna.
Selamat
datang pada apa yang kupilih
Dan
semoga tegak berdiri, tidak cacat
Dari
semua ajaran yang dipelajari
Aku
telah mendapatkan yang terbaik.
Selamat
datang pada apa yang kupilih
Dan
semoga tegak berdiri, tidak cacat
Aku
telah mencapai tiga pengetahuan
Dan
telah menyelesaikan semua yang diajarkan oleh Sang Buddha.”
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dogma-dogma agama samawi
justru mencuci-otak para umat pengikutnya sehingga menjelma “manusia-hewan” maupun
“manusia-setan” yang kesetanan “BERBUAT DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN”, mengingat
antara “DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” dan “PENGAMPUNAN DOSA” ialah saling
bundling ibarat pasta gigi dan sikat gigi yang saling komplomenter, yang
menciptakan / melahirkan para Angulimāla baru ke dunia ini—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
tengoklah watak perilaku keseharian sang “nabi rasul allah”, apakah ia telah meninggalkan
kejahatan untuk selamanya? Telah ternyata sang “nabi rasul allah” hanyalah
seorang manusia-kotor-hina-tercela yang bersimbah dosa-dosa, seorang “PENDOSA
PECANDU-BERAT PENGHAPUSAN DOSA”, yang seharusnya disiksa di neraka selama ribuan
tahun, puluhan ribu tahun, jutaan tahun, miliaran tahun, yang masih hidup dalam
kelengahan, yang menikmati perbuatan jahat yang ia lakukan tanpa mengakhirinya,
yang memuji “PENGHAPUSAN DOSA” setelah mengoleksi segudang “DOSA-DOSA” alih-alih
memuji kebajikan bebas dari kejahatan, yang selalu berniat untuk mencelakai
makhluk lain, yang jauh dari kedamaian, yang gagal menjinakkan dirinya sendiri,
yang memiliki tongkat pemukul atau senjata apapun, memiliki
tongkat pemukul atau senjata tajam berlumuran darah, yang gemar menyakiti
makhluk hidup, yang telah dan masih sedang melakukan banyak perbuatan yang
mengarah pada kelahiran kembali di alam rendah, orang dungu yang tidak berakal
sehat, yang mencari kesenangan dalam kenikmatan indria, yang cacat-tercela—juga
masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]