Truth Always Bitter. Yang Manis Jangan Langsung Ditelan, dan yang Pahit Jangan Langsung Dibuang

HERY SHIETRA, Truth Always Bitter. Yang Manis Jangan Langsung Ditelan, dan yang Pahit Jangan Langsung Dibuang

Pernah terdapat seorang pemuka agama,

Yang berceramah lewat pengeras suara,

“Untuk apa kita ritual lima kali dalam sehari,

Bila orang baik bisa masuk surga tanpa melakukan ritual lima kali dalam sehari untuk setiap harinya seperti kita?”

Ia menolak pandangan bahwa orang baik bisa masuk surga,

Dan menyebarkan propaganda bahwa hanya ritual yang bisa menyelamatkan dan menjamin seseorang masuk surga,

Bukan kualitas perbuatan dalam keseharian.

Kontras dengan itu,

Banyak diantara kita,

Yang bertanya,

Sebenarnya seperti apakah ibadah Buddhisme?

Tidak melakukan kejahatan,

Itulah ibadah kaum Buddhis.

Melakukan kebajikan,

Itulah ibadah kaum Buddhis.

Memurnikan pikiran,

Itulah ibadah kaum Buddhis.

Dimana kesabaran,

Merupakan praktek pertapaan tertinggi.

Bukanlah ritual,

Ibadah dalam Buddhisme,

Namun serangkaian perbuatan kita itu sendiri dalam keseharian.

Kita adalah pewaris perbuatan kita sendiri,

Berkerabat dengan perbuatan kita sendiri,

Dan terlahir dari perbuatan kita sendiri,

Baik perbuatan yang baik maupun yang buruk,

Yang besar maupun yang kecil.

Kini,

Pernahkan Anda mengamati dan memerhatikan,

Sebuah fenomena sosial yang selalu terulang di republik yang tidak pernah kekurangan kaum agamais ini,

Orang-orang rajin beribadah,

Berbusana agamais,

Namun,

Korupsi,

Dalam banyak aspek kehidupan,

Korupsi uang,

Merampas hak orang lain,

Menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan oleh orang lain,

Menyelesaikan setiap masalah dengan kekerasan fisik.

Tidak malu berbuat jahat,

Tidak takut akibat dari perbuatan jahat,

Tidak mau melibat bahaya dibalik perilaku jahat,

Bangga dapat berhasil menyakiti orang lain,

Senang mampu melukai orang lain,

Gembira dapat merugikan orang lain.

Mereka tidak mau memahami,

Terlebih menyadari,

Memuliakan Tuhan,

Ialah dengan cara menjadi seseorang yang hidup secara mulia,

Bukan menjadi seorang pendosa pecandu dogma korup,

Dogma korup bernama “penghapusan dosa”.

Bung,

Hanya seorang pendosa,

Yang butuh “penghapusan dosa”.

Menjelma koruptor-dosa,

Dimana dosa-dosa pun dikorupsi.

Seseorang disebut ksatriawan,

Karena berani bertanggung-jawab,

Dan mengambil tanggung-jawab terhadap para korban.

Sekalipun seorang ksatriawan masih dapat berbuat keliru,

Namun ia berani untuk bertanggung-jawab,

Tanpa perlu menunggu korbannya mengemis-ngemis pertanggung-jawaban.

Sebaliknya,

Seorang pengecut,

Lebih sibuk tenggelam dalam ritual permohonan penghapusan dosa,

Seolah Tuhan lebih pro kepada penjahat yang tidak bertanggung-jawab,

Penjahat yang “pengecut”.

Adalah “agama dosa”,

Yang mempromosikan dogma korup semacam “penghapusan dosa”,

Alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun maksiat.

Babi,

Disebut “haram”.

Dogma korup semacam ideologi “penghapusan dosa”,

Disebut “halal lifestyle”.

Si dungu,

Memandang “agama dosa” sebagai “agama suci”,

Neraka pun dipandang dan diyakini sebagai surga.

Seorang pendosa pecandu-berat dogma penghapusan dosa,

Namun berdelusi,

Merasa berhak untuk menggurui dan menghakimi kaum lainnya,

Ibarat orang buta,

Yang hendak menuntun para butawan lainnya,

Berbondong-bondong mereka dengan gembira-ria terperosok ke dalam jurang gelap demikian.

Itulah vonis hidup dan nasib matinya orang-orang yang selama ini memandang kaum yang hidup jujur,

Sebagai kaum yang “merugi”.

Berkubang dalam lautan dosa,

Dan menimbun diri dalam gunungan maksiat,

Karena kompromistik terhadapnya,

Memakan dan termakan dogma yang membuat mereka bahkan melakukan korupsi terhadap dosa-dosa mereka sendiri.

Namun disaat bersamaan,

Mereka demikian intoleran terhadap kaum yang berbeda keyakinan.

Ketika mereka masih merupakan minoritas,

Mereka menikmati serta menuntut toleransi.

Ketika mereka telah menjelma mayoritas,

Mereka hendak memberangus toleransi tersebut yang semula mereka nikmati.

Pola yang sama,

Selalu berulang,

Dimana pun dan kapan pun.

Pelangi itu indah,

Ciptaan “Tuhan Sang Pencipta”.

Orang-orang jahat,

Bencana alam,

Penyakit,

Kemiskinan,

Kekumuhan,

Kebodohan,

Keserakahan,

Sifat dungu,

Arogansi,

Gaya berpikir primitif yang senang memakai kekerasan fisik,

Sikap korup,

Bahkan iblis-iblis yang berkeliaran mencari mangsa,

Juga adalah ciptaan “Tuhan Sang Pencipta”.

Bumi ini hidup dan indah,

Ciptaan “Tuhan Sang Pencipta”.

Namun tengoklah alam semesta di luar sana,

Berapa banyak planet mati?

Hendaknya kita tidak menertawakan korban,

Terlebih turut menindas korban,

Semata karena sang korban sedang dalam kondisi malang dan tidak berdaya.

Kelak,

Anda pun tidak terkecuali akan jatuh sebagai korban,

Oleh kejahatan orang lain,

Oleh kejahatan sesama kaum Anda sendiri.

Pada saat itulah,

Anda hanya bisa “gigit jari”,

Percuma mengadu ataupun melapor kepada Tuhan,

Karena Tuhan lebih berpihak kepada penjahat,

Dengan merampas hak korban atas keadilan,

Dan menghapus dosa-dosa sang penjahat yang penuh dosa.

Pada saat itulah,

Kita yang akan menertawai mereka,

Sekalipun saat kini mereka yang tertawa.

Sebaiknya kita menertawai seseorang yang mengalami bisul di bokongnya,

Bisa jadi kelak kita sendiri pun mengalaminya.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.