Pemeluk “Agama DOSA” adalah Mustahil Mengenali manakah “Agama SUCI-Sejati” dan manakah “Agama DOSA—Bukan Sejati”

Ciri Seorang Manusia Sejati Vs. Ciri Seorang Bukan Manusia Sejati

Untuk mengetahui dan mengenali apakah seorang “nabi” adalah orang suci ataukah sebaliknya, seorang “rasul iblis”, lihatlah ciri-ciri hidupnya. Untuk mengetahui dan mengenali apakah sebuah agama adalah agama suci ataukah sebaliknya, agama kotor-jahat-tercela, tengoklah isi ajaran / dogma-dogmanya. Untuk mengetahui apakah suatu kitab adalah “Kitab SUCI” ataukah “Kitab DOSA”, maka cermatilah apakah kitab tersebut mengajarkan gaya hidup higienis dari dosa-dosa maupun maksiat ataukah justru ironisnya mempromosikan dan mengkampanyekan ideologi korup bagi kalangan pendosawan semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”—dimana dosa-dosa pun dikorupsi.

Seorang umat penganut “Agama DOSA”, tidak akan mampu membedakan manakah “Agama SUCI” dan manakah “Agama DOSA”. Karena mereka menyerupai “Orang BUTA” yang bahkan tidak mampu membedakan antara orang baik dan orang jahat, sebagaimana dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

SUTTA 110

apuṇṇama Sutta : Khotbah Pendek di Malam Purnama

1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Taman Timur, di Istana Ibunya Migāra.

2. Pada saat itu – hari Uposatha tanggal lima belas, pada malam purnama – [21] Sang Bhagavā duduk di ruang terbuka dengan dikelilingi oleh Sagha para bhikkhu. Kemudian, sambil mengamati keheningan Sagha para bhikkhu, Beliau berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut:

3. “Para bhikkhu, mungkinkah seorang bukan manusia sejati mengenali seorang bukan manusia sejati: ‘Orang ini adalah bukan manusia sejati’?” – “Tidak, Yang Mulia.” – “Bagus, para bhikkhu. Adalah mustahil, tidak mungkin, bahwa seorang bukan manusia sejati dapat mengenali seorang bukan manusia sejati: ‘Orang ini adalah bukan manusia sejati.’ Tetapi mungkinkah seorang bukan manusia sejati mengenali seorang manusia sejati: ‘Orang ini adalah manusia sejati’?” – “Tidak, Yang Mulia.” – “Bagus, para bhikkhu. Adalah mustahil, tidak mungkin, bahwa seorang bukan manusia sejati dapat mengenali seorang manusia sejati: ‘Orang ini adalah manusia sejati.’

[Asappurisa, “seorang bukan manusia sejati”. Kitab Komentar mengemasnya dengan pāpapurisa, seorang jahat.]

4. “Para bhikkhu, seorang bukan manusia sejati memiliki kualitas-kualitas buruk; ia bergaul seperti seorang bukan manusia sejati, ia berkehendak seperti seorang bukan manusia sejati, ia memberikan nasihat seperti seorang bukan manusia sejati, ia berbicara seperti seorang bukan manusia sejati, ia bertindak seperti seorang bukan manusia sejati, ia menganut pandangan-pandangan seperti seorang bukan manusia sejati, dan ia memberikan persembahan seperti seorang bukan manusia sejati.

5. “Dan bagaimanakah seorang bukan manusia sejati memiliki kualitas-kualitas buruk? Di sini seorang bukan manusia sejati tidak memiliki keyakinan, tidak memiliki rasa malu, tidak memiliki rasa takut akan perbuatan-salah; ia tidak terpelajar, malas, lengah, dan tidak bijaksana. Itu adalah bagaimana seorang bukan manusia sejati memiliki kualitas-kualitas buruk.

6. “Dan bagaimanakah seorang bukan manusia sejati bergaul seperti seorang bukan manusia sejati? Di sini seorang bukan manusia sejati berteman dengan para petapa dan brahmana yang tidak memiliki keyakinan, tidak memiliki rasa malu, tidak memiliki rasa takut akan perbuatan-salah; yang tidak terpelajar, malas, lengah, dan tidak bijaksana. Itu adalah bagaimana seorang bukan manusia sejati bergaul seperti seorang bukan manusia sejati.

7. “Dan bagaimanakah seorang bukan manusia sejati berkehendak seperti seorang bukan manusia sejati? Di sini seorang bukan manusia sejati menghendaki penderitaannya sendiri, menghendaki penderitaan makhluk lain, atau menghendaki penderitaan keduanya. Itu adalah bagaimana seorang bukan manusia sejati berkehendak seperti seorang bukan manusia sejati.

8. “Dan bagaimanakah seorang bukan manusia sejati memberikan nasihat seperti seorang bukan manusia sejati? Di sini seorang bukan manusia sejati memberikan nasihat demi penderitaannya sendiri, demi penderitaan makhluk lain, atau demi penderitaan keduanya. [22] Itu adalah bagaimana seorang bukan manusia sejati memberikan nasihat seperti seorang bukan manusia sejati.

9. “Dan bagaimanakah seorang bukan manusia sejati berbicara seperti seorang bukan manusia sejati? Di sini seorang bukan manusia sejati mengucapkan kebohongan, mengucapkan fitnah, mengucapkan kata-kata kasar, dan bergosip. Itu adalah bagaimana seorang bukan manusia sejati berbicara seperti seorang bukan manusia sejati.

10. “Dan bagaimanakah seorang bukan manusia sejati bertindak seperti seorang bukan manusia sejati? Di sini seorang bukan manusia sejati membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, dan berperilaku salah dalam kenikmatan indria. Itu adalah bagaimana seorang bukan manusia sejati bertindak seperti seorang bukan manusia sejati.

11. “Dan bagaimanakah seorang bukan manusia sejati menganut pandangan-pandangan seperti seorang bukan manusia sejati? Di sini seorang bukan manusia sejati menganut pandangan sebagai berikut: ‘Tidak ada yang diberikan, tidak ada yang dipersembahkan, tidak ada yang dikorbankan; tidak ada buah atau akibat dari perbuatan baik dan buruk; tidak ada dunia ini, tidak ada dunia lain; tidak ada ibu, tidak ada ayah; tidak ada makhluk-makhluk yang terlahir kembali secara spontan; tidak ada para petapa dan brahmana yang baik dan mulia di dunia ini yang telah menembus oleh diri mereka sendiri dengan pengetahuan langsung dan menyatakan dunia ini dan dunia lain.’ Itu adalah bagaimana seorang bukan manusia sejati menganut pandangan-pandangan seperti seorang bukan manusia sejati.

12. “Dan bagaimanakah seorang bukan manusia sejati memberikan persembahan seperti seorang bukan manusia sejati? Di sini seorang bukan manusia sejati memberikan persembahan secara ceroboh, memberikan bukan dengan tangannya sendiri, memberikan tanpa menunjukkan penghormatan, memberikan apa yang seharusnya dibuang, memberikan dengan pandangan bahwa tidak ada yang dihasilkan dari pemberian itu. Itu adalah bagaimana seorang bukan manusia sejati memberikan persembahan seperti seorang bukan manusia sejati.

13. “Seorang bukan manusia sejati itu – yang memiliki kualitas-kualitas buruk demikian, yang bergaul seperti seorang bukan manusia sejati, berbicara seperti seorang bukan manusia sejati, bertindak seperti seorang bukan manusia sejati, menganut pandangan-pandangan seperti seorang bukan manusia sejati, dan memberikan persembahan seperti seorang bukan manusia sejati demikian – ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan muncul kembali di alam tujuan kelahiran seorang bukan manusia sejati. Dan apakah alam tujuan kelahiran seorang bukan manusia sejati? Adalah neraka atau alam binatang.

14. “Para bhikkhu, mungkinkah seorang manusia sejati mengenali seorang manusia sejati: ‘Orang ini adalah manusia sejati’?” [23] – “Mungkin, Yang Mulia.” – “Bagus, para bhikkhu. Adalah mungkin, bahwa seorang manusia sejati dapat mengenali seorang manusia sejati: ‘Orang ini adalah manusia sejati.’ Tetapi mungkinkah seorang manusia sejati mengenali seorang bukan manusia sejati: ‘Orang ini adalah bukan manusia sejati’?” – “Mungkin, Yang Mulia.” – “Bagus, para bhikkhu. Adalah mungkin, bahwa seorang manusia sejati dapat mengenali seorang bukan manusia sejati: ‘Orang ini adalah bukan manusia sejati.’

15. “Para bhikkhu, seorang manusia sejati memiliki kualitas-kualitas baik; ia bergaul seperti seorang manusia sejati, ia berkehendak seperti seorang manusia sejati, ia memberikan nasihat seperti seorang manusia sejati, ia berbicara seperti seorang manusia sejati, ia bertindak seperti seorang manusia sejati, ia menganut pandangan-pandangan seperti seorang manusia sejati, dan ia memberikan persembahan seperti seorang manusia sejati.

16. “Dan bagaimanakah seorang manusia sejati memiliki kualitas-kualitas baik? Di sini seorang manusia sejati memiliki keyakinan, memiliki rasa malu, memiliki rasa takut akan perbuatan-salah; ia terpelajar, bersemangat, penuh perhatian, dan bijaksana. Itu adalah bagaimana seorang manusia sejati memiliki kualitas-kualitas baik.

17. “Dan bagaimanakah seorang manusia sejati bergaul seperti seorang manusia sejati? Di sini seorang manusia sejati berteman dengan para petapa dan brahmana yang memiliki keyakinan, memiliki rasa malu, memiliki rasa takut akan perbuatan-salah; yang terpelajar, bersemangat, penuh perhatian, dan bijaksana. Itu adalah bagaimana seorang manusia sejati bergaul seperti seorang manusia sejati.

18. “Dan bagaimanakah seorang manusia sejati berkehendak seperti seorang manusia sejati? Di sini seorang manusia sejati tidak menghendaki penderitaannya sendiri, tidak menghendaki penderitaan makhluk lain, dan tidak menghendaki penderitaan keduanya. Itu adalah bagaimana seorang manusia sejati berkehendak seperti seorang manusia sejati.

19. “Dan bagaimanakah seorang manusia sejati memberikan nasihat seperti seorang manusia sejati? Di sini seorang manusia sejati tidak memberikan nasihat demi penderitaannya sendiri, tidak demi penderitaan makhluk lain, dan tidak demi penderitaan keduanya. Itu adalah bagaimana seorang manusia sejati memberikan nasihat seperti seorang manusia sejati.

20. “Dan bagaimanakah seorang manusia sejati berbicara seperti seorang manusia sejati? Di sini seorang manusia sejati menghindari mengucapkan kebohongan, menghindari mengucapkan fitnah, menghindari mengucapkan kata-kata kasar, dan menghindari bergosip. Itu adalah bagaimana seorang manusia sejati berbicara seperti seorang manusia sejati.

21. “Dan bagaimanakah seorang manusia sejati bertindak seperti seorang manusia sejati? Di sini seorang manusia sejati menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, [24] dan menghindari berperilaku salah dalam kenikmatan indria. Itu adalah bagaimana seorang manusia sejati bertindak seperti seorang manusia sejati.

22. “Dan bagaimanakah seorang manusia sejati menganut pandangan-pandangan seperti seorang manusia sejati? Di sini seorang manusia sejati menganut pandangan seperti berikut: ‘Ada yang diberikan dan ada yang dipersembahkan dan ada yang dikorbankan; ada buah atau akibat dari perbuatan baik dan buruk; ada dunia ini, ada dunia lain; ada ibu dan ayah; ada makhluk-makhluk yang terlahir kembali secara spontan; ada para petapa dan brahmana yang baik dan mulia di dunia ini yang telah menembus oleh diri mereka sendiri dengan pengetahuan langsung dan menyatakan dunia ini dan dunia lain.’ Itu adalah bagaimana seorang manusia sejati menganut pandangan-pandangan seperti seorang manusia sejati.

23. “Dan bagaimanakah seorang manusia sejati memberikan persembahan seperti seorang manusia sejati? Di sini seorang manusia sejati memberikan persembahan secara saksama, memberikan dengan tangannya sendiri, memberikan dengan menunjukkan penghormatan, memberikan persembahan yang berharga, memberikan dengan pandangan bahwa ada yang dihasilkan dari pemberian itu. Itu adalah bagaimana seorang manusia sejati memberikan persembahan seperti seorang manusia sejati.

24. “Seorang manusia sejati itu – yang memiliki kualitas-kualitas baik demikian, yang bergaul seperti seorang manusia sejati, berbicara seperti seorang manusia sejati, bertindak seperti seorang manusia sejati, menganut pandangan-pandangan seperti seorang manusia sejati, dan memberikan persembahan seperti seorang manusia sejati demikian – ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan muncul kembali di alam tujuan kelahiran seorang manusia sejati. Dan apakah alam tujuan kelahiran seorang manusia sejati? Kemuliaan di antara para dewa atau kemuliaan di antara manusia.

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.

Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, hanya orang-orang dangkal, hina, rendah, busuk, kotor, dan tercela yang tertarik memeluk ajaran yang juga dangkal, hina, rendah, busuk, kotor, serta tercela—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak menceramahi serta menghakimi manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga. Kini, silahkan nilai dengan nurani serta akal-sehat maupun pikiran-jernih Anda sendiri, apakah sang “nabi rasul Allah” memiliki ciri-ciri seorang manusia sejati dan suci, ataukah sebaliknya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]