Halusinasi Terbesar Umat Agama Samawi : Dosa-Dosa Bisa Dihapus Semudah
Ritual Pengampunan / Penebusan Dosa—Agama bagi para PEMALAS dan PENGECUT
Kesalahan adalah tentang Masa Lampau. Tanggung Jawab adalah tentang Masa Kini dan Masa Depan
Question: Kenapa sih, umat agama samawi tidak bertanggung-jawab saja kepada para korban mereka, justru lebih sibuk ritual doa permohonan pengampunan dosa kepada “Tuhan” yang mereka sembah?
Brief
Answer: Berbuat dosa, lalu
berupaya menghapus sejarah perbuatan buruknya semudah lewat ritual
“PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”, mengakibatkan sang pendosawan
akan cenderung meremehkan perbuatan-perbuatan buruk mereka, untuk kemudian
kembali jatuh di lubang yang sama berulang-kali, yakni jurang dosa-dosa.
Pertanyaan yang lebih relevan, apakah luka-luka, derita, trauma, kerugian,
maupun kesakitan yang diderita dan dirasakan oleh sang korban, akankah sirna
secar sendirinya? Luka dan trauma korban belum juga kunjung mengering, namun
para pendosa pecandu “PENGHAPUSAN DOSA” tersebut sudah berdelusi terjamin masuk
surga leewat ritual korup yang “too good to be true” demikian. Mungkin,
di mata dan pikiran mereka yang picik serta dangkal khas “KORUPTOR DOSA” dimana
dosa-dosa pun turut dikorupsi, ritual
“PENGHAPUSAN DOSA” adalah lebih murah dan lebih mudah daripada harus
bertanggung-jawab terhadap luka, sakit, maupun kerugian yang dialami
korban-korban mereka.
PEMBAHASAN:
Sang
Buddha selalu mengingatkan para siswa-Nya dalam setiap pengembaraan Beliau
membabarkan Dhamma, agar tidak meremehkan pelanggaran-pelanggaran kecil,
terlebih pelanggaran besar. Kalimat Peter Senge, ilmuwan Amerika Serikat dalam
bukunya The Fifth Discipline, menuliskan “the easy way out, usually leads
back in”, cukup relevan. Simplifikasi cara atau jalan keluar terhadap
persoalan dapat membawa kita kembali kepada permasalahan.
Kita
harus mewaspadai dan senantiasa waspada terhadap pikiran kita sendiri, karena “pandangan
salah adalah yang paling tercela dari segala hal”, sebagaimana dapat kita simak
Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya), Judul
Asli : The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the
Majjhima Nikāya, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
SUTTA
56
Upāli
Sutta : Kepada Upāli
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Nāḷandā di Hutan Mangga Pāvārika.
2. Pada saat itu Nigaṇṭha Nātaputta sedang berada di Nāḷandā bersama sekumpulan besar para Nigaṇṭha. Kemudian, ketika seorang Nigaṇṭha [bernama] Dīgha Tapassī telah menerima dana
makanan dan telah kembali dari perjalanan itu, setelah makan ia pergi ke Hutan
Mangga Pāvārika untuk menemui Sang Bhagavā. [372] Ia saling bertukar sapa
dengan Sang Bhagavā, dan ketika ramah-tamah ini selesai, ia berdiri di satu
sisi. Ketika berdiri di sana, Sang Bhagavā berkata kepadanya: “Ada tempat duduk,
Tapassī, duduklah jika engkau menginginkan.”
[Kitab Komentar : “Dīgha Tapassī” berarti “Petapa
Tinggi,” nama yang diberikan kepadanya karena tinggi badannya.]
3. Ketika hal ini dikatakan, Dīgha Tapassī mengambil tempat duduk yang
rendah dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya:
“Tapassī, berapa banyakkah jenis perbuatan yang digambarkan oleh Nigaṇṭha Nātaputta sebagai pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan
perbuatan buruk?”
“Teman Gotama, Nigaṇṭha Nātaputta tidak menggunakan penggambaran
‘perbuatan, perbuatan’; Nigaṇṭha Nātaputta biasanya menggunakan penggambaran
‘tongkat, tongkat.’”
[Kitab Komentar : Daṇḍa, tongkat, aslinya berarti
potongan kayu atau batang, memperoleh makna tongkat sebagai alat penghukum, dan
selanjutnya menjadi bermakna hukuman atau penderitaan itu sendiri, bahkan tanpa
merujuk pada suatu alat. Penggunaannya di sini menyiratkan bahwa para Jain menganggap
aktivitas jasmani, ucapan, dan pikiran sebagai alat-alat yang dengannya
seseorang menyengsarakan dirinya sendiri dengan memperlama belenggunya dalam saṁsāra dan menyengsarakan
makhluk lain dengan menimbulkan kemalangan pada mereka.
Jainisme merupakan paham yang mengajarkan bahwa ada
pluralitas entitas jiwa yang terperangkap dalam materi melalui pertalian kamma
lampau dan bahwa jiwa itu harus dibebaskan dengan menghabiskan pertalian kamma
melalui praktik keras menyiksadiri.]
“Kalau begitu, Tapassī, berapa banyakkah jenis tongkat yang digambarkan
oleh Nigaṇṭha Nātaputta sebagai pelaksanaan perbuatan buruk,
dalam melakukan perbuatan buruk?”
“Teman Gotama, Nigaṇṭha Nātaputta menjelaskan tiga jenis tongkat sebagai
pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk; yaitu, tongkat
jasmani, tongkat ucapan, dan tongkat pikiran.”
[Kitab Komentar : Para Nigaṇṭha
menganut bahwa kedua “tongkat” pertama menghasilkan kamma secara tidak
bergantung pada keterlibatan pikiran (acittaka) seperti halnya, ketika
angin bertiup, dahan-dahan berayun dan dedaunan bergemerisik tanpa adanya
inisiatif pikiran.]
“Bagaimanakah, Tapassī, apakah tongkat jasmani adalah satu hal, tongkat
ucapan adalah hal lainnya, dan tongkat pikiran adalah hal lainnya lagi?”
“Tongkat jasmani adalah satu hal, Guru Gotama, tongkat ucapan adalah hal
lainnya, dan tongkat pikiran adalah hal lainnya lagi.”
“Dari ketiga jenis tongkat ini, Tapassī, yang dianalisa dan dibedakan
sedemikian, jenis yang manakah
yang oleh Nigaṇṭha Nātaputta
digambarkan sebagai yang paling tercela bagi pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk: tongkat jasmani
atau tongkat ucapan atau tongkat pikiran?”
“Dari ketiga jenis tongkat ini, Teman Gotama, yang dianalisa dan
dibedakan sedemikian, Nigaṇṭha Nātaputta menggambarkan tongkat jasmani sebagai
yang paling tercela bagi pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan
buruk, sedangkan tongkat ucapan dan tongkat pikiran tidak terlalu tercela.”
“Apakah engkau mengatakan tongkat jasmani, Tapassī?”
“Aku mengatakan tongkat jasmani, Teman Gotama.”
“Apakah engkau mengatakan tongkat jasmani, Tapassī?”
“Aku mengatakan tongkat jasmani, Teman Gotama.”
“Apakah engkau mengatakan tongkat jasmani, Tapassī?”
“Aku mengatakan tongkat jasmani, Teman Gotama.”
Demikianlah Sang Bhagavā membuat Nigaṇṭha Dīgha Tapassī mempertahankan pernyataannya sampai tiga kali. [373]
4. Kemudian Nigaṇṭha Dīgha Tapassī bertanya kepada Sang Bhagavā: “Dan
Engkau, Teman Gotama, berapa banyakkah jenis tongkat yang digambarkan olehMu
sebagai pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk?”
“Tapassī, Sang Tathāgata tidak menggunakan penggambaran ‘tongkat,
tongkat’; Sang Tathāgata biasanya menggunakan penggambaran ‘perbuatan,
perbuatan.’”
“Kalau begitu, Teman Gotama berapa banyakkah jenis perbuatan yang
digambarkan olehMu sebagai pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan
perbuatan buruk?”
“Tapassī, Aku menggambarkan tiga jenis perbuatan sebagai pelaksanaan
perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk; yaitu, perbuatan jasmani,
perbuatan ucapan, dan perbuatan pikiran.”
“Bagaimanakah, Teman Gotama, apakah perbuatan jasmani adalah satu hal,
perbuatan ucapan adalah hal lainnya, dan perbuatan pikiran adalah hal lainnya
lagi?”
“Perbuatan jasmani adalah satu hal, Tapassī, perbuatan ucapan adalah hal
lainnya, dan perbuatan pikiran adalah hal lainnya lagi.”
“Dari ketiga jenis perbuatan ini, Teman Gotama, yang dianalisa dan
dibedakan sedemikian, jenis
yang manakah yang olehMu digambarkan sebagai yang paling tercela bagi
pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk: perbuatan jasmani atau perbuatan ucapan atau
perbuatan pikiran?”
“Dari ketiga jenis perbuatan ini, Tapassī, yang dianalisa dan dibedakan
sedemikian, Aku menggambarkan perbuatan
pikiran sebagai yang paling tercela bagi pelaksanaan perbuatan buruk, dalam
melakukan perbuatan buruk, sedangkan perbuatan jasmani dan perbuatan ucapan tidak terlalu
tercela.”
[Kitab Komentar : Sang Buddha mengatakan hal tersebut,
karena dalam ajaranNya kehendak (cetanā), suatu faktor batin, adalah
unsur kamma yang paling penting, dan dengan ketiadaannya – yaitu, dalam
kasus aktivitas jasmani atau ucapan yang tidak disengaja – tidak ada kamma
yang dihasilkan. Akan tetapi, terdapat juga pendapat bahwa Sang Buddha
mengatakan hal ini dengan merujuk pada pandangan salah dengan akibat pasti (niyatā
micchā diṭṭhi), dan mengutip Anguttara Nikāya 1:18.3/i.33 sebagai dukungan: “Para
bhikkhu, Aku
tidak melihat apapun yang begitu tercela seperti halnya pandangan salah.
Pandangan salah adalah yang paling tercela dari segala hal.” Jenis-jenis pandangan salah ini dijelaskan dalam
Majjhima Nikāya 60.5, 13 dan 21.]
“Apakah engkau mengatakan perbuatan pikiran, Teman Gotama?”
“Aku mengatakan perbuatan
pikiran, Tapassī.”
“Apakah engkau mengatakan perbuatan pikiran, Teman Gotama?”
“Aku mengatakan perbuatan
pikiran, Tapassī.”
“Apakah engkau mengatakan perbuatan pikiran, Teman Gotama?”
“Aku mengatakan perbuatan
pikiran, Tapassī.”
Demikianlah Nigaṇṭha Dīgha Tapassī membuat Sang Bhagavā mempertahankan
pernyataanNya sampai tiga kali, dan setelah itu ia bangkit dari duduknya dan
pergi menghadap Nigaṇṭha Nātaputta.
5. Pada saat itu Nigaṇṭha Nātaputta sedang duduk bersama sejumlah besar
umat awam dari Bālaka yang dipimpin oleh Upāli. Dari kejauhan Nigaṇṭha Nātaputta melihat kedatangan Nigaṇṭha Dīgha Tapassī dan bertanya kepadanya: “Dari
manakah engkau datang di siang hari ini, Tapassī?”
“Aku datang dari kediaman Petapa Gotama, Yang Mulia.”
“Apakah engkau berbincang-bincang dengan Petapa Gotama, Tapassī?” [374]
“Aku berbincang-bincang dengan Petapa Gotama, Yang Mulia.”
“Seperti apakah perbincanganmu dengan Beliau, Tapassī?”
Kemudian Nigaṇṭha Dīgha Tapassī menceritakan kepada Nigaṇṭha Nātaputta keseluruhan pembicaraannya dengan Sang Bhagavā.
6. Ketika hal ini dikatakan Nigaṇṭha Nātaputta berkata: “Bagus, bagus, Tapassī! Nigaṇṭha Dīgha Tapassī telah menjawab Petapa Gotama seperti seorang siswa yang
telah diajarkan dengan baik yang memahami ajaran gurunya dengan benar. Apalah
artinya tongkat pikiran yang halus bila dibandingkan dengan tongkat jasmani
yang kasar? Sebaliknya, tongkat jasmani adalah yang paling tercela bagi
pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk, sedangkan tongkat
ucapan dan tongkat pikiran tidak terlalu tercela.”
7. Ketika hal ini dikatakan, perumah-tangga Upāli berkata kepada Nigaṇṭha Nātaputta: “Bagus, bagus, Yang Mulia, [di pihak] Dīgha Tapassī! Yang
Mulia Tapassī telah menjawab Petapa Gotama seperti seorang siswa yang telah
diajarkan dengan baik yang memahami ajaran gurunya dengan benar. Apalah artinya
tongkat pikiran yang halus bila dibandingkan dengan tongkat jasmani yang kasar?
Sebaliknya, tongkat jasmani adalah yang paling tercela bagi pelaksanaan
perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk, sedangkan tongkat ucapan dan tongkat
pikiran tidak terlalu tercela. Sekarang, Yang Mulia, aku akan pergi dan
membantah doktrin Petapa Gotama berdasarkan pada pernyataan ini. Jika Petapa
Gotama di hadapanku mempertahankan apa yang Beliau pertahankan di hadapan Yang Mulia
Dīgha Tapassī, maka bagaikan seorang kuat mencengkeram seekor domba jantan
berbulu lebat pada bulunya dan menariknya berputar, demikian pula dalam
perdebatan itu aku akan menarik Petapa Gotama ke sana dan menarik Beliau ke sini
dan menarikNya berputar. Bagaikan seorang pembuat minuman keras yang kuat dapat
melemparkan sebuah saringan minuman besar ke dalam tangki air yang dalam, dan
dengan memegang salah satu ujungnya, menariknya ke sana dan menariknya ke sini
dan menariknya berputar, demikian pula dalam perdebatan itu aku akan menarik
Petapa Gotama ke sana dan menarik Beliau ke sini dan menarikNya berputar.
Bagaikan seorang pengaduk minuman keras yang kuat dapat memegang tepi saringan
dan mengguncangnya ke bawah dan mengguncangnya ke atas dan mengguncangnya ke
segala arah, demikian pula dalam perdebatan itu aku akan mengguncang Petapa
Gotama ke bawah [375] dan mengguncang Beliau ke atas dan mengguncang Beliau ke
segala arah. Dan bagaikan seekor gajah berumur enam puluh tahun akan mencebur
ke dalam kolam dan menikmati permainan mencuci rami, demikian pula aku akan
menikmati permainan mencuci rami dengan Petapa Gotama. Yang Mulia, aku akan
pergi dan membantah doktrin Petapa Gotama berdasarkan pada pernyataan ini.”
[Kitab Komentar : Perihal “bagaikan seorang kuat”, seperti
pada Majjhima Nikāya 35.5.]
“Pergilah, perumah-tangga, dan bantahlah doktrin Petapa Gotama
berdasarkan pada pernyataan ini. Karena apakah aku sendiri atau Nigaṇṭha Dīgha Tapassī atau engkau sendiri harus membantah doktrin Petapa
Gotama.”
8. Ketika hal ini dikatakan, Nigaṇṭha Dīgha Tapassī berkata kepada Nigaṇṭha Nātaputta: “Yang Mulia, aku tidak setuju perumah-tangga Upāli [mencoba
untuk] membantah doktrin Petapa Gotama. Karena Petapa Gotama adalah seorang
penyihir dan menguasai sihir pengalihan keyakinan yang dengannya Beliau
mengalihkan keyakinan para penganut sekte lainnya.”
“Tidak mungkin, Tapassī, tidak mungkin terjadi bahwa perumah-tangga Upāli
akan menjadi siswa di bawah Petapa Gotama; tetapi mungkin saja, dapat terjadi
bahwa Petapa Gotama akan menjadi siswa di bawah perumah-tangga Upāli. Pergilah,
perumah-tangga, dan bantahlah doktrin Petapa Gotama berdasarkan pada pernyataan
ini. Apakah aku sendiri atau Nigaṇṭha Dīgha Tapassī atau engkau sendiri harus membantah
doktrin Petapa Gotama.”
Untuk ke dua kalinya ... Untuk ke tiga kalinya, Nigaṇṭha Dīgha Tapassī berkata kepada Nigaṇṭha Nātaputta: “Yang Mulia, aku tidak setuju
perumah-tangga Upāli [mencoba untuk] membantah doktrin Petapa Gotama. Karena
Petapa Gotama adalah seorang penyihir dan menguasai sihir pengalihan keyakinan
yang dengannya Beliau mengalihkan keyakinan para penganut sekte lainnya.”
“Tidak mungkin, Tapassī, tidak mungkin terjadi bahwa perumah-tangga Upāli
akan menjadi siswa di bawah Petapa Gotama; tetapi mungkin saja, dapat terjadi
bahwa Petapa Gotama akan menjadi siswa di bawah perumah-tangga Upāli. Pergilah,
perumah-tangga, dan bantahlah doktrin Petapa Gotama berdasarkan pada pernyataan
ini. Apakah aku sendiri atau Nigaṇṭha Dīgha Tapassī atau engkau sendiri harus membantah
doktrin Petapa Gotama.”
9. “Baik, Yang Mulia,” perumah-tangga Upāli menjawab, dan ia bangkit dari
duduknya, dan setelah bersujud kepada Nigaṇṭha Nātaputta, dengan Nigaṇṭha Nātaputta di sisi kanannya, ia pergi mendatangi Sang Bhagavā di Hutan
Mangga Pāvārika. [376] Di sana, setelah bersujud kepada Sang Bhagavā, ia duduk
di satu sisi dan bertanya kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, apakah tadi Nigaṇṭha Dīghā Tapassī datang ke sini?”
“Tadi Nigaṇṭha Dīgha Tapassī datang ke sini, perumah-tangga.”
“Yang Mulia, apakah Engkau berbincang-bincang dengannya?”
“Aku berbincang-bincang dengannya, perumah-tangga.”
“Seperti apakah perbincanganMu dengannya, Yang Mulia?”
Kemudian Sang Bhagavā menceritakan kepada perumah-tangga Upāli
keseluruhan pembicaraanNya dengan Nigaṇṭha Dīgha Tapassī.
10. Ketika hal ini dikatakan, perumah-tangga Upāli berkata kepada Sang
Bhagavā: “Bagus, bagus, Yang Mulia, di pihak Tapassī! Nigaṇṭha Dīgha Tapassī telah menjawab Petapa Gotama seperti seorang siswa yang
telah diajarkan dengan baik yang memahami ajaran gurunya dengan benar. Apalah
artinya tongkat pikiran yang halus bila dibandingkan dengan tongkat jasmani yang
kasar? Sebaliknya, tongkat jasmani adalah yang paling tercela bagi pelaksanaan
perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk, sedangkan tongkat ucapan dan
tongkat pikiran tidak terlalu tercela.”
“Perumah-tangga, jika engkau akan berdebat dengan berdasarkan pada
kebenaran, maka kita mungkin akan terlibat dalam perbincangan mengenai hal
ini.”
“Aku akan berdebat dengan berdasarkan pada kebenaran, Yang Mulia, maka
marilah kita berbincang-bincang mengenai hal ini.”
11. “Bagaimana menurutmu, perumah-tangga? Di sini beberapa Nigaṇṭha mungkin mengalami kesusahan, menderita, dan sakit keras [dengan
penyakit yang membutuhkan perawatan dengan air dingin, yang tidak diperbolehkan
oleh sumpahnya] dan ia akan menolak air dingin [walaupun menginginkannya] dan hanya
menggunakan air panas [yang diperbolehkan dan dengan demikian menjaga sumpahnya
secara jasmani dan ucapan]. Karena tidak mendapatkan air dingin maka ia akan
mati. Sekarang, perumah-tangga, di manakah Nigaṇṭha Nātaputta menggambarkan kelahiran kembalinya [terjadi]?”
“Yang Mulia, ada para dewa yang disebut ‘pikiran-terikat’; ia akan
terlahir kembali di sana. Mengapakah? Karena ketika ia mati ia masih terikat
[oleh kemelekatan] dalam pikiran.”
[Kitab Komentar : Penambahan dalam kurung pada
paragraf sebelumnya, disisipkan oleh Bhikkhu Ñāṇamoli. Bhikkhu Ñāṇamoli menyimpulkan argumen ini sebagai berikut: Para
Nigaṇṭha tidak diperbolehkan menggunakan air dingin (karena mereka
menganggapnya mengandung makhluk hidup). Dengan menolak air dingin melalui
jasmani dan ucapan ia menjaga perilaku jasmani dan ucapannya tetap murni, tetapi
jika dalam pikirannya ia menginginkan air dingin maka perilaku pikirannya tidak
murni, dan dengan demikian ia terlahir kembali di antara “para dewa dengan
pikiran-terikat” (manosattā devā).]
“Perumah-tangga,
perumah-tangga, perhatikanlah bagaimana engkau menjawab! Apa yang engkau
katakan belakangan tidak selaras dengan apa yang engkau katakan sebelumnya,
juga apa yang engkau katakan sebelumnya tidak selaras dengan apa yang engkau
katakan belakangan. Namun
engkau membuat pernyataan ini: ‘Aku akan berdebat dengan berdasarkan pada kebenaran,
Yang Mulia, maka marilah kita berbincang-bincang mengenai hal ini.’”
“Yang Mulia, walaupun Sang Bhagavā telah berkata demikian, namun tongkat
jasmani adalah yang paling tercela bagi pelaksanaan perbuatan buruk, dalam
melakukan perbuatan buruk, sedangkan tongkat ucapan dan tongkat pikiran tidak terlalu
tercela.”
[Kitab Komentar : Pada paragraf nomor ke-15, Upāli
mengakui bahwa pada momen saat Sang Buddha menyatakan “perhatikanlah
bagaimana engkau menjawab!”, ia telah berkeyakinan pada Sang Buddha. Akan
tetapi, ia terus membantahNya karena ia ingin mendengarkan berbagai solusi dari
Sang Buddha atas persoalan itu.]
12. “Bagaimana menurutmu, [377] perumah-tangga? Di sini beberapa Nigaṇṭha mungkin terkendali dengan empat pengawasan – terkekang oleh segala
pengekangan, terjepit oleh segala pengekangan, tercuci oleh segala pengekangan,
dan dituntut oleh segala pengekangan - namun
ketika berjalan maju dan mundur ia menyebabkan kehancuran banyak makhluk hidup. Apakah akibat yang dijelaskan oleh Nigaṇṭha Nātaputta terhadapnya?”
[Kitab Komentar : Pernyataan “empat pengawasan”
berupa “segala pengekangan”, pada Dīgha Nikāya 2.29 / i.57, dianggap berasal
dari Nigaṇṭha Nātaputta sendiri sebagai formula doktrin Jain. Bhikkhu Ñāṇamoli
menunjukkan bahwa ini melibatkan permainan kata pada vāri, yang dapat
bermakna “air” juga bermakna “mengekang” (dari vāreti, menghalau). Dalam
terjemahan penerjemah atas Sāmaññaphala Sutta, The Discourse on the Fruits
of recluseship, p.24. penerjemah menerjemahkannya dengan berdasarkan pada
komentar Dīgha sebagai berikut: “Seorang Nigaṇṭha terkendali sehubungan dengan segala jenis air; ia
memiliki penghindaran segala kejahatan; ia dibersihkan oleh penghindaran segala
kejahatan; ia diliputi dengan penghindaran segala kejahatan.” Walaupun
pernyataan ini menyampaikan sesuatu mengenai kemurnian moral, namun penekannya
berbeda dengan ajaran Buddha.]
“Yang Mulia, Nigaṇṭha Nātaputta tidak
menjelaskan apa yang tidak disengaja sebagai sangat tercela.”
“Tetapi
jika orang itu sengaja, perumah-tangga?”
“Maka
itu adalah sangat tercela, Yang Mulia.”
“Tetapi dalam kelompok manakah [dari ketiga tongkat] Nigaṇṭha Nātaputta menjelaskan kehendak, perumah-tangga?”
“Dalam
tongkat pikiran, Yang
Mulia.”
[Kitab Komentar : Sang Buddha menunjukkan suatu
kontradiksi antara ajaran-ajaran Jain bahwa, bahkan dengan tidak adanya
kehendak, “tongkat jasmani” merupakan yang paling tercela dibandingkan dengan
yang lainnya, dan penegasan mereka bahwa adanya kehendak banyak mengubah
karakter moral dari suatu perbuatan.]
“Perumah-tangga,
perumah-tangga, perhatikanlah bagaimana engkau menjawab! Apa yang engkau
katakan belakangan tidak selaras dengan apa yang engkau katakan sebelumnya,
juga apa yang engkau katakan sebelumnya tidak selaras dengan apa yang engkau
katakan belakangan. Namun
engkau membuat pernyataan ini: ‘Aku akan berdebat dengan berdasarkan pada kebenaran,
Yang Mulia, maka marilah kita berbincang-bincang mengenai hal ini.’”
“Yang Mulia, walaupun Sang Bhagavā telah berkata demikian, namun tongkat
jasmani adalah yang paling tercela bagi pelaksanaan perbuatan buruk, dalam
melakukan perbuatan buruk, sedangkan tongkat ucapan dan tongkat pikiran tidak terlalu
tercela.”
13. “Bagaimana menurutmu, perumah-tangga? Apakah pemukiman Nāḷandā ini berhasil dan makmur, apakah ramai dan penuh dengan orang?”
“Benar, Yang Mulia, demikianlah.”
“Bagaimana menurutmu, perumah-tangga? Misalkan seseorang datang dengan
mengacungkan pedang dan berkata: ‘Dalam sesaat, dalam sekejap, aku akan
menjadikan seluruh makhluk hidup di pemukiman Nāḷanda ini menjadi satu tumpukan daging, menjadi satu gunung daging.’
Bagaimana menurutmu, perumah-tangga, mampukah orang itu melakukan hal itu?”
“Yang Mulia, sepuluh, dua puluh, tiga puluh, empat puluh, atau bahkan
lima puluh orang tidak akan mampu menjadikan seluruh makhluk hidup di pemukiman
ini menjadi satu tumpukan daging, menjadi satu gunung daging dalam sesaat atau
sekejap, apalagi hanya satu orang?”
“Bagaimana
menurutmu, perumah-tangga? Misalkan seorang petapa atau brahmana yang memiliki
kekuatan batin dan mencapai penguasaan pikiran datang dan berkata: ‘Aku akan menghancurkan
pemukiman Nāḷanda ini menjadi abu
dengan satu perbuatan pikiran membenci.’ Bagaimana menurutmu, perumah-tangga,
dapatkah petapa atau brahmana itu melakukan hal tersebut?” [378]
“Yang
Mulia, seorang petapa atau brahmana demikian yang memiliki kekuatan batin dan
mencapai penguasaan pikiran akan mampu menghancurkan sepuluh, dua puluh, tiga
puluh, empat puluh, atau bahkan lima puluh Nāḷanda menjadi abu dengan
satu perbuatan pikiran membenci, apalagi hanya satu Nāḷanda?”
“Perumah-tangga,
perumah-tangga, perhatikanlah bagaimana engkau menjawab! Apa yang engkau
katakan belakangan tidak selaras dengan apa yang engkau katakan sebelumnya,
juga apa yang engkau katakan sebelumnya tidak selaras dengan apa yang engkau
katakan belakangan. Namun
engkau membuat pernyataan ini: ‘Aku akan berdebat dengan berdasarkan pada kebenaran,
Yang Mulia, maka marilah kita berbincang-bincang mengenai hal ini.’”
“Yang Mulia, walaupun Sang Bhagavā telah berkata demikian, namun tongkat
jasmani adalah yang paling tercela bagi pelaksanaan perbuatan buruk, dalam
melakukan perbuatan buruk, sedangkan tongkat ucapan dan tongkat pikiran tidak terlalu
tercela.”
14. “Bagaimana menurutmu, perumah-tangga? Pernahkah engkau mendengar
bagaimana hutan-hutan Daṇḍaka, Kālinga, Mejjha, dan Mātanga menjadi hutan?” –
“Pernah, Yang Mulia.” – “Karena engkau pernah mendengarnya, bagaimanakah terjadinya
hutan-hutan itu?” – “Yang Mulia, aku mendengar bahwa hutan-hutan itu terjadi
melalui perbuatan
pikiran membenci dari
para petapa.”
[Kitab Komentar : Kisah tentang hutan-hutan
tersebut, baca Jātaka iii.463, v.133ff., 267; v.144; vi.389; v.267; v.114, 267;
Milindapañha 130.]
“Perumah-tangga,
perumah-tangga, perhatikanlah bagaimana engkau menjawab! Apa yang engkau
katakan belakangan tidak selaras dengan apa yang engkau katakan sebelumnya,
juga apa yang engkau katakan sebelumnya tidak selaras dengan apa yang engkau
katakan belakangan. Namun
engkau membuat pernyataan ini: ‘Aku akan berdebat dengan berdasarkan pada kebenaran,
Yang Mulia, maka marilah kita berbincang-bincang mengenai hal ini.’”
15. “Yang Mulia, aku merasa puas dan senang sejak perumpamaan Bhagavā
yang pertama. Namun demikian, aku pikir aku harus membantah Sang Bhagavā
seperti itu karena aku ingin mendengarkan dari Sang Bhagavā berbagai solusi
atas permasalahan. Mengagumkan, Yang Mulia! Mengagumkan, Yang Mulia! Sang
Bhagavā telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan
apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang
tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki
penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Yang Mulia, Aku berlindung pada
Sang Bhagavā [379] dan pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Sudilah
Bhagavā mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan
seumur hidup.”
16. “Selidikilah
dengan saksama, perumah-tangga. Baik sekali bagi orang terkenal seperti engkau untuk menyelidiki
dengan saksama.”
“Yang Mulia, aku bahkan menjadi lebih puas dan lebih senang dengan
pemberitahuan Sang Bhagavā itu. Karena sekte-sekte lain, ketika mendapatkan
aku sebagai siswa mereka, akan membawa panji ke seluruh Nāḷanda mengumumkan: ‘Perumah-tangga Upāli telah menjadi siswa kami.’
Tetapi, sebaliknya, Sang Bhagavā memberitahukan: ‘Selidikilah dengan saksama, perumah-tangga.
Baik sekali bagi orang terkenal seperti engkau untuk menyelidiki dengan saksama.’ Jadi untuk ke dua kalinya, Yang Mulia, Aku
berlindung pada Sang Bhagavā dan pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu.
Sudilah Bhagavā mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan
seumur hidup.”
[Komentar : Keyakinan pada Dhamma, dibangun atas
hasil penyelidikan, bukan meyakini secara membuta. Demikianlah Sang Buddha
mengajarkan kepada para murid-Nya, agar melakukan penyelidikan agar merealisasi
untuk dirinya sendiri suatu “pengetahuan secara langsung”. Adapun keyakinan
diluar Buddhisme, dibangun atas landasan “apriori”, sebelum melihat maupun menyelidiki
keadaan yang sebenarnya.]
17. “Perumah-tangga,
keluargamu telah lama menyokong para Nigaṇṭha
dan engkau harus mempertimbangkan bahwa dana harus diberikan kepada mereka
ketika mereka datang.”
“Yang Mulia, aku bahkan menjadi lebih puas dan lebih senang dengan
pemberitahuan Sang Bhagavā itu. Yang Mulia, aku telah mendengar bahwa Petapa
Gotama mengatakan sebagai berikut: ‘Persembahan harus diberikan hanya kepadaKu;
persembahan tidak boleh diberikan kepada orang lain. Persembahan harus diberikan
hanya kepada para siswaKu; persembahan tidak boleh diberikan kepada para siswa
orang lain. Hanya persembahan yang diberikan kepadaKu yang menghasilkan buah,
bukan apa yang diberikan kepada orang lain. Hanya persembahan yang diberikan
kepada para siswaKu yang menghasilkan buah, bukan apa yang diberikan kepada
para siswa orang lain.’ Tetapi, sebaliknya, Sang Bhagavā menganjurkan untuk
memberikan persembahan kepada para Nigaṇṭha. Bagaimanapun
juga kami akan mengetahui waktunya untuk itu, Yang Mulia. Jadi untuk ke tiga
kalinya, Yang Mulia, Aku berlindung pada Sang Bhagavā dan pada Dhamma dan pada
Sangha para bhikkhu. Sudilah Bhagavā mengingatku sebagai seorang umat awam yang
telah menerima perlindungan seumur hidup.”
18. Kemudian Sang Bhagavā membabarkan kepada perumah-tangga Upāli
instruksi bertingkat, yaitu, khotbah tentang memberi, khotbah tentang
moralitas, khotbah tentang alam surga; Beliau menjelaskan bahaya, kemunduran,
dan kekotoran dalam kenikmatan indria dan berkah dari pelepasan keduniawian. Ketika
Beliau mengetahui bahwa pikiran perumah-tangga Upāli [380] telah siap, dapat
menerima, bebas dari rintangan, gembira, dan berkeyakinan, Beliau membabarkan
kepadanya ajaran yang khas para Buddha: penderitaan,
asal-mulanya, lenyapnya, dan sang jalan [menuju lenyapnya penderitaan]. Bagaikan sehelai kain bersih dengan semua noda disingkirkan
akan dapat menerima warna dengan merata, demikian pula, selagi perumah-tangga
Upāli duduk di sana, penglihatan Dhamma yang sangat bersih tanpa noda muncul dalam
dirinya: “Segala
sesuatu yang tunduk pada kemunculan juga tunduk pada kelenyapan.” Kemudian perumah-tangga Upāli melihat Dhamma,
mencapai Dhamma, memahami Dhamma, mengukur Dhamma; ia menyeberang melampaui keragu-raguan,
menyingkirkan kebingungan, memperoleh keberanian, dan menjadi tidak tergantung
pada orang lain dalam Pengajaran Sang Guru. Kemudian ia berkata kepada Sang Bhagavā:
“Sekarang, Yang Mulia, kami harus pergi. Kami sibuk dan banyak urusan yang
harus dikerjakan.”
[Kitab Komentar : Penglihatan Dhamma (dhammacakkhu),
yang ditandai dengan realisasi pengetahuan langsung “Segala sesuatu yang tunduk pada
kemunculan juga tunduk pada kelenyapan”, adalah jalan memasuki-arus. Frasa “Segala sesuatu yang tunduk pada
kemunculan juga tunduk pada kelenyapan” menunjukkan modus yang mana sang jalan
muncul. Sang jalan menggunakan lenyapnya (Nibbāna) sebagai objeknya, tetapi
fungsinya adalah menembus segala kondisi yang terkondisi sebagai tunduk pada
kemunculan dan kelenyapan.
“Dhamma” yang
kali ini dirujuk oleh sang perumah-tangga, adalah Empat Kebenaran Mulia.
Setelah melihat kebenaran-kebenaran ini untuk dirinya sendiri; ia telah
memotong belenggu keragu-raguan dan sekarang memiliki “pandangan yang mulia dan
membebaskan dan (yang) menuntun seseorang yang mempraktikkan dengan selaras
dengannya menuju kehancuran total penderitaan” (Majjhima Nikāya 48.7).]
“Silakan engkau pergi, perumah-tangga.”
19. Kemudian perumah-tangga Upāli, setelah merasa senang dan gembira
mendengar kata-kata Sang Bhagavā, bangkit dari duduknya, dan setelah bersujud
kepada Sang Bhagavā, dengan Beliau di sisi kanannya, ia kembali ke rumahnya. Di
sana ia memanggil penjaga pintunya sebagai berikut: “Penjaga pintu, mulai hari
ini dan seterusnya aku menutup pintuku untuk para Nigaṇṭha dan Nigaṇṭhī, dan aku membuka pintuku untuk para bhikkhu,
bhikkhunī, umat awam laki-laki, dan umat awam perempuan para siswa Sang
Bhagavā. Jika ada Nigaṇṭha datang, katakan pada mereka sebagai berikut:
‘Tunggu, Yang Mulia, jangan masuk. Mulai hari ini dan seterusnya perumah-tangga
Upāli telah menjadi siswa Petapa Gotama. Ia telah menutup pintunya untuk para
Nigaṇṭha dan Nigaṇṭhī, dan ia membuka pintunya untuk para bhikkhu,
bhikkhunī, umat awam laki-laki, dan umat awam perempuan para siswa Sang
Bhagavā. Yang Mulia, jika engkau membutuhkan persembahan, tunggulah di sini; mereka
akan membawakannya untukmu di sini.’” – “Baik, Tuan,” penjaga pintu itu
menjawab.
20. Nigaṇṭha Dīgha Tapassī mendengar: “Perumah-tangga Upāli
telah menjadi siswa Petapa Gotama.” Kemudian ia menemui Nigaṇṭha Nātaputta dan memberitahunya: “Yang Mulia, aku telah mendengar sebagai
berikut: ‘Perumah-tangga Upāli telah menjadi siswa Petapa Gotama.’”
“Tidak mungkin, Tapassī, tidak mungkin terjadi bahwa perumah-tangga Upāli
akan menjadi siswa di bawah Petapa Gotama; tetapi mungkin saja, dapat terjadi
bahwa Petapa Gotama akan menjadi siswa di bawah perumah-tangga Upāli.” [381]
Untuk ke dua kalinya … Dan untuk ke tiga kalinya Nigaṇṭha Dīgha Tapassī memberitahukan kepada Nigaṇṭha Nātaputta:
“Yang Mulia, aku telah mendengar sebagai berikut: ‘Perumah-tangga Upāli
telah menjadi siswa Petapa Gotama.’”
“Tidak mungkin, Tapassī, tidak mungkin terjadi …”
“Yang Mulia, haruskah aku pergi dan mencari tahu apakah perumah-tangga
Upāli telah menjadi siswa Petapa Gotama atau tidak?”
“Pergilah, Tapassī, dan cari tahu apakah ia telah menjadi siswa Petapa
Gotama atau tidak.”
21. Kemudian Nigaṇṭha Dīgha Tapassī mendatangi rumah perumah-tangga
Upāli. Dari jauh penjaga pintu melihatnya datang dan memberitahunya: “Tunggu,
Yang Mulia, jangan masuk. Mulai hari ini dan seterusnya perumah-tangga Upāli
telah menjadi siswa Petapa Gotama. Ia telah menutup pintunya untuk para Nigaṇṭha dan Nigaṇṭhī, dan ia membuka pintunya untuk para bhikkhu, bhikkhunī,
umat awam laki-laki, dan umat awam perempuan para siswa Sang Bhagavā. Yang
Mulia, jika engkau membutuhkan persembahan, tunggulah di sini; mereka akan
membawakannya untukmu di sini.”
“Aku tidak membutuhkan persembahan, teman,” ia berkata, dan ia kembali
menemui Nigaṇṭha Nātaputta dan memberitahunya: “Yang Mulia, sangat
benar bahwa perumahtangga Upāli telah menjadi siswa Petapa Gotama. Yang Mulia, engkau
tidak menyetujui ketika aku memberitahukan kepadamu: ‘Yang Mulia, aku tidak
setuju perumah-tangga Upāli [mencoba untuk] membantah doktrin Petapa Gotama.
Karena Petapa Gotama adalah seorang penyihir dan menguasai sihir pengalihan keyakinan
yang dengannya Beliau mengalihkan keyakinan para penganut sekte lainnya.’ Dan
sekarang, Yang Mulia, perumah-tangga Upāli telah dialihkan keyakinannya oleh
Petapa Gotama dengan sihir pengalihan keyakinannya!”
“Tidak mungkin, Tapassī, tidak mungkin terjadi bahwa perumah-tangga Upāli
akan menjadi siswa di bawah Petapa Gotama; tetapi mungkin saja, dapat terjadi
bahwa Petapa Gotama akan menjadi siswa di bawah perumah-tangga Upāli.“
Untuk ke dua kalinya … Dan untuk ke tiga kalinya Nigaṇṭha Dīgha Tapassī memberitahukan kepada Nigaṇṭha Nātaputta:
“Yang Mulia, sangat benar bahwa perumah-tangga Upāli telah menjadi siswa
Petapa Gotama [382] ... dengan sihir pengalihan keyakinannya!”
“Tidak mungkin, Tapassī, tidak mungkin terjadi … dapat terjadi bahwa
Petapa Gotama akan menjadi siswa di bawah perumah-tangga Upāli. Sekarang aku
akan pergi sendiri dan mencari tahu apakah ia telah menjadi siswa Petapa Gotama
atau tidak.”
22. Kemudian Nigaṇṭha Nātaputta bersama dengan sejumlah besar para Nigaṇṭha mendatangi rumah perumah-tangga Upāli. Dari jauh Penjaga pintu
melihatnya datang dan memberitahunya:
“Tunggu, Yang Mulia, jangan masuk. Mulai hari ini dan seterusnya perumah-tangga
Upāli telah menjadi siswa Petapa Gotama. Ia telah menutup pintunya untuk para
Nigaṇṭha dan Nigaṇṭhī, dan ia membuka pintunya untuk para bhikkhu,
bhikkhunī, umat awam laki-laki, dan umat awam perempuan para siswa Sang
Bhagavā. Yang Mulia, jika engkau membutuhkan persembahan, tunggulah di sini;
mereka akan membawakannya untukmu di sini.”
“Penjaga pintu, pergilah temui perumah-tangga Upāli dan katakan
kepadanya: ‘Tuan, Nigaṇṭha Nātaputta sedang berdiri di gerbang luar bersama
sejumlah besar para Nigaṇṭha; ia ingin menemui Tuan.’”
“Baik, Yang Mulia,” ia menjawab, dan ia pergi menemui perumah-tangga
Upāli dan memberitahukan kepadanya: ” Tuan, Nigaṇṭha Nātaputta sedang berdiri di gerbang luar bersama sejumlah besar para
Nigaṇṭha; ia ingin menemui Tuan.”
“Kalau begitu, penjaga pintu, persiapkan tempat-tempat duduk di aula di
pintu tengah.”
“Baik, Tuan,” ia menjawab, dan setelah ia mempersiapkan tempat-tempat
duduk di aula di pintu tengah, ia kembali menghadap perumah-tangga Upāli dan
memberitahunya: “Tuan, tempat-tempat duduk telah dipersiapkan di aula di pintu
tengah. Silahkan Tuan datang.”
23. Kemudian perumah-tangga Upāli [383] memasuki aula di pintu tengah dan
duduk di tempat duduk tertinggi, terbaik, termulia yang ada di sana. Kemudian
ia memberitahu si penjaga pintu: “Sekarang, penjaga pintu, temuilah Nigaṇṭha Nātaputta dan beritahukan kepadanya: ‘Yang Mulia, perumah-tangga Upāli
berkata: “Silahkan masuk, Yang Mulia.”’”
“Baik, Tuan,” ia menjawab, dan ia menemui Nigaṇṭha Nātaputta dan memberitahunya: “Yang Mulia, perumah-tangga Upāli
berkata: ‘Silahkan masuk, Yang Mulia.’” Kemudian Nigaṇṭha Nātaputta bersama dengan sejumlah besar para Nigaṇṭha memasuki aula di pintu tengah.
24. Sebelumnya, ketika perumah-tangga Upāli dari kejauhan melihat
kedatangan Nigaṇṭha Nātaputta, ia biasanya keluar untuk menemuinya,
membersihkan tempat duduk tertinggi, terbaik, termulia yang ada di sana dengan
jubah luarnya, dan setelah menata seluruhnya, ia mempersilahkannya duduk di
tempat duduk tersebut. Tetapi sekarang, sambil duduk di tempat duduk tertinggi,
terbaik, termulia, ia berkata kepada Nigaṇṭha Nātaputta: “Yang Mulia, ada tempat-tempat duduk; duduklah jika kalian menghendaki.”
25. Ketika hal ini dikatakan, Nigaṇṭha Nātaputta berkata: “Perumah-tangga, engkau gila,
engkau bodoh. Engkau pergi dengan mengatakan: ‘Yang Mulia, aku akan membantah
doktrin Petapa Gotama,’ dan engkau telah kembali dengan terjebak oleh jaring
besar ajaranNya. Bagaikan seseorang yang pergi untuk mengebiri orang lain dan
kembali dengan dirinya sendiri yang dikebiri, bagaikan seseorang yang pergi
untuk mencungkil mata orang lain dan kembali dengan matanya sendiri tercungkil;
demikian pula engkau, perumah-tangga, pergi dengan mengatakan: ‘Yang Mulia, aku
akan membantah doktrin Petapa Gotama,’ dan engkau telah kembali dengan terjebak
oleh jaring besar ajaranNya. Perumah-tangga, engkau telah teralihkan oleh Petapa
Gotama dengan sihir pengalihannya!”
26. “Sungguh menguntungkan sekali sihir pengalihan itu, Yang Mulia,
sungguh baik sekali sihir pengalihan itu! Yang Mulia, jika sanak saudara dan
kerabatku teralihkan oleh pengalihan ini, maka itu akan menuntun menuju
kesejahteraan dan kebahagiaan sanak saudara dan kerabatku untuk waktu yang
lama. Jika semua para mulia teralihkan oleh pengalihan ini, maka itu akan
menuntun menuju kesejahteraan dan kebahagiaan para mulia itu untuk waktu yang
lama. [384] Jika semua brahmana ... semua pedagang ... semua pekerja teralihkan
oleh pengalihan ini, maka itu akan menuntun menuju kesejahteraan dan
kebahagiaan para pekerja itu untuk waktu yang lama. Jika dunia ini bersama
dengan para dewa, Māra, dan Brahmā, generasi ini bersama dengan para petapa dan
brahmana, para pangeran dan rakyatnya, teralihkan oleh pengalihan ini, maka itu
akan menuntun menuju kesejahteraan dan kebahagiaan dunia untuk waktu yang lama.
Sehubungan dengan hal ini, Yang Mulia, aku akan memberikan perumpamaan
kepadamu; karena beberapa orang bijaksana di sini memahami makna suatu
pernyataan melalui perumpamaan.
[Kitab Komentar : Upāli mengatakan “Sungguh
menguntungkan sekali sihir pengalihan itu, Yang Mulia, sungguh baik sekali
sihir pengalihan itu!” dengan merujuk pada jalan memasuki-arus yang telah
ia tembus sebelumnya.]
27. “Yang Mulia, suatu ketika terdapat seorang brahmana yang sudah tua,
jompo, dan terbebani dengan tahun demi tahun, dan ia memiliki istri seorang
brahmana muda yang sedang hamil dan menjelang persalinan. Kemudian ia berkata
kepada suaminya: ‘Pergilah, brahmana, belilah seekor monyet muda di pasar dan
bawa pulang untukku sebagai teman bermain bagi anakku.’ Ia menjawab:
‘Tunggulah, istriku, hingga engkau melahirkan anak. Jika engkau melahirkan anak
laki-laki, maka aku akan pergi ke pasar dan membelikan seekor monyet jantan
muda dan membawanya pulang sebagai teman bermain bagi anakmu; tetapi jika
engkau melahirkan anak perempuan, maka aku akan pergi ke pasar dan membelikan
seekor monyet betina muda dan membawanya pulang sebagai teman bermain bagi
anakmu.’ Untuk ke dua kalinya ia mengajukan permohonan yang sama dan menerima
jawaban yang sama. Untuk ke tiga kalinya ia mengajukan permohonan yang sama.
Maka, karena pikirannya terikat pada istrinya dengan cinta, ia pergi ke
pasar, membeli seekor monyet jantan muda, membawanya pulang, dan berkata kepada
istrinya: ‘Aku telah membeli monyet jantan muda ini di pasar [385] dan
membawanya pulang kepadamu sebagai teman bermain bagi anakmu.’ Kemudian
istrinya berkata kepadanya: ‘Pergilah, brahmana, bawalah monyet jantan muda ini
kepada Rattapāṇi putera pencelup kain dan katakan padanya: “Rattapāṇi, aku ingin agar monyet jantan muda ini diberi warna yang disebut kuning-salep,
dipukul berkali-kali dan dihaluskan kedua sisinya.”’ Kemudian, karena
pikirannya terikat pada istrinya dengan cinta, ia membawa monyet jantan
muda itu kepada Rattapāṇi putera seorang pencelup kain dan berkata: ‘Rattapāṇi, aku ingin agar monyet jantan muda ini diberi warna yang disebut
kuning-salep, dipukul berkali-kali dan dihaluskan kedua sisinya.’ Rattapāṇi putera pencelup kain memberitahukan kepadanya: ‘Tuan, monyet jantan
muda ini akan menerima celupan, tetapi
bukan pukulan atau penghalusan.’ Demikian pula, Yang Mulia, doktrin
para Nigaṇṭha bodoh akan
memberikan kegembiraan pada orang-orang bodoh namun bukan pada orang-orang
bijaksana, dan tidak akan bertahan terhadap ujian atau penghalusan.
“Kemudian, Yang Mulia, pada kesempatan lain brahmana itu membawa sepasang
pakaian baru kepada Rattapāṇi putera pencelup kain dan berkata: ‘Rattapāṇi, aku ingin agar sepasang pakaian baru ini diberi warna yang disebut
kuning-salep, dipukul berkali-kali dan dihaluskan kedua sisinya.’ Rattapāṇi putera pencelup kain memberitahukan kepadanya: ‘Tuan, sepasang pakaian
baru ini akan menerima celupan, dan
pukulan dan penghalusan.’ Demikian pula, Yang Mulia, doktrin
Sang Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, akan memberikan kegembiraan
pada orang-orang bijaksana namun bukan pada orang-orang bodoh, dan akan
bertahan terhadap ujian dan penghalusan.”
28, “Perumah-tangga, masyarakat dan raja mengenalmu sebagai berikut:
‘Perumah-tangga Upāli adalah seorang siswa dari Nigaṇṭha Nātaputta.’ Siswa siapakah engkau harus kami anggap?”
Ketika hal ini dikatakan, perumah-tangga Upāli bangkit dari duduknya, dan
merapikan jubah atasnya di salah satu bahunya, [386] ia merangkapkan tangannya
sebagai penghormatan ke arah Sang Bhagavā dan memberitahukan kepada Nigaṇṭha Nātaputta:
29. “Dalam hal ini, Yang Mulia, dengarlah siswa siapa aku ini:
Beliau
adalah Sang Bijaksana yang telah menyingkirkan delusi,
Telah
meninggalkan belantara dalam pikiran, pemenang dalam peperangan;
[Kitab Komentar : Perihal “belantara dalam pikiran”, baca Majjhima Nikāya
16.3-7.]
Beliau
tidak menderita, dengan pikiran seimbang yang sempurna,
Matang
dalam moralitas, berkebijaksanaan mulia;
Melampaui
segala godaan, Beliau adalah tanpa noda:
[Kitab Komentar : Teks Pāḷi versi lainnya ada menuliskan vessantarassa;
namun penerjemah menerjemahkan dari teks Pāḷi vesamantarassa, “melampaui segala godaan”.
Sebagian penerjemah mendukung versi teks Pāḷi yang pertama. Adapun penerjemah lain menjelaskan:
“Beliau telah melampaui ketidakbajikan (visama) dari nafsu, dan
seterusnya.”]
Beliau
adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.
Bebas
dari kebingungan, Beliau berdiam dalam kepuasan,
Menolak
perolehan duniawi, wadah kegembiraan;
Seorang
manusia yang telah menyelesaikan tugas pertapaan,
Seorang
yang membawa jasmani terakhirnya;
Beliau
sama sekali tanpa tanding dan sama sekali tanpa noda:
Beliau
adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.
Beliau
bebas dari keragu-raguan dan terampil,
Pendisiplin
dan pemimpin yang unggul.
Tidak
seorangpun melampaui kualitas-kualitasnya yang gilang-gemilang;
Tanpa
bimbang, Beliau adalah penerang;
Setelah
mematahkan keangkuhan, Beliau adalah pahlawan:
Beliau
adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.
Sang
Pemimpin kelompok, Beliau tidak terukur,
Kedalamamnya
tidak terukur, Beliau mencapai keheningan;
[Kitab Komentar : Monapattassa, “mencapai keheningan”.
“Keheningan” adalah kebijaksanaan, berhubungan dengan muni, sang bijaksana
hening.]
Pemberi
keamanan, pemilik pengetahuan,
Beliau
berdiri dalam Dhamma, dengan batin terkendali;
Setelah
mengatasi segala belenggu, Beliau terbebaskan:
Beliau
adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.
Gajah
yang bersih tanpa noda, hidup di tempat terpencil,
Dengan
belenggu-belenggu seluruhnya dihancurkan, sepenuhnya terbebas;
Terampil
dalam berdiskusi, penuh dengan kebijaksanaan,
Panjinya
telah diturunkan, Beliau tidak lagi bernafsu;
[Kitab Komentar : “Panji” adalah keangkuhan berupa pandangan keliru
tentang adanya “aku” atau “milik-ku”. Baca Majjhima Nikāya 22.35.]
Setelah
menjinakkan dirinya sendiri, Beliau tidak lagi berproliferasi:
[Kitab Komentar : Nippapañcassa, berproliferasi. Interpretasi atas
paragraf yang tersamar ini berpusat pada kata papañca dan kata majemuk papañca-saññā-sankhā.
Bhikkhu Ñāṇamoli menerjemahkan papañca sebagai “keberagaman” dan papañcasaññā-
sankhā sebagai “perhitungan mengenai persepsi keberagaman.”
Akan tetapi, sepertinya persoalan utama yang ditunjukkan dengan kata papañca
bukanlah “keberagaman,” yang mungkin cukup sesuai jika bidang indria itu
sendiri memperlihatkan keragaman akibat faktor subjektivitas seseorang yang
melihat, mendengar, ataupun merasakan, tetapi kecenderungan imajinasi kaum duniawi
untuk meledak dalam pencurahan komentar pikiran yang menghalangi pengenalan
data.
Dalam suatu pembahasan penembusan, Concept and Reality in Early
Buddhism, Bhiikhu Ñāṇananda menjelaskan papañca sebagai
“proliferasi konseptual,” dan penerjemah mengikutinya dengan menggantikan
“keberagaman” dari Bhikkhu Ñāṇamoli menjadi “proliferasi.”
Komentar mengidentifikasikan timbulnya proliferasi ini sebagai tiga
faktor – ketagihan,
keangkuhan, dan pandangan – yang
karenanya pikiran menjadi “membubuhi” pengalaman dengan
menginterpretasikannya dengan sebutan “milikku,” “aku,” dan “diriku.”
Karenanya, pengalaman seseorang dapat begitu personal akibat subjektivitas.
Papañca dengan demikian adalah berhubungan dekat dengan maññanā, “menganggap”. Kata Pali “menganggap” (maññati), yang
berasal dari akar kata man, “berpikir”, sering digunakan dalam
sutta-sutta Pali untuk mengartikan pemikiran-pemikiran yang menyimpang –
pikiran yang berasal dari karakteristik objek dan suatu pemahaman yang
diturunkan bukan dari objek itu sendiri, melainkan dari imajinasi subjektif
seseorang yang melihat, mendengar, ataupun merasakan.
Penyimpangan kognitif yang diusulkan oleh
“menganggap” terdiri dari, secara singkat, pemaksaan dari perspektif egosentris
ke dalam pengalaman yang telah sedikit menyimpang oleh persepsi spontan. Menurut Kitab Komentar, aktivitas “menganggap”
diatur oleh tiga kekotoran, yang muncul dalam berbagai cara manifestasinya – keinginan (taṇha), keangkuhan (māna), dan pandangan (diṭṭhi).
Penerjemah lain menuliskan contoh ilustrasi
demikian, sebagai berikut : “Setelah melihat tanah dengan persepsi menyimpang,
orang biasa kemudian menganggapnya – menafsirkan atau menilainya – melalui
kecenderungan-kecenderungan berproliferasi yang kasar (papañca) dari
ketagihan, keangkuhan, dan pandangan, yang disebut ‘anggapan’ … Ia memahaminya dalam beragam cara yang
bertolak-belakang [dengan kenyataan].”
Empat cara menganggap (maññanā). Sang Buddha
menunjukkan bahwa “anggapan” atas objek apapun dapat terjadi dalam salah satu
dari empat cara, diungkapkan oleh teks sebagai empat pola linguistik: akusatif,
lokatif, ablatif, dan peruntukan. Makna utama dari pola ini – yang juga
tersamar dalam Pali – sepertinya filosofis.
Penerjemah menganggap pola itu menunjukkan beragam
cara yang mana seorang biasa mencoba memberikan makna positif pada makna
keegoan yang ia bayangkan dengan memposisikan, di bawah ambang bayangan, suatu
hubungan antara dirinya sebagai subjek kognisi dan fenomena yang dilihat
sebagai objek. Menurut empat pola yang diberikan, hubungan ini dapat berupa
salah satu dari identifikasi langsung (“ia melihat X”), atau yang mendasari
(“ia membayangkan di dalam X”), atau perbedaan atau turunan (“ia membayangkan
dari X”), atau hanya sekadar peruntukan (“ia menganggap X sebagai ‘milikku’”).
Tetapi hati-hati dalam menginterpretasikan
frasa-frasa ini. Pali tidak menyediakan objek langsung bagi cara ke dua dan ke
tiga, dan ini menyiratkan bahwa proses “penganggapan” berlangsung dari tingkat
yang lebih dalam dan lebih umum daripada yang terlibat dalam pembentukan
pandangan diri secara eksplisit, seperti yang dijelaskan misalnya pada Majjhima
Nikāya 2.8 atau Majjhima Nikāya 44.7.
Dengan demikian aktivitas “penganggapan” sepertinya
terdiri dari keseluruhan wilayah kognisi yang diwarnai secara subjektif,
dari impuls dan pikiran yang mana makna identitas pribadi masih belum lengkap
untuk menjelaskan struktur intelektual yang telah dijelaskan secara lengkap.
Akan tetapi penerjemah lain, memahami objek
“anggapan” implisit sebagai persepsi itu sendiri, dan karena itu menerjemahkan:
“setelah mempersepsikan tanah dari tanah, ia menganggap [itu sebagai] tanah, ia
menganggap [itu sebagai] di dalam tanah, ia menganggap [itu terpisah] dari
tanah,” dan seterusnya. Frasa ke lima, “ia bersenang di dalam X,” secara
eksplisit menghubungkan “penganggapan” dengan keinginan, yang mana di tempat
lain dikatakan “bergembira di sana-sini.” Hal
ini, lebih jauh lagi, menyiratkan bahaya dalam proses pemikiran kaum duniawi,
karena ketagihan dikatakan oleh Sang Buddha sebagai asal-mula penderitaan.
Terdapat banyak contoh kasus yang mengilustrasikan
segala jenis “penganggapan” yang berbeda, dan ini jelas menegaskan bahwa objek
“penganggapan” yang dimaksudkan adalah makna egoistis yang keliru.
Kata majemuk papañca-saññā-sankhā lebih rumit. YM Ñāṇananda
menginterpretasikannya sebagai “konsep-konsep yang dikarakteristikkan oleh
pikiran yang cenderung berkembang,” tetapi penjelasan ini masih belum
memasukkan kata saññā.
Penerjemah lain mengemas sankhā dengan koṭṭhāsa, “bagian,” dan mengatakan
bahwa saññā adalah persepsi yang berhubungan dengan papañca
ataupun papañca itu sendiri. Penerjemah sependapat dengan Ñāṇananda
dalam menganggap sankhā lebih sebagai berarti konsep atau gagasan
(“Perhitungan” dari Bhikkhu Ñāṇamoli adalah terlalu literal) daripada bagian.
Keputusan penerjemah memperlakukan saññā-sankhā sebagai kata
majemuk dvanda, “persepsi dan gagasan,” mungkin akan dipertanyakan,
tetapi karena ungkapan saññā-sankhā jarang muncul dalam Kanon dan tidak
pernah dianalisa secara verbal, maka tidak ada terjemahan yang benar-benar
tanpa keraguan. Pada Interpretasi alternatif dari komponennya, ungkapan itu mungkin
dapat diterjemahkan “gagasan-gagasan [yang muncul dari] proliferasi persepsi”
atau “gagagasan-gagasan persepsi [yang muncul dari] proliferasi.”
Lanjutannya akan menjelaskan bahwa proses
kognisi itu sendiri adalah
“sumber yang melaluinya persepsi dan gagasan [yang timbul dari] proliferasi
pikiran menyerang seseorang.” Jika dalam proses kognisi tersebut tidak ada
yang disenangi, disambut, atau digenggam, maka kecenderungan tersembunyi pada
kekotoran-kekotoran akan berakhir.]
Beliau adalah Sang
Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.
Yang
terbaik di antara para petapa, tanpa rencana curang,
[Kitab Komentar : Isisattamassa, “Yang terbaik di antara para
petapa”. Itu dapat diinterpretasikan sebagai bermakna “petapa ke tujuh” –
selaras dengan konsepsi tujuh resi dalam konsepsi brahmanis – dan menganggapnya
sebagai merujuk pada status Gotama sebagai Buddha ke tujuh setelah Vipassī
(baca Dīgha Nikāya 14.1.4/ii.2). Akan tetapi, lebih masuk akal, bahwa sattama
di sini adalah bentuk superlatif dari kata sad, dan dengan demikian kata
majemuk itu berarti “yang terbaik di antara para petapa”.]
Memperoleh
tiga pengetahuan, mencapai kesucian;
Batinnya
dibersihkan, seorang ahli khotbah,
Beliau
selalu hidup dalam ketenangan, penemu pengetahuan;
Yang
pertama dari semua pemberi, Beliau selalu mampu:
Beliau
adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.
Beliau
adalah Yang Mulia, terkembang dalam pikiran,
Yang
telah mencapai tujuan dan membabarkan kebenaran;
Memiliki
perhatian dan pandangan terang penembusan,
Beliau
tidak condong ke depan maupun ke belakang;
[Kitab Komentar : Itu merujuk pada tidak adanya keterikatan dan
kejijikan.]
Bebas
dari gangguan, mencapai kemahiran:
Beliau
adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.
Beliau
telah mengembara dengan benar dan berdiam dalam meditasi,
Tidak
terkotori dalam batin, sempurna dalam kemurnian;
Beliau
tidak bergantung dan sama sekali tanpa takut,
Hidup
terasing, mencapai puncak;
Setelah
menyeberang oleh diri sendiri, Beliau menuntun kami menyeberang:
Beliau
adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.
Yang
memiliki ketenangan tertinggi, dengan kebijaksanaan luas,
Seorang
dengan kebijaksanaan tinggi, hampa dari segala keserakahan;
Beliau
adalah Sang Tathāgata, Beliau adalah Yang Termulia,
Seorang
yang tanpa tandingan, tidak ada yang menyamaiNya;
Beliau
pemberani, terampil dalam segala hal:
Beliau
adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.
Beliau
telah mematahkan ketagihan dan menjadi Yang Tercerahkan,
Menghalau
segala kabut, sepenuhnya tanpa noda;
Yang
paling layak menerima persembahan, makhluk yang paling perkasa,
Orang
yang paling sempurna, melampaui perkiraan;
Terbaik
dalam kemegahan, mencapai puncak keagungan:
Beliau
adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.”
30. “Kapankah engkau menggubah syair pujian kepada Petapa Gotama itu,
perumah-tangga?”
“Yang Mulia, misalkan terdapat timbunan berbagai jenis bunga, [387] dan
kemudian seorang pembuat kalung bunga yang cerdas atau muridnya ingin
merangkainya menjadi kalung bunga berwarna-warni; demikian pula, Yang Mulia,
Sang Bhagavā memiliki banyak kualitas yang patut dipuji, ratusan kualitas yang patut
dipuji. Siapakah,
Yang Mulia, yang tidak akan memuji yang patut dipuji?”
31. Kemudian, karena Nigaṇṭha Nātaputta tidak mampu menahankan penghormatan
yang diberikan kepada Sang Bhagavā, ia memuntahkan darah panas dari mulutnya di
sana dan pada saat itu juga.
[Kitab Komentar : Dukacita yang berat muncul dalam
dirinya karena kehilangan penyokong awamnya, dan ini menghasilkan gangguan pada
jasmaninya yang mengakibatkan ia memuntahkan darah panas. Setelah memuntahkan
darah panas, hanya sedikit makhluk yang dapat bertahan hidup. Demikianlah
mereka membawanya ke Pāvā dengan menggunakan tandu, dan tidak lama
kemudian ia meninggal dunia.]
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, kini tengoklah ajaran agama
samawi, dimana letak “suci”-nya selain sekadar nama “Agama SUCI” alih-alih
mengaku sebagai “Agama DOSA” karena mempromosikan “PENGHAPUSAN DOSA” alih-alih
mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun maksiat—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
silahkan nilai dengan akal-sehat serta pikiran jernih Anda sendiri, dimana
letak suci dan mulianya sang “nabi rasul allah” yang oleh ibu-ibu pengajian
dipuja-puji setinggi langit sebagai manusia paling sempurna, paling baik,
paling suci, paling luhur, paling agung, paling terpuji, dan paling bersih
untuk diteladani dan dijunjung?—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]