Adalah Paradoks Kehidupan, Kebahagiaan Dimulai dari Keberanian Kita untuk Mengakui bahwa Hidup adalah Dukkha, Mengecewakan dan Tidak Memuaskan

Menjelma menjadi KORUPTOR DOSA adalah Nikmat? Korupsi Dosa Dipandang sebagai “Nikmat” dan “Untung”, Orang BUTA—Mereka TERCELA, Bukan TERPUJI

Question: Bila ada pihak-pihak eksternal maupun internal komunitas Buddhistik yang meng-kritik, bahwa mengapa Agama Buddha justru memiliki slogan “hidup adalah duka”, mengapa tidak seperti agama samawi dengan jargonnya “hidup adalah nikmat” sehingga banyak peminatnya? Dogma ajaran agama samawi selalu mengiming-imingi alam surgawi sebagai tujuan akhir para umat pemeluknya, yang anehnya justru digambarkan penuh kenikmatan-duniawi alih-alih kesenangan non-duniawi ataupun kegembiraan meditatif.

Brief Answer: Ketika seseorang mengingkari kenyataan, namun kemudian mendapati dirinya diliputi kesedihan, kekecewaan, kecemasan, ketidak-puasan, ambisi dan obsesi yang tidak pernah berkurang, ketakutan karena kehilangan, kemarahan akibat ketidak-sukaan, hingga perasaan terluka dan terpukul, trauma yang tetap menghantui, maupun mulai menyadari bahwa hidup tidaklah adil adanya, maka ia merasa ada yang tidak “beres” dengan hidupnya, dan mulai menyalahkan dirinya sendiri ataupun menyalahkan “takdir” atas nasibnya yang “menderita seorang diri”.

Fakta realitanya, seperti kata orang-orang bijaksana, “Truth always BITTER”. Bukan hanya Anda seorang yang merasakan perasaan-perasaan menekan dan memilukan hati, bahkan membuat air mata Anda menetes, semua orang sedang berkutat merasakannya dan bergulat mengatasinya. Ketika seseorang menipu dirinya sendiri, bahwa “hidup adalah NIKMAT”, maka yang terjadi kemudian ialah kekecewaan dan kemarahan yang lebih akut terhadap diri dan hidupnya, memuncak, dan mulai memicu rasa cenburu serta iri melihat “kebahagiaan” orang lain, sebelum kemudian timbul keinginan untuk merampas “kebahagiaan” itu dari orang lain.

Ia merasa telah diperlakukan tidak adil oleh kehidupan, karenanya merasa berhak untuk “main hakim sendiri” dengan merampas kebahagiaan maupun senyuman dari wajah-wajah orang yang terlihat “bahagia”. Sebaliknya, ketika seseorang mulai mampu menyadari dan menerima kenyataan, bahwa dirinya “tidak terkecuali” dan “tidak seorang diri” merasakan “dukkha”, seperti kehilangan atas apa yang dicintai dan berkumpul dengan yang tidak disenangi, maka “beban berat” yang selama ini membebani pikiran dan jiwanya seketika terangkat dan terlepas. Kebijaksanaan pun lahir dan mulai menyinari, bahwa kita patut berwelas-asih kepada setiap makhluk hidup, karena mereka pun ingin bahagia dan merasakan “dukkha”. Kita tidak lagi menjadi pribadi yang egois maupun naif.

Bagaimana mungkin, bersekutu dengan penjelmaan yang sifatnya masih berkondisi, diharapkan mampu terbebas dari “dukkha”, sekalipun itu “alam surgawi”, sementara itu segala yang berkondisi sifatnya ialah “tidak kekal, selalu berubah, dan tanpa ‘milik aku’”? Bila di dunia manusia saja, terbukti penuh derita dan ketidak-adilan, atas dasar delusi apakah mereka berharap dan berasumsi bahwa tiada derita bagi para makhluk dewata dan alam surgawi adalah “akhir dari segalanya”?

PEMBAHASAN:

Bagi mereka yang masih berkutat pada penolakan atas realita bahwa “hidup adalah dukkha”, kisah berikut dapat menjadi inspirasi yang mencerahkan, karena “kedekatannya” yang lazim dalam pengalaman hidup setiap individu. Evy Poumpouras, seorang jurnalis, penyandang gelar Master untuk ilmu psikologi-forensik, dan mantan agen rahasia USA yang banyak berhadapan dengan beragam sifat manusia, mengutarkan dalam suatu acara berjudul “How to Succeed Without Confidence, Motivation, or Healing”, dengan kutipan sebagai berikut:

I began my career as a former special agent with the United States Secret Service and the U.S. Secret Service.

There's a dual mission at agency. You do protection, which means you protect, the president, former presidents, foreign heads of state, and you also work criminal investigations, serious crimes across the board. And I did interviews and interrogations after I left the US Secret Service, I had a more public persona.

I wrote my book, Becoming Bulletproof, and then I began working on air. Today I work for NBC news and I cover crime and national security. What was interesting is people began writing into me, and they started writing into me with questions, wanting guidance every.

I want to ask my boss for a raise, but I don't know how to do it. I'm afraid every. I'd like to change career paths, but I don't know how to do it, I'm afraid. And the questions vary. They were all over the place and I began doing mentor sessions.

I thought, you know, I really can't answer a person's question in a text or in a note or even in an email. So I started doing a few mentor sessions, guiding people. Then a few became a few dozen, then a few dozen became a few hundred. And over the years, I did hundreds of mentor sessions with people, and I found a pattern.

I found a pattern that they were all at the core,  struggling with common issues, that there were these inhibitors, these patterns in their way of thinking and behavior that caused them to be stuck, that caused them not to know how to move forward. And I want to share these with you today.

First inhibitor, you're not that special. Here's the thing. We may like to think of ourselves as special. Okay, so if I'm special, then that means you're not special. Well, or if you're all special, then nobody is special.

The other thing is, when you think of yourself as being special, it kind of means that you're separate from everyone else. You are unique.

You know, it's interesting. I'm a criminal justice professor, and obviously my background is criminology. We found that people who commit crime, chronic crime, those people that commit crime over and over and over again, they think they're special because the laws and the rules don't apply to them. The laws and the rules are for everybody else.

I'm special. What else is really interesting is that those who think of themselves as special become extremely self-focused. I am so focused on myself and me that I make my problems special. My pain is special and my suffering is special.

Nobody knows how I feel because I am so special that I hurt so differently. And when you feel like that, there are higher rates of depression and you have higher rates of anxiety because I am so unique.

But what I found is when you think that you are that special, you feel alone in the world. You can't get through it. Nobody understands you.

You're not that special. And do you know what that means? You're not alone in the world.

When I was a special agent, uh, I was exposed to the events of September 11th, 2001. I worked out of the United States field office in New York City, and I went to work that day at the World Trade Center.

So I was there from when the first plane hit to the second to the collapse of the first tower and the second tower.

Now, what was interesting, there was a moment when that was all happening, that exposure to see all those people suffer and all those people that I couldn’t help or save.

And what got me through that really tragic event is I understood I wasn't that special in my pain, that other people had been exposed to what I had been exposed to, and that if they could get through it, I could get through it.

I knew that I wasn't alone in the world.

Now, this is the number one thing I get asked about when people come to me. Evie, I need confidence. I’m not confident.

How do you manifest confidence?

I'm going to tell you something. Confidence is overrated. Overrated.

Here's a secret. You don't need it. You don’t need it.

Think of it this way. I want to do something. Typically, people want confidence so that they can do something.

So here’s the thing I want to do.

Here is me. I want to go from here to here.

Ideally I would go this way. Here's my achievement. Boom. I'm done.

But do you know what we do? We say, ah, wait, I need confidence to do this. So instead of going this way, I'm going to break my path and I'm going to go on this wild journey to find confidence. Where's this confidence?

Confidence I need you. Where are you? Where are you?

And then once I get it, then I can come back. You have done this.

Such a windy road and gone all over the place that you either forget to go back, you get distracted, or you lose faith. And we never achieve what we want to achieve.

And with that one other thing you don't need is motivation.

Motivation equals mediocrity.

Often people think I need to be motivated to do something.

I need motivation to go work out. I need motivation to study so I can go to school I need motivation to do these things.

I will tell you something. If you wait to be motivated in life to do something, you will do the bare minimum.

dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

SUTTA 30

asāropama Sutta:

Khotbah Pendek tentang Perumpamaan Inti Kayu

[198] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

2. Kemudian Brahmana Pingalakoccha mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā:

“Guru Gotama, ada para petapa dan brahmana, masing-masing adalah pemimpin suatu aliran, pemimpin kelompok, guru kelompok, pendiri yang terkenal dan termasyhur dari suatu sekte yang dianggap oleh banyak orang sebagai orang suci – seperti, Pūraa Kassapa, Makkhali Gosāla, Ajita Kesakambalin, Pakudha Kaccāyana, Sañjaya Belaṭṭhiputta, dan Nigaṇṭha Nātaputta. Apakah mereka semuanya telah memiliki pengetahuan langsung seperti pengakuan mereka, atau tidak seorangpun di antara mereka yang memiliki pengetahuan langsung, atau apakah sebagian dari mereka memiliki pengetahuan langsung dan sebagian tidak memiliki?”

[Kitab Komentar : Keenam guru tersebut, yang sezaman dengan Sang Buddha, semuanya berada di luar Brahmanisme Ortodoks, dan doktrin-doktrin mereka menunjukkan keberanian spekulatif pada masa Sang Buddha. Enam orang ini sering disebutkan secara bersama dalam Kanon. Ajaran-ajaran mereka, seperti dipahami dalam komunitas Buddhis, terdapat dalam Dīgha Nikāya 2.17-32 / ii.52-59.

“Cukup, Brahmana! Biarlah demikian! – ‘Apakah mereka semuanya telah memiliki pengetahuan langsung seperti pengakuan mereka, atau tidak seorangpun di antara mereka yang memiliki pengetahuan langsung, atau apakah sebagian dari mereka memiliki pengetahuan langsung dan sebagian tidak memiliki?’ Aku akan mengajarkan Dhamma kepadamu, Brahmana. Dengarkan dan perhatikanlah pada apa yang akan Kukatakan.”

[Kitab Komentar : Pertanyaan yang persis sama dengan yang diajukan kepada Sang Buddha menjelang Parinibbāna oleh pengembara Subhadda dalam Dīgha Nikāya 16.5.26-27 / ii.150-52.]

“Baik, Yang Mulia,” Brahmana Pingalakoccha menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

3. “Misalkan, Brahmana, seseorang yang memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari inti kayu, sampai pada sebatang pohon besar yang memiliki inti kayu. Dengan melewatkan inti kayunya, kayu lunaknya, kulit dalamnya, dan kulit luarnya, ia memotong ranting dan dedaunannya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu. Kemudian seseorang dengan penglihatan yang baik, melihatnya, akan berkata: ‘Orang ini tidak mengenali inti kayu, kayu lunak, kulit dalam, kulit luar, atau ranting dan dedaunan. Demikianlah, sementara ia memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari inti kayu, ia sampai pada sebatang pohon besar yang memiliki inti kayu, dan dengan melewatkan inti kayunya, kayu lunaknya, kulit dalamnya, dan kulit luarnya, ia memotong ranting dan dedaunannya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu. Apapun yang akan dilakukan olehnya dengan inti kayu, tujuannya tidak akan terlaksana.’

4. “Misalkan seseorang yang memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari inti kayu, sampai pada sebatang pohon besar yang memiliki inti kayu. Dengan melewatkan inti kayunya, kayu lunaknya [199] dan kulit dalamnya, ia memotong kulit luarnya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu. Kemudian seseorang dengan penglihatan yang baik, melihatnya, akan berkata: ‘Orang ini tidak mengenali inti kayu, … atau ranting dan dedaunan. Demikianlah, sementara ia memerlukan inti kayu ... ia memotong kulit luarnya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu. Apapun yang akan dilakukan olehnya dengan inti kayu, tujuannya tidak akan terlaksana.’

5. “Misalkan seseorang yang memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari inti kayu, sampai pada sebatang pohon besar yang memiliki inti kayu. Dengan melewatkan inti kayunya dan kayu lunaknya, ia memotong kulit dalamnya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu. Kemudian seseorang dengan penglihatan yang baik, melihatnya, akan berkata: ‘Orang ini tidak mengenali inti kayu, … atau ranting dan dedaunan. Demikianlah, sementara ia memerlukan inti kayu ... ia memotong kulit dalamnya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu. Apapun yang akan dilakukan olehnya dengan inti kayu, tujuannya tidak akan terlaksana.’

6. “Misalkan seseorang yang memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari inti kayu, sampai pada sebatang pohon besar yang memiliki inti kayu. Dengan melewatkan inti kayunya ia memotong kayu lunaknya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu. Kemudian seseorang dengan penglihatan yang baik, melihatnya, akan berkata: ‘Orang ini tidak mengenali inti kayu, … atau ranting dan dedaunan. Demikianlah, sementara ia memerlukan inti kayu ... ia memotong kayu lunaknya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu. Apapun yang akan dilakukan olehnya dengan inti kayu, tujuannya tidak akan terlaksana.’

7. “Misalkan seseorang yang memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari inti kayu, sampai pada sebatang pohon besar yang memiliki inti kayu, dan dengan hanya memotong inti kayunya, ia akan membawanya dengan mengetahui bahwa itu adalah inti kayu. Kemudian seseorang dengan penglihatan yang baik, melihatnya, akan berkata: ‘Orang ini mengenali inti kayu, kayu lunak, kulit dalam, kulit luar, atau ranting dan dedaunan. Demikianlah, sementara ia memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari inti kayu, ia sampai pada sebatang pohon besar yang memiliki inti kayu, dan dengan hanya memotong inti kayunya, [200] ia membawanya dengan mengetahui bahwa itu adalah inti kayu. Apapun yang akan dilakukan olehnya dengan inti kayu, tujuannya akan terlaksana.’

8. “Demikian pula, Brahmana, di sini seorang anggota keluarga meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dengan merenungkan: ‘Aku adalah korban kelahiran, penuaan, dan kematian, korban dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; Aku adalah korban penderitaan, mangsa bagi penderitaan. Akhir dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini pasti dapat diketahui.’ Ketika ia telah meninggalkan keduniawian demikian, ia memperoleh keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran. Ia senang dengan keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran itu, dan tujuannya terpenuhi. Dan karena hal itu ia memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain sebagai berikut: ‘Aku memiliki keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran, tetapi para bhikkhu lain ini tidak terkenal, tidak berharga.’ Maka ia tidak membangkitkan keinginan untuk bertindak, ia tidak berusaha untuk mencapai kondisi-kondisi lain yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran; ia enggan untuk maju dan [menjadi] mengendur. Aku katakan bahwa orang ini seperti orang yang memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari inti kayu, sampai pada sebatang pohon besar yang memiliki inti kayu. Dengan melewatkan inti kayunya, kayu lunaknya, kulit dalamnya, dan kulit luarnya, ia memotong ranting dan dedaunannya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu; dan apapun yang ingin ia lakukan dengan inti kayu itu, tujuannya tidak akan terlaksana.

9. “Di sini, Brahmana, seorang anggota keluarga meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dengan merenungkan: ‘Aku adalah korban kelahiran, penuaan, dan kematian, korban dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; Aku adalah korban penderitaan, mangsa bagi penderitaan. Akhir dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini pasti dapat diketahui.’ Ketika ia telah meninggalkan keduniawian demikian, ia memperoleh keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran. Ia tidak senang dengan keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran itu, dan tujuannya belum terpenuhi. Ia tidak, karena hal-hal itu, memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain. Ia membangkitkan keinginan untuk bertindak dan berusaha untuk mencapai kondisi-kondisi lain yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran; ia tidak enggan untuk maju dan tidak mengendur. Ia mencapai pencapaian moralitas. Ia senang akan pencapaian moralitas itu dan tujuannya tercapai. Dan karena hal itu ia memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain sebagai berikut: ‘Aku adalah orang yang bermoral, berkarakter baik, tetapi para bhikkhu lain ini tidak bermoral, berkarakter buruk.’ Maka ia tidak membangkitkan keinginan untuk bertindak, ia tidak berusaha untuk mencapai kondisi-kondisi lain yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pencapaian moralitas; [201] ia enggan untuk maju dan mengendur. Aku katakan bahwa orang ini seperti orang yang memerlukan inti kayu … Dengan melewatkan inti kayunya, kayu lunaknya dan kulit dalamnya ia memotong kulit luarnya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu; dan apapun yang ingin ia lakukan dengan inti kayu itu, tujuannya tidak akan terlaksana.

10. “Di sini, Brahmana, seorang anggota keluarga meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dengan merenungkan: ‘Aku adalah korban kelahiran, penuaan, dan kematian, korban dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; Aku adalah korban penderitaan, mangsa bagi penderitaan. Akhir dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini pasti dapat diketahui.’ Ketika ia telah meninggalkan keduniawian demikian, ia memperoleh keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran. Ia tidak senang dengan keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran itu, dan tujuannya belum terpenuhi. Ia mencapai pencapaian moralitas. Ia senang akan pencapaian moralitas itu, tetapi tujuannya belum terpenuhi. Ia tidak, karena hal itu, memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain. Ia membangkitkan keinginan untuk bertindak dan berusaha untuk mencapai kondisi-kondisi lain yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pencapaian moralitas; ia tidak enggan untuk maju dan tidak mengendur. Ia mencapai pencapaian konsentrasi. Ia senang akan pencapaian konsentrasi itu dan tujuannya terpenuhi. Karena hal itu ia memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain sebagai berikut: ‘Aku terkonsentrasi, pikiranku terpusat, tetapi para bhikkhu lain ini tidak terkonsentrasi dan pikiran mereka mengembara.’ Maka ia tidak membangkitkan keinginan untuk bertindak, ia tidak berusaha untuk mencapai kondisi-kondisi lain yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pencapaian konsentrasi; ia enggan untuk maju dan mengendur. Aku katakan bahwa orang ini seperti orang yang memerlukan inti kayu … Dengan melewatkan inti kayunya dan kayu lunaknya, ia memotong kulit dalamnya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu; dan apapun yang ingin ia lakukan dengan inti kayu itu, tujuannya tidak akan terlaksana.

11. “Di sini, Brahmana, seorang anggota keluarga meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dengan merenungkan: ‘Aku adalah korban kelahiran, penuaan, dan kematian, [202] korban dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; Aku adalah korban penderitaan, mangsa bagi penderitaan. Akhir dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini pasti dapat diketahui.’ Ketika ia telah meninggalkan keduniawian demikian, ia memperoleh keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran. Ia tidak senang dengan keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran itu, dan tujuannya belum terpenuhi … Ia mencapai pencapaian moralitas. Ia senang akan pencapaian moralitas itu, tetapi tujuannya belum terpenuhi … Ia mencapai pencapaian konsentrasi. Ia senang akan pencapaian konsentrasi itu, tetapi tujuannya belum terpenuhi. Ia tidak, karena hal itu, memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain. Ia membangkitkan keinginan untuk bertindak dan berusaha untuk mencapai kondisi-kondisi lain yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pencapaian konsentrasi; ia tidak enggan untuk maju dan tidak mengendur. Ia mencapai pencapaian pengetahuan dan penglihatan dan tujuannya terpenuhi. Karena hal itu ia memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain sebagai berikut: ‘Aku hidup dengan mengetahui dan melihat, tetapi para bhikkhu lain ini tidak mengetahui dan tidak melihat.’ Maka ia tidak membangkitkan keinginan untuk bertindak, ia tidak berusaha untuk mencapai kondisi-kondisi lain yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan; ia enggan untuk maju dan mengendur. Aku katakan bahwa orang ini seperti orang yang memerlukan inti kayu … Dengan melewatkan inti kayunya, ia memotong kayu lunaknya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu; dan apapun yang ingin ia lakukan dengan inti kayu itu, tujuannya tidak akan terlaksana.

12. “Di sini, para bhikkhu, seorang anggota keluarga meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dengan merenungkan: ‘Aku adalah korban kelahiran, penuaan, dan kematian, korban dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; Aku adalah korban penderitaan, mangsa bagi penderitaan. Akhir dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini pasti dapat diketahui.’ Ketika ia telah meninggalkan keduniawian demikian, [203] ia memperoleh keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran. Ia tidak senang dengan keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran itu, dan tujuannya belum terpenuhi … Ia mencapai pencapaian moralitas. Ia senang akan pencapaian moralitas itu, tetapi tujuannya belum terpenuhi … Ia mencapai pencapaian konsentrasi. Ia senang akan pencapaian konsentrasi itu, tetapi tujuannya belum terpenuhi. Ia mencapai pengetahuan dan penglihatan. Ia senang akan pengetahuan dan penglihatan itu, tetapi tujuannya belum terpenuhi. Ia tidak, karena hal itu, memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain. Ia membangkitkan keinginan untuk bertindak dan berusaha untuk mencapai kondisi-kondisi lain yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan; ia tidak enggan untuk maju dan tidak mengendur.

“Tetapi apakah, Brahmana, kondisi-kondisi yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan?

13. “Di sini, Brahmana, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Ini adalah suatu kondisi yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan.

[Kitab Komentar : Walaupun jhāna-jhāna juga termasuk dalam pencapaian konsentrasi yang dijelaskan pada paragraf nomor 10, dan pengetahuan dan penglihatan digambarkan sebagai lebih tinggi daripada pencapaian konsentrasi, namun jhāna-jhāna sekarang menjadi lebih tinggi daripada pengetahuan dan penglihatan karena jhāna-jhāna diperlakukan sebagai landasan bagi pencapaian lenyapnya dan hancurnya noda-noda (pada paragraf 21).

Hal yang juga menarik dari pengungkapan oleh Sang Buddha, ialah berupa petunjuk berikut : “dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, ... , dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan”. Karenanya, pengkondisian  berupa “terasing” dari kenikmatan indria, menjadi landasan paling dasar dari pencapaian meditatif.]

14. “Kemudian, dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi. Ini adalah juga suatu kondisi yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan.

15. “Kemudian, dengan meluruhnya sukacita, seorang bhikkhu berdiam dalam keseimbangan, dan penuh perhatian dan waspada penuh, masih merasakan kenikmatan pada jasmani, ia memasuki dan berdiam dalam jhāna ke tiga, yang sehubungan dengannya para mulia mengatakan: ‘Ia memiliki kediaman yang menyenangkan yang memiliki keseimbangan dan penuh perhatian.’ Ini adalah [204] juga suatu kondisi yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan.

16. “Kemudian dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya atas kegembiraan dan kesedihan, seorang bhikkhu memasuki dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang memiliki bukan-kesakitan juga bukan-kenikmatan dan kemurnian perhatian karena keseimbangan. Ini adalah juga suatu kondisi yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan.

17. “Kemudian, dengan sepenuhnya melampaui persepsi bentuk, dengan lenyapnya persepsi kontak indria, dengan tanpa-perhatian pada persepsi keberagaman, menyadari bahwa ‘ruang adalah tanpa batas,’ seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan ruang tanpa batas. Ini adalah juga suatu kondisi yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan.

18. “Kemudian, dengan sepenuhnya melampaui landasan ruang tanpa batas, menyadari bahwa ‘kesadaran adalah tanpa batas,’ seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan kesadaran tanpa batas. Ini adalah juga suatu kondisi yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan.

19. “Kemudian, dengan sepenuhnya melampaui landasan kesadaran tanpa batas, menyadari bahwa ‘tidak ada apa-apa,’ seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan kekosongan. Ini adalah juga suatu kondisi yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan.

20. “Kemudian, dengan sepenuhnya melampaui landasan kekosongan, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Ini adalah juga suatu kondisi yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan.

21. “Kemudian, dengan sepenuhnya melampaui landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam lenyapnya persepsi dan perasaan. Dan noda-nodanya dihancurkan melalui penglihatan melihat dengan kebijaksanaan. Ini adalah juga suatu kondisi yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan.

22. “Aku katakan bahwa orang ini, Brahmana, adalah seperti seseorang yang memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari inti kayu, yang sampai pada sebatang pohon besar yang memiliki inti kayu, dan dengan memotong inti kayunya, ia membawanya dengan mengetahui bahwa itu adalah inti kayu; dan apapun yang akan dilakukan olehnya dengan inti kayu, tujuannya akan terlaksana.

23. “Demikian pula kehidupan suci ini, Brahmana, bukan memperoleh keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran sebagai manfaatnya, atau pencapaian moralitas sebagai manfaatnya, atau pencapaian konsentrasi sebagai manfaatnya, atau pengetahuan dan penglihatan sebagai manfaatnya. Melainkan [205] kebebasan pikiran yang tak tergoyahkan yang merupakan tujuan kehidupan suci, inilah inti kayunya, dan inilah akhirnya.

24. Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Pingalakoccha berkata kepada Sang Bhagavā: “Menakjubkan, Guru Gotama! Menakjubkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah menjelaskan Dhamma dalam berbagai cara, bagaikan menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan pada mereka yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Sejak hari ini sudilah Guru Gotama mengingatku sebagai seorang pengikut awam yang telah menerima perlindungan dari Beliau seumur hidupku.”

Sebaliknya, berikut di bahwa inilah yang disebut “neraka dunia”, namun orang-orang dungu (para butawan) memandangnya sebagai “NIKMAT” dan “UNTUNG”, merendahkan martabatnya sendiri sebagai seorang manusia dengan menjelma “KORUPTOR DOSA” dimana dosa-dosa pun dikorupsi—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Kini, silahkan Anda nilai sendiri dengan “akal sehat” (common sense) disertai pikiran yang jernih, apakah sang “nabi rasul Allah” berikut patut dikasihani karena menderita “sakit psikis” akibat KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA ataukah benar-benar berbahagia dalam hidupnya?—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]