Buddha Mengajarkan Dhamma Demi Belas Kasih kepada Umat Manusia Vs. Allah Mengumbar Dogma “Penghapusan Dosa” Demi Memuaskan Ego-Narsistik-nya
Question: Godaan terbesar dari setan, adalah kejahatan yang semacam apakah?
Brief
Answer: Berbuat dosa-dosa dan
meng-korupsi dosa-dosa tersebut, adalah serangkaian kejahatan hasil dari
hasutan setan. Berkat iming-iming “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”,
para pendosawan menjelma “KORUPTOR DOSA”. Bila penggoda atau penghasutnya
disebut sebagai “setan”, maka silahkan Anda nilai sendiri, seperti apakah watak
sejati dari Allah yang mengumbar iming-iming KORUP demikian.
Kini,
pertanyaan yang paling relevan ialah, untuk tujuan atau motif apakah, Allah mengumbar
iming-iming KORUP demikian serta mengobral-murah alam surga bagi para pendosa
tersebut? Tidak ada umat agama samawi yang berani secara jujur memberi
penilaian terhadap sifat Allah, karena mereka merasa takut terhadap ancaman
dogmatik Allah, dilempar ke neraka. Allah, menyerupai raja yang lalim, yang
akan senang ketika dipuja-puji, dan akan murka ketika tidak disembah.
PEMBAHASAN:
Hanya
Sang Buddha, yang memberanikan para murid-Nya untuk membuat penilaian secara
jujur, dapat kita simak Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima
Nikāya), Judul Asli : The Middle Length Discourses of the Buddha, A
Translation of the Majjhima Nikāya, translated from the Pāli to English by
Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
103
Kinti Sutta: Bagaimana Pendapat Kalian Tentang Aku?
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang
Bhagavā sedang menetap di Kusināra, di Hutan Persembahan. Di sana Beliau
memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka
menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
2. “Bagaimanakah pendapat kalian tentang Aku, para bhikkhu? Bahwa Petapa
Gotama mengajarkan Dhamma demi jubah? Atau bahwa Petapa Gotama mengajarkan
Dhamma demi makanan? Atau bahwa Petapa Gotama mengajarkan Dhamma demi tempat
tinggal? Atau bahwa Petapa Gotama mengajarkan Dhamma demi kehidupan yang lebih
baik?”
[Kitab Komentar : Bhavābhavahetu. Penerjemah
lain memaknainya sebagai, “Apakah engkau berpendapat bahwa Beliau
mengajarkan Dhamma sebagai cara untuk memperoleh jasa sehingga Beliau dapat
mengalami kebahagiaan dalam kondisi makhluk ini atau [yang lebih tinggi] itu?”]
“Kami tidak berpendapat demikian tentang Sang Bhagavā: ‘Petapa Gotama
mengajarkan Dhamma demi jubah, atau demi makanan, atau demi tempat tinggal,
atau demi kehidupan yang lebih baik.’”
“Jadi, para bhikkhu, kalian tidak berpendapat demikian tentang Aku:
‘Petapa Gotama mengajarkan Dhamma demi jubah … atau demi kehidupan yang lebih
baik.’ Maka bagaimanakah pendapat kalian tentang Aku?”
“Yang Mulia, kami berpendapat seperti berikut tentang Sang Bhagavā: ‘Sang Bhagavā berbelas
kasih dan mengusahakan kesejahteraan kami; Beliau mengajarkan Dhamma demi belas
kasih.’”
“Jadi, para bhikkhu, kalian berpendapat demikian mengenai Aku: ‘Sang
Bhagavā berbelas kasih dan mengusahakan kesejahteraan kami; Beliau mengajarkan
Dhamma demi belas kasih.’
3. “Maka, para bhikkhu, hal-hal ini yang telah Kuajarkan kepada kalian
setelah mengetahuinya secara langsung – yaitu, empat landasan perhatian, empat
jenis usaha benar, empat landasan kekuatan batin, lima indria, lima kekuatan,
tujuh [239] faktor pencerahan, Jalan Mulia Berunsur Delapan – dalam hal-hal ini
kalian semuanya harus berlatih dalam kerukunan, dengan saling menghargai, tanpa
perselisihan.
4. “Sewaktu kalian berlatih dalam kerukunan, dengan saling menghargai,
tanpa perselisihan, dua bhikkhu mungkin membuat pernyataan berbeda sehubungan
dengan Dhamma yang lebih tinggi.
[Kitab Komentar : Yang dimaksud dengan “Dhamma yang
lebih tinggi”, ialah Abhidhamma. Abhidhamma Pitaka merupakan salah satu Pitaka
pada TIpitaka. Hal tersebut merujuk pada tiga puluh tujuh bantuan pada
pencerahan yang disebutkan dalam paragraf sebelumnya.
Walaupun kata ini di sini tidak dapat merujuk pada Abhidhamma
Piṭaka – yang jelas merupakan produk pemikiran Buddhis belakangan setelah
Nikāya-Nikāya – namun menunjukkan suatu pendekatakan sistematis dan analitis
terhadap doktrin yang bertindak sebagai inti asli dari Abhidhamma Piṭaka.
Dalam suatu pembahasan saksama pada konteks di mana
kata “Abhidhamma” muncul dalam Sutta Piṭaka dari beberapa edisi terbaru, seorang Terpelajar
Bahasa Pali dari Jepang bernama Fumimaro Watanabe menyimpulkan bahwa para siswa
Sang Buddha membentuk konsep Abhidhamma sebagai pelajaran filosofi dasar untuk mendefinisikan,
menganalisa, dan mengelompokkan dhamma dan untuk mengeksplorasi saling
keterkaitannya. Baca bukunya “Philosophy and its Development in the Nikāyas
and Abhidhamma”.]
5. “Sekarang jika kalian berpendapat sebagai berikut: ‘Para mulia ini
berbeda baik dalam makna maupun kata-katanya,’ maka bhikkhu yang manapun yang
kalian anggap paling layak harus didekati dan diberitahu sebagai berikut: ‘Para
mulia ini berbeda baik dalam makna maupun kata-katanya. Para Mulia harus
mengetahui bahwa adalah karena alasan ini maka terjadi perbedaan dalam makna
dan perbedaan dalam kata-katanya; jangan biarkan mereka jatuh dalam
perselisihan.’ Kemudian bhikkhu yang manapun di pihak yang berlawanan yang
kalian anggap paling layak harus didekati dan diberitahu sebagai berikut: ‘Para
mulia ini berbeda baik dalam makna maupun kata-katanya. Para Mulia harus
mengetahui bahwa adalah karena alasan ini maka terjadi perbedaan dalam makna
dan perbedaan dalam kata-katanya; jangan biarkan mereka jatuh dalam perselisihan.’
Maka apa yang secara keliru digenggam harus diingat sebagai secara keliru
digenggam. Dengan mengingat apa yang secara keliru digenggam sebagai secara
keliru digenggam, maka apa yang merupakan Dhamma dan apa yang merupakan Disiplin
harus dijelaskan.
[Kitab Komentar : Makna (attha) dan kata-kata
(byañjana) adalah dua aspek Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha.
Paragraf berikut ini, Paragraf 5—8, harus dibandingkan dengan Digha Nikāya
29.18-21/iii.128-29, yang juga mengungkapkan kepedulian pada pelestarian makna
dan kata-kata yang benar dari Dhamma.]
6. “Sekarang jika kalian berpendapat sebagai berikut: ‘Para mulia ini
berbeda dalam makna tetapi sepakat dalam kata-kata,’ maka bhikkhu yang manapun
yang kalian anggap paling layak harus didekati dan diberitahu sebagai berikut:
‘Para mulia ini berbeda dalam makna tetapi sepakat dalam kata-kata. Para Mulia harus
mengetahui bahwa adalah karena alasan ini maka terjadi perbedaan dalam makna
tetapi terjadi kesepakatan dalam kata-katanya; jangan biarkan mereka jatuh
dalam perselisihan.’ Kemudian bhikkhu yang manapun di pihak yang berlawanan
yang kalian anggap paling layak harus didekati dan diberitahu sebagai berikut:
‘Para mulia ini berbeda dalam makna tetapi sepakat dalam kata-kata. Para Mulia
harus mengetahui bahwa adalah karena alasan ini maka terjadi perbedaan dalam
makna tetapi terjadi kesepakatan dalam kata-katanya; jangan biarkan para mulia
itu jatuh dalam perselisihan.’ [240] Maka apa yang secara keliru digenggam
harus diingat sebagai secara keliru digenggam dan apa yang secara benar
digenggam harus diingat sebagai secara benar digenggam, dan dengan mengingat
apa yang secara keliru digenggam sebagai secara keliru digenggam, dan dengan
mengingat apa yang secara benar digenggam sebagai secara benar digenggam maka
apa yang merupakan Dhamma dan apa yang merupakan Disiplin harus dijelaskan.
7. “Sekarang jika kalian berpendapat sebagai berikut: ‘Para mulia ini
sepakat dalam makna tetapi berbeda dalam kata-kata,’ maka bhikkhu yang manapun
yang kalian anggap paling layak harus didekati dan diberitahu sebagai berikut:
‘Para mulia ini sepakat dalam makna tetapi berbeda dalam kata-kata. Para Mulia harus
mengetahui bahwa adalah karena alasan ini maka terjadi kesepakatan dalam makna
tetapi terjadi perbedaan dalam kata-katanya.
Tetapi
kata-kata adalah persoalan sepele. Jangan biarkan para mulia itu jatuh dalam
perselisihan karena persoalan sepele.’ Kemudian bhikkhu yang manapun di pihak yang berlawanan yang kalian
anggap paling layak harus didekati dan diberitahu sebagai berikut: ‘Para mulia
ini sepakat dalam makna tetapi berbeda dalam kata-kata. Para Mulia harus
mengetahui bahwa adalah karena alasan ini maka terjadi kesepakatan dalam makna
tetapi terjadi perbedaan dalam kata-katanya. Tetapi kata-kata adalah persoalan
sepele. Jangan biarkan mereka jatuh dalam perselisihan karena persoalan
sepele.’ Maka apa yang secara keliru digenggam harus diingat sebagai keliru
digenggam dan apa yang secara benar digenggam harus diingat sebagai secara
benar digenggam, dan dengan mengingat apa yang secara keliru digenggam sebagai
keliru digenggam, dan dengan mengingat apa yang secara benar digenggam sebagai
benar digenggam maka apa yang merupakan Dhamma dan apa yang merupakan Disiplin
harus dijelaskan.
[Kitab Komentar : Pernyataan ini dibuat karena
sedikit penyimpangan dari kata-kata yang sebenarnya tidak harus merupakan
rintangan bagi pemahaman benar akan makna. Tetapi di tempat lain (misalnya, Anguttara
Nikāya 2:20/i.59) Sang Buddha menunjukkan bahwa ungkapan salah dari kata-kata
dan interpretasi salah dari makna adalah dua faktor yang bertanggung jawab atas
distorsi dan lenyapnya Dhamma sejati.]
8. “Sekarang jika kalian berpendapat sebagai berikut: ‘Para mulia ini
sepakat baik dalam makna maupun kata-katanya,’ maka bhikkhu yang manapun yang
kalian anggap paling layak harus didekati dan diberitahu sebagai berikut: ‘Para
mulia ini sepakat baik dalam makna maupun kata-katanya. Para Mulia harus mengetahui
bahwa adalah karena alasan ini maka terjadi kesepakatan baik dalam makna maupun
dalam kata-katanya; semoga para mulia itu tidak jatuh dalam perselisihan.’
Kemudian bhikkhu yang manapun di pihak yang berlawanan yang kalian anggap
paling layak harus didekati dan diberitahu sebagai berikut: ‘Para mulia ini
sepakat baik dalam makna maupun katakatanya. Para Mulia harus mengetahui bahwa
adalah karena alasan ini maka terjadi kesepakatan baik dalam makna maupun dalam
kata-katanya; semoga para mulia itu tidak [241] jatuh dalam perselisihan.’ Maka
apa yang secara benar digenggam harus diingat sebagai secara benar digenggam.
Dengan mengingat apa yang secara benar digenggam sebagai secara benar
digenggam, maka apa yang merupakan Dhamma dan apa yang merupakan Disiplin harus
dijelaskan.
9. “Sewaktu kalian berlatih dalam kerukunan, dengan saling menghargai,
tanpa perselisihan, seorang bhikkhu mungkin melakukan suatu pelanggaran.
[Kitab Komentar : Prinsip umum yang mendasari paragraf
10—14 adalah sebagai berikut: jika bhikkhu yang melanggar dapat direhabilitasi,
maka terlepas dari apakah hal itu akan melukainya atau seseorang akan mengalami
kerepotan, maka ia harus berusaha untuk memperbaikinya. Tetapi jika ia tidak
dapat direhabilitasi, maka seseorang seharusnya hanya mempertahankan
keseimbangannya sendiri.]
10. “Sekarang, para bhikkhu, kalian
tidak boleh terburu-buru menegurnya; melainkan, orang itu harus diperiksa sebagai berikut: ‘Aku tidak akan direpotkan dan
orang itu tidak akan terluka; karena orang itu tidak terbiasa menyerah pada kemarahan
dan kekesalan, ia tidak melekat dengan erat pada pandangannya dan ia dapat
melepaskannya dengan mudah, dan aku dapat membantu orang itu keluar dari yang
tidak bermanfaat dan mengokohkannya dalam yang bermanfaat.’ Jika kalian berpikir
demikian, para bhikkhu, maka adalah selayaknya untuk berbicara.
11. “Kemudian kalian mungkin berpikir, para bhikkhu: ‘Aku tidak akan
direpotkan, tetapi orang itu mungkin akan terluka; karena orang itu terbiasa
menyerah pada kemarahan dan kekesalan. Akan tetapi, ia tidak melekat dengan
erat pada pandangannya dan ia dapat melepaskannya dengan mudah, dan aku dapat
membantu orang itu keluar dari yang tidak bermanfaat dan mengokohkannya dalam
yang bermanfaat. Adalah hal sepele bahwa ia akan terluka, tetapi adalah lebih
penting bahwa aku dapat membantu orang itu keluar dari yang tidak bermanfaat
dan mengokohkannya dalam yang bermanfaat.’ Jika kalian berpikir demikian, para
bhikkhu, maka adalah selayaknya untuk berbicara.
12. “Kemudian kalian mungkin berpikir, para bhikkhu: ‘Aku akan
direpotkan, tetapi orang itu tidak akan terluka; karena orang itu tidak
terbiasa menyerah pada kemarahan dan kekesalan, walaupun ia melekat dengan erat
pada pandangannya dan ia sulit melepaskannya; namun aku dapat membantu orang
itu keluar dari yang tidak bermanfaat dan mengokohkannya dalam yang bermanfaat.
Adalah hal sepele bahwa aku akan direpotkan, tetapi adalah lebih penting bahwa
aku dapat membantu orang itu keluar dari yang tidak bermanfaat dan
mengokohkannya dalam yang bermanfaat.’ Jika kalian berpikir demikian, para
bhikkhu, maka adalah selayaknya untuk berbicara.
13. “Kemudian kalian mungkin berpikir, para bhikkhu: ‘Aku akan
direpotkan, dan orang itu mungkin akan terluka; [242] karena orang itu terbiasa
menyerah pada kemarahan dan kekesalan, dan ia melekat dengan erat pada
pandangannya dan ia sulit melepaskannya; namun aku dapat membantu orang itu keluar
dari yang tidak bermanfaat dan mengokohkannya dalam yang bermanfaat. Adalah hal
sepele bahwa aku akan direpotkan dan orang itu mungkin terluka, tetapi adalah
lebih penting bahwa aku dapat membantu orang itu keluar dari yang tidak
bermanfaat dan mengokohkannya dalam yang bermanfaat.’ Jika kalian berpikir
demikian, para bhikkhu, maka adalah selayaknya untuk berbicara.
14. “Kemudian
kalian mungkin berpikir, para bhikkhu: ‘Aku akan direpotkan dan orang itu
mungkin akan terluka; karena orang itu terbiasa menyerah pada kemarahan dan
kekesalan, dan ia melekat dengan erat pada pandangannya dan ia sulit melepaskannya;
dan aku tidak dapat membantu orang itu keluar dari yang tidak bermanfaat dan
tidak dapat mengokohkannya dalam yang bermanfaat.’ Seseorang sebaiknya tidak meremehkan
keseimbangan terhadap orang seperti itu.
15. “Sewaktu kalian berlatih dalam kerukunan, dengan saling menghargai,
tanpa berselisih, mungkin muncul percekcokan verbal, kesombongan dalam
pandangan-pandangan, gangguan pikiran, kekesalan, dan kesedihan. Maka bhikkhu
yang manapun yang kalian anggap paling layak yang memihak salah satu pihak harus
didekati dan diberitahu sebagai berikut: ‘Sewaktu kami berlatih dalam
kerukunan, dengan saling menghargai, tanpa berselisih, muncul percekcokan
verbal, kesombongan dalam pandangan-pandangan, gangguan pikiran, kekesalan, dan
kesedihan. Jika Sang Petapa mengetahui, apakah ia akan mencela hal itu?’ Jika
menjawab dengan benar, maka bhikkhu itu akan menjawab sebagai berikut: ‘Sewaktu
kami berlatih … Jika Sang Petapa mengetahui, maka ia akan mencela hal itu.’
[Kitab Komentar : yang dimaksud dengan “Sang Petapa”,
ialah Sang Guru, yang tidak lain merujuk pada Sang Buddha. Penggunaan kata yang
serupa terdapat pada Majjhima Nikāya 105/18, 21.]
“‘Tetapi, Teman, tanpa meninggalkan hal itu, dapatkah seseorang mencapai
Nibbāna?’ Jika menjawab dengan benar, maka bhikkhu itu akan menjawab sebagai
berikut: ‘Teman, tanpa meninggalkan hal itu, ia tidak dapat mencapai Nibbāna.’
[Kitab Komentar : “Hal itu”, yang dimaksudkan adalah
pertengkaran.]
16. “Kemudian bhikkhu yang manapun yang kalian anggap paling layak yang
memihak pada pihak yang berlawanan harus didekati dan diberitahu sebagai
berikut: ‘Sewaktu kami berlatih dalam kerukunan, dengan saling menghargai,
tanpa berselisih, mungkin muncul percekcokan verbal, kesombongan dalam pandangan-pandangan,
gangguan pikiran, kekesalan, dan kesedihan. Jika Sang Petapa mengetahui, apakah
ia akan mencela hal itu?’ Jika menjawab dengan benar, maka bhikkhu itu akan
menjawab sebagai berikut: ‘Sewaktu kami berlatih … Jika Sang Petapa mengetahui,
maka ia akan mencela hal itu.’
“‘Tetapi, Teman, tanpa meninggalkan hal itu, dapatkah seseorang mencapai
Nibbāna?’ Jika menjawab dengan benar, maka bhikkhu itu akan menjawab sebagai
berikut: [243] ‘Teman, tanpa meninggalkan hal itu, ia tidak dapat mencapai
Nibbāna.’
17. “Jika orang lain bertanya kepada bhikkhu itu sebagai berikut: ‘Apakah
Yang Mulia yang membuat para bhikkhu keluar dari yang tidak bermanfaat dan
mengokohkan mereka dalam yang bermanfaat?’ Jika menjawab dengan benar, maka
bhikkhu itu akan menjawab sebagai berikut: ‘Di sini, Teman-teman, aku menghadap
Sang Bhagavā. Sang Bhagavā mengajarkan Dhamma kepadaku. Setelah mendengarkan
Dhamma itu, aku berkata kepada para bhikkhu itu. Para bhikkhu itu mendengarkan Dhamma
itu, dan mereka keluar
dari yang tidak bermanfaat dan menjadi kokoh dalam yang bermanfaat.’ Dengan menjawab demikian, bhikkhu itu tidak
meninggikan dirinya sendiri juga tidak merendahkan orang lain; ia menjawab
sesuai dengan Dhamma sedemikian sehingga tidak memberikan landasan bagi celaan yang
dapat dengan benar disimpulkan dari pernyataannya.”
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas
dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Kini, berkebalikan dengan Buddhisme, simak bagaimana umat agama samawi
begitu mudahnya tunduk pada godaan “SATAN” (evil’s whisper)—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Telah
ternyata moralitas sang “nabi rasul Allah”, tidak lebih baik dan tidak lebih bersih
daripada para umatnya, bahkan merasa beruntung dapat bersekutu dengan sang “SATAN”—juga
masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]