Lunakkan Kesombongan Anda, Sebelum Kenyataan Akan Merontokkan Keangkuhan yang Selama Ini Anda Banggakan

HERY SHIETRA, Lunakkan Kesombongan Anda, Sebelum Kenyataan Akan Merontokkan Keangkuhan yang Selama Ini Anda Banggakan

Yang tidak pernah atau belum menjadi korban,

Tidak akan pernah memahami,

Bagaimana rasanya dijadikan korban,

Dan menjadi seorang korban.

Namun,

Entah kabar baik atau kabar buruknya,

Ialah semua orang berpotensi menjadi korban.

Jangan pernah menertawakan seseorang,

Yang terkena bisul pada bokongnya,

Anda pun tanpa terkecuali,

Berpeluang mengalami bisul serupa pada bokong Anda.

Seseorang yang belum pernah dikhianati oleh orang yang Anda percayai,

Tidak akan pernah mengetahui,

Bagaimana rasanya dikhianati,

Sampai pada akhirnya akan ia alami dan rasakan sendiri,

Pahit-getirnya dikhianati,

Menjadi korban pengkhianatan,

Oleh orang yang Anda berikan kepercayaan atau Anda percayai.

Sama halnya,

Banyak yang memandang bahwa,

Hanya seorang anak,

Yang dapat bersikap durhaka kepada orangtuanya.

Sekalipun faktanya,

Banyak orangtua yang sewenang-wenang terhadap anaknya,

Bahkan menjadi predator terhadap anaknya sendiri,

Predator anak.

Orang yang malang,

Kerap dilecehkan oleh orang-orang yang lebih beruntung hidupnya.

Mereka menyebut orang-orang malang tersebut,

Sebagai pemalas,

Sebagai bodoh,

Sebagai antisosial,

Sebagai buruk-rupa,

Dan menghakiminya karena malang.

Semata karena lebih beruntung,

Ia merasa berhak untuk menghakimi orang lain.

Namun,

Akan sampai kapankah,

Keberuntungan atau kebanggaan tersebut akan dapat bertahan?

Hidup bagai roda yang terus berputar,

Yang di atas akan kembali ke bawah,

Yang semula di bawah,

Akan bergerak kembali ke atas,

Bagai siklus.

Pada saat itulah,

Kesombongan akan terbentur oleh kenyataan.

Semata karena lebih kuat,

Menindas yang lemah.

Sampai tiba saat dimana,

Kekuatan itu melemah,

Dan menjadi sangat rapuh,

Tua-jompo dan sakit-sakitan,

Keangkuhan bukan ia tanggalkan secara sukarela,

Namun karena dipaksa oleh kenyataan.

Yang kaya,

Merasa berhak menertawakan yang miskin.

Sampai giliran tiba saat dimana si kaya jatuh sakit,

Mampu membeli makanan apapun,

Namun tidak bisa memakannya.

Pada saat itulah,

Siapa yang pada akhirnya akan tertawa.

Hanya orang dungu,

Yang tidak mampu melihat dan menyadari,

Betapa rapuh dan rentannya,

Hidup yang serba bergantung pada kondisi ini,

Terdapat bahaya dibaliknya,

Dimana segalanya selalu terbuka untuk berubah,

Dapat sangat mengecewakan,

Serta tiada apapun yang dapat digenggam erat.

Yang bersikap rendah hati,

Bukan karena dipaksa oleh keadaan,

Adalah cerminan watak yang matang dalam kebijaksanaan.

Jika penjelmaan (terlahir kembali) adalah layak dan patut,

Maka tidak akan Pangeran Siddhatta Gotama melepaskan takhta kerajaan,

Dan menjelma petapa di hutan,

Demi bisa memutus belenggu tumimbal-lahir.

Bila hukum karma seideal itu cara ia bekerja,

Maka tidak akan Petapa Gotama berupaya untuk memutus belenggu rantai karma.

Bila Anda merasa,

Bahwa dunia ini tidaklah seindah apa yang dilukiskan di buku-buku dongeng,

Maka bukanlah Anda yang bermasalah karena merasa demikian.

Sama seperti ketika Anda merasa bahwa,

Hidup adalah dukkha,

Maka bukan artinya ada yang salah dengan diri Anda,

Karena semua orang mengalaminya,

Dukkha,

Tanpa terkecuali.

Karenanya,

Kita tidak perlu merampas hak-hak orang lain,

Merampas kebahagiaan orang lain,

Ataupun merasa cemburu ataupun iri,

Terhadap kemakmuran hidup orang lain.

Kita pun tidak perlu menertawakan orang lain,

Semata karena mereka lebih malang atau lebih lemah daripada kita,

Karena kita pun,

Tanpa terkecuali,

Terjerat oleh dukkha yang sama,

Yang mungkin baru akan disadari,

Ketika telah terpisahkan dari apa yang mereka sayangi dan cintai,

Berkumpul dengan mereka yang ia benci dan tidak sukai.

Tidak perlu juga,

Kita mendendam orang-orang yang melecehkan kita,

Semata karena kita sedang dalam kondisi lemah ataupun malang,

Karena kita menyadari betul,

Mereka pun terperangkap oleh hal yang sama,

Dukkha.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.