Ada Beda antara Ditipu dan Menipu Diri Sendiri
Question: Sepertinya mayoritas umat nasrani menyadari, bahwa mukzijat sentuhan roh kudus yang lewat pastor menyembuhkan orang sakit, membuat orang lumpuh dan pengidab polio bisa berjalan, sebenarnya hanyalah sugesti “setting panggung” belaka, bila bukan sandiwara yang dipaksakan sifatnya. Namun mengapa mereka masih mau juga meng-iman-i apa yang telah mereka sadari sebagai manipulasi serta “setting panggung” belaka? Buktinya, tidak pernah ada verifikasi medis, sebelum dan sesudah panggung pertunjukkan itu dilaksanakan untuk meng-konfirmasi kebenaran kondisi pasien dan kesembuhan penyakitnya.
Brief Answer: Disadari atau tidaknya oleh mereka, umat nasrani
memang senang dan ingin ditipu oleh tipu-muslihat, serta berbagia dalam kedustaan
atau kebohongan, mengingat agama nasrani memang hidup dan disambung nyawanya lewat
serangkaian kepalsuan. Sugesti tidak akan bertahan lama, namun temporer saja
sifatnya, kesembuhan semu karena dibangun di dalam “ruang hampa” yang bernama “iman”.
PEMBAHASAN:
Sebagian besar, bila tidak dapat disebut seluruh
umat nasrani, mengatahui betul pilar utama dalam agama nasrani dalam proses
pertumbuhan dan penyebar-luasannya, yakni:
- Roma 3:7 Tetapi
jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa
aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?
- Paulus mengabarkan Yesus dengan kepalsuan : Filipi
1:18 Tetapi tidak mengapa, sebab
bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun
dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap
bersukacita,
- Ajaran Paulus bukan dari Tuhan : II Korintus 11:17
Apa yang aku katakan, aku
mengatakannya bukan sebagai seorang yang berkata menurut firman Tuhan,
melainkan sebagai seorang bodoh yang berkeyakinan, bahwa ia boleh
bermegah.
- Membenarkan penipuan dan kelicikan untuk
kepentingan hegemoni agama Kristen : Korintus 12:16 Baiklah, aku sendiri tidak merupakan suatu beban bagi kamu, tetapi
dalam kelicikanku aku telah menjerat kamu dengan tipu daya. [Corinthians 12:16 But be it so, I did not
burden you: nevertheless, being crafty, I caught you with guile.]
Bagi seorang yang memiliki pengamatan tidak seksama,
maka pandangan salah yang belum muncul menjadi muncul dan pandangan salah yang
telah muncul menjadi bertambah, sebagaimana diuraikan lewat khotbah Sang
Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID I”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa
Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:
IV. Seorang Prajurit
133 (1) Seorang Prajurit
“Para bhikkhu, dengan memiliki tiga faktor ini, seorang prajurit adalah
layak menjadi milik seorang raja, perlengkapan seorang raja, dan dianggap
sebagai satu faktor kerajaan. Apakah tiga ini? Di sini, seorang prajurit adalah
seorang penembak jarak jauh, seorang penembak-tepat, dan seorang yang membelah
tubuh besar. Dengan memiliki ketiga faktor ini, seorang prajurit adalah layak
menjadi milik seorang raja, perlengkapan seorang raja, dan dianggap sebagai
satu faktor kerajaan. Demikian pula, dengan memiliki tiga faktor, seorang
bhikkhu adalah layak menerima pemberian, layak menerima keramahan, layak
menerima persembahan, layak menerima penghormatan, lahan jasa yang tidak
taranya bagi dunia. Apakah tiga ini? Di sini, seorang bhikkhu adalah seorang
penembak jarak jauh, seorang penembak-tepat, dan seorang yang membelah tubuh
besar.
(1) “Dan bagaimanakah seorang bhikkhu adalah seorang penembak jarak jauh?
Di sini, segala bentuk apa pun – apakah di masa lalu, di masa depan,
atau di masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau
mulia, jauh atau dekat – seorang bhikkhu melihat segala bentuk sebagaimana
adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini
bukan aku, ini bukan diriku.’ Segala perasaan apa pun … [285] … Segala jenis persepsi apa
pun … Segala jenis aktivitas berkehendak apa pun … Segala jenis
kesadaran apa pun - apakah di masa lalu, di masa depan, atau di masa
sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau
dekat – seorang bhikkhu melihat segala kesadaran sebagaimana adanya dengan
kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini
bukan diriku.’ Adalah dengan cara ini bhikkhu itu adalah seorang penembak jarak jauh.
(2) “Dan bagaimanakah seorang bhikkhu adalah seorang penembak tepat? Di
sini, seorang bhikkhu memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan.’ Ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula
penderitaan.’ Ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan.’ Ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju
lenyapnya penderitaan.’ Adalah dengan cara ini bhikkhu itu adalah seorang penembak tepat.
(3) “Dan bagaimanakah seorang bhikkhu adalah seorang yang membelah tubuh
besar? Di sini, seorang bhikkhu membelah kumpulan besar ketidak-tahuan.
Adalah dengan cara ini bhikkhu itu adalah seorang yang membelah tubuh besar.
“Dengan memiliki ketiga faktor ini, seorang bhikkhu adalah layak menerima
pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan, layak menerima
penghormatan, lahan jasa yang tidak taranya bagi dunia.”
~0~
134 (2) Kumpulan
“Para bhikkhu, ada tiga jenis kumpulan ini. Apakah tiga ini? Kumpulan
yang terlatih dalam omong-kosong, kumpulan yang terlatih dalam interogasi, dan
kumpulan yang terlatih hingga batasnya. Ini adalah ketiga jenis kumpulan itu.”
[286]
~0~
135 (3) Seorang Teman
“Para bhikkhu, seseorang harus bergaul dengan seorang teman yang memiliki
tiga faktor. Apakah tiga ini? (1) Di sini, seorang bhikkhu memberikan apa yang
sulit diberikan. (2) Ia melakukan apa yang sulit dilakukan. (3) Ia dengan sabar
menahankan apa yang sulit ditahankan. Seseorang harus bergaul dengan seorang
teman yang memiliki ketiga faktor ini.”
~0~
136 (4) Munculnya
(1) “Para bhikkhu, apakah para Tathāgata muncul atau tidak, hukum ini
tetap berlaku, kestabilan Dhamma ini, jalan pasti Dhamma ini: ‘Segala fenomena
terkondisi adalah tidak kekal.’ Seorang Tathāgata tercerahkan pada hal ini dan
menerobosnya, dan kemudian Beliau menjelaskannya, mengajarkannya,
menyatakannya, menetapkannya, mengungkapkannya, menganalisisnya, dan
menguraikannya sebagai berikut: ‘Segala fenomena yang terkondisi adalah tidak
kekal.’
[Kitab komentar menjelaskan ketidak-kekalan (anicca)
di sini sebagai ketiadaan setelah kemunculan (hutvā abhāvaṭṭhena); penderitaan
(dukkha) sebagai kesengsaraan (sampīḷanaṭṭhena dukkhā); dan tanpa-diri (anattā) sebagai tidak
dapat dikuasai (avasavattanaṭṭhena). Dalam Saṃyutta Nikāya 12:20, II 25-27, kerangka yang sama ini
diterapkan pada formula dua belas dari kemunculan bergantungan.]
(2) “Para bhikkhu, apakah para Tathāgata muncul atau tidak, hukum ini
tetap berlaku, kestabilan Dhamma ini, jalan pasti Dhamma ini: ‘Segala fenomena
terkondisi adalah penderitaan.’ Seorang Tathāgata tercerahkan pada hal ini dan
menerobosnya, dan kemudian Beliau menjelaskannya, mengajarkannya,
menyatakannya, menetapkannya, mengungkapkannya, menganalisisnya, dan
menguraikannya sebagai berikut: ‘Segala fenomena yang terkondisi adalah
penderitaan.’
(3) “Para bhikkhu, apakah para Tathāgata muncul atau tidak, hukum ini
tetap berlaku, kestabilan Dhamma ini, jalan pasti Dhamma ini: ‘Segala fenomena adalah
tanpa-diri.’ Seorang Tathāgata tercerahkan pada hal ini dan menerobosnya, dan
kemudian Beliau menjelaskannya, mengajarkannya, menyatakannya, menetapkannya,
mengungkapkannya, menganalisisnya, dan menguraikannya sebagai berikut: ‘Segala
fenomena adalah tanpa-diri.’”
~0~
137 (5) Selimut rambut
“Para bhikkhu, selimut rambut dinyatakan sebagai jenis terburuk di antara
kain tenunan. Selimut rambut adalah dingin dalam cuaca dingin, panas dalam
cuaca panas, buruk, berbau busuk, dan tidak nyaman. Demikian pula, doktrin
Makkhali dinyatakan sebagai yang terburuk di antara doktrin-doktrin berbagai
petapa. Manusia kosong Makkhali mengajarkan doktrin dan pandangan: ‘Tidak ada
kamma, tidak ada perbuatan, tidak ada usaha.’ [287]
(1) “Para bhikkhu, Para
Bhagavā, Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna di masa lampau mengajarkan doktrin
kamma, doktrin perbuatan, doktrin usaha. Namun manusia kosong Makkhali membantahnya [dengan
pengakuannya]: ‘Tidak ada kamma, tidak ada perbuatan, tidak ada usaha.’
(2) “Para bhikkhu,
Para Bhagavā, Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna di masa depan juga mengajarkan
doktrin kamma, doktrin perbuatan, doktrin usaha. Namun manusia kosong Makkhali membantahnya [dengan
pengakuannya]: ‘Tidak ada kamma, tidak ada perbuatan, tidak ada usaha.’
(3) “Di
masa sekarang Aku adalah Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna, dan Aku
mengajarkan doktrin kamma, doktrin perbuatan, doktrin usaha. Namun manusia kosong Makkhali membantahnya [dengan
pengakuannya]: ‘Tidak ada kamma, tidak ada perbuatan, tidak ada usaha.’
“Seperti halnya sebuah jebakan yang dipasang di mulut sungai akan membawa
bahaya, penderitaan, kemalangan, dan bencana pada banyak ikan, demikian pula, manusia
kosong Makkhali adalah, bagaikan sebuah ‘jebakan bagi orang-orang’ yang muncul
di dunia ini demi bahaya, penderitaan, kemalangan, dan bencana bagi banyak
makhluk.”
~0~
138 (6) Pencapaian
“Para bhikkhu, ada tiga pencapaian ini. Apakah tiga ini? Pencapaian keyakinan,
pencapaian perilaku bermoral, dan pencapaian kebijaksanaan. Ini adalah ketiga pencapaian itu.”
~0~
139 (7) Pertumbuhan
“Para bhikkhu, ada tiga pertumbuhan ini. Apakah tiga ini? Pertumbuhan dalam
keyakinan, pertumbuhan dalam perilaku bermoral, dan pertumbuhan dalam
kebijaksanaan. Ini adalah ketiga pertumbuhan itu.”
~0~
306 (1)
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya
kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang belum muncul menjadi muncul dan
kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang telah muncul menjadi bertambah dan
meningkat selain daripada pandangan salah. Bagi seorang yang berpandangan salah,
maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang belum muncul menjadi muncul dan
kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang telah muncul menjadi bertambah dan
meningkat.”
~0~
307 (2)
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya
kualitas-kualitas bermanfaat yang belum muncul menjadi muncul dan
kualitas-kualitas bermanfaat yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat
selain daripada pandangan benar. [31] Bagi seorang yang berpandangan benar,
maka kualitas-kualitas bermanfaat yang belum muncul menjadi muncul dan
kualitas-kualitas bermanfaat yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat.”
~0~
308 (3)
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya
kualitas-kualitas bermanfaat yang belum muncul menjadi tidak muncul dan
kualitas-kualitas bermanfaat yang telah muncul menjadi berkurang selain
daripada pandangan salah. Bagi
seorang yang berpandangan salah, maka kualitas-kualitas bermanfaat yang belum
muncul menjadi tidak muncul dan kualitas-kualitas bermanfaat yang telah muncul
menjadi berkurang.”
[Kitab Komentar : Ini adalah sebuah sebutan untuk
enam puluh dua pandangan salah; baca Dīgha Nikāya 1.1.29-3.31, I 12-39.
Walaupun tampaknya bahwa kata micchādiṭṭhi digunakan
dalam Nikāya-Nikāya hanya sehubungan dengan tiga pandangan; nihilistik moral,
doktrin tidak berbuat, dan doktrin tanpa penyebab (natthikavāda, akiriyavāda,
ahetukavāda).]
~0~
309 (4)
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya
kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang belum muncul menjadi tidak muncul dan
kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang telah muncul menjadi berkurang selain
daripada pandangan benar. Bagi
seorang yang berpandangan benar, maka kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang
belum muncul menjadi tidak muncul dan kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang
telah muncul menjadi berkurang.”
[Kitab Komentar : Ini adalah sebuah sebutan untuk
lima jenis pandangan benar. [Pandangan-pandangan] kepemilikan kamma, jhāna,
pandangan terang, sang jalan, dan buah. Pengetahuan yang termasuk dalam
kesadaran jhāna adalah pandangan benar jhāna, sedangkan pengetahuan pandangan
terang adalah pandangan benar pandangan terang.]
~0~
310 (5)
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya
pandangan salah yang belum muncul menjadi muncul dan pandangan salah yang telah
muncul menjadi bertambah selain daripada pengamatan tidak seksama. Bagi seorang yang
memiliki pengamatan tidak seksama, maka pandangan salah yang belum muncul
menjadi muncul dan pandangan salah yang telah muncul menjadi bertambah.”
~0~
311 (6)
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya
pandangan benar yang belum muncul menjadi muncul dan pandangan benar yang telah
muncul menjadi bertambah selain daripada pengamatan seksama. Bagi seorang yang
memiliki pengamatan seksama, maka pandangan benar yang belum muncul menjadi
muncul dan pandangan benar yang telah muncul menjadi bertambah.”
~0~
312 (7)
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya,
dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, makhluk-makhluk terlahir kembali di
alam sengsara, di alam tujuan kelahiran yang buruk, di alam rendah, di neraka,
selain daripada pandangan salah. Dengan memiliki pandangan salah, maka
dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, makhluk-makhluk terlahir kembali di
alam sengsara, di alam tujuan kelahiran yang buruk, di alam rendah, di neraka.”
~0~
313 (8)
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun [32] yang karenanya,
dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, makhluk-makhluk terlahir kembali di
alam tujuan kelahiran yang baik, di alam surga, selain daripada pandangan
benar. Dengan
memiliki pandangan benar, maka dengan hancurnya jasmani, setelah kematian,
makhluk-makhluk terlahir kembali di alam tujuan kelahiran yang baik, di alam
surga.”
~0~
314 (9) 169
[Kitab Komentar : Aṅguttara Nikāya edisi Bahasa Sinhala (terbitan Buddha Jayanti Tripitaka
Series), menganggap sutta ini dan sutta berikutnya masing-masing terdiri dari
tujuh sutta: masing-masing satu untuk kamma jasmani, ucapan, dan
pikiran, dan untuk kehendak, kerinduan, aspirasi, dan aktivitas-aktivitas
kehendak.]
“Para bhikkhu, bagi seorang yang berpandangan salah, kamma jasmani,
kamma ucapan, dan kamma pikiran apa pun yang ia timbulkan dan ia lakukan sesuai
dengan pandangan itu, dan apa pun kehendaknya, kerinduannya, kecenderungannya,
dan aktivitas-aktivitas kehendaknya, semuanya mengarah pada apa yang tidak
diharapkan, tidak diinginkan, dan tidak menyenangkan, pada bahaya dan
penderitaan. Karena
alasan apakah? Karena pandangannya buruk.
“Misalkan, para bhikkhu, sebutir benih mimba, pare, atau labu pahit
ditanam di tanah yang lembab. Apa pun nutrisi yang diperoleh benih itu dari
tanah dan dari air semuanya akan mengarah pada rasa pahit, getir, dan tidak
menyenangkan. Karena
alasan apakah? Karena benih itu adalah benih yang buruk. Demikian pula, bagi seorang yang berpandangan
salah … semuanya mengarah pada apa yang tidak diharapkan, tidak diinginkan, dan
tidak menyenangkan, pada bahaya dan penderitaan. Karena alasan apakah? Karena
pandangannya buruk.”
~0~
315 (10)
“Para bhikkhu, bagi seorang yang berpandangan benar, kamma jasmani,
kamma ucapan, dan kamma pikiran apa pun yang ia timbulkan dan ia lakukan sesuai
dengan pandangan itu, dan apa pun kehendaknya, kerinduannya, kecenderungannya,
dan aktivitas-aktivitas kehendaknya, semuanya mengarah pada apa yang
diharapkan, diinginkan, dan menyenangkan, pada kesejahteraan dan kebahagiaan.
Karena
alasan apakah? Karena pandangannya baik.
“Misalkan, para bhikkhu, sebutir benih tebu, beras gunung, atau anggur
ditanam di tanah yang lembab. Apa pun nutrisi yang diperoleh benih itu dari
tanah dan dari air semuanya akan mengarah pada rasa manis, menyenangkan, dan
lezat.
[Kitab Komentar : Asecanakatta. Lit., “tidak
menyebabkan kejenuhan.”]
Karena
alasan apakah? Karena benih itu adalah benih yang baik. Demikian pula, bagi seorang yang berpandangan
benar … semuanya mengarah pada apa yang diharapkan, diinginkan, dan
menyenangkan, pada kesejahteraan dan kebahagiaan. Karena alasan apakah? Karena
pandangannya baik.” [33]