Hanya Orang Dungu, yang Menyia-Nyiakan Kesempatan untuk Berbuat Kebaikan dalam Keseharian

Jangan menjadi Si TUA DUNGU Berambut Putih

Perbuatan-Perbuatan Baik, Meski Kecil, bila Dikumpulkan Setiap Harinya akan Menjelma Segunung Karma Baik

Sungguh Beruntung, Mereka yang Memanfaatkan Setiap Kesempatan untuk Berbuat Baik; dan Sungguh Merugi Pihak yang Meremehkan Perbuatan Baik Sekecil Apapun dalam Keseharian

Cobalah amati fenomena sosial, dimana ada pelayan suatu toko yang melayani “apa adanya” atau bahkan “judes” terhadap konsumen, namun juga ada pelayan toko yang ramah dan “murah senyum” serta bersabar mau menjelaskan kepada pembeli. Keduanya, sama-sama menerima gaji / upah yang bisa jadi sama. Orang yang disebut pertama, sekalipun melayani “apa adanya”, tetap saja dipekerjakan dan menerima gaji setiap bulannya. Apakah artinya, tipe orang yang disebut kedua, adalah pribadi yang “merugi” karena bekerja dengan pelayanan “plus” sekalipun skala upah / gajinya sama saja dengan tipikal orang yang disebut pertama?

Atau kita balik pertanyaannya, untuk apa melayani dengan pelayanan “plus”, bila melayani secara “apa adanya” saja tetap dipekerjakan dan menerima upah setiap bulannya? Disinilah, kita melihat korelasi erat antara IQ, EQ, serta SQ yang sifatnya linear adanya. Banyak orang yang memandang, bahwa perbuatan baik itu butuh kesempatan, kesempatan mana jarang terjadi. Realitanya, perbuatan baik dapat kita lakukan dalam keseharian kita, dimana setiap harinya terdapat begitu banyak kesempatan untuk berbuat kebajikan, hanya saja banyak orang yang memilih untuk menyia-nyiakannya begitu saja.

Saat atau ketika kita sebetulnya cukup saja melayani dengan “standar ala kadarnya”, namun telah ternyata kita memilih untuk melayani dengan “hati” dan penuh perhatian serta penghargaan, maka pelayanan “plus” tersebut-lah perbuatan-perbuatan baik yang kita tanam, sekalipun hanya “sekadar” memberikan senyum, kehangatan, kesabaran, kemauan untuk menjelaskan, dan kepedulian, dimana bila dikumpulkan, sedikit demi sedikit akan terakumulasi “menggunung” juga.

Sehingga, dengan paradigma di atas, kita akan memahami dan menyadari bahwa tipikal orang yang disebut pertama, adalah orang-orang yang “merugi” karena menyia-nyiakan kesempatan baik untuk menanam benih-benih kebaikan, dan melewatkannya begitu saja dengan tidak menghargai kesempatan-kesempatan tersebut dalam kesehariannya. Mereka yang betul-betul cerdas, ialah tipikal pribadi orang yang disebut kedua, karena mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan berbuat baik, sekecil apapun itu, menikmatinya dan mengumpulkan kebajikan-kebajikan sebagai modal / investasi untuk ia petik buah manisnya di kehidupan mendatang.

Bila kita mau membuka mata lebar-lebar dengan kesadaran yang jernih, masif sekali kesempatan untuk berbuat kebajikan dalam keseharian. Ketika Anda berkendara, maka sering-seringlah mendahulukan pejalan kaki maupun pengendara lain daripada memilih mendahului ataupun tidak mau mengalah. Berikan informasi jalan kepada mereka yang butuh petunjuk jalan. Bantu orang yang hendak menyeberang. Menyingkirkan benda-benda yang dapat membahayakan pengguna jalan. Hanya menyerahkan barang atau jasa melampaui ekspektasi pembeli / konsumen, tidak memberikan produk yang mengandung “cacat tersembunyi”. Mengucapkan terimakasih atau memintaa maaf dan bertanggung-jawab secara tulus. Memberikan tempat duduk kepada mereka yang lebih membutuhkan. Menyarankan apa yang baik, dan menjelaskan bahaya dibalik sesuatu alias memberikan pengertian yang benar.

Seringkali penulis mengamati ketika menumpang suatu kendaraan umum, ada dua tipikal supir pengemudi. Tipikal atau karakter pengemudi yang kesatu, ialah memperlakukan penumpang ibarat ternak yang “belum duduk sudah tancap gas” dan “kaki belum benar-benar turun memijak aspal jalan sementara kendaraan tidak benar-benar diberhentikan namun penumpang sudah disuruh turun”. Komunikasinya terhadap penumpang pun cenderung kasar, tidak acuh, mengemudi secara ugal-ugalan, tidak memiliki kepedulian terhadap penumpang.

Namun, ada tipikal pengemudi yang kedua, yakni perhatian dan ramah terhadap setiap penumpangnya, memerhatikan keselamatan setiap penumpang yang naik maupun yang turun, mau menjelaskan kepada penumpang yang bertanya alamat, serta tidak arogan dalam tutur kata maupun caranya mengemudi.

Keduanya, antara pengemudi yang disebut pertama dan pengemudi yang disebut kedua, sama-sama digaji dengan tingkat upah yang sama, serta tetap dipekerjakan sekalipun caranya memperlakukan penumpang kontras jauh bersenjang antara keduanya. Mungkin pengemudi yang pertama berpikir, bahwa untuk apa juga repot-repot bersikap ramah terhadap penumpang, toh tetap saja digaji dan tidak akan dipecat. Buat apa juga merepotkan diri memberikan pelayanan “plus” bagi penumpang, toh tidak diberikan gaji tambahan. Begitupula pengemudi yang memberikan pelayanan “plus”, gajinya sama saja dengan yang tidak memberikan pelayanan “plus”. Sudah puluhan tahun melayani penumpang secara “ala kadarnya”, tidak membawa resiko diberhentikan oleh perusahaan. Itulah yang disebut sebagai gaya berpikir yang picik serta kerdil, manusia yang dangkal wataknya.

Sering penulis menyebutkan, ciri-ciri karakter seseorang menentukan nasib orang dengan ciri-ciri tersebut. Menghargai dan tidak menyia-nyiakan kesempatan berbuat kebaikan, adalah demi kepentingan serta kebaikan diri kita sendiri. Dengan berbekal pemahaman demikian, kita akan menyadari bahwa kita beruntung memilih untuk memiliki sikap yang menyerupai atau serupa dengan pengemudi tipe yang kedua, serta memilih untuk tidak menjadi seperti pengemudi dengan tipe yang pertama.

Itulah bukti, berbuat baik tidak identik dengan menjadi dermawan dalam segi material dana uang. Kita dapat menjadi dermawan dalam segi pelayanan, sekalipun itu dalam rangka menjalankan tugas dan profesi kita, yakni dengan memberikan pelayanan jasa maupun produk secara ”plus”. Jangan remehkan pelaynan “plus” demikian, sebagaimana penulis kerap “tersentuh” oleh pelaynan “plus” pihak pelayan toko maupun pengemudi kendaraan umum, yang sangat penulis hargai dan setidaknya penulis kerap mendoakan yang terbaik bagi mereka, dimana benih Karma Baik yang mereka tanam kelak akan menolong diri mereka sendiri yang menanamnya.

Bukanlah harta kepemilikan yang akan kita bawa mati ke kehidupan berikutnya, namun Karma Baik maupun Karma Buruk. Orang cerdas, tentunya akan menanam atau berinvestasi pada Karma Baik dengan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada di keseharian untuk menanam Karma Baik, sekecil apapun itu, dimana bila diakumulasikan sepanjang hidupnya, maka seperak demi seperak yang dikumpulkan akan menggunung pula.

Satu hal yang pasti, orang-orang yang memberikan pelayanan “plus”, tampak lebih bahagia dan lebih menikmati hidupnya, karena sepertinya mereka memang menikmati pemberian pelayanan “plus” terhadap pengunjung maupun penumpangnya. Demikian yang selalu penulis cermati dan amati. Pengemudi atau pelayan yang selama ini bersikap arogan maupun “jutek”, tampak membenci bahkan hidupnya sendiri, merasa tidak nyaman terhadap dirinya sendiri, dan tidak bahagia, karenanya perlakuannya terhadap orang lain juga cenderung “tidak membahagiakan”.

Apakah dengan berbuat kebaikan dalam keseharian, berdampak pada tingkat kebahagiaan dan kepuasan hidup mereka? Mungkin saling berkaitan, dimana dengan hati yang riang-gembira dapat mendorong yang bersangkutan memberikan pelayanan “plus”, dan disaat bersamaan perbuatan-perbuatan baik yang ditanam mendukung terkondisinya kegembiraan hati serta kepuasan hidup. Fenomena sebaliknya juga berlaku di sini, bagai “lingkaran setan”, tidak perduli dengan kesempatan-kesempatan untuk berbuat kebaikan, atau bahkan bersikap buruk terhadap penumpangnya, mengakibatkan suasana hati yang cenderung kelam serta gersang nan pahit. Hati yang keruh, mengakibatkan tertutupnya pandangan mata mereka dari kesempatan-kesempatan berbuat baik dalam keseharian, tenggelam dalam suasana hati yang “keruh”.

Lalu, pertanyaannya, apakah usia berkorelasi dengan kebijaksanaan demikian? Banyak penulis jumpai, pengemudi kendaraan umum yang masih berusia relatif muda namun telah ternyata melayani penumpangnya dengan pelayanan “plus”, akan tetapi pengemudi yang telah berambut putih justru berkebalikannya, sehingga didapati fakta bahwa usia yang telah paruh baya tidak secara sendirinya membuat yang bersangkutan memiliki kebijaksanaan, sebagaimana khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID III”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan:

192 (2) Doa

Brahmana Doa mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika ia telah mengakhiri ramah tamah itu, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā: “Aku telah mendengar, Guru Gotama: ‘Petapa Gotama tidak menghormat para brahmana yang sepuh, tua, terbebani tahun demi tahun, berusia lanjut, sampai pada tahap akhir; Beliau juga tidak bangkit untuk mereka dan menawarkan tempat duduk kepada mereka.’ Hal ini memang benar, karena Guru Gotama tidak menghormat para brahmana yang sepuh, tua, terbebani tahun demi tahun, berusia lanjut, sampai pada tahap akhir; Beliau juga tidak bangkit untuk mereka dan menawarkan tempat duduk kepada mereka. Hal ini tidak selayaknya, Guru Gotama.”

“Apakah engkau mengaku sebagai seorang brahmana, Doa?”

“Guru Gotama, jika seseorang dapat dengan benar mengatakan tentang orang lain: ‘Ia adalah seorang brahmana yang terlahir baik dari kedua pihak ibu dan ayahnya, dari keturunan murni, tidak dapat dibantah dan tidak tercela sehubungan dengan kelahiran hingga generasi ke tujuh pihak ayahnya; ia adalah pelafal dan pelestari himne, seorang yang menguasai tiga Veda dengan kosakata, ritual, fonologi, dan etimologi, dan sejarah sebagai yang ke lima; terampil dalam ilmu bahasa dan tata bahasa, ia terampil dalam filosofi alam dan tanda-tanda seorang manusia luar biasa’ – adalah tentang aku maka hal ini dikatakan oleh orang itu. Karena aku, Guru Gotama, adalah seorang brahmana yang terlahir baik dari kedua pihak ibu dan ayahnya, dari keturunan murni, tidak dapat dibantah dan tidak tercela sehubungan dengan kelahiran hingga generasi ke tujuh pihak ayah. aku adalah pelafal dan pelestari himne, seorang yang menguasai tiga Veda dengan kosakata, ritual, fonologi, dan etimologi, dan sejarah sebagai yang ke lima; terampil dalam ilmu bahasa dan tata bahasa, aku terampil dalam filosofi alam dan tanda-tanda seorang manusia luar biasa.”

“Doa, para bijaksana [224] masa lampau di antara para brahmana – yaitu, Aṭṭhaka, Vāmaka, Vāmadeva, Vessāmitta, Yamataggi, Agīrasa, Bhāradvāja, Vāseṭṭha, Kassapa, dan Bhagu – adalah para pencipta himne-himne dan penggubah himne-himne, dan adalah himne-himne mereka, yang dulu dilafalkan, dinyatakan, dan dikompilasi, yang para brahmana masa sekarang masih membaca dan mengulanginya, mengulangi apa yang dulu dibabarkan, melafalkan apa yang dulu dilafalkan, dan mengajarkan apa yang dulu diajarkan. Para bijaksana masa lampau itu menggambarkan kelima jenis brahmana ini: seorang yang menyerupai Brahmā, seorang yang menyerupai deva, seorang yang tetap berada di dalam batas, seorang yang telah melewati batas, dan caṇḍāla seorang brahmana sebagai yang ke lima. Yang manakah engkau, Doa?”

“Kami tidak mengetahui kelima jenis brahmana ini, Guru Gotama. Apa yang kami ketahui hanyalah [kata] ‘brahmana.’ Sudilah Guru Gotama mengajarkan aku Dhamma sedemikian sehingga aku dapat mengetahui kelima jenis brahmana ini.”

“Maka dengarkanlah, brahmana, dan perhatikanlah. Aku akan berbicara.”

“Baik, Tuan,” brahmana Doa menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

(1) “Dan bagaimanakah, Doa, seorang brahmana yang menyerupai Brahmā? Di sini, seorang brahmana yang terlahir baik dari kedua pihak ibu dan ayahnya, dari keturunan murni, tidak dapat dibantah dan tidak tercela sehubungan dengan kelahiran hingga generasi ke tujuh pihak ayahnya. Ia menjalani kehidupan spiritual selibat-perjaka selama empat puluh delapan tahun, mempelajari himne-himne. Kemudian ia mencari imbalan guru untuk gurunya hanya dengan cara yang sesuai Dhamma, bukan yang bertentangan dengan Dhamma. Dan apakah, Doa, Dhamma itu dalam hal ini? [225] Bukan melalui pertanian, bukan melalui perdagangan, bukan melalui peternakan, bukan melalui keterampilan memanah, bukan melalui bekerja untuk raja, bukan melalui keterampilan tertentu, melainkan hanya dengan mengembara untuk menerima dana tanpa meremehkan mangkuknya. Setelah mempersembahkan imbalan guru kepada gurunya, ia mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Ketika ia telah meninggalkan keduniawian, ia berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, demikian pula arah ke dua, arah ke tiga, dan arah ke empat. Demikian pula ke atas, ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala penjuru, dan kepada semua makhluk seperti kepada diri sendiri, ia berdiam dengan meliputi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, luas, luhur, tidak terukur, tanpa permusuhan, tanpa niat buruk. Ia berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran yang dipenuhi dengan belas kasihan … dengan pikiran yang dipenuhi dengan kegembiraan altruistik … dengan pikiran yang dipenuhi dengan keseimbangan, demikian pula arah ke dua, arah ke tiga, dan arah ke empat. Demikian pula ke atas, ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala penjuru, dan kepada semua makhluk seperti kepada diri sendiri, ia berdiam dengan meliputi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan keseimbangan, luas, luhur, tidak terukur, tanpa permusuhan, tanpa niat buruk. Setelah mengembangkan keempat alam brahmā ini, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di alam tujuan yang baik, di alam brahmā. Dengan cara inilah seorang brahmana menyerupai Brahmā.

[Kitab Komentar : Cattāro brahmavihāre bhāvetvā. Ini adalah salah satu dari sedikit tempat dalam Nikāya di mana kata brahmavihāra digunakan untuk menyebutkan keempat meditasi ini secara kolektif. Di mana pun kata ini digunakan dalam Nikāya, ini segera dilanjutkan dengan kelahiran kembali si praktisi di alam brahmā.]

(2) “Dan bagaimanakah, Doa, seorang brahmana yang menyerupai deva? Di sini, seorang brahmana yang terlahir baik dari kedua pihak ibu dan ayahnya, dari keturunan murni, tidak dapat dibantah dan tidak tercela sehubungan dengan kelahiran hingga generasi ke tujuh pihak ayahnya. Ia menjalani kehidupan spiritual selibat-perjaka selama empat puluh delapan tahun, mempelajari himne-himne. Kemudian ia mencari imbalan guru untuk gurunya hanya dengan cara yang sesuai Dhamma, bukan yang bertentangan dengan Dhamma. Dan apakah, Doa, Dhamma itu dalam hal ini? Bukan melalui pertanian, bukan melalui perdagangan, bukan melalui peternakan, bukan melalui keterampilan memanah, bukan melalui bekerja untuk raja, bukan melalui keterampilan tertentu, melainkan hanya dengan mengembara untuk menerima dana [226] tanpa meremehkan mangkuknya. Setelah mempersembahkan imbalan guru kepada gurunya, ia mencari seorang istri hanya yang sesuai Dhamma, bukan yang bertentangan dengan Dhamma. Dan apakah, Doa, Dhamma itu dalam hal ini? Bukan dengan membeli dan menjual, [ia menerima] hanya seorang perempuan brahmana yang diberikan kepadanya dengan menuang air. Ia melakukan hubungan seksual hanya dengan seorang perempuan brahmana, bukan dengan seorang perempuan khattiya, seorang perempuan vessa, seorang perempuan sudda, atau seorang perempuan caṇḍāla, juga bukan dengan seorang perempuan dari keluarga pemburu, pekerja bambu, pembuat kereta, atau pemetik bunga. Ia tidak melakukan hubungan seksual dengan seorang perempuan hamil, juga tidak dengan seorang perempuan yang menyusui, juga tidak dengan seorang perempuan pada saat masa tidak subur.

“Dan mengapakah, Doa, brahmana itu tidak melakukan hubungan seksual dengan perempuan hamil? Karena, jika ia melakukan hubungan seksual dengan perempuan hamil, maka bayi kecil itu akan dilahirkan dengan sangat kotor; oleh karena itu ia tidak melakukan hubungan seksual dengan perempuan hamil. Dan mengapakah ia tidak melakukan hubungan seksual dengan perempuan yang menyusui? Karena jika ia melakukan hubungan seksual dengan perempuan yang menyusui, maka bayi kecil itu akan meminum kembali zat menjijikkan itu; oleh karena itu ia tidak melakukan hubungan seksual dengan perempuan yang menyusui. Mengapa ia tidak melakukan hubungan seksual dengan perempuan yang pada masa tidak subur? Karena istri brahmana itu bukan berfungsi sebagai kenikmatan indria, hiburan, dan kesenangan indria, melainkan hanya demi menghasilkan keturunan. Ketika ia telah terlibat dalam aktivitas seksual, ia mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Ketika ia telah meninggalkan keduniawian, dengan terasing dari kenikmatan-kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat … ia masuk dan berdiam dalam jhāna pertama … [seperti pada 5:14] … jhāna ke empat. Setelah mengembangkan keempat jhāna ini, [227] dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di alam tujuan yang baik, di alam surga. Dengan cara inilah seorang brahmana menyerupai deva.

(3) “Dan bagaimanakah, Doa, seorang brahmana yang tetap berada di dalam batas? Di sini, seorang brahmana yang terlahir baik dari kedua pihak ibu dan ayahnya, dari keturunan murni, tidak dapat dibantah dan tidak tercela sehubungan dengan kelahiran hingga generasi ke tujuh pihak ayahnya. Ia menjalani kehidupan spiritual selibat-perjaka selama empat puluh delapan tahun … [seluruhnya seperti di atas hingga] … Karena istri brahmana itu bukan berfungsi sebagai kenikmatan indria, hiburan, atau kesenangan indria, melainkan hanya demi menghasilkan keturunan. Ketika ia telah terlibat dalam aktivitas seksual, karena kemelekatan pada putranya ia bertahan pada kepemilikannya dan tidak meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Ia berhenti pada batas kaum brahmana masa lampau tetapi tidak melanggarnya. Karena ia berhenti pada batas kaum brahmana masa lampau tetapi tidak melanggarnya, maka ia disebut seorang brahmana yang tetap berada di dalam batas.

(4) “Dan bagaimanakah, Doa, seorang brahmana yang telah melewati batas? [228] Di sini, seorang brahmana yang terlahir baik dari kedua pihak ibu dan ayahnya, dari keturunan murni, tidak dapat dibantah dan tidak tercela sehubungan dengan kelahiran hingga generasi ke tujuh pihak ayahnya. Ia menjalani kehidupan spiritual selibat-perjaka selama empat puluh delapan tahun, mempelajari himne-himne. Kemudian ia mencari imbalan guru untuk gurunya hanya dengan cara yang sesuai Dhamma, bukan yang bertentangan dengan Dhamma. Dan apakah, Doa, Dhamma itu dalam hal ini? Bukan melalui pertanian, bukan melalui perdagangan, bukan melalui peternakan, bukan melalui keterampilan memanah, bukan melalui bekerja untuk raja, bukan melalui keterampilan tertentu, melainkan hanya dengan mengembara untuk menerima dana tanpa meremehkan mangkuknya. Setelah mempersembahkan imbalan guru kepada gurunya, ia mencari seorang istri baik yang sesuai Dhamma maupun yang bertentangan dengan Dhamma. [Ia menerima seorang istri] dengan membeli dan menjual juga seorang perempuan brahmana yang diberikan kepadanya dengan menuang air. Ia melakukan hubungan seksual dengan seorang perempuan brahmana, seorang perempuan khattiya, seorang perempuan vessa, seorang perempuan sudda, dan seorang perempuan caṇḍāla, dan seorang perempuan dari keluarga pemburu, pekerja bambu, pembuat kereta, atau pemetik bunga. Ia melakukan hubungan seksual dengan seorang perempuan hamil, dengan seorang perempuan yang menyusui, dengan seorang perempuan pada masa subur, dan dengan seorang perempuan pada saat masa tidak subur. Istri brahmana itu berfungsi sebagai kenikmatan indria, hiburan, dan kesenangan indria, juga untuk menghasilkan keturunan. Ia tidak berhenti pada batas kaum brahmana masa lampau melainkan melanggarnya. Karena ia tidak berhenti pada batas kaum brahmana masa lampau namun melanggarnya, maka ia disebut seorang brahmana yang melewati batas.

(5) “Dan bagaimanakah, Doa, seorang brahmana adalah caṇḍāla seorang brahmana? Di sini, seorang brahmana yang terlahir baik dari kedua pihak ibu dan ayahnya, dari keturunan murni, tidak dapat dibantah dan tidak tercela sehubungan dengan kelahiran hingga generasi ke tujuh pihak ayahnya. Ia [229] menjalani kehidupan spiritual selibat-perjaka selama empat puluh delapan tahun, mempelajari himne-himne. Kemudian ia mencari imbalan guru untuk gurunya baik dengan cara yang sesuai Dhamma maupun dengan cara yang bertentangan dengan Dhamma - melalui pertanian, melalui perdagangan, melalui peternakan, melalui keterampilan memanah, melalui bekerja untuk raja, melalui keterampilan tertentu, dan bukan hanya dengan mengembara untuk menerima dana tanpa meremehkan mangkuknya. Setelah mempersembahkan imbalan guru kepada gurunya, ia mencari seorang istri baik yang sesuai Dhamma maupun yang bertentangan dengan Dhamma. [Ia menerima seorang istri] dengan membeli dan menjual juga seorang perempuan brahmana yang diberikan kepadanya dengan menuang air. Ia melakukan hubungan seksual dengan seorang perempuan brahmana, seorang perempuan khattiya, seorang perempuan vessa, seorang perempuan sudda, dan seorang perempuan caṇḍāla, dan seorang perempuan dari keluarga pemburu, pekerja bambu, pembuat kereta, atau pemungut bunga. Ia melakukan hubungan seksual dengan seorang perempuan hamil, dengan seorang perempuan yang menyusui, dengan seorang perempuan pada masa subur, dan dengan seorang perempuan pada saat masa tidak subur. Istri brahmana itu bukan berfungsi sebagai kenikmatan indria, hiburan, dan kesenangan indria, juga untuk menghasilkan keturunan. Ia mencari penghidupannya melalui segala jenis pekerjaan. Para brahmana berkata kepadanya: ‘Mengapakah, Tuan, walaupun mengaku sebagai seorang brahmana, engkau mencari penghidupanmu melalui segala jenis pekerjaan? Ia menjawab mereka: ‘Bagaikan api yang membakar benda-benda yang murni maupun tidak murni namun tidak ternoda, demikian pula, tuan-tuan, jika seorang brahmana mencari penghidupannya melalui segala jenis pekerjaan, ia tidak karena itu menjadi ternoda.’ Karena ia mencari penghidupannya melalui segala jenis pekerjaan, maka brahmana ini disebut caṇḍāla seorang brahmana. Dengan cara inilah seorang brahmana menjadi seorang caṇḍāla brahmana.

“Doa, para bijaksana masa lampau di antara para brahmana – yaitu, Aṭṭhaka, Vāmaka, Vāmadeva, Vessāmitta, Yamataggi, Agīrasa, Bhāradvāja, [230] Vāseṭṭha, Kassapa, dan Bhagu – adalah para pencipta himne-himne dan penggubah himne-himne, dan adalah himne-himne mereka, yang dulu dilafalkan, dinyatakan, dan dikompilasi, yang para brahmana masa sekarang masih membaca dan mengulanginya, mengulangi apa yang dulu dibabarkan, melafalkan apa yang dulu dilafalkan, dan mengajarkan apa yang dulu diajarkan. Para bijaksana masa lampau itu menggambarkan kelima jenis brahmana ini: seorang yang menyerupai Brahmā, seorang yang menyerupai deva, seorang yang tetap berada di dalam batas, seorang yang telah melewati batas, dan caṇḍāla seorang brahmana sebagai yang ke lima. Yang manakah engkau, Doa?”

“Kalau begitu, Guru Gotama, kami bahkan tidak sebanding dengan caṇḍāla seorang brahmana. Bagus sekali, Guru Gotama! Bagus sekali, Guru Gotama! Guru Gotama telah menjelaskan Dhamma dalam banyak cara, seolah-olah menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang berpenglihatan baik dapat melihat bentuk-bentuk. Sekarang aku berlindung kepada Guru Gotama, kepada Dhamma, dan kepada Sagha para bhikkhu. Sudilah Guru Gotama menganggapku sebagai seorang umat awam yang telah berlindung sejak hari ini hingga seumur hidup.”