Bersekutu dengan Setan Sembari Menyembah Allah (Ritual PENGHAPUSAN DOSA), Sambil Menyelam Minum Air

Menjelma KORUPTOR DOSA Sembari Mencandu PENGHAPUSAN DOSA dan Sibuk MEMPRODUKSI SEGUDANG DOSA-DOSA, Hidup dan Mati sebagai PENDOSA PECANDU PENGAMPUNAN DOSA

MERUGI, bila Tidak Mencandu PENGAMPUNAN DOSA Sembari Berlomba-Lomba Mengoleksi DOSA-DOSA”, kata Umat Agama Islam—“Agama DOSA” bagi PENDOSA PECANDU PENGAMPUNAN DOSA

Question: Ada orang, lebih tepatnya pemilik rumah makan, yang rumah makannya memakai ilmu hitam (bersekutu dengan jin dan setan) agar rumah makannya laris dikunjungi konsumen, namun sang pemilik rumah makan disaat bersamaan rajin ibadah ke masjid, tidak pernah absen solat lima waktu. Mengapa bisa demikian?

Brief Answer: Itu terjadi karena Allah kompromistis terhadap dosa-dosa sebesar bumi dan setinggi langit, namun disaat bersamaan demikian intoleran terhadap kaum NON yang sekalipun suci dan baik namun tetap dilempar ke neraka semata karena tidak mengakui eksistensi Allah. Bila Allah benar adalah “Tuhan”, maka semestinya tidak butuh pengakuan apapun ataupun untuk disembah oleh siapapun, karena sejatinya atau Tuhan yang sejati sifatnya telah “PENUH” dan “KOMPLIT” alias “SEMPURNA” sekalipun tidak diakui dan tidak juga disembah oleh siapapun.

PEMBAHASAN:

Tidaklah keliru bila kita memberi gelar kepada umat-umat agama samawi sebagai kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang, dan disaat bersamaan merupakan pengecut yang begitu pengecut untuk menghadapi konsekuensi dari perbuatannya sendiri dengan lari dari tanggung-jawab, sebagaimana dibabarkan lewat khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID V”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan sebagai berikut:

V. Upāli [Upāsakavagga, “Bab tentang Umat-Umat Awam.”]

91 (1) Seorang Yang Menikmati Kenikmatan Indria

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Kemudian perumah tangga Anāthapiṇḍika mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya: [177]

“Perumah tangga, ada sepuluh jenis orang ini yang menikmati kenikmatan indria yang terdapat di dunia ini. Apakah sepuluh ini?

[Kitab Komentar : Tiga variabel dari pola ini yang akan dijelaskan adalah: (i) Bagaimanakah kekayaan itu diperoleh, apakah dengan tidak benar, dengan benar, atau keduanya; (ii) apakah kekayaan itu digunakan untuk manfaat dirinya sendiri atau tidak; dan (iii) apakah digunakan demi manfaat orang lain atau tidak. Mereka yang bernilai positif pada ketiga hal ini dibagi lebih lanjut menjadi mereka yang melekati kekayaan mereka dan mereka yang tidak melekatinya.]

[I. PEMBABARAN]

[A. Mereka Yang Mencari Kekayaan dengan Tidak Benar]

(1) “Di sini, perumah tangga, seseorang yang menikmati kenikmatan indria mencari kekayaan dengan tidak benar, dengan kekerasan. Setelah melakukan demikian, ia tidak membuat dirinya bahagia dan gembira, juga ia tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa.

(2) “Seorang lainnya yang menikmati kenikmatan indria mencari kekayaan dengan tidak benar, dengan kekerasan. Setelah melakukan demikian, ia membuat dirinya bahagia dan gembira, tetapi ia tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa.

(3) “Seorang lainnya lagi yang menikmati kenikmatan indria mencari kekayaan dengan tidak benar, dengan kekerasan. Setelah melakukan demikian, ia membuat dirinya bahagia dan gembira, dan ia juga membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa.

[B. Mereka Yang Mencari Kekayaan dengan Benar dan dengan Tidak Benar]

(4) “Berikutnya, perumah tangga, seseorang yang menikmati kenikmatan indria mencari kekayaan dengan benar dan dengan tidak benar, dengan kekerasan dan tanpa kekerasan. Setelah melakukan demikian, ia tidak membuat dirinya bahagia dan gembira, juga ia tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa.

(5) “Seorang lainnya yang menikmati kenikmatan indria mencari kekayaan dengan benar dan dengan tidak benar, dengan kekerasan dan tanpa kekerasan. Setelah melakukan demikian, ia membuat dirinya bahagia dan gembira, tetapi ia tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa.

(6) “Seorang lainnya lagi yang menikmati kenikmatan indria mencari kekayaan dengan benar dan dengan tidak benar, dengan kekerasan dan tanpa kekerasan. Setelah melakukan demikian, ia membuat dirinya bahagia dan gembira, dan ia juga membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa.

[C. Mereka Yang Mencari Kekayaan dengan Benar]

(7) “Berikutnya, perumah tangga, seseorang yang menikmati kenikmatan indria mencari kekayaan dengan benar, tanpa kekerasan. Setelah melakukan demikian, ia tidak membuat dirinya bahagia dan gembira, juga ia tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa.

(8) “Seorang lainnya yang menikmati kenikmatan indria mencari kekayaan dengan benar, tanpa kekerasan. Setelah melakukan demikian, [178] ia membuat dirinya bahagia dan gembira, tetapi ia tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa.

(9) “Seorang lainnya lagi yang menikmati kenikmatan indria mencari kekayaan dengan benar, tanpa kekerasan. Setelah melakukan demikian, ia membuat dirinya bahagia dan gembira, dan ia juga membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. Tetapi ia menggunakan kekayaannya dengan terikat pada kekayaannya, tergila-gila padanya, dan secara membuta tenggelam di dalamnya, tidak melihat bahaya di dalamnya dan tidak memahami jalan membebaskan diri darinya.

(10) “Dan seorang lainnya lagi yang menikmati kenikmatan indria mencari kekayaan dengan benar, tanpa kekerasan. Setelah melakukan demikian, ia membuat dirinya bahagia dan gembira, dan ia juga membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. Dan ia menggunakan kekayaannya tanpa terikat pada kekayaannya, tidak tergila-gila padanya, dan tidak secara membuta tenggelam di dalamnya, melihat bahaya di dalamnya dan memahami jalan membebaskan diri darinya.

[II. Evaluasi]

[A. Mereka Yang Mencari Kekayaan dengan Tidak Benar]

(1) “Ia yang menikmati kenikmatan indria yang mencari kekayaan dengan tidak benar, dengan kekerasan, dan tidak membuat dirinya bahagia dan gembira, dan juga tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, dapat dikritik atas tiga dasar. Dasar pertama yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan tidak benar, dengan kekerasan. Dasar ke dua yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia tidak membuat dirinya sendiri bahagia dan gembira. Dasar ke tiga yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. Orang yang menikmati kenikmatan indria ini dapat dikritik atas ketiga dasar ini.

(2) “Ia yang menikmati kenikmatan indria yang mencari kekayaan dengan tidak benar, dengan kekerasan, dan membuat dirinya bahagia dan gembira, tetapi tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, dapat dikritik atas dua dasar dan dipuji atas satu dasar. Dasar pertama yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan tidak benar, dengan kekerasan. Satu dasar yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia membuat dirinya sendiri bahagia dan gembira. Dasar ke dua yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. Orang yang menikmati kenikmatan indria ini dapat dikritik atas kedua dasar ini dan dipuji atas satu dasar ini. [179]

(3) “Ia yang menikmati kenikmatan indria yang mencari kekayaan dengan tidak benar, dengan kekerasan, dan membuat dirinya bahagia dan gembira, dan membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, dapat dikritik atas satu dasar dan dipuji atas dua dasar. Satu dasar yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan tidak benar, dengan kekerasan. Dasar pertama yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia membuat dirinya sendiri bahagia dan gembira. Dasar ke dua yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. Orang yang menikmati kenikmatan indria ini dapat dikritik dalam satu dasar ini dan dipuji atas dua dasar ini.

[B. Mereka Yang Mencari Kekayaan dengan Benar dan dengan Tidak Benar]

(4) “Berikutnya, perumah tangga, ia yang menikmati kenikmatan indria yang mencari kekayaan dengan benar dan dengan tidak benar, dengan kekerasan dan tanpa kekerasan, dan tidak membuat dirinya bahagia dan gembira, dan tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, dapat dipuji atas satu dasar dan dikritik atas tiga dasar. Satu dasar yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan benar, tanpa kekerasan. Dasar pertama yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan tidak benar, dengan kekerasan. Dasar ke dua yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia tidak membuat dirinya sendiri bahagia dan gembira. Dasar ke tiga yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. Orang yang menikmati kenikmatan indria ini dapat dipuji atas satu dasar ini dan dikritik atas tiga dasar ini.

(5) “Ia yang menikmati kenikmatan indria yang mencari kekayaan dengan benar dan dengan tidak benar, dengan kekerasan dan tanpa kekerasan, dan membuat dirinya bahagia dan gembira, tetapi tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, dapat dipuji atas dua dasar dan dikritik atas dua dasar. Dasar pertama yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan benar, tanpa kekerasan. Dasar pertama yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan tidak benar, dengan kekerasan. Dasar ke dua yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia membuat dirinya sendiri bahagia dan gembira. Dasar ke dua yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. [180] Orang yang menikmati kenikmatan indria ini dapat dipuji atas dua dasar ini dan dikritik atas dua dasar ini.

(6) “Ia yang menikmati kenikmatan indria yang mencari kekayaan dengan benar dan dengan tidak benar, dengan kekerasan dan tanpa kekerasan, dan membuat dirinya bahagia dan gembira, dan membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, dapat dipuji atas tiga dasar dan dikritik atas satu dasar. Dasar pertama yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan benar, tanpa kekerasan. Satu dasar yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan tidak benar, dengan kekerasan. Dasar ke dua yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia membuat dirinya sendiri bahagia dan gembira. Dasar ke tiga yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. Orang yang menikmati kenikmatan indria ini dapat dipuji atas tiga dasar ini dan dikritik atas satu dasar ini.

[C. Mereka Yang Mencari Kekayaan dengan Benar]

(7) “Berikutnya, perumah tangga, ia yang menikmati kenikmatan indria yang mencari kekayaan dengan benar, tanpa kekerasan, dan tidak membuat dirinya bahagia dan gembira, dan juga tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, dapat dipuji atas satu dasar dan dikritik atas dua dasar. Satu dasar yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan benar, tanpa kekerasan. Dasar pertama yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia tidak membuat dirinya sendiri bahagia dan gembira. Dasar ke dua yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. Orang yang menikmati kenikmatan indria ini dapat dipuji atas satu dasar ini dan dikritik atas dua dasar ini.

(8) “Ia yang menikmati kenikmatan indria yang mencari kekayaan dengan benar, tanpa kekerasan, dan membuat dirinya bahagia dan gembira, tetapi tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, dapat dipuji atas dua dasar dan dikritik atas satu dasar. Dasar pertama yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan benar, tanpa kekerasan. Dasar ke dua yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia membuat dirinya sendiri bahagia dan gembira. Satu dasar yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. [181] Orang yang menikmati kenikmatan indria ini dapat dipuji atas dua dasar ini dan dikritik atas satu dasar ini.

(9) “Ia yang menikmati kenikmatan indria yang mencari kekayaan dengan benar, tanpa kekerasan, dan membuat dirinya bahagia dan gembira, dan membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, tetapi ia menggunakan kekayaannya dengan terikat pada kekayaannya, tergila-gila padanya, dan secara membuta tenggelam di dalamnya, tidak melihat bahaya di dalamnya dan tidak memahami jalan membebaskan diri darinya – ia dapat dipuji atas tiga dasar dan dikritik atas satu dasar. Dasar pertama yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan benar, tanpa kekerasan. Dasar ke dua yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia membuat dirinya sendiri bahagia dan gembira. Dasar ke tiga yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. Satu dasar yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia menggunakan kekayaannya dengan terikat pada kekayaannya, tergila-gila padanya, dan secara membuta tenggelam di dalamnya, tidak melihat bahaya di dalamnya dan tidak memahami jalan membebaskan diri darinya. Orang yang menikmati kenikmatan indria ini dapat dipuji atas tiga dasar ini dan dikritik atas satu dasar ini.

(10) “Ia yang menikmati kenikmatan indria yang mencari kekayaan dengan benar, tanpa kekerasan, dan membuat dirinya bahagia dan gembira, dan membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, dan ia menggunakan kekayaannya tanpa terikat pada kekayaannya, tidak tergila-gila padanya, dan tidak secara membuta tenggelam di dalamnya, melihat bahaya di dalamnya dan memahami jalan membebaskan diri darinya – ia dapat dipuji atas empat dasar. Dasar pertama yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan benar, tanpa kekerasan. Dasar ke dua yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia membuat dirinya sendiri bahagia dan gembira. Dasar ke tiga yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. Dasar ke empat yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia menggunakan kekayaannya tanpa terikat pada kekayaannya, tidak tergila-gila padanya, dan tidak secara membuta tenggelam di dalamnya, melihat bahaya di dalamnya dan memahami jalan membebaskan diri darinya. Orang yang menikmati kenikmatan indria ini dapat dipuji atas empat dasar ini.

[Penutup]

“Ini, perumah tangga, adalah kesepuluh jenis orang itu yang menikmati kenikmatan indria yang terdapat di dunia ini. Di antara kesepuluh orang ini, [182] yang terkemuka, terbaik, terunggul, tertinggi, dan termulia adalah seorang yang menikmati kenikmatan indria yang mencari kekayaan dengan benar, tanpa kekerasan, dan membuat dirinya bahagia dan gembira, dan membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, dan ia menggunakan kekayaannya tanpa terikat pada kekayaannya, tidak tergila-gila padanya, dan tidak secara membuta tenggelam di dalamnya, melihat bahaya di dalamnya dan memahami jalan membebaskan diri darinya. Seperti halnya, dari sapi dihasilkan susu, dari susu dihasilkan dadih, dari dadih dihasilkan mentega, dari mentega dihasilkan ghee, dan dari ghee dihasilkan krim-ghee, yang dianggap sebagai yang terbaik di antara semua itu, demikian pula, di antara kesepuluh jenis orang itu yang menikmati kenikmatan indria ini yang terdapat di dunia, yang terunggul, yang terbaik, yang menonjol, yang tertinggi, dan yang termulia adalah ia yang mencari kekayaan dengan benar, tanpa kekerasan, dan membuat dirinya bahagia dan gembira; dan membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, dan ia menggunakan kekayaannya tanpa terikat pada kekayaannya, tidak tergila-gila padanya, dan tidak secara membuta tenggelam di dalamnya, melihat bahaya di dalamnya dan memahami jalan membebaskan diri darinya.”

Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi, disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”. Dosa-dosa pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.

Terhadap dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA” alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]