Cacat Logika Kaum Muslim, menyerupai Nurani Mereka yang BUTA : Menumpahkan Darah dan Merampas Nyawa Makhluk Hidup lain disebut Cinta Kasih

Kata Muslim (Islam), Menyembelih (Merampas Hidup / Nyawa) Hewan-Ternak adalah Cinta Kasih, Sepanjang Menyebut Nama Allah saat Menjagal Leher Makhluk Malang tersebut

Demi Bisa Bersetubuh dengan Bidadari dan Bersenang-Senang di Surga, Ibrahim / Abraham Tega Menyembelih Leher Anak Kandungnya Sendiri, Ismail / Ishaq (SELFISH MOTIVE, EGO)

Menurut Anda, manakah yang lebih jahat, merampas hak hidup seekor hewan untuk dimakan manusia, ataukah penyiksaan / eksploitasi terhadap hewan demi menghibur manusia di pertunjukan? Apapun itu, bila “standar moral” Anda belum rusak akibat dogma agama samawi (hewan diciptakan Tuhan untuk dimakan oleh manusia, kata agama nasrani, dan nonkristen adalah “domba yang hilang”, yang ketika ditemukan maka akan dimakan oleh yesus), merampas hidup maupun eksploitasi adalah tercela dan dapat dicela oleh para bijaksana.

Mari kita bicara tentang “kodrat” dari perspektif “common sense” dan perbandingannya dengan perspektif “common practice” (agama samawi), karena umat agama samawi paling sering bicara tentang “kodrat”. Pada kodratnya, penjahat (pendosa) akan masuk neraka. Namun bagaimana mungkin, dogma-dogma KORUP agama samawi justru memasukkan para penjahat (pendosa) tersebut ke surga, lewat iming-iming delusif bernama “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA” (abolition of sins)? Itulah, “standar moral” agama samawi, kental nuansa “konflik kepentingan”. Mari kita simak dogma dalam agama samawi berikut, bagaimana perlakuan umat agama samawi terhadap sesama manusia, sebelum kita berbicara relasi antara mereka dan kaum satwa:

(1) Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya:  Abraham,  lalu sahutnya:  Ya, Tuhan.

(2) Firman-Nya:  Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.

(3) Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.

Kitab Kejadian, (Alkitab) 22:1-3.

Kisah yang sama juga terdapat dalam alquran, dengan tokoh bernama Ibrahin dan Ismail. Demi bisa bersetubuh dengan puluhan bidadari “berdada montok” dan bersenang-senang di surga, sang ayah tega merampas hidup dan menyembelih anak kandungnya sendiri alias “SELFISH MOTIVE” (EGO pribadi sang ayah). At that time, Ibrahim was not a father, but an EXECUTOR! Meski begitu, tetap saja, para umat agama samawi menyanjung sang ayah sebagai ber-“iman”, dan memuji sang ayah.

Sekalipun, seorang ayah yang baik akan memilih untuk masuk neraka demi menebus nyawa dan hidup sang anak terkasih, bukan justru merampasnya dari sang anak. Dogma dalam agama samawi, sungguh bertolak-belakang dengan Dhamma. Sang Buddha pernah bersabda : “Yang disebut perbuatan baik, artinya tidak merugikan diri sendiri juga tidak merugikan orang lain.” Dengan demikian, baik sang ayah (Abraham / Ibrahim) maupun sang anak (Ismail / Ishaq), keduanya sama-sama tidak sedang berbuat kebaikan, namun telah tunduk pada bisikan SETAN—hanya setan, yang senang menggoda manusia untuk “menumpahkan darah” makhluk hidup lainnya.

Pendosa, mirip orang BUTA. Bagaimana mungkin, seorang PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA, berceramah perihal akhlak, hidup baik, jujur, adil, mulia, lurus, luhur, bermartabat, serta beradab? Itu ibarat orang BUTA yang hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga, dan berbondong-bondong mereka terjerumus ke dalam kubangan dosa-dosa. Sang Buddha juga pernah bersabda : “Apa yang di mata orang dungu dipandang sebagai kenikmatan, adalah dukkha di mata seorang Buddha.

Kaum muslim (kasta Pendosa), berceramah perihal cinta kasih terhadap kaum hewan dengan tidak menyiksa hewan. Namun, dengan berstandar-ganda, muslim menyatakan “halal hukumnya menumpahkan darah (menyembelih) hewan”, dengan memakai hukum syariat islam, yakni pisau jagalnya harus tajam, sekali tebas harus tewas, tidak disembelih di hadapan hewan lain, dan mengucapkan nama Allah saat melakukan perampasan nyawa hewan malang tersebut, demi memuaskan perut dan kesenangan kuliner lidah sang muslim. Kaum muslim bahkan menjuluki Allah yang mereka sembah, sebagai “Maha Pengasihi”, ketika membuat wahyu berikut:

Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan  TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN BAHWA MUHAMMAD RASUL ALLAH, menghadap kiblat kami, memakan sembelihan kami, dan melakukan shalat dengan kami. Apabila mereka melakukan hal tersebut, niscaya kami diharamkan MENUMPAHKAN DARAH dan MERAMPAS HARTA mereka.” [Hadist Tirmidzi No. 2533]

Terus, kita harus mengucapkan “terimakasih” kepada mereka, kaum muslim tersebut, karena tidak menumpahkan darah dan merampas harta kita, kaum NON, namun sekadar menganiaya dan memperkosa? Bila kita sepakat bahwa “nyawa adalah harta terbesar”, maka menyembelih hewan (merampas nyawa hidup) tidak pernah dapat dimaknai sebagai lebih baik perlakuannya daripada sekadar menyiksa dan maupun memenjara kaum hewan dalam kerangkeng. Kodratnya hewan hidup bebas, di alam liar, dan mati karena usia tua. Akan tetapi karena keangkuhan, manusia merasa lebih cerdas daripada hewan, karenanya merasa berhak memangsa dan merampas hidup mereka.

Bila kita memakai “cara berpikir” umat agama samawi, maka menjadi sebentuk legitimasi bagi makhluk luar angkasa (ET atau alien) yang tingkat kecerdasannya melampaui manusia, untuk menjajah Bumi, memasukkan manusia ke sirkus, kebun binatang, dan disembelih untuk dimakan oleh para makhluk asing tersebut, dan menjadi “halal” hukumnya bila mereka menyembelih manusia yang akan mereka mangsa dengan cara memakai pisau laser yang jauh lebih tajam daripada pisau stainless stell, tidak dijagal di depan hadapan manusia lainnya, tidak disiksa sebelum dijagal, serta diucapkan mantra berisi nama Tuhan sang alien sebelum “pertumpahan darah” dimulai.

Hewan, sadar mereka akan disembelih, menjadi siksaan batin itu sendiri. Seringkali juga penulis melihat hewan-hewan yang akan dikurbankan oleh para muslim, dibiarkan kelaparan tanpa makanan beberapa hari sebelum hari penyembelihan, karenanya jeritan kambing begitu berisik dan memilukan terlebih mereka ditempatkan di perumahan warga sehari sebelum disembelih. Sapi, bahkan meneteskan air mata, sekalipun ia belum melihat ada pisau jagal. Terlebih di tempat pejagalan, pastilah bau bekas darah tercium, kaum sesama sang ternak yang telah terlebih dahulu disembelih. Seekor anjing saja, ketika kita siksa, mereka akan menjerit kesakitan dan kabur. Dengan demikian, hewan pun menghargai nyawa mereka, dan memperlakukan nyawa mereka sebagai “harta terbesar mereka”.

Bila kita benar-benar konsisten pada klaim “welas asih” kepada segenap makhluk, bukan sekadar jargon berstandar-ganda, maka kita tidak bersifat merampas, namun melepaskan mereka, memberi mereka kebebasan hidup di alam liar, untuk bermain-main dengan kawanan mereka, dengan tidak merampas “harta terbesar” mereka, dengan menolong mereka kembali mendapatkan kebebasannya (praktek “Fang Shen”).

Sang Buddha pernah bersabda : Pengobanan terbesar bukanlah merampas hidup ternak, namun melepaskan mereka ke alam liar, alias mengorbankan ego kita sendiri. Karenanya, dapat kita maknai bahwa, yang semestinya kita “sembelih” ialah EGO pribadi kita sendiri, bukan menyembelih leher milik makhluk hidup lainnya. Yang mestinya kita tumpahkan ialah EGO diri sendiri yang perlu kita tanggalkan, bukan menumpahkan darah makhluk hidup lainnya.

Bila ada di antara Anda yang masih bersikukuh menilai bahwa “menyembelih ternak dengan cara syariat islam adalah praktek welas-asih dan cinta-kasih kepada sang ternak yang disembelih”, maka jawablah pertanyaan berikut : Pertama, yang disebut “terjahat” terhadap ternak, apakah bila bukan merampas “harta terbesar” mereka, yakni nyawa-hidup sang ternak? Kedua, yang disebut sebagai “ter-welas asih” terhadap ternak, apakah bila bukan memberikan kesempatan hidup dan kebebasan bagi sang ternak?

Ciri paling utama orang dungu, ialah ketidak-mampuan membuat distingsi antara perbuatan buruk yang tercela dan perbuatan baik yang dipuji para bijaksana, sebagaimana dapat kita rujuk khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID 1”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, Penerjemah Edi Wijaya dan Indra Anggara, dengan kutipan:

I. Si Dungu

1 (1) Bahaya

Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu!”

“Yang Mulia!” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Para bhikkhu, bahaya apa pun yang muncul semuanya muncul dari si dungu, bukan dari orang bijaksana. Bencana apa pun yang muncul semuanya muncul dari si dungu, bukan dari orang bijaksana. Kemalangan apa pun yang muncul semuanya muncul dari si dungu, bukan dari orang bijaksana. Seperti halnya api yang memercik dalam sebuah rumah yang terbuat dari tanaman rambat atau rerumputan akan membakar bahkan sebuah rumah beratap lancip, yang diplester pada bagian dalam dan luarnya, tanpa lubang angin, dengan gerendel terkunci dan tirai tertutup; demikian pula, bahaya apa pun yang muncul … semuanya muncul karena si dungu, bukan karena orang bijaksana.

(1) Demikianlah, para bhikkhu, si dungu membawa bahaya, orang bijaksana tidak membawa bahaya; (2) si dungu membawa bencana, orang bijaksana tidak membawa bencana; (3) si dungu membawa kemalangan, orang bijaksana tidak membawa kemalangan. Tidak ada bahaya dari orang bijaksana; tidak ada bencana dari orang bijaksana; tidak ada kemalangan dari orang bijaksana.

“Oleh karena itu, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan menghindari ketiga kualitas yang dengan memilikinya maka seseorang dikenal sebagai seorang dungu, dan kami akan menjalankan dan mempraktikkan ketiga kualitas yang dengan memilikinya maka seseorang dikenal sebagai seorang bijaksana.’ Demikianlah kalian harus berlatih.” [102]

~0~

2 (2) Karakteristik

“Para bhikkhu, si dungu dikarakteristikkan oleh perbuatannya; orang bijaksana dikarakteristikkan oleh perbuatannya. Kebijaksanaan bersinar dalam manifestasinya.

[Kitab Komentar : “Maknanya adalah bahwa baik si dungu maupun si bijaksana masing-masing dikenali melalui perilakunya” (bālā ca paṇḍitā ca attano attano cariten’eva pākaā hontī ti attho).]

“Para bhikkhu, seorang yang memiliki tiga kualitas harus dikenali sebagai seorang dungu. Apakah tiga ini? Perbuatan buruk melalui jasmani, perbuatan buruk melalui ucapan, dan perbuatan buruk melalui pikiran. Seorang yang memiliki ketiga kualitas ini harus dikenali sebagai seorang dungu.

Seorang yang memiliki tiga kualitas harus dikenali sebagai seorang bijaksana. Apakah tiga ini? Perbuatan baik melalui jasmani, perbuatan baik melalui ucapan, dan perbuatan baik melalui pikiran. Seorang yang memiliki ketiga kualitas ini harus dikenali sebagai seorang bijaksana.

Oleh karena itu, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan menghindari ketiga kualitas yang dengan memilikinya maka seseorang dikenal sebagai seorang dungu, dan kami akan menjalankan dan mempraktikkan ketiga kualitas yang dengan memilikinya maka seseorang dikenal sebagai seorang bijaksana.’ Demikianlah kalian harus berlatih.”

~0~

4 (4) Pelanggaran

“Para bhikkhu, seorang yang memiliki tiga kualitas harus dikenali sebagai seorang dungu. Apakah tiga ini? (1) Ia tidak melihat pelanggarannya sebagai pelanggaran. (2) Ketika ia melihat pelanggarannya sebagai pelanggaran, ia tidak memperbaikinya sesuai Dhamma. (3) Ketika orang lain mengakui suatu pelanggaran kepadanya, ia tidak menerimanya sesuai Dhamma. Seorang yang memiliki ketiga kualitas ini harus dikenali sebagai seorang dungu.

“Seorang yang memiliki tiga kualitas harus dikenali sebagai seorang bijaksana. Apakah tiga ini? (1) Ia melihat pelanggarannya sebagai pelanggaran. (2) Ketika ia melihat pelanggarannya sebagai pelanggaran, ia memperbaikinya sesuai Dhamma. (3) Ketika orang lain mengakui suatu pelanggaran kepadanya, ia menerimanya sesuai Dhamma. Seorang yang memiliki ketiga kualitas ini harus dikenali sebagai seorang bijaksana.

“Oleh karena itu … Demikianlah kalian harus berlatih.”

Menurut logika Anda, menjelma sebagai apakah para “PENDOSA PENGECUT PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”? Menjelma menjadi “kembali ke fitri”, ataukah menjelma menjadi “KORUPTOR DOSA” dimana dosa-dosa pun dikorupsi alias menutupi kesalahan dengan membuat kekeliruan baru? Babi, disebut “haram” dan karenanya tidak dikonsumsi. Namun, ideologi KORUP semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA”, justru diklaim dan dimakan dengan lahap hingga mencandu dan mabuk, sebagai “halal lifestyle”, sekalipun antara “MEMBUAT DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” dan “PENGHAPUSAN DOSA” sifatnya saling bundling satu sama lainnya ibarat sikat gigi dan pasta gigi yang saling komplomenter—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan (justru) membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA” alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]