Menjelma menjadi KORUPTOR DOSA adalah Nikmat? Korupsi Dosa Dipandang sebagai “Nikmat” dan “Untung”, Orang BUTA—Mereka TERCELA, Bukan TERPUJI
Question: Bila ada pihak-pihak eksternal maupun internal komunitas Buddhistik yang meng-kritik, bahwa mengapa Agama Buddha justru memiliki slogan “hidup adalah duka”, mengapa tidak seperti agama samawi dengan jargonnya “hidup adalah nikmat” sehingga banyak peminatnya? Dogma ajaran agama samawi selalu mengiming-imingi alam surgawi sebagai tujuan akhir para umat pemeluknya, yang anehnya justru digambarkan penuh kenikmatan-duniawi alih-alih kesenangan non-duniawi ataupun kegembiraan meditatif.
Brief
Answer: Ketika seseorang mengingkari
kenyataan, namun kemudian mendapati dirinya diliputi kesedihan, kekecewaan,
kecemasan, ketidak-puasan, ambisi dan obsesi yang tidak pernah berkurang, ketakutan
karena kehilangan, kemarahan akibat ketidak-sukaan, hingga perasaan terluka dan
terpukul, trauma yang tetap menghantui, maupun mulai menyadari bahwa hidup
tidaklah adil adanya, maka ia merasa ada yang tidak “beres” dengan hidupnya,
dan mulai menyalahkan dirinya sendiri ataupun menyalahkan “takdir” atas nasibnya
yang “menderita seorang diri”.
Fakta realitanya,
seperti kata orang-orang bijaksana, “Truth always BITTER”. Bukan hanya Anda
seorang yang merasakan perasaan-perasaan menekan dan memilukan hati, bahkan
membuat air mata Anda menetes, semua orang sedang berkutat merasakannya dan
bergulat mengatasinya. Ketika seseorang menipu dirinya sendiri, bahwa “hidup
adalah NIKMAT”, maka yang terjadi kemudian ialah kekecewaan dan kemarahan yang
lebih akut terhadap diri dan hidupnya, memuncak, dan mulai memicu rasa cenburu serta
iri melihat “kebahagiaan” orang lain, sebelum kemudian timbul keinginan untuk
merampas “kebahagiaan” itu dari orang lain.
Ia merasa
telah diperlakukan tidak adil oleh kehidupan, karenanya merasa berhak untuk “main
hakim sendiri” dengan merampas kebahagiaan maupun senyuman dari wajah-wajah orang
yang terlihat “bahagia”. Sebaliknya, ketika seseorang mulai mampu menyadari dan
menerima kenyataan, bahwa dirinya “tidak terkecuali” dan “tidak seorang diri”
merasakan “dukkha”, seperti kehilangan atas apa yang dicintai dan
berkumpul dengan yang tidak disenangi, maka “beban berat” yang selama ini
membebani pikiran dan jiwanya seketika terangkat dan terlepas. Kebijaksanaan pun
lahir dan mulai menyinari, bahwa kita patut berwelas-asih kepada setiap makhluk
hidup, karena mereka pun ingin bahagia dan merasakan “dukkha”. Kita tidak
lagi menjadi pribadi yang egois maupun naif.
Bagaimana
mungkin, bersekutu dengan penjelmaan yang sifatnya masih berkondisi, diharapkan
mampu terbebas dari “dukkha”, sekalipun itu “alam surgawi”, sementara
itu segala yang berkondisi sifatnya ialah “tidak kekal, selalu berubah, dan
tanpa ‘milik aku’”? Bila di dunia manusia saja, terbukti penuh derita dan
ketidak-adilan, atas dasar delusi apakah mereka berharap dan berasumsi bahwa
tiada derita bagi para makhluk dewata dan alam surgawi adalah “akhir dari
segalanya”?
PEMBAHASAN:
Bagi mereka yang masih berkutat pada penolakan atas
realita bahwa “hidup adalah dukkha”, kisah berikut dapat menjadi inspirasi
yang mencerahkan, karena “kedekatannya” yang lazim dalam pengalaman hidup setiap
individu. Evy Poumpouras, seorang jurnalis, penyandang gelar Master untuk ilmu
psikologi-forensik, dan mantan agen rahasia USA yang banyak berhadapan dengan
beragam sifat manusia, mengutarkan dalam suatu acara berjudul “How to
Succeed Without Confidence, Motivation, or Healing”, dengan kutipan sebagai
berikut:
I began my career as a former special agent with the United
States Secret Service and the U.S. Secret Service.
There's a dual mission at agency. You do protection, which
means you protect, the president, former presidents, foreign heads of state,
and you also work criminal investigations, serious crimes across the board. And
I did interviews and interrogations after I left the US Secret Service, I had a
more public persona.
I wrote my book, Becoming Bulletproof, and then I began
working on air. Today I work for NBC news and I cover crime and national
security. What was interesting is people began writing into me, and they
started writing into me with questions, wanting guidance every.
I want to ask my boss for a raise, but I don't know how to do
it. I'm afraid every. I'd like to change career paths, but I don't know how to
do it, I'm afraid. And the questions vary. They were all over the place and I
began doing mentor sessions.
I thought, you know, I really can't answer a person's
question in a text or in a note or even in an email. So I started doing a few
mentor sessions, guiding people. Then a few became a few dozen, then a few
dozen became a few hundred. And over the years, I did hundreds of mentor
sessions with people, and I found a pattern.
I found a pattern that they were all at the core, struggling with common issues, that there
were these inhibitors, these patterns in their way of thinking and behavior
that caused them to be stuck, that caused them not to know how to move forward.
And I want to share these with you today.
First inhibitor, you're not that special. Here's the
thing. We may like to think of ourselves as special. Okay, so if I'm special,
then that means you're not special. Well, or if you're all special, then
nobody is special.
The other thing is, when you think of yourself as being
special, it kind of means that you're separate from everyone else. You are
unique.
You know, it's interesting. I'm a criminal justice professor,
and obviously my background is criminology. We found that people who commit
crime, chronic crime, those people that commit crime over and over and over
again, they think they're special because the laws and the rules don't apply to
them. The laws and the rules are for everybody else.
I'm special. What else is really interesting is that those
who think of themselves as special become extremely self-focused. I am so
focused on myself and me that I make my problems special. My pain is special
and my suffering is special.
Nobody knows how I feel because I am so special that I hurt
so differently. And when you feel like that, there are higher rates of
depression and you have higher rates of anxiety because I am so unique.
But what I found is when you think that you are that special,
you feel alone in the world. You can't get through it. Nobody understands you.
You're not that special. And do you know what that means?
You're not alone in the world.
When I was a special agent, uh, I was exposed to the events
of September 11th, 2001. I worked out of the United States field office in New
York City, and I went to work that day at the World Trade Center.
So I was there from when the first plane hit to the second to
the collapse of the first tower and the second tower.
Now, what was interesting, there was a moment when that was
all happening, that exposure to see all those people suffer and all
those people that I couldn’t help or save.
And what got me through that really tragic event is I
understood I wasn't that special in my pain, that other people had been exposed
to what I had been exposed to, and that if they could get through it, I could
get through it.
I knew that I wasn't alone in the world.
Now, this is the number one thing I get asked about when
people come to me. Evie, I need confidence. I’m not confident.
How do you manifest confidence?
I'm going to tell you something. Confidence is overrated.
Overrated.
Here's a secret. You don't need it. You don’t need it.
Think of it this way. I want to do something. Typically, people
want confidence so that they can do something.
So here’s the thing I want to do.
Here is me. I want to go from here to here.
Ideally I would go this way. Here's my achievement. Boom. I'm
done.
But do you know what we do? We say, ah, wait, I need
confidence to do this. So instead of going this way, I'm going to break my path
and I'm going to go on this wild journey to find confidence. Where's this
confidence?
Confidence I need you. Where are you? Where are you?
And then once I get it, then I can come back. You have done
this.
Such a windy road and gone all over the place that you either
forget to go back, you get distracted, or you lose faith. And we never achieve
what we want to achieve.
And with that one other thing you don't need is motivation.
Motivation equals mediocrity.
Often people think I need to be motivated to do something.
I need motivation to go work out. I need motivation to study
so I can go to school I need motivation to do these things.
I will tell you something. If you wait to be motivated in
life to do something, you will do the bare minimum.
dapat
kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima
Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A
Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by
Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
SUTTA
30
Cūḷasāropama Sutta:
Khotbah
Pendek tentang Perumpamaan Inti Kayu
[198] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
2. Kemudian Brahmana Pingalakoccha mendatangi Sang Bhagavā dan saling
bertukar sapa dengan Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu
sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā:
“Guru Gotama, ada para petapa dan brahmana, masing-masing adalah pemimpin
suatu aliran, pemimpin kelompok, guru kelompok, pendiri yang terkenal dan
termasyhur dari suatu sekte yang dianggap oleh banyak orang sebagai orang suci
– seperti, Pūraṇa Kassapa, Makkhali Gosāla, Ajita Kesakambalin,
Pakudha Kaccāyana, Sañjaya Belaṭṭhiputta, dan Nigaṇṭha Nātaputta. Apakah mereka semuanya telah memiliki pengetahuan langsung seperti
pengakuan mereka, atau tidak seorangpun di antara mereka yang memiliki
pengetahuan langsung, atau apakah sebagian dari mereka memiliki pengetahuan
langsung dan sebagian tidak memiliki?”
[Kitab Komentar : Keenam guru tersebut, yang sezaman
dengan Sang Buddha, semuanya berada di luar Brahmanisme Ortodoks, dan
doktrin-doktrin mereka menunjukkan keberanian spekulatif pada masa Sang Buddha.
Enam orang ini sering disebutkan secara bersama dalam Kanon. Ajaran-ajaran
mereka, seperti dipahami dalam komunitas Buddhis, terdapat dalam Dīgha Nikāya
2.17-32 / ii.52-59.
“Cukup, Brahmana! Biarlah demikian! – ‘Apakah mereka semuanya telah
memiliki pengetahuan langsung seperti pengakuan mereka, atau tidak seorangpun
di antara mereka yang memiliki pengetahuan langsung, atau apakah sebagian dari mereka
memiliki pengetahuan langsung dan sebagian tidak memiliki?’ Aku akan
mengajarkan Dhamma kepadamu, Brahmana. Dengarkan dan perhatikanlah pada apa
yang akan Kukatakan.”
[Kitab Komentar : Pertanyaan yang persis sama dengan
yang diajukan kepada Sang Buddha menjelang Parinibbāna oleh pengembara Subhadda
dalam Dīgha Nikāya 16.5.26-27 / ii.150-52.]
“Baik, Yang Mulia,” Brahmana Pingalakoccha menjawab. Sang Bhagavā berkata
sebagai berikut:
3. “Misalkan, Brahmana, seseorang yang memerlukan inti kayu, mencari inti
kayu, berkeliling mencari inti kayu, sampai pada sebatang pohon besar yang
memiliki inti kayu. Dengan melewatkan inti kayunya, kayu lunaknya, kulit
dalamnya, dan kulit luarnya, ia memotong ranting dan dedaunannya dan membawanya
dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu. Kemudian seseorang dengan
penglihatan yang baik, melihatnya, akan berkata: ‘Orang ini tidak mengenali
inti kayu, kayu lunak, kulit dalam, kulit luar, atau ranting dan dedaunan.
Demikianlah, sementara ia memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari
inti kayu, ia sampai pada sebatang pohon besar yang memiliki inti kayu, dan
dengan melewatkan inti kayunya, kayu lunaknya, kulit dalamnya, dan kulit
luarnya, ia memotong ranting dan dedaunannya dan membawanya dengan berpikir
bahwa itu adalah inti kayu. Apapun
yang akan dilakukan olehnya dengan inti kayu, tujuannya tidak akan terlaksana.’
4. “Misalkan seseorang yang memerlukan inti kayu, mencari inti kayu,
berkeliling mencari inti kayu, sampai pada sebatang pohon besar yang memiliki
inti kayu. Dengan melewatkan inti kayunya, kayu lunaknya [199] dan kulit
dalamnya, ia memotong kulit luarnya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu
adalah inti kayu. Kemudian seseorang dengan penglihatan yang baik, melihatnya,
akan berkata: ‘Orang ini tidak mengenali inti kayu, … atau ranting dan
dedaunan. Demikianlah, sementara ia memerlukan inti kayu ... ia memotong kulit
luarnya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu. Apapun yang
akan dilakukan olehnya dengan inti kayu, tujuannya tidak akan terlaksana.’
5. “Misalkan seseorang yang memerlukan inti kayu, mencari inti kayu,
berkeliling mencari inti kayu, sampai pada sebatang pohon besar yang memiliki
inti kayu. Dengan melewatkan inti kayunya dan kayu lunaknya, ia memotong kulit
dalamnya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu. Kemudian
seseorang dengan penglihatan yang baik, melihatnya, akan berkata: ‘Orang ini
tidak mengenali inti kayu, … atau ranting dan dedaunan. Demikianlah, sementara
ia memerlukan inti kayu ... ia memotong kulit dalamnya dan membawanya dengan berpikir
bahwa itu adalah inti kayu. Apapun yang akan dilakukan olehnya dengan inti
kayu, tujuannya tidak akan terlaksana.’
6. “Misalkan seseorang yang memerlukan inti kayu, mencari inti kayu,
berkeliling mencari inti kayu, sampai pada sebatang pohon besar yang memiliki
inti kayu. Dengan melewatkan inti kayunya ia memotong kayu lunaknya dan
membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu. Kemudian seseorang
dengan penglihatan yang baik, melihatnya, akan berkata: ‘Orang ini tidak mengenali
inti kayu, … atau ranting dan dedaunan. Demikianlah, sementara ia memerlukan
inti kayu ... ia memotong kayu lunaknya dan membawanya dengan berpikir bahwa
itu adalah inti kayu. Apapun yang akan dilakukan olehnya dengan inti kayu,
tujuannya tidak akan terlaksana.’
7. “Misalkan seseorang yang memerlukan inti kayu, mencari inti kayu,
berkeliling mencari inti kayu, sampai pada sebatang pohon besar yang memiliki
inti kayu, dan dengan hanya memotong inti kayunya, ia akan membawanya dengan mengetahui
bahwa itu adalah inti kayu. Kemudian seseorang dengan penglihatan yang baik,
melihatnya, akan berkata: ‘Orang ini mengenali inti kayu, kayu lunak, kulit
dalam, kulit luar, atau ranting dan dedaunan. Demikianlah, sementara ia
memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari inti kayu, ia
sampai pada sebatang pohon besar yang memiliki inti kayu, dan dengan hanya memotong
inti kayunya, [200] ia membawanya dengan mengetahui bahwa itu adalah inti kayu.
Apapun yang akan dilakukan olehnya dengan inti kayu, tujuannya akan terlaksana.’
8. “Demikian pula, Brahmana, di sini seorang anggota keluarga meninggalkan
keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah, dengan merenungkan: ‘Aku
adalah korban kelahiran, penuaan, dan kematian, korban dukacita, ratapan,
kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; Aku adalah korban penderitaan, mangsa
bagi penderitaan. Akhir dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini pasti dapat
diketahui.’ Ketika ia
telah meninggalkan keduniawian demikian, ia memperoleh keuntungan, kehormatan,
dan kemasyhuran. Ia senang dengan keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran itu,
dan tujuannya terpenuhi. Dan karena hal itu ia memuji dirinya sendiri dan
mencela orang lain sebagai berikut: ‘Aku memiliki keuntungan, kehormatan, dan
kemasyhuran, tetapi para bhikkhu lain ini tidak terkenal, tidak berharga.’ Maka
ia tidak membangkitkan keinginan untuk bertindak, ia tidak berusaha untuk
mencapai kondisi-kondisi lain yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada
keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran; ia
enggan untuk maju dan [menjadi] mengendur. Aku katakan bahwa orang ini seperti orang yang
memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari inti kayu, sampai
pada sebatang pohon besar yang memiliki inti kayu. Dengan melewatkan inti
kayunya, kayu lunaknya, kulit dalamnya, dan kulit luarnya, ia memotong ranting dan
dedaunannya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu; dan
apapun yang ingin ia lakukan dengan inti kayu itu, tujuannya tidak akan
terlaksana.
9. “Di sini, Brahmana, seorang anggota keluarga meninggalkan keduniawian
karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah,
dengan merenungkan: ‘Aku adalah korban kelahiran, penuaan, dan kematian, korban
dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; Aku adalah korban
penderitaan, mangsa bagi penderitaan. Akhir dari keseluruhan kumpulan
penderitaan ini pasti dapat diketahui.’ Ketika ia telah meninggalkan
keduniawian demikian, ia memperoleh keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran. Ia
tidak senang dengan keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran itu, dan tujuannya
belum terpenuhi. Ia tidak, karena hal-hal itu, memuji dirinya sendiri
dan mencela orang lain. Ia
membangkitkan keinginan untuk bertindak dan berusaha untuk mencapai
kondisi-kondisi lain yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada keuntungan,
kehormatan, dan kemasyhuran; ia tidak enggan untuk maju dan tidak mengendur. Ia
mencapai pencapaian moralitas. Ia senang akan pencapaian moralitas itu dan
tujuannya tercapai. Dan karena
hal itu ia memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain sebagai berikut: ‘Aku
adalah orang yang bermoral, berkarakter baik, tetapi para bhikkhu lain ini
tidak bermoral, berkarakter buruk.’ Maka ia tidak membangkitkan keinginan
untuk bertindak, ia tidak berusaha untuk mencapai kondisi-kondisi lain yang
lebih tinggi dan lebih mulia daripada pencapaian moralitas; [201] ia enggan
untuk maju dan mengendur. Aku katakan bahwa orang ini seperti orang yang memerlukan
inti kayu … Dengan melewatkan inti kayunya, kayu lunaknya dan kulit dalamnya ia
memotong kulit luarnya dan membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti
kayu; dan apapun yang ingin ia lakukan dengan inti kayu itu, tujuannya tidak akan
terlaksana.
10. “Di sini, Brahmana, seorang anggota keluarga meninggalkan keduniawian
karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah,
dengan merenungkan: ‘Aku adalah korban kelahiran, penuaan, dan kematian, korban
dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; Aku adalah korban
penderitaan, mangsa bagi penderitaan. Akhir dari keseluruhan kumpulan
penderitaan ini pasti dapat diketahui.’ Ketika ia telah meninggalkan
keduniawian demikian, ia memperoleh keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran. Ia
tidak senang dengan keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran itu, dan tujuannya
belum terpenuhi. Ia mencapai pencapaian moralitas. Ia senang akan pencapaian
moralitas itu, tetapi tujuannya belum terpenuhi. Ia tidak, karena hal itu,
memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain. Ia membangkitkan
keinginan untuk bertindak dan berusaha untuk mencapai kondisi-kondisi lain yang
lebih tinggi dan lebih mulia daripada pencapaian moralitas; ia tidak enggan
untuk maju dan tidak mengendur. Ia mencapai pencapaian konsentrasi. Ia senang akan pencapaian
konsentrasi itu dan tujuannya terpenuhi. Karena hal itu ia memuji dirinya
sendiri dan mencela orang lain sebagai berikut: ‘Aku terkonsentrasi, pikiranku
terpusat, tetapi para bhikkhu lain ini tidak terkonsentrasi dan pikiran mereka mengembara.’
Maka ia tidak membangkitkan keinginan untuk bertindak, ia tidak berusaha
untuk mencapai kondisi-kondisi lain yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada
pencapaian konsentrasi; ia enggan untuk maju dan mengendur. Aku katakan bahwa
orang ini seperti orang yang memerlukan inti kayu … Dengan melewatkan inti
kayunya dan kayu lunaknya, ia memotong kulit dalamnya dan membawanya dengan
berpikir bahwa itu adalah inti kayu; dan apapun yang ingin ia lakukan dengan
inti kayu itu, tujuannya tidak akan terlaksana.
11. “Di sini, Brahmana, seorang anggota keluarga meninggalkan keduniawian
karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah,
dengan merenungkan: ‘Aku adalah korban kelahiran, penuaan, dan kematian, [202]
korban dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; Aku adalah
korban penderitaan, mangsa bagi penderitaan. Akhir dari keseluruhan kumpulan
penderitaan ini pasti dapat diketahui.’ Ketika ia telah meninggalkan
keduniawian demikian, ia memperoleh keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran. Ia
tidak senang dengan keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran itu, dan tujuannya
belum terpenuhi … Ia mencapai pencapaian moralitas. Ia senang akan pencapaian moralitas
itu, tetapi tujuannya belum terpenuhi … Ia mencapai pencapaian konsentrasi. Ia
senang akan pencapaian konsentrasi itu, tetapi tujuannya belum terpenuhi. Ia
tidak, karena hal itu, memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain. Ia membangkitkan keinginan
untuk bertindak dan berusaha untuk mencapai kondisi-kondisi lain yang lebih
tinggi dan lebih mulia daripada pencapaian konsentrasi; ia tidak enggan untuk
maju dan tidak mengendur. Ia mencapai pencapaian pengetahuan dan penglihatan dan tujuannya
terpenuhi. Karena hal itu ia memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain
sebagai berikut: ‘Aku hidup dengan mengetahui dan melihat, tetapi para bhikkhu
lain ini tidak mengetahui dan tidak melihat.’ Maka ia tidak membangkitkan keinginan
untuk bertindak, ia tidak berusaha untuk mencapai kondisi-kondisi lain yang
lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan; ia enggan
untuk maju dan mengendur. Aku katakan bahwa orang ini seperti orang yang memerlukan
inti kayu … Dengan melewatkan inti kayunya, ia memotong kayu lunaknya dan
membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah inti kayu; dan apapun yang ingin ia
lakukan dengan inti kayu itu, tujuannya tidak akan terlaksana.
12. “Di sini, para bhikkhu, seorang anggota keluarga meninggalkan
keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah, dengan merenungkan: ‘Aku adalah korban kelahiran, penuaan, dan kematian,
korban dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; Aku adalah
korban penderitaan, mangsa bagi penderitaan. Akhir dari keseluruhan kumpulan
penderitaan ini pasti dapat diketahui.’ Ketika ia telah meninggalkan
keduniawian demikian, [203] ia memperoleh keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran.
Ia tidak senang dengan keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran itu, dan
tujuannya belum terpenuhi … Ia mencapai pencapaian moralitas. Ia senang akan
pencapaian moralitas itu, tetapi tujuannya belum terpenuhi … Ia mencapai pencapaian
konsentrasi. Ia senang akan pencapaian konsentrasi itu, tetapi tujuannya belum
terpenuhi. Ia mencapai pengetahuan dan penglihatan. Ia senang akan
pengetahuan dan penglihatan itu, tetapi tujuannya belum terpenuhi. Ia tidak,
karena hal itu, memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain. Ia membangkitkan keinginan
untuk bertindak dan berusaha untuk mencapai kondisi-kondisi lain yang lebih
tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan; ia tidak enggan
untuk maju dan tidak mengendur.
“Tetapi apakah, Brahmana, kondisi-kondisi yang lebih tinggi dan lebih
mulia daripada pengetahuan dan penglihatan?
13. “Di sini, Brahmana, dengan
cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak
bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan
pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Ini adalah
suatu kondisi yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan
penglihatan.
[Kitab Komentar : Walaupun jhāna-jhāna juga
termasuk dalam pencapaian konsentrasi yang dijelaskan pada paragraf nomor 10,
dan pengetahuan dan penglihatan digambarkan sebagai lebih tinggi daripada
pencapaian konsentrasi, namun jhāna-jhāna sekarang menjadi lebih tinggi
daripada pengetahuan dan penglihatan karena jhāna-jhāna diperlakukan
sebagai landasan bagi pencapaian lenyapnya dan hancurnya noda-noda (pada paragraf
21).
Hal yang juga menarik dari pengungkapan oleh Sang
Buddha, ialah berupa petunjuk berikut : “dengan
cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak
bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, ... , dengan
sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan”. Karenanya, pengkondisian berupa “terasing” dari kenikmatan indria, menjadi
landasan paling dasar dari pencapaian meditatif.]
14. “Kemudian, dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran,
seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki
keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan
pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi. Ini
adalah juga suatu kondisi yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada
pengetahuan dan penglihatan.
15. “Kemudian, dengan meluruhnya sukacita, seorang bhikkhu berdiam dalam
keseimbangan, dan penuh perhatian dan waspada penuh, masih merasakan kenikmatan
pada jasmani, ia memasuki dan berdiam dalam jhāna ke tiga, yang sehubungan dengannya
para mulia mengatakan: ‘Ia memiliki kediaman yang menyenangkan yang memiliki
keseimbangan dan penuh perhatian.’ Ini adalah [204] juga suatu kondisi yang
lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan.
16. “Kemudian dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan
dengan pelenyapan sebelumnya atas kegembiraan dan kesedihan, seorang bhikkhu
memasuki dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang memiliki bukan-kesakitan juga
bukan-kenikmatan dan kemurnian
perhatian karena keseimbangan. Ini adalah juga suatu kondisi yang lebih tinggi dan lebih mulia
daripada pengetahuan dan penglihatan.
17. “Kemudian, dengan sepenuhnya melampaui persepsi bentuk, dengan
lenyapnya persepsi kontak indria, dengan tanpa-perhatian pada persepsi
keberagaman, menyadari bahwa ‘ruang adalah tanpa batas,’ seorang bhikkhu masuk
dan berdiam dalam landasan ruang tanpa batas. Ini adalah juga suatu kondisi
yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan.
18. “Kemudian, dengan sepenuhnya melampaui landasan ruang tanpa batas,
menyadari bahwa ‘kesadaran adalah tanpa batas,’ seorang bhikkhu masuk dan
berdiam dalam landasan kesadaran tanpa batas. Ini adalah juga suatu kondisi
yang lebih tinggi dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan.
19. “Kemudian, dengan sepenuhnya melampaui landasan kesadaran tanpa
batas, menyadari bahwa ‘tidak ada apa-apa,’ seorang bhikkhu masuk dan berdiam
dalam landasan kekosongan. Ini adalah juga suatu kondisi yang lebih tinggi dan lebih
mulia daripada pengetahuan dan penglihatan.
20. “Kemudian, dengan sepenuhnya melampaui landasan kekosongan, seorang
bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan bukan persepsi juga bukan
bukan-persepsi. Ini adalah juga suatu kondisi yang lebih tinggi dan lebih mulia
daripada pengetahuan dan penglihatan.
21. “Kemudian, dengan sepenuhnya melampaui landasan bukan persepsi juga
bukan bukan-persepsi, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam lenyapnya
persepsi dan perasaan. Dan noda-nodanya
dihancurkan melalui penglihatan melihat dengan kebijaksanaan. Ini adalah juga suatu kondisi yang lebih tinggi
dan lebih mulia daripada pengetahuan dan penglihatan.
22. “Aku katakan bahwa orang ini, Brahmana, adalah seperti seseorang yang
memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari inti kayu, yang
sampai pada sebatang pohon besar yang memiliki inti kayu, dan dengan memotong
inti kayunya, ia membawanya dengan mengetahui bahwa itu adalah inti kayu; dan
apapun yang akan dilakukan olehnya dengan inti kayu, tujuannya akan terlaksana.
23. “Demikian
pula kehidupan suci ini, Brahmana, bukan memperoleh keuntungan, kehormatan, dan
kemasyhuran sebagai manfaatnya, atau pencapaian moralitas sebagai manfaatnya,
atau pencapaian konsentrasi sebagai manfaatnya, atau pengetahuan dan
penglihatan sebagai manfaatnya. Melainkan [205] kebebasan pikiran yang tak
tergoyahkan yang merupakan tujuan kehidupan suci, inilah inti kayunya, dan
inilah akhirnya.”
24. Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Pingalakoccha berkata kepada Sang
Bhagavā: “Menakjubkan, Guru Gotama! Menakjubkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah
menjelaskan Dhamma dalam berbagai cara, bagaikan menegakkan apa yang terbalik,
mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan pada mereka yang
tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki
penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan
pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Sejak hari ini sudilah Guru Gotama
mengingatku sebagai seorang pengikut awam yang telah menerima perlindungan dari
Beliau seumur hidupku.”
Sebaliknya, berikut
di bahwa inilah yang disebut “neraka dunia”, namun orang-orang dungu (para
butawan) memandangnya sebagai “NIKMAT” dan “UNTUNG”, merendahkan martabatnya
sendiri sebagai seorang manusia dengan menjelma “KORUPTOR DOSA” dimana dosa-dosa
pun dikorupsi—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
silahkan Anda nilai sendiri dengan “akal sehat” (common sense) disertai
pikiran yang jernih, apakah sang “nabi rasul Allah” berikut patut dikasihani
karena menderita “sakit psikis” akibat KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA ataukah benar-benar
berbahagia dalam hidupnya?—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]