Hanya Orang Dungu, yang Memakan dan Termakan Iming-Iming PRANK-nya Allah
Question: Dalam kisah-kisah yang tertuang di hadist, telah ternyata banyak muslim yang tidak dimasukkan ke surga oleh Allah. Bukankah Allah sudah memberi janji, muslim akan diampuni dosa-dosanya, sekalipun dosanya sebesar isi bumi, sehingga terjamin masuk surga?
Brief
Answer: Ada dua kemungkinan untuk
menjawabnya. Pertama, iming-iming Allah kepada para muslim, bersifat “PRANK”.
Kemungkinan kedua, ajaran islam itu sendiri yang “PRANK” adanya. Bila memang
ada / eksis iming-iming KORUP yang “too good to be true” semacam “PENGAMPUNAN
/ PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”, maka jawablah pertanyaan berikut:
-
apakah trauma yang diderita oleh korban, menjadi pulih?
-
apakah luka fisik maupun batin yang diderita korban, menjadi pulih?
-
apakah piutang tidak tertagih, menjadi terlunasi dengan sendirinya?
-
apakah tanah / properti milik korban, kembali ke tangan korban?
-
apakah korban yang tewas, kembali hidup?
-
apakah “nasi yang telah menjadi bubur”, kembali menjadi nasi?
-
apakah kotoran yang menodai kain putih, menjadi putih seperti sedia kala?
PEMBAHASAN:
Dengan memakan dan termakan ideologi KORUP semacam “abolition of sins”
demikian, maka sang pendosa bukanlah hanya membuat satu kejahatan, namun
menutupnya dengan kejahatan yang lebih besar lagi, yakni menjelma “KORUPTOR
DOSA” dimana dosa-dosa pun dikorupsi. Menjelma “KORUPTOR DOSA”, namun diyakini
sebagai “kembali ke fitri”. Itulah orang buta, yang tidak bisa membedakan mana
yang terpuji dan mana yang tercela. Apa yang menjadi akar penyebab, tumpulnya
penglihatan para umat agama samawi?
Jawabannya dapat kita jumpai lewat khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang
Buddha, JILID III”, Judul Asli
: “The Numerical Discourses of the Buddha”,
diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012,
terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan:
193 (3) Saṅgārava
Brahmana Saṅgārava mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar
sapa dengan Beliau. Ketika mereka telah mengakhiri ramah tamah itu, ia duduk di
satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā:
“Guru Gotama, mengapakah kadang-kadang bahkan himne-himne itu yang telah
dilafalkan dalam waktu yang lama tidak teringat dalam pikiran, apalagi yang
tidak pernah dilafalkan? Mengapakah kadang-kadang bahkan himne-himne itu yang
tidak pernah dilafalkan dalam waktu yang lama dapat teringat dalam pikiran,
apalagi yang pernah dilafalkan?”
[Mengapa Himne-Himne Tidak Dapat Teringat]
(1) “Brahmana, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang dikuasai
dan ditindas oleh nafsu indriawi, dan ia tidak memahami sebagaimana adanya
jalan membebaskan diri dari nafsu indriawi yang telah muncul, maka pada saat
itu ia tidak mengetahui dan tidak melihat sebagaimana adanya kebaikannya
sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya. Maka bahkan himne-himne itu yang telah dilafalkan
dalam waktu yang lama tidak teringat dalam pikiran, apalagi yang tidak pernah
dilafalkan. Misalkan terdapat semangkuk air yang bercampur dengan pewarna,
kunyit, celupan biru, atau celupan merah tua. Jika seseorang yang berpenglihatan
baik [231] memeriksa pantulan wajahnya sendiri di dalam air itu, ia tidak
akan mengetahui dan tidak melihat sebagaimana adanya. Demikian pula, ketika
seseorang berdiam dengan pikiran yang dikuasai dan ditindas oleh nafsu indriawi
… apalagi yang tidak pernah dilafalkan.
[Kitab Komentar menginterpretasikannya sebagai jalan
membebaskan diri dari rintangan-rintangan melalui tiga jalan membebaskan diri.
Sehubungan dengan rintangan keinginan indria, jalan membebaskan diri dengan penekanan
(vikkhambhananissaraṇa) yang terjadi melalui jhāna pertama yang berdasarkan sifat
ketidak-menarikan jasmani, jalan membebaskan diri dalam aspek tertentu (tadaṅganissaraṇa) melalui pandangan terang, dan jalan membebaskan diri dengan pelenyapan (samucchedanissaraṇa) melalui jalan
Kearahattaan (secara luas menginterpretasikan kāmacchanda sebagai
ketagihan pada segala objek).
(ii) Jalan membebaskan diri dari niat buruk terjadi
dengan penekanan melalui jhāna pertama yang berdasarkan pada cinta kasih,
dan dengan pelenyapan melalui jalan yang-tidak-kembali.
(iii) Jalan membebaskan diri dari ketumpulan dan
kantuk terjadi dengan penekanan melalui persepsi cahaya (visualisasi cahaya
terang) dan dengan pelenyapan melalui jalan Kearahattaan.
(iv) Jalan membebaskan diri dari kegelisahan dan
penyesalan terjadi dengan penekanan melalui ketenangan — penyesalan dilenyapkan melalui jalan
yang-tidak-kembali dan kegelisahan melalui jalan Kearahattaan.
Dan (v) jalan membebaskan diri dari keragu-raguan
terjadi dengan penekanan melalui penetapan fenomena-fenomena (dhammavavatthāna)
dan dengan pelenyapan melalui jalan memasuki-arus.
Kitab Komentar tidak mengaplikasikan “jalan
membebaskan diri dalam aspek tertentu” pada empat rintangan terakhir, tetap Kitab
Komentar mengatakan bahwa ini bisa terjadi karena rintangan-rintangan dapat
dihalau dengan refleksi (paṭisaṅkhānavasena tassa vinodetabbatāya tadaṅganissaraṇampi labbhat’eva).
Kitab Komentar menginterpretasikan kalimat “melihat
sebagaimana adanya kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan
keduanya” dari perspektif monastik. Kebaikan diri sendiri (attattha)
adalah Kearahattaan, dan kebaikan orang lain (parattha) adalah
kesejahteraan umat-umat awam penyokong yang memberikan sokongan materi (karena
persembahan demikian menghasilkan jasa).]
(2) “Kemudian, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang dikuasai
dan ditindas oleh niat buruk, dan ia tidak memahami sebagaimana adanya jalan
membebaskan diri dari niat buruk yang telah muncul, maka pada saat itu ia tidak
mengetahui dan tidak melihat sebagaimana adanya kebaikannya sendiri, kebaikan
orang lain, dan kebaikan keduanya. Maka bahkan himne-himne itu yang telah dilafalkan dalam waktu yang lama
tidak teringat dalam pikiran, apalagi yang tidak pernah dilafalkan. Misalkan
terdapat semangkuk air yang dipanaskan di atas api, bergolak dan mendidih. Jika
seseorang yang berpenglihatan baik memeriksa pantulan wajahnya sendiri di dalam
air itu, ia tidak akan mengetahui dan tidak melihat sebagaimana adanya.
Demikian pula, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang dikuasai dan
ditindas oleh niat buruk … apalagi yang tidak pernah dilafalkan.
(3) “Kemudian, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang dikuasai
dan ditindas oleh ketumpulan dan kantuk, dan ia tidak memahami sebagaimana
adanya jalan membebaskan diri dari ketumpulan dan kantuk yang telah muncul,
maka pada saat itu ia tidak mengetahui dan tidak melihat sebagaimana adanya kebaikannya
sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya. [232] Maka bahkan himne-himne itu yang telah
dilafalkan dalam waktu yang lama tidak teringat dalam pikiran, apalagi yang
tidak pernah dilafalkan. Misalkan terdapat semangkuk air yang tertutup oleh
ganggang dan tanaman air. Jika seseorang yang berpenglihatan baik memeriksa
pantulan wajahnya sendiri di dalam air itu, ia tidak akan mengetahui dan tidak
melihat sebagaimana adanya. Demikian pula, ketika seseorang berdiam dengan
pikiran yang dikuasai dan ditindas oleh ketumpulan dan kantuk … apalagi yang
tidak pernah dilafalkan.
(4) “Kemudian, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang dikuasai
dan ditindas oleh kegelisahan dan penyesalan, dan ia tidak memahami sebagaimana
adanya jalan membebaskan diri dari kegelisahan dan penyesalan yang telah
muncul, maka pada saat itu ia tidak mengetahui dan tidak melihat sebagaimana
adanya kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya. Maka bahkan himne-himne itu yang telah dilafalkan
dalam waktu yang lama tidak teringat dalam pikiran, apalagi yang tidak pernah dilafalkan.
Misalkan terdapat semangkuk air yang bergolak oleh angin, beriak, berpusar,
teraduk menjadi gelombang-gelombang. Jika seseorang yang berpenglihatan baik
memeriksa pantulan wajahnya sendiri di dalam air itu, ia tidak akan mengetahui
dan tidak melihat sebagaimana adanya. Demikian pula, ketika seseorang berdiam
dengan pikiran yang dikuasai dan ditindas oleh kegelisahan dan penyesalan …
[233] … apalagi yang tidak pernah dilafalkan.
(5) “Kemudian, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang dikuasai
dan ditindas oleh keragu-raguan, dan ia tidak memahami sebagaimana adanya jalan
membebaskan diri dari keragu-raguan yang telah muncul, maka pada saat itu ia
tidak mengetahui dan tidak melihat sebagaimana adanya kebaikannya sendiri,
kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya. Maka bahkan himne-himne itu yang telah dilafalkan
dalam waktu yang lama tidak teringat dalam pikiran, apalagi yang tidak pernah
dilafalkan. Misalkan terdapat semangkuk air yang kotor, keruh, dan berlumpur,
dan diletakkan di tempat gelap. Jika seseorang yang berpenglihatan baik
memeriksa pantulan wajahnya sendiri di dalam air itu, ia tidak akan mengetahui dan
tidak melihat sebagaimana adanya. Demikian pula, ketika seseorang berdiam
dengan pikiran yang dikuasai dan ditindas oleh keragu-raguan, dan ia tidak
memahami sebagaimana adanya jalan membebaskan diri dari keragu-raguan yang
telah muncul, maka pada saat itu ia tidak mengetahui dan tidak melihat
sebagaimana adanya kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya.
Maka bahkan himne-himne itu yang telah dilafalkan dalam waktu yang lama tidak
teringat dalam pikiran, apalagi yang tidak pernah dilafalkan.
[Mengapa Himne-Himne Dapat Teringat]
(1) “Brahmana, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang tidak dikuasai
dan tidak ditindas oleh nafsu indriawi, dan ia memahami sebagaimana adanya
jalan membebaskan diri dari nafsu indriawi yang telah muncul, maka pada saat
itu ia mengetahui dan melihat sebagaimana adanya kebaikannya sendiri, kebaikan
orang lain, dan kebaikan keduanya. Maka bahkan himne-himne itu yang tidak pernah dilafalkan dalam waktu
yang lama dapat teringat dalam pikiran, apalagi yang pernah dilafalkan.
Misalkan terdapat semangkuk air yang tidak bercampur dengan pewarna, kunyit, celupan
biru, [234] atau celupan merah tua. Jika seseorang yang berpenglihatan baik
memeriksa pantulan wajahnya sendiri di dalam air itu, ia akan mengetahui dan
melihat sebagaimana adanya. Demikian pula, ketika seseorang berdiam dengan
pikiran yang tidak dikuasai dan tidak ditindas oleh nafsu indriawi … apalagi
yang pernah dilafalkan.
(2) “Kemudian, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang tidak
dikuasai dan tidak ditindas oleh niat buruk, dan ia memahami sebagaimana adanya
jalan membebaskan diri dari niat buruk yang telah muncul, maka pada saat itu ia
mengetahui dan melihat sebagaimana adanya kebaikannya sendiri, kebaikan orang
lain, dan kebaikan keduanya. Maka bahkan himne-himne itu yang tidak pernah dilafalkan dalam waktu
yang lama dapat teringat dalam pikiran, apalagi yang pernah dilafalkan.
Misalkan terdapat semangkuk air yang tidak dipanaskan di atas api, tidak
bergolak dan tidak mendidih. Jika seseorang yang berpenglihatan baik memeriksa
pantulan wajahnya sendiri di dalam air itu, ia akan mengetahui dan melihat
sebagaimana adanya. Demikian pula, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang
tidak dikuasai dan tidak ditindas oleh niat buruk … apalagi yang pernah
dilafalkan.
(3) “Kemudian, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang tidak
dikuasai dan tidak ditindas oleh ketumpulan dan kantuk, dan ia memahami
sebagaimana adanya jalan membebaskan diri dari ketumpulan dan kantuk yang telah
muncul, maka pada saat itu ia mengetahui dan melihat sebagaimana adanya
kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya. Maka bahkan himne-himne itu yang tidak pernah
dilafalkan dalam waktu yang lama dapat teringat dalam pikiran, [235] apalagi
yang pernah dilafalkan. Misalkan terdapat semangkuk air yang tidak tertutup
oleh ganggang dan tanaman air. Jika seseorang yang berpenglihatan baik
memeriksa pantulan wajahnya sendiri di dalam air itu, ia akan mengetahui dan
melihat sebagaimana adanya. Demikian pula, ketika seseorang berdiam dengan
pikiran yang tidak dikuasai dan tidak ditindas oleh ketumpulan dan kantuk …
apalagi yang pernah dilafalkan.
(4) “Kemudian, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang tidak
dikuasai dan tidak ditindas oleh kegelisahan dan penyesalan, dan ia memahami
sebagaimana adanya jalan membebaskan diri dari kegelisahan dan penyesalan yang
telah muncul, maka pada saat itu ia mengetahui dan melihat sebagaimana adanya kebaikannya
sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya. Maka bahkan himne-himne itu yang tidak pernah
dilafalkan dalam waktu yang lama dapat teringat dalam pikiran, apalagi yang
pernah dilafalkan. Misalkan terdapat semangkuk air yang tidak bergolak oleh
angin, tidak beriak, tidak berpusar, tidak teraduk menjadi gelombang-gelombang.
Jika seseorang yang berpenglihatan baik memeriksa pantulan wajahnya sendiri di
dalam air itu, ia akan mengetahui dan melihat sebagaimana adanya. Demikian
pula, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang tidak dikuasai dan tidak
ditindas oleh kegelisahan dan penyesalan … apalagi yang pernah dilafalkan.
(5) “Kemudian, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang tidak
dikuasai dan tidak ditindas oleh keragu-raguan, dan ia memahami sebagaimana
adanya jalan membebaskan diri dari keragu-raguan yang telah muncul, [236] maka
pada saat itu ia mengetahui dan melihat sebagaimana adanya kebaikannya sendiri,
kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya. Maka bahkan himne-himne itu yang tidak pernah
dilafalkan dalam waktu yang lama dapat teringat dalam pikiran, apalagi yang
pernah dilafalkan. Misalkan terdapat semangkuk air yang bersih, tenang, dan
jernih, dan diletakkan di tempat terang. Jika seseorang yang berpenglihatan
baik memeriksa pantulan wajahnya sendiri di dalam air itu, ia akan mengetahui
dan melihat sebagaimana adanya. Demikian pula, ketika seseorang berdiam dengan
pikiran yang tidak dikuasai dan tidak ditindas oleh keragu-raguan, dan ia
memahami sebagaimana adanya jalan membebaskan diri dari keragu-raguan yang
telah muncul, maka pada saat itu ia mengetahui dan melihat sebagaimana adanya
kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya. Maka bahkan
himne-himne itu yang tidak pernah dilafalkan dalam waktu yang lama dapat
teringat dalam pikiran, apalagi yang pernah dilafalkan.
“Ini, brahmana, adalah alasan mengapa kadang-kadang bahkan himne-himne
itu yang telah dilafalkan dalam waktu yang lama tidak teringat dalam pikiran,
apalagi yang tidak pernah dilafalkan. Ini adalah alasan mengapa kadang-kadang
bahkan himne-himne itu yang tidak pernah dilafalkan dalam waktu yang lama dapat
teringat dalam pikiran, apalagi yang pernah dilafalkan.”
“Bagus sekali, Guru Gotama! Bagus sekali, Guru Gotama! Guru Gotama telah
menjelaskan Dhamma dalam banyak cara, seolah-olah menegakkan apa yang terbalik,
mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan kepada orang yang
tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang berpenglihatan
baik dapat melihat bentuk-bentuk. Sekarang aku berlindung kepada Guru Gotama,
kepada Dhamma, dan kepada Saṅgha para bhikkhu. Sudilah Guru Gotama menganggapku sebagai
seorang umat awam yang telah berlindung sejak hari ini hingga seumur hidup.”
Berkebalikan dari Buddhisme, agama samawi mengajarkan umatnya agar mem-BUTA-kan
dirinya sendiri. Babi, disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi
“KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai
“halal lifestyle”. Dosa-dosa pun dikorupsi, itulah
tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang begitu pemalas untuk
menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa
mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut
untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik perbuatan-perbuatan buruk
mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit jari” karena Allah
merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih
Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa,
namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang
berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN
DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi
sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun
hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga.
Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur,
adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun
disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.
Terhadap
dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda
keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik
menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan
membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA”
alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat
kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih
dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]