Agama Samawi Membuat Umatnya Tenggelam dalam Dosa-Dosa dan Kehilangan Kebersihan Batin
Tidak Ada yang Lebih Kotor, Hina, serta Tercela daripada PENDOSA PECANDU
PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA
Question: Ada banyak yang bilang, di negara islam seperti Arab Saudi, tidak ada kejahatan seperti pencurian. Apakah betul?
Brief
Answer: Bukankah pemberitaan
sudah banyak menunjukkan fakta tidak terbantahkan, bahwa banyak muslim yang
pergi haji / umroh ke Arab, kehilangan sandal mengakibatkan telapak kaki para
muslim yang kehilangan sandal menjadi melepuh karena berjalan kaki di jalan
yang terik-panas, kehilangan sanak-keluarganya (entah diculik atau sebagainya),
kehilangan harga-diri karena organ tubuh intimnya digerayangi oleh jemaat lain
saat berdesak-desakan, bahkan kehilangan keperawanan seperti kasus Pekerja
Migran Indonesia yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di Arab Saudi.
Para
pelakunya, tetap saja disebut “soleh” semata karena rajin ibadah (ritual solat)
serta merasa terjamin masuk surga setelah ajal menjeputnya, berkat iming-iming KORUP
bernama “PENGAMPUNAN DOSA” (abolition of sins). Itulah juga sebabnya,
agama islam lebih cocok menyandang gelar sebagai “Agama DOSA” alih-alih “Agama
SUCI”, semata karena mempromosikan “PENGAMPUNAN DOSA (bagi PENDOSA, tentunya)” alih-alih
mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun maksiat.
Adapun
para pemeluknya, ialah para “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” yang menjelma
“KORUPTOR DOSA”, dimana dosa-dosa pun dikorupsi, termasuk meng-korupsi hak
korban atas keadilan—alih-alih “kembali ke fitri”. Anda lihat, islam
membuat banyak umat manusia kehilangan kemanusiaannya, martabatnya,
moralitasnya, serta keadilannya. Umat agama samawi kehilangan kebersihan maupun
kesuciaannya. Sebaliknya, umat Buddhist yang terlatih dalam disiplin diri yang
ketat bernama “self-control”, dapat merasa nyaman dengan dirinya
sendiri, sembari berkata dengan gembira : “Betapa
beruntungnya bahwa aku BERSIH!”
PEMBAHASAN:
Bisa dikatakan, kehilangan terbesar umat agama nasrani ialah agama
warisan nenek-moyang leluhur Nusantara, yakni Agama Buddha. Buddhisme tidak
membuat para siswa-siswi-Nya kehilangan hal yang penting, yakni martabat, harga-diri,
maupun nurani, justru membuat mereka merasa bahagia karena “bersih”. Kedua,
umat Buddhist menjadi terampil dalam jalan pikirannya sendiri, sebagaimana khotbah
Sang Buddha dalam “Aṅguttara
Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID V”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh
Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015
oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan sebagai berikut:
55 (5) Kemunduran
Di sana Yang Mulia Sāriputta berkata kepada para bhikkhu:
“Teman-teman, para bhikkhu!”
“Teman!” para bhikkhu itu menjawab. Yang Mulia Sāriputta berkata sebagai
berikut:
“Teman-teman, dikatakan: ‘Seorang yang tunduk pada kemunduran, seorang
yang tunduk pada kemunduran.’ Dengan cara bagaimanakah Sang Bhagavā mengatakan
tentang seorang yang tunduk pada kemunduran, dan dengan cara bagaimanakah seorang
yang tidak tunduk pada kemunduran?”
“Kami datang dari jauh, teman, untuk mempelajari makna dari pernyataan
ini dari Yang Mulia Sāriputta. Baik sekali jika ia sudi menjelaskan makna dari
pernyataan ini. [103] Setelah mendengarnya darinya, para bhikkhu akan
mengingatnya.”
“Kalau begitu, teman-teman, dengarkan dan perhatikanlah dengan seksama.
Aku akan berbicara.”
“Baik, teman,” para bhikkhu itu menjawab.
Yang Mulia Sāriputta berkata sebagai berikut:
“Dengan cara bagaimanakah, teman-teman, Sang Bhagavā mengatakan tentang seorang yang tunduk
pada kemunduran? Di sini,
seorang bhikkhu tidak dapat mendengarkan ajaran yang belum ia dengar
sebelumnya, melupakan ajaran yang telah ia dengar, tidak mengingat
ajaran-ajaran itu yang telah terbiasa baginya, dan tidak memahami apa yang
belum dipahami. Dengan cara inilah Sang Bhagavā mengatakan tentang seorang yang
tunduk pada kemunduran.
“Dan dengan cara bagaimanakah, teman-teman, Sang Bhagavā mengatakan
tentang seorang
yang tidak tunduk pada kemunduran? Di sini, seorang bhikkhu dapat mendengarkan ajaran yang belum ia dengar
sebelumnya, tidak melupakan ajaran yang telah ia dengar, mengingat
ajaran-ajaran itu yang telah terbiasa baginya, dan memahami apa yang belum
dipahami. Dengan cara inilah Sang Bhagavā mengatakan tentang seorang yang tidak
tunduk pada kemunduran.
“Teman-teman, seorang bhikkhu yang tidak terampil dalam jalan pikiran
orang-orang lain [harus berlatih]: ‘Aku akan terampil dalam jalan pikiranku
sendiri.’ Dengan cara inilah kalian harus berlatih.
“Dan bagaimanakah seorang bhikkhu terampil
dalam jalan pikirannya sendiri? Seperti halnya seorang perempuan atau laki-laki – muda,
berpenampilan muda, dan menyukai perhiasan – akan melihat pantulan wajahnya di
sebuah cermin yang bersih dan cemerlang atau di dalam semangkuk air jernih.
Jika mereka melihat debu atau noda apa pun di sana, maka mereka akan berusaha untuk
menghilangkannya. Tetapi jika mereka tidak melihat debu atau noda di sana, maka
mereka menjadi gembira; [104] dan keinginan mereka terpenuhi, mereka akan
berpikir, ‘Betapa beruntungnya bahwa aku bersih!’ Demikian pula,
pemeriksaan-diri adalah sangat membantu bagi seorang bhikkhu [agar tumbuh] dalam
kualitas-kualitas bermanfaat.
“[Ia harus bertanya kepada diri sendiri:] (1) ‘Apakah aku sering tanpa
kerinduan? Apakah kualitas ini ada padaku atau tidak? (2) Apakah aku sering tanpa
niat-buruk? Apakah kualitas ini ada padaku atau tidak? (3) Apakah aku sering terbebas dari ketumpulan dan
kantuk? Apakah kualitas ini ada padaku atau tidak? (4) Apakah aku sering
tenang? Apakah kualitas ini ada padaku atau tidak? (5) Apakah aku sering
terbebas dari keragu-raguan? Apakah kualitas ini ada padaku atau tidak? (6)
Apakah aku sering tanpa kemarahan? Apakah kualitas ini ada padaku atau tidak?
(7) Apakah
pikiranku sering tidak kotor? Apakah kualitas ini ada padaku atau tidak? (8) Apakah aku memperoleh kegembiraan internal
karena Dhamma? Apakah kualitas ini ada padaku atau tidak? (9) Apakah aku memperoleh
ketenangan pikiran internal? Apakah kualitas ini ada padaku atau tidak? (10) Apakah
aku memperoleh kebijaksanaan pandangan terang yang lebih tinggi ke dalam fenomena-fenomena?
Apakah kualitas ini ada padaku atau tidak?’
“Jika, melalui pemeriksaan-diri demikian, seorang bhikkhu tidak melihat
kualitas-kualitas bermanfaat ini ada pada dirinya, maka ia harus mengerahkan keinginan luar biasa, usaha luar biasa, kemauan
luar biasa, semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian luar
biasa, dan pemahaman jernih luar biasa untuk mendapatkan kualitas-kualitas
bermanfaat itu. Seperti halnya seseorang yang pakaian atau kepalanya terbakar
akan mengerahkan keinginan luar biasa, usaha luar biasa, kemauan luar biasa,
semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian luar biasa, dan
pemahaman jernih luar biasa untuk memadamkan [api pada] pakaian atau kepalanya,
demikian pula bhikkhu itu harus mengerahkan keinginan luar biasa, usaha luar
biasa, kemauan luar biasa, semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar biasa,
perhatian luar biasa, dan pemahaman jernih luar biasa untuk mendapatkan kualitas-kualitas
bermanfaat itu.
“Tetapi jika, melalui pemeriksaan-diri demikian, seorang bhikkhu melihat
beberapa kualitas bermanfaat ada dalam dirinya tetapi beberapa lainnya tidak,
[105] maka ia harus mendasarkan dirinya pada kualitas-kualitas bermanfaat yang
ia lihat ada dalam dirinya dan mengerahkan keinginan luar biasa, usaha luar
biasa, kemauan luar biasa, semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian
luar biasa, dan pemahaman jernih luar biasa untuk mendapatkan
kualitas-kualitas bermanfaat yang ia lihat tidak ada dalam dirinya. Seperti
halnya seseorang yang pakaian atau kepalanya terbakar akan mengerahkan
keinginan luar biasa … untuk memadamkan [api pada] pakaian atau kepalanya,
demikian pula bhikkhu itu harus mendasarkan dirinya pada kualitas-kualitas bermanfaat
yang ia lihat ada dalam dirinya dan mengerahkan keinginan luar biasa … untuk
mendapatkan kualitas-kualitas bermanfaat yang ia lihat tidak ada dalam dirinya.
“Tetapi jika, melalui pemeriksaan-diri demikian, seorang bhikkhu melihat
semua kualitas-kualitas bermanfaat ini ada dalam dirinya, maka ia harus
mendasarkan dirinya pada kualitas-kualitas bermanfaat yang sama itu dan
berusaha lebih lanjut untuk mencapai hancurnya noda-noda.”
Berkebalikan dari Buddhisme yang tidak menolerir segala wujud kekotoran
maupun noda batin—dimana dari segi pikiran, kehendak “menghapus dosa-dosa” adalah
“keburukan pikiran” itu sendiri, alias Karma Buruk yang baru—tengoklah ketika
sesama muslim saling merampas hak sesamanya antar muslim, muslim yang menjadi
korban hanya bisa “gigit jari”—kesemuanya dikutip dari Hadis
Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Tengoklah
juga bagaimana nabi junjungan para muslim kehilangan harkatnya sebagai “menusia”,
menjelma “manusia-hewan PREDATOR” yang begitu buas serta rakus memangsa hak-hak
para korbannya, dimana sang nabi lebih sibuk membuang-buang waktu yang ada
untuk mabuk serta kecanduan “PENGAMPUNAN DOSA” alih-alih sibuk bertanggung-jawab
kepada para korbannya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]