2 Pertanyaan yang Paling Menakutkan Umat Agama Samawi

Sang Buddha bahkan Mengajarkan Umat Buddhist untuk Terampil dalam Menguji Watak Asli Allah : Ada Kemarahan, Permusuhan, dan Kebencian ataukah Tiada Kemarahan maupun Kebencian Laten dalam Diri Allah?

Muslim dan Kristen Patuh pada Allah, Bukan karena Cinta ataupun Respek, namun Takut pada Amarah, Kebencian, dan Ancaman Allah

Muslim dan Kristen Menyukai Allah, Bukan karena Ketiadaan Kebencian dalam Diri Allah, namun karena Allah Mengobral Dogma “PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”, bagi “KORUPTOR DOSA” dimana Dosa-Dosa pun Turut Dikorupsi

Allah Sendiri yang Merusak dan Mencoreng Reputasinya, Bukan Kafir. Sang Buddha telah Membongkar Wajah Asli Allah : MAHA PEMBUAL

Question: Bagaimana cara paling simpel dan sederhana, menghadapi marketing-marketing agama samawi. Mereka itu pemaksa, tapi ketika diajak berdebat maka ucapan mereka selalu tidak nyambung. Apakah ada kalimat ringkas, yang bisa membuat mereka menutup mulut-besarnya, merasa malu sendiri, pergi, dan tidak lagi mengganggu?

Brief Answer: Terdapat dua kalimat yang amat sangat mudah untuk diingat, dimana telah ternyata efektif membuat umat agama samawi menjadi “kebakaran jenggot”, yakni : “Mengapa kamu bersikap seolah-olah kamu pernah minta dilahirkan ke dunia ini oleh Allah? ... Mengapa kamu seolah mau berkata, bahwa saya pernah minta diciptakan ke dunia ini oleh Allah?” Bila marketing dari agama samawi tetap melontarkan jawaban yang tidak logis dan “tidak nyambung” dengan kedua pertanyaan di atas, maka gunakan “teknik kaset rusak”, yakni ulangi kembali dua kalimat berisi pertanyaan di atas, apapun jawaban atau respon mereka, dan kembali ulangi, ulangi, ulangi, bagaikan “kaset yang sedang rusak”.

Sedungu apapun mereka karena tidak mampu menjawab satupun pertanyaan di atas namun tetap ngotot (keras-kepala), cepat atau lambat mereka akan bosan sendiri melakukan pendekatan terhadap Anda, karena mereka sadar Anda sudah punya imunitas dan akal-sehat (common sense) Anda telah teruji tidak dapat dimanipulasi oleh dogma-dogma mereka yang hanya efektif untuk orang-orang sedungu kaum mereka. Mereka akan pergi meninggalkan Anda dengan rasa bangga, namun sebagai pecundang yang bahkan tidak berani menjawab langsung dua pertanyaan terbuka yang paling sederhana.

Sering-seringlah berlatih melafalkan mantra berikut agar “imunitas iman” Anda semakin kokoh serta sebagai antisipasi, “Mengapa kamu bersikap seolah-olah kamu pernah minta dilahirkan ke dunia ini oleh Allah? ... Mengapa kamu seolah mau berkata, bahwa saya pernah minta diciptakan ke dunia ini oleh Allah?” Pada saat itulah, Anda akan menyadari, betapa inferior dan dangkalnya kapasitas intelektual umat agama samawi di hadapan umat Buddhist.

PEMBAHASAN:

Kiat berlatih mengokohkan pikiran dan mental, serta cara kita menguji watak asli Allah, dapat kita simak Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya), Judul Asli : The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

21 Kakacūpama Sutta: Perumpamaan Gergaji

1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

2. Pada saat itu Yang Mulia Moliya Phagguna bergaul terlalu akrab dengan para bhikkhunī. Ia begitu akrab dengan para bhikkhunī sehingga jika ada bhikkhu yang mencela para bhikkhunī itu di hadapannya, maka ia akan menjadi marah dan tidak senang dan akan mempermasalahkannya; dan jika ada bhikkhu yang mencela Yang Mulia Moliya Phagguna di hadapan para bhikkhunī itu, maka mereka akan menjadi marah dan tidak senang dan akan mempermasalahkannya. Demikianlah pergaulan akrab Yang Mulia Moliya Phagguna dengan para bhikkhunī.

[Kitab Komentar : Pada Sayutta Nikāya 12:12/ii.13 Moliya Phagguna mengajukan serangkaian pertanyaan kepada Sang Buddha, yang mana Sang Buddha menolaknya karena disusun secara keliru. Belakangan dilaporkan bahwa ia kembali ke kehidupan rumah tangga (Sayutta Nikāya 12:32/ii.50).]

3. Kemudian seorang bhikkhu mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan memberitahu Sang Bhagavā tentang apa yang sedang terjadi.

4. Kemudian Sang Bhagavā memanggil seorang bhikkhu sebagai berikut: “Ke sinilah, [123] Bhikkhu, beritahu Bhikkhu Moliya Phagguna atas namaKu bahwa Sang Guru memanggilnya.” – “Baik, Yang Mulia,” ia menjawab, dan ia mendatangi Yang Mulia Moliya Phagguna dan memberitahunya: “Sang Guru memanggilmu, Teman Phagguna.” – “Baik, Teman,” ia menjawab, dan ia menghadap Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi. Sang Bhagavā bertanya kepadanya:

5. “Phagguna, benarkah bahwa engkau bergaul terlalu akrab dengan para bhikkhunī, bahwa engkau begitu akrab dengan para bhikkhunī sehingga jika ada bhikkhu yang mencela para bhikkhunī itu di hadapanmu, maka engkau akan menjadi marah dan tidak senang dan akan mempermasalahkannya; dan jika ada bhikkhu yang mencela engkau di hadapan para bhikkhunī itu, maka mereka akan menjadi marah dan tidak senang dan akan mempermasalahkannya? Apakah engkau bergaul terlalu akrab dengan para bhikkhunī seperti yang terlihat?” – “Benar, Yang Mulia.” – “Phagguna, bukankah engkau adalah seorang anggota keluarga yang telah meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah?” – “Benar, Yang Mulia.”

6. “Phagguna, tidaklah selayaknya bagimu, seorang anggota keluarga yang telah meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, bergaul terlalu akrab dengan para bhikkhunī. Oleh karena itu, jika seseorang mencela para bhikkhunī itu di hadapanmu, maka engkau harus meninggalkan segala keinginan dan pikiran yang berlandaskan pada kehidupan rumah tangga. Dan di sini engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Pikiranku tidak akan terpengaruh, dan aku tidak akan mengucapkan kata-kata kasar; aku akan berdiam dengan berbelas kasih demi kesejahteraannya, dengan pikiran cinta kasih, tanpa kebencian dalam pikiran.’ Demikianlah engkau harus berlatih, Phagguna.

“Jika seseorang menyerang para bhikkhunī itu dengan tangan, dengan bongkahan tanah, dengan tongkat, atau dengan pisau di hadapanmu, maka engkau harus meninggalkan segala keinginan dan pikiran yang berlandaskan pada kehidupan rumah tangga. Dan di sini engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Pikiranku tidak akan terpengaruh …’ Jika seseorang mencela di hadapanmu, maka engkau harus meninggalkan segala keinginan dan pikiran yang berlandaskan pada kehidupan rumah tangga. Dan di sini engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Pikiranku tidak akan terpengaruh …’ Jika seseorang menyerangmu dengan tangan, dengan bongkahan tanah, dengan tongkat, atau dengan pisau [124], maka engkau harus meninggalkan segala keinginan dan pikiran yang berlandaskan pada kehidupan rumah tangga. Dan di sini engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Pikiranku tidak akan terpengaruh, dan aku tidak akan mengucapkan kata-kata kasar; aku akan berdiam dengan berbelas kasih demi kesejahteraannya, dengan pikiran cinta kasih, tanpa kebencian dalam pikiran.’ Demikianlah engkau harus berlatih, Phagguna.”

7. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu, pernah terjadi suatu peristiwa di mana para bhikkhu memuaskan pikiranKu. Di sini Aku berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: ‘Para bhikkhu, Aku makan sekali sehari. Dengan melakukan hal itu, Aku terbebas dari penyakit dan penderitaan, dan Aku menikmati kesehatan, kekuatan, dan kediaman yang nyaman. Ayo, para bhikkhu, makanlah sekali sehari. Dengan melakukan hal itu, kalian akan terbebas dari penyakit dan penderitaan, dan kalian akan menikmati kesehatan, kekuatan, dan kediaman yang nyaman.’ Dan Aku tidak perlu terus-menerus memberikan instruksi kepada para bhikkhu itu; Aku hanya perlu membangkitkan perhatian dalam diri mereka. Misalkan ada sebuah kereta di tanah yang datar di persimpangan jalan, ditarik oleh kuda-kuda berdarah murni, menunggu dengan tongkat kendali siap untuk digunakan, sehingga seorang pelatih terampil, seorang kusir dari kuda-kuda yang harus dijinakkan, dapat menaikinya, dan memegang tali kekang dengan tangan kirinya dan tongkat kendali di tangan kanannya, dapat menjalankannya maju dan mundur melalui jalan manapun yang ia sukai. Demikian pula, Aku tidak perlu terus-menerus memberikan instruksi kepada para bhikkhu itu; Aku hanya perlu membangkitkan perhatian dalam diri mereka.

[Kitab Komentar : Sang Buddha mengatakan hal ini karena Phagguna masih tidak ingin menuruti nasihat Beliau, melainkan terus-menerus menentangNya, dan ini mendorong Sang Buddha untuk memuji para bhikkhu penurut selama masa awal pengajaran Beliau. Untuk paragraf tentang makan sekali sehari, baca Majjhima Nikāya 65.2 dan Majjhima Nikāya 70.2.

Sudah banyak kalangan yang membuktikan bahwa makan satu kali sehari adalah mencukupi serta memadai untuk bertahan hidup tanpa rasa lapar untuk aktivitas satu hari, sepanjang asupan makanannya ialah “whole food”, bukan “ultra process food”. Maka tiga kali sehari, adalah konvensi semata, tidak terdapat kajian medis yang mendukungnya, justru hasil penelitian ilmiah terkini membuktikan sebaliknya, “makan sedikit namun sering” justru memicu berbagai penyakit. “Makan sejarang mungkin” (intermitten fasting) agar terhindar dari penyakit, adalah hasil kesimpulan penelitian ilmiah terkini. Fakta tersebut sekaligus membuktikan bahwa apa yang diajarkan oleh Sang Buddha, sifatnya bukanlah “terlampau idealis”, namun “dapat dijalankan” alias “dapat dipraktekkan”.]

8. “Oleh karena itu, para bhikkhu, tinggalkanlah apa yang tidak bermanfaat dan tekunilah kondisi-kondisi yang bermanfaat, karena itu adalah bagaimana kalian akan mengalami kemajuan, peningkatan dan pemenuhan dalam Dhamma dan Disiplin ini. Misalkan terdapat hutan besar pepohonan sāla di dekat sebuah desa atau kota, dan hutan itu terganggu oleh rerumputan jarak, dan seseorang datang menginginkan kebaikan, kesejahteraan, dan perlindungan. Ia akan menebang dan menyingkirkan anak-anak pohon yang bengkok yang merampas getah, dan ia akan membersihkan bagian dalam hutan dan memelihara anak-anak pohon yang lurus dan berbentuk baik, sehingga, hutan pohon sāla itu akan mengalami kemajuan, peningkatan dan pemenuhan. Demikian pula, para bhikkhu, tinggalkanlah apa yang tidak bermanfaat dan tekunilah kondisi-kondisi yang bermanfaat, [125] karena itu adalah bagaimana kalian akan mengalami kemajuan, peningkatan dan pemenuhan dalam Dhamma dan Disiplin ini.

9. “Sebelumnya, para bhikkhu, di Sāvatthī yang sama ini terdapat seorang ibu rumah tangga bernama Vedehikā. Dan berita baik sehubungan dengan Nyonya Vedehikā telah menyebar sebagai berikut: ‘Nyonya Vedehikā adalah orang yang baik, Nyonya Vedehikā adalah orang yang lembut, Nyonya Vedehikā adalah orang yang cinta damai.’ Nyonya Vedehikā memiliki seorang pembantu bernama Kālī, yang cerdas, gesit, dan rapi dalam pekerjaannya. Kālī si pembantu berpikir: ‘berita baik sehubungan dengan majikanku telah menyebar sebagai berikut: “Nyonya Vedehikā adalah orang yang baik, Nyonya Vedehikā adalah orang yang lembut, Nyonya Vedehikā adalah orang yang cinta damai.” Bagaimanakah sekarang, walaupun ia tidak memperlihatkan kemarahan, tetapi apakah saat ini ada kemarahan dalam dirinya atau tidak ada? Atau kalau tidak demikian, apakah karena pekerjaanku rapi maka majikanku tidak memperlihatkan kemarahan walaupun ada kemarahan dalam dirinya? Bagaimana jika aku menguji majikanku.’

“Maka Kālī si pembantu bangun terlambat. Nyonya Vedehikā berkata: ‘Hei, Kālī!’ – ‘Ada apa, Nyonya?’ – ‘Ada apa denganmu sehingga bangun terlambat?’ – ‘Tidak ada apa-apa, Nyonya.’ – ‘Tidak ada apa-apa, engkau perempuan nakal, namun engkau bangun terlambat!’ Dan ia marah dan tidak senang, dan ia merengut. Kemudian Kālī si pembantu berpikir: ‘Kenyataannya adalah walaupun majikanku tidak memperlihatkan kemarahan, namun kemarahan ada dalam dirinya, bukan tidak ada; dan adalah karena pekerjaanku rapi maka majikanku tidak memperlihatkan kemarahan walaupun kemarahan ada dalam dirinya, bukan tidak ada. Bagaimana jika aku menguji majikanku lebih jauh lagi.’

“Maka Kālī si pembantu bangun terlambat di siang hari. Nyonya Vedehikā berkata: ‘Hei, Kālī!’ – ‘Ada apa, Nyonya?’ – ‘Ada apa denganmu sehingga bangun terlambat di siang hari?’ – ‘Tidak ada apa-apa, Nyonya.’ – ‘Tidak ada apa-apa, engkau perempuan nakal, namun engkau bangun terlambat di siang hari!’ Dan ia marah dan tidak senang dan ia mengucapkan kata-kata ketidak-senangan. Kemudian Kālī si pembantu berpikir: ‘Kenyataannya adalah walaupun majikanku tidak memperlihatkan kemarahan, namun kemarahan ada dalam dirinya, bukan tidak ada. Bagaimana jika aku menguji majikanku lebih jauh lagi.’

“Maka Kālī si pembantu bangun lebih terlambat lagi di siang hari. Nyonya Vedehikā [126] berkata: ‘Hei, Kālī!’ – ‘Ada apa, Nyonya?’ – ‘Ada apa denganmu sehingga bangun lebih terlambat lagi di siang hari?’ – ‘Tidak ada apa-apa, Nyonya.’ – ‘Tidak ada apa-apa, engkau perempuan nakal, namun engkau bangun lebih terlambat lagi di siang hari!’ Dan ia marah dan tidak senang, dan ia mengambil penggilingan dan memukulnya di kepalanya, dan melukai kepalanya.

“Kemudian Kālī si pembantu, dengan darah menetes dari kepalanya yang terluka, mengadukan majikannya kepada para tetangga: ‘Lihat, nyonya-nyonya, perbuatan nyonya yang baik! Lihat, nyonya-nyonya, perbuatan nyonya yang lembut! Lihat, nyonya-nyonya, perbuatan nyonya yang cinta damai! Bagaimana mungkin ia menjadi marah dan tidak senang pada pembantu satu-satunya karena bangun terlambat? Bagaimana mungkin ia mengambil penggilingan, memukulnya di kepala, dan melukai kepalanya?Kemudian berita buruk sehubungan dengan Nyonya Vedehikā menyebar sebagai berikut: ‘Nyonya Vedehikā adalah orang yang kasar, Nyonya Vedehikā adalah orang yang kejam, Nyonya Vedehikā adalah orang yang tanpa belas kasih.’

10. “Demikian pula, para bhikkhu, seorang bhikkhu sangat baik, sangat lembut, sangat cinta damai, selama ucapan-ucapan yang tidak menyenangkan tidak menyentuhnya. Tetapi ketika ucapan-ucapan yang tidak menyenangkan menyentuhnya maka dapat diketahui apakah bhikkhu itu sungguh-sungguh baik, lembut, dan cinta damai. Aku tidak mengatakan seorang bhikkhu mudah dinasihati pada ia yang mudah dinasihati dan membuatnya mudah dinasihati hanya demi mendapatkan jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan. Mengapakah? Karena bhikkhu itu tidak mudah dinasihati dan tidak membuat dirinya mudah dinasihati ketika ia tidak memperoleh jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan. Tetapi ketika seorang bhikkhu mudah dinasihati dan membuat dirinya mudah dinasihati karena ia menghormati, menghargai, dan menjunjung tinggi Dhamma, ia Kukatakan mudah dinasihati. Oleh karena itu, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan mudah dinasihati dan membuat diri kami mudah dinasihati karena kami menghormati, menghargai, dan menjunjung tinggi Dhamma.’ Demikianlah kalian harus berlatih, para bhikkhu.

11. “Para bhikkhu, terdapat lima ucapan ini yang digunakan oleh orang lain ketika berbicara dengan kalian: ucapan mereka tepat atau tidak tepat pada waktunya, benar atau tidak benar, halus atau kasar, berhubungan dengan kebaikan atau dengan keburukan, diucapkan dengan pikiran cinta kasih atau kebencian dalam pikiran. Ketika orang lain berbicara dengan kalian, ucapan mereka mungkin tepat atau tidak tepat pada waktunya; ketika orang lain berbicara dengan kalian, ucapan mereka mungkin benar atau tidak benar; ketika orang lain berbicara dengan kalian, ucapan mereka mungkin halus atau kasar; ketika orang lain berbicara dengan kalian, ucapan mereka mungkin berhubungan dengan kebaikan [127] atau dengan keburukan; ketika orang lain berbicara dengan kalian, ucapan mereka mungkin diucapkan dengan pikiran cinta kasih atau kebencian dalam pikiran. Di sini, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Pikiran kami akan tetap tidak terpengaruh, dan kami tidak akan mengucapkan kata-kata jahat; kami akan berdiam dengan penuh belas kasih demi kesejahteraan mereka, dengan pikiran cinta kasih, tanpa kebencian dalam pikiran. Kami akan berdiam dengan melingkupi orang itu dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih; dan dimulai dengan dirinya, kami akan berdiam dengan melingkupi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, yang berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.’ Demikianlah kalian harus berlatih, para bhikkhu.

[Kitab Komentar : Tadārammaa, secara literal, “dengan dirinya sebagai objek.” Pertama-tama seseorang mengembangkan cinta-kasih kepada orang yang mengucapkan salah satu dari kelima jenis ucapan, kemudian ia mengarahkan pikiran cinta kasih itu kepada semua makhluk, menjadikan seluruh dunia sebagai objeknya. Dalam teks Buddhisme, teknik berlatih demikian disebut sebagai “meditasi cinta-kasih” (metta).]

12. “Para bhikkhu, misalkan seseorang datang dengan membawa cangkul dan keranjang dan berkata: ‘Aku akan mengosongkan bumi ini dari tanah.’ Ia akan menggali di sana-sini, menebarkan tanah di sana-sini, meludah di sana-sini, buang air di sana-sini, sambil berkata: ‘jadilah tanpa tanah, jadilah tanpa tanah!’ Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu? Dapatkah orang itu mengosongkan bumi ini dari tanah?” – “Tidak, Yang Mulia. Mengapakah? Karena bumi ini sungguh dalam dan besar; tidak mungkin dapat dikosongkan dari tanah. Akhirnya orang itu hanya akan memperoleh kelelahan dan kekecewaan.”

13. “Demikian pula, para bhikkhu, terdapat lima ucapan ini … (seperti pada §11) … Di sini, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Pikiran kami akan tetap tidak terpengaruh … dan dimulai dengan dirinya, kami akan berdiam dengan melingkupi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, yang berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.’ Demikianlah kalian harus berlatih, para bhikkhu.

14. “Para bhikkhu, misalkan seseorang datang dengan membawa pewarna merah, jingga, nila, atau merah tua dan berkata: ‘Aku akan melukis gambar yang muncul dari ruang kosong.’ Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu, dapatkah orang itu melukis gambar yang muncul dari ruang kosong?” – “Tidak, Yang Mulia. Mengapakah? Karena ruang kosong adalah tanpa bentuk dan tidak terlihat; tidaklah mudah untuk melukis gambar di sana atau memunculkan gambar di sana. [128] Akhirnya orang itu hanya akan memperoleh kelelahan dan kekecewaan.”

15. “Demikian pula, para bhikkhu, terdapat lima ucapan ini … Di sini, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Pikiran kami akan tetap tidak terpengaruh … dan dimulai dengan dirinya, kami akan berdiam dengan melingkupi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, yang berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.’ Demikianlah kalian harus berlatih, para bhikkhu.

16. “Para bhikkhu, misalkan seseorang datang dengan membawa obor dari rumput yang menyala dan berkata: ‘Aku akan memanaskan dan membakar sungai Gangga dengan obor rumput menyala ini.’ Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu, dapatkah orang itu memanaskan dan membakar sungai Gangga dengan obor rumput menyala itu?” – “Tidak, Yang Mulia. Mengapakah? Karena sungai Gangga dalam dan sangat besar; tidaklah mudah untuk memanaskannya atau membakarnya dengan obor rumput menyala. Akhirnya orang itu hanya akan memperoleh kelelahan dan kekecewaan.”

17. “Demikian pula, para bhikkhu, terdapat lima ucapan ini … Di sini, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Pikiran kami akan tetap tidak terpengaruh … dan dimulai dengan dirinya, kami akan berdiam dengan melingkupi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, yang berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.’ Demikianlah kalian harus berlatih, para bhikkhu.

18. “Para bhikkhu, misalkan terdapat sebuah tas kulit kucing yang telah digosok, digosok dengan baik, digosok dengan sangat baik, lembut, halus, bebas dari bunyi gesekan, bebas dari bunyi gemerisik, dan seseorang datang dengan membawa tongkat atau pecahan tembikar dan berkata: ‘Terdapat tas kulit kucing ini yang telah digosok … bebas dari bunyi gesekan, bebas dari bunyi gemerisik. Aku akan membuatnya berbunyi gesekan dan bergemerisik.’ Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu? Dapatkah orang itu membuatnya berbunyi gesekan dan bergemerisik dengan menggunakan tongkat atau pecahan tembikar?” – “Tidak, Yang Mulia. Mengapakah? Karena tas kulit kucing ini yang telah digosok … bebas dari bunyi gesekan, bebas dari bunyi gemerisik, tidaklah mudah membuatnya berbunyi gesekan atau berbunyi gemerisik dengan menggunakan tongkat atau pecahan tembikar. Akhirnya orang itu hanya akan memperoleh kelelahan dan kekecewaan.”

19. “Demikian pula, para bhikkhu, terdapat lima ucapan ini yang digunakan oleh orang lain ketika berbicara dengan kalian: ucapan mereka tepat [129] atau tidak tepat pada waktunya, benar atau tidak benar, halus atau kasar, berhubungan dengan kebaikan atau dengan keburukan, diucapkan dengan pikiran cinta kasih atau kebencian dalam pikiran. Ketika orang lain berbicara dengan kalian, ucapan mereka mungkin tepat atau tidak tepat pada waktunya; ketika orang lain berbicara dengan kalian, ucapan mereka mungkin benar atau tidak benar; ketika orang lain berbicara dengan kalian, ucapan mereka mungkin halus atau kasar; ketika orang lain berbicara dengan kalian, ucapan mereka mungkin berhubungan dengan kebaikan atau dengan keburukan; ketika orang lain berbicara dengan kalian, ucapan mereka mungkin diucapkan dengan pikiran cinta kasih atau kebencian dalam pikiran. Di sini, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Pikiran kami akan tetap tidak terpengaruh, dan kami tidak akan mengucapkan kata-kata jahat; kami akan berdiam dengan penuh belas kasih demi kesejahteraan mereka, dengan pikiran cinta kasih, tanpa kebencian dalam pikiran. Kami akan berdiam dengan melingkupi orang itu dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih; dan dimulai dengan dirinya, kami akan berdiam dengan melingkupi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, yang berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.’ Demikianlah kalian harus berlatih, para bhikkhu.

20. “Para bhikkhu, bahkan jika para penjahat memotong kalian dengan kejam bagian demi bagian tubuh dengan gergaji bergagang ganda, ia yang memendam pikiran benci terhadap mereka berarti tidak melaksanakan ajaranKu. Di sini, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Pikiran kami akan tetap tidak terpengaruh, dan kami tidak akan mengucapkan kata-kata jahat; kami akan berdiam dengan penuh belas kasih demi kesejahteraan mereka, dengan pikiran cinta kasih, tanpa kebencian dalam pikiran. Kami akan berdiam dengan melingkupi mereka dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih; dan dimulai dengan diri mereka, kami akan berdiam dengan melingkupi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, yang berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.’ Demikianlah kalian harus berlatih.

21. “Para bhikkhu, jika kalian terus-menerus mengingat nasihat tentang perumpamaan gergaji ini, apakah kalian melihat ada ucapan, halus atau kasar, yang tidak dapat kalian terima?” –

“Tidak, Yang Mulia.” – “Oleh karena itu, para bhikkhu, kalian harus terus-menerus mengingat nasihat tentang perumpamaan gergaji ini. Hal ini akan menuntun menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kalian untuk waktu yang lama.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.

Allah adalah “Maha PEMBUAL”, ketika mengiming-imingi akan menghapus dosa-dosa muslim, sekalipun dosanya sebesar Bumi, sedalam Samudera, dan setinggi Langit. Ingat kembali pernyataan Sang Buddha berupa kutipan berikut: Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu? Dapatkah orang itu mengosongkan bumi ini dari tanah? ... Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu, dapatkah orang itu melukis gambar yang muncul dari ruang kosong? ... Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu, dapatkah orang itu memanaskan dan membakar sungai Gangga dengan obor rumput menyala itu?Lalu, bandingkan dengan obral-janji Allah berikut—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Kini, tengoklah ajaran maupun kelakuan (teladan) “nabi rasul Allah”, dan bandingkan dengan ajaran Sang Buddha, begitu kontras, yang satu mengorbankan pihak lain dan bersenang-senang di atasnya, sementara yang seberangnya ialah melatih kesabaran ketika disakiti—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]