Allah, the KING of PRANK

Hanya Orang Dungu, yang Memakan dan Termakan Iming-Iming PRANK-nya Allah

Question: Dalam kisah-kisah yang tertuang di hadist, telah ternyata banyak muslim yang tidak dimasukkan ke surga oleh Allah. Bukankah Allah sudah memberi janji, muslim akan diampuni dosa-dosanya, sekalipun dosanya sebesar isi bumi, sehingga terjamin masuk surga?

Brief Answer: Ada dua kemungkinan untuk menjawabnya. Pertama, iming-iming Allah kepada para muslim, bersifat “PRANK”. Kemungkinan kedua, ajaran islam itu sendiri yang “PRANK” adanya. Bila memang ada / eksis iming-iming KORUP yang “too good to be true” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”, maka jawablah pertanyaan berikut:

- apakah trauma yang diderita oleh korban, menjadi pulih?

- apakah luka fisik maupun batin yang diderita korban, menjadi pulih?

- apakah piutang tidak tertagih, menjadi terlunasi dengan sendirinya?

- apakah tanah / properti milik korban, kembali ke tangan korban?

- apakah korban yang tewas, kembali hidup?

- apakah “nasi yang telah menjadi bubur”, kembali menjadi nasi?

- apakah kotoran yang menodai kain putih, menjadi putih seperti sedia kala?

PEMBAHASAN:

Dengan memakan dan termakan ideologi KORUP semacam “abolition of sins” demikian, maka sang pendosa bukanlah hanya membuat satu kejahatan, namun menutupnya dengan kejahatan yang lebih besar lagi, yakni menjelma “KORUPTOR DOSA” dimana dosa-dosa pun dikorupsi. Menjelma “KORUPTOR DOSA”, namun diyakini sebagai “kembali ke fitri”. Itulah orang buta, yang tidak bisa membedakan mana yang terpuji dan mana yang tercela. Apa yang menjadi akar penyebab, tumpulnya penglihatan para umat agama samawi?

Jawabannya dapat kita jumpai lewat khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID III”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan:

193 (3) Sagārava

Brahmana Sagārava mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika mereka telah mengakhiri ramah tamah itu, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā:

“Guru Gotama, mengapakah kadang-kadang bahkan himne-himne itu yang telah dilafalkan dalam waktu yang lama tidak teringat dalam pikiran, apalagi yang tidak pernah dilafalkan? Mengapakah kadang-kadang bahkan himne-himne itu yang tidak pernah dilafalkan dalam waktu yang lama dapat teringat dalam pikiran, apalagi yang pernah dilafalkan?”

[Mengapa Himne-Himne Tidak Dapat Teringat]

(1) “Brahmana, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang dikuasai dan ditindas oleh nafsu indriawi, dan ia tidak memahami sebagaimana adanya jalan membebaskan diri dari nafsu indriawi yang telah muncul, maka pada saat itu ia tidak mengetahui dan tidak melihat sebagaimana adanya kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya. Maka bahkan himne-himne itu yang telah dilafalkan dalam waktu yang lama tidak teringat dalam pikiran, apalagi yang tidak pernah dilafalkan. Misalkan terdapat semangkuk air yang bercampur dengan pewarna, kunyit, celupan biru, atau celupan merah tua. Jika seseorang yang berpenglihatan baik [231] memeriksa pantulan wajahnya sendiri di dalam air itu, ia tidak akan mengetahui dan tidak melihat sebagaimana adanya. Demikian pula, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang dikuasai dan ditindas oleh nafsu indriawi … apalagi yang tidak pernah dilafalkan.

[Kitab Komentar menginterpretasikannya sebagai jalan membebaskan diri dari rintangan-rintangan melalui tiga jalan membebaskan diri. Sehubungan dengan rintangan keinginan indria, jalan membebaskan diri dengan penekanan (vikkhambhananissaraa) yang terjadi melalui jhāna pertama yang berdasarkan sifat ketidak-menarikan jasmani, jalan membebaskan diri dalam aspek tertentu (tadaganissaraa) melalui pandangan terang, dan jalan membebaskan diri dengan pelenyapan (samucchedanissaraa) melalui jalan Kearahattaan (secara luas menginterpretasikan kāmacchanda sebagai ketagihan pada segala objek).

(ii) Jalan membebaskan diri dari niat buruk terjadi dengan penekanan melalui jhāna pertama yang berdasarkan pada cinta kasih, dan dengan pelenyapan melalui jalan yang-tidak-kembali.

(iii) Jalan membebaskan diri dari ketumpulan dan kantuk terjadi dengan penekanan melalui persepsi cahaya (visualisasi cahaya terang) dan dengan pelenyapan melalui jalan Kearahattaan.

(iv) Jalan membebaskan diri dari kegelisahan dan penyesalan terjadi dengan penekanan melalui ketenangan —  penyesalan dilenyapkan melalui jalan yang-tidak-kembali dan kegelisahan melalui jalan Kearahattaan.

Dan (v) jalan membebaskan diri dari keragu-raguan terjadi dengan penekanan melalui penetapan fenomena-fenomena (dhammavavatthāna) dan dengan pelenyapan melalui jalan memasuki-arus.

Kitab Komentar tidak mengaplikasikan “jalan membebaskan diri dalam aspek tertentu” pada empat rintangan terakhir, tetap Kitab Komentar mengatakan bahwa ini bisa terjadi karena rintangan-rintangan dapat dihalau dengan refleksi (paisakhānavasena tassa vinodetabbatāya tadaganissaraampi labbhat’eva).

Kitab Komentar menginterpretasikan kalimat “melihat sebagaimana adanya kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya” dari perspektif monastik. Kebaikan diri sendiri (attattha) adalah Kearahattaan, dan kebaikan orang lain (parattha) adalah kesejahteraan umat-umat awam penyokong yang memberikan sokongan materi (karena persembahan demikian menghasilkan jasa).]

(2) “Kemudian, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang dikuasai dan ditindas oleh niat buruk, dan ia tidak memahami sebagaimana adanya jalan membebaskan diri dari niat buruk yang telah muncul, maka pada saat itu ia tidak mengetahui dan tidak melihat sebagaimana adanya kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya. Maka bahkan himne-himne itu yang telah dilafalkan dalam waktu yang lama tidak teringat dalam pikiran, apalagi yang tidak pernah dilafalkan. Misalkan terdapat semangkuk air yang dipanaskan di atas api, bergolak dan mendidih. Jika seseorang yang berpenglihatan baik memeriksa pantulan wajahnya sendiri di dalam air itu, ia tidak akan mengetahui dan tidak melihat sebagaimana adanya. Demikian pula, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang dikuasai dan ditindas oleh niat buruk … apalagi yang tidak pernah dilafalkan.

(3) “Kemudian, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang dikuasai dan ditindas oleh ketumpulan dan kantuk, dan ia tidak memahami sebagaimana adanya jalan membebaskan diri dari ketumpulan dan kantuk yang telah muncul, maka pada saat itu ia tidak mengetahui dan tidak melihat sebagaimana adanya kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya. [232] Maka bahkan himne-himne itu yang telah dilafalkan dalam waktu yang lama tidak teringat dalam pikiran, apalagi yang tidak pernah dilafalkan. Misalkan terdapat semangkuk air yang tertutup oleh ganggang dan tanaman air. Jika seseorang yang berpenglihatan baik memeriksa pantulan wajahnya sendiri di dalam air itu, ia tidak akan mengetahui dan tidak melihat sebagaimana adanya. Demikian pula, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang dikuasai dan ditindas oleh ketumpulan dan kantuk … apalagi yang tidak pernah dilafalkan.

(4) “Kemudian, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang dikuasai dan ditindas oleh kegelisahan dan penyesalan, dan ia tidak memahami sebagaimana adanya jalan membebaskan diri dari kegelisahan dan penyesalan yang telah muncul, maka pada saat itu ia tidak mengetahui dan tidak melihat sebagaimana adanya kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya. Maka bahkan himne-himne itu yang telah dilafalkan dalam waktu yang lama tidak teringat dalam pikiran, apalagi yang tidak pernah dilafalkan. Misalkan terdapat semangkuk air yang bergolak oleh angin, beriak, berpusar, teraduk menjadi gelombang-gelombang. Jika seseorang yang berpenglihatan baik memeriksa pantulan wajahnya sendiri di dalam air itu, ia tidak akan mengetahui dan tidak melihat sebagaimana adanya. Demikian pula, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang dikuasai dan ditindas oleh kegelisahan dan penyesalan … [233] … apalagi yang tidak pernah dilafalkan.

(5) “Kemudian, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang dikuasai dan ditindas oleh keragu-raguan, dan ia tidak memahami sebagaimana adanya jalan membebaskan diri dari keragu-raguan yang telah muncul, maka pada saat itu ia tidak mengetahui dan tidak melihat sebagaimana adanya kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya. Maka bahkan himne-himne itu yang telah dilafalkan dalam waktu yang lama tidak teringat dalam pikiran, apalagi yang tidak pernah dilafalkan. Misalkan terdapat semangkuk air yang kotor, keruh, dan berlumpur, dan diletakkan di tempat gelap. Jika seseorang yang berpenglihatan baik memeriksa pantulan wajahnya sendiri di dalam air itu, ia tidak akan mengetahui dan tidak melihat sebagaimana adanya. Demikian pula, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang dikuasai dan ditindas oleh keragu-raguan, dan ia tidak memahami sebagaimana adanya jalan membebaskan diri dari keragu-raguan yang telah muncul, maka pada saat itu ia tidak mengetahui dan tidak melihat sebagaimana adanya kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya. Maka bahkan himne-himne itu yang telah dilafalkan dalam waktu yang lama tidak teringat dalam pikiran, apalagi yang tidak pernah dilafalkan.

[Mengapa Himne-Himne Dapat Teringat]

(1) “Brahmana, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang tidak dikuasai dan tidak ditindas oleh nafsu indriawi, dan ia memahami sebagaimana adanya jalan membebaskan diri dari nafsu indriawi yang telah muncul, maka pada saat itu ia mengetahui dan melihat sebagaimana adanya kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya. Maka bahkan himne-himne itu yang tidak pernah dilafalkan dalam waktu yang lama dapat teringat dalam pikiran, apalagi yang pernah dilafalkan. Misalkan terdapat semangkuk air yang tidak bercampur dengan pewarna, kunyit, celupan biru, [234] atau celupan merah tua. Jika seseorang yang berpenglihatan baik memeriksa pantulan wajahnya sendiri di dalam air itu, ia akan mengetahui dan melihat sebagaimana adanya. Demikian pula, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang tidak dikuasai dan tidak ditindas oleh nafsu indriawi … apalagi yang pernah dilafalkan.

(2) “Kemudian, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang tidak dikuasai dan tidak ditindas oleh niat buruk, dan ia memahami sebagaimana adanya jalan membebaskan diri dari niat buruk yang telah muncul, maka pada saat itu ia mengetahui dan melihat sebagaimana adanya kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya. Maka bahkan himne-himne itu yang tidak pernah dilafalkan dalam waktu yang lama dapat teringat dalam pikiran, apalagi yang pernah dilafalkan. Misalkan terdapat semangkuk air yang tidak dipanaskan di atas api, tidak bergolak dan tidak mendidih. Jika seseorang yang berpenglihatan baik memeriksa pantulan wajahnya sendiri di dalam air itu, ia akan mengetahui dan melihat sebagaimana adanya. Demikian pula, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang tidak dikuasai dan tidak ditindas oleh niat buruk … apalagi yang pernah dilafalkan.

(3) “Kemudian, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang tidak dikuasai dan tidak ditindas oleh ketumpulan dan kantuk, dan ia memahami sebagaimana adanya jalan membebaskan diri dari ketumpulan dan kantuk yang telah muncul, maka pada saat itu ia mengetahui dan melihat sebagaimana adanya kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya. Maka bahkan himne-himne itu yang tidak pernah dilafalkan dalam waktu yang lama dapat teringat dalam pikiran, [235] apalagi yang pernah dilafalkan. Misalkan terdapat semangkuk air yang tidak tertutup oleh ganggang dan tanaman air. Jika seseorang yang berpenglihatan baik memeriksa pantulan wajahnya sendiri di dalam air itu, ia akan mengetahui dan melihat sebagaimana adanya. Demikian pula, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang tidak dikuasai dan tidak ditindas oleh ketumpulan dan kantuk … apalagi yang pernah dilafalkan.

(4) “Kemudian, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang tidak dikuasai dan tidak ditindas oleh kegelisahan dan penyesalan, dan ia memahami sebagaimana adanya jalan membebaskan diri dari kegelisahan dan penyesalan yang telah muncul, maka pada saat itu ia mengetahui dan melihat sebagaimana adanya kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya. Maka bahkan himne-himne itu yang tidak pernah dilafalkan dalam waktu yang lama dapat teringat dalam pikiran, apalagi yang pernah dilafalkan. Misalkan terdapat semangkuk air yang tidak bergolak oleh angin, tidak beriak, tidak berpusar, tidak teraduk menjadi gelombang-gelombang. Jika seseorang yang berpenglihatan baik memeriksa pantulan wajahnya sendiri di dalam air itu, ia akan mengetahui dan melihat sebagaimana adanya. Demikian pula, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang tidak dikuasai dan tidak ditindas oleh kegelisahan dan penyesalan … apalagi yang pernah dilafalkan.

(5) “Kemudian, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang tidak dikuasai dan tidak ditindas oleh keragu-raguan, dan ia memahami sebagaimana adanya jalan membebaskan diri dari keragu-raguan yang telah muncul, [236] maka pada saat itu ia mengetahui dan melihat sebagaimana adanya kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya. Maka bahkan himne-himne itu yang tidak pernah dilafalkan dalam waktu yang lama dapat teringat dalam pikiran, apalagi yang pernah dilafalkan. Misalkan terdapat semangkuk air yang bersih, tenang, dan jernih, dan diletakkan di tempat terang. Jika seseorang yang berpenglihatan baik memeriksa pantulan wajahnya sendiri di dalam air itu, ia akan mengetahui dan melihat sebagaimana adanya. Demikian pula, ketika seseorang berdiam dengan pikiran yang tidak dikuasai dan tidak ditindas oleh keragu-raguan, dan ia memahami sebagaimana adanya jalan membebaskan diri dari keragu-raguan yang telah muncul, maka pada saat itu ia mengetahui dan melihat sebagaimana adanya kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya. Maka bahkan himne-himne itu yang tidak pernah dilafalkan dalam waktu yang lama dapat teringat dalam pikiran, apalagi yang pernah dilafalkan.

“Ini, brahmana, adalah alasan mengapa kadang-kadang bahkan himne-himne itu yang telah dilafalkan dalam waktu yang lama tidak teringat dalam pikiran, apalagi yang tidak pernah dilafalkan. Ini adalah alasan mengapa kadang-kadang bahkan himne-himne itu yang tidak pernah dilafalkan dalam waktu yang lama dapat teringat dalam pikiran, apalagi yang pernah dilafalkan.”

“Bagus sekali, Guru Gotama! Bagus sekali, Guru Gotama! Guru Gotama telah menjelaskan Dhamma dalam banyak cara, seolah-olah menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang berpenglihatan baik dapat melihat bentuk-bentuk. Sekarang aku berlindung kepada Guru Gotama, kepada Dhamma, dan kepada Sagha para bhikkhu. Sudilah Guru Gotama menganggapku sebagai seorang umat awam yang telah berlindung sejak hari ini hingga seumur hidup.”

Berkebalikan dari Buddhisme, agama samawi mengajarkan umatnya agar mem-BUTA-kan dirinya sendiri. Babi, disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”. Dosa-dosa pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.

Terhadap dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA” alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]