Berlindung kepada Allah yang Menolerir KEKOTORAN BATIN namun Intoleran terhadap Kaum NON, Sama Artinya Menjerumuskan Diri ke Lembah Nista

Berlindunglah pada yang Lebih Tinggi daripada Derajat Manusia, Bukan kepada Makhluk dari Alam Rendahan yang Lebih Rendah Derajatnya daripada Manusia

Question: Bukankah aneh dan konyol, ada manusia yang justru berlindung pada makhluk yang lebih rendah deratnya daripada manusia, yakni kepada setan (arwah penasaran) maupun makhluk asura (jin raksasa yang sakti)? Hanya orang dengan ciri-ciri watak dungu, yang ingin bersekutu dengan mahluk alam “apaya” (alam “tanpa kebahagiaan”), alam yang bahkan lebih rendah derajatnya daripada alam manusia. Orang berakal sehat tentunya lebih memilih untuk berlindung pada makhluk yang derajat dan alamnya lebih tinggi daripada manusia, bukan sebaliknya merendahkan derajat mereka sendiri sebagai manusia dengan memiliki kecenderungan atau niat ke alam-alam rendahan demikian.

Brief Answer: Sama konyolnya dengan mereka yang justru berlindung dan meneladani sosok “nabi rasul Allah” yang tidak lebih bersih dan juga tidak lebih mulia daripada mereka. Tengoklah yesus, yang lebih PRO terhadap penjahat dengan memasukkan kedua penjahat yang turut disalib bersama yesus yang bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri, ke surga, alih-alih dilemparkan ke neraka karena telah menzolimi para korban mereka. Tengoklah nabi teladan para muslim, yang begitu mabuk serta kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”—sekalipun orang berakal sehat menyadari bahwa hanya PENDOSA yang butuh “PENGHAPUSAN DOSA” dan hanya PENGECUT yang lebih sibuk mengharap “cuci dosa” daripada bersikap berani untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri.

PEMBAHASAN:

Para “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kaum “pengikut arus”, bukan seorang pejuang “pelawan arus”, karenanya sangat serupa dengan aliran air yang secara alamiahnya mengalir ke arah BAWAH, bukan ke arah ATAS. Buddhisme merupakan antitesa dari agama samawi, sebagaimana khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID III”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, Penerjemah Edi Wijaya dan Indra Anggara, dengan kutipan:

87 (7) Moralitas

“Para bhikkhu, dengan memiliki lima kualitas, seorang bhikkhu senior disukai dan disenangi oleh teman-temannya para bhikkhu, dan dihormati serta dihargai oleh mereka. Apakah lima ini?

(1) “Ia bermoral; ia berdiam dengan terkendali oleh Pātimokkha, memiliki perilaku dan tempat kunjungan yang baik, melihat bahaya dalam pelanggaran-pelanggaran kecil. Setelah menerima aturan-aturan latihan, ia berlatih di dalamnya.

(2) “Ia telah banyak belajar, mengingat apa yang telah ia pelajari, dan mengumpulkan apa yang telah ia pelajari. Ajaran-ajaran itu yang baik di awal, baik di tengah, dan baik di akhir, dengan kata-kata dan makna yang benar, yang mengungkapkan kehidupan spiritual yang lengkap dan murni sempurna – ajaran-ajaran demikian telah banyak ia pelajari, diingat, diulangi secara lisan, diselidiki dengan pikiran, dan ditembus dengan baik melalui pandangan.

(3) “Ia adalah seorang pembabar yang baik dengan penyampaian yang baik; ia memiliki ucapan yang dipoles, jernih, jelas, ekspresif dalam makna.

(4) “Ia mencapai sesuai kehendak, tanpa kesulitan atau kesusahan, keempat jhāna yang merupakan pikiran yang lebih tinggi dan keberdiaman yang nyaman dalam kehidupan ini.

(5) “Dengan hancurnya noda-noda, ia telah merealisasikan untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya.

“Dengan memiliki kelima kualitas ini, seorang bhikkhu senior disukai dan disenangi oleh teman-temannya para bhikkhu, dan dihormati serta dihargai oleh mereka.”

~0~

V. Kakudha

91 (1) Penyempurnaan (1)

“Para bhikkhu, ada lima penyempurnaan ini. Apakah lima ini? Penyempurnaan keyakinan, penyempurnaan perilaku bermoral, penyempurnaan pembelajaran, penyempurnaan kedermawanan, dan penyempurnaan kebijaksanaan. Ini adalah kelima penyempurnaan itu.” [119]

~0~

92 (2) Penyempurnaan (2)

“Para bhikkhu, ada lima penyempurnaan ini. Apakah lima ini? Penyempurnaan perilaku bermoral, penyempurnaan konsentrasi, penyempurnaan kebijaksanaan, penyempurnaan kebebasan, dan penyempurnaan pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan. Ini adalah kelima penyempurnaan itu.”

~0~

93 (3) Pernyataan

“Para bhikkhu, ada lima pernyataan pengetahuan akhir ini. Apakah lima ini? (1) Seseorang menyatakan pengetahuan akhir karena ketumpulan dan kebodohannya; (2) seseorang menyatakan pengetahuan akhir karena ia memiliki keinginan jahat dan didorong oleh keinginan; (3) seseorang menyatakan pengetahuan akhir karena gila dan pikirannya terganggu; (4) seseorang menyatakan pengetahuan akhir karena menilai dirinya terlalu tinggi; dan (5) seseorang dengan benar menyatakan pengetahuan akhir. Ini adalah kelima pernyataan pengetahuan akhir itu.”

~0~

94 (4) keberdiaman yang Nyaman

“Para bhikkhu, ada lima jenis keberdiaman yang nyaman ini. Apakah lima ini? (1) Di sini, dengan terasing dari kenikmatan-kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama … (2) … jhāna ke dua … (3) … jhāna ke tiga … (4) … jhāna ke empat. (5) Dengan hancurnya noda-noda, ia telah merealisasikan untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya. Ini adalah kelima jenis keberdiaman yang nyaman itu.”

~0~

95 (5) Kondisi Yang Tak Tergoyahkan

“Para bhikkhu, dengan memiliki lima hal, maka seorang bhikkhu dalam waktu tidak lama akan menembus kondisi yang tidak tergoyahkan. Apakah lima ini? [120] Di sini, seorang bhikkhu telah mencapai pengetahuan analitis pada makna, pengetahuan analitis pada Dhamma, pengetahuan analitis pada bahasa, dan pengetahuan analitis pada kearifan; dan ia meninjau kembali sejauh mana pikirannya terbebaskan. Dengan memiliki lima hal, maka seorang bhikkhu dalam waktu tidak lama akan menembus kondisi yang tidak tergoyahkan.”

[Kitab Komentar : Akuppa. Mungkin bermakna akuppā cetovimutti, kebebasan pikiran yang tak tergoyahkan. Penerjemah lain mengidentifikasinya sebagai Kearahattaan.]

Bertolak-belakang dengan ajaran islam: Babi, disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”. Dosa-dosa pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.

Terhadap dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA” alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]