Berkat Memakan dan Termakan Iming-Iming PENGHAPUSAN DOSA, Apapun Ditabrak dan Disikat, agar Tidak “Merugi”
Question: Saya secara pribadi merasa heran, buat apa itu umat
agama samawi sibuk-sibuk dan buang waktu berbicara mana yang “haram” dan “halal”
dan yang “najis” serta “tidak najis”, mana yang “aurat” dan yang “bukan aurat”.
Tapi, ujung-ujungnya, yang mereka doa dan mohon-harapkan ialah ritual
pengampunan atau penghapusan dosa. Orang suci ataupun ksatria manakah, yang butuh
lari dari tanggung-jawab? Bukankah itu “contradictio in terminis”, dua
proposisi yang sejatinya saling menegasikan satu sama lainnya?
Karenanya, apa salah, bila kemudian menyebut bahwa umat agama samawi yang baik, adalah “oknum”. Sebaliknya, umat agama samawi yang jahat karena sibuk berbuat kejahatan seperti korupsi, begal, menipu, berbohong, mencuri, merampok, berzina, sebagai umat agama samawi yang “sejati”, karena bukankah itu memang sudah sejalan dengan dogma ajaran agama samawi yang mengajarkan pengampunan dosa bagi para umat penjilat bokong allah?
Brief
Answer: Untuk bisa
menikmati serta mabuk-mencandu “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”,
tentunya sang pecandu haruslah melakukan apa yang disebut memproduksi “DOSA-DOSA
UNTUK DIHAPUSKAN”—dimana keduanya bersifat saling bundling satu sama lainnya,
ibarat sikat gigi dan pasta gigi yang saling komplomenter tanpa dapat
dipisahkan fungsinya. Alhasil, para umat pemeluknya ter-demotivasi untuk
menjadi orang baik-baik, dan disaat bersamaan memotivasi umat pemeluknya untuk sibuk
memproduksi segunung dosa, mengoleksi segudang dosa, dan berkubang dalam dosa
sebagai “business as usual”, sembari berdelusi terjamin masuk alam
surgawi.
Dengan kata lain, berkat iming-iming KORUP yang sejatinya “too good to
be true” demikian, segala sesuatunya menjadi “halal” hukumnya bagi mereka,
yang menyebut kaum NON sebagai kaum yang “merugi”. Contoh, babi mereka sebut
sebagai “haram”. Namun ironisnya, ideologi KORUP semacam “PENGHAPUSAN DOSA” (abolition
of sins) yang hanya dibutuhkan oleh “KORUPTOR DOSA” sebagai “halal lifestyle”.
Terhadap dosa dan maksiat, demikian kompromistik, namun terhadap kaum yang
berbeda keyakinan mereka begitu intoleran. Dimana letak “taubat”-nya bila
sepanjang hidup dan seumur hidup serta hingga meninggal dunianya mereka setiap
harinya dan setiap tahunnya mencandu serta kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”, alias
merampas hak korban atas keadilan?
PEMBAHASAN:
Dogma “PENGHAPUSAN DOSA” sejatinya mencoba untuk mencurangi
kehidupan dengan aksi “cuci-tangan” dan “cuci-dosa” disamping “cuci-uang”
(dengan recehan 2,5% dari penghasilan kotor), sehingga pecandunya berdelusi
dapat terhindar dari konsekuensi yang harus mereka bayarkan atas perbuatan
mereka sendiri. Berani berbuat, namun tidak berani untuk bertanggung-jawab atas
konsekuensi dibalik perbuatan mereka sendiri. Tidak menjadi mengherankan bila
umat agama samawi diberi gelar sebagai kaum pengecut dan disaat bersamaan
merupakan kasta paling rendah—yang ironisnya berdelusi sebagai kaum paling
superior sehingga mengklaim dirinya sebagai “polisi moral” yang berhak untuk
menghakimi kaum lainnya.
Disiplin sejati, selalu menyertai keberanian untuk
menghadapi konsekuensi, itulah ajaran hukum sebab-akibat. Disiplin yang sejati tidak
mengenal banyak kompromi, sebagaimana khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya :
Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID IV”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa
Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan sebagai berikut:
III. Disiplin
75 (1) Seorang Ahli dalam Disiplin (1)
“Para bhikkhu, dengan memiliki tujuh kualitas, seorang bhikkhu adalah
seorang ahli
dalam disiplin. Apakah tujuh ini?
“(1) Ia mengetahui apa yang merupakan pelanggaran.
(2) Ia mengetahui apa yang bukan merupakan pelanggaran.
(3) Ia mengetahui apa yang merupakan pelanggaran ringan.
(4) Ia mengetahui apa yang merupakan pelanggaran berat.
(5) Ia bermoral; ia berdiam dengan terkendali oleh Pātimokkha, memiliki perilaku
dan tempat kunjungan yang baik, melihat
bahaya dalam pelanggaran kecil. Setelah menerima aturan latihan, ia berlatih didalamnya.
(6) Ia adalah seorang yang mendapatkan sesuai kehendak, tanpa kesulitan
atau kesusahan, keempat jhāna yang merupakan pikiran yang lebih tinggi dan
keberdiaman yang nyaman dalam kehidupan ini.
(7) Dengan hancurnya noda-noda, ia telah merealisasikan untuk
dirinya sendiri, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan
setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya.
“Dengan memiliki ketujuh kualitas ini, seorang bhikkhu adalah seorang
ahli dalam disiplin.”
~0~
76 (2) Seorang Ahli dalam Disiplin (2)
“Para bhikkhu, dengan memiliki tujuh kualitas, seorang bhikkhu adalah
seorang ahli dalam disiplin. Apakah tujuh ini?
“(1) Ia mengetahui apa yang merupakan pelanggaran.
(2) Ia mengetahui apa yang bukan merupakan pelanggaran.
(3) Ia mengetahui apa yang merupakan pelanggaran ringan.
(4) Ia mengetahui apa yang merupakan pelanggaran berat.
(5) Kedua Pātimokkha telah disampaikan dengan baik kepadanya secara terperinci,
dianalisis dengan baik, dikuasai dengan baik, dipastikan dengan baik dalam hal
aturan-aturan dan penjelasan terperincinya.
[Kitab Komentar : Secara terperinci berarti bersama
dengan kedua Vibhaṅga. Disampaikan dengan baik berarti dibabarkan dengan baik. Untuk
menunjukkan bagaimana hal-hal itu ‘disampaikan dengan baik,’ dikatakan,
‘dianalisis dengan baik’, dan seterusnya. Dianalisis dengan baik berarti
bahwa tiap-tiap kata dianalisis tanpa kebingungan atau cacat. Dikuasai
dengan baik berarti menjadi terbiasa, dimunculkan dalam pelafalan.
Dipastikan dengan baik dalam hal aturan-aturan berarti dengan tegas ditetapkan
dalam hal aturan-aturan apakah berasal dari Khandaka atau Parivāra;
dipastikan dengan baik dalam hal penjelasan terperincinya berarti dengan tegas ditetapkan,
tanpa cacat, tanpa kesalahan dalam kata melalui kelengkapan kata dan istilah.]
(6) Ia adalah [141] seorang yang mendapatkan sesuai kehendak … keempat
jhāna …
(7) Dengan hancurnya noda-noda, ia telah merealisasikan untuk dirinya
sendiri dengan pengetahuan langsung … kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan
melalui kebijaksanaan … ia berdiam di dalamnya.
“Dengan memiliki ketujuh kualitas ini, seorang bhikkhu adalah seorang
ahli dalam disiplin.”
~0~
77 (3) Seorang Ahli dalam Disiplin (3)
“Para bhikkhu, dengan memiliki tujuh kualitas, seorang bhikkhu adalah
seorang ahli dalam disiplin. Apakah tujuh ini?
“(1) Ia mengetahui apa yang merupakan pelanggaran.
(2) Ia mengetahui apa yang bukan merupakan pelanggaran.
(3) Ia mengetahui apa yang merupakan pelanggaran ringan.
(4) Ia mengetahui apa yang merupakan pelanggaran berat.
(5) Ia adalah seorang yang kokoh dalam disiplin, tidak goyah.
(6) Ia adalah seorang yang mendapatkan sesuai kehendak … keempat jhāna …
(7) Dengan hancurnya noda-noda, ia telah merealisasikan untuk dirinya
sendiri dengan pengetahuan langsung … kebebasan pikiran yang tanpa noda,
kebebasan melalui kebijaksanaan … ia berdiam di dalamnya.
“Dengan memiliki ketujuh kualitas ini, seorang bhikkhu adalah seorang
ahli dalam disiplin.”
~0~
78 (4) Seorang Ahli dalam Disiplin (4)
“Para bhikkhu, dengan memiliki tujuh kualitas, seorang bhikkhu adalah
seorang ahli dalam disiplin. Apakah tujuh ini?
“(1) Ia mengetahui apa yang merupakan pelanggaran.
(2) Ia mengetahui apa yang bukan merupakan pelanggaran.
(3) Ia mengetahui apa yang merupakan pelanggaran ringan.
(4) Ia mengetahui apa yang merupakan pelanggaran berat.
(5) Ia mengingat banyak kehidupan lampau, yaitu, satu kelahiran, dua kelahiran
… [seperti pada 6:2 §4] … ia mengingat banyak kehidupan lampaunya dengan
aspek-aspek dan rinciannya.
(6) Dengan mata dewa yang murni dan melampaui manusia … [seperti pada
6:2 §5] … ia memahami
bagaimana makhluk-makhluk mengembara sesuai kamma mereka.
(7) Dengan hancurnya noda-noda, ia telah merealisasikan untuk dirinya
sendiri dengan pengetahuan langsung … kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan
melalui kebijaksanaan … ia berdiam di dalamnya.
“Dengan memiliki ketujuh kualitas ini, seorang bhikkhu adalah seorang
ahli dalam disiplin.” [142]
~0~
79 (5) Seorang Ahli dalam Disiplin adalah Gilang-Gemilang (1)
“Para bhikkhu, dengan memiliki tujuh kualitas, seorang ahli dalam disiplin
adalah gilang-gemilang. Apakah tujuh ini? … [Seperti pada 7:75.] … Dengan
memiliki ketujuh kualitas ini, seorang
ahli dalam disiplin adalah gilang-gemilang.”
Akibat memakan dan termakan iming-iming “PENGHAPUSAN
DOSA”, alhasil para muslim berlomba-lomba dan berbondong-bondong memproduksi
segunung dosa, mengoleksi segudang dosa, dan berkubang dalam samudera dosa. Dosa-dosa
pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang
begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri
buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut
yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik
perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit
jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip
dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar
gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan
Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk
surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi
menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga
berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa,
namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang
berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN
DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, namun berdelusi
sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun
hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga.
Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal akhlak,
hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan
bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN
DOSA”—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa
suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni
dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah
menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”
[HR Bukhari Muslim]