Muhammad Nabi Rasul Allah, KONSUMSI DOSA-nya BERLEBIHAN sehingga Mabuk dan
Kecanduan PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA
Puasa Buddhist (Berpuasa dari Perbuatan Buruk) Vs. Puasa Ramadhan-Islam
(Puasa Makan namun Mengonsumsi KEKOTORAN BATIN, Konsumsi Meningkat, dan Memakan
Delusi PENGHAPUSAN DOSA)
Puasa Orang Dungu (Ramadhan, Makan di Malam Hari) Vs. Puasa Kaum Mulia (Uposatha,
Makan Setelah Matahari Terbit)
Question: Ada muslim yang bilang, islam mengajarkan agar
makan secukupnya. Namun apakah tidak berlebihan doa mereka yang selama ini dipertontonkan
ke publik, minta diberkahi, banyak rezeki, bebas dari bencana alam maupun
penyakit, ladang dan panen yang subur, diberi kesehatan, berprestasi, usaha
lancar, panjang umur, juga DIHAPUS DOSA-DOSANYA?
Bukankah itu adalah delusi yang berlebihan, pendosa pun berdelusi mau
masuk surga, cukup “lip service” doa-doa dan sembah-sujud memohon
pengampunan dosa tanpa merasa adanya kemendesakan apapun untuk
bertanggung-jawab terhadap korban-korban mereka. Semua orang juga bisa menjadi
seorang pendosa sekaligus penjilat, apa susahnya? Saya menilai, puasa ramadhan
hanya memindahkan jam makan dan aktivitas seksual ke malam dan subuh hari, bukan
benar-benar berpuasa dalam arti yang sejati. Toh, motif utama yang menggerakkan
umat muslim berpuasa ramadhan ialah mengumbar NAFSU “PENGAMPUNAN DOSA-DOSA SETAHUN
DIHAPUSKAN”.
Brief
Answer: Umat muslim pemeluk agama
islam, merupakan kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih
perbuatan baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang, dan
disaat bersamaan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab
atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri yang telah pernah atau masih
sedang menyakiti, melukai, maupun merugikan pihak-pihak lainnya. Karenanya,
muslim maupun muslimah, merupakan kasta paling rendah, hina, kotor, dan
dangkal, bukan kaum superior yang berhak menghakimi kaum lainnya.
Bagaimana
mungkin, seorang “PENDOSA PENGECUT PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” tersebut
menghakimi dan menceramahi orang lain perihal akhlak, perbuatan baik, jujur,
luhur, adil, mulia, lurus, bertanggung-jawab, serta budiman? Sang Buddha
menyebut mereka ibarat orang BUTA, yang hendak menuntun BUTAWAN lainnya, neraka
pun dipandang sebagai surga, dan berbondong-bondong mereka terperosok masuk ke
dalamnya, berdelusi memonopoli alam surgawi.
PEMBAHASAN:
Kata “puasa”, berasal dari Bahasa Pali “uposatha”. Terdapat
perbedaan dramatis antara “puasa Buddhist” dan “puasa ramadhan”. Dalam
kesempatan ini, kita akan mengupas betapa dangkal dan ternodanya “puasa
ramadhan” dan betapa kontras dengan “puasa Buddhist”. Dalam Buddhisme, terdapat
“uposatha perilaku bermoral”, sementara dalam “puasa ramadhan” yang dikenal
ialah justru iming-iming “DOSA SETAHUN DIHAPUSKAN” alias nafsu kotor tercela
itu sendiri sebagai motif tujuannya—alias mempertebal “kekotoran batin” diri
mereka sendiri.
Bila kita gali motif dibalik praktek berpuasa kaum muslim (puasa
ramadhan), yang ternyata ialah memakan iming-iming “DOSA-DOSA SETAHUN
DIHAPUSKAN”, sehingga bukan benar-benar berlatih disiplin diri “self-control”.
Sebaliknya, Buddhisme mengajarkan para siswa-Nya “berpuasa (dari) perbuatan
buruk dan tercela”, bukan “berpuasa makan namun mabuk pengampunan dosa (alias
memberi makan ‘kekotoran batin’)”, sebagaimana dapat kita jumpai dalam khotbah Sang
Buddha dalam “Aṅguttara
Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID I”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh
Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015
oleh DhammaCitta Press:
70 (10) Uposatha
Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap
di Sāvatthī di Istana Migāramātā di Taman Timur. Kemudian pada hari uposatha
Visākhā Migāramātā mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau¸dan duduk di
satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya:
“Mengapakah, Visākhā, engkau datang di siang hari ini?”
“Hari ini, Bhante, aku sedang menjalankan uposatha.”
“Ada, Visākhā, tiga jenis uposatha. Apakah tiga ini? Uposatha penggembala,
uposatha Nigaṇṭha, dan uposatha
para mulia.
(1) “Dan bagaimanakah, Visākhā, uposatha penggembala itu dijalankan?
Misalkan, Visākhā, pada malam hari seorang penggembala mengembalikan
sapi-sapinya kepada pemiliknya. Ia merefleksikan sebagai berikut: ‘Hari ini
sapi-sapi merumput di tempat-tempat ini dan itu dan meminum air dari
tempat-tempat ini dan itu. Besok sapi-sapi merumput di tempat-tempat ini dan
itu dan meminum air dari tempat-tempat ini dan itu.’ Demikian pula, seseorang
di sini menjalankan uposatha dengan merefleksikan sebagai berikut: ‘Hari ini
aku memakan ini dan itu; hari ini aku memakan makanan jenis ini dan itu. [206]
Besok aku memakan ini dan itu; besok aku memakan makanan jenis ini dan itu.
Dengan demikian ia
melewatkan hari itu dengan keserakahan dan kerinduan dalam pikirannya. Adalah dengan cara demikian uposatha penggembala
dijalankan. Uposatha penggembala, yang dijalankan demikian, tidak berbuah
dan bermanfaat besar, juga tidak luar biasa cemerlang dan menyebar.
(2) “Dan bagaimanakah, Visākhā, uposatha Nigaṇṭha dijalankan? Ada, Visākhā, para petapa yang disebut para Nigaṇṭha. Mereka menginstruksikan para siswa mereka sebagai berikut: ‘Marilah, sahabat,
letakkanlah tongkat pemukul terhadap makhluk-makhluk hidup yang berdiam dalam
jarak lebih dari seratus yojana di arah timur. Letakkanlah tongkat pemukul
terhadap makhluk-makhluk hidup yang berdiam dalam jarak lebih dari seratus
yojana di arah barat. Letakkanlah tongkat pemukul terhadap makhluk-makhluk hidup
yang berdiam dalam jarak lebih dari seratus yojana di arah utara. Letakkanlah
tongkat pemukul terhadap makhluk-makhluk hidup yang berdiam dalam jarak lebih
dari seratus yojana di arah selatan.’
[Kitab Komentar : “Letakkanlah tongkat pemukul dan
tidak kejam terhadap makhluk-makhluk hidup yang berada di wilayah yang lebih
jauh dari seratus yojana” (tesu yojanasatato parabhāgesu ṭhitesu sattesu daṇḍaṃ nikkhipa, nikkhittadaṇḍo hohi).
Satu yojana berkisar tujuh hingga sembilan mil.
Demikianlah kaum Jain digambarkan seperti pada pernyataan, “Hanya kepada
makhluk-makhluk yang berada jauh maka kalian harus tidak kejam,” seolah-olah
mereka diperbolehkan untuk menjadi kejam terhadap makhluk-makhluk yang berada
dekat. Hal ini, tampaknya, bertolak belakang dengan ajaran Jainisme, yang
mengajarkan ketidak-kejaman keras (ahiṃsā) terhadap semua makhluk dalam segala kondisi.]
Demikianlah
mereka menginstruksikan mereka agar bersimpati dan berbelas kasihan terhadap
beberapa makhluk hidup, tetapi tidak pada yang lainnya. Pada hari uposatha, mereka menginstruksikan para
siswa mereka sebagai berikut: ‘Marilah, sahabat, setelah menyingkirkan semua
pakaian, ucapkan: ‘Aku sama sekali bukan milik siapa pun, juga segala sesuatu
di mana pun juga sama sekali bukan milikku.’ Akan tetapi, orangtuanya mengetahui:
‘Ini adalah putra kami.’ Dan ia mengetahui: ‘Mereka ini adalah orangtuaku.’
Istri dan anak-anaknya mengetahui: ‘Ia adalah penyokong kami.’ Dan ia
mengetahui: ‘Mereka ini adalah istri dan anak-anakku.’ Para budak, pekerja, dan
pelayannya mengetahui: ‘Ia adalah majikan kami.’ Dan ia mengetahui: ‘Mereka ini
adalah para budak, pekerja, dan pelayanku.’
Demikianlah pada suatu kesempatan di mana mereka seharusnya diajarkan
dalam kejujuran, [para Nigaṇṭha] mengajarkan mereka dalam kebohongan. Ini, Aku katakan,
adalah ucapan salah. Ketika malam berlalu, ia menggunakan kepemilikan yang
belum diberikan. Ini, aku katakan, adalah mengambil apa yang tidak diberikan.
Adalah dengan cara ini uposatha para Nigaṇṭha dijalankan. Ketika seseorang menjalankan uposatha
seperti cara para Nigaṇṭha, maka uposatha itu tidak berbuah dan
bermanfaat besar, juga tidak luar biasa cemerlang dan menyebar.
(3) “Dan bagaimanakah, Visākhā, uposatha
para mulia dijalankan? [207] Pikiran
yang kotor dibersihkan melalui usaha. Dan bagaimanakah pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha? Di sini,
Visākhā, seorang siswa mulia mengingat Sang Tathāgata sebagai berikut: ‘Sang
Bhagavā adalah seorang Arahant, tercerahkan sempurna, sempurna dalam
pengetahuan sejati dan perilaku, sempurna menempuh sang jalan, pengenal dunia,
pelatih terbaik bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para deva dan manusia,
Yang Tercerahkan, Yang Suci.’ Ketika seorang siswa mulia mengingat Sang
Tathāgata, pikirannya menjadi tenang, kegembiraan muncul, dan
kekotoran-kekotoran pikiran ditinggalkan dengan cara yang sama seperti kepala
seseorang, ketika kotor, dibersihkan melalui usaha.
[Kitab Komentar : Mengapakah Beliau mengatakan ini?
Karena uposatha tidak sangat berbuah jika seseorang menjalankannya dengan
pikiran kotor, melainkan menjadi sangat berbuah jika dijalankan dengan pikiran yang
murni. Demikianlah Beliau membuat pernyataan ini untuk memperkenalkan subjek
meditasi yang digunakan untuk memurnikan pikiran.
Apa yang dijelaskan selanjutnya adalah lima
pengingatan standar (cha anussatiyo). Untuk suatu alasan, pengingatan ke
enam, yaitu pengingatan pada kedermawanan (cāgānussati), dihilangkan.
Penghilangan ini tampaknya, pada kesan pertama, diakibatkan dari kegagalan
dalam transmisi.
Akan tetapi, Paralel China-Mandarin, MĀ 202 (pada T
I 770a16-773a1), juga tidak mencantumkan pengingatan ini, yang menyiratkan bahwa
penghilangan ini – apakah disengaja atau tidak – terjadi sebelum perpecahan
aliran Vibhajjavāda (cikal bakal Theravāda) dan Sarvāstivāda.
Yang menarik, dalam MĀ 202 delapan aturan mendahului
lima pengingatan, sedangkan Pāli menyusunnya secara kebalikannya. Urutan versi
China adalah lebih konsisten dengan ajaran Buddhis lainnya, yang memperlakukan
perilaku bermoral sebagai landasan bagi meditasi.]
“Dan bagaimanakah, Visākhā, seseorang membersihkan kepala yang kotor
melalui usaha? Dengan menggunakan pasta, lempung, air, dan usaha yang tepat
oleh orang tersebut. Adalah dengan cara ini kepala seseorang, ketika kotor,
dibersihkan melalui usaha. Demikian pula, pikiran
yang kotor dibersihkan melalui usaha. Dan bagaimanakah pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha? Di sini,
Visākhā, seorang siswa mulia mengingat Sang Tathāgata sebagai berikut: ‘Sang
Bhagavā adalah … guru para deva dan manusia, Yang Tercerahkan, Yang Suci.’
Ketika seorang siswa mulia mengingat Sang Tathāgata, pikirannya menjadi tenang,
kegembiraan muncul, dan kekotoran pikiran ditinggalkan. Ini disebut seorang
siswa mulia yang menjalankan uposatha
Brahmā, yang berdiam
bersama dengan Brahmā, dan adalah dengan mempertimbangkan Brahmā maka
pikirannya menjadi tenang, kegembiraan muncul, dan kekotoran pikiran
ditinggalkan. Adalah
dengan cara ini pikiran yang kotor itu dibersihkan melalui usaha.
[Kitab Komentar : Adalah Sang Buddha yang
tercerahkan sempurna yang disebut Brahmā (brahmā vuccati sammā sambuddho).]
“Pikiran yang kotor, Visākhā, dibersihkan melalui usaha. Dan bagaimanakah
pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha? Di sini, Visākhā, seorang siswa
mulia mengingat Dhamma sebagai berikut: ‘Dhamma telah dibabarkan dengan baik
oleh Sang Bhagavā, terlihat langsung, segera, mengundang seseorang untuk datang
dan melihat, dapat diterapkan, untuk dialami secara pribadi oleh para
bijaksana.’ Ketika seorang siswa mulia mengingat Dhamma, pikirannya menjadi
tenang, kegembiraan muncul, dan kekotoran pikiran [208] ditinggalkan dengan
cara yang sama seperti badan seseorang, ketika kotor, dibersihkan melalui
usaha.
“Dan bagaimanakah, Visākhā, seseorang membersihkan badan yang kotor
melalui usaha? Dengan menggunakan sikat mandi, bubuk lemon, air, dan usaha
tepat oleh orang tersebut. Adalah dengan cara ini badan seseorang, ketika
kotor, dibersihkan melalui usaha. Demikian pula, pikiran yang kotor dibersihkan
melalui usaha. Dan bagaimanakah pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha? Di
sini, Visākhā, seorang siswa mulia mengingat Dhamma sebagai berikut: ‘Dhamma
telah dibabarkan dengan baik oleh Sang Bhagavā … untuk dialami secara pribadi
oleh para bijaksana.’ Ketika seorang siswa mulia mengingat Dhamma, pikirannya menjadi
tenang, kegembiraan muncul, dan kekotoran pikiran ditinggalkan. Ini disebut
seorang siswa mulia yang menjalankan uposatha
Dhamma, yang berdiam
bersama dengan Dhamma, dan adalah dengan mempertimbangkan Dhamma maka
pikirannya menjadi tenang, kegembiraan muncul, dan kekotoran pikiran ditinggalkan.
Adalah dengan cara ini pikiran yang kotor itu dibersihkan melalui usaha.
“Pikiran yang kotor, Visākhā, dibersihkan melalui usaha. Dan bagaimanakah
pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha? Di sini, Visākhā, seorang siswa
mulia mengingat Saṅgha sebagai berikut: ‘Saṅgha para siswa Sang Bhagavā mempraktikkan jalan yang baik, mempraktikkan
jalan yang lurus, mempraktikkan jalan yang benar, mempraktikkan jalan yang
selayaknya; yaitu, empat pasang makhluk, delapan jenis individu - Saṅgha para siswa Sang Bhagava ini layak menerima pemberian, layak menerima keramahan,
layak menerima persembahan, layak menerima penghormatan, lahan jasa yang
tiada taranya di dunia.’ Ketika seorang siswa mulia mengingat Saṅgha, pikirannya menjadi tenang, kegembiraan muncul, dan kekotoran pikiran
ditinggalkan dengan cara yang sama seperti kain kotor yang dibersihkan melalui
usaha.
“Dan bagaimanakah, Visākhā, seseorang membersihkan kain kotor melalui
usaha? [209] Dengan menggunakan panas, larutan pencuci, kotoran sapi, air, dan
usaha tepat oleh orang tersebut. Adalah dengan cara ini kain kotor
dibersihkan melalui usaha. Demikian pula, pikiran yang kotor dibersihkan
melalui usaha. Dan bagaimanakah pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha?
Di sini, Visākhā, seorang siswa mulia mengingat Saṅgha sebagai berikut: ‘Saṅgha para siswa Sang Bhagavā mempraktikkan jalan yang
baik … lahan jasa yang tiada taranya di dunia.’ Ketika seorang siswa mulia
mengingat Saṅgha, pikirannya menjadi tenang, kegembiraan muncul,
dan kekotoran pikiran ditinggalkan. Ini disebut seorang siswa mulia yang
menjalankan uposatha
Saṅgha, yang berdiam bersama dengan Saṅgha, dan adalah dengan mempertimbangkan Saṅgha maka pikirannya menjadi tenang, kegembiraan muncul, dan kekotoran
pikiran ditinggalkan. Adalah dengan cara ini pikiran yang kotor itu dibersihkan
melalui usaha.
“Pikiran yang kotor, Visākhā, dibersihkan melalui usaha. Dan bagaimanakah
pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha? Di sini, Visākhā, seorang siswa
mulia mengingat
perilaku bermoralnya sendiri sebagai tidak rusak, tanpa cacat, tanpa noda,
tanpa bercak, membebaskan, dipuji oleh para bijaksana, tidak dicengkeram, mengarah
pada konsentrasi. Ketika
seorang siswa mulia mengingat perilaku bermoralnya sendiri, pikirannya menjadi
tenang, kegembiraan muncul, dan kekotoran-kekotoran pikiran ditinggalkan dengan
cara yang sama seperti cermin kotor yang dibersihkan melalui usaha.
“Dan bagaimanakah, Visākhā, seseorang membersihkan cermin kotor melalui
usaha? Dengan menggunakan minyak, abu, gulungan kain, dan usaha tepat oleh
orang tersebut. Adalah dengan cara ini cermin kotor dibersihkan melalui usaha.
Demikian pula, pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha. Dan bagaimanakah
pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha? [210] Di sini, Visākhā, seorang siswa
mulia mengingat perilaku bermoralnya sendiri sebagai tidak rusak … mengarah
pada konsentrasi. Ketika seorang siswa mulia mengingat perilaku bermoralnya
sendiri, pikirannya menjadi tenang, kegembiraan muncul, dan kekotoran pikiran
ditinggalkan. Ini disebut seorang siswa mulia yang menjalankan uposatha perilaku bermoral, yang berdiam bersama dengan perilaku bermoral,
dan adalah dengan mempertimbangkan perilaku bermoral maka pikirannya menjadi
tenang, kegembiraan muncul, dan kekotoran pikiran ditinggalkan. Adalah
dengan cara ini pikiran yang kotor itu dibersihkan melalui usaha.
“Pikiran yang kotor, Visākhā, dibersihkan melalui usaha. Dan bagaimanakah
pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha? Di sini, Visākhā, seorang siswa
mulia mengingat para dewata sebagai berikut: ‘Ada para deva [yang diperintah]
oleh empat raja dewa, para deva Tāvatiṃsa, para deva Yāma, para deva Tusita, para deva yang
bersenang-senang dalam penciptaan, para deva yang mengendalikan apa yang
diciptakan oleh para deva lain, para deva kelompok Brahmā, dan para deva yang
bahkan lebih tinggi dari ini. Aku juga memiliki keyakinan demikian seperti yang
dimiliki oleh para dewata itu yang karenanya, ketika mereka meninggal dunia,
mereka terlahir kembali di sana; aku
juga memiliki perilaku bermoral demikian … pembelajaran
demikian … kedermawanan demikian … kebijaksanaan
demikian seperti yang dimiliki oleh para dewata itu yang karenanya, ketika
mereka meninggal dunia, mereka terlahir kembali di sana.’ Ketika seorang siswa mulia mengingat
keyakinan, perilaku bermoral, pembelajaran, kedermawanan, dan kebijaksanaan
dalam dirinya dan dalam diri para dewata tersebut, pikirannya menjadi tenang,
kegembiraan muncul, dan kekotoran pikiran ditinggalkan dengan cara yang sama seperti
emas tidak murni yang dibersihkan melalui usaha.
[Kitab Komentar : Ini adalah enam tingkat alam surga
indriawi. Para deva yang lebih tinggi dari ini berada di alam berbentuk dan
tanpa bentuk.]
“Dan bagaimanakah, Visākhā, emas tidak murni dibersihkan melalui usaha?
Dengan menggunakan tungku, garam, kapur merah, pipa peniup dan jepitan, dan usaha tepat oleh
orang tersebut. Adalah
dengan cara ini emas tidak murni dibersihkan melalui usaha. Demikian pula,
pikiran yang kotor dibersihkan melalui usaha. [211] Dan bagaimanakah pikiran
yang kotor dibersihkan melalui usaha? Di sini, Visākhā, seorang siswa mulia
mengingat sebagai berikut: ‘Ada para deva [yang diperintah] oleh empat raja dewa
… dan para deva yang bahkan lebih tinggi dari ini. Aku juga memiliki keyakinan
demikian … kebijaksanaan demikian seperti yang dimiliki oleh para dewata itu
yang karenanya, ketika mereka meninggal dunia, mereka terlahir kembali di
sana.’ Ketika seorang siswa mulia mengingat keyakinan, perilaku bermoral,
pembelajaran, kedermawanan, dan kebijaksanaan dalam dirinya dan dalam diri para
dewata tersebut, pikirannya menjadi tenang, kegembiraan muncul, dan kekotoran
pikiran ditinggalkan. Ini disebut seorang siswa mulia yang menjalankan uposatha para dewata, yang berdiam bersama dengan para dewata, dan
adalah dengan mempertimbangkan para dewata maka pikirannya menjadi tenang, kegembiraan
muncul, dan kekotoran pikiran ditinggalkan. Adalah dengan cara ini pikiran yang
kotor itu dibersihkan melalui usaha.
(i) “Siswa mulia ini, Visākhā, merefleksikan sebagai berikut: ‘Selama
mereka hidup para Arahant meninggalkan dan menghindari pembunuhan; dengan
tongkat pemukul dan senjata dikesampingkan, berhati-hati dan baik hati, mereka berdiam dengan berbelas
kasihan pada semua makhluk hidup. Hari ini, selama sehari dan semalam ini, aku juga akan meninggalkan dan
menghindari pembunuhan; dengan tongkat pemukul dan senjata dikesampingkan,
berhati-hati dan baik hati, aku juga akan berdiam dengan berbelas kasihan pada
semua makhluk hidup. Aku akan meniru para Arahant dalam hal ini dan uposatha
ini akan dijalankan olehku.
[Kitab Komentar : Pada titik ini, Sang Buddha
menjelaskan delapan aturan yang dijalankan oleh para umat awam pada hari-hari
uposatha. Aturan-aturan ini bersesuaian erat dengan sepuluh aturan sāmaṇera,
dengan yang ke tujuh dan ke delapan digabungkan dan ke sepuluh (menghindari
menerima emas dan perak, yaitu, uang) dihilangkan.]
(ii) “‘Selama mereka hidup para Arahant meninggalkan dan menghindari
mengambil apa yang tidak diberikan; mereka mengambil hanya apa yang diberikan,
mengharapkan hanya apa yang diberikan, dan jujur dalam pikiran, hampa dari
pencurian. Hari ini, selama sehari dan semalam ini, aku juga akan
meninggalkan dan menghindari mengambil apa yang tidak diberikan; aku akan mengambil
hanya apa yang diberikan, mengharapkan hanya apa yang diberikan, dan jujur
dalam pikiran, hampa dari pencurian. Aku akan meniru para Arahant dalam hal ini
dan uposatha ini akan dijalankan olehku.
(iii) “‘Selama mereka hidup para Arahant meninggalkan aktivitas seksual
dan menjalankan kehidupan selibat, hidup terpisah, menghindari hubungan
seksual, praktik orang-orang biasa. Hari ini, selama sehari dan semalam ini,
aku juga akan meninggalkan aktivitas seksual dan menjalankan kehidupan
selibat, hidup terpisah, menghindari hubungan seksual, praktik orang-orang biasa.
Aku akan meniru para Arahant dalam hal ini dan uposatha ini akan dijalankan
olehku. [212]
(iv) “‘Selama mereka hidup para Arahant meninggalkan dan menghindari
berbohong; mereka mengucapkan kebenaran, menganut kebenaran; mereka terpercaya
dan dapat diandalkan, bukan
penipu dunia. Hari ini,
selama sehari dan semalam ini, aku juga akan menjadi seorang pengucap
kebenaran, seorang penganut kebenaran, terpercaya dan dapat diandalkan, bukan penipu
dunia. Aku akan meniru para Arahant dalam hal ini dan uposatha ini akan
dijalankan olehku.
(v) “‘Selama mereka hidup para Arahant meninggalkan dan menghindari
minuman keras, anggur, dan minuman memabukkan, yang menjadi landasan bagi
kelengahan. Hari ini, selama sehari dan semalam ini, aku juga akan
meninggalkan dan menghindari minuman keras, anggur, dan minuman memabukkan,
yang menjadi landasan bagi kelengahan. Aku akan meniru para Arahant dalam hal
ini dan uposatha ini akan dijalankan olehku.
(vi) “‘Selama mereka hidup para Arahant makan
satu kali sehari, menghindari makan di malam hari dan di luar waktu yang benar. Hari ini, selama sehari dan semalam ini, aku juga
akan makan satu kali sehari, menghindari makan di malam hari dan di luar waktu
yang benar. Aku akan meniru para Arahant dalam hal ini dan uposatha ini akan
dijalankan olehku.
[Kitab Komentar : Ekabhattika: Ini juga dapat
diterjemahkan “makan pada satu bagian siang hari.” Penerjemah lain menyebutkan,
“Ada dua [periode] makan, [periode] makan pagi dan [periode] makan malam.
[Periode] makan pagi berakhir di tengah hari; [periode] makan malam dimulai
dari tengah hari hingga fajar keesokan harinya. Oleh karena itu bahkan mereka
yang makan sepuluh kali sebelum tengah hari dikatakan makan sekali sehari.” Itulah
periode “intermittent fasting” dalam Buddhsime.]
(vii) “‘Selama mereka hidup para Arahant menghindari menari, menyanyi,
musik instrumental, dan pertunjukan yang tidak selayaknya, dan menghindari
menghias dan mempercantik diri mereka dengan mengenakan kalung bunga dan
mengoleskan wangi-wangian dan salep. Hari ini, selama sehari dan semalam ini, aku
juga akan menghindari menari, menyanyi, musik instrumental, dan pertunjukan
yang tidak selayaknya, dan menghindari menghias dan mempercantik diriku dengan
mengenakan kalung bunga dan mengoleskan wangi-wangian dan salep. Aku akan
meniru para Arahant dalam hal ini dan uposatha ini akan dijalankan olehku.
(viii) “‘Selama mereka hidup para Arahant meninggalkan dan menghindari
menggunakan tempat tidur yang tinggi dan mewah; mereka berbaring di tempat
tidur yang rendah, apakah tempat tidur kecil atau alas tidur jerami. Hari ini,
selama sehari dan semalam ini, aku juga akan meninggalkan dan menghindari
menggunakan tempat tidur yang tinggi dan mewah; aku akan berbaring di tempat tidur
yang rendah, apakah tempat tidur kecil atau alas tidur jerami. Aku akan meniru
para Arahant dalam hal ini dan uposatha ini akan dijalankan olehku.’
“Dengan cara inilah, Visākhā, uposatha para mulia itu dijalankan. Ketika
seseorang menjalankan uposatha dengan cara yang dilakukan oleh para mulia maka
hal ini berbuah dan bermanfaat besar, luar biasa cemerlang dan menyebar.
“Sejauh apakah hal ini berbuah dan bermanfaat besar? Sejauh apakah hal
ini luar biasa cemerlang dan menyebar? Misalkan, Visākhā, seseorang menguasai
dan memerintah enam belas negeri besar ini yang berlimpah dalam hal tujuh benda
berharga, [213] yaitu, [negeri-negeri] Aṅga, Magadha, Kāsi, Kosala, Vajji, Malla, Ceti, Vaṅga, Kuru, Pañcāla, Maccha, Sūrasena, Assaka, Avanti, Gandhāra, dan
Kamboja: hal ini tidak sebanding dengan seper enam belas bagian dari
pelaksanaan uposatha yang lengkap dengan delapan faktor itu. Karena alasan
apakah? Karena
kekuasaan manusia adalah buruk dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi.
[Kitab Komentar : Sebagian besar negeri ini
berlokasi di sub benua India, tetapi Gandhāra dan Kamboja terletak di barat
laut, di sekitar Pakistan dan Afghanistan modern.]
“Bagi
para deva [yang diperintah oleh] empat raja dewa, sehari semalam adalah setara
dengan lima puluh tahun manusia; tiga puluh hari demikian menjadi satu bulan, dan dua belas bulan menjadi
satu tahun. Umur
kehidupan para deva [yang diperintah oleh] empat raja dewa adalah lima ratus
tahun surgawi. Adalah mungkin,
Visākhā, bahwa seorang perempuan atau laki-laki di sini yang menjalankan
uposatha yang lengkap dengan delapan faktor ini akan, dengan hancurnya jasmani,
setelah kematian, terlahir kembali dalam kumpulan para deva [yang diperintah
oleh] empat raja dewa. Adalah sehubungan dengan hal ini maka Aku katakan bahwa
kekuasaan
manusia adalah buruk dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi.
[Kitab Komentar : Di sini dimulai gambaran kosmologi
dari enam alam surga indria.]
“Bagi
para deva Tāvatiṃsa sehari semalam
adalah setara dengan seratus tahun manusia; tiga puluh hari demikian menjadi satu bulan, dan
dua belas bulan menjadi satu tahun. Umur
kehidupan para deva Tāvatiṃsa adalah seribu tahun
surgawi. Adalah
mungkin, Visākhā, bahwa seorang perempuan atau laki-laki di sini yang
menjalankan uposatha yang lengkap dengan delapan faktor ini akan, dengan
hancurnya jasmani, setelah kematian, terlahir kembali dalam kumpulan para deva
Tāvatiṃsa. Adalah sehubungan dengan hal ini maka Aku katakan bahwa kekuasaan manusia
adalah buruk dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi.
“Bagi
para deva Yāma sehari semalam adalah setara dengan dua ratus tahun manusia; tiga puluh hari demikian menjadi satu bulan, dan
dua belas bulan menjadi satu tahun. Umur
kehidupan para deva Yāma adalah dua ribu tahun surgawi. Adalah mungkin, Visākhā, bahwa seorang
perempuan atau laki-laki di sini yang menjalankan uposatha yang lengkap dengan
delapan faktor ini akan, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, terlahir
kembali dalam kumpulan para deva Yāma. Adalah sehubungan dengan hal ini
[214] maka Aku katakan bahwa kekuasaan
manusia adalah buruk dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi.
“Bagi
para deva Tusita sehari semalam adalah setara dengan empat ratus tahun manusia; tiga puluh hari demikian menjadi satu bulan, dan
dua belas bulan menjadi satu tahun. Umur
kehidupan para deva Tusita adalah empat ribu tahun surgawi. Adalah mungkin, Visākhā, bahwa seorang
perempuan atau laki-laki di sini yang menjalankan uposatha yang lengkap dengan
delapan faktor ini akan, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, terlahir kembali
dalam kumpulan para deva Tusita. Adalah sehubungan dengan hal ini maka Aku
katakan bahwa kekuasaan
manusia adalah buruk dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi.
“Bagi
para deva yang bersenang-senang dalam penciptaan, sehari semalam adalah setara
dengan delapan ratus tahun manusia; tiga puluh hari demikian menjadi satu bulan, dan dua belas bulan
menjadi satu tahun. Umur
kehidupan para deva yang bersenang-senang dalam penciptaan adalah delapan ribu
tahun surgawi. Adalah
mungkin, Visākhā, bahwa seorang perempuan atau laki-laki di sini yang
menjalankan uposatha yang lengkap dengan delapan faktor ini akan, dengan
hancurnya jasmani, setelah kematian, terlahir kembali dalam kumpulan para deva
yang bersenang-senang dalam penciptaan. Adalah sehubungan dengan hal ini
maka Aku katakan bahwa kekuasaan
manusia adalah buruk dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi.
“Bagi
para deva yang mengendalikan apa yang diciptakan oleh para deva lain, sehari
semalam adalah setara dengan seribu enam ratus tahun manusia; tiga puluh hari demikian menjadi satu bulan, dan
dua belas bulan menjadi satu tahun. Umur
kehidupan para deva yang mengendalikan apa yang diciptakan oleh para deva lain adalah
enam belas ribu tahun surgawi itu. Adalah mungkin, Visākhā, bahwa seorang perempuan atau laki-laki di
sini yang menjalankan uposatha yang lengkap dengan delapan faktor ini akan,
dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, terlahir kembali dalam kumpulan
para deva yang mengendalikan apa yang diciptakan oleh para deva lain.
Adalah sehubungan dengan hal ini maka Aku katakan bahwa kekuasaan manusia
adalah buruk dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi.”
Seseorang tidak boleh membunuh makhluk-makhluk hidup
atau mengambil apa yang tidak diberikan;
ia seharusnya tidak berkata bohong atau meminum minuman memabukkan; [215]
ia harus menahan diri dari aktivitas seksual, dari ketidaksucian;
ia
tidak boleh makan di malam hari atau pada waktu yang tidak tepat.
ia tidak boleh mengenakan kalung bunga atau mengoleskan wangi-wangian;
ia harus tidur di tempat tidur [yang rendah] atau alas tidur di lantai;
ini, mereka katakan, adalah uposatha berfaktor delapan
yang dinyatakan oleh Sang Buddha,
yang telah mencapai akhir penderitaan.
Sejauh matahari dan rembulan berputar,
memancarkan cahaya, begitu indah dipandang,
penghalau kegelapan, bergerak di sepanjang cakrawala,
bersinar di angkasa, menerangi segala penjuru.
Kekayaan apa pun yang ada di sini –
mutiara, permata, dan beryl yang baik,
emas tanduk dan emas gunung,
dan emas alami yang disebut haṭaka –
[Kitab Komentar : Emas tanduk (siṅgīsuvaṇṇa) adalah emas yang menyerupai [dalam hal warna] tanduk sapi (gosiṅgasadisa). Emas gunung
(kañcana) adalah emas yang ditemukan di gunung. Emas alami (jātarūpa)
adalah emas yang berwarna Buddha. Haṭaka adalah emas yang dipindahkan oleh semut-semut.]
Semua itu tidak sebanding dengan seper enam belas bagian
dari uposatha yang lengkap dengan delapan faktor,
seperti halnya sekumpulan bintang
[tidak dapat menandingi] cahaya rembulan.
[Kitab Komentar : Bentuk nominatif yang digunakan
dalam bentuk genitif, bermakna ‘cahaya rembulan’ (candappabhāya).]
Oleh karena itu seorang perempuan atau laki-laki yang bermoral
setelah menjalankan uposatha yang lengkap dengan delapan faktor,
dan setelah melakukan jasa yang menghasilkan kebahagiaan,
pergi tanpa
cela menuju alam
surga.
~0~
137 (8)
“Para bhikkhu, dengan berperilaku buruk terhadap dua individu, orang
dungu, yang tidak kompeten, dan jahat mempertahankan dirinya dalam kondisi
celaka dan terluka; ia tercela dan dicela oleh para bijaksana; dan ia
menghasilkan banyak keburukan. Siapakah dua ini? Sang Tathāgata dan seorang
siswa Sang Tathāgata. Dengan berperilaku buruk terhadap kedua individu ini,
si dungu, yang tidak kompeten, dan jahat mempertahankan dirinya dalam kondisi
celaka dan terluka; ia tercela dan dicela oleh para bijaksana; dan ia
menghasilkan banyak keburukan. [91]
“Para bhikkhu, dengan berperilaku baik terhadap dua individu, orang
bijaksana, yang kompeten, dan baik mempertahankan dirinya dalam kondisi tidak
celaka dan tidak terluka; ia tanpa cela dan di luar celaan oleh para bijaksana;
dan ia menghasilkan banyak jasa. Siapakah dua ini? Sang Tathāgata dan seorang
siswa Sang Tathāgata. Dengan berperilaku baik terhadap kedua individu ini,
orang bijaksana, yang kompeten, dan baik mempertahankan dirinya dalam kondisi
tidak celaka dan tidak terluka; ia tanpa cela dan di luar celaan oleh para
bijaksana; dan ia menghasilkan banyak jasa.”
Diluar bulan puasa ramadhan, para muslim mabuk serta kecanduan “PENGAMPUNAN
/ PENGHAPUSAN DOSA” untuk setiap harinya. Saat bulan puasa ramadhan, mabuk dan
kecanduan para muslim menjadi-jadi, yakni kecanduan “DOSA-DOSA SETAHUN
DIHAPUSKAN” disamping konsumsi pangan mereka meningkat drastis—kesemua
ayat-ayat simbolik “SELFISH GENE” (mengikuti arus) berikut dikutip dari
Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa,
namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang
berhak menceramahi maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN
DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah, hina, dan kotor, namun
berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Mereka
sejatinya merupakan kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih
Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang, dan
disaat bersamaan merupakan pengecut yang begitu pengecut untuk
bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri. Babi disebut
“haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP semacam “PENGHAPUSAN DOSA” diklaim
dan dikampanyekan lewat pengeras suara sebagai “halal lifestyle”—sekalipun
hanya seorang “KORUPTOR DOSA” yang butuh “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN
DOSA”.
“Abolition
of sins” maupun “cuci dosa” dipromosikan tanpa tabu ataupun malu lewat
pengeras suara, alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun
keberanian untuk bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri. Busuk dan
serakahnya jiwa yang telah dikuasai sepenuhnya oleh “SELFISH GENE” sang
“bocah tua berambut putih” menjadikannya kasta paling rendah dan paling hina,
pemeluk “Agama DOSA dari Kitab DOSA”, dimana noda-noda dan kekotoran batin
justru dipelihara dan dilestarikan dengan rasa bangga, tanpa rasa malu ataupun
takut.
Agama
samawi paling efektif dalam memelihara sifat kekanak-kanakan (memberi makan dan
nutrisi bagi KEKOTORAN BATIN), dimana juga mengungkap “pikiran berkarat serta
beracun” sang “nabi rasul Allah” yang menceramahi orang lain bahwa “perbuatan
baik dapat menghapus dosa-dosa” namun telah ternyata lebih sibuk memohon “PENGAMPUNAN
DOSA” ketimbang menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk bertanggung-jawab
kepada korban-korbannya ataupun produktif berbuat kebaikan kepada masyarakat—juga
masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]