Mengapa Orang Suci, Cenderung Mengasingkan Diri, Terasing dari Duniawi, dan Tampak Terisolir?

Allah as a Tool of Muhammad, Allah sebagai “Alat Pemuas Nafsu” Muhammad yang Tergila-gila Kecanduan pada Dosa-Dosa dan Maksiat

Siswa Sang Buddha Condong pada SURGA dan NIBBĀNA Vs. Pengikut Agama Samawi Condong pada NERAKA

Perilaku Rendah dan Hina Semacam “PENGHAPUSAN DOSA”, Pelakunya Condong ke Alam Rendah HEWAN, SETAN, dan NERAKA

NAFSU, MABUK, TERGILA-GILA, serta KECANDUAN DOSA-DOSA / MAKSIAT, Condong pada “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”—menjelma BUDAK “AGAMA DOSA” dan KORUPTOR DOSA dimana Dosa-Dosa pun DIkorupsi

Question : Setelah saya pelajari isi ajaran islam dari sumber otentiknya, yakni alquran dan hadis yang dinyatakan sahih, telah ternyata nabi junjungan para muslim, muhammad, memperalat dan mengeksploitasi allah, dimana allah dengan bodohnya bersedia dijadikan “alat pemuas nafsu” sang nabi yang tergila-gila dan kecanduan pada dosa-dosa dan maksiat. Apakah motivasi banyak penjahat masuk islam, ialah dilandasi motif yang serupa dengan motivasi sang nabi, yakni kecanduan dosa-dosa untuk dihapuskan?

Brief Answer : Antara “MEMBUAT DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” dan “PENGHAPUSAN DOSA”, ialah saling bundling satu sama lainnya, ibarat sikat gigi dan pasta gigi yang saling komplomenter satu sama lainnya tanpa dapat dipisahkan. Karenanya, pecandu “PENGHAPUSAN DOSA” merupakan juga seorang pecandu “DOSA-DOSA DAN MAKSIAT”. Ketika Allah meng-halal-kan ideologi KORUP semacam “PENGHAPUSAN DOSA”, maka secara terselubung Allah telah pula meng-halal-kan “DOSA-DOSA maupun MAKSIAT” dan disaat bersamaan “menjilat ludah sendiri” (hipokrit) melarang ini dan itu, mengharamkan ini dan itu. Sang nabi rasul allah, merujuk pada sumber otentik agama islam, ialah tidak lain tidak bukan merupakan seorang “PECANDU-BERAT DOSA-DOSA DAN MAKSIAT” karenanya juga ia merupakan seorang “PENDOSA PECANDU-BERAT PENGHAPUSAN DOSA”.

PEMBAHASAN:

Orang suci, tidak akan pernah cocok dengan islam maupun para muslim, karena ibarat air dan api, tidak akan pernah bersenyawa, sebagaimana dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

SUTTA 105

Sunakkhatta Sutta : Kepada Sunakkhatta

[252] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Vesālī di Hutan Besar di Aula Beratap Lancip.

2. Pada saat itu sejumlah bhikkhu telah menyatakan pengetahuan akhir di hadapan Sang Bhagavā sebagai berikut: “Kami memahami: Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.”

3. Sunakkhatta, putera Licchavi, mendengar: “Sepertinya sejumlah bhikkhu telah menyatakan pengetahuan akhir di hadapan Sang Bhagavā sebagai berikut: ‘Kami memahami: Kelahiran telah dihancurkan … tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’” Kemudian Sunakkhatta, putera Licchavi, menghadap Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā:

[Kitab Komentar : Sunakkhatta Sutta (MN 105) telah dibabarkan kepadanya oleh Sang Buddha, jelas sebelum ia bergabung dalam Sangha; kisah mengenai peralihannya dijelaskan dalam Pāika Sutta (Dīgha Nikāya 24). Ia menjadi tidak puas dan meninggalkan Sangha karena Sang Buddha tidak memperlihatkan kesaktian apapun padanya atau menjelaskan kepadanya tentang awal dari segala sesuatu. Baca Majjhima Nikāya 12.]

4. “Aku telah mendengar, Yang Mulia, bahwa sejumlah bhikkhu telah menyatakan pengetahuan akhir di hadapan Sang Bhagavā. Apakah mereka benar-benar telah mencapainya atau adakah beberapa bhikkhu di sini yang menyatakan pengetahuan akhir karena menilai diri mereka terlalu tinggi?”

5. “Ketika para bhikkhu itu, Sunakkhatta, menyatakan pengetahuan akhir di hadapanKu, ada beberapa bhikkhu yang benar-benar telah mencapai pengetahuan akhir dan ada beberapa yang menyatakan telah mencapai pengetahuan akhir karena menilai diri mereka terlalu tinggi. Di sana, ketika para bhikkhu menyatakan pengetahuan akhir karena benar-benar telah mencapainya, maka pernyataan mereka adalah benar. Tetapi ketika para bhikkhu menyatakan pengetahuan akhir karena menilai diri mereka terlalu tinggi, Sang Tathāgata berpikir: ‘Aku harus mengajarkan Dhamma kepada mereka.’ Demikianlah dalam hal ini, Sunakkhatta, Sang Tathāgata berpikir: ‘Aku harus mengajarkan Dhamma kepada mereka.’ Tetapi beberapa orang sesat di sini menyusun pertanyaan, menghadap Sang Tathāgata, dan mengajukannya. Dalam hal ini, Sunakkhatta, [253] walaupun Sang Tathāgata telah berpikir: ‘Aku harus mengajarkan Dhamma kepada mereka,’ namun Beliau berubah pikiran.”

[Kitab Komentar : Adhimānena, “menilai diri mereka terlalu tinggi”. Mereka menyatakan itu karena keangkuhan, menganggap mereka telah mencapai apa yang sebetulnya belum mereka capai.

Ketika para bhikkhu menyatakan pengetahuan akhir karena menilai diri mereka terlalu tinggi, Sang Buddha akan mengajarkan Dhamma kepada mereka sehingga benar-benar merealisasinya sesuai dengan pernyataan tingkat pencapaian mereka.

Karena mereka (beberapa orang sesat) termotivasi oleh keinginan, pikiran Sang Tathāgata untuk mengajarkan Dhamma, yang muncul terhadap para praktisi sejati, menjadi berubah (yaitu, memudar).]

6. “Sekarang adalah waktunya, Sang Bhagavā, sekarang adalah waktunya, Yang Sempurna, bagi Sang Bhagavā untuk mengajarkan Dhamma. Setelah mendengarnya dari Sang Bhagavā, para bhikkhu akan mengingatnya.”

“Maka dengarkanlah, Sunakkhatta, dan perhatikanlah pada apa yang akan Kukatakan.”

“Baik, Yang Mulia,” Sunakkhatta, putera Licchavi, menjawab Sang Bhagavā. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

7. “Ada, Sunakkhatta, lima utas kenikmatan indria ini. Apakah lima ini? Bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Suara-suara yang dikenali oleh telinga ... bau-bauan yang dikenali oleh hidung ... rasa kecapan yang dikenali oleh lidah ... objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Ini adalah lima utas kenikmatan indria.

8. “Adalah mungkin, Sunakkhatta, bahwa seseorang di sini mungkin condong pada hal-hal materi duniawi. Ketika seseorang condong pada hal-hal materi duniawi, hanya pembicaraan sehubungan dengan hal itu yang menarik perhatiannya, dan pikiran dan renungannya selaras dengan hal-hal itu, dan ia bergaul dengan orang-orang sejenis, dan ia mendapatkan kepuasan dalam hal-hal itu. Tetapi ketika pembicaraan mengenai ketanpa-gangguan sedang berlangsung, ia tidak mendengarkannya atau menyimaknya atau mengarahkan pikirannya untuk memahaminya, ia tidak bergaul dengan orang demikian, dan ia tidak mendapatkan kepuasan dalam hal itu.

[Kitab Komentar : Lokāmisa, “condong pada hal-hal materi duniawi”. Ini adalah lima utas kenikmatan indria. Itulah juga sebabnya, ketika tingkat moralitas suatu penduduk dunia telah demikian merosot, maka kecenderungannya Buddhisme kian menjelma minoritas, dan Dhamma terancam punah, dan aDhamma mendominasi dunia.]

9. “Misalkan, Sunakkhatta, seseorang telah lama meninggalkan desa atau kota asalnya, dan ia bertemu dengan orang lain yang baru saja meninggalkan desa atau kota itu. Ia akan menanyakan kepada orang itu apakah para penduduk desa atau kota itu selamat, makmur, dan sehat, dan orang itu akan memberitahukan kepadanya apakah para penduduk desa atau kota itu selamat, makmur, [254] dan sehat. Bagaimana menurutmu, Sunakkhatta? Apakah orang pertama akan mendengarkannya, dan mengarahkan pikirannya untuk memahami?” – “Benar, Yang Mulia.” – “Demikian pula, Sunakkhatta, adalah mungkin bahwa seseorang di sini mungkin condong pada hal-hal materi duniawi. Ketika seseorang condong pada hal-hal materi duniawi … dan ia tidak mendapatkan kepuasan dalam hal itu. Ia harus dipahami sebagai seorang yang condong pada hal-hal materi duniawi.

10. “Adalah mungkin, Sunakkhatta, bahwa seseorang di sini mungkin condong pada ketanpa-gangguan. Ketika seseorang condong pada ketanpa-gangguan, hanya pembicaraan sehubungan dengan hal itu yang menarik perhatiannya, dan pikiran dan renungannya selaras dengan hal-hal itu, dan ia bergaul dengan orang-orang sejenis, dan ia mendapatkan kepuasan dalam hal-hal itu. Tetapi ketika pembicaraan mengenai hal-hal materi duniawi sedang berlangsung, ia tidak mendengarkannya atau menyimaknya atau mengarahkan pikirannya untuk memahaminya, ia tidak bergaul dengan orang demikian, dan ia tidak mendapatkan kepuasan dalam hal itu.

[Kitab Komentar : Āneñja (BBS); ānañja (PTS), “condong pada ketanpa-gangguan”. Ini adalah istilah teknis untuk pencapaian-pencapaian meditatif dari jhāna ke empat melalui empat pencapaian tanpa materi. Tetapi karena dua pencapaian tanpa materi yang tertinggi dibahas secara terpisah, sepertinya bahwa dalam sutta ini hanya jhāna ke empat dan dua pencapaian tanpa materi yang lebih rendah yang dimaksudkan sebagai “ketanpa-gangguan.”

Karena itulah juga, dua orang dengan orientasi duniawi dan yang orientasinya melampaui duniawi, bagaikana hidup di dua dunia yang berbeda. Yang disebut terakhir, tampak seakan “terasing”, karena memang orientasinya ialah “terasing dari keinginan indria”.]

11. “Bagaikan sehelai daun yang telah menguning yang gugur dari tangkainya tidak mampu menjadi hijau kembali, demikian pula, Sunakkhatta, ketika seseorang condong pada ketanpa-gangguan ia telah menghalau belenggu hal-hal materi duniawi. Ia harus dipahami sebagai seorang yang terlepas dari belenggu hal-hal materi duniawi yang condong pada ketanpa-gangguan.

[Komentar : Masyarakat awam pada umumnya yang tidak memahami “psikologi dibalik Dhamma”, akan cenderung menghakimi orang-orang dengan orientasi “terasing dari duniawi”, kerap menghakimi mereka sebagai “anti-sosial”. Faktanya, adalah “normal adanya” seorang introvert, suatu kebalikan sifat ekstrovert. Sama halnya, tiada hak bagi seseorang dengan orientasi yang melekat pada “keinginan duniawi” maupun “kenikmatan indria” untuk menghakimi mereka yang memiliki kecenderungan / tendensi “terasing dari keinginan duniawi”. Semakin tinggi tingkat pencapaian spiritual seseorang, adalah wajar bila lingkaran pergaulannya semakin sempit, sebagaimana terjelaskan dalam paragraf di bawah. Ia akan semakin terasing dan tampak “mengisolir diri”.]

12. “Adalah mungkin, Sunakkhatta, bahwa seseorang di sini mungkin condong pada landasan kekosongan. Ketika seseorang condong pada landasan kekosongan, hanya pembicaraan sehubungan dengan hal itu yang menarik perhatiannya, dan pikiran dan renungannya selaras dengan hal-hal itu, dan ia bergaul dengan orang-orang sejenis, dan ia mendapatkan kepuasan dalam hal-hal itu. [255] Tetapi ketika pembicaraan mengenai ketanpa-gangguan sedang berlangsung, ia tidak mendengarkannya atau menyimaknya atau mengarahkan pikirannya untuk memahaminya. Ia tidak bergaul dengan orang demikian, dan ia tidak mendapatkan kepuasan dalam hal itu.

13. “Bagaikan sebutir batu besar yang pecah menjadi dua tidak dapat digabungkan kembali menjadi satu, demikian pula, Sunakkhatta, ketika seseorang condong pada landasan kekosongan maka belenggu ketanpa-gangguan telah dipecahkan. Ia harus dipahami sebagai seorang yang terlepas dari belenggu ketanpa-gangguan yang condong pada landasan kekosongan

14. “Adalah mungkin, Sunakkhatta, bahwa seseorang di sini mungkin condong pada landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Ketika seseorang condong pada landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, hanya pembicaraan sehubungan dengan hal itu yang menarik perhatiannya, dan pikiran dan renungannya selaras dengan hal-hal itu, dan ia bergaul dengan orang-orang sejenis, dan ia mendapatkan kepuasan dalam hal-hal itu. Tetapi ketika pembicaraan mengenai landasan kekosongan sedang berlangsung, ia tidak mendengarkannya atau menyimaknya atau mengarahkan pikirannya untuk memahaminya. Ia tidak bergaul dengan orang demikian, dan ia tidak mendapatkan kepuasan dalam hal itu.

15. “Misalkan seseorang telah memakan makanan lezat dan memuntahkannya. Bagaimana menurutmu, Sunakkhatta? Apakah orang itu berkeinginan untuk memakannya lagi?

“Tidak, Yang Mulia. Mengapakah? Karena makanan itu dianggap menjijikkan.”

Demikian pula, Sunakkhatta, ketika seseorang condong pada landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, belenggu landasan kekosongan telah ditolak. Ia harus dipahami sebagai seorang yang terlepas dari belenggu landasan kekosongan dan yang condong pada landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.

16. “Adalah mungkin, Sunakkhatta, bahwa seseorang di sini mungkin condong pada Nibbāna. Ketika seseorang condong pada Nibbāna, hanya pembicaraan sehubungan dengan hal itu yang menarik perhatiannya, dan pikiran dan renungannya selaras dengan hal-hal itu, dan ia bergaul dengan orang-orang sejenis, dan ia mendapatkan kepuasan dalam hal-hal itu. Tetapi ketika pembicaraan mengenai landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi sedang berlangsung, [256] ia tidak mendengarkannya atau menyimaknya atau mengarahkan pikirannya untuk memahaminya. Ia tidak bergaul dengan orang demikian, dan ia tidak mendapatkan kepuasan dalam hal itu.

17. “Bagaikan sebatang pohon palem yang pucuknya dipotong menjadi tidak mampu tumbuh lagi, demikian pula, ketika seseorang sepenuhnya condong pada Nibbāna, belenggu landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi telah dipotong – terpotong di akarnya, dibuat menjadi tunggul pohon, dihancurkan sehingga tidak lagi muncul di masa depan. Ia harus dipahami sebagai seorang yang terlepas dari belenggu landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi yang sepenuhnya condong pada Nibbāna.

18. “Adalah mungkin, Sunakkhatta, bahwa seorang bhikkhu di sini mungkin berpikir sebagai berikut: ‘Ketagihan telah disebut sebagai anak panah oleh Sang Petapa; cairan beracun ketidak-tahuan telah dilumurkan oleh keinginan, nafsu, dan permusuhan. Anak panah ketagihan itu telah disingkirkan dari diriku; cairan beracun ketidak-tahuan telah dikeluarkan. Aku adalah seorang yang sepenuhnya condong pada Nibbāna.’ Karena ia menganggap dirinya demikian, walaupun berlawanan dengan fakta, ia mungkin mengikuti hal-hal itu yang tidak selayaknya bagi seorang yang sepenuhnya condong pada Nibbāna. Ia mungkin dengan matanya mengikuti pemandangan bentuk-bentuk yang tidak selayaknya, ia mungkin dengan telinganya mengikuti suara-suara yang tidak selayaknya, dengan hidungnya mengikuti bau-bauan yang tidak selayaknya, dengan lidahnya mengikuti rasa kecapan yang tidak selayaknya, dengan badannya mengikuti objek-objek sentuhan yang tidak selayaknya, atau dengan pikirannya mengikuti objek-objek pikiran yang tidak selayaknya. Ketika ia dengan mata mengikuti pemandangan bentuk-bentuk yang tidak selayaknya … dengan pikirannya mengikuti objek-objek pikiran yang tidak selayaknya, maka nafsu akan menyerbu pikirannya. Dengan pikirannya diserbu oleh nafsu, maka ia akan mengalami kematian atau penderitaan mematikan.

[Kitab Komentar : “Sang Petapa” di atas, merujuk pada sosok Sang Buddha itu sendiri.

Evamāni assa atatha samāna, “Karena ia menganggap dirinya demikian, walaupun berlawanan dengan fakta”. Penerjemah lain menyarankan atatha samāna mungkin berbentuk akusatif absolut. Paragraf ini merujuk kembali kepada persoalan terlalu tinggi menilai diri sendiri yang dengannya khotbah dimulai.]

19. “Misalkan, Sunakkhatta, seseorang terluka oleh anak panah beracun, dan teman-teman dan sahabatnya, sanak saudara dan kerabatnya, membawa seorang ahli bedah. Ahli bedah itu membedah luka itu dengan pisau, memeriksa anak panah itu dengan alat periksa, [257] kemudian ia mencabut anak panah itu dan mengeluarkan cairan beracun dengan meninggalkan sisa-sisa racun itu. Karena berpikir bahwa tidak ada sisa-sisa racun yang tertinggal, ia berkata: ‘Tuan, anak panah telah dicabut dari tubuhmu; cairan beracun telah dikeluarkan tanpa meninggalkan sisa, dan tidak dapat mencelakaimu. Makanlah hanya makanan-makanan yang layak; jangan memakan makanan yang tidak layak agar luka itu tidak bernanah. Dari waktu ke waktu cucilah luka itu dan dari waktu ke waktu olesi luka itu dengan salep agar nanah dan darah tidak menutupi luka itu. Jangan berjalan terpapar oleh angin dan matahari agar debu dan tanah tidak menginfeksi luka itu. Rawatlah luka itu, Tuan, dan uruslah luka itu hingga sembuh.’

[Kitab Komentar : Ahli bedah melambangkan Sang Tathāgata, dan teks tidak dapat menganggap bahwa Sang Buddha melakukan kesalahan penilaian.]

20. “Orang itu akan berpikir: ‘Anak panah telah dicabut dari tubuhku; cairan beracun telah dikeluarkan tanpa meninggalkan sisa, dan tidak dapat mencelakaiku.’ Ia memakan makanan yang tidak layak, dan luka itu bernanah. Dari waktu ke waktu ia tidak mencuci lukanya dan dari waktu ke waktu ia tidak mengolesi lukanya dengan salep, dan nanah dan darah menutupi lukanya. Ia berjalan dengan terpapar oleh angin dan matahari, dan debu dan tanah menginfeksi luka itu. Ia tidak merawat luka itu dan mengurusnya hingga sembuh. Kemudian, karena ia melakukan yang tidak selayaknya dan karena sisa cairan beracun yang tertinggal, luka itu membengkak, dan dengan pembengkakan itu ia akan mengalami kematian atau penderitaan mematikan.

21. “Demikian pula, Sunakkhatta, adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu di sini berpikir sebagai berikut: ‘Ketagihan telah disebut sebagai anak panah oleh Sang Petapa; cairan beracun ketidak-tahuan telah dilumurkan oleh keinginan, nafsu, dan permusuhan. Anak panah ketagihan itu telah disingkirkan dari diriku; [258] cairan beracun ketidak-tahuan telah dikeluarkan. Aku adalah seorang yang sepenuhnya condong pada Nibbāna.’ Karena ia menganggap dirinya demikian, walaupun berlawanan dengan fakta, ia mungkin mengikuti hal-hal itu yang tidak selayaknya bagi seorang yang sepenuhnya condong pada Nibbāna(seperti di atas)maka nafsu akan menyerbu pikirannya, ia akan mengalami kematian atau penderitaan mematikan.

22. “Karena adalah kematian dalam Disiplin Para Mulia, Sunakkhatta, ketika seseorang meninggalkan latihan dan kembali ke kehidupan rendah; dan adalah penderitaan mematikan ketika seseorang Yang melakukan pelanggaran yang mengotori.

[Kitab Komentar : Pelanggaran apapun dalam dua kelompok, pārājika dan sanghādisesa. Suatu pelanggaran yang melibatkan kekalahan, pelanggaran pārājika, mengharuskan pengusiran dari Sagha. Suatu pelanggaran yang berbatasan dengan kekalahan adalah pelanggaran sanghādisesa, yang memerlukan sidang resmi Sagha dan suatu periode hukuman sementara, atau tahap awal yang mengarah pada pelanggaran pārājika.

Analogi ini sulit diterapkan dengan tepat, karena jika ketagihan dan ketidak-tahuan telah benar-benar dilenyapkan dalam dirinya dengan hanya sisa-sisa yang tertinggal, maka bhikkhu itu adalah seorang sekha; namun tidak mungkin bahwa seorang sekha dapat meninggalkan latihan atau melakukan pelanggaran yang mengotori. Sepertinya dalam kasus ini analogi ini harus diterapkan secara longgar, dan bhikkhu itu harus dipahami sebagai seorang yang secara keliru membayangkan bahwa ketagihan dan ketidak-tahuan telah dilenyapkan dalam dirinya.]

23. “Adalah mungkin, Sunakkhatta, bahwa seorang bhikkhu di sini mungkin berpikir sebagai berikut: ‘Ketagihan telah disebut sebagai anak panah oleh Sang Petapa; cairan beracun ketidak-tahuan telah dilumurkan oleh keinginan, nafsu, dan permusuhan. Anak panah ketagihan itu telah disingkirkan dari diriku; cairan beracun ketidak-tahuan telah dikeluarkan. Aku adalah seorang yang sepenuhnya condong pada Nibbāna.’ Sebagai seorang yang sungguh-sungguh sepenuhnya condong pada Nibbāna, ia tidak mengikuti hal-hal yang tidak selayaknya bagi seorang yang sepenuhnya condong pada Nibbāna. Ia tidak dengan matanya mengikuti pemandangan bentuk-bentuk yang tidak selayaknya, ia tidak dengan telinganya mengikuti suara-suara yang tidak selayaknya, tidak dengan hidungnya mengikuti bau-bauan yang tidak selayaknya, tidak dengan lidahnya mengikuti rasa kecapan yang tidak selayaknya, tidak dengan badannya mengikuti objek-objek sentuhan yang tidak selayaknya, dan tidak dengan pikirannya mengikuti objek-objek pikiran yang tidak selayaknya. Karena ia tidak dengan mata mengikuti pemandangan bentuk-bentuk yang tidak selayaknya … tidak dengan pikirannya mengikuti objek-objek pikiran yang tidak selayaknya, maka nafsu tidak menyerbu pikirannya. [259] Karena nafsu tidak menyerbu pikirannya, maka ia tidak mengalami kematian atau penderitaan mematikan.

24. “Misalkan, Sunakkhatta, seseorang terluka oleh anak panah beracun, dan teman-teman dan sahabatnya, sanak saudara dan kerabatnya, membawa seorang ahli bedah. Ahli bedah itu membedah luka itu dengan pisau, memeriksa anak panah itu dengan alat periksa, kemudian ia mencabut anak panah itu dan mengeluarkan cairan beracun tanpa meninggalkan sisa-sisa racun itu. Mengetahui bahwa tidak ada sisa-sisa racun yang tertinggal, ia berkata: ‘Tuan, anak panah telah dicabut dari tubuhmu; cairan beracun telah dikeluarkan tanpa meninggalkan sisa, dan tidak dapat mencelakaimu. Makanlah hanya makanan-makanan yang layak; jangan memakan makanan yang tidak layak agar luka itu tidak bernanah. Dari waktu ke waktu cucilah luka itu dan dari waktu ke waktu oleskan luka itu dengan salep, sehingga nanah dan darah tidak menutupi luka itu. Jangan berjalan terpapar oleh angin dan matahari agar debu dan tanah tidak menginfeksi luka itu. Rawatlah luka itu, Tuan, dan uruslah luka itu hingga sembuh.’

25. “Orang itu akan berpikir: ‘Anak panah telah dicabut dari tubuhku; cairan beracun telah dikeluarkan tanpa meninggalkan sisa, dan tidak dapat mencelakaiku.’ Ia memakan hanya makanan yang layak, dan luka itu tidak bernanah. Dari waktu ke waktu ia mencuci lukanya dan dari waktu ke waktu ia mengolesi lukanya dengan salep, dan nanah dan darah tidak menutupi lukanya. Ia tidak berjalan dengan terpapar oleh angin dan matahari, dan debu dan tanah tidak menginfeksi luka itu. Ia merawat luka itu dan mengurusnya hingga sembuh. Kemudian, karena ia melakukan yang selayaknya dan karena tidak ada sisa cairan beracun yang tertinggal, luka itu sembuh, dan dengan kesembuhan itu dan tertutup kulit, ia tidak akan mengalami kematian atau penderitaan mematikan.

26. “Demikian pula, Sunakkhatta, adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu di sini berpikir sebagai berikut: ‘Ketagihan telah disebut sebagai anak panah oleh Sang Petapa; [260] cairan beracun ketidak-tahuan telah dilumurkan oleh keinginan, nafsu, dan permusuhan. Anak panah ketagihan itu telah disingkirkan dari diriku; cairan beracun ketidak-tahuan telah dikeluarkan. Aku adalah seorang yang sepenuhnya condong pada Nibbāna.’ Sebagai seorang yang sungguh-sungguh sepenuhnya condong pada Nibbāna, ia tidak mengikuti hal-hal yang tidak selayaknya bagi seorang yang sepenuhnya condong pada Nibbāna … (seperti di atas)Karena nafsu tidak menyerbu pikirannya, maka ia tidak mengalami kematian atau penderitaan mematikan.

[Komentar : Sebuah kecondongan bersifat mengarahkan pada satu tujuan. Ketika seseorang dalam perjalanannya kemudian teralih dari fokus tujuan perjalanannya, kemudian mengambil jalan yang menyimpang, tetap saja ia tidak akan sampai pada tujuannya semula, atau mungkin meninggal akibat hal-hal yang tidak relevan sebelum tiba pada tujuan. Hanya dengan konsistensi kepada arah tujuan, barulah seseorang dapat mencapai tujuan.]

27. “Sunakkhatta, Aku memberikan perumpamaan ini untuk menyampaikan maknanya. Maknanya adalah sebagai berikut: ‘Luka’ adalah sebutan bagi enam landasan indria internal. ‘Cairan beracun’ adalah sebutan bagi ketidak-tahuan. ‘Anak panah’ adalah sebutan bagi ketagihan. ‘Alat periksa’ adalah sebutan bagi perhatian. ‘Pisau’ adalah sebutan bagi kebijaksanaan mulia. ‘Ahli bedah’ adalah sebutan bagi Sang Tathāgata, Yang Sempurna, Yang Tercerahkan Sempurna.

28. “Bhikkhu itu, Sunakkhatta, adalah seorang yang mempraktikkan pengendalian dalam enam landasan kontak. Setelah memahami bahwa perolehan adalah akar penderitaan, karena tanpa perolehan, terbebaskan dalam hancurnya perolehan, adalah tidak mungkin bahwa ia akan mengarahkan tubuhnya atau membangkitkan pikiran ke arah perolehan apapun juga.

[Kitab Komentar : Perihal “perolehan adalah akar penderitaan”, baca Majjhima Nikāya 66.17. Arahant, terbebaskan dalam Nibbāna, hancurnya ketagihan [dengan menggunakannya] sebagai objek, tidak akan pernah mengarahkan tubuhnya atau membangkitkan pikirannya untuk melibatkan diri dalam kelima utas kenikmatan indria.]

29. “Misalkan, Sunakkhatta, terdapat sebuah cangkir perunggu berisi minuman yang berwarna indah, berbau harum, dan rasa lezat, tetapi telah dicampur dengan racun, dan seseorang datang yang menginginkan kehidupan, bukan kematian, yang menginginkan kenikmatan dan menghindari kesakitan. Bagaimana menurutmu, Sunakkhatta, apakah orang itu akan meminum secangkir minuman itu, dengan mengetahui: ‘Jika aku meminum ini maka aku akan mengalami kematian atau penderitaan mematikan’?” – “Tidak, Yang Mulia.”

[Komentar : Paradigma dalam Buddhisme bersifat kontras dengan agama samawi-abrahamik. Kenikmatan indria, menurut Buddhisme, ialah “jeratan Māra si Jahat”. Adalah dalam pandangan agama samawi, kenikmatan indria merupakan “berkah pemberian Tuhan”. Karenanya, Buddhisme dan agama samawi, ibarat hidup di dua dunia yang saling bertolak-belakang secara kontras dan tidak dapat sejalan.]

[261] – “Demikian pula, bhikkhu itu adalah seorang yang mempraktikkan pengendalian dalam enam landasan kontak. Setelah memahami bahwa perolehan adalah akar penderitaan, karena tanpa perolehan, terbebaskan dalam hancurnya perolehan, adalah tidak mungkin bahwa ia akan mengarahkan tubuhnya atau membangkitkan pikiran ke arah perolehan apapun juga.

30. “Misalkan, Sunakkhatta, ada seekor ular berbisa yang mematikan, dan seseorang datang yang menginginkan kehidupan, bukan kematian, yang menginginkan kenikmatan dan menghindari kesakitan. Bagaimana menurutmu, Sunakkhatta, apakah orang itu akan mengulurkan tangannya atau jari tangannya, dengan mengetahui: ‘Jika aku digigit oleh ular itu maka aku akan mengalami kematian atau penderitaan mematikan’?” – “Tidak, Yang Mulia.” – “Demikian pula, ketika seorang bhikkhu mempraktikkan pengendalian dalam enam landasan kontak, dan setelah memahami bahwa kemelekatan adalah akar penderitaan, maka ia menjadi tanpa kemelekatan, terbebaskan dalam hancurnya kemelekatan, adalah tidak mungkin bahwa ia akan mengarahkan tubuhnya atau membangkitkan pikiran ke arah objek kemelekatan apapun juga.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Sunakkhatta, putera Licchavi, merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.

Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, karena umat agama samawi dengan pikirannya mengikuti objek-objek pikiran yang tidak selayaknya, yakni “BERBUAT DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” sebelum kemudian mabuk-kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”, maka nafsu menyerbu pikiran mereka. Karena nafsu menyerbu pikirannya, maka mereka mengalami kematian atau penderitaan mematikan. Mereka tiada mempraktikkan pengendalian dalam enam landasan kontak, tidak memahami bahwa kemelekatan adalah akar penderitaan, maka ia menjadi penuh kemelekatan, adalah mungkin bahwa ia akan mengarahkan tubuhnya atau membangkitkan pikiran ke arah objek kemelekatan apapun juga karena memang “BERBUAT MAKSIAT DAN DOSA DIHALALKAN SECARA TERSELUBUNG OLEH ALLAH LEWAT DOGMA PENGHAPUSAN DOSA”—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Kini, silahkan Anda nilai sendiri dengan nurani dan akal-sehat-jernih Anda sendiri, apakah realistis sang “nabi rasul allah” menilai dirinya terlalu tinggi, karena ia menganggap dirinya demikian, walaupun berlawanan dengan fakta. Dengan pikirannya diserbu oleh nafsu keinginan mengoleksi segudang dosa-dosa dan maksiat, maka ia akan mengalami kematian atau penderitaan mematikan. Bagaimana mungkin, manusia-kotor-hina-cacat-tercela “PECANDU-BERAT PENGHAPUSAN DOSA” demikian justru dianak-emaskan oleh “Tuhan”, seolah-olah tidak ada manusia yang lebih baik “standar moral”-nya?—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]