“Nabi Rasul Allah” TIDAK PERNAH MELIHAT SURGA ataupun Melihat Bidadari di Surga
Perihal Persepsi yang Dikotori Imajinasi Subjektif Seseorang
Question: Nabi muhammad sudah punya belasan istri, namun pikirannya sudah selingkuh alias menyeleweng dengan puluhan bidadari di surga, yang katanya ia lihat saat terbang mengunjungi undangan Allah. Apa yang menjadi pandangan Buddhisme, terhadap ajaran agama padang-gurun tersebut yang motivasinya masuk surga ialah untuk bersenggama dengan puluhan bidadari berdada-montok yang selaput-dara-nya dapat didaur-ulang, motivasi yang sama yang menjadi motif dibalik sikap Ibrahim ketika tega hendak menyembelih anak kandungnya sendiri, Ismail?
Brief
Answer: Seseorang yang telah
pernah melihat sosok dewi, tidak akan pernah lagi merasa tertarik pada wanita
di dunia, karena penampakan wanita di dunia manusia lebih menyerupai “monyet
betina”, bila perbandingannya ialah kecantikan makhluk dewata dan dewati. Jika
faktanya ialah sang “nabi rasul allah” begitu “gila kawin” dengan
perempuan-manusia, maka itu pertanda konkret betapa dirinya sama sekali belum
pernah melihat surga, terlebih melihat sesosok dewi penghuni alam surgawi.
Lagipula, bagaimana mungkin kebahagiaan dalam alam surgawi digambarkan sebagai
“kenikmatan duniawi” berupa praktek persetubuhan dan urusan “selangkangan” yang
merupakan kenikmatan indria sentuhan maupun indria penglihatan-mata? Adalah
lebih realistis, bila kenikmatan surgawi berupa kenikmatan meditatif.
Perhatikan khotbah Sang Buddha yang dapat mengungkap wajah asli dibalik “persona”
sang “nabi rasul allah”:
“Demikian pula, di
masa lalu kenikmatan indria adalah menyakitkan jika disentuh, panas, dan
membakar; di masa depan kenikmatan indria akan menyakitkan jika disentuh,
panas, dan membakar; dan sekarang pada masa kini kenikmatan indria adalah
menyakitkan jika disentuh, panas, dan membakar. Tetapi makhluk-makhluk ini yang
belum terbebas dari nafsu akan kenikmatan indria, yang dilahap oleh ketagihan
pada kenikmatan indria, terbakar oleh demam terhadap kenikmatan indria,
memiliki indria-indria yang telah rusak; demikianlah, walaupun kenikmatan
indria sesungguhnya menyakitkan jika disentuh, namun mereka memperoleh persepsi
keliru menganggapnya sebagai menyenangkan.
“Misalkan, Māgandiya,
ada seorang penderita penyakit kusta dengan luka dan bagian-bagian tubuh
melepuh, karena digigit oleh ulat, menggaruk bagian kulit yang terluka dengan
kukunya, membersihkan dirinya di atas lubang bara api menyala; semakin ia
menggaruk bagian kulitnya yang melepuh dan semakin ia membersihkan dirinya di
atas lubang bara api menyala, maka luka-lukanya itu akan menjadi semakin
membusuk, semakin bau, dan semakin terinfeksi, namun ia memperoleh suatu
kepuasan dan kenikmatan dalam menggaruk luka-lukanya itu. Demikian pula,
Māgandiya, makhluk-makhluk yang belum terbebas dari nafsu akan kenikmatan
indria, yang dilahap oleh ketagihan pada kenikmatan indria, masih menuruti
kenikmatan indria; semakin makhluk-makhluk itu menuruti kenikmatan indria, maka
semakin meningkat pula ketagihan mereka pada kenikmatan indria dan semakin
mereka terbakar oleh demam mereka terhadap kenikmatan indria, namun mereka
memperoleh kepuasan dan kenikmatan dengan bergantung pada lima utas kenikmatan
indria.
“Māgandiya, misalkan
ada seorang yang buta sejak lahir yang tidak dapat melihat bentuk-bentuk yang
gelap dan terang, yang tidak dapat melihat bentuk-bentuk berwarna biru, kuning,
merah, atau merah muda, yang tidak dapat melihat apa yang rata dan tidak rata,
yang tidak dapat melihat bintang-bintang atau matahari dan bulan. Ia mungkin
mendengar seseorang yang berpenglihatan baik mengatakan: ‘Sungguh bagus,
tuan-tuan, kain putih ini, indah, tanpa noda, dan bersih!’ dan ia pergi mencari
kain putih. Kemudian seseorang menipunya dengan kain usang yang kotor
sebagai berikut: ‘Tuan, ini adalah kain putih untukmu, indah, tanpa noda, dan
bersih.’ Dan ia menerimanya dan memakainya, dan dengan puas ia mengucapkan
kata-kata kepuasan sebagai berikut: ‘Sungguh bagus, tuan-tuan, kain putih
ini, indah, tanpa noda, dan bersih!’ Bagaimana menurutmu, Māgandiya? Ketika
orang yang buta sejak lahir itu menerima kain usang yang kotor itu, memakainya,
dan dengan puas ia mengucapkan kata-kata kepuasan sebagai berikut: ‘Sungguh
bagus, tuan-tuan, kain putih ini, indah, tanpa noda, dan bersih!’ – apakah
ia melakukan itu karena mengetahui dan melihat, atau karena percaya pada orang
yang berpenglihatan baik itu?”
Bagaimana
mungkin, perspektif surgawi dipandang dengan memakai perspektif duniawi dunia
manusia yang kasar, dangkal, serta rendahan? Hanya orang dungu, yang memakan
dan termakan bualan perihal sang nabi “terbang ke surga melihat bidadari” namun
masih juga bernafsu para seorang atau lebih perempuan-manusia yang ia koleksi
hingga belasan ekor untuk digauli secara bergilir. Sang Buddha telah pernah
berkhotbah dengan kutipan sabda-Nya, sebagai berikut:
“Misalkan, Māgandiya, seorang perumah-tangga atau putera perumah-tangga
kaya, dengan banyak harta kekayaan, dan memiliki lima utas kenikmatan indria,
ia menikmati bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata … suara-suara yang dikenali
oleh telinga ... bau-bauan yang dikenali oleh hidung ... rasa kecapan yang
dikenali oleh lidah ... objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan yang
diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan
indria, dan merangsang nafsu. Setelah berperilaku baik dalam jasmani,
ucapan, dan pikiran, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia mungkin
muncul kembali di alam bahagia, di alam surga di antara para pengikut para dewa
Tiga Puluh Tiga; dan di sana, dengan dikelilingi oleh sekelompok bidadari di
Hutan Nandana, ia menikmati dan memiliki lima utas kenikmatan indria surgawi.
Misalkan ia
melihat seorang perumah-tangga atau putera perumah-tangga menikmati memiliki
lima utas kenikmatan indria [manusia]. Bagaimana menurutmu, Māgandiya? Apakah
dewa muda itu, yang dikelilingi oleh sekelompok bidadari di Hutan Nandana, yang
memiliki dan menikmati lima utas kenikmatan indria surgawi, iri pada
perumah-tangga atau putera perumah-tangga atas lima utas kenikmatan indria
manusia atau apakah ia akan tertarik pada kenikmatan indria manusia?”
“Tidak, Guru Gotama. Mengapakah?
Karena kenikmatan indria surgawi adalah lebih unggul dan lebih luhur daripada
kenikmatan indria manusia.”
PEMBAHASAN:
Khotbah
Sang Buddha tentang “persepsi keliru” akibat dikeruhkan oleh pandangan yang
penuh kekotoran-batin, selengkapnya dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
SUTTA
75
Māgandiya
Sutta: Kepada Māgandiya
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di negeri Kuru di mana terdapat sebuah pemukiman Kuru bernama
Kammāsadhamma, di atas hamparan rumput di dalam kamar perapian seorang brahmana
dari suku Bhāradvāja.
2. Kemudian pada pagi harinya, Sang Bhagavā merapikan jubah, dan dengan
membawa mangkuk dan jubah luarNya, pergi ke Kammāsadhamma untuk menerima dana
makanan. Ketika Beliau telah menerima dana makanan di Kammāsadhamma dan telah
kembali dari perjalanan itu, setelah makan Beliau pergi ke suatu hutan untuk
melewatkan hari. Setelah memasuki hutan, Beliau duduk di bawah sebatang pohon
untuk melewatkan hari. [502]
3. Kemudian Pengembara Māgandiya, sewaktu berjalan-jalan untuk
berolah-raga, mendatangi kamar perapian si brahmana dari suku Bhāradvāja. Di
sana ia melihat hamparan rumput yang telah dipersiapkan dan bertanya kepada si
brahmana: “Untuk siapakah hamparan rumput ini dipersiapkan di dalam kamar
perapian Tuan Bhāradvāja? Tampak seperti tempat tidur seorang petapa.”
4. “Guru Māgandiya, ada Petapa Gotama, putera Sakya, yang meninggalkan
keduniawian dari suku Sakya. Sekarang suatu berita baik sehubungan dengan Guru
Gotama telah menyebar sebagai berikut: ‘Bahwa Sang
Bhagavā sempurna, telah tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati
dan perilaku, mulia, pengenal seluruh alam, pemimpin yang tanpa bandingnya bagi
orang-orang yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia, tercerahkan,
terberkahi.’ Tempat
tidur ini dipersiapkan untuk Guru Gotama.”
5. “Sungguh, Guru Bhāradvāja, suatu pemandangan buruk yang kami lihat
ketika kami melihat tempat tidur si perusak kemajuan itu, Guru Gotama.”
[Kitab Komentar : Bhūnahuno, “si perusak
kemajuan”. Penerjemah lain menerjemahkan ungkapan tersamar tersebut sebagai
“penghancur makhluk.” Penerjemah mengikuti Horner dalam menerjemahkan kemasan
komentar hatavaḍḍhino mariyādakārakassa. Kitab Komentar menjelaskan bahwa si pengkritik
menganut pandangan bahwa “kemajuan” harus dicapai dalam enam indria dengan
mengalami objek indria apapun yang belum pernah dialami sebelumnya tanpa
melekat pada apa yang telah dikenali. Dengan demikian, pandangannya sepertinya
dekat pada sikap umum pada masa itu bahwa intensitas dan variasi pengalaman
adalah kebaikan tertinggi dan harus dikejar tanpa rintangan dan batasan. Alasan
ketidak-setujuannya pada Sang Buddha akan menjadi jelas pada paragraf ke nomor
ke-8.]
“Hati-hati dengan apa yang engkau katakan, Māgandiya, hati-hati dengan
apa yang engkau katakan! Banyak para mulia terpelajar, para brahmana
terpelajar, para perumah-tangga terpelajar, dan para petapa terpelajar yang
berkeyakinan penuh pada Guru Gotama, dan telah didisiplinkan oleh Beliau dalam jalan
sejati yang mulia, dalam Dhamma yang bermanfaat.”
“Guru Bhāradvāja, bahkan jika kami berhadapan muka dengan Guru Gotama,
kami akan mengatakan kepadanya: ‘Petapa Gotama adalah seorang perusak
kemajuan.’ Mengapakah? Karena
hal itu telah diturunkan dalam khotbah-khotbah kita.”
“Jika Guru Māgandiya tidak keberatan, bolehkah aku mengatakan hal ini
kepada Guru Gotama?”
“Jangan khawatir, Guru Bhāradvāja. Beritahukanlah kepadaNya tentang apa
yang telah kukatakan.”
6. Sementara itu, dengan telinga dewa, yang murni dan melampaui
manusia, Sang Bhagavā mendengarkan percakapan antara brahmana dari suku
Bhāradvāja dengan Pengembara Māgandiya ini. Kemudian, pada malam harinya, Sang
Bhagavā bangkit dari meditasi, pergi ke kamar perapian si brahmana, dan duduk
di atas hamparan rumput yang telah dipersiapkan. Kemudian si brahmana dari suku
Bhāradvāja mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau.
Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi. Sang Bhagavā bertanya kepadanya:
“Bhāradvāja, apakah engkau berbincang-bincang dengan Pengembara Māgandiya [503]
tentang hamparan rumput ini?”
Ketika hal ini dikatakan, si brahmana, terkejut dan dengan merinding,
menjawab: “Kami hendak memberitahukan kepada Guru Gotama tentang hal ini, namun
Guru Gotama telah mendahului kami.”
7. Tetapi diskusi antara Sang Bhagavā dan brahmana dari suku Bhāradvāja
tidak selesai, karena kemudian Pengembara Māgandiya, sewaktu berjalan-jalan
untuk berolah raga, datang ke kamar perapian si brahmana dan menghadap Sang
Bhagavā. Ia bertukar sapa dengan Sang Bhagavā, dan ketika ramah-tamah itu
berakhir, ia duduk di satu sisi. Sang Bhagavā berkata kepadanya:
8. “Māgandiya, mata
bersenang dalam bentuk-bentuk, menyenangi bentuk-bentuk, bergembira dalam
bentuk-bentuk; itu telah dijinakkan oleh Sang Tathāgata, dijaga, dilindungi,
dan dikendalikan, dan Beliau mengajarkan Dhamma untuk mengendalikannya. Apakah sehubungan dengan hal ini maka engkau
mengatakan: ‘Petapa Gotama adalah seorang perusak kemajuan’?”
“Adalah sehubungan dengan hal ini, Guru Gotama, maka aku mengatakan:
‘Petapa Gotama adalah seorang perusak kemajuan.’ Mengapakah? Karena itu tercatat
dalam kitab kami.”
“Telinga
bersenang dalam suara-suara … Hidung bersenang dalam bau-bauan … Lidah
bersenang dalam rasa kecapan … Badan bersenang dalam objek-objek sentuhan …
Pikiran bersenang dalam objek-objek pikiran, menyenangi objek-objek pikiran,
bergembira dalam objek-objek pikiran; itu telah dijinakkan oleh Sang Tathāgata,
dijaga, dilindungi, dan dikendalikan, dan Beliau mengajarkan Dhamma untuk
mengendalikannya. Apakah sehubungan
dengan hal ini maka engkau mengatakan: ‘Petapa Gotama adalah seorang perusak
kemajuan’?”
“Adalah sehubungan dengan hal ini, Guru Gotama, maka aku mengatakan:
‘Petapa Gotama adalah seorang perusak kemajuan.’ Mengapakah? Karena itu tercatat
dalam kitab kami.”
9. “Bagaimana menurutmu, Māgandiya?
Di sini seseorang [504] sebelumnya menikmati bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata
yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan
kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Kemudian, setelah memahami sebagaimana
adanya asal-mula, lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan jalan membebaskan diri sehubungan
dengan bentuk-bentuk, ia mungkin meninggalkan ketagihan pada bentuk-bentuk,
melenyapkan demam terhadap bentuk-bentuk, dan berdiam tanpa kehausan, dengan
batin yang damai. Apakah
yang akan engkau katakan kepadanya, Māgandiya?” – “Tidak ada, Guru Gotama.”
“Bagaimana menurutmu, Māgandiya? Di
sini seseorang sebelumnya menikmati suara-suara yang dikenali oleh telinga ... bau-bauan
yang dikenali oleh hidung ... rasa kecapan yang dikenali oleh lidah ...
objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan yang diharapkan, diinginkan,
menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang
nafsu. Belakangan, setelah memahami sebagaimana adanya asal-mula, lenyapnya,
kepuasan, bahaya, dan jalan membebaskan diri sehubungan dengan objek-objek
sentuhan, ia mungkin meninggalkan ketagihan pada objek-objek sentuhan, melenyapkan
demam terhadap objek-objek sentuhan, dan berdiam tanpa kehausan, dengan batin
yang damai. Apakah yang akan
engkau katakan kepadanya, Māgandiya?” – “Tidak ada, Guru Gotama.”
10. “Māgandiya, sebelumnya ketika Aku menjalani kehidupan rumah tangga,
Aku memiliki, menikmati lima utas kenikmatan indria: dengan bentuk-bentuk yang
dikenali oleh mata … suara-suara yang dikenali oleh telinga ... bau-bauan yang
dikenali oleh hidung ... rasa kecapan yang dikenali oleh lidah ... objek-objek sentuhan
yang dikenali oleh badan yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai,
terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Aku memiliki tiga
istana, satu untuk musim hujan, satu untuk musim dingin, dan satu untuk musim panas.
Aku menetap di istana musim hujan selama empat bulan musim hujan, menikmati
para musisi, tidak ada yang laki-laki, dan Aku tidak turun ke istana yang lebih
rendah.
[Kitab Komentar : Penerjemah lain mengemas kata nippurisa,
lit. “bukan laki-laki,” sebagai berarti bahwa mereka semua adalah perempuan.
Bukan hanya para musisi, tetapi semua posisi dalam istana, termasuk para
penjaga pintu, terdiri dari para perempuan. Ayahnya, sang raja, memberikan
kepadanya tiga istana dan para pengiring perempuan dengan harapan untuk
mempertahankannya dalam kehidupan awam dan mengalihkannya dari pikiran
meninggalkan keduniawian.]
“Belakangan, setelah
memahami sebagaimana adanya asal-mula, lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan jalan
membebaskan diri sehubungan dengan kenikmatan indria, Aku melenyapkan demam
terhadap kenikmatan indria, dan Aku berdiam tanpa kehausan, dengan batin yang
damai. Aku melihat makhluk-makhluk lain yang belum terbebas dari nafsu akan
kenikmatan indria, yang dilahap oleh ketagihan pada kenikmatan indria, terbakar
oleh demam terhadap kenikmatan indria, menuruti kenikmatan indria, dan Aku
tidak iri pada mereka, juga tidak bergembira di dalamnya. Mengapakah? Karena
ada, Māgandiya, kenikmatan yang terlepas dari kenikmatan indria, terlepas dari kondisi-kondisi
yang tidak bermanfaat, [505] yang bahkan melampaui kebahagiaan surgawi. Karena
Aku tidak mendapati kesenangan dalam hal itu, maka Aku tidak iri pada apa yang rendah,
juga tidak bersenang di dalamnya.
[Kitab Komentar : “melampaui kebahagiaan surgawi”
dikatakan dengan merujuk pada pencapaian buah Kearahantaan yang berdasarkan
pada jhāna ke empat.]
11. “Misalkan, Māgandiya, seorang perumah-tangga atau putera
perumah-tangga kaya, dengan banyak harta kekayaan, dan memiliki lima utas
kenikmatan indria, ia menikmati bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata …
suara-suara yang dikenali oleh telinga ... bau-bauan yang dikenali oleh hidung
... rasa kecapan yang dikenali oleh lidah ... objek-objek sentuhan yang
dikenali oleh badan yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai,
terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Setelah
berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, ia mungkin muncul kembali di alam bahagia, di alam surga di
antara para pengikut para dewa Tiga Puluh Tiga; dan di sana, dengan dikelilingi
oleh sekelompok bidadari di Hutan Nandana, ia menikmati dan memiliki lima utas
kenikmatan indria surgawi. Misalkan
ia melihat seorang perumah-tangga atau putera perumah-tangga menikmati memiliki
lima utas kenikmatan indria [manusia]. Bagaimana menurutmu, Māgandiya? Apakah
dewa muda itu, yang dikelilingi oleh sekelompok bidadari di Hutan Nandana, yang
memiliki dan menikmati lima utas kenikmatan indria surgawi, iri pada
perumah-tangga atau putera perumah-tangga atas lima utas kenikmatan indria
manusia atau apakah ia akan tertarik pada kenikmatan indria manusia?”
“Tidak, Guru Gotama. Mengapakah?
Karena kenikmatan indria surgawi adalah lebih unggul dan lebih luhur daripada
kenikmatan indria manusia.”
12. “Demikian pula, Māgandiya, sebelumnya ketika Aku menjalani kehidupan
rumah tangga, Aku memiliki dan menikmati lima utas kenikmatan indria: dengan
bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata … suara-suara yang dikenali oleh telinga
... bau-bauan yang dikenali oleh hidung ... rasa kecapan yang dikenali oleh
lidah ... objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan yang diharapkan,
diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan indria, dan
merangsang nafsu. Belakangan, setelah memahami sebagaimana adanya kepuasan,
bahaya, dan jalan membebaskan diri sehubungan dengan kenikmatan indria, Aku
meninggalkan ketagihan pada kenikmatan indria, Aku melenyapkan demam terhadap
kenikmatan indria, dan Aku berdiam tanpa kehausan, dengan batin yang damai.
Aku melihat makhluk-makhluk
lain yang belum terbebas dari nafsu akan kenikmatan indria, yang dilahap oleh
ketagihan pada kenikmatan indria, terbakar oleh demam terhadap kenikmatan
indria, [506] menuruti kenikmatan indria, dan Aku tidak iri pada mereka, juga tidak
bersenang di dalamnya. Mengapakah? Karena ada, Māgandiya, kenikmatan yang
terlepas dari kenikmatan indria, terlepas dari kondisi-kondisi yang tidak
bermanfaat, yang bahkan melampaui kebahagiaan surgawi. Karena Aku tidak
mendapati kesenangan dalam hal itu, maka Aku tidak iri pada apa yang rendah,
juga tidak bersenang di dalamnya.
13. “Misalkan, Māgandiya, ada seorang penderita penyakit kusta dengan
luka dan bagian-bagian tubuh melepuh, karena digigit oleh ulat, menggaruk
bagian kulit yang terluka dengan kukunya, membersihkan dirinya di atas lubang
bara api menyala. Kemudian teman-teman dan sahabatnya, sanak saudara dan kerabatnya,
akan membawa seorang tabib kepadanya. Tabib itu akan meracik obat untuknya, dan
dengan obat itu orang itu menjadi sembuh dari penyakitnya dan menjadi pulih
dan bahagia, tidak bergantung, menjadi majikan bagi dirinya sendiri, mampu bepergian
ke manapun yang ia sukai. Kemudian ia mungkin melihat penderita penyakit
kusta lainnya dengan luka dan bagian-bagian tubuh melepuh, karena digigit oleh
ulat, menggaruk bagian kulit yang terluka dengan kukunya, membersihkan dirinya di
atas lubang bara api menyala. Bagaimana menurutmu, Māgandiya? Apakah orang itu
iri pada penderita kusta itu karena lubang bara api menyala atau
pengobatannya?”
“Tidak, Guru Gotama. Mengapakah? Karena
ketika ada penyakit, maka ada kebutuhan akan obat-obatan, dan ketika tidak ada
penyakit, maka tidak ada kebutuhan akan obat-obatan.”
14. “Demikian pula, Māgandiya, sebelumnya ketika Aku menjalani kehidupan
rumah tangga … (seperti pada paragraf
nomor ke-12) … Karena Aku
tidak mendapati kesenangan dalam hal itu, maka Aku tidak iri pada apa yang
rendah, juga tidak bersenang di dalamnya.
15. “Misalkan, Māgandiya, ada seorang penderita penyakit kusta dengan
luka dan bagian-bagian tubuh melepuh, karena digigit oleh ulat, menggaruk
bagian kulit yang terluka dengan kukunya, membersihkan dirinya di atas lubang
bara api menyala. Kemudian teman-teman dan sahabatnya, sanak saudara dan kerabatnya,
akan membawa seorang tabib kepadanya. Tabib itu akan membuatkan obat untuknya,
dan dengan obat itu orang itu menjadi sembuh dari penyakitnya dan menjadi pulih
dan bahagia, tidak bergantung, menjadi majikan bagi dirinya sendiri, mampu bepergian
ke manapun yang ia sukai. Kemudian dua orang kuat menangkapnya pada kedua
lengannya dan menariknya ke arah lubang bara api menyala. Bagaimana menurutmu,
Māgandiya? Apakah orang itu akan menggeliatkan badannya ke sana dan ke sini?”
“Benar, Guru Gotama. Mengapakah? Karena api itu sungguh menyakitkan
jika disentuh, panas, dan membakar.”
“Bagaimana
menurutmu, Māgandiya? Apakah hanya pada saat ini api itu menyakitkan jika
disentuh, panas, dan membakar, atau sebelumnya juga api itu menyakitkan jika
disentuh, panas, dan membakar?”
“Guru Gotama, api
itu pada saat ini menyakitkan jika disentuh, panas, dan membakar, dan
sebelumnya juga api itu menyakitkan jika disentuh, panas, dan membakar. Karena ketika orang itu adalah seorang
penderita penyakit kusta dengan luka dan bagian-bagian tubuh melepuh, karena
digigit oleh ulat, menggaruk bagian kulit yang terluka dengan kukunya, maka indria-indrianya
terganggu; demikianlah, walaupun api itu sesungguhnya menyakitkan ketika
disentuh, namun ia memperoleh persepsi salah sebagai menyenangkan.”
[Komentar : Orang dengan persepsi normal akan
memandang yang menyakitkan sebagai menyakitkan, sehingga menghindarinya. Akan
tetapi orang dengan persepsi yang penuh bias akan cenderung memiliki pendangan
keliru, memandang yang menyakitkan sebagai kenikmatan. Tidak mengherankan
ketika dalam kesempatan lain, Sang Buddha menyatakan bahwa apa yang menurut
kebanyakan orang dipandang sebagai kenikmatan, adalah dukkha di mata seorang
Buddha. Demikianlah disparitas persepsi, antara seseorang dengan pandangan yang
benar dan mereka yang berpandangan keliru.]
16. “Demikian pula, di
masa lalu kenikmatan indria adalah menyakitkan jika disentuh, panas, dan
membakar; di masa depan kenikmatan indria akan menyakitkan jika disentuh,
panas, dan membakar; dan sekarang pada masa kini kenikmatan indria adalah
menyakitkan jika disentuh, panas, dan membakar. Tetapi makhluk-makhluk ini yang belum terbebas
dari nafsu akan kenikmatan indria, yang dilahap oleh ketagihan pada kenikmatan indria,
terbakar oleh demam terhadap kenikmatan indria, memiliki indria-indria yang
telah rusak; demikianlah,
walaupun kenikmatan indria sesungguhnya menyakitkan jika disentuh, namun mereka
memperoleh persepsi keliru menganggapnya sebagai menyenangkan.
[Kitab Komentar : Ungkapan viparitasaññā
menyinggung pada “persepsi
keliru” (saññāvipallāsa)
dengan melihat kenikmatan dalam apa yang sesungguhnya adalah menyakitkan.
Kitab Komentar mengatakan bahwa kenikmatan indria adalah menyakitkan karena
membangkitkan kekotoran-kekotoran yang menyakitkan dan karena menghasilkan buah
yang menyakitkan di masa depan. Horner tidak menangkap maksudnya dengan
menerjemahkan kalimat “(Mereka dapat) menerima suatu perubahan sensasi dan
menganggapnya menyenangkan” (MLS 2:187).]
17. “Misalkan, Māgandiya, ada seorang penderita penyakit kusta dengan
luka dan bagian-bagian tubuh melepuh, karena digigit oleh ulat, menggaruk
bagian kulit yang terluka dengan kukunya, membersihkan dirinya di atas lubang
bara api menyala; semakin ia menggaruk bagian kulitnya yang melepuh dan semakin
ia membersihkan dirinya di atas lubang bara api menyala, [508] maka luka-lukanya itu
akan menjadi semakin membusuk, semakin bau, dan semakin terinfeksi, namun ia memperoleh
suatu kepuasan dan kenikmatan dalam menggaruk luka-lukanya itu.
Demikian pula, Māgandiya, makhluk-makhluk yang belum terbebas dari nafsu akan
kenikmatan indria, yang dilahap oleh ketagihan pada kenikmatan indria, masih
menuruti kenikmatan indria; semakin makhluk-makhluk itu menuruti kenikmatan
indria, maka semakin meningkat pula ketagihan mereka pada kenikmatan indria dan
semakin mereka terbakar oleh demam mereka terhadap kenikmatan indria, namun
mereka memperoleh kepuasan dan kenikmatan dengan bergantung pada lima utas
kenikmatan indria.
[Komentar : Seringkali seseorang mengatas-namakan
hidupnya terasa getir-pahit atau membosankan, menjadikan itu alasan untuk
menyakiti dirinya sendiri dengan tenggelam dalam konsumsi zat-zat yang tidak
menyehatkan tubuh maupun pikirannya.]
18. “Bagaimana menurutmu, Māgandiya? Pernahkah
engkau melihat atau mendengar seorang raja atau seorang menteri raja memiliki
dan menikmati lima utas kenikmatan indria yang, tanpa meninggalkan ketagihan
pada kenikmatan indria, tanpa melenyapkan demam terhadap kenikmatan indria,
telah mampu berdiam dengan terbebas dari kehausan, dengan batin yang damai,
atau yang mampu atau yang akan mampu berdiam demikian?” – “Tidak, Guru Gotama.”
“Bagus, Māgandiya, Aku juga belum pernah melihat atau mendengar seorang
raja atau seorang menteri raja memiliki, dan menikmati lima utas kenikmatan
indria yang, tanpa meninggalkan ketagihan pada kenikmatan indria, tanpa
melenyapkan demam terhadap kenikmatan indria, telah mampu berdiam dengan terbebas
dari kehausan, dengan batin yang damai, atau yang mampu atau yang akan mampu
berdiam demikian. Sebaliknya, Māgandiya, para
petapa atau brahmana yang telah berdiam atau sedang berdiam atau akan berdiam
dengan terbebas dari kehausan, dengan batin yang damai, semuanya melakukan demikian
setelah memahami sebagaimana adanya asal-mula, lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan
jalan membebaskan diri sehubungan dengan kenikmatan indria, dan adalah setelah meninggalkan
ketagihan pada kenikmatan indria dan melenyapkan demam terhadap kenikmatan
indria maka mereka telah berdiam atau sedang berdiam atau akan berdiam dengan terbebas
dari kehausan, dengan batin yang damai.”
19. Kemudian pada titik ini Sang Bhagavā mengucapkan seruan kegembiraan:
“Yang
tertinggi dari segala perolehan adalah kesehatan,
Nibbāna
adalah kebahagiaan tertinggi,
Jalan
Mulia Berunsur Delapan adalah jalan terbaik
Karena
jalan itu menuntun menuju keselamatan, pada Tanpa-Kematian.”
Ketika hal ini dikatakan, Pengembara Māgandiya berkata kepada Sang
Bhagavā: “Sungguh mengagumkan, Guru Gotama, sungguh menakjubkan, betapa
tepatnya hal ini diungkapkan oleh Guru Gotama: [509] ‘Yang tertinggi dari
segala perolehan adalah kesehatan, Nibbāna adalah kebahagiaan tertinggi.’ Kami
juga pernah mendengar sebelumnya para pengembara yang adalah para guru dan
guru-guru dari para guru mengatakan hal ini, dan ini selaras, Guru Gotama.”
“Tetapi, Māgandiya, ketika engkau mendengar sebelumnya para pengembara
yang adalah para guru dan guru-guru dari para guru mengatakan hal ini, apakah kesehatan itu,
apakah Nibbāna itu?”
Ketika hal ini dikatakan, Pengembara Māgandiya mengusap bagian tubuhnya
dengan tangannya dan berkata: “Ini adalah kesehatan itu, Guru Gotama, ini
adalah Nibbāna itu; karena sekarang aku sehat dan bahagia dan tidak ada apapun
yang menyengsarakan aku.”
[Kitab Komentar : Māgandiya jelas memahami syair
yang selaras dengan “pandangan
salah” ke-lima puluh delapan
dari Brahmajāla Sutta: “Ketika diri ini, lengkap dengan kelima helai kenikmatan
indria, bersenang-senang di dalamnya – pada titik ini diri itu mencapai Nibbāna
tertinggi di sini dan saat ini” (Dīgha Nikāya 1.3.20/i.36).]
20. “Māgandiya, misalkan
ada seorang yang buta sejak lahir yang tidak dapat melihat bentuk-bentuk yang
gelap dan terang, yang tidak dapat melihat bentuk-bentuk berwarna biru, kuning,
merah, atau merah muda, yang tidak dapat melihat apa yang rata dan tidak rata,
yang tidak dapat melihat bintang-bintang atau matahari dan bulan. Ia mungkin
mendengar seseorang yang berpenglihatan baik mengatakan: ‘Sungguh bagus,
tuan-tuan, kain putih ini, indah, tanpa noda, dan bersih!’ dan ia pergi mencari
kain putih. Kemudian seseorang menipunya dengan kain usang yang kotor sebagai
berikut: ‘Tuan, ini adalah kain putih untukmu, indah, tanpa noda, dan bersih.’
Dan ia menerimanya dan memakainya, dan dengan puas ia mengucapkan kata-kata kepuasan
sebagai berikut: ‘Sungguh bagus, tuan-tuan, kain putih ini, indah, tanpa noda,
dan bersih!’ Bagaimana menurutmu, Māgandiya? Ketika orang yang buta sejak lahir
itu menerima kain usang yang kotor itu, memakainya, dan dengan puas ia mengucapkan
kata-kata kepuasan sebagai berikut: ‘Sungguh bagus, tuan-tuan, kain putih ini,
indah, tanpa noda, dan bersih!’ – apakah ia melakukan itu karena mengetahui dan
melihat, atau karena percaya pada orang yang berpenglihatan baik itu?”
“Yang Mulia, ia melakukan itu tanpa mengetahui dan tanpa melihat,
[510] tetapi karena percaya pada orang yang berpenglihatan baik itu.”
21. “Demikian pula, Māgandiya, para
pengembara sekte lain adalah buta dan tanpa penglihatan. Mereka tidak mengetahui kesehatan, mereka tidak
melihat Nibbāna, namun mereka mengucapkan syair sebagai berikut:
‘Yang tertinggi dari segala perolehan adalah kesehatan,
Nibbāna adalah kebahagiaan tertinggi.’
Syair ini diucapkan oleh para Sempurna, Yang Tercerahkan
Sempurna sebelumnya, sebagai berikut:
‘Yang tertinggi dari segala perolehan adalah kesehatan,
Nibbāna adalah kebahagiaan tertinggi,
Jalan Mulia Berunsur Delapan adalah jalan terbaik
Karena jalan itu menuntun menuju keselamatan, pada Tanpa-Kematian.’
Sekarang
syair ini perlahan-lahan menjadi umum di antara orang-orang biasa. Dan walaupun jasmani ini, Māgandiya, adalah penyakit,
tumor, anak panah, bencana, dan penderitaan, namun dengan merujuk pada jasmani
ini engkau mengatakan: ‘Ini adalah kesehatan itu, Guru Gotama, ini adalah
Nibbāna itu.’ Engkau tidak memiliki penglihatan mulia, Māgandiya, yang
dengannya engkau dapat mengetahui kesehatan dan melihat Nibbāna.”
[Kitab Komentar : perihal “syair ini perlahan-lahan
menjadi umum di antara orang-orang biasa”, syair lengkap telah diucapkan oleh
para Buddha sebelumnya ketika duduk di tengah-tengah empat kelompok. Banyak
orang mempelajarinya sebagai “syair yang berhubungan dengan kebaikan.” Setelah
kematian Buddha terakhir, syair sisa warisan dari Buddha terdahulu sebelum
Buddha Gotama ini menyebar di antara para pengembara, yang hanya mampu
melestarikan dua baris pertama dalam kitab-kitab mereka, namun makna
intrinsiknya telah terdegradasi seiring dengan waktu sehingga telah kehilangan
makna otentiknya.]
22. “Aku berkeyakinan pada Guru Gotama sebagai berikut: ‘Guru Gotama
mampu mengajarkan Dhamma kepadaku sedemikian sehingga aku dapat mengetahui
kesehatan dan melihat Nibbāna.’”
“Māgandiya, misalkan ada seorang yang buta sejak lahir yang tidak dapat
melihat bentuk-bentuk yang gelap dan terang … atau matahari dan bulan. Kemudian
teman-teman dan sahabatnya, sanak saudara dan kerabatnya, akan membawa seorang
tabib untuk mengobatinya. Tabib itu akan meracik obat untuknya, namun dengan
obat itu penglihatan orang itu tidak muncul atau tidak menjadi murni. Bagaimana
menurutmu, Māgandiya, apakah tabib itu mendapatkan kelelahan dan kekecewaan?” –
“Benar, Guru Gotama.” – “Demikian pula, Māgandiya, jika Aku mengajarkan Dhamma
kepadamu sebagai berikut: ‘Ini adalah kesehatan itu, ini adalah Nibbāna itu,’
engkau mungkin tidak mengetahui kesehatan atau tidak melihat Nibbāna, dan itu
akan melelahkan dan menyusahkan Aku.” [511]
23. “Aku berkeyakinan pada Guru Gotama sebagai berikut: ‘Guru Gotama
mampu mengajarkan Dhamma kepadaku sedemikian sehingga aku dapat mengetahui
kesehatan dan melihat Nibbāna.’”
“Māgandiya, misalkan ada seorang yang buta sejak lahir yang tidak dapat
melihat bentuk-bentuk yang gelap dan terang … atau matahari dan bulan. Ia
mungkin mendengar seseorang yang berpenglihatan baik mengatakan: ‘Sungguh
bagus, tuan-tuan, kain putih ini, indah, tanpa noda, dan bersih!’ dan ia pergi
mencari kain putih. Kemudian seseorang menipunya dengan kain usang yang kotor
sebagai berikut: ‘Tuan, ini adalah kain putih untukmu, indah, tanpa noda, dan
bersih.’ Dan ia menerimanya dan memakainya. Kemudian teman-teman dan
sahabatnya, sanak saudara dan kerabatnya, akan membawa seorang tabib untuk mengobatinya.
Tabib itu akan meracik obat untuknya – obat pembuat muntah dan pencahar, salep
dan salep-penawar, dan terapi hidung – dan dengan obat-obatan itu penglihatan
orang itu muncul dan menjadi murni. Bersamaan
dengan munculnya penglihatannya, keinginan dan kesukaannya pada kain usang yang
kotor itu menjadi ditinggalkan; kemudian ia mungkin terbakar oleh kemarahan dan
permusuhan terhadap orang itu dan mungkin berpikir bahwa orang itu harus
dibunuh sebagai berikut: ‘Sungguh, aku telah lama diperdaya, ditipu, dan
dicurangi oleh orang itu dengan kain usang yang kotor ini ketika ia memberitahukan
kepadaku: “Tuan, ini adalah kain putih untukmu, indah, tanpa noda, dan bersih.”’
24. “Demikian pula, Māgandiya, jika Aku mengajarkan Dhamma kepadamu
sebagai berikut: ‘Ini adalah kesehatan itu, ini adalah Nibbāna itu,’ engkau
mungkin mengetahui kesehatan dan melihat Nibbāna. Bersamaan dengan munculnya
penglihatanmu, keinginan dan nafsumu pada kelima kelompok unsur kehidupan yang
terpengaruh oleh kemelekatan mungkin akan ditinggalkan. Kemudian mungkin
engkau akan berpikir: ‘Sungguh, aku telah lama diperdaya, ditipu, dan
dicurangi oleh pikiran ini. Karena ketika melekat, aku telah melekat hanya pada
bentuk materi, aku telah melekat hanya pada perasaan, aku telah melekat hanya pada
persepsi, aku telah melekat hanya pada bentukan-bentukan, aku telah melekat
hanya pada kesadaran. Dengan
kemelekatanku sebagai kondisi, maka muncul pula penjelmaan; dengan penjelmaan
sebagai kondisi, maka muncul pula kelahiran; dengan kelahiran sebagai kondisi,
maka muncul pula penuaan dan kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan,
[512] dan keputus-asaan. Demikianlah asal-mula keseluruhan kumpulan penderitaan
ini.’”
[Kitab Komentar : Perihal frasa “hanya pada”, penekanan
yeva, “hanya,” menyiratkan bahwa ia melekat pada bantuk materi,
perasaan, dan seterusnya, secara keliru menganggapnya sebagai “aku,”
“milikku,” dan “diriku.” Dengan munculnya penglihatan – ungkapan metafora
untuk jalan memasuki-arus – pandangan
identitas dilenyapkan dan ia memahami bahwa kelompok-kelompok unsur kehidupan
hanya sebagai fenomena kosong yang hampa dari diri yang ia hubungkan dengannya
sebelumnya.]
25. “Aku berkeyakinan pada Guru Gotama sebagai berikut: ‘Guru Gotama
mampu mengajarkan Dhamma kepadaku sedemikian sehingga aku dapat bangkit dari
tempat duduk ini dengan kebutaanku
menjadi sembuh.’”
“Maka, Māgandiya, bergaullah
dengan orang-orang sejati. Ketika engkau bergaul dengan orang-orang sejati, maka engkau akan
mendengarkan Dhamma sejati. Ketika engkau mendengarkan Dhamma sejati, maka
engkau akan berlatih sesuai dengan Dhamma sejati. Ketika engkau berlatih sesuai
dengan Dhamma sejati, maka engkau akan mengetahui dan melihat untuk dirimu
sendiri sebagai berikut: ‘Ini
adalah penyakit-penyakit, tumor-tumor, dan anak-anak panah; tetapi di sini
penyakit-penyakit, tumor-tumor, dan anak-anak panah itu lenyap tanpa sisa.747
Dengan lenyapnya kemelekatan maka lenyap pula penjelmaan; dengan lenyapnya
penjelmaan, maka lenyap pula kelahiran; dengan lenyapnya kelahiran, maka lenyap
pula penuaan dan kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan
keputus-asaan. Demikianlah lenyapnya keseluruhan kumpulan penderitaan ini.’”
[Kitab Komentar : Frasa “Ini” dalam kalimat “Ini
adalah penyakit-penyakit, tumor-tumor, dan anak-anak panah”, merujuk pada
kelima kelompok unsur kehidupan.]
26. Ketika hal ini dikatakan, Pengembara Māgandiya berkata: “Mengagumkan,
Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah membabarkan Dhamma
dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan
apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan
pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat
bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma dan pada Sangha
para bhikkhu. Aku ingin menerima pelepasan keduniawian di bawah Guru Gotama,
aku ingin menerima penahbisan penuh.”
27. “Māgandiya, seseorang yang sebelumnya adalah penganut sekte lain dan
ingin meninggalkan keduniawian dan menerima penahbisan penuh dalam Dhamma dan
Disiplin ini harus menjalani masa percobaan selama empat bulan. Di akhir empat bulan
itu, jika para bhikkhu merasa puas dengannya, maka mereka akan memberikan
kepadanya pelepasan keduniawian dan penahbisan penuh menjadi seorang bhikkhu.
Tetapi Aku mengenali perbedaan-perbedaan individual dalam hal ini.”
“Yang Mulia, jika seseorang yang sebelumnya adalah penganut sekte lain
dan ingin meninggalkan keduniawian dan menerima penahbisan penuh dalam Dhamma
dan Disiplin ini harus menjalani masa percobaan selama empat bulan, dan jika di
akhir empat bulan itu para bhikkhu merasa puas dengannya, maka mereka akan
memberikan kepadanya pelepasan keduniawian dan penahbisan penuh menjadi seorang
bhikkhu, maka aku akan menjalani masa percobaan selama empat tahun. Di akhir
empat tahun itu jika para bhikkhu merasa puas denganku, maka biarlah mereka
memberikan kepadaku pelepasan keduniawian dan penahbisan penuh menjadi seorang bhikkhu.”
[513]
28. Kemudian Pengembara Māgandiya menerima pelepasan keduniawian di bawah
Sang Bhagavā, dan ia menerima penahbisan penuh. Dan segera, tidak lama setelah penahbisannya,
dengan berdiam sendirian, terasing, rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh, Yang
Mulia Māgandiya, dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan
langsung, di sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam tujuan tertinggi
kehidupan suci yang dicari oleh para anggota keluarga yang meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Ia
secara langsung mengetahui: “Kelahiran
telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan
telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.” Dan Yang Mulia Māgandiya menjadi salah satu di
antara para Arahant.
“Menyukai dan menolak” (anurodhapaṭivirodha) berarti
bereaksi dengan ketertarikan melalui nafsu dan dengan penolakan melalui
kebencian. Proliferasi (papañca), ini adalah aktivitas pikiran yang
diatur oleh ketagihan dan pandangan. Dalam suatu pembahasan penembusan, “Concept
and Reality in Early Buddhism”, Bhiikhu Ñāṇananda menjelaskan papañca sebagai
“proliferasi konseptual”.
Timbulnya proliferasi ini sebagai tiga faktor – ketagihan, keangkuhan, dan
pandangan – yang karenanya pikiran
menjadi “membubuhi” pengalaman dengan menginterpretasikannya dengan
sebutan “milikku,” “aku,” dan “diriku” sebagai pandangan subjektivitas. Papañca
dengan demikian, adalah berhubungan dekat dengan maññanā, “menganggap”.
Kata Pali “menganggap” (maññati), yang berasal dari akar kata man,
“berpikir”, sering digunakan dalam sutta-sutta Pali untuk mengartikan
pemikiran-pemikiran yang menyimpang – pikiran yang berasal dari karakteristik
objek dan suatu pemahaman yang diturunkan bukan dari objek itu sendiri,
melainkan dari imajinasi subjektif seseorang, sehingga terjadi bias atau
distorsi pengenalan suatu objek yang diamati / dirasakan.
Penyimpangan
kognitif yang diusulkan oleh
“menganggap” terdiri dari, secara singkat, pemaksaan dari perspektif egosentris
ke dalam pengalaman yang telah sedikit menyimpang oleh persepsi spontan. Aktivitas
“menganggap” diatur oleh tiga kekotoran, yang muncul dalam berbagai cara
manifestasinya – keinginan (taṇha), keangkuhan (māna), dan pandangan (diṭṭhi).
Kitab Komentar menuliskan contoh ilustrasi, sebagai berikut : “Setelah
melihat tanah dengan persepsi
menyimpang, orang biasa
kemudian menganggapnya – menafsirkan atau menilainya – melalui
kecenderungan-kecenderungan berproliferasi yang kasar (papañca) dari ketagihan,
keangkuhan, dan pandangan, yang disebut ‘anggapan’ … Ia
memahaminya dalam beragam cara yang bertolak-belakang [dengan kenyataan].”
Empat cara menganggap (maññanā). Sang Buddha menunjukkan bahwa
“anggapan” atas objek apapun dapat terjadi dalam salah satu dari empat cara,
diungkapkan oleh teks sebagai empat pola linguistik: akusatif, lokatif,
ablatif, dan peruntukan. Beragam cara yang mana seorang biasa mencoba
memberikan makna positif pada makna keegoan yang ia bayangkan dengan
memposisikan, di bawah ambang bayangan, suatu hubungan antara dirinya sebagai
subjek kognisi dan fenomena yang dilihat sebagai objek.
Menurut empat pola yang diberikan, hubungan ini dapat berupa salah satu
dari identifikasi langsung (“ia melihat X”), atau yang mendasari (“ia
membayangkan di dalam X”), atau perbedaan atau turunan (“ia membayangkan dari
X”), atau hanya sekadar peruntukan (“ia menganggap X sebagai ‘milikku’”).
Tetapi hati-hati dalam menginterpretasikan frasa-frasa ini. Pali tidak
menyediakan objek langsung bagi cara ke-dua dan ke-tiga, dan ini menyiratkan
bahwa proses “penganggapan” berlangsung dari tingkat yang lebih dalam dan lebih
umum daripada yang terlibat dalam pembentukan pandangan diri secara eksplisit,
seperti yang dijelaskan misalnya pada Majjhima Nikāya 2.8 atau Majjhima Nikāya
44.7.
Dengan demikian aktivitas “penganggapan” sepertinya terdiri dari keseluruhan wilayah kognisi
yang diwarnai secara subjektif, dari impuls dan pikiran yang mana makna
identitas pribadi masih belum lengkap untuk menjelaskan struktur intelektual
yang telah dijelaskan secara lengkap.
Akan tetapi penerjemah lain, memahami objek “anggapan” implisit sebagai
persepsi itu sendiri, dan karena itu menerjemahkan: “setelah mempersepsikan
tanah dari tanah, ia menganggap [itu sebagai] tanah, ia menganggap [itu
sebagai] di dalam tanah, ia menganggap [itu terpisah] dari tanah,” dan
seterusnya. Frasa ke lima, “ia bersenang di dalam X,” secara eksplisit
menghubungkan “penganggapan” dengan keinginan, yang mana di tempat lain
dikatakan “bergembira di sana-sini.” Hal ini, lebih jauh lagi, menyiratkan bahaya dalam proses pemikiran kaum
duniawi, karena ketagihan dikatakan oleh Sang Buddha sebagai asal-mula
penderitaan.
Terdapat banyak contoh kasus yang mengilustrasikan segala jenis
“penganggapan” yang berbeda, dan ini jelas menegaskan bahwa objek
“penganggapan” yang dimaksudkan adalah makna egoistis yang keliru.
Kata majemuk papañca-saññā-sankhā lebih rumit. YM Ñāṇananda
menginterpretasikannya sebagai “konsep-konsep yang dikarakteristikkan oleh
pikiran yang cenderung berkembang,” tetapi penjelasan ini masih belum
memasukkan kata saññā. Ada penerjemah yang mengemas sankhā dengan
koṭṭhāsa, “bagian,” dan mengatakan
bahwa saññā adalah persepsi yang berhubungan dengan papañca
ataupun papañca itu sendiri.
Ñāṇananda menganggap sankhā lebih sebagai berarti konsep atau gagasan
(“Perhitungan” dari penerjemah lain adalah terlalu literal) daripada “bagian”.
Keputusan untuk memperlakukan saññā-sankhā sebagai kata majemuk dvanda,
“persepsi dan gagasan,” mungkin akan dipertanyakan, tetapi karena ungkapan saññā-sankhā
jarang muncul dalam Kanon dan tidak pernah dianalisa secara verbal, maka tidak
ada terjemahan yang benar-benar tanpa keraguan.
Pada Interpretasi alternatif dari komponennya, ungkapan itu mungkin dapat
diterjemahkan “gagasan-gagasan [yang muncul dari] proliferasi persepsi” atau
“gagagasan-gagasan persepsi [yang muncul dari] proliferasi.” Lanjutannya akan
menjelaskan bahwa proses
kognisi itu sendiri adalah “sumber yang melaluinya persepsi dan gagasan [yang
timbul dari] proliferasi pikiran menyerang seseorang.” Jika dalam proses kognisi tersebut tidak ada
yang disenangi, disambut, atau digenggam, maka kecenderungan tersembunyi pada
kekotoran-kekotoran akan berakhir.
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, persepsi yang dilandasi
oleh kekotoran-batin sebagai cara ia memandang sesuatunya, menghasilkan
pandangan yang mengganggap apa yang kotor sebagai bersih serta melekat padanya.
Kesemua
di bawah ini, merupakan contoh konkret dari persepsi yang dikeruhkan oleh
kekotoran-batin paling delusif—dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Ketika
persepsi dikotori atau dikeruhkan oleh cemaran / polutan berupa keinginan (taṇha),
keangkuhan (māna), dan pandangan (diṭṭhi)
keliru, jadilah “manusia-kesetanan” yang begitu mabuk secara kecanduan—masih
dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]