Moralitas Hendaknya Diimbangi / Diiringi dengan Kebijaksanaan
Mungkin akibat “standar moral” yang kelewat tinggi alias berlebihan, penulis tidak pernah mau mengamati secara saksama para pedagang yang mengolah makanan jualannya, semata agar “tidak mencuri ilmu milik orang lain yang sedang mencari nafkah”. Telah ternyata, jauh setelah berpuluh-puluh tahun usia penulis bertambah dewasa, barulah penulis mengenal apa yang disebut sebagai “kebijaksanaan”, dan telah ternyata pula “standar moral” saja tidaklah cukup. Moralitas yang tidak tercela sekalipun, tetap butuh diimbangi dengan apa yang dikenal dengan istilah “kebijaksanaan”.
Berikut inilah, “mindset” atau pola pikir
yang yang belakangan ini penulis internalisasikan ke dalam diri, bahwa : Tidak
dan bukanlah hal jahat, memelajari hal-hal dari orang lain, sepanjang kita
tidak menggunakannya untuk merugikan orang yang kita pelajari. Sebagai contoh, silahkan
saja Anda belajar membuat masakan dari tempat makan yang Anda kunjungi, lalu
membuka tempat makan sendiri dari ilmu yang berpedoman pada strategi “lihat,
amati, tiru, serta modifikasi” akan tetapi lokasinya di lain daerah sehingga
tidak merampas konsumen / langganan tempat makan kita gali ilmu / keterampilannya
lewat mengamati.
Itulah yang disebut dengan bijaksana, kompas
moral barulah berfungsi sebagaimana mestinya tanpa menjadi “buta” ataupun “tuli”,
namun secara proporsional. Kita “mempelajari ilmu lewat pengamatan” tanpa
merugikan pihak yang kita belajar darinya lewat pengamatan. Bila dibuat
perumpamaan, kebijaksanaan adalah ibarat mata-penglihatan yang terbuka lebar
dan mampu melihat secara jernih secara apa adanya situasi dan kondisi yang ada.
Bila “standar moral” cukup kaku dan membuta sifatnya, “kebijaksaan” justru
tidak membutakan diri serta tidak monoton pada suatu kekakuan—akan tetapi penuh
“seni berdaya pikir”.
Yang membuat penulis takjub, telah ternyata dalam
setiap khotbahnya Sang Buddha selalu mengiringi “moralitas” dan “kebijaksanaan”
seolah keduanya bersifat saling-sepasang, saling-melengkapi, atau ber-komplomenter,
sebagaimana khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID V”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”,
diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom
Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta
Press, dengan kutipan sebagai berikut:
69 (9) Topik Diskusi (1)
Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di
Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Pada saat itu, setelah mereka makan, ketika
kembali dari perjalanan menerima dana makanan, sejumlah bhikkhu berkumpul di
aula pertemuan dan sedang duduk bersama ketika mereka terlibat dalam berbagai
jenis pembicaraan tanpa arah, seperti: pembicaraan tentang raja-raja,
pencuri-pencuri, dan para menteri kerajaan; pembicaraan tentang bala tentara, bahaya-bahaya,
dan peperangan; pembicaraan tentang makanan, minuman, pakaian, dan tempat
tidur; pembicaraan tentang kalung bunga dan wewangian; pembicaraan tentang
sanak-saudara, kendaraan, desa-desa, pemukiman-pemukiman, kota, dan negara; pembicaraan
tentang para perempuan dan pembicaraan tentang para pahlawan; pembicaraan
jalanan dan pembicaraan di tepi sumur; pembicaraan tentang orang yang telah
meninggal dunia; berbagai jenis pembicaraan; spekulasi tentang dunia dan
samudra; pembicaraan tentang menjadi ini atau itu. Kemudian, pada malam
harinya, Sang Bhagavā keluar dari keterasingan dan mendatangi aula pertemuan,
di mana Beliau duduk di tempat yang telah dipersiapkan. Sang Bhagavā berkata kepada
para bhikkhu:
“Para bhikkhu, diskusi apakah yang sedang kalian
lakukan barusan ketika kalian sedang duduk bersama di sini? Perbincangan apakah
yang sedang berlangsung?”
“Di sini, Bhante, setelah makan, ketika kembali dari
perjalan menerima dana makanan, kami berkumpul di aula pertemuan dan sedang
duduk bersama ketika kami terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan tanpa arah,
seperti: pembicaraan tentang raja-raja, pencuri-pencuri, dan para menteri
kerajaan … pembicaraan tentang menjadi ini atau itu.”
“Para bhikkhu, tidaklah selayaknya bagi kalian,
[129] para anggota keluarga yang telah meninggalkan keduniawian karena keyakinan
dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah untuk terlibat
dalam berbagai jenis pembicaraan tanpa arah, seperti: pembicaraan tentang
raja-raja, pencuri-pencuri, dan para menteri kerajaan … pembicaraan tentang
menjadi ini atau itu.
“Ada, para bhikkhu, sepuluh topik diskusi ini.
Apakah sepuluh ini? Pembicaraan tentang keinginan yang sedikit, tentang kepuasan,
tentang kesendirian, tentang tidak terikat erat dengan orang lain, tentang
pembangkitan kegigihan, tentang perilaku bermoral, tentang konsentrasi, tentang kebijaksanaan, tentang kebebasan, tentang
pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan. Ini adalah kesepuluh topik diskusi
itu.
“Jika, para bhikkhu, kalian terlibat dalam
diskusi tentang salah satu dari sepuluh topik ini, maka kemegahan kalian bahkan
akan melebihi kemegahan matahari dan rembulan, sekuat dan seperkasa matahari
dan rembulan, apalagi jika dibandingkan dengan para pengembara sekte lain!”
70 (10) Topik Diskusi (2)
Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di
Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Pada saat itu, setelah mereka makan, ketika
kembali dari perjalan menerima dana makanan, sejumlah bhikkhu berkumpul di aula
pertemuan dan sedang duduk bersama ketika mereka terlibat dalam berbagai jenis
pembicaraan tanpa arah, seperti: pembicaraan tentang raja-raja,
pencuri-pencuri, dan para menteri kerajaan … pembicaraan tentang menjadi ini
atau itu.
[Kitab Komentar : Perpindahan
pada khotbah Sang Buddha tentang sepuluh dasar bagi pujian tidak jelas, kecuali
jika mengasumsikan bahwa, seperti juga pada sutta sebelumnya, Sang Buddha
mendatangi para bhikkhu dan menegur mereka karena melakukan pembicaraan tanpa
arah.]
“Para bhikkhu, ada sepuluh dasar bagi pujian ini.
Apakah sepuluh ini? [130]
(1) “Di sini, seorang bhikkhu memiliki sedikit
keinginan dan ia berbicara kepada para bhikkhu tentang keinginan yang
sedikit. Ini adalah satu dasar bagi pujian: ‘Bhikkhu itu sendiri memiliki
sedikit keinginan dan ia berbicara kepada para bhikkhu tentang keinginan yang
sedikit.’
(2) “Ia sendiri puas dan berbicara kepada
para bhikkhu tentang kepuasan. Ini adalah satu dasar bagi pujian: ‘Bhikkhu itu
sendiri puas …’
(3) “Ia condong pada kesendirian dan
berbicara kepada para bhikkhu tentang kesendirian. Ini adalah satu dasar bagi
pujian: ‘Bhikkhu itu sendiri condong pada kesendirian …’
(4) “Ia sendiri tidak terikat dengan orang lain
dan berbicara kepada para bhikkhu tentang ketidak-terikatan dengan orang lain. Ini
adalah satu dasar bagi pujian: ‘Bhikkhu itu sendiri tidak terikat dengan orang
lain …’
(5) “Ia sendiri bersemangat dan berbicara
kepada para bhikkhu tentang pembangkitan kegigihan. Ini adalah satu dasar bagi
pujian: ‘Bhikkhu itu sendiri bersemangat …’
(6) “Ia sendiri sempurna dalam perilaku bermoral dan berbicara kepada para
bhikkhu tentang penyempurnaan perilaku bermoral. Ini adalah satu dasar bagi
pujian: ‘Bhikkhu itu sendiri sempurna dalam perilaku bermoral …’
(7) “Ia sendiri sempurna dalam konsentrasi
dan berbicara kepada para bhikkhu tentang penyempurnaan konsentrasi. Ini adalah
satu dasar bagi pujian: ‘Bhikkhu itu sendiri sempurna dalam konsentrasi …’
(8) “Ia sendiri sempurna dalam kebijaksanaan dan berbicara kepada para
bhikkhu tentang penyempurnaan kebijaksanaan. Ini adalah satu dasar bagi pujian:
‘Bhikkhu itu sendiri sempurna dalam kebijaksanaan …’
(9) “Ia sendiri sempurna dalam kebebasan dan
berbicara kepada para bhikkhu tentang penyempurnaan kebebasan. Ini adalah satu dasar
bagi pujian: ‘Bhikkhu itu sendiri sempurna dalam kebebasan …’
(10) “Ia sendiri sempurna dalam pengetahuan dan
penglihatan pada kebebasan dan berbicara kepada para bhikkhu tentang penyempurnaan
pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan. Ini adalah satu dasar bagi pujian:
‘Bhikkhu itu sendiri sempurna dalam pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan
dan berbicara kepada para bhikkhu tentang penyempurnaan pengetahuan dan penglihatan
pada kebebasan.’
“Ini, para bhikkhu, adalah kesepuluh dasar bagi
pujian itu.” [131]