Alih-Alih MENGHAPUS SIFAT BURUK (Memadamkan Api yang Membakar dan Membara), Umat Agama Samawi justru Sibuk Ritual PENGHAPUSAN DOSA (Menyalahkan Asap)
Question: Apakah umat-umat agama nasrani selama lebih dari dua ribu tahun ini tidak ada yang mampu berpikir dengan akal sehat, bahwa yesus mencampakkan dan membuang nyawanya sendiri bagaikan “sampah” yang sama sekali tidak ia hargai. Katanya mampu membuat mukjizat, sakti, namun justru menyerahkan nyawanya saat akan disalib. Jika begitu adanya, bagaimana mungkin kita berdelusi bahwa yesus akan menghargai nyawa-nyawa orang lain dan berharap menolong hidup mereka?
Brief
Answer: Sang Buddha dalam berbagai
khotbahnya di sutta pitaka, tegas menyatakan “seseorang yang tenggelam dalam
lumpur harus menarik seorang lainnya yang tenggelam dalam lumpur, adalah
tidak mungkin”. Terlagipula, tugas guru yang berbelas kasih adalah
pengajaran Dhamma yang benar; di luar itu adalah praktik, yang merupakan tugas
para siswa.
PEMBAHASAN:
Terlagipula, yang semestinya dihapus ialah sifat buruk para umat manusia,
bukan dosa-dosa mereka, bagaikan mengatasi akar penyebab masalahnya, bukan menekan
gajalanya, sebagaimana dapat
kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima
Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A
Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by
Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom
Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya
& Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):
Sutta
8
Sallekha
Sutta: Penghapusan
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
2. Kemudian, pada malam harinya, Yang Mulia Mahā Cunda bangkit dari
meditasi dan mendatangi Sang Bhagavā. Setelah bersujud pada Sang Bhagavā ia
duduk di satu sisi dan berkata kepada Beliau:
3. “Yang Mulia, berbagai pandangan muncul di dunia berkaitan dengan
doktrin-doktrin tentang diri atau doktrin-doktrin tentang dunia. Sekarang apakah meninggalkan dan melepaskan pandangan-pandangan
itu terjadi dalam diri seorang bhikkhu yang memperhatikan hanya pada bagian
permulaan [dari latihan meditasinya]?”
[Kitab Komentar : Pandangan-pandangan yang
berhubungan dengan doktrin diri (attavādapaṭisaṁyuttā), merujuk pada dua puluh jenis pandangan identitas yang diuraikan pada
Majjhima Nikāya 44.7, walaupun pandangan-pandangan itu juga dapat dipahami
memasukkan doktrin yang lebih luas tentang diri yang dibahas dalam Majjhima
Nikāya 102.
Pandangan-pandangan yang berhubungan dengan doktrin
tentang dunia (lokavādapaṭisaṁyutta) ada delapan pandangan; dunia adalah abadi, tidak abadi, keduanya, atau
bukan keduanya; dunia adalah terbatas, tidak terbatas, keduanya, atau bukan
keduanya. Baca Majjhima Nikāya 63 dan Majjhima Nikāya 72 mengenai penolakan
Sang Buddha atas pandangan-pandangan ini.
Pertanyaan Yang Mulia Mahā Cunda merujuk pada
seseorang yang telah mencapai hanya tahap awal dari meditasi pandangan terang
tanpa mencapai tingkat memasuki-arus. Jenis pelepasan yang dibahas adalah
melepaskan melalui pencabutan, yang hanya dapat terjadi pada jalan
memasuki-arus. YM. Mahā Cunda mengajukan pertanyaan ini karena beberapa
meditator terlalu meninggikan pencapaian mereka, menganggap bahwa mereka telah
meninggalkan pandangan-pandangan itu sementara mereka belum benar-benar
melenyapkannya.]
“Cunda, sehubungan dengan berbagai pandangan muncul di dunia yang
berkaitan dengan doktrin-doktrin tentang diri atau doktrin-doktrin tentang
dunia: jika [objek] yang sehubungan dengannya pandangan-pandangan itu muncul,
di mana pandangan-pandangan itu berlandaskan, dan di mana pandangan-pandangan
itu diterapkan dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai
berikut: ‘Ini
bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku,’ maka meninggalkan dan melepaskan
pandangan-pandangan itu terjadi.
[Kitab Komentar : Kata “muncul” (uppajjanti)
di sini merujuk pada munculnya pandangan-pandangan yang belum muncul
sebelumnya; “berlandaskan” (anusenti) pada kekuatannya yang terkumpul
melalui keterikatan terus-menerus pada pandangan-pandangan itu; dan
“diterapkan” (samudācaranti) pada perbuatan jasmani atau ucapan mereka.
“Objek” di mana pandangan-pandangan itu berlandaskan adalah kelima kelompok
unsur kehidupan (khandha) yang merupakan sesosok orang atau makhluk
hidup – bentuk materi, perasaan, persepsi, bentukan-bentukan batin atau kehendak,
dan kesadaran.
Dengan pernyataan ‘Ini bukan milikku, ini
bukan aku, ini bukan diriku,’ Sang Buddha menunjukkan
cara yang dengannya pandangan-pandangan tercabut: perenungan pada kelima
kelompok unsur kehidupan sebagai “bukan milikku,” dan seterusnya, dengan
kebijaksanaan pandangan terang yang memuncak pada jalan memasuki-arus.]
(DELAPAN PENCAPAIAN)
4. “Adalah
mungkin di sini, Cunda, bahwa dengan cukup terasing dari kenikmatan-kenikmatan
indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk
dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan
pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Ia mungkin berpikir bahwa: ‘Aku berdiam dalam penghapusan.’
Tetapi bukan pencapaian-pencapaian ini yang disebut ‘penghapusan’ dalam
Disiplin Yang-Mulia: ini disebut ‘kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini’
[41] dalam Disiplin Yang-Mulia.106
[Kitab Komentar : Sang Buddha setelah menjawab
pertanyaan bhikkhu itu, sekarang membicarakan jenis orang yang terlalu
meninggikan – mereka yang mencapai delapan pencapaian meditatif dan percaya
bahwa mereka mempraktikkan pemurnian yang sesungguhnya (sallekha). Kata
sallekha, yang berarti praktek pertapaan atau praktik keras, digunakan
oleh Sang Buddha untuk menyiratkan penghapusan atau pelenyapan kekotoran secara
radikal. Walaupun delapan pencapaian di tempat lain diletakkan dalam
Latihan Buddhis (baca Majjhima Nikāya 25.12-19, Majjhima Nikāya 26.34-41), di
sini dikatakan bahwa pencapaian itu tidak disebut sebagai penghapusan karena
bhikkhu yang mencapainya tidak menggunakannya sebagai landasan bagi pandangan
terang – seperti dijelaskan, misalnya, dalam Majjhima Nikāya 52 dan Majjhima
Nikāya 64 – melainkan hanya sebagai alat untuk menikmati kebahagiaan dan
kedamaian.]
5. “Adalah mungkin di sini bahwa dengan diamnya awal pikiran dan
kelangsungan pikiran, seorang bhikkhu di sini masuk dan berdiam dalam jhāna ke
dua, yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal pikiran
dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari
konsentrasi. Ia mungkin berpikir bahwa: ‘Aku berdiam dalam penghapusan.’
Tetapi ... ini disebut ‘kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini’ dalam
Disiplin Yang-Mulia.
6. “Adalah mungkin di sini bahwa dengan meluruhnya sukacita, seorang
bhikkhu di sini masuk dan berdiam dalam keseimbangan, dan penuh perhatian dan
penuh kewaspadaan, masih merasakan kenikmatan pada jasmani, ia masuk dan berdiam
dalam jhāna ke tiga, yang sehubungan dengannya para mulia menyatakan: ‘Ia
memiliki kediaman yang menyenangkan yang memiliki keseimbangan dan penuh
perhatian.’ Ia mungkin berpikir bahwa: ‘Aku berdiam dalam penghapusan.’
Tetapi ... ini disebut ‘kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini’ dalam Disiplin
Yang-Mulia.
7. “Adalah mungkin di sini bahwa dengan meninggalkan kenikmatan dan
kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya atas kegembiraan dan kesedihan,
seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang memiliki
bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan dan kemurnian perhatian karena keseimbangan.
Ia mungkin berpikir bahwa: ‘Aku berdiam dalam penghapusan.’ Tetapi bukan
pencapaian-pencapaian ini yang disebut ‘penghapusan dalam Disiplin
Yang-Mulia’: ini disebut ‘kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini’
dalam Disiplin Yang-Mulia.
8. “Adalah mungkin di sini bahwa dengan sepenuhnya melampaui persepsi
bentuk, dengan lenyapnya persepsi kontak indria, dengan tanpa-perhatian pada
persepsi keberagaman, menyadari bahwa ‘ruang adalah tanpa batas,’ seorang
bhikkhu di sini masuk dan berdiam dalam landasan ruang tanpa batas. Ia mungkin
berpikir bahwa: ‘Aku berdiam dalam penghapusan.’ Tetapi bukan
pencapaian-pencapaian ini yang disebut ‘penghapusan dalam Disiplin
Yang-Mulia’: ini disebut ‘kediaman yang damai’ dalam Disiplin Yang-Mulia.
9. “Adalah mungkin di sini bahwa dengan sepenuhnya melampaui landasan
ruang tanpa batas, menyadari bahwa ‘kesadaran adalah tanpa batas,’ seorang
bhikkhu di sini masuk dan berdiam dalam landasan kesadaran tanpa batas. Ia
mungkin berpikir bahwa: ‘Aku berdiam dalam penghapusan.’ Tetapi … ini disebut
‘kediaman yang damai’ dalam Disiplin Yang-Mulia.
10. “Adalah mungkin di sini bahwa dengan sepenuhnya melampaui landasan
kesadaran tanpa batas, menyadari bahwa ‘tidak
ada apa-apa,’ seorang
bhikkhu di sini masuk dan berdiam dalam landasan kekosongan. Ia mungkin berpikir bahwa: ‘Aku berdiam dalam penghapusan.’
Tetapi … ini disebut ‘kediaman yang damai’ dalam Disiplin Yang-Mulia.
11. “Adalah mungkin di sini bahwa dengan sepenuhnya melampaui landasan
kekosongan, seorang bhikkhu di sini masuk dan berdiam dalam landasan bukan
persepsi juga bukan bukan-persepsi. Ia mungkin berpikir bahwa: ‘Aku berdiam
dalam penghapusan.’ [42] Tetapi bukan pencapaian-pencapaian ini yang
disebut ‘penghapusan dalam Disiplin Yang-Mulia’: ini disebut ‘kediaman
yang damai’ dalam Disiplin Yang-Mulia.
(PENGHAPUSAN)
12. “Sekarang, Cunda, ini adalah penghapusan yang harus engkau praktikkan:
[Kitab Komentar : Empat puluh empat “cara penghapusan” yang dijelaskan, jatuh dalam beberapa
kelompok ajaran sebagai berikut. Yang tidak disebutkan di sini berarti tidak
termasuk dalam kelompok manapun.
(2)-(11) adalah sepuluh
perbuatan tidak bermanfaat dan perbuatan bermanfaat (kammapatha) – baca Majjhima Nikāya
9.4, 9.6;
(12)-(18) adalah tujuh
faktor terakhir dari Jalan Delapan – buruk dan baik – faktor pertama identik
dengan (11);
(19)-(20) kadang-kadang
ditambahkan pada dua Jalan Delapan – baca Majjhima Nikāya 117.34-36;
(21)-(23) adalah tiga
terakhir dari lima rintangan – baca Majjhima Nikāya 10.36 – dua yang pertama
identik dengan (9) dan (10);
(24)-(33) adalah sepuluh
dari enam belas ketidak-sempurnaan yang mengotori batin, yang disebutkan dalam
Majjhima Nikāya 7.3;
(37)-(43) adalah tujuh
kualitas buruk dan tujuh kualitas baik (saddhammā) yang disebutkan dalam Majjhima Nikāya
53.11-17.]
(1) ‘Orang lain akan bertindak kejam; di sini kita tidak akan bertindak
kejam’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
[Kitab Komentar : Ketidak-kejaman
(avihiṁsā), yang merupakan sinonim dari
belas kasih, disebutkan pertama karena merupakan akar dari segala kebajikan,
khususnya penyebab-akar dari moralitas.]
(2) ‘Orang lain akan membunuh makhluk-makhluk hidup; di sini kita harus
menghindari pembunuhan makhluk-makhluk hidup’; penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(3) ‘Orang lain akan mengambil apa yang tidak diberikan; di sini kita
harus menghindari mengambil apa yang tidak diberikan’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(4) ‘Orang lain tidak selibat; di sini kita harus selibat’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(5) ‘Orang lain akan mengatakan kebohongan; di sini kita harus menghindari
kebohongan’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(6) ‘Orang lain akan mengucapkan fitnah; di sini kita harus menghindari
mengucapkan fitnah’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(7) ‘Orang lain akan berkata-kata kasar; di sini kita harus menghindari
berkata-kata kasar’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(8) ‘Orang lain akan bergosip; di sini kita harus menghindari gosip’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(9) ‘Orang lain akan tamak; di sini kita tidak boleh tamak’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(10) ‘Orang lain akan memiliki permusuhan; di sini kita harus tanpa
permusuhan’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(11) ‘Orang lain akan memiliki pandangan salah; di sini kita harus
memiliki pandangan benar’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(12) ‘Orang lain akan memiliki kehendak salah; di sini kita harus memiliki
kehendak benar’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(13) ‘Orang lain akan memiliki ucapan salah; di sini kita harus memiliki
ucapan benar’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(14) ‘Orang lain akan memiliki perbuatan salah; di sini kita harus
memiliki perbuatan benar’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(15) ‘Orang lain akan memiliki penghidupan salah di sini; di sini kita
harus memiliki penghidupan benar’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(16) ‘Orang lain akan memiliki usaha salah; di sini kita harus memiliki
usaha benar’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(17) ‘Orang lain akan memiliki perhatian salah; di sini kita harus memiliki
perhatian benar’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(18) ‘Orang lain akan memiliki konsentrasi salah; di sini kita harus
memiliki konsentrasi benar’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(19) ‘Orang lain akan memiliki pengetahuan salah; di sini kita harus
memiliki pengetahuan benar’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(20) ‘Orang lain akan memiliki kebebasan salah; di sini kita harus
memiliki kebebasan benar’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(21) ‘Orang lain akan dikuasai oleh kelambanan dan ketumpulan; di sini
kita harus terbebas dari kelambanan dan ketumpulan’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(22) ‘Orang lain akan gelisah; di sini kita tidak boleh gelisah’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(23) ‘Orang lain akan merasa ragu-ragu; di sini kita harus melampaui
keragu-raguan’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(24) ‘Orang lain akan marah; di sini kita tidak boleh marah’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(25) ‘Orang lain akan kesal; di sini kita tidak boleh kesal’: penghapusan harus dipraktikkan demikian. [43]
(26) ‘Orang lain akan bersikap meremehkan; di sini kita tidak boleh
bersikap meremehkan’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(27) ‘Orang lain akan congkak; di sini kita tidak boleh congkak’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(28) ‘Orang lain akan merasa iri; di sini kita tidak boleh iri’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(29) ‘Orang lain akan bersifat serakah; di sini kita tidak boleh serakah’:
penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(30) ‘Orang lain akan menipu; di sini kita tidak boleh menipu’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(31) ‘Orang lain akan curang; di sini kita tidak boleh curang’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(32) ‘Orang lain akan keras-kepala; di sini kita tidak boleh keras-kepala’:
penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(33) ‘Orang lain akan angkuh; di sini kita tidak boleh angkuh’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(34) ‘Orang lain akan sulit dinasihati; di sini kita harus mudah dinasihati’:
penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(35) ‘Orang lain akan memiliki teman-teman jahat; di sini kita harus
memiliki teman-teman baik’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(36) ‘Orang lain akan lalai; di sini kita harus rajin’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(37) ‘Orang lain akan tidak berkeyakinan; di sini kita harus berkeyakinan’:
penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(38) ‘Orang lain akan tidak memiliki rasa malu [melakukan perbuatan salah];
di sini kita harus memiliki rasa malu [melakukan perbuatan salah]’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(39) ‘Orang lain akan tidak memiliki rasa takut melakukan perbuatan
salah; di sini kita harus takut melakukan perbuatan salah’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(40) ‘Orang lain akan sedikit belajar; di sini kita harus banyak belajar’:
penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(41) ‘Orang lain akan malas; di sini kita harus bersemangat’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(42) ‘Orang lain akan tanpa perhatian; di sini kita harus kokoh dalam
perhatian’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(43) ‘Orang lain akan tanpa kebijaksanaan; di sini kita harus memiliki
kebijaksanaan’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
(44) ‘Orang lain akan terikat pada pandangan-pandangan mereka sendiri,
menggenggamnya erat-erat, dan melepaskannya dengan susah-payah; kita tidak
boleh terikat pada pandangan-pandangan kita sendiri atau menggenggamnya
erat-erat, melainkan harus melepaskannya dengan mudah’: penghapusan harus dipraktikkan demikian.
[Kitab Komentar : Kalimat “melepaskannya dengan
susah-payah”, adalah penjelasan dari mereka yang menggenggam erat-erat pada
pandangan yang telah muncul dalam diri mereka, dengan mempercayai “Hanya inilah
kebenaran”; mereka tidak melepaskannya bahkan jika disuruh oleh Sang Buddha
dengan argumen yang masuk akal.]
(KECONDONGAN PIKIRAN)
13. “Cunda, Aku katakan bahwa bahkan kecondongan
pikiran pada kondisi-kondisi bermanfaat adalah bermanfaat besar, apalagi tindakan-tindakan perbuatan dan ucapan
yang selaras [dengan keadaan pikiran demikian]? Oleh Karena itu, Cunda:
[Kitab Komentar : Kecondongan pikiran bermanfaat
besar karena secara eksklusif membawa kesejahteraan dan kebahagiaan, dan karena
menjadi penyebab dari perbuatan selanjutnya yang bersesuaian.]
(1) Pikiran harus condong pada: ‘Orang lain akan kejam; di sini kita
tidak boleh kejam.’
(2) Pikiran harus condong pada: ‘Orang lain akan membunuh makhluk-makhluk
hidup; di sini kita harus menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup.
(3)-(43) Pikiran harus condong pada: …
(44) Pikiran harus condong pada: ‘Orang lain akan terikat pada pandangan-pandangan
mereka sendiri, menggenggamnya erat-erat, dan melepaskannya dengan susah-payah;
kita tidak boleh terikat pada pandangan-pandangan kita sendiri atau menggenggamnya
erat-erat, melainkan harus melepaskannya dengan mudah.’
(PENGHINDARAN)
14. “Cunda, misalkan terdapat jalan setapak yang tidak rata dan ada jalan
setapak lainnya yang rata untuk menghindari jalan setapak yang tidak rata; dan
misalkan terdapat penyeberangan sungai yang tidak rata dan ada penyeberangan
sungai lain yang rata untuk menghindari penyeberangan sungai yang tidak rata. [44]
Demikian pula:
(1) Seseorang
yang terbiasa kejam memiliki ketidak-kejaman untuk menghindarinya.
[Komentar : Kita dapat menyebut, bahwa Sang Buddha
tidak secara literal mengatakan bahwa “kehendak bebas” (free will)
adalah sudah eksis dan laten sifatnya dalam diri seseorang, namun “kehendak
bebas harus ditanam dan ditumbuhkan secara sadar ke dalam diri”. Kita dapat
mengkategorikannya sebagai “usaha dan perhatian benar”, secara sadar mengarahkan
diri dari kecondongan yang ada sebelumnya dan menghindarinya, dalam rangka membangkitkan
dan menegakkan sifat yang sebelumnya belum dimiliki. Demikianlah kita mengasuh
dan mendidik diri kita sendiri, untuk mengarahkan diri kita “ke atas”.]
(2) Seseorang yang terbiasa membunuh makhluk-makhluk hidup memiliki
penghindaran dari pembunuhan untuk menghindarinya.
(3) Seseorang yang terbiasa mengambil apa yang tidak diberikan memiliki
penghindaran dari mengambil apa yang tidak diberikan untuk menghindarinya.
(4) Seorang yang tidak selibat memiliki selibat untuk menghindarinya.
(5) Seorang yang terbiasa berbohong memiliki penghindaran dari berbohong
untuk menghindarinya.
(6) Seorang yang terbiasa mengucapkan fitnah memiliki penghindaran dari
mengucapkan fitnah untuk menghindarinya.
(7) Seorang yang terbiasa berkata kasar memiliki penghindaran dari
berkata kasar untuk menghindarinya.
(8) Seorang yang terbiasa bergosip memiliki penghindaran dari bergosip
untuk menghindarinya.
(9) Seorang yang terbiasa tamak memiliki sifat tidak tamak untuk
menghindarinya.
(10) Seorang yang terbiasa bermusuhan memiliki tanpa-permusuhan untuk
menghindarinya.
(11) Seorang yang terbiasa berpandangan salah memiliki pandangan benar
untuk menghindarinya.
(12) Seorang yang terbiasa berkehendak salah memiliki kehendak benar
untuk menghindarinya.
(13) Seorang yang terbiasa berucapan salah memiliki ucapan benar untuk
menghindarinya.
(14) Seorang yang terbiasa berbuat salah memiliki perbuatan benar untuk
menghindarinya.
(15) Seorang yang terbiasa berpenghidupan salah memiliki penghidupan
benar untuk menghindarinya.
(16) Seorang yang terbiasa berusaha salah memiliki usaha benar untuk
menghindarinya.
(17) Seorang yang terbiasa berperhatian salah memiliki perhatian benar
untuk menghindarinya.
(18) Seorang yang terbiasa berkonsentrasi salah memiliki konsentrasi
benar untuk menghindarinya.
(19) Seorang yang terbiasa berpengetahuan salah memiliki pengetahuan
benar untuk menghindarinya.
(20) Seorang yang terbiasa berkebebasan salah memiliki kebebasan benar
untuk menghindarinya.
(21) Seorang yang terbiasa dengan kelambanan dan ketumpulan memiliki
kebebasan dari kelambanan dan ketumpulan untuk menghindarinya.
(22) Seorang yang terbiasa dengan kegelisahan memiliki ketidak-gelisahan
untuk menghindarinya.
(23) Seorang yang terbiasa dengan keragu-raguan memiliki keadaan yang
melampaui keragu-raguan untuk menghindarinya.
(24) Seorang yang terbiasa dengan kemarahan memiliki ketidak-marahan
untuk menghindarinya.
(25) Seorang yang terbiasa dengan kekesalan memiliki ketidak-kesalan
untuk menghindarinya.
(26) Seorang yang terbiasa bersikap meremehkan memiliki sikap
tidak-meremehkan orang lain untuk menghindarinya.
(27) Seorang yang terbiasa bersikap congkak memiliki sikap tidak congkak
untuk menghindarinya.
(28) Seorang yang terbiasa iri memiliki ketidak-irian untuk menghindarinya.
(29) Seorang yang terbiasa tamak memiliki ketidak-tamakan untuk
menghindarinya.
(30) Seorang yang terbiasa menipu memiliki sikap tidak-menipu untuk
menghindarinya.
(31) Seorang yang terbiasa curang memiliki sikap tidak-curang untuk
menghindarinya.
(32) Seorang yang terbiasa bersifat keras-kepala memiliki ketidak-keras-kepalaan
untuk menghindarinya.
(33) Seorang yang terbiasa bersifat angkuh memiliki ketidak-angkuhan untuk
menghindarinya.
(34) Seorang yang terbiasa sulit dinasihati memiliki sifat mudah dinasihati
untuk menghindarinya.
(35) Seorang yang terbiasa bergaul dengan teman-teman jahat memiliki
pergaulan dengan teman-teman baik untuk menghindarinya.
(36) Seorang yang terbiasa lalai memiliki ketekunan untuk menghindarinya.
(37) Seorang yang terbiasa tidak berkeyakinan memiliki keyakinan untuk
menghindarinya.
(38) Seorang yang terbiasa tidak merasa malu [melakukan perbuatan salah]
memiliki rasa malu [melakukan perbuatan salah] untuk menghindarinya.
(39) Seorang yang terbiasa merasa tidak takut melakukan perbuatan salah
memiliki rasa takut melakukan perbuatan salah untuk menghindarinya.
(40) Seorang yang terbiasa sedikit belajar memiliki banyak belajar untuk
menghindarinya.
(41) Seorang yang terbiasa malas memiliki pembangkitan kegigihan untuk
menghindarinya.
(42) Seorang yang terbiasa tanpa perhatian memiliki penegakan perhatian
untuk menghindarinya.
(43) Seorang yang terbiasa tanpa kebijaksanaan memiliki perolehan
kebijaksanaan untuk menghindarinya.
(44) Seorang yang terikat pada pandangan-pandangan mereka sendiri, yang
menggenggamnya erat-erat dan melepaskannya dengan susah-payah, memiliki
ketidak-terikatan pada pandangan-pandangannya sendiri, tidak menggenggamnya erat-erat
dan melepaskannya dengan mudah, untuk menghindarinya.
(JALAN
YANG MENGARAH KE ATAS)
15. “Cunda, seperti halnya semua
kondisi-kondisi tidak bermanfaat mengarah ke bawah dan semua kondisi-kondisi bermanfaat
mengarah ke atas,
demikian pula:
(1) Seseorang yang terbiasa kejam memiliki ketidak-kejaman untuk
mengarahkannya ke atas.
(2) Seseorang yang terbiasa membunuh makhluk-makhluk hidup memiliki
penghindaran dari pembunuhan untuk mengarahkannya ke atas.
(3-43) Seseorang yang terbiasa … untuk mengarahkannya ke atas.
(44) Seorang yang terikat pada pandangan-pandangan mereka sendiri, yang
menggenggamnya erat-erat [45] dan melepaskannya dengan susah-payah, memiliki
ketidak-terikatan pada pandangan-pandangannya sendiri, tidak menggenggamnya erat-erat
dan melepaskannya dengan mudah, untuk mengarahkannya ke atas.
(JALAN
UNTUK MEMADAMKAN)
16. “Cunda, bahwa seseorang
yang tenggelam dalam lumpur harus menarik seorang lainnya yang tenggelam dalam
lumpur adalah tidak mungkin; bahwa seseorang
yang tidak tenggelam dalam lumpur harus menarik seorang lainnya yang tenggelam dalam
lumpur adalah mungkin. Bahwa seorang
yang tidak jinak, tidak disiplin, [dengan kekotoran] belum padam, harus menjinakkan
orang lain, mendisiplinkannya, dan membantunya memadamkan [kekotorannya] adalah
tidak mungkin; Bahwa seorang yang jinak,
disiplin, [dengan kekotoran] telah padam, harus menjinakkan orang lain,
mendisiplinkannya, dan membantunya memadamkan [kekotorannya] adalah mungkin. Demikian pula:
[Kitab Komentar : Kata Pali yang diterjemahkan
sebagai “padam” adalah parinibbuto, yang juga dapat berarti “mencapai
Nibbāna”; dan kata Pali yang diterjemahkan “membantu memadamkan” adalah parinibbāpessati,
yang juga dapat berarti “membantu mencapai Nibbāna” atau “membawa menuju
Nibbāna.” Kata Pali untuk ungkapan selanjutnya “yang dengannya memadamkannya,” parinibbānaya,
mungkin dapat diterjemahkan “untuk mencapai Nibbāna.” Walaupun dalam seluruh
tiga kasus terjemahan alternatif ini akan menjadi terlalu dipaksakan secara
literal, maknanya berperan pada usulan atas makna asli dalam cara yang tidak
dapat ditangkap dalam terjemahan.]
(1) Seseorang
yang terbiasa kejam memiliki ketidak-kejaman untuk memadamkannya.
[Kitab Komentar : Pernyataan tersebut dapat dipahami
dalam dua cara: (1) Seseorang
yang bebas dari kekejaman dapat menggunakan ketidak-kejamannya untuk membantu
memadamkan kekejaman orang lain; atau (2) seseorang
yang kejam dapat mengembangkan ketidak-kejaman untuk memadamkan watak kejamnya. Seluruh kasus berikutnya harus dipahami dalam dua
cara serupa.]
(2) Seseorang yang terbiasa membunuh makhluk-makhluk hidup memiliki
penghindaran dari pembunuhan untuk memadamkannya.
(3-43) Seseorang yang terbiasa … [46] … untuk memadamkannya.
(44) Seorang yang terikat pada pandangan-pandangan mereka sendiri, yang
menggenggamnya erat-erat dan melepaskannya dengan susah-payah, memiliki
ketidak-terikatan pada pandangan-pandangannya sendiri, tidak menggenggamnya erat-erat
dan melepaskannya dengan mudah, untuk memadamkannya.
(PENUTUP)
17. “Maka, Cunda, jalan penghapusan telah diajarkan olehKu, jalan kecondongan
pikiran telah
diajarkan olehKu, jalan
penghindaran telah
diajarkan olehKu, jalan
pemadaman telah diajarkan
olehKu.
18. “Apa yang harus dilakukan untuk para siswaNya demi belas kasih
seorang guru yang mengusahakan kesejahteraan mereka dan memiliki belas kasih
pada mereka, telah Aku lakukan untukmu, Cunda. Ada bawah pepohonan ini,
gubuk-gubuk kosong ini. Bermeditasilah, Cunda, jangan menunda atau engkau akan
menyesalinya kelak. Ini adalah instruksi Kami kepadamu.” Itu adalah apa
yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Mahā Cunda merasa puas dan gembira
mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Kitab Komentar : Tugas
guru yang berbelas kasih adalah pengajaran Dhamma yang benar; di luar itu adalah praktik, yang merupakan
tugas para siswa.]
Berkebalikan dari ajaran Sang Buddha, alih-alih menghapus kekotoran-batin
yang bersarang dalam diri, para muslim pemeluk “Agama DOSA”—agama yang
mempromosikan “PENGHAPUSAN DOSA” bagi “KORUPTOR DOSA” dimana dosa-dosa pun
dikorupsi, alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun
maksiat—justru merasa bangga seumur hidupnya mencandu dan kecanduan “PENGHAPUSAN
DOSA” yang begitu adiktif sekaligus “TOXIC”—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Sang
Buddha telah bersabda, “seseorang yang tenggelam dalam lumpur harus
menarik seorang lainnya yang tenggelam dalam lumpur adalah tidak mungkin”.
Kini, perhatikan betapa sang “nabi rasul Allah” sendiri masih mabuk serta
kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”, namun hendak menghakimi kaum lain maupun
menceramahi orang lain, ibarat “orang buta” yang hendak menuntun para butawan
lainnya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]