Yang tidak pernah atau belum menjadi
korban,
Tidak akan pernah memahami,
Bagaimana rasanya dijadikan
korban,
Dan menjadi seorang korban.
Namun,
Entah kabar baik atau kabar
buruknya,
Ialah semua orang berpotensi menjadi korban.
Jangan pernah menertawakan
seseorang,
Yang terkena bisul pada
bokongnya,
Anda pun tanpa terkecuali,
Berpeluang mengalami bisul
serupa pada bokong Anda.
Seseorang yang belum pernah
dikhianati oleh orang yang Anda percayai,
Tidak akan pernah mengetahui,
Bagaimana rasanya dikhianati,
Sampai pada akhirnya akan ia
alami dan rasakan sendiri,
Pahit-getirnya dikhianati,
Menjadi korban pengkhianatan,
Oleh orang yang Anda berikan
kepercayaan atau Anda percayai.
Sama halnya,
Banyak yang memandang bahwa,
Hanya seorang anak,
Yang dapat bersikap durhaka kepada
orangtuanya.
Sekalipun faktanya,
Banyak orangtua yang sewenang-wenang
terhadap anaknya,
Bahkan menjadi predator terhadap
anaknya sendiri,
Predator anak.
Orang yang malang,
Kerap dilecehkan oleh orang-orang
yang lebih beruntung hidupnya.
Mereka menyebut orang-orang malang
tersebut,
Sebagai pemalas,
Sebagai bodoh,
Sebagai antisosial,
Sebagai buruk-rupa,
Dan menghakiminya karena
malang.
Semata karena lebih beruntung,
Ia merasa berhak untuk menghakimi
orang lain.
Namun,
Akan sampai kapankah,
Keberuntungan atau kebanggaan tersebut
akan dapat bertahan?
Hidup bagai roda yang terus
berputar,
Yang di atas akan kembali ke
bawah,
Yang semula di bawah,
Akan bergerak kembali ke atas,
Bagai siklus.
Pada saat itulah,
Kesombongan akan terbentur oleh
kenyataan.
Semata karena lebih kuat,
Menindas yang lemah.
Sampai tiba saat dimana,
Kekuatan itu melemah,
Dan menjadi sangat rapuh,
Tua-jompo dan sakit-sakitan,
Keangkuhan bukan ia tanggalkan secara
sukarela,
Namun karena dipaksa oleh kenyataan.
Yang kaya,
Merasa berhak menertawakan yang
miskin.
Sampai giliran tiba saat dimana
si kaya jatuh sakit,
Mampu membeli makanan apapun,
Namun tidak bisa memakannya.
Pada saat itulah,
Siapa yang pada akhirnya akan tertawa.
Hanya orang dungu,
Yang tidak mampu melihat dan
menyadari,
Betapa rapuh dan rentannya,
Hidup yang serba bergantung pada
kondisi ini,
Terdapat bahaya dibaliknya,
Dimana segalanya selalu terbuka
untuk berubah,
Dapat sangat mengecewakan,
Serta tiada apapun yang dapat
digenggam erat.
Yang bersikap rendah hati,
Bukan karena dipaksa oleh keadaan,
Adalah cerminan watak yang
matang dalam kebijaksanaan.
Jika penjelmaan (terlahir
kembali) adalah layak dan patut,
Maka tidak akan Pangeran
Siddhatta Gotama melepaskan takhta kerajaan,
Dan menjelma petapa di hutan,
Demi bisa memutus belenggu
tumimbal-lahir.
Bila hukum karma seideal itu
cara ia bekerja,
Maka tidak akan Petapa Gotama
berupaya untuk memutus belenggu rantai karma.
Bila Anda merasa,
Bahwa dunia ini tidaklah
seindah apa yang dilukiskan di buku-buku dongeng,
Maka bukanlah Anda yang
bermasalah karena merasa demikian.
Sama seperti ketika Anda merasa
bahwa,
Hidup adalah dukkha,
Maka bukan artinya ada yang
salah dengan diri Anda,
Karena semua orang
mengalaminya,
Dukkha,
Tanpa terkecuali.
Karenanya,
Kita tidak perlu merampas hak-hak
orang lain,
Merampas kebahagiaan orang
lain,
Ataupun merasa cemburu ataupun
iri,
Terhadap kemakmuran hidup orang
lain.
Kita pun tidak perlu menertawakan
orang lain,
Semata karena mereka lebih
malang atau lebih lemah daripada kita,
Karena kita pun,
Tanpa terkecuali,
Terjerat oleh dukkha yang sama,
Yang mungkin baru akan disadari,
Ketika telah terpisahkan dari
apa yang mereka sayangi dan cintai,
Berkumpul dengan mereka yang ia
benci dan tidak sukai.
Tidak perlu juga,
Kita mendendam orang-orang yang
melecehkan kita,
Semata karena kita sedang dalam
kondisi lemah ataupun malang,
Karena kita menyadari betul,
Mereka pun terperangkap oleh
hal yang sama,
Dukkha.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
