Mencandu PENEBUSAN DOSA, Menjelma KORUPTOR DOSA
Hanya PENGECUT / PECUNDANG KEHIDUPAN, yang Butuh
PENEBUSAN DOSA (Minta Maaf Dahulu, Sebelum Mengoleksi Segudang Dosa-Dosa)
Question: Mengapa ya, orang kristen jahat-jahat orangnya?
Mereka paling suka bermulut besar bicara tentang Tuhan, Kitab Suci, Ayat-Ayat,
tapi nihil dan miskin sikap bertanggung-jawab terhadap korban yang telah atau
pernah mereka sakiti, lukai, maupun rugikan. Hipokrit. Apakah mereka tidak
malu, sosok yang mereka sembah saja (yesus) digambarkan sebagai pecundang
kehidupan, yang lahir di kandang ternak dan mati di kayu salib hanya mengenakan
“celana dalam” disertai mahkota duri alias tidak mampu menolong dirinya
sendiri. Manusia yang hebat, ialah mereka yang bertekad untuk terus menjalani
hidup hingga akhir hayatnya yang sekalipun berat dan penuh derita, bukan yang
menyerahkan diri untuk disalib alias “bunuh diri”.
Brief Answer: Dimana dan kemana pun penulis berada, ketika
berjumpa dengan dua orang umat agama nasrani (kristen protestan maupun katolik)
yang saling berbincang antar umat agama nasrani (mereka tidak mau menyadari ada
umat agama lain di tempat umum tersebut), yang kerap terlontar dari mulut
mereka ialah pernyataan berikut : “Umat Buddhist, baik-baik sih orangnya.
Tapi, karena mereka tidak beriman pada yesus, maka mereka masuk neraka.”
Itu adalah pola percakapan yang paling khas dari umat agama nasrani, seakan
mereka terbentuk seperti demikian akibat dogma-dogma agama nasrani, karena
penulis juga menemukan fenomena yang identik tersebut di daerah yang berlainan.
Sehingga, dapat kita simpulkan, bahwa dalam perspektif agama nasrani,
berbuat baik dan menjadi orang baik BUKANLAH ibadah. Tidak mengherankan, para
umat nasrani pada satu sisi ter-demotivasi untuk berbuat kebaikan dan disaat
bersamaan termotivasi untuk menjadi orang jahat yang melakukan beragam
kejahatan sepanjang hidupnya. Bagi mereka, ibadah ialah semata ritual puja-puji
dan nyanyi-nyanyi. Karenanya, alih-alih disebut “Agama SUCI” ataupun “Agama
BAIK”, nasrani lebih patut diberi sebutan sebagai “Agama DOSA” dimana para
pendosa menjadi umat pemeluknya—pendosa mana merupakan “PENGECUT sejati” yang
mencandu “PENEBUSAN DOSA” alih berani untuk mengambil tanggung-jawab atas
perbuatan mereka sendiri dan membayar konsekuensi dibaliknya.
PEMBAHASAN:
Ciri khas umat agama samawi-abrahamik ialah,
mereka paling pandai dan gemar menilai, menuntut, serta menghakimi pihak
eksternal diri, sementara disaat bersamaan mereka selalu gagal untuk mengawasi
dan mengontrol perilaku internal dirinya sendiri. Yesus sudah di-salib dua ribu
tahun yang lampau, lalu para umat nasrani saat kini merasa bebas memproduksi
segunung dosa dengan alibi “dosa-dosa yang saat ini dan masih akan kami
produksi, telah ditebus oleh yesus di kayu salib dua ribu tahun lampau”,
sembari berdelusi memonopoli alam surgawi—alam surgawi mana, diisi dan dihuni
oleh para PENDOSA, dunia manusia jilid ke-2 yang penuh dengan konflik dan
sengketa antar penghuninya yang tebal kekotoran-batinnya.
Itu ibarat diberikan “blangko kosong”, dimana
para umat nasrani dibebaskan berhutang (membuat dosa) sebanyak apapun tanpa
perlu membayarnya? Itu “too good to be true”, disamping demotivasi untuk
bertanggung-jawab terlebih menjadi orang baik-baik. Istilah “PENEBUSAN DOSA”,
lebih menyerupai delusi “minta maaf terlebih dahulu, sebelum kemudian dibebaskan
berbuat kejahatan sebanyak apapun tanpa batasan”, ibarat kartu kredit tanpa
limit nominal transaksi dan tanpa perlu dilunasi (namun menyuruh yesus untuk
menebus hutang para umat nasrani). Karenanya, otoritas dalam agama nasrani
bukanlah moralitas, namun “BUAT DOSA, SIAPA TAKUT, ADA PENEBUSAN DOSA!”
Karenanya, bila ada umat agama Buddha yang
berbuat jahat, itu adalah “oknum”. Namun, umat nasrani yang baik perilakunya,
itu adalah “oknum”. Tidak ada Buddhist yang setelah sibuk berbuat kejahatan,
yakin masuk surga setelah ajal. Sebaliknya, para umat nasrani, sebanyak apapun
mereka berkubang dalam lautan dosa sepanjang hidupnya, mereka berdelusi
memonopoli alam surgawi—“dosa-dosa yang kami buat saat kini dan di masa
mendatang, telah di-tebus oleh yesus dua ribu tahun yang lampau” alias
“merugi jadi orang baik-baik”.
Yesus, telah ternyata lebih PRO terhadap
penjahat. Karenanya, bila Anda adalah korban, maka percuma saja melapor /
mengadu kepada Allah ataupun yesus. Karenanya juga, menyadari hal tersebut,
para nasrani secara sadar atau tidak sadar, “selfish gene”-nya memilih
perannya sebagai penjahat, yang merugikan / menyakiti korban. Yang penting
bukan menjadi korban, namun mengorbankan orang lain (menjadi pelaku kejahatan).
Sehingga, para umat agama nasrani ibarat “tanpa perlindungan” dan membuka diri
dalam posisi “rentan dalam bahaya”. Atas dasar apakah? Yang menyakiti dan
merugikan mereka, pelakunya bisa jadi sesama umat nasrani, dimana pelakunya
justru dimasukkan ke surga oleh yesus.
Saat yesus disalib, yesus memasukkan ke surga dua
orang penjahat—salah satu penjahat yang turut disalib bersama yesus, adalah
seorang penyamun—alih-alih bersikap adil kepada korban-korban para penjahat
tersebut. Dengan kata lain, yesus merampas hak korban atas keadilan. Kabar
gembira bagi penjahat, ialah kabar duka bagi kalangan korban. Bila kita
memetakan tipikal umat manusia, maka kita akan membaginya ke dalam tiga
kategorisasi “kasta”, yakni:
1.) Kasta SUCIWAN. Para suciwan tidak butuh ideologi korup-kotor-tercela-ternoda
bernama “penghapusan / pengampunan dosa” maupun “penebusan dosa”. Mengingat
para suciwan tidak butuh ideologi ataupun iming-iming korup demikian, maka
timbul distingsi pembeda (perbandingan) antara si “suciwan” dan si “pendosa”.
Para suciwan memuliakan Tuhan, dengan cara menjadi manusia yang mulia. Hanya
seorang pendosa, yang butuh iming-iming ideologi korup bernama “penghapusan
dosa”;
Para suciwan disebut demikian, suci dan suciwan,
semata karena lebih memilih hidup dalam latihan diri yang ketat dalam praktik
kontrol diri dan mawas diri (self-control),
dimana mawas diri dan perhatian terhadap perilaku, pikiran, dan ucapan sendiri
adalah objek perhatian utamanya, sehingga tiada seorang lainnya pun yang akan
disakiti, dirugikan, terlebih dilukai oleh sang suciwan. Mereka memurnikan
serta memuliakan dirinya dengan usaha diri mereka sendiri, tanpa noda, dan
tidak tersandera, tanpa cela, bebas sempurna, dan tercerahkan—yang dalam bahasa
Buddhistik, “break the chain of kamma”;
2.) Kasta KSATRIA. Sebagaimana namanya,
mereka ialah para ksatriawan, yang mana memilih untuk bertanggung-jawab
atas setiap perilaku maupun perbuatan buruknya yang telah pernah ataupun masih
dapat menyakiti, melukai, dan merugikan pihak-pihak lainnya, baik secara
disengaja maupun akibat kelalaiannya, dimana korban-korbannya tidak perlu
bersusah-payah menagih terlebih mengemis-ngemis pertanggung-jawaban, bahkan
sang ksatria menyadari bahwa sekalipun ia bertanggung-jawab semisal dengan
ganti-rugi biaya berobat hingga korbannya sembuh, tetap saja sang korban masih
merugi waktu, merugi pikiran, merugi tenaga, belum lagi kenyataan fisik /
psikis-nya tidak dapat pulih sempurna seperti sebelumnya. Singkat kata, para
kaum ksatria senantiasa “tahu diri”.
Ideologi bertanggung-jawab yang penuh tanggung-jawab
kalangan ksatria, dianggap sebagai ancaman maupun musuh terbesar di mata kaum
dosawan yang membuat para dosawan tersebut tampak sebagai “manusia sampah” yang
selama ini menjadi pecandu tetap iming-iming “pengampunan / penghapusan dosa”
maupun “penebusan dosa”—sementara kalangan ksatria justru mempromosikan gerakan
hidup bertanggung-jawab dan berke-jantan-an alih-alih “cuci tangan” ataupun
lari dari tanggung-jawab. Kalangan korban yang telah dirugikan / terluka, tidak
perlu sibuk menuntut tanggung-jawab—terlebih mengemis-ngemis
tanggung-jawab—dari seseorang berjiwa ksatria. Karenanya, seorang ksatria layak
menyandang gelar sebagai seseorang yang “jantan”, alias jentelmen, bukan
“pengecut” yang lari dari tanggung-jawab maupun “cuci dosa” (sins laundring);
3.) Kasta PENDOSA. Sebagaimana namanya, umat
pemeluknya disebut sebagai pendosawan, dimana para dosawan menjadi
umatnya, yang mana memilih untuk tetap berbuat dosa semata agar dapat menjadi
pecandu yang mencandu ideologi korup penuh kecurangan bernama “penghapusan /
pengampunan dosa” maupun “penebusan dosa” (abolition
of sins)—masuk ke dalam lingkaran komunitas “pendosa”, memakan dan termakan
ideologi korup penuh kecurangan, terjebak untuk selamanya, “point of no return”, memvonis diri
mereka sendiri hidup dan mati sebagai “KORUPTOR DOSA” dimana dosa-dosa pun
dikorupsi.
Bagaikan raja yang lalim, yang senang ketika
dipuja-puji oleh hamba-hambanya, lalu memberikan hadiah, dan akan murka
sejadi-jadinya ketika tidak disembah-sujud sebelum kemudian memberikan hukuman,
maka para pendosa yang pandai menyanjung dan “menjilat” (pendosa penjilat penuh
dosa) akan dimasukkan ke alam surgawi—alam dimana telah sangat tercemari oleh
kekotoran batin para pendosa yang menjadi mayoritas penghuninya jika tidak
dapat disebut sebagai satu-satunya penghuni alam surgawi. Dengan kata lain, secara
tidak langsung, para dosawan menggambarkan sosok Tuhan tidak ubahnya “raja yang
lalim”.
Itulah penjelasannya, mengapa berbagai penjara di
Indonesia tidak pernah sepi dari para narapidana penghuninya, bahkan sepanjang
tahun selalu mengalami fenomena klise “overcapacity”
dan “overcrowded” yang konon
sepanjang tahunnya hampir mendekati 200% kapasitas maksimum, sekalipun bangsa
kita dikenal “agamais” (kurang “agamais” apa, warga di negeri ini?), disamping
fakta aktual bahwasannya jauh lebih banyak aduan maupun laporan warga korban
pelapor yang diabaikan dan ditelantarkan oleh aparatur penegak hukum. Alam
surgawi, karenanya, menjadi menyerupai “dunia manusia jilid kedua”, dimana para
pendosa kembali beraksi tanpa “self-control”
(menyakiti, merugikan, maupun melukai) orang-orang maupun makhluk-makhluk
lainnya. Ketika kalangan pendosawan ini berceramah perihal hidup mulia, itu
ibarat orang buta hendak menuntun kalangan butawan lainnya, alam neraka pun
disebut sebagai “surga”. Mereka, kasta pendosawan, sejatinya merupakan
“PECUNDANG KEHIDUPAN” yang tunduk sepenuhnya pada “KEKOTORAN BATIN” mereka
sendiri dan terjerat / terjebak abadi di dalamnya, tanpa dapat kembali akibat
dosa-dosa yang mereka koleksi sepanjang hidup telah menyerupai “too big to
fall”.
Mengingat umat nasrani telah memvonis diri mereka
sendiri sebagai “Kasta PENDOSAWAN” (pecandu PENEBUSAN DOSA), maka tidak akan
pernah memahami apa itu “noda-noda” yang bersarang dalam diri mereka (bahkan
mereka berikan makan lewat mabuk “PENEBUSAN DOSA”), apa itu “asal-mula
noda-noda”, apa itu “lenyapnya noda-noda”, terlebih “jalan menuju lenyapnya
noda-noda”. Selengkapnya dapat kita simak khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya :
Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID I”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa
Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:
59 (9) Jāṇussoṇī
Brahmana Jāṇussoṇī mendatangi Sang Bhagavā … dan berkata kepada
Beliau:
“Guru Gotama, siapa pun yang melakukan pengorbanan, persembahan makanan
sebagai peringatan, suatu persembahan makanan, atau sesuatu yang akan diberikan
harus memberikan pemberian itu kepada para brahmana yang adalah pemilik tiga
pengetahuan.”
[Kitab Komentar : Yañña adalah “sesuatu untuk
diberikan” (deyyadhamma; walaupun ini telah tercakup oleh poin ke
empat); saddha (Sansekerta : śrāddha), “makanan untuk mengenang
yang mati” (matakabhattaṃ); thālipāka, “makanan untuk diberikan kepada
orang-orang baik” (varapurisānaṃ dātabbayuttaṃ bhattaṃ, tetapi menurut terjemahan lain sthālī, sthālīpāka secara lebih
spesifik adalah sepiring bubur barley atau nasi yang dimasak dengan susu yang
dipersembahkan sebagai suatu persembahan); dan deyyadhamma, “apa pun
lainnya yang dapat diberikan.”]
[Sang Bhagavā berkata:] “Tetapi bagaimanakah, brahmana, para brahmana
menggambarkan seorang brahmana yang adalah pemilik tiga pengetahuan?”
“Di sini, Guru Gotama, seorang brahmana terlahir baik pada kedua pihak
ibunya dan ayahnya … [seperti dalam 3:58] … dan [mahir] dalam tanda-tanda
manusia luar biasa. Adalah dalam cara ini para brahmana itu menggambarkan
seorang brahmana yang adalah seorang pemilik tiga pengetahuan.”
“Brahmana, seorang pemilik tiga pengetahuan dalam disiplin Yang Mulia
sangat berbeda dengan seorang brahmana yang adalah seorang pemilik tiga
pengetahuan seperti yang digambarkan oleh para brahmana.”
“Tetapi dalam cara bagaimanakah, Guru Gotama, seorang pemilik tiga
pengetahuan dalam disiplin Yang Mulia? Baik sekali jika Guru Gotama sudi
mengajarkan Dhamma kepadaku yang menjelaskan bagaimana seseorang adalah seorang
pemilik tiga pengetahuan dalam disiplin Yang Mulia.”
“Baiklah, Brahmana, dengarkan dan perhatikanlah. Aku akan berbicara.”
“Baik, Tuan,” Brahmana Jāṇussoṇī menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
Sang Bhagavā berkata sebagai berikut: “Di sini,
Brahmana, dengan terasing dari kenikmatan-kenikmatan indria, terasing dari
kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna
pertama, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan,
yang disertai oleh pemikiran dan pemeriksaan. Dengan meredanya pemikiran
dan pemeriksaan, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki ketenangan
internal dan keterpusatan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul
dari konsentrasi, tanpa pemikiran dan pemeriksaan. Dengan
memudarnya sukacita, ia berdiam seimbang dan, penuh perhatian dan memahami
dengan jernih, ia mengalami kenikmatan pada jasmani; ia masuk dan berdiam dalam
jhāna ke tiga yang dinyatakan oleh para mulia: ‘Ia seimbang, penuh
perhatian, seorang yang berdiam dengan bahagia.’ Dengan meninggalkan
kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya atas kegembiraan dan
kesedihan, [164] ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang bukan
menyakitkan juga bukan menyenangkan, dengan pemurnian perhatian melalui
keseimbangan.
(1) “Ketika pikirannya terkonsentrasi
demikian, murni, bersih, tanpa noda, bebas dari kekotoran, lunak, lentur,
kokoh, dan mencapai ketanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada pengetahuan
mengingat kehidupan lampau. Ia mengingat banyak kehidupan lampau, yaitu,
satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran, lima kelahiran,
sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga puluh kelahiran, empat puluh
kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus
ribu kelahiran, banyak kappa penghancuran dunia, banyak kappa pengembangan
dunia, banyak kappa penghancuran dunia dan pengembangan dunia, sebagai
berikut: ‘Di sana aku bernama ini, dari suku ini, dengan penampilan begini,
makananku seperti ini, pengalaman kenikmatan dan kesakitanku seperti ini, umur
kehidupanku selama ini; meninggal dunia dari sana, aku terlahir kembali di
tempat lain, dan di sana aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan
begitu, makananku seperti itu, pengalaman kenikmatan dan kesakitanku seperti
itu, umur kehidupanku selama itu; meninggal dunia dari sana, aku terlahir
kembali di sini.’ Demikianlah ia mengingat banyak kehidupan lampaunya
dengan aspek-aspek dan rinciannya.
“Ini adalah pengetahuan sejati pertama yang dicapai
olehnya. Ketidak-tahuan disingkirkan, pengetahuan sejati muncul; kegelapan
disingkirkan, cahaya muncul, seperti yang terjadi ketika seseorang berdiam
dengan penuh kewaspadaan, tekun, dan bersungguh-sungguh.
(2) “Ketika pikirannya terkonsentrasi
demikian, murni, bersih, tanpa noda, bebas dari kekotoran, lunak, lentur,
kokoh, dan mencapai ketanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada pengetahuan
kematian dan kelahiran kembali makhluk-makhluk. Dengan mata dewa, yang
murni dan melampaui manusia, ia melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan
terlahir kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin, dan
ia memahami bagaimana makhluk-makhluk mengembara sesuai kamma mereka
sebagai berikut: ‘Makhluk-makhluk ini
yang terlibat dalam perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran, yang
mencela para mulia, menganut pandangan salah, dan melakukan kamma yang
berdasarkan pada pandangan salah, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian,
telah terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan yang buruk, di alam
rendah, di neraka; tetapi makhluk-makhluk ini yang terlibat dalam perbuatan
baik melalui jasmani, ucapan, dan pikiran, yang tidak mencela para mulia, yang
menganut pandangan [165] benar, dan melakukan kamma yang berdasarkan pada
pandangan benar, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, telah terlahir
kembali di alam tujuan yang baik, di alam surga.’ Demikianlah dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, ia
melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan terlahir kembali, hina dan mulia,
cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin, dan ia memahami bagaimana
makhluk-makhluk mengembara sesuai kamma mereka.
“Ini adalah pengetahuan sejati ke dua yang dicapai
olehnya. Ketidak-tahuan disingkirkan, pengetahuan sejati muncul; kegelapan
disingkirkan, cahaya muncul, seperti yang terjadi ketika seseorang berdiam
dengan penuh kewaspadaan, tekun, dan bersungguh-sungguh.
(3) “Ketika pikirannya terkonsentrasi
demikian, murni, bersih, tanpa noda, bebas dari kekotoran, lunak, lentur,
kokoh, dan mencapai ketanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada pengetahuan
hancurnya noda-noda. Ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah
penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula
penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya
penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju
lenyapnya penderitaan.’ Ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini
adalah noda-noda’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini
adalah asal-mula noda-noda’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini
adalah lenyapnya noda-noda’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini
adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda.’
“Ketika ia mengetahui dan melihat demikian,
pikirannya terbebaskan dari noda indriawi, dari noda penjelmaan, dan dari noda
ketidak-tahuan. Ketika terbebaskan muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’ Ia
memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan spiritual telah dijalani, apa
yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan kembali lagi pada kondisi
makhluk apa pun.’
“Ini adalah pengetahuan sejati ke tiga yang dicapai olehnya.
Ketidak-tahuan disingkirkan, pengetahuan sejati muncul; kegelapan disingkirkan,
cahaya muncul, seperti yang terjadi ketika seseorang berdiam dengan penuh
kewaspadaan, tekun, dan bersungguh-sungguh.
“Seseorang yang sempurna dalam moralitas dan pelaksanaan,
yang bersungguh-sungguh dan tenang,
yang pikirannya telah dikuasai,
terpusat dan terkonsentrasi baik;
“Seorang
yang mengetahui kehidupan-kehidupan lampaunya,
yang
melihat alam surga dan alam sengsara,
dan
telah mencapai hancurnya kelahiran
adalah
seorang bijaksana yang sempurna dalam
pengetahuan
langsung. [168]
“Melalui ketiga jenis pengetahuan ini
seseorang menjadi seorang brahmana dengan tiga pengetahuan.
Aku menyebutnya seorang pemilik tiga pengetahuan,
bukan
orang lain yang mengucapkan mantra-mantra.
“Dengan cara inilah, Brahmana, bahwa seseorang adalah pemilik tiga
pengetahuan dalam disiplin Yang Mulia.”
“Guru Gotama, seorang pemilik tiga pengetahuan dalam disiplin Yang Mulia
sangat berbeda dengan seorang pemilik tiga pengetahuan menurut para brahmana.
Dan seorang pemilik tiga pengetahuan menurut para brahmana tidak bernilai
seperenambelas bagian dari pemilik tiga pengetahuan dalam disiplin Yang Mulia.
“Bagus sekali, Guru Gotama! Bagus sekali, Guru Gotama! Guru Gotama telah
menjelaskan Dhamma dalam banyak cara, seolah-olah menegakkan apa yang terbalik,
mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan kepada orang yang
tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang
berpenglihatan baik dapat melihat bentuk-bentuk. Sekarang aku berlindung kepada
Guru Gotama, kepada Dhamma, dan kepada Saṅgha para bhikkhu. Sudilah Guru Gotama menganggapku sebagai seorang umat
awam yang telah berlindung sejak hari ini hingga seumur hidup.”
~0~
159 (9)
“Para bhikkhu, ada dua jenis pertumbuhan ini. Apakah dua ini? Pertumbuhan
dalam hal benda-benda materi dan pertumbuhan dalam hal Dhamma. Ini adalah kedua
jenis pertumbuhan itu. Di antara kedua jenis pertumbuhan ini, pertumbuhan dalam
hal Dhamma adalah yang terunggul.”
160 (10)
“Para bhikkhu, ada dua jenis permata ini. Apakah dua ini? Permata materi
dan permata Dhamma. Ini adalah kedua jenis permata itu. Di antara kedua jenis
permata ini, permata Dhamma adalah yang terunggul.”
161 (11)
“Para bhikkhu, ada dua jenis pengumpulan. Apakah dua ini? Pengumpulan
benda-benda materi dan pengumpulan Dhamma. Ini adalah kedua jenis pengumpulan
itu. Di antara kedua jenis pengumpulan ini, pengumpulan Dhamma adalah yang
terunggul.”
162 (12)
“Para bhikkhu, ada dua jenis perluasan ini. Apakah dua ini? Perluasan
dalam hal benda-benda materi dan perluasan dalam hal Dhamma. Ini adalah kedua
jenis perluasan itu. Di antara kedua jenis perluasan ini, perluasan dalam hal
Dhamma adalah yang terunggul.”
~0~
XV. Pencapaian Meditatif
163 (1)
“Para bhikkhu, ada dua kualitas ini. Apakah dua ini? Kemahiran dalam
[memasuki] pencapaian meditatif dan kemahiran dalam keluar dari pencapaian
meditatif. Ini adalah kedua kualitas itu.”
[Kitab Komentar : Kemahiran dalam [memasuki]
pencapaian meditatif (samāpattikusalatā) adalah kecakapan dalam memasuki
pencapaian setelah seseorang memahami kecocokan dalam hal makanan dan cuaca.
Kemahiran dalam keluar dari pencapaian meditatif (samāpattivuṭṭhānakusalatā) adalah keahlian dalam hal keluar pada saat yang telah ditentukan.]
164 (2) – 179 (17)
“Para bhikkhu, ada dua kualitas ini. Apakah dua ini? (164) Perilaku sesuai
moralitas dan kelembutan … (165) Kesabaran dan kehalusan … (166) Kehalusan
dalam berbicara dan keramahan … (167) Ketidak-membahayakan dan kemurnian … (168) Tidak menjaga pintu-pintu indria dan makan
berlebihan … (169) Menjaga
pintu-pintu indria dan makan secukupnya … (170) Kekuatan refleksi dan kekuatan pengembangan
… (171) Kekuatan perhatian dan kekuatan konsentrasi … [95] … (172) Ketenangan
dan pandangan terang … (173) Kegagalan dalam perilaku bermoral dan kegagalan
dalam pandangan … (174) Keberhasilan
dalam perilaku bermoral dan keberhasilan dalam pandangan … (175) Kemurnian perilaku bermoral dan
kemurnian pandangan … (176) Kemurnian pandangan dan usaha sesuai dengan pandangannya … (177)
Ketidak-puasan sehubungan dengan kualitas-kualitas bermanfaat dan tidak
mengenal lelah dalam berusaha … (178) Pikiran yang kacau dan kurangnya
pemahaman jernih … (179) Perhatian
dan pemahaman jernih. Ini adalah kedua kualitas itu.”
Disamping berwatak PENGECUT, umat nasrani juga
tergolong sebagai kaum PEMALAS yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih
Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang.
Bertolak-belakang dengan ideologi nasrani, yang menjadi ibadah Buddhisme ialah
berbuat kebaikan, menghindari perbuatan buruk, serta memurnikan pikiran.
Artinya, ketika seseorang melakukan kebaikan, maka ia “sedang beribadah”.
Ketika seseorang menghindari perbuatan buruk, ia pun “sedang beribadah”. Ketika
seseorang memurnikan pikirakannya, ia juga “sedang beribadah”. Namun, sekali
lagi, umat nasrani terlampau PENGECUT dan PEMALAS (Kasta PENDOSAWAN), mereka
tidak sanggup menjalankan ibadah Buddhisme berikut:
Ovada Patimokkha
Sabbapāpassa akaraṇaṃ
Kusalassa upasampadā
Sacittapariyodapanaṃ
Etaṃ buddhāna sāsanaṃ.
Khantī paramaṃ tapo titikkhā
Nibbāṇaṃ paramaṃ vadanti buddhā
Na hi pabbajito parūpaghātī
Samaṇo hoti paraṃ viheṭhayanto.
Anūpavādo anūpaghāto,
pātimokkhe ca saṃvaro
Mattaññutā ca bhattasmiṃ, pantañca sayanāsanaṃ
Adhicitte ca āyogo, etaṃ buddhāna sāsanaṃ.
Tidak melakukan segala bentuk kejahatan,
senantiasa mengembangkan kebajikan
dan membersihkan batin;
inilah Ajaran Para Buddha.
Kesabaran adalah praktek
bertapa yang paling tinggi.
“Nibbana adalah tertinggi”,
begitulah sabda Para Buddha.
Dia yang masih menyakiti orang lain
sesungguhnya bukanlah seorang pertapa (samana).
Tidak menghina, tidak
menyakiti, mengendalikan diri sesuai peraturan,
memiliki sikap madya dalam hal
makan, berdiam di tempat yang sunyi
serta giat mengembangkan
batin nan luhur; inilah Ajaran Para Buddha.
[Sumber: Dhammapada
183-184-185, Syair Gatha.]